- Beranda
- Stories from the Heart
YOU ARE MY DESTINY 2
...
TS
loveismyname
YOU ARE MY DESTINY 2

Dia mengangkat wajahnya dan dengan segera aku terkesiap. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya dengan baik.
Aku menundukkan pandanganku dengan dada bergetar hebat. Aku sudah berusaha melupakannya. Kenapa kami malah bertemu lagi.
****
Hai kaskusers.
Ketemu lagi sama gue di cerita kedua gue. Semoga cerita kali ini bisa menghibur kalian semua. Oh iya, sebelum baca cerita ini, akan lebih baik kalian baca dulu cerita pertama gue, karena ada beberapa tokoh yg akan nongol di sini lagi. Linknya di sini ya.
di sini
Attention !!!
Quote:
WARNING !!
Quote:
Note:
TS lumayan sibuk setahun ini. Jadi, mungkin update tidak akan selancar cerita pertama. Mohon di maklumi ya. Tapi, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan cerita ini.
Akhir kata...
Enjoy yaa
Diubah oleh loveismyname 12-02-2025 14:18
percyjackson321 dan 41 lainnya memberi reputasi
40
52.1K
989
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#383
Epilog 5 - Catatan Vina
“Abiii…abiiii…” Aku berlari riang dari halaman depan sambil memanggil suamiku.
Aku sungguh excited sekali mendengar sebuah berita. Dhani muncul dari balik pintu sambil menggendong Umar yang memegang mobil-mobilannya.
“Kenaapa Ummi?? Heboh bener.” Katanya.
“Hah..hah… ntar dulu…” Kataku sambil menunduk karena ngos-ngosan.
“Hahahahahah. Kamu gimana sih? Tadi excited sekarang ngos-ngosan.” Kata Dhani tertawa.
“Hahahahah..hah..hah… hahahahah..” Aku ikut tertawa sambil ngos-ngosan.
“….”
“Bi, katanya jalan yang kemaren lagi di bangun itu udah jadi.” Kataku.
“Yang mana?” Tanya Dhani.
“yang ngebelah sawah itu loh. Yang bisa motong jalan ke kecamatan sebelah.”
“Ooohhh, jalan yang ke arah sana itu? Yang kemaren kita liat masih di bangun?”
“iyaaaa…”
“kamu kata siapa?”
“Mbak Ratih. Tadi dia lewat situ. Kata Mbak Ratih, pemandangannya baguuuuuusssss bangett..” Kataku excited.
Melihatku excited seperti itu, Umar kecil ikut cekikikan.
“Iya emang bagus. Soalnya ngebelah bukit juga.” Kata Dhani.
“besok kita jalan-jalan ke sana yaa??”
“Iyaaa. Nanti Umar titip ke papa mama aja ya.” Kata Dhani.
Saat itu, papa dan mama memang sedang mengunjungi kami. Biasanya, Umar memang lebih sering sama mereka kalau sedang ke sini. Kadang, Umar di bawa jalan-jalan dari pagi sampai sore. Bahkan pernah di bawa menginap ke rumah kerabat mereka.
Kalau sama papa dan mama, aku tidak pernah khawatir. Aku bisa melihat kalau papa dan mama sayang banget sama Umar. Perhatian mereka kadang melebihi kami, orang tua Umar.
Besoknya, hampir saja rencana kami untuk melewati jalan itu batal. Semua gara-gara kami yang terlalu asyik beribadah. Huahahahahahah.
Jadi, Umar kan di bawa sama papa dan mama jalan-jalan ke kota sebelah. Mereka berangkat pagi sekali. Nah, aku dan Dhani jadi ngerasa bebas kan. Ya taulah kelanjutannya kayak gimana. Huahahahaha.
Habis sholat dzuhur, baru kami berangkat naik motor. Dhani bilang, sekalian cari warung makan saja di dekat sana. Siapa tau ada tempat enak di sekitar situ.
30 menit berkendara, kami memasuki jalan kecil di sebuah kampung. Dulu, jalan ini berakhir di sebuah bukit yang dilindungi pepohonan lebat, seperti hutan. Saat ini, jalan itu sudah memanjang, hingga menembus bukit. Setelah melewati bukit dan rimbunnya pepohonan, akan nampak sebuah jalan kecil yang indah. Jalanan itu membelah sawah yang luas untuk kemudian tembus di kecamatan sebelah.
Dulu, untuk menembus kecamatan sebelah ini, kami harus berjalan memutar. Jalan ini cukup efektif untuk memotong waktu. Di tambah pemandangannya yang indah, aku rasa semua orang akan memilih jalan ini untuk melintas ke kecamatan sebelah. Tapi, kalau malam memang agak seram sih. Gelap banget. Belum lagi pas melewati hutan.
Beuh…
Merinding coy.
Huahahahaha.
Yang sangat di sayangkan cuma 1, jalan ini cukup kecil. Kayaknya cuma cukup satu mobil saja. Tapi kalau naik motor sih enak ya.
“Biii, panas banget.” Kataku sedikit mengeluh di boncengan.
Saat itu masih musim panas. Ya wajar saja kalau tengah hari menjadi panas sekali. Ini di kotaku ya, gimana di kota asalku? Mandi keringet bisa-bisa. Hihihihi…
“Sabar. Tuh sebentar lagi masuk ke sana.” Kata Dhani sambil menunjuk ke arah jalanan yang di penuhi pohon rindang.
Pohon-pohon itu seperti membentuk sebuah labirin yang berkelok-kelok indah.
Tak lama, kami mulai melewati jalanan rindang itu. Aku memandang kagum. Tapi karena aku duduknya miring, aku jadi tidak bisa melihat jelas ke sisi sebelahnya.
“Enak Biii… adeemm. Bagus banget pemandangannya.” Kataku kagum.
Dhani tertawa geli mendengar aku yang begitu excited. Padahal kalau cuma pemandangan Indah, hampir setiap hari aku bisa menikmati. Tapi mungkin karena jalan ini baru di bangun, aku jadi excited karena penasaran, seperti apa jalan yang akan kami lewati.
Dhani mengendarai scorpio hitam ini perlahan. Nampaknya dia juga menikmati pemandangan. Jalanan mulai menanjak dan berkelok kelok, membuat Dhani harus berkonsentrasi extra. Sedangkan aku masih mengagumi pohon-pohon yang menjulang tinggi di sisi bukit.
Indah sekali.
Jalanan ini cukup sepi. Hanya satu atau dua motor saja berpapasan sama kami. Mungkin karena belum banyak yang tau jalan ini.
Di satu titik, jalan menanjak berakhir dan berganti menjadi turunan berkelok. Aku bisa melihat smaar-samar sawah yang tertutupi pepohonan. Posisi kami masih di atas sawah itu.
“Wiiiii… hati-hati biiii… turunan ini.” Kataku girang.
Lagi-lagi Dhani tertawa.
Setelah melewati beberapa tikungan yang menurun tajam, kami hampir sampai di kaki bukit. Pepohonan mulai jarang dan persawahan mulai terlihat.
“Biii, kayaknya panas deh. Di sana gak ada pohon. Tuh pohonnya cuma satu di pinggir.” Kataku.
“Hahahaha, ya gak papa lah. Kayaknya di ujung jalan ada warung deh. Enak buat lesehan kayaknya.” Kata Dhani.
“Harusnya pagi lewat sini. Kamu sih tadi semangat banget.” Kataku merajuk.
“Huahahahahahah. Siapa suruh kamu hot banget pagi-pagi? Aku ngerasa liat bidadari surga tau.” Kata Dhani.
Aku bisa merasakan wajahku memanas.
Suamiku ini kalau sudah memuji bisa membuatku geer. Heran, apa sih yang dia lihat dariku? Sampai segitunya dia mencintaiku. Aku bersyukur sekali.
“Mulai deehhh.. bikin geer aja kamu.” Kataku sambil mencubit pinggangnya.
“Hahahahahahaha…” tawa Dhani semakin keras.
Mungkin bisa terdengar sampai ratusan kilo. Hahahahah.
Kami pun akhirnya melewati hamparan sawah yang menguning. Walaupun panas terik, aku tetap mengagumi pemandangan ini.
Di tambah ada saluran irigasi kecil di sepanjang jalan, menjadikan jalan ini menjadi lebih indah. Kami melewati sebuah pohon yang cukup rindang. Pohon satu-satunya di sepanjang persawahan ini.
Deg !!!
Tiba-tiba jantungku berdebar cepat saat melewati pohon itu.
“Kayaknya gue pernah lewat sini deh?” Tanyaku dalam hati.
Aku seperti mengalami Déjàvu.
“Tapi kan jalan ini baru di bangun. Kapan gue lewat sini?” Tanyaku lagi, masih di dalam hati.
“Abii, berenti sebentar doongg..” Kataku tiba-tiba sambil menepuk bahu Dhani.
Dhani menurutiku dan menghentikan motornya. Aku langsung turun dari motor dan menuju ke arah pohon itu. Dari bawah pohon, aku memandang ke seberang jalan. Di sana, air irigasi mengalir deras dengan indah.
Tiba-tiba, aku merasa melihat seorang wanita di sana.
Wanita itu, Chinese, matanya sipit hanya segaris, rambutnya panjang sebahu dan sedang bermain air di saluran irigasi sambil memandang penuh harap ke arah bukit. Dia sepertinya sedang menunggu seseorang yang akan lewat.
Wanita itu kemudian menyebrang, dan berdiri di bawah pohon. Senyumnya terkembang saat melihat ada sebuah sepeda motor yang datang ke arahnya. Saat sepeda motor itu semakin dekat, dia melambaikan tangannya dan berjingkrak-jingkrak. Mencoba memanggil sang pengendara motor yang sedang berboncengan.
Aku terpaku dan melihat ke arah jilbab putih yang sedang kukenakan ini.
Pluk…
Tepukan Dhani di membuyarkan lamunanku.
“Kenapa sayang?” tanya Dhani.
“Nggak papa sayang. Aku cuma teringat sesuatu.”
“Apa tuh?”
“Nggak tau. Aku ngerasa pernah ke sini.”
“Masa? Kan jalanan ini baru jadi.”
“Hahahah. Gak tau deh. aku juga bingung.”
“Dejavu?”
“Mungkin. Hehehe.”
“….”
“Yuk jalan lagi sayang. aku udah laper.” Kataku sambil berjalan ke arah motor.
“Hahahahah. Oke deh. Ayok kita makan banyak.” Kata Dhani dan membuatku tertawa.
Kami berdua naik kembali ke atas motor. Dhani menstarter motor, dan kami melanjutkan perjalanan. Saat motor berjalan, aku coba menengok ke belakang.
Aku melihat wanita yang tadi berjingkrak-jingkrak sekarang sedang berlari mengejar motor kami. Wajahnya semakin lama semakin pucat. Dia ketakutan.
Tidak lama dia berlari mengejar kami. Dia tidak kuat dan akhirnya bersimpuh di jalanan. Wajahnya mulai basah oleh air mata, sambil tetap memandang ke arahku.
Mataku ikutan basah. Air mata mulai mengalir ke pipiku.
“Bye bye Vina yang bodoh. Jangan pernah bodoh lagi ya?” Ujarku dalam hati sambil menatap wanita yang ternyata diriku yang dulu itu.
Terima kasih Tuhan telah mengingatkanku pada kebodohanku dulu.
Terima kasih, telah memberikan mimpi yang membekas di ingatanku.
Aku tidak akan jadi bodoh lagi !!
Aku sungguh excited sekali mendengar sebuah berita. Dhani muncul dari balik pintu sambil menggendong Umar yang memegang mobil-mobilannya.
“Kenaapa Ummi?? Heboh bener.” Katanya.
“Hah..hah… ntar dulu…” Kataku sambil menunduk karena ngos-ngosan.
“Hahahahahah. Kamu gimana sih? Tadi excited sekarang ngos-ngosan.” Kata Dhani tertawa.
“Hahahahah..hah..hah… hahahahah..” Aku ikut tertawa sambil ngos-ngosan.
“….”
“Bi, katanya jalan yang kemaren lagi di bangun itu udah jadi.” Kataku.
“Yang mana?” Tanya Dhani.
“yang ngebelah sawah itu loh. Yang bisa motong jalan ke kecamatan sebelah.”
“Ooohhh, jalan yang ke arah sana itu? Yang kemaren kita liat masih di bangun?”
“iyaaaa…”
“kamu kata siapa?”
“Mbak Ratih. Tadi dia lewat situ. Kata Mbak Ratih, pemandangannya baguuuuuusssss bangett..” Kataku excited.
Melihatku excited seperti itu, Umar kecil ikut cekikikan.
“Iya emang bagus. Soalnya ngebelah bukit juga.” Kata Dhani.
“besok kita jalan-jalan ke sana yaa??”
“Iyaaa. Nanti Umar titip ke papa mama aja ya.” Kata Dhani.
Saat itu, papa dan mama memang sedang mengunjungi kami. Biasanya, Umar memang lebih sering sama mereka kalau sedang ke sini. Kadang, Umar di bawa jalan-jalan dari pagi sampai sore. Bahkan pernah di bawa menginap ke rumah kerabat mereka.
Kalau sama papa dan mama, aku tidak pernah khawatir. Aku bisa melihat kalau papa dan mama sayang banget sama Umar. Perhatian mereka kadang melebihi kami, orang tua Umar.
Besoknya, hampir saja rencana kami untuk melewati jalan itu batal. Semua gara-gara kami yang terlalu asyik beribadah. Huahahahahahah.
Jadi, Umar kan di bawa sama papa dan mama jalan-jalan ke kota sebelah. Mereka berangkat pagi sekali. Nah, aku dan Dhani jadi ngerasa bebas kan. Ya taulah kelanjutannya kayak gimana. Huahahahaha.
Habis sholat dzuhur, baru kami berangkat naik motor. Dhani bilang, sekalian cari warung makan saja di dekat sana. Siapa tau ada tempat enak di sekitar situ.
30 menit berkendara, kami memasuki jalan kecil di sebuah kampung. Dulu, jalan ini berakhir di sebuah bukit yang dilindungi pepohonan lebat, seperti hutan. Saat ini, jalan itu sudah memanjang, hingga menembus bukit. Setelah melewati bukit dan rimbunnya pepohonan, akan nampak sebuah jalan kecil yang indah. Jalanan itu membelah sawah yang luas untuk kemudian tembus di kecamatan sebelah.
Dulu, untuk menembus kecamatan sebelah ini, kami harus berjalan memutar. Jalan ini cukup efektif untuk memotong waktu. Di tambah pemandangannya yang indah, aku rasa semua orang akan memilih jalan ini untuk melintas ke kecamatan sebelah. Tapi, kalau malam memang agak seram sih. Gelap banget. Belum lagi pas melewati hutan.
Beuh…
Merinding coy.
Huahahahaha.
Yang sangat di sayangkan cuma 1, jalan ini cukup kecil. Kayaknya cuma cukup satu mobil saja. Tapi kalau naik motor sih enak ya.
“Biii, panas banget.” Kataku sedikit mengeluh di boncengan.
Saat itu masih musim panas. Ya wajar saja kalau tengah hari menjadi panas sekali. Ini di kotaku ya, gimana di kota asalku? Mandi keringet bisa-bisa. Hihihihi…
“Sabar. Tuh sebentar lagi masuk ke sana.” Kata Dhani sambil menunjuk ke arah jalanan yang di penuhi pohon rindang.
Pohon-pohon itu seperti membentuk sebuah labirin yang berkelok-kelok indah.
Tak lama, kami mulai melewati jalanan rindang itu. Aku memandang kagum. Tapi karena aku duduknya miring, aku jadi tidak bisa melihat jelas ke sisi sebelahnya.
“Enak Biii… adeemm. Bagus banget pemandangannya.” Kataku kagum.
Dhani tertawa geli mendengar aku yang begitu excited. Padahal kalau cuma pemandangan Indah, hampir setiap hari aku bisa menikmati. Tapi mungkin karena jalan ini baru di bangun, aku jadi excited karena penasaran, seperti apa jalan yang akan kami lewati.
Dhani mengendarai scorpio hitam ini perlahan. Nampaknya dia juga menikmati pemandangan. Jalanan mulai menanjak dan berkelok kelok, membuat Dhani harus berkonsentrasi extra. Sedangkan aku masih mengagumi pohon-pohon yang menjulang tinggi di sisi bukit.
Indah sekali.
Jalanan ini cukup sepi. Hanya satu atau dua motor saja berpapasan sama kami. Mungkin karena belum banyak yang tau jalan ini.
Di satu titik, jalan menanjak berakhir dan berganti menjadi turunan berkelok. Aku bisa melihat smaar-samar sawah yang tertutupi pepohonan. Posisi kami masih di atas sawah itu.
“Wiiiii… hati-hati biiii… turunan ini.” Kataku girang.
Lagi-lagi Dhani tertawa.
Setelah melewati beberapa tikungan yang menurun tajam, kami hampir sampai di kaki bukit. Pepohonan mulai jarang dan persawahan mulai terlihat.
“Biii, kayaknya panas deh. Di sana gak ada pohon. Tuh pohonnya cuma satu di pinggir.” Kataku.
“Hahahaha, ya gak papa lah. Kayaknya di ujung jalan ada warung deh. Enak buat lesehan kayaknya.” Kata Dhani.
“Harusnya pagi lewat sini. Kamu sih tadi semangat banget.” Kataku merajuk.
“Huahahahahahah. Siapa suruh kamu hot banget pagi-pagi? Aku ngerasa liat bidadari surga tau.” Kata Dhani.
Aku bisa merasakan wajahku memanas.
Suamiku ini kalau sudah memuji bisa membuatku geer. Heran, apa sih yang dia lihat dariku? Sampai segitunya dia mencintaiku. Aku bersyukur sekali.
“Mulai deehhh.. bikin geer aja kamu.” Kataku sambil mencubit pinggangnya.
“Hahahahahahaha…” tawa Dhani semakin keras.
Mungkin bisa terdengar sampai ratusan kilo. Hahahahah.
Kami pun akhirnya melewati hamparan sawah yang menguning. Walaupun panas terik, aku tetap mengagumi pemandangan ini.
Di tambah ada saluran irigasi kecil di sepanjang jalan, menjadikan jalan ini menjadi lebih indah. Kami melewati sebuah pohon yang cukup rindang. Pohon satu-satunya di sepanjang persawahan ini.
Deg !!!
Tiba-tiba jantungku berdebar cepat saat melewati pohon itu.
“Kayaknya gue pernah lewat sini deh?” Tanyaku dalam hati.
Aku seperti mengalami Déjàvu.
“Tapi kan jalan ini baru di bangun. Kapan gue lewat sini?” Tanyaku lagi, masih di dalam hati.
“Abii, berenti sebentar doongg..” Kataku tiba-tiba sambil menepuk bahu Dhani.
Dhani menurutiku dan menghentikan motornya. Aku langsung turun dari motor dan menuju ke arah pohon itu. Dari bawah pohon, aku memandang ke seberang jalan. Di sana, air irigasi mengalir deras dengan indah.
Tiba-tiba, aku merasa melihat seorang wanita di sana.
Wanita itu, Chinese, matanya sipit hanya segaris, rambutnya panjang sebahu dan sedang bermain air di saluran irigasi sambil memandang penuh harap ke arah bukit. Dia sepertinya sedang menunggu seseorang yang akan lewat.
Wanita itu kemudian menyebrang, dan berdiri di bawah pohon. Senyumnya terkembang saat melihat ada sebuah sepeda motor yang datang ke arahnya. Saat sepeda motor itu semakin dekat, dia melambaikan tangannya dan berjingkrak-jingkrak. Mencoba memanggil sang pengendara motor yang sedang berboncengan.
Aku terpaku dan melihat ke arah jilbab putih yang sedang kukenakan ini.
Pluk…
Tepukan Dhani di membuyarkan lamunanku.
“Kenapa sayang?” tanya Dhani.
“Nggak papa sayang. Aku cuma teringat sesuatu.”
“Apa tuh?”
“Nggak tau. Aku ngerasa pernah ke sini.”
“Masa? Kan jalanan ini baru jadi.”
“Hahahah. Gak tau deh. aku juga bingung.”
“Dejavu?”
“Mungkin. Hehehe.”
“….”
“Yuk jalan lagi sayang. aku udah laper.” Kataku sambil berjalan ke arah motor.
“Hahahahah. Oke deh. Ayok kita makan banyak.” Kata Dhani dan membuatku tertawa.
Kami berdua naik kembali ke atas motor. Dhani menstarter motor, dan kami melanjutkan perjalanan. Saat motor berjalan, aku coba menengok ke belakang.
Aku melihat wanita yang tadi berjingkrak-jingkrak sekarang sedang berlari mengejar motor kami. Wajahnya semakin lama semakin pucat. Dia ketakutan.
Tidak lama dia berlari mengejar kami. Dia tidak kuat dan akhirnya bersimpuh di jalanan. Wajahnya mulai basah oleh air mata, sambil tetap memandang ke arahku.
Mataku ikutan basah. Air mata mulai mengalir ke pipiku.
“Bye bye Vina yang bodoh. Jangan pernah bodoh lagi ya?” Ujarku dalam hati sambil menatap wanita yang ternyata diriku yang dulu itu.
Terima kasih Tuhan telah mengingatkanku pada kebodohanku dulu.
Terima kasih, telah memberikan mimpi yang membekas di ingatanku.
Aku tidak akan jadi bodoh lagi !!
percyjackson321 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup