Kaskus

Story

loveismynameAvatar border
TS
loveismyname
YOU ARE MY DESTINY 2
YOU ARE MY DESTINY 2


Dia mengangkat wajahnya dan dengan segera aku terkesiap. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya dengan baik.

Aku menundukkan pandanganku dengan dada bergetar hebat. Aku sudah berusaha melupakannya. Kenapa kami malah bertemu lagi.


****

Hai kaskusers.

Ketemu lagi sama gue di cerita kedua gue. Semoga cerita kali ini bisa menghibur kalian semua. Oh iya, sebelum baca cerita ini, akan lebih baik kalian baca dulu cerita pertama gue, karena ada beberapa tokoh yg akan nongol di sini lagi. Linknya di sini ya.

di sini

Attention !!!

Quote:


WARNING !!

Quote:


Note:
TS lumayan sibuk setahun ini. Jadi, mungkin update tidak akan selancar cerita pertama. Mohon di maklumi ya. Tapi, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan cerita ini.

Akhir kata...

Enjoy yaa
Diubah oleh loveismyname 12-02-2025 14:18
yuaufchauzaAvatar border
yputra121097703Avatar border
percyjackson321Avatar border
percyjackson321 dan 41 lainnya memberi reputasi
40
52.8K
989
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
loveismynameAvatar border
TS
loveismyname
#304
Jodoh ?
Aku semakin giat belajar agama dengan Mbak Ratih. Kata Mbak Ratih, untuk ukuran seorang mualaf, proses belajarku sangat cepat. Heheheheh.

Aku sangat tertarik dengan konsep Islam tentang hubungan antara pria dan wanita. Entah kenapa, aku setuju dengan semua konsep yang di tawarkan. Mungkin karena aku sudah berkali-kali gagal dalam pacaran, sampai kehilangan keperawanan, dan nyaris mati.

Aku jadi teringat soal Ratu dan circle dugem ku dulu. Aku pernah terjatuh dalam lubang yang sangat dalam yang mengakibatkan aku mengalami trauma berat dan akhirnya pindah ke sini. Mungkin itu juga sebabnya aku bisa memahami konsep dengan mudah, karena semua relate dengan pengalaman hidupku.

Ada beberapa wejangan mbak ratih yang sangat aku ingat.

"Vin, walaupun kamu sudah pindah keyakinan, jangan sekali-kali kamu merendahkan agamamu sebelumnya. Islam sangat melarang hal itu. Karena agama itu keyakinan dasar. Yang namanya keyakinan tidak bisa di ganggu gugat. Hidayah, itu urusan Allah, bukan urusan kita. Kewajiban kita hanya melaksanakan tuntunan agama sebaik mungkin. Dan jangan juga kamu menjauhi keluargamu yang berbeda keyakinan. Tetap bantu mereka jika bisa dan selalu utamakan mereka dulu baru teman temanmu." begitu kata Mbak Ratih.

Beberapa kali juga, Ustadz Mukhlas mendapatkan permintaan untuk meminangku. Aku sama sekali tidak keberatan, permintaan itu di filter terlebih dahulu oleh ustadz Mukhlas. Aku sangat percaya dengan kapabilitasnya. Jika ustadz Mukhlas ragu, baru dia akan bertanya padaku. So far sih semua tertolak. Baik oleh Ustadz Mukhlas ataupun olehku.

Ada juga yang langsung nembak aku. Ada teman kantor, atau pun kenalan seorang teman. Satria pernah mengenalkan aku pada temannya, dan tanpa ragu dia bilang ingin meminangku. Aku dengan tegas menolak. Entah kenapa saat itu aku begitu yakin. Aku hanya mendengarkan kata hatiku saja. Tapi ternyata firasatku benar. Temannya Satria itu ternyata gemar berjudi dan aku mendengar berita dia sedang di kejar bandar judi atas hutang-hutangnya.

Tanpa kusadari, perbuatanku semakin islami, begitu juga dengan pakaianku. Aku tidak selalu memakai gamis atau jubah panjang kok. Kalau ke kantor ya aku memakai outfit selayaknya orang kantoran. Hanya saja saat ini aku pilih. Aku tidak akan memakai pakaian ketat dan jilbabku selalu menutupi bagian dada. Atau bisa juga aku gunakan blazer atau sweater untuk menutupi bagian itu. Sedangkan untuk bawahan, aku menyukai rok rempel panjang.

Panggilan Humaira semakin akrab di telingaku dan aku juga tidak keberatan. Panggilan yang awalnya hanya candaan itu seperti menjadi nama keduaku. Huahahahah.

Pernah ada anak baru di kantor. Dia di suruh menghadap kepadaku dari bagian finance. Pak Widodo memberikan nama asliku, Meivina. Alhasil, dia berputar-putar kebingungan mencariku. Begitu di berikan nama Humaira, baru dia tau.

Hahahaha.

“Mbak, masa di kantor, aku makin sering di panggil Humaira. Itu gak papa Mbak?” Tanyaku pada Mbak Ratih suatu waktu.

“Ya ndak papa. Itu bisa jadi nama julukan kok. Selama artinya baik, tidak masalah.”

“Atau aku ganti nama aja ya Mbak?”

“Hihihihi. Ndak usah. Namamu ndak usah dirubah. Buat apa? Wong nama belakang kamu udah bagus banget kok. hihihihihihi.” Kata Mbak Ratih sambil tertawa.

Aku juga tertawa. Iya juga sih.

‘Tapi aku suka deh sama panggilan itu. Kalau aku lebih nyaman di panggil dengan itu atau di kenalkan dengan itu boleh nggak?”

“Ya boleh saja. tapi, ketika menikah tetap harus dengan nama asli.”

Aku manggut-manggut mengerti.

“Atau kamu patenkan saja nama itu sebagai julukan kamu?”

“Emang artinya apa sih Mbak?”

“Lah kamu ndak tau?”

Aku menggeleng.

“Humaira arti harfiahnya adalah kemerah-merahan. Itu adalah julukan untuk Sayyidah Aisyah karena pipinya berwarna kemerahan. Mungkin karena pipi kamu kemerahan juga kali, makanya temen kamu manggil kamu dengan nama itu.”

Aku segera teringat bagaimana awalnya nama itu terucap. Aku merasakan panas di pipi yang berarti warna pipiku akan menjadi merah. Mungkin gara-gara itu.  

Aku langsung tersenyum lebar dan mengangguk-angguk semangat. Keren banget nama julukanku. Makin besarlah kepalaku.

Hahahahahaha.

Karena hatiku semakin tenang, perlahan nama Dhani mulai terhapus. Aku tidak lagi memikirkannya.

Tapiiiiii, jika ada orang yang menyebut nama itu, aku reflek menjadi galau. Misal, ada vendor kantor yang bernama Dhani. Jika dia datang, jantungku langsung berdegub. Entahlah harus sampai kapan aku benar-benar bisa menghilangkan nama dan kenangannya dari hatiku.

Suatu malam aku memimpikannya. Mimpi itu seperti mengulang semua kenangan kami bersama. Tiba-tiba, bayangan Dhani memudar dan menghilang. Aku berteriak memanggil namanya dengan tangis menyayat hati. Setelah itu aku terbangun, tepat saat adzan subuh. Tubuhku menggigil dan aku menangis keras. Kenapa mimpi itu harus datang, dan membuatku semakin sulit untuk melupakannya?

Aku sudah berusaha melupakannya Ya Allah.

Akhirnya aku bekerja dengan perasaan galau luar biasa. Berkali-kali aku tidak fokus dan membuat Yanti khawatir padaku. Aku bilang tidak apa-apa, hanya kurang tidur. Begitu alasanku. Yanti memang tidak tahu kisahku. Di kota ini, hanya Mbak Ratih dan Ustadz Muhlas saja yang tau.

Kegalauan itu berlangsung hingga malam. Sebelum tidur, aku coba hilangkan perasaan itu dengan mengaji. Aku berharap mimpi itu tidak terulang lagi. Tapi kenyataannya, dalam hati kecilku, aku malah sangat berharap mimpi itu terulang. Rasa rindu yang meletup memenuhi dadaku.

Ting !!

Notifikasi chat dari ponselku muncul. Aku melihat nama ustadz Mukhlas di sana. Karena guruku yang chat, aku menyudahi ngajiku dan membaca pesan darinya.

Ustadz Mukhlas : Assalammualaikum. Humaira sudah tidur? Ganggu ndak?

Vina : Waalaikum salam. Belum Ustadz. Ndak ganggu Insya Allah. Ada apa ya?

Ustadz Mukhlas : Huma, hari ini saya kedatangan tamu. Dia datang dari kota asalmu. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan untuk menemukan arti kebahagiaan di hidupnya. Dia muslim dan sempat tersesat. Perjalanannya kali ini juga dalam misi untuk kembali ke agamanya. Sebelum perjalanan ini, dia juga sudah umrah ke tanah suci. Lelaki ini adalah kenalan pamanku. Kata pamanku, dia berasal dari keluarga baik-baik dan taat agama, hanya dia saja yang sempat nyasar. Dia belum menikah. Terakhir pernikahannya batal karena kesalahannya. Usianya hampir sama denganmu.

Vina : Terus ustadz?

Ustadz Mukhlas : Jujur saja, dari sekian banyak pria yang mencoba melamarmu, hanya pria ini yang sreg di hati saya. Saya ndak tau kenapa. Dia tidak melamarmu secara langsung sih. Tapi mohon maaf sekali, saya yang menawarkan untuk ta’aruf sama kamu. Karena saya merasa cocok dengan pria ini. Kalau kamu mau, saya bisa atur majelis ta’aruf antara kamu dan dia. tapi kalau kamu ndak berkenan, saya minta maaf ya.

Vina : Ndak papa ustadz. Saya percaya njenengan. Tapi kalau boleh tau, apakah dia punya pekerjaan? Saya tidak munafik, saya lebih suka lelaki yang punya pekerjaan. Tidak harus yang kaya, yang penting dia mengerti bahwa tugas seorang suami adalah menafkahi keluarganya.

Ustadz Mukhlas : Insya Allah dia mapan. Dia sudah bekerja dan punya usaha juga. Penghasilannya cukup besar.

Vina : Ustadz sudah kasih tau masa lalu saya?

Ustadz Mukhlas : Secara umum sudah. Untuk cerita lengkapnya, biar kamu saja yang cerita di majelis nanti. Saya takut salah menceritakan kisah kamu. Tapi, dia tidak keberatan. Dia juga punya masa lalu buruk dan dia sudah bertaubat.

Vina : Jika ta’aruf lalu saya tidak cocok, saya berhak menolak kan ustadz?

Ustadz Mukhlas : Tentu. Kamu sangat berhak menolak.

Vina : Bismillah, saya mau ustadz. Tapi, nanti di temani Mbak ratih ya?

Ustadz Mukhlas : Alhamdulillah. Terima kasih ya Vin. Nanti saya kasih tau dik ratih untuk nemenin kamu. Kamu bisa kapan ya?

Vina : Secepatnya Ustadz.

Ustadz Mukhlas : Besok sore ba’da Ashar bisa?

Vina : Saya akan izin kerja ustadz. Insya Allah bisa.

Ustadz Mukhlas : Ndak perlu di beratkan Vina. Kalau kerja ya kerja saja dulu.

‘Vina : Ndak papa ustadz. Semoga ini menjadi jalan yang baik untuk saya

Ustadz Mukhlas : Amiin

Aku mengakhiri chat ustadz Mukhlas dengan hati berdebar luar biasa. Entah kenapa aku bisa mengiyakan tawaran Ustadz Mukhlas tanpa berfikir. Aku juga bingung, kok bisa aku nekad banget?

Masalahnya, tidak pernah sekalipun ustadz Mukhlas menawarkan kepada seorang pria untuk melamarku. Prosesnya selalu sama, mereka yang datang ke ustadz Mukhlas dan memintaku. Baru kali ini, ustadz Mukhlas yang menawarkan. Berarti, dia seyakin itu kepada pria ini. Dan kalau ustadz Mukhlas yakin, tidak ada alasan unttuk menolaknya. Aku sangat mempercayai ustadz Mukhlas.

Bukan berarti dia tidak punya salah ya. dia tetap manusia biasa. Namun, feeling seorang alim biasanya tidak salah. Kalaupun salah dan aku tidak cocok, ya tinggal tolak. Nggak masalah. Di tambah lagi, pengakuan pria ini yang mencoba hijrah dari keburukannya di masa lalu, meringankan hatiku. Maksudnya, kami bisa saling mengerti kondisi masing-masing. Aku dan dia sama sama punya masa lalu yang buruk.

Tak lama, Mbak Ratih meneleponku. Dia memberikan wejangan agar aku tidak berhenti berdoa malam ini, karena gangguan setan berupa syahwat akan terus meneror di saat seperti ini. Menurut Mbak ratih, ini adalah saat krusial dimana kita bisa terpeleset atau menerima berkah yang luar biasa. Mbak Ratih benar, sesaat setelah kami mengakhiri chat, ada dorongan nafsu yang luar biasa di dalam hati.

Aku beristighfar dan mengikuti saran Mbak Ratih. Sebelum tidur aku banyak berdoa supaya besok di lancarkan. Apapun hasilnya, semoga menjadi kebaikan di antara kami.

Malamnya, aku kembali memimpikan Dhani. Kali ini, aku bermimpi kami saling menangis dan berpegangan tangan erat. Aku melihat ada ustadz Mukhlas dan Mba Ratih yang juga menitikan air mata. Di depanku, Ada seorang pria setengah baya yang sedang mencatat sesuatu. Aku tidak kenal pria itu. Yang pasti, saat itu suasana sangat mengharukan. Aku sampai tidak bisa bernafas saking terharunya, lalu aku jatuh pingsan.

Saat jatuh pingsan, aku terbangun kembali. Kali ini aku terbangun di sepertiga malam. Aku sempat terdiam lalu menangis tersedu.

Apa maksudmu ya Tuhan? Kenapa suasana dalam mimpiku itu terasa nyata? Rasa sesak karena terharu itu masih terasa saat aku terbangun. Kemudian aku tersadar, dari pada galau, aku mencoba sholat tahajjud. Semoga bisa meringankan hati.

Setelah sholat tahajjud, aku menguatkan hatiku. Mimpi itu hanya godaan untuk aku yang ingin meraih kebaikan. Aku tidak akan tergoda, dan fokus pada majelis ta’aruf sore nanti. Aku akan fokus mengenal laki-laki yang akan berkenalan denganku. Aku yakinkan diriku, tidak boleh ada nafsu atau masa lalu yang terlibat. Proses ini untuk masa depanku yang lebih baik.

Siangnya, aku izin dari kantor kepada atasanku. Aku bilang aku ada urusan penting yang harus di selesaikan. Aku tidak bohong, namun aku memang menutupi alasanku yang sebenarnya. Untungnya, manager memberikan aku izin. Katanya, selama aku kerja di sini, aku tidak pernah cuti. Sekalinya cuti paling karena sakit. Itu pun hanya sehari saja. Jadi, manajer memaklumi permohonanku. Lagi pula, minggu ini sepertinya pekerjaan sedang menurun. After closing biasa.

Yanti bertanya khawatir kepadaku, dan aku bilang, aku hanya ada urusan. Yanti memang tidak ku beritahu, dan sepertinya Mbak Ratih juga tidak memberitahunya. Seperti biasa, Yanti tidak terlalu kepo. Dia hanya berpesan, jika butuh bantuannya, jangan ragu untuk telepon.

Aku menuju tempat majelis, yaitu pesantren tempat proses mualafku dulu. Aku sampai di sana, dan di arahkan oleh santriwati ke sebuah ruangan. Di ruangan tersebut sudah ada Mbak Ratih dan begitu melihatku, dia langsung menghampiri dan memelukku.

“Tenangkan hati kamu Humaira. Jangan biarkan nafsu terlibat ya.” Bisik Mbak ratih.

Aku jawab dengan anggukan pelan.

“Dia sudah ada di sini. Lagi ngobrol sama Mbah Yai. Saran Mbah Yai, majelis di adakan ba’da ashar. Gimana Huma?”

“Aku ikut gimana baiknya aja Mbak Ratih.”

“Baik. Setengah jam lagi masuk ashar. Kamu sama aku sholat di sini ya. Nanti kita sekalian nunggu di sini.”

Aku mengangguk lagi.

Waktu berjalan terasa lambat, dan membuatku gelisah. Aku coba berdzikir namun kegelisahan tidak juga berkurang. Jantungku malah berdebar semakin cepat. Waktu ashar akhirnya masuk. Aku dan Mbak ratih sholat berjamaah di ruangan kecil itu. Setelah sholat, kami berdzikir dan membaca doa sebentar.

Sekitar 15 menit kemudian, ada ketukan di pintu. Mbak ratih langsung membukanya. Telrihat wajah Ustadz Mukhlas dari balik pintu.

“Humaira udah siap?”

Deg !! Deg !!! Deg !!

Jantungku berdegub kencang tidak karuan. Aku mencoba menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

“Insya Allah.” Jawabku pada akhirnya.

Aku di giring keluar oleh Mbak ratih dan seorang santriwati. Aku duduk di sebuah kursi, di belakang rak buku. Rak buku tinggi ini sepertinya pembatas antar ruangan.

Ustadz Mukhlas memulai majelis dengan doa dan basa basi sebentar. Setelah itu, Ustadz Mukhlas memperkenalkan laki-laki yang akan ta’aruf denganku.

“Humaira, kamu boleh ke sini. Kita perkenalan langsung saja. tapi tolong jaga pandangan kalian. Kalian boleh saling memandang untuk berkenalan, namun tidak boleh berlebihan. Paham?”

Aku kembali di giring oleh Mbak Ratih. Aku tidak berani memandang pria itu. Aku terus-terusan menunduk dengan jantung yang berpacu cepat. Aku duduk di sebuah kursi dan kepalaku masih tertunduk.

“Loh, kok malah nunduk-nundukan. Hahahahaha. Coba pandang dulu, cocok gak kalian?” Kata Ustadz Mukhlas.

Aku memberanikan diri untuk menengadahkan wajah, mencoba untuk melihat pria itu. dan seketika, pandangan kami bertemu.
Diubah oleh loveismyname 04-02-2025 08:54
pulaukapok
yuaufchauza
percyjackson321
percyjackson321 dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.