- Beranda
- Stories from the Heart
YOU ARE MY DESTINY 2
...
TS
loveismyname
YOU ARE MY DESTINY 2

Dia mengangkat wajahnya dan dengan segera aku terkesiap. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya dengan baik.
Aku menundukkan pandanganku dengan dada bergetar hebat. Aku sudah berusaha melupakannya. Kenapa kami malah bertemu lagi.
****
Hai kaskusers.
Ketemu lagi sama gue di cerita kedua gue. Semoga cerita kali ini bisa menghibur kalian semua. Oh iya, sebelum baca cerita ini, akan lebih baik kalian baca dulu cerita pertama gue, karena ada beberapa tokoh yg akan nongol di sini lagi. Linknya di sini ya.
di sini
Attention !!!
Quote:
WARNING !!
Quote:
Note:
TS lumayan sibuk setahun ini. Jadi, mungkin update tidak akan selancar cerita pertama. Mohon di maklumi ya. Tapi, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan cerita ini.
Akhir kata...
Enjoy yaa
Diubah oleh loveismyname 12-02-2025 14:18
percyjackson321 dan 41 lainnya memberi reputasi
40
53K
989
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#285
Hidup Baru 2
Tok..tok..tok
Tepat setelah Yanti pergi, ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku yang sedang sarapan menghentikan kegiatanku dan berjalan ke arah pintu.
Aku membuka pintu dan terlihatlah seorang pria Chinese yang kekar dan badannya penuh dengan tattoo. Dia tersenyum ke arahku dan aku balas ramah. Kalau yang tidak kenal dengannya pasti akan takut. Tapi, karena aku sudah mengenalnya dengan baik, aku jadi biasa saja. Malah aku senang dengan kehadirannya.
Aku merasa aman jika ada dia.
“Eh elu Ko. Yuk masuk.” Kataku.
Dia pun masuk ke kamarku. Aku biarkan pintu terbuka agar tidak di curigai macam-macam. Dia langsung melihat sekeliling kamarku, dan melakukan inspeksi seperti biasa.
Dia buka semua tempat penyimpananku. Dari lemari baju sampai laci kecil tempat make up dia geledah. Aku biarkan dia melakukan itu dan kembali makan.
“Ko, gue sambil makan ya. Lu udah makan?”
Dia menghentikan sejenak kegiatannya lalu melirikku lembut.
“Gue bawa makanan. Tadinya mau sarapan bareng. Tuh ada di situ.” Katanya sambil menunjuk ke atas rak buku. Ada bungkusan plastic di sana.
“Yah, maap ya Ko. Gue gak tau kalo lu mau dateng.”
“Santai aja. Lu makan aja duluan, nanti gue nyusul.”
“…..”
“tapi kalo lu butuh tambahan lauk, buka aja. gue beli pecel.” Kata lelaki itu.
Aku mengangguk dan membuka plastic itu. Aku ambil piring satu lagi dan menghidangkan pecel itu di sana. Lelaki itu masih menginspeksi kamarku. Sekarang, dia sedang memeriksa kamar mandi.
Dari kamar mandi, dia kembali ke kamar, mengangkat kasurku dan memeriksa semua bagian itu. Sampai ke balik bantal juga dia periksa. Aku tertawa saja melihatnya seperti itu.
Aku selesai makan berbarengan saat lelaki itu selesai melakukan pemeriksaan semua sudut kamarku. Dia menuju ke kursi yang tadi aku duduki dan mulai meracik makanannya. Selesai mencucui piring, aku duduk di kasur dan membuka buku yang tadi belum selesai aku baca. Lelaki itu tiba-tiba berdiri dan duduk di depanku sambil menatapku tajam.
“Buka mulut lu.”
Aku mengikuti perintahnya dan membuka mulutku lebar-lebar. Setelah itu dia memegang kedua pipiku dan melihat tajam ke arah mataku.
“Begadang?” Tanyanya.
Aku mengangguk.
“Ngapain?”
“Yanti nginep. Ngobrol sampe malem kita.”
“Oh iya. Tadi gue ketemu di depan.”
“…..’
“Kalo sama dia, gue gak khawatir. Yanti anak yang baik.”
“Paling baik buat gue Ko.”
“Setuju. Dia temen yang paling lu butuhin.”
Lelaki itu kembali ke kursinya dan mulai makan.
“Elu dari kapan nyampe sini?” Tanyaku.
“Baru nyampe. Gue ada perlu ke kota sebelah. Gue sempetin mampir.”
“Lu gak perlu repot gini Ko. Gue baik-baik aja.”
Dia menghela nafas dalam dan menatap ke arahku.
“Waktu gue denger cerita elu dari Dogol, gue ngerasa ikut bertanggung jawab. Gue gak akan ngebiarin lu jatuh ke lubang yang sama.”
“Ga akan Ko.”
“Who knows? Seenggaknya, kalo gue strict gini, lu bakal mikir dua kali kalo lu mau macem-macem.” Katanya sambil tersenyum.
Aku tertawa lalu kembali membaca buku. Lelaki itu meneruskan makannya.
“Ada yang iseng lagi sama lu gak?” Dia bertanya lagi.
“Gak ada Ko. Aman.”
“Good.”
Aku menghentikan kegiatanku dan memilih untuk diam menatapnya.
Lelaki ini adalah kakak tertua dari almarhumah istri pertama Dogol, Afei. Namanya Ko Afung. Dia adalah laki-laki satu-satunya yang bebas keluar masuk di kost putri yang cukup ketat ini. Akses untuknya di berikan oleh Dogol dan di ketahui oleh Pak Joko. Dia bebas masuk ke kamarku kapan saja, bahkan pernah tengah malam dia datang hanya untuk inspeksi kamarku. Pemilik kost tahunya dia adalah kakakku.
Tiap datang ke sini, dia akan memeriksa semua sudut kamarku. Tidak ada yang luput. Tujuannya adalah memastikan aku tidak menyimpan barang terlarang seperti minuman keras atau malah obat terlarang. Dia juga memeriksa kondisi tubuhku. Dia bisa tau apakah aku begadang atau tidak. Kalau begadang, dia akan bertanya lagi lebih detail.
So far, dia tidak menemukan hal aneh di kamarku.
Dia juga pernah menghajar seorang cowok yang terobsesi denganku. Cowok itu menyukaiku namun aku tolak baik-baik namun kayaknya dia gak terima. Aku sih biasa saja ya. Aku tidak takut kok sama cowok itu. Namun apes, saat cowok itu menemuiku di kost dan sedikit merayuku untuk mengajakku jalan-jalan, Ko Afung datang dan tanpa basa basi dia menghajar cowok itu sampai tidak berbentuk.
Ko Afung datang dan pergi seperti angin. Tidak bisa di perkirakan waktunya. Sewaktu pertama aku bertemu dengannya, aku sempat ketakutan karena sepertinya dia galak sekali. Apalagi dia memeriksa kamarku sampai sedetail itu. Tapi lama kelamaan, aku malah merasa aman. Begitu banyak orang-orang baik di sekitarku yang peduli padaku.
Itu baru Ko Afung. Ada beberapa orang lagi yang rutin cek kondisiku di sini. Ada Ko Along, adik dari Ko Afung. Ada Bang Dika, kakak dari Adelle. Ada Pacul dan Trixie, sahabat Dogol sewaktu kecil dan ada beberapa orang lagi.
Mereka benar-benar menjagaku dan mengawasiku agar aku tidak kembali ke kehidupan lamaku. Ci Amel sempat kaget ketika bertemu salah satu dari mereka. Dia kaget karena ternyata Dogol sampai segitunya untuk menjagaku. Sebenarnya bukan Dogol yang menginisiasi, tapi Adelle. Adelle yang merasa senasib, benar-benar ingin aku berubah dan menjalani hidup yang lebih baik.
Mereka semua tidak tinggal di sini, tapi, jika ada urusan ke kota yang dekat dari sini pasti mereka menyempatkan mampir ke tempatku. Jadi waktunya random, tidak pasti. Seperti Ko Afung saat ini.
“Ko..”
“Hmmm..”
“Lu kenapa care banget sama gue?”
“….”
“Lu tau kan kalo lu gak harus sampe kayak gini.”
Ko Afung hanya diam sambil meneruskan makannya.
“Ko…”
“hmmmm..”
“Menurut lo, gue melakukan hal yang tepat gak?”
“Maksudnya?”
“Yaa pergi dari kota lama gue dan pindah ke sini.”
“Tepat banget.”
“Kenapa?”
Ko Afung tidak menjawab lagi. Dia membereskan sisa makannya lalu minum dari gelas yang sudah kusediakan.
Setelah minum, dia duduk sambil menatapku tajam.
“Vin.. I’ve done a big mistake too. Long time ago.”
“…..”
“I left all I have behind. I left my family, my friend, everything.”
“…..”
“Selama gue pergi, gue merenungkan kesalahan gue, memperbaiki diri dan menguatkan mental. Pada saatnya, gue kembali, meminta maaf, dan semua selesai gitu aja.”
“…..”
“Gue cuma pesen, kalo lu punya sesuatu yang tertinggal di sana, cepatlah selesaikan. Terlalu nyaman di tempat baru dan melupakan kewajiban yang tertinggal itu gak baik juga. Lu harus kembali dan menyelesaikan apa yang harus lu selesaikan.”
“tapi… gue masih takut Ko.”
“Percaya sama gue, keadaan gak akan seburuk yang elu pikir. Yang penting lu tulus dan minta maaf bener-bener. Semua akan selesai.”
“…..”
“Vin, you’re just like my sister. That’s why I want to help you and protect you.”
“Afei?”
Ko Afung mengangguk.
“Itung-itung nebus kesalahan gue dulu. kalo lu ngerasa gue terlalu ketat, gue gak peduli. Tujuan gue baik. Dan elu pasti tau, godaan untuk balik dan melakukan kesalahan lagi pasti besar.”
“…..”
“Lagian, gue gak akan ikut campur kehidupan pribadi elu. Cowok yang gue hajar kemaren menurut gue udah keterlaluan. Kalo gue gak kasih pelajaran, dia bakal lebih nekad.”
“…..”
“Ya udah. Gue balik dulu. Lu baik-baik di sini. Jangan kecewakan orang-orang yang udah baik sama elu.”
“Iya Ko. Makasih banyak ya.”
Ko Afung mengangguk. Dia berdiri, mengambil tasnya lalu berjalan keluar kamar. Sebelum benar-benar pergi, dia bertanya satu hal lagi.
“Lu ada duit gak?”
“Hah? Ada kok. Kenapa?”
“Gak kesusahan kan lu?”
“Ya elah kirain apaan. Nggak Ko. Aman duit mah.”
“Ya udah gue pigi dulu.”
Ko Afung pun berlalu dari hadapanku.
Sepanjang sabtu itu aku hanya diam di kamar tidak kemana-mana. Lagipula, ini hanya kota kecil. Mau kesana kesini ya sama saja. Mungkin, itu kekurangan terbesar kota kecil ini. Tapi aku tetap senang. Di luar kekurangannya, kota ini memiliki sejuta kelebihan. Suasana kotanya yang adem ayem membuat mentalku cepat pulih.
Hari minggu aku terbangun agak siang. Seperti biasa, Yanti sudah bawel mengingatkan aku untuk ibadah. Satu-satunya hal buruk untukku saat tinggal di sini adalah, sering malas beribadah.
Jadi gini, dari dulu pun sebenarnya aku bukan orang yang rajin dan taat. Aku beribadah pasti bersama keluargaku, keseringan sih Ci Amel. Jadi, bukan karena aku terkena musibah terus aku jadi tidak percaya Tuhan dan malas beribadah. Bukan karena itu.
Sewaktu mentalku ambruk, yang datang bukan hanya Dinar sebagai psikolog, tapi juga tokoh agamaku. Tapi, memang dasarnya aku bukan orang yang religius, jadi ucapan tokoh agama itu hanya sedikit saja efeknya. Lebih banyak Dinar karena kapasitasnya sebagai psikolog.
Ya intinya, aku bukan orang yang religius dari awal. Itu saja.
Yanti pernah menyarankan agar aku beli motor saja, agar mudah kemana-mana termasuk beribadah.
Aku sih ada uang. Uang di atm ku masih bersaldo ratusan juta. Uang itu adalah uang dari Dama dan Andre sebelum aku pindah ke sini. Dogol yang menyuruh mereka untuk transfer karena aku keguguran. Tapi aku merasa malas menggunakan uang itu. Aku merasa Dama dan Andre mentransfer uang itu hanya agar mereka tidak lagi di ganggu Dogol. Aku merasa seperti pramuria. Di rudapaksa, di kasih uang dan di tinggal begitu saja. Jika bukan emergency, uang itu tidak akan ku gunakan.
Seperti hari minggu ini, aku kembali didera rasa malas.
Aku melirik ke arah rak buku. Apa aku beli buku saja kali ya, untuk mengusir rasa bosan? Aku melihat-lihat koleksi bukuku. Tidak sengaja, aku melihat sebuah buku yang belum terbaca dan tadinya memang ku hindari. Aku ambil buku itu dan coba melihat.
Ayat-ayat cinta, karya Habiburrahman El Shirazy.
“Bu jangan baca buku ini ya.”
Di kepalaku terngiang nasihat dari Yanti. Tapi yang namanya manusia, semakin di larang, semakin penasaran. Begitu juga diriku. Aku yang tadinya tidak tertarik, malah jadi penasaran. Ini buku best seller loh. Sampai di angkat ke layar lebar juga. bahkan pernah mencatatkan rekor penonton. Pasti buku ini bagus. Setidaknya dari sisi cerita.
Aku membuka buku novel itu dan mulai membacanya lembar demi lembar.
Tepat setelah Yanti pergi, ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku yang sedang sarapan menghentikan kegiatanku dan berjalan ke arah pintu.
Aku membuka pintu dan terlihatlah seorang pria Chinese yang kekar dan badannya penuh dengan tattoo. Dia tersenyum ke arahku dan aku balas ramah. Kalau yang tidak kenal dengannya pasti akan takut. Tapi, karena aku sudah mengenalnya dengan baik, aku jadi biasa saja. Malah aku senang dengan kehadirannya.
Aku merasa aman jika ada dia.
“Eh elu Ko. Yuk masuk.” Kataku.
Dia pun masuk ke kamarku. Aku biarkan pintu terbuka agar tidak di curigai macam-macam. Dia langsung melihat sekeliling kamarku, dan melakukan inspeksi seperti biasa.
Dia buka semua tempat penyimpananku. Dari lemari baju sampai laci kecil tempat make up dia geledah. Aku biarkan dia melakukan itu dan kembali makan.
“Ko, gue sambil makan ya. Lu udah makan?”
Dia menghentikan sejenak kegiatannya lalu melirikku lembut.
“Gue bawa makanan. Tadinya mau sarapan bareng. Tuh ada di situ.” Katanya sambil menunjuk ke atas rak buku. Ada bungkusan plastic di sana.
“Yah, maap ya Ko. Gue gak tau kalo lu mau dateng.”
“Santai aja. Lu makan aja duluan, nanti gue nyusul.”
“…..”
“tapi kalo lu butuh tambahan lauk, buka aja. gue beli pecel.” Kata lelaki itu.
Aku mengangguk dan membuka plastic itu. Aku ambil piring satu lagi dan menghidangkan pecel itu di sana. Lelaki itu masih menginspeksi kamarku. Sekarang, dia sedang memeriksa kamar mandi.
Dari kamar mandi, dia kembali ke kamar, mengangkat kasurku dan memeriksa semua bagian itu. Sampai ke balik bantal juga dia periksa. Aku tertawa saja melihatnya seperti itu.
Aku selesai makan berbarengan saat lelaki itu selesai melakukan pemeriksaan semua sudut kamarku. Dia menuju ke kursi yang tadi aku duduki dan mulai meracik makanannya. Selesai mencucui piring, aku duduk di kasur dan membuka buku yang tadi belum selesai aku baca. Lelaki itu tiba-tiba berdiri dan duduk di depanku sambil menatapku tajam.
“Buka mulut lu.”
Aku mengikuti perintahnya dan membuka mulutku lebar-lebar. Setelah itu dia memegang kedua pipiku dan melihat tajam ke arah mataku.
“Begadang?” Tanyanya.
Aku mengangguk.
“Ngapain?”
“Yanti nginep. Ngobrol sampe malem kita.”
“Oh iya. Tadi gue ketemu di depan.”
“…..’
“Kalo sama dia, gue gak khawatir. Yanti anak yang baik.”
“Paling baik buat gue Ko.”
“Setuju. Dia temen yang paling lu butuhin.”
Lelaki itu kembali ke kursinya dan mulai makan.
“Elu dari kapan nyampe sini?” Tanyaku.
“Baru nyampe. Gue ada perlu ke kota sebelah. Gue sempetin mampir.”
“Lu gak perlu repot gini Ko. Gue baik-baik aja.”
Dia menghela nafas dalam dan menatap ke arahku.
“Waktu gue denger cerita elu dari Dogol, gue ngerasa ikut bertanggung jawab. Gue gak akan ngebiarin lu jatuh ke lubang yang sama.”
“Ga akan Ko.”
“Who knows? Seenggaknya, kalo gue strict gini, lu bakal mikir dua kali kalo lu mau macem-macem.” Katanya sambil tersenyum.
Aku tertawa lalu kembali membaca buku. Lelaki itu meneruskan makannya.
