- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.8K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#373
Chapter 236
Quote:
Giorga terkejut melihat kedatangan Sterling. Seingatnya ledakan besar sebelumnya itu membuat lawannya musnah tidak tersisa. Namun nyatanya Sterling datang dengan lapisan jubah dari besi dari Vivian. Belum lagi aliran listrik yang membuat serangannya semakin terasa.
“Bagaimana bisa?” tanya Giorga.
Sterling menjelaskannya, ketika kristal melapisi tubuhnya. Terdapat rongga kosong yang sengaja disisakan agar terjadinya reaksi bom vakum. Awan yang sudah melapisi tubuhnya dibuat secepat mungkin agar menjadi awan hujan, menghasilkan petir yang akhirnya melemahkan kristal tersebut. Ledakannya tetap terasa menyakitkan, karena sebagian tubuhnya hancur meskipun daya ledaknya berkurang.
Setelah itu Sterling berubah sepenuhnya menjadi awan dan melakukan regen di atas sana, sambil menunggu keadaannya pulih. Sebuah rencana telah dilakukannya. Bahkan Giorga tidak menyadari karena terlalu sibuk bertarung dengan anggota Silver Clan.
“Coa kau tengok langit di atas sana,” ucap Sterling. “aku tahu ini malam hari, tetapi tidak akan menghalangimu untuk menikmati sajian bintang-bintang yang bersinar.”
Giorga tertegun, ia sama sekali tidak bisa melihat bintang-bintang ataupun sang rembulan, semuanya tertutup awan. Lebih parahnya lagi, awan-awan itu merupakan awan hujan. Yang dibekali oleh petir-petir yang siap menyambar.
“Bulan tadi, sebagai bulan terakhir yang kau lihat malam ini!” kilatan petir kembali menyambar, Giorga berhasil menghindar tetapi Sterling dan Vivian melakukan serangan tambahan secara bersama-sama.
Giorga melepaskan tembakan bola cahaya, Vivian menangkisnya dengan mudah menggunakan perisainya.
“Kau tahu berapa volt tegangan petir ini?” Vivian menebas lengan Giorga, membuatnya terlepas dari tubuhnya. “Sterling!”
Sterling melesat, memukul kepala Giorga hingga terpental jauh. Lapisan pelindung kepalanya pecah hingga wajah aslinya terlihat. Tangan yang terpotong kembali tumbuh, begitupun dengan bagian kepala yang kembali tertutup.
Kepulan asap muncul ketika aliran listrik yang melapisi tubuh Vivian dan Sterling menghilang. Besi yang tadinya berwarna abu perak menjadi hitam pekat. Sambaran petirnya tidak bisa bertahan lama, karena sejatinya mereka hanya singgah sebentar saja. Karena tidak ada sumber yang menahan aliran listrik itu.
“Oh, begitu…,” Giorga kembali berbicara layaknya sedang dalam posisi yang unggul. “berapa lama lapisan besinya dapat bertahan?”
“Itu bukan masalah!” petir menyambar, Giorga hanya bergerak sedikit untuk menghindar. Gerakan petir cenderung lurus, sehingga dapat dihindari ketika dalam posisi awas. “kita lakukan seperti biasa,” ucap Sterling pada Vivian.
“Baiklah…,” keduanya bergerak dengan cepat, melakukan kombinasi serangan yang sering mereka latih.
Solo menyaksikan sebuah pertarungan tingkat tinggi, kedua matanya tidak sanggup melihat secara keseluruhan. Hanya berupa cahaya yang meliuk-liuk bagaikan sedang berdansa. Kombinasi serangan Sterling dan Vivian belum pernah dicoba pada saat pertempuran. Hanya tuan Stam yang pernah melawannya, dan serangan itu cukup merepotkan. Jika ada Beaters lain yang mampu bertahan sudah dipastikan kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Pada saat bersamaan, Solo merasakan ada gerakan di jantung kapten Julian.
“Eh?” dirinya terkejut, dan terus memompa agar kapten Julian dapat siuam kembali.
Petir-petir menyambar, Giorga bergerak untuk menghindari seraya memperhatikan gerak musuhnya. Baik Sterling dan Vivian belum dialiri tenaga listirk dari petir. Sehingga kekuatan besi saja mampu ditahan dengan kekuatan ledakan dan perusak miliknya.
“Hm?” Vivian menghalangi pandangannya menggunakan perisai besar miliknya.
Sterling mencoba masuk melalui jalan lain, namun lirikan Giorga membuyarkan semuanya. Serangannya digagalkan setelah lemparan bola kecil mengenai pelipis kanannya. Begitu dengan tusukan dari Vivian yang sayangnya tidak mengenai target.
“Rasanya seperti ketika melawan tuan Stam,” ucap Sterling. “bagaimana caranya tadi seranganmu mampu menembusnya?” lanjutnya.
“Dengan cara sederhana, memanfaatkan titik butanya,” jawab Vivian. “petirmu hanya keras saja, tidak ada gunanya….”
“Jangan salahkan aku, petirnya tidak bisa kubelokan…,” Sterling menengok ke atas, awan gelapnya masih banyak tersisa untuk mengeluarkan petir.
Sama seperti Sterling dan Vivian, Giorga juga sedang memikirkan cara untuk dapat menyerang balik. Bola-bola kecilnya tidak cukup untuk menghancurkan lapisan besi di tubuh anggota Silver Clan itu. Belum lagi petir yang tidak bisa ditebak kapan muncul.
“Oh…,” Giorga membuat bola cahayanya, lalu menarik tangannya ke dalam hingga mengayunkannya jauh ke atas. “akan kuhilangkan dulu awan petirnya…”
Sterling sudah memprediksinya, awan petir bikinannya memang merepotkan. Sebelum bola cahaya itu menyentuh langit, rintik air mulai turun, terjadi hujan deras secara mendadak.
“Intensitas awannya begitu pekat, dia bisa menemanimu hingga esok hari, jadi tidak perlu khawatir soal petirnya,” ucap Sterling. “pinjam tombakmu,” meminta Vivian untuk meminjamnya tombak besinya.
Kilatan petir besar menyambar pada saat Sterling mengangkat tangannya. Tombak besi itu dialiri listrik yang begitu masif, hingga membuat Vivian harus menjaga jaraknya. Diam-diam Giorga menyerap bola-bola cahaya bikinannya sendiri. Dalam hujan seperti ini dan di malam hari, jarak pandang semakin terbatas.
“Bersiaplah!” Sterling dengan kuda-kudanya berniat melepaskan tombak besinya.
“Si bodoh Sterling, beritahu jika ingin membuat hujan!,” Solo dengan sigap membuat penghalang dari batang lunaknya. Agar dirinya dan kapten Julian tidak terkena air hujan.
Tanah pijakan kakinya retak kemudian hancur ketika Sterling melepaskan serangan yang diberi nama ‘Zeus Judgement’ itu. Tombak besi meluncur hebat menepis semua tetesan air hujan yang menjadi penghalang lajunya. Giorga tampak santai ketika harus berhadapan dengan serangan tersebut.
Sinar yang dihasilkan bertambah menyilaukan saat terjadi ledakan besar. Angin yang dihempaskan membuat seakan-akan hujan telah terhenti. Vivian melihatnya, ketika tombak petir itu hampir mengenai tubuh Giorga, muncul cahaya dari dalam dirinya hingga memicu ledakan besar.
“Cih!” tiba-tiba tubuh Giorga tertusuk oleh awan berputar yang ujungnya tajam. Sterling muncul dihadapannya setelah ledakannya selesai.
“Kenapa kau begitu cerdik? Aku juga melihatnya, meledakan diri sesaat tombak petirnya datang…,” ucap Sterling. “aku tidak tahu letak pastinya, tetapi awan ini akan---” lengannya yang membawa angin putar itu terputus dari tempatnya.
“Aku memang cerdik!” selain melapisi dengan bola ledakan, Giorga juga melapisi dirinya dengan zat perusak. “sekarang mati kau!” bola perusak berukuran besar muncul dari telapak tangannya. Kilatan petir yang menyambar tombak besi tadi cukup membuat tubuh Sterling bergetar, membuat gerakannya sedikit melambat setelah menerjang Giorga menggunakan jurus andalannya.
“Tidak akan kubiarkan!” Vivian datang menghalangi bola itu menggunakan perisai besarnya. Lalu meminta Sterling untuk memotong sisa lengannya sebelum zat perusak menjalar lebih jauh.
Perisai miliknya dengan cepat terkikis, Vivian membuangnya. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Menggunakan cakar besinya, Vivian menusuk kepala Giorga. Saat kukunya menancap, dirinya harus menerima akibatnya. Sebuah bola perusak berhasil membuat lubang besar diperutnya.
Menggunakan tangan satunya lagi, Giorga melepaskan tusukannya, membuang tubuh Vivian jauh. Sterling dihadapkan pada posisi yang sulit. Melanjutkan serangan atau membantu Vivian untuk menghentikan gerakan zat perusaknya. Teriakan terdengar membelah suara hujan.
“BIAR AKU YANG MENYELESAIKANNYA!” Kapten Julian menggunakan sisa katana Matsumoto menerjang hujan deras.
Bagian yang ditebasnya bukanlah kaki, ataupun leher, tetapi kedua pergelangan tangan Giorga. Luka dimatanya akibat serangan Vivian memberikan sebuah keuntungan besar. Setelah melakukan serangan, kapten Julian kembali tersungkur, membuatnya muntah darah dalam jumlah banyak. Sedangkan Sterling dengan terpaksa memotong bagian tubuh Vivian sebelum semuanya terlambat.
Dua tangan milik Giorga menyentuh lantai basah, dari dalamnya muncul kaki-kaki kecil serangga. Diikuti oleh darah segar keluar dari sana. Beat yang selama ini dicari ternyata dibagi menjadi dua bagian, masing-masing berada dalam pergelangan tangannya. Solo datang mendekat, karena hanya dirinya anggota Silver Clan yang belum terkena serangan.
“Hujan…, aku benci hujan….,” kata-kata terakhir Giorga sebelum seluruh tubuhnya terkikis hancur.
“Maaf, tapi ini akan kumasukan dalam laporan kalau aku yang mengalahkannya,” kapten Julian kembali tak sadarkan diri. Katana miliknya yang tadi utuh berkat bantuan baju tempurnya, kini kembali menyisakan gagang dan sedikit sisanya.
“Kau orang yang kuat…,” Sterling bahkan tidak mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya, pertarungan ini sangat membuatnya lelah.
Berkat usaha tidak mengenal lelah dari Solo, kapten Julian kembali bangkit dari kematian, jantungnya berdegup kembali. Memanfaatkan sisa waktu yang sedikit, baju tempurnya diaktifkan hanya untuk membuat katananya utuh kembali dan melempar tubuhnya ke arena pertarungan. Butuh waktu yang cukup lama sebelum anggota Silver Clan membantu rekannya yang lain.
“Bagaimana bisa?” tanya Giorga.
Sterling menjelaskannya, ketika kristal melapisi tubuhnya. Terdapat rongga kosong yang sengaja disisakan agar terjadinya reaksi bom vakum. Awan yang sudah melapisi tubuhnya dibuat secepat mungkin agar menjadi awan hujan, menghasilkan petir yang akhirnya melemahkan kristal tersebut. Ledakannya tetap terasa menyakitkan, karena sebagian tubuhnya hancur meskipun daya ledaknya berkurang.
Setelah itu Sterling berubah sepenuhnya menjadi awan dan melakukan regen di atas sana, sambil menunggu keadaannya pulih. Sebuah rencana telah dilakukannya. Bahkan Giorga tidak menyadari karena terlalu sibuk bertarung dengan anggota Silver Clan.
“Coa kau tengok langit di atas sana,” ucap Sterling. “aku tahu ini malam hari, tetapi tidak akan menghalangimu untuk menikmati sajian bintang-bintang yang bersinar.”
Giorga tertegun, ia sama sekali tidak bisa melihat bintang-bintang ataupun sang rembulan, semuanya tertutup awan. Lebih parahnya lagi, awan-awan itu merupakan awan hujan. Yang dibekali oleh petir-petir yang siap menyambar.
“Bulan tadi, sebagai bulan terakhir yang kau lihat malam ini!” kilatan petir kembali menyambar, Giorga berhasil menghindar tetapi Sterling dan Vivian melakukan serangan tambahan secara bersama-sama.
Giorga melepaskan tembakan bola cahaya, Vivian menangkisnya dengan mudah menggunakan perisainya.
“Kau tahu berapa volt tegangan petir ini?” Vivian menebas lengan Giorga, membuatnya terlepas dari tubuhnya. “Sterling!”
Sterling melesat, memukul kepala Giorga hingga terpental jauh. Lapisan pelindung kepalanya pecah hingga wajah aslinya terlihat. Tangan yang terpotong kembali tumbuh, begitupun dengan bagian kepala yang kembali tertutup.
Kepulan asap muncul ketika aliran listrik yang melapisi tubuh Vivian dan Sterling menghilang. Besi yang tadinya berwarna abu perak menjadi hitam pekat. Sambaran petirnya tidak bisa bertahan lama, karena sejatinya mereka hanya singgah sebentar saja. Karena tidak ada sumber yang menahan aliran listrik itu.
“Oh, begitu…,” Giorga kembali berbicara layaknya sedang dalam posisi yang unggul. “berapa lama lapisan besinya dapat bertahan?”
“Itu bukan masalah!” petir menyambar, Giorga hanya bergerak sedikit untuk menghindar. Gerakan petir cenderung lurus, sehingga dapat dihindari ketika dalam posisi awas. “kita lakukan seperti biasa,” ucap Sterling pada Vivian.
“Baiklah…,” keduanya bergerak dengan cepat, melakukan kombinasi serangan yang sering mereka latih.
Solo menyaksikan sebuah pertarungan tingkat tinggi, kedua matanya tidak sanggup melihat secara keseluruhan. Hanya berupa cahaya yang meliuk-liuk bagaikan sedang berdansa. Kombinasi serangan Sterling dan Vivian belum pernah dicoba pada saat pertempuran. Hanya tuan Stam yang pernah melawannya, dan serangan itu cukup merepotkan. Jika ada Beaters lain yang mampu bertahan sudah dipastikan kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Pada saat bersamaan, Solo merasakan ada gerakan di jantung kapten Julian.
“Eh?” dirinya terkejut, dan terus memompa agar kapten Julian dapat siuam kembali.
Petir-petir menyambar, Giorga bergerak untuk menghindari seraya memperhatikan gerak musuhnya. Baik Sterling dan Vivian belum dialiri tenaga listirk dari petir. Sehingga kekuatan besi saja mampu ditahan dengan kekuatan ledakan dan perusak miliknya.
“Hm?” Vivian menghalangi pandangannya menggunakan perisai besar miliknya.
Sterling mencoba masuk melalui jalan lain, namun lirikan Giorga membuyarkan semuanya. Serangannya digagalkan setelah lemparan bola kecil mengenai pelipis kanannya. Begitu dengan tusukan dari Vivian yang sayangnya tidak mengenai target.
“Rasanya seperti ketika melawan tuan Stam,” ucap Sterling. “bagaimana caranya tadi seranganmu mampu menembusnya?” lanjutnya.
“Dengan cara sederhana, memanfaatkan titik butanya,” jawab Vivian. “petirmu hanya keras saja, tidak ada gunanya….”
“Jangan salahkan aku, petirnya tidak bisa kubelokan…,” Sterling menengok ke atas, awan gelapnya masih banyak tersisa untuk mengeluarkan petir.
Sama seperti Sterling dan Vivian, Giorga juga sedang memikirkan cara untuk dapat menyerang balik. Bola-bola kecilnya tidak cukup untuk menghancurkan lapisan besi di tubuh anggota Silver Clan itu. Belum lagi petir yang tidak bisa ditebak kapan muncul.
“Oh…,” Giorga membuat bola cahayanya, lalu menarik tangannya ke dalam hingga mengayunkannya jauh ke atas. “akan kuhilangkan dulu awan petirnya…”
Sterling sudah memprediksinya, awan petir bikinannya memang merepotkan. Sebelum bola cahaya itu menyentuh langit, rintik air mulai turun, terjadi hujan deras secara mendadak.
“Intensitas awannya begitu pekat, dia bisa menemanimu hingga esok hari, jadi tidak perlu khawatir soal petirnya,” ucap Sterling. “pinjam tombakmu,” meminta Vivian untuk meminjamnya tombak besinya.
Kilatan petir besar menyambar pada saat Sterling mengangkat tangannya. Tombak besi itu dialiri listrik yang begitu masif, hingga membuat Vivian harus menjaga jaraknya. Diam-diam Giorga menyerap bola-bola cahaya bikinannya sendiri. Dalam hujan seperti ini dan di malam hari, jarak pandang semakin terbatas.
“Bersiaplah!” Sterling dengan kuda-kudanya berniat melepaskan tombak besinya.
“Si bodoh Sterling, beritahu jika ingin membuat hujan!,” Solo dengan sigap membuat penghalang dari batang lunaknya. Agar dirinya dan kapten Julian tidak terkena air hujan.
Tanah pijakan kakinya retak kemudian hancur ketika Sterling melepaskan serangan yang diberi nama ‘Zeus Judgement’ itu. Tombak besi meluncur hebat menepis semua tetesan air hujan yang menjadi penghalang lajunya. Giorga tampak santai ketika harus berhadapan dengan serangan tersebut.
Sinar yang dihasilkan bertambah menyilaukan saat terjadi ledakan besar. Angin yang dihempaskan membuat seakan-akan hujan telah terhenti. Vivian melihatnya, ketika tombak petir itu hampir mengenai tubuh Giorga, muncul cahaya dari dalam dirinya hingga memicu ledakan besar.
“Cih!” tiba-tiba tubuh Giorga tertusuk oleh awan berputar yang ujungnya tajam. Sterling muncul dihadapannya setelah ledakannya selesai.
“Kenapa kau begitu cerdik? Aku juga melihatnya, meledakan diri sesaat tombak petirnya datang…,” ucap Sterling. “aku tidak tahu letak pastinya, tetapi awan ini akan---” lengannya yang membawa angin putar itu terputus dari tempatnya.
“Aku memang cerdik!” selain melapisi dengan bola ledakan, Giorga juga melapisi dirinya dengan zat perusak. “sekarang mati kau!” bola perusak berukuran besar muncul dari telapak tangannya. Kilatan petir yang menyambar tombak besi tadi cukup membuat tubuh Sterling bergetar, membuat gerakannya sedikit melambat setelah menerjang Giorga menggunakan jurus andalannya.
“Tidak akan kubiarkan!” Vivian datang menghalangi bola itu menggunakan perisai besarnya. Lalu meminta Sterling untuk memotong sisa lengannya sebelum zat perusak menjalar lebih jauh.
Perisai miliknya dengan cepat terkikis, Vivian membuangnya. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Menggunakan cakar besinya, Vivian menusuk kepala Giorga. Saat kukunya menancap, dirinya harus menerima akibatnya. Sebuah bola perusak berhasil membuat lubang besar diperutnya.
Menggunakan tangan satunya lagi, Giorga melepaskan tusukannya, membuang tubuh Vivian jauh. Sterling dihadapkan pada posisi yang sulit. Melanjutkan serangan atau membantu Vivian untuk menghentikan gerakan zat perusaknya. Teriakan terdengar membelah suara hujan.
“BIAR AKU YANG MENYELESAIKANNYA!” Kapten Julian menggunakan sisa katana Matsumoto menerjang hujan deras.
Bagian yang ditebasnya bukanlah kaki, ataupun leher, tetapi kedua pergelangan tangan Giorga. Luka dimatanya akibat serangan Vivian memberikan sebuah keuntungan besar. Setelah melakukan serangan, kapten Julian kembali tersungkur, membuatnya muntah darah dalam jumlah banyak. Sedangkan Sterling dengan terpaksa memotong bagian tubuh Vivian sebelum semuanya terlambat.
Dua tangan milik Giorga menyentuh lantai basah, dari dalamnya muncul kaki-kaki kecil serangga. Diikuti oleh darah segar keluar dari sana. Beat yang selama ini dicari ternyata dibagi menjadi dua bagian, masing-masing berada dalam pergelangan tangannya. Solo datang mendekat, karena hanya dirinya anggota Silver Clan yang belum terkena serangan.
“Hujan…, aku benci hujan….,” kata-kata terakhir Giorga sebelum seluruh tubuhnya terkikis hancur.
“Maaf, tapi ini akan kumasukan dalam laporan kalau aku yang mengalahkannya,” kapten Julian kembali tak sadarkan diri. Katana miliknya yang tadi utuh berkat bantuan baju tempurnya, kini kembali menyisakan gagang dan sedikit sisanya.
“Kau orang yang kuat…,” Sterling bahkan tidak mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya, pertarungan ini sangat membuatnya lelah.
Berkat usaha tidak mengenal lelah dari Solo, kapten Julian kembali bangkit dari kematian, jantungnya berdegup kembali. Memanfaatkan sisa waktu yang sedikit, baju tempurnya diaktifkan hanya untuk membuat katananya utuh kembali dan melempar tubuhnya ke arena pertarungan. Butuh waktu yang cukup lama sebelum anggota Silver Clan membantu rekannya yang lain.
gokil4ever dan armaya19 memberi reputasi
2
Kutip
Balas