Chapter 229
Quote:
Pertarungan tidak seimbang terjadi antara Leah dengan tiruannya. Mengandalkan kekuatan Beaters, musuhnya itu seakan-akan tidak perduli dengan semua serangan yang mengenai badannya. Kemampuan regen cepat menjadi jawaban atas semua masalahnya itu. Petir-petir yang disimpan bagaikan peluru jarang meleset karena tiruan Leah tidak tahu bagaimana cara menghindar.
“Apa aku segila ini?” pikir Leah yang terus memperlebar jarak dari musuhnya.
“Hei jalang!” teriak tiruannya. “kenapa kau tidak mau mendekat! Kita pertarung secara jantan!” sambil memamerkan kuku-kuku panjangnya.
Sementara itu tidak jauh dari arena pertarungan Leah, rekannya sesama satu tim yaitu Gareth dipenuhi oleh luka sayatan dibeberapa titik. Meskipun baju tempurnya dapat memberinya pertolongan pertama, tetapi efek serangannya masih sangat terasa, apalagi jika harus melawan dirinya sendiri yang berjumlah dua orang.
“Diriku memang hebat!” mata Gareth bergerak melihat serangan akan datang. Tebasan dapat dihindari, tetapi serangan lanjutannya tidak dapat dicegah. Lagi-lagi tubuhnya memperoleh luka.
“Sampai kapan kau bisa menahan serangannya?” ucap salah satu tiruannya. “batu yang keras pun jika ada retak sedikit, dapat membuatnya hancur jika terus dipukul di bagian itu…”
“Sejak kapan aku berbicara tidak karuan,” hanya mengandalkan kecepatan saja tidak cukup, karena dua tiruannya itu memiliki kecepatan yang sama dengannya. “bagaimana….,” Gareth memikirkan caranya, agar dapat keluar dari situasi tidak menguntungkan ini.
Beberapa bangunan ikut hancur ketika Djohan menendang Beaters wanita itu dengan keras. Ia ingin menyelesaikan pertarungannya dengan cepat. Kedua kakinya melesat membawanya pada ujung reruntuhan. Tempat yang diyakini di mana Beaters wanita itu berada. Sedikit getaran dirasakan, menjadikan tanda baginya untuk menjauh. Benar saja, reruntuhan itu melayang ke angkasa saat tebasa merah keluar dari sana.
Tubuh sang Beaters tidak mengalami kerusakan sedikit pun. Lampu yang menyelinap masuk memberikan pancaran keindahan. Warna merah menyala dengan ketebalan nyata, momok seram bagi siapapun yang melihatnya. Tangannya diayunkan, menghantam tanah dengan sabit andalannya.
“Hm?” tanah pijakannya retak, Djohan berhasil menghindari serangan yang muncul dari bawah tanah. Tebasan berwarna merah itu menghalangi pandangannya. “penghalihan….,” Djohan melihat sekelilingnya, biasanya musuh akan datang dari arah yang tidak diduga.
Namun tebasan merahnya itu terbelah, sosok Beaters muncul sambil membawa dua senjata di masing-masing tangannya. Badannya berputar menyilang seperti gasing. Djohan menahan serangannya dengan menggunakan kedua tangannya. Rasanya seperti disayat oleh silet, begitu perih.
Putaran berhenti, serangan lanjutan dilancarkan. Djohan ingin menjauh namun kakinya seperti beku. Ada bongkahan darah beku mengunci kedua kakinya itu. Sepertinya tebasan merah yang keluar dari tanah tadi sudah dilapisi oleh darah. Saat pandangan Djohan teralihkan ketika sosok musuh hadir. Darah itu melesat dan membuat bongkahan yang mengunci kedua kaki.
“Kemampuanmu tadi sangat hebat, namun aku langsung tahu letak kelemahannya…,” ucapannya begitu tenang, berbeda dengan sebelumnya yang menggebu-gebu. “aku tidak menyangka akan secepat ini menggunakan ‘Core Break’, kau mungkin tidak menyadarinya, tapi aku telah bertambah kuat.”
Djohan membungkuk sambil memotong sendiri kedua kakinya, lalu memanfaatkan tanah untuk mendorong tubunya menjauh menggunakan kedua tangannya. Regen bergerak cepat memulihkan kakinya yang putus. Musuhnya tidak mengejar, menunggu Djohan dapat berdiri dengan kedua kakinya.
“Core Break?” jika diperhatikan bentuk fisik musuhnya terlihat berbeda, jauh lebih ramping dengan tanduk yang begitu kecil. Sabitnya juga menjadi arit, dengan jumlah dua senjata.
“Aku salut kau dapat berpikir cepat dalam keadaan terjepit, oh iya…,” Beaters wanita itu berjalan mendekat. “aku Rebel, Ruby Clan…”
“Ruby?” nama clan baru yang baru didengarnya, bahkan selama bergabung dengan Silver Clan. Tidak ada satupun anggota yang membicarakan clan lain di luar Royal Clan.
Djohan tidak ingin memikirkannya lebih lanjut. Ia datang menyerang, menggunakan jurus andalan membuat beberapa ilusi dari gerakan cepatnya. Rebel terlihat santai, lalu memilih salah satu ilusi. Djohan terkejut ketika diserang oleh Rebel, beberapa ilusi lainnya seketika itu menghilang.
“Aku sudah bilang, jurusmu itu memiliki satu kelemahan yang begitu nyata,” telunjuknya diarahkan kepada Djohan.
“Eh?” dada bagian kanannya berlubang, saat darah bertekanan tinggi meluncur cepat tanpa disadarinya. Tidak berhenti sampai di situ, sosok Rebel tiba-tiba hilang dari pandangannya. Suara besi menancap pun terdengar begitu jelas. Dua pisau arit menusuk pundaknya, Djohan berlutut menahan sakit yang dideritanya.
“Padahal aku ingin berlama-lama, tapi ketika Core Break dibuka, kau langsung tidak berdaya seperti itu…,” ucap Rebel yang berdiri di belakang Djohan. “karena di dada kanan tidak ada, maka jawabannya sudah pasti di tempat sebelahnya…,” Rebel meletakan telapak tangannya. Dada kiri Djohan berlubang setelah benda tajam terbuat dari darah menembusnya.