“Ada yang iseng lagi sama lu gak?” Dia bertanya lagi.
“Gak ada Ko. Aman.”
“Good.”
Aku menghentikan kegiatanku dan memilih untuk diam menatapnya.
Lelaki ini adalah kakak tertua dari almarhumah istri pertama Dogol, Afei. Namanya Ko Afung. Dia adalah laki-laki satu-satunya yang bebas keluar masuk di kost putri yang cukup ketat ini. Akses untuknya di berikan oleh Dogol dan di ketahui oleh Pak Joko. Dia bebas masuk ke kamarku kapan saja, bahkan pernah tengah malam dia datang hanya untuk inspeksi kamarku. Pemilik kost tahunya dia adalah kakakku.
Tiap datang ke sini, dia akan memeriksa semua sudut kamarku. Tidak ada yang luput. Tujuannya adalah memastikan aku tidak menyimpan barang terlarang seperti minuman keras atau malah obat terlarang. Dia juga memeriksa kondisi tubuhku. Dia bisa tau apakah aku begadang atau tidak. Kalau begadang, dia akan bertanya lagi lebih detail.
So far, dia tidak menemukan hal aneh di kamarku.
Dia juga pernah menghajar seorang cowok yang terobsesi denganku. Cowok itu menyukaiku namun aku tolak baik-baik namun kayaknya dia gak terima. Aku sih biasa saja ya. Aku tidak takut kok sama cowok itu. Namun apes, saat cowok itu menemuiku di kost dan sedikit merayuku untuk mengajakku jalan-jalan, Ko Afung datang dan tanpa basa basi dia menghajar cowok itu sampai tidak berbentuk.
Ko Afung datang dan pergi seperti angin. Tidak bisa di perkirakan waktunya. Sewaktu pertama aku bertemu dengannya, aku sempat ketakutan karena sepertinya dia galak sekali. Apalagi dia memeriksa kamarku sampai sedetail itu. Tapi lama kelamaan, aku malah merasa aman. Begitu banyak orang-orang baik di sekitarku yang peduli padaku.
Itu baru Ko Afung. Ada beberapa orang lagi yang rutin cek kondisiku di sini. Ada Ko Along, adik dari Ko Afung. Ada Bang Dika, kakak dari Adelle. Ada Pacul dan Trixie, sahabat Dogol sewaktu kecil dan ada beberapa orang lagi.
Mereka benar-benar menjagaku dan mengawasiku agar aku tidak kembali ke kehidupan lamaku. Ci Amel sempat kaget ketika bertemu salah satu dari mereka. Dia kaget karena ternyata Dogol sampai segitunya untuk menjagaku. Sebenarnya bukan Dogol yang menginisiasi, tapi Adelle. Adelle yang merasa senasib, benar-benar ingin aku berubah dan menjalani hidup yang lebih baik.
Mereka semua tidak tinggal di sini, tapi, jika ada urusan ke kota yang dekat dari sini pasti mereka menyempatkan mampir ke tempatku. Jadi waktunya random, tidak pasti. Seperti Ko Afung saat ini.
“Ko..”
“Hmmm..”
“Lu kenapa care banget sama gue?”
“….”
“Lu tau kan kalo lu gak harus sampe kayak gini.”
Ko Afung hanya diam sambil meneruskan makannya.
“Ko…”
“hmmmm..”
“Menurut lo, gue melakukan hal yang tepat gak?”
“Maksudnya?”
“Yaa pergi dari kota lama gue dan pindah ke sini.”
“Tepat banget.”
“Kenapa?”
Ko Afung tidak menjawab lagi. Dia membereskan sisa makannya lalu minum dari gelas yang sudah kusediakan.
Setelah minum, dia duduk sambil menatapku tajam.
“Vin.. I’ve done a big mistake too. Long time ago.”
“…..”
“I left all I have behind. I left my family, my friend, everything.”
“…..”
“Selama gue pergi, gue merenungkan kesalahan gue, memperbaiki diri dan menguatkan mental. Pada saatnya, gue kembali, meminta maaf, dan semua selesai gitu aja.”
“…..”
“Gue cuma pesen, kalo lu punya sesuatu yang tertinggal di sana, cepatlah selesaikan. Terlalu nyaman di tempat baru dan melupakan kewajiban yang tertinggal itu gak baik juga. Lu harus kembali dan menyelesaikan apa yang harus lu selesaikan.”
“tapi… gue masih takut Ko.”
“Percaya sama gue, keadaan gak akan seburuk yang elu pikir. Yang penting lu tulus dan minta maaf bener-bener. Semua akan selesai.”
“…..”
“Vin, you’re just like my sister. That’s why I want to help you and protect you.”
“Afei?”
Ko Afung mengangguk.
“Itung-itung nebus kesalahan gue dulu. kalo lu ngerasa gue terlalu ketat, gue gak peduli. Tujuan gue baik. Dan elu pasti tau, godaan untuk balik dan melakukan kesalahan lagi pasti besar.”
“…..”
“Lagian, gue gak akan ikut campur kehidupan pribadi elu. Cowok yang gue hajar kemaren menurut gue udah keterlaluan. Kalo gue gak kasih pelajaran, dia bakal lebih nekad.”
“…..”
“Ya udah. Gue balik dulu. Lu baik-baik di sini. Jangan kecewakan orang-orang yang udah baik sama elu.”
“Iya Ko. Makasih banyak ya.”
Ko Afung mengangguk. Dia berdiri, mengambil tasnya lalu berjalan keluar kamar. Sebelum benar-benar pergi, dia bertanya satu hal lagi.
“Lu ada duit gak?”
“Hah? Ada kok. Kenapa?”
“Gak kesusahan kan lu?”
“Ya elah kirain apaan. Nggak Ko. Aman duit mah.”
“Ya udah gue pigi dulu.”
Ko Afung pun berlalu dari hadapanku.
Sepanjang sabtu itu aku hanya diam di kamar tidak kemana-mana. Lagipula, ini hanya kota kecil. Mau kesana kesini ya sama saja. Mungkin, itu kekurangan terbesar kota kecil ini. Tapi aku tetap senang. Di luar kekurangannya, kota ini memiliki sejuta kelebihan. Suasana kotanya yang adem ayem membuat mentalku cepat pulih.
Hari minggu aku terbangun agak siang. Seperti biasa, Yanti sudah bawel mengingatkan aku untuk ibadah. Satu-satunya hal buruk untukku saat tinggal di sini adalah, sering malas beribadah.
Jadi gini, dari dulu pun sebenarnya aku bukan orang yang rajin dan taat. Aku beribadah pasti bersama keluargaku, keseringan sih Ci Amel. Jadi, bukan karena aku terkena musibah terus aku jadi tidak percaya Tuhan dan malas beribadah. Bukan karena itu.
Sewaktu mentalku ambruk, yang datang bukan hanya Dinar sebagai psikolog, tapi juga tokoh agamaku. Tapi, memang dasarnya aku bukan orang yang religius, jadi ucapan tokoh agama itu hanya sedikit saja efeknya. Lebih banyak Dinar karena kapasitasnya sebagai psikolog.
Ya intinya, aku bukan orang yang religius dari awal. Itu saja.
Yanti pernah menyarankan agar aku beli motor saja, agar mudah kemana-mana termasuk beribadah.
Aku sih ada uang. Uang di atm ku masih bersaldo ratusan juta. Uang itu adalah uang dari Dama dan Andre sebelum aku pindah ke sini. Dogol yang menyuruh mereka untuk transfer karena aku keguguran. Tapi aku merasa malas menggunakan uang itu. Aku merasa Dama dan Andre mentransfer uang itu hanya agar mereka tidak lagi di ganggu Dogol. Aku merasa seperti pramuria. Di rudapaksa, di kasih uang dan di tinggal begitu saja. Jika bukan emergency, uang itu tidak akan ku gunakan.
Seperti hari minggu ini, aku kembali didera rasa malas.
Aku melirik ke arah rak buku. Apa aku beli buku saja kali ya, untuk mengusir rasa bosan? Aku melihat-lihat koleksi bukuku. Tidak sengaja, aku melihat sebuah buku yang belum terbaca dan tadinya memang ku hindari. Aku ambil buku itu dan coba melihat.
Ayat-ayat cinta, karya Habiburrahman El Shirazy.
“Bu jangan baca buku ini ya.”
Di kepalaku terngiang nasihat dari Yanti. Tapi yang namanya manusia, semakin di larang, semakin penasaran. Begitu juga diriku. Aku yang tadinya tidak tertarik, malah jadi penasaran. Ini buku best seller loh. Sampai di angkat ke layar lebar juga. bahkan pernah mencatatkan rekor penonton. Pasti buku ini bagus. Setidaknya dari sisi cerita.
Aku membuka buku novel itu dan mulai membacanya lembar demi lembar.
percyjackson321 dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Tutup