- Beranda
- Stories from the Heart
YOU ARE MY DESTINY 2
...
TS
loveismyname
YOU ARE MY DESTINY 2

Dia mengangkat wajahnya dan dengan segera aku terkesiap. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya dengan baik.
Aku menundukkan pandanganku dengan dada bergetar hebat. Aku sudah berusaha melupakannya. Kenapa kami malah bertemu lagi.
****
Hai kaskusers.
Ketemu lagi sama gue di cerita kedua gue. Semoga cerita kali ini bisa menghibur kalian semua. Oh iya, sebelum baca cerita ini, akan lebih baik kalian baca dulu cerita pertama gue, karena ada beberapa tokoh yg akan nongol di sini lagi. Linknya di sini ya.
di sini
Attention !!!
Quote:
WARNING !!
Quote:
Note:
TS lumayan sibuk setahun ini. Jadi, mungkin update tidak akan selancar cerita pertama. Mohon di maklumi ya. Tapi, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan cerita ini.
Akhir kata...
Enjoy yaa
Diubah oleh loveismyname 12-02-2025 14:18
teguhjepang9932 dan 42 lainnya memberi reputasi
41
53.3K
989
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#277
Terjepit
Di sebuah weekend, aku nekad berkunjung ke rumah Ci Amel, tanpa sepengetahuan Eskrim. Aku tiba-tiba merasakan kerinduan yang dalam pada keluarga Vina.
Aku ingin bertemu langsung, dan berbincang dengan mereka, bukan hanya sebuah percakapan singkat melalui aplikasi chat.
Aku nekad karena Eskrim dan Queen sedang pulang ke kampung halaman selama 2 hari. Eskrim memang punya jadwal pulang kampung, selain di hari raya.
Aku sampai di sebuah rumah sederhana, yang nampaknya tidak berubah sejak terakhir kali aku pergi dari sini. Kalau mengingat itu, hatiku bisa teriris. Aku merasa sangat bersalah kepada Vina.
Aku ingat bagaimana Vina tergeletak lemas di teras itu.
Aku ingat bagaimana Ci Amel memeluk Vina yang tergeletak tidak berdaya sambil menangis.
Semua memori itu keluar lagi dari ingatanku dan menumbulkan sensasi perih di hati. Langkahku sempat tertahan di luar pagar. Tapi, aku sudah terlanjur sampai di sini. Aku tidak akan mundur.
Aku mengetuk pagarnya, dan tak lama keluarlah seorang wanita Chinese yang sudah jauh lebih dewasa. Ci Amel sudah berbeda dengan saat terakhir kali kami bertemu. Dia terlihat anggun.
Wajarlah, saat ini dia sudah menjadi seorang kepala cabang di sebuah dealer mobil terkemuka. Sebuah sedan eropa yang terparkir di carport menjadi penanda bahwa kehidupannya sudah jauh lebih baik saat ini.
Ci Amel melihatku dan tersenyum lebar. Dia bergegas membuka pagar dan menyuruhku untuk masuk. Sampai di teras, Ci Amel menatapku sambil tersenyum lembut. Dia kemudian maju dan memeluk tubuhku erat. Dia juga memegang wajahku dan mencium pipiku lembut.
Ciuman ini berbeda.
Aku merasa mendapatkan ciuman sayang dari seorang kakak yang rindu kepada adiknya. Tidak ada kurasakan ada nafsu yang terlibat dalam ciuman itu. Hatiku merasa haru. Ternyata aku juga merindukan keluarga Vina. Terlalu banyak kenangan manis yang sulit di lupakan di antara kami.
“Makasih masih mau main ke sini.” Bisik Ci Amel pelan.
“Lu ngomong apa Ci? Siapa yang bilang gue gak mau ke sini lagi?”
Ci Amel melepas pelukannya dan tersenyum.
“Udah lama banget kan lu gak ke sini? Dan udah lama kita gak ketemu. Gue pikir, lu udah gak mau ke sini lagi.”
“Ya nggak lah. Emang belum ada waktu aja.”
“Yuk masuk.”
“Di luar aja ya Ci. Gue pengen ngerokok. Gak papa kan?”
“Oh. Ya gak papa. Oke lah, gue bikin minum dulu yaaa..”
Aku pun duduk di kursi teras lalu menyalakan rokok. Sementara Ci Amel bergegas ke dalam rumah. Sambil menunggu Ci Amel, aku sempat berbalas pesan dengan eskrim. Namun aku tetap tidak bilang bahwa hari ini aku ke rumah Vina.
Ah entahlah apa yang aku pikirkan. Kenapa sulit sekali melepaskan Vina dari bayanganku.
Ci Amel kembali dengan membawa dua gelas minuman. Kopi untukku dan teh untuk dirinya. Setelah itu, kami ngobrol ngalur ngidul. Karena sudah lama tidak bertemu, banyak sekali bahan obrolan yang bisa kami bicarakan. Mulai dari kondisi kami masing-masing, sampai ke karir.
Ci Amel mengaku karirnya semakin baik. Penjualan cabang meningkat di tangannya. Dan saat ini, Ci Amel masih single. Dia belum tertarik untuk pacaran atau menikah.
“Ci, Dama sama Andre gimana? Lu masih pantau mereka gak? Gue udah lama gak denger kabar mereka sejak Vina pergi.”
“Di pantau banget sih nggak Dhan. Udah case closed sejak Vina keguguran. Terakhir itu, mereka ngasih duit ke kita ratusan juta. Dogol yang nyuruh. Katanya untuk biaya berobat Vina. Duitnya sekarang di Vina. Itung-itung buat pegangan dia di kota baru.”
“….”
“Cuma, Dogol masih suka mantau mereka sesekali dari jauh. Takutnya mereka coba bales dendam atau gimana. So far mereka gak aneh-aneh sih.”
“…..”
“Malah menurut Dogol, Andre tuh sempet stress berat. Dia gak pede sama kakinya yang pincang. Kabarnya dia udah gak pincang lagi sih, udah operasi di luar negeri katanya. Tapi tetep aja, Andre jadi tobat.”
“….”
“Dama lebih parah. Dia malah jadi pelayan gereja. Katanya sih mau jadi pendeta. Dia tobat abis-abisan.”
“Bagus deh. Kalo mereka ganggu elu, bilang gue ya Ci.”
Ci Amel tersenyum dan mengangguk pelan. Kami lanjutkan mengobrol sampai tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada telepon masuk. Aku lihat ada nama eskrim sebagai pemanggil.
Aduh, aku harus gimana nih?
Aku diamkan lama sampai telepon berhenti. Ci Amel sepertinya melihat gerakan-gerakan gelisahku.
“Kenapa gak di angkat?” tanya Ci Amel.
“Gak papa Ci.”
“Emang siapa ?”
“Eh… itu temen.” Ujarku gugup.
Belum sempat aku berbicara lagi, ponselku kembali berbunyi dan nama Eskrim kembali muncul. Lagi-lagi aku gugup. Aku benar-benar bingung.
Aku diamkan lagi sampai ponsel mati dengan sendirinya.
Ci Amel tersenyum kembali.
“Pacar ya Dhan?” Tanya Ci Amel.
Aku terdiam.
Aku sendiri bingung, kenapa aku memilih untuk tidak jujur di depan Ci Amel. Apakah benar aku masih menginginkan Vina?
Kenapa berat sekali untuk mengaku kalau aku sudah punya pacar lagi?
“Pacar ya?” Ci Amel bertanya lagi.
Kali ini ada penekanan di nada suaranya.
Akhirnya aku pasrah dan mengangguk.
“Yahh, kasian Vina. Hehehehe.”
“Hah? Kasian kenapa Ci? Vina kenapa?” cecarku setelah mendengar kata-kata Ci Amel.
Aku benar-benar merasa tidak enak. Walaupun aku tidak tau alasannya apa.
Ci Amel melihat ke arahku. Senyumnya menghilang dan berganti wajah sedih.
“Dhan, di kota baru, Vina bahagia. Dia bisa menyembuhkan luka dan traumanya dengan baik. Kata Vina, orang-orang di sana ramah, kotanya sejuk dan damai. Jauh dari hiruk pikuk kota. Kalo gue telepon, Vina pasti bilang dia bahagia banget.”
“……”
“Gue sempet jenguk dia beberapa kali ke sana, dan emang bener sih Dhan. Vina jadi cerah banget. Gue kayak nemuin lagi Vina yang gue kenal dulu. Dia ngajak gue jalan-jalan, ngobrol banyak soal kehidupannya di sana, dan testimoninya selalu positif. Dia bilang, dia udah kuat. Kejadian yang lalu emang gak bisa di lupakan, tapi bisa di tutupi dengan memori baru yang lebih indah.”
“….”
“Tapi Dhan, Vina selalu bilang, kalo dia punya satu keinginan yang gak pernah bisa hilang sampai sekarang. Dia pengen ketemu elu dan keluarga lu lagi. Senggaknya, dia mau minta maaf langsung, dan menyelesaikan masalahnya sama lu. Dia sih bilang, apapun keputusan lu nantinya, seenggaknya semua akan jadi lebih jelas.”
“…”
“Masalahnya…”
“Apa Ci…”
“Vina, masih sayang banget sama elu. Dia bilang, gak ada satu hari pun tanpa elu di kepalanya. Dia juga bilang, dia berkhayal kalo dia nikah sama elu, dan pindah di kota yang damai itu. Bangun rumah tangga, buka bisnis, dan hidup damai. Hidup sederhana gak papa yang penting sama elu.”
“…..”
“Berkali-kali dia ngomong itu sama gue.”
“….”
“Kata Vina, kalau untuk meminta maaf, mentalnya dia udah pulih. Dia mau secepatnya ketemu elu dan keluarga lu. Tapi yang bikin dia takut adalah, dia ketemu elu dalam keadaan elu udah punya pacar baru. Kemungkinan terburuknya, mungkin elu udah nikah atau mengarah ke sana. Persoalan itu yang buat dia belum siap sampai saat ini.”
“……”
“Dan sekarang, ketakutannya jadi nyata. Elu udah punya pacar lagi. kira-kira, gue harus ngomong apa ya Dhan ke Vina? Gue takut kalo gue kasih tau masalah ini, Vina bakal stress berat.”
Mendengar kata-kata Ci Amel aku langsung terpukul. Aku bisa merasakan sakitnya perasaan Vina. Tapi, kami kan sudah lama terpisah dan tidak ada hubungan apa-apa lagi? Apakah aku tidak boleh memiliki kekasih lain?
Lalu, aku harus bagaimana?
Kenapa aku harus selalu dalam keadaan terjepit?
Aku jadi merasa serbasalah. Kalau aku jujur, aku takut Vina akan kembali sakit dan kembali ke kehidupan lamanya. Tapi, kalau aku tidak jujur, aku akan melukai Eskrim.
Aku sangat mencintai Eskrim. Aku tidak akan menduakannya.
Tapi…
Apa yang harus aku lakukan??
Aku ingin bertemu langsung, dan berbincang dengan mereka, bukan hanya sebuah percakapan singkat melalui aplikasi chat.
Aku nekad karena Eskrim dan Queen sedang pulang ke kampung halaman selama 2 hari. Eskrim memang punya jadwal pulang kampung, selain di hari raya.
Aku sampai di sebuah rumah sederhana, yang nampaknya tidak berubah sejak terakhir kali aku pergi dari sini. Kalau mengingat itu, hatiku bisa teriris. Aku merasa sangat bersalah kepada Vina.
Aku ingat bagaimana Vina tergeletak lemas di teras itu.
Aku ingat bagaimana Ci Amel memeluk Vina yang tergeletak tidak berdaya sambil menangis.
Semua memori itu keluar lagi dari ingatanku dan menumbulkan sensasi perih di hati. Langkahku sempat tertahan di luar pagar. Tapi, aku sudah terlanjur sampai di sini. Aku tidak akan mundur.
Aku mengetuk pagarnya, dan tak lama keluarlah seorang wanita Chinese yang sudah jauh lebih dewasa. Ci Amel sudah berbeda dengan saat terakhir kali kami bertemu. Dia terlihat anggun.
Wajarlah, saat ini dia sudah menjadi seorang kepala cabang di sebuah dealer mobil terkemuka. Sebuah sedan eropa yang terparkir di carport menjadi penanda bahwa kehidupannya sudah jauh lebih baik saat ini.
Ci Amel melihatku dan tersenyum lebar. Dia bergegas membuka pagar dan menyuruhku untuk masuk. Sampai di teras, Ci Amel menatapku sambil tersenyum lembut. Dia kemudian maju dan memeluk tubuhku erat. Dia juga memegang wajahku dan mencium pipiku lembut.
Ciuman ini berbeda.
Aku merasa mendapatkan ciuman sayang dari seorang kakak yang rindu kepada adiknya. Tidak ada kurasakan ada nafsu yang terlibat dalam ciuman itu. Hatiku merasa haru. Ternyata aku juga merindukan keluarga Vina. Terlalu banyak kenangan manis yang sulit di lupakan di antara kami.
“Makasih masih mau main ke sini.” Bisik Ci Amel pelan.
“Lu ngomong apa Ci? Siapa yang bilang gue gak mau ke sini lagi?”
Ci Amel melepas pelukannya dan tersenyum.
“Udah lama banget kan lu gak ke sini? Dan udah lama kita gak ketemu. Gue pikir, lu udah gak mau ke sini lagi.”
“Ya nggak lah. Emang belum ada waktu aja.”
“Yuk masuk.”
“Di luar aja ya Ci. Gue pengen ngerokok. Gak papa kan?”
“Oh. Ya gak papa. Oke lah, gue bikin minum dulu yaaa..”
Aku pun duduk di kursi teras lalu menyalakan rokok. Sementara Ci Amel bergegas ke dalam rumah. Sambil menunggu Ci Amel, aku sempat berbalas pesan dengan eskrim. Namun aku tetap tidak bilang bahwa hari ini aku ke rumah Vina.
Ah entahlah apa yang aku pikirkan. Kenapa sulit sekali melepaskan Vina dari bayanganku.
Ci Amel kembali dengan membawa dua gelas minuman. Kopi untukku dan teh untuk dirinya. Setelah itu, kami ngobrol ngalur ngidul. Karena sudah lama tidak bertemu, banyak sekali bahan obrolan yang bisa kami bicarakan. Mulai dari kondisi kami masing-masing, sampai ke karir.
Ci Amel mengaku karirnya semakin baik. Penjualan cabang meningkat di tangannya. Dan saat ini, Ci Amel masih single. Dia belum tertarik untuk pacaran atau menikah.
“Ci, Dama sama Andre gimana? Lu masih pantau mereka gak? Gue udah lama gak denger kabar mereka sejak Vina pergi.”
“Di pantau banget sih nggak Dhan. Udah case closed sejak Vina keguguran. Terakhir itu, mereka ngasih duit ke kita ratusan juta. Dogol yang nyuruh. Katanya untuk biaya berobat Vina. Duitnya sekarang di Vina. Itung-itung buat pegangan dia di kota baru.”
“….”
“Cuma, Dogol masih suka mantau mereka sesekali dari jauh. Takutnya mereka coba bales dendam atau gimana. So far mereka gak aneh-aneh sih.”
“…..”
“Malah menurut Dogol, Andre tuh sempet stress berat. Dia gak pede sama kakinya yang pincang. Kabarnya dia udah gak pincang lagi sih, udah operasi di luar negeri katanya. Tapi tetep aja, Andre jadi tobat.”
“….”
“Dama lebih parah. Dia malah jadi pelayan gereja. Katanya sih mau jadi pendeta. Dia tobat abis-abisan.”
“Bagus deh. Kalo mereka ganggu elu, bilang gue ya Ci.”
Ci Amel tersenyum dan mengangguk pelan. Kami lanjutkan mengobrol sampai tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada telepon masuk. Aku lihat ada nama eskrim sebagai pemanggil.
Aduh, aku harus gimana nih?
Aku diamkan lama sampai telepon berhenti. Ci Amel sepertinya melihat gerakan-gerakan gelisahku.
“Kenapa gak di angkat?” tanya Ci Amel.
“Gak papa Ci.”
“Emang siapa ?”
“Eh… itu temen.” Ujarku gugup.
Belum sempat aku berbicara lagi, ponselku kembali berbunyi dan nama Eskrim kembali muncul. Lagi-lagi aku gugup. Aku benar-benar bingung.
Aku diamkan lagi sampai ponsel mati dengan sendirinya.
Ci Amel tersenyum kembali.
“Pacar ya Dhan?” Tanya Ci Amel.
Aku terdiam.
Aku sendiri bingung, kenapa aku memilih untuk tidak jujur di depan Ci Amel. Apakah benar aku masih menginginkan Vina?
Kenapa berat sekali untuk mengaku kalau aku sudah punya pacar lagi?
“Pacar ya?” Ci Amel bertanya lagi.
Kali ini ada penekanan di nada suaranya.
Akhirnya aku pasrah dan mengangguk.
“Yahh, kasian Vina. Hehehehe.”
“Hah? Kasian kenapa Ci? Vina kenapa?” cecarku setelah mendengar kata-kata Ci Amel.
Aku benar-benar merasa tidak enak. Walaupun aku tidak tau alasannya apa.
Ci Amel melihat ke arahku. Senyumnya menghilang dan berganti wajah sedih.
“Dhan, di kota baru, Vina bahagia. Dia bisa menyembuhkan luka dan traumanya dengan baik. Kata Vina, orang-orang di sana ramah, kotanya sejuk dan damai. Jauh dari hiruk pikuk kota. Kalo gue telepon, Vina pasti bilang dia bahagia banget.”
“……”
“Gue sempet jenguk dia beberapa kali ke sana, dan emang bener sih Dhan. Vina jadi cerah banget. Gue kayak nemuin lagi Vina yang gue kenal dulu. Dia ngajak gue jalan-jalan, ngobrol banyak soal kehidupannya di sana, dan testimoninya selalu positif. Dia bilang, dia udah kuat. Kejadian yang lalu emang gak bisa di lupakan, tapi bisa di tutupi dengan memori baru yang lebih indah.”
“….”
“Tapi Dhan, Vina selalu bilang, kalo dia punya satu keinginan yang gak pernah bisa hilang sampai sekarang. Dia pengen ketemu elu dan keluarga lu lagi. Senggaknya, dia mau minta maaf langsung, dan menyelesaikan masalahnya sama lu. Dia sih bilang, apapun keputusan lu nantinya, seenggaknya semua akan jadi lebih jelas.”
“…”
“Masalahnya…”
“Apa Ci…”
“Vina, masih sayang banget sama elu. Dia bilang, gak ada satu hari pun tanpa elu di kepalanya. Dia juga bilang, dia berkhayal kalo dia nikah sama elu, dan pindah di kota yang damai itu. Bangun rumah tangga, buka bisnis, dan hidup damai. Hidup sederhana gak papa yang penting sama elu.”
“…..”
“Berkali-kali dia ngomong itu sama gue.”
“….”
“Kata Vina, kalau untuk meminta maaf, mentalnya dia udah pulih. Dia mau secepatnya ketemu elu dan keluarga lu. Tapi yang bikin dia takut adalah, dia ketemu elu dalam keadaan elu udah punya pacar baru. Kemungkinan terburuknya, mungkin elu udah nikah atau mengarah ke sana. Persoalan itu yang buat dia belum siap sampai saat ini.”
“……”
“Dan sekarang, ketakutannya jadi nyata. Elu udah punya pacar lagi. kira-kira, gue harus ngomong apa ya Dhan ke Vina? Gue takut kalo gue kasih tau masalah ini, Vina bakal stress berat.”
Mendengar kata-kata Ci Amel aku langsung terpukul. Aku bisa merasakan sakitnya perasaan Vina. Tapi, kami kan sudah lama terpisah dan tidak ada hubungan apa-apa lagi? Apakah aku tidak boleh memiliki kekasih lain?
Lalu, aku harus bagaimana?
Kenapa aku harus selalu dalam keadaan terjepit?
Aku jadi merasa serbasalah. Kalau aku jujur, aku takut Vina akan kembali sakit dan kembali ke kehidupan lamanya. Tapi, kalau aku tidak jujur, aku akan melukai Eskrim.
Aku sangat mencintai Eskrim. Aku tidak akan menduakannya.
Tapi…
Apa yang harus aku lakukan??
yuaufchauza dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup