Chapter 228
Quote:
Bola-bola dari darah seukuran bola tenis bermunculan dari tanah. Ternyata Beaters ini mengumpulkan dari korban-korbannya yang letak tubuhnya jauh dari posisinya sekarang. Djohan dan Gareth bersiap menghadapinya. Satu bola dilemparkan, menuju Gareth.
“Jangan harap serangan lambat itu bisa mengenaiku!” gayanya congkak sambil terbang menghindari bola darah itu. “sial!” bola darahnya tidak berhenti begitu saja ketika berhasil dihindari, melainkan tetap mengikuti target berada.
“Tujuanmu untuk memisahkan kami berdua?” tanya Djohan.
“Tentu saja…,” jawabnya pelan sambil tetap mempertahankan nada bicara seorang maniak. “kau target utamanya!” sosoknya menghilang dengan cepat sambil mengayunkan sabitnya.
Tebasan dilakukannya, tanpa mengenai siapa pun. Soal kecepatan, belum ada yang menandingi Djohan kecuali Troy dengan kekuatan cahayanya. Namun efek serangannya begitu masif, anginnya saja mampu menyayat gedung-gedung yang terbuat dari bahan keras. Jika manusia biasa terkena serangan ini, maka akan dipastikan tewas di tempat.
Sementara itu Gareth langsung menyadari bahwa bola darah ini dimaksudkan untuk membuat dirinya menjauh dari medan pertempuran. Satu belati panasnya dilemparkan, tepat menusuk benda itu hingga pecah terurai dibuatnya. Saat tubuhnya melesat, tetesan darah itu bersatu kembali, tidak hanya membentuk satu bola, tetapi menjadi tiga.
“Yang benar saja!” karena bentuk bolanya lebih kecil dari sebelumnya, maka pergerakannya menjadi lebih cepat. Gareth mencoba menebasnya, namun belatinya malah beradu. Kini bola darah itu menjadi keras.
Djohan masih mencari titik untuk meluncurkan serangan. Tebasan yang tiada henti diberikan cukup menyulitkannya. Padahal tidak ada bola-bola yang mengelilingi tubuh monster itu. Tidak seperti rekan yang lain, Djohan tidak memiliki kekuatan yang bersifat elemen alam. Hanya kecepatan dan daya hancur yang lebih saja diperoleh dari kekuatan Beatersnya.
Beaters wanita yang belum memberikan namanya itu sengaja menggiring Djohan menuju kerumunan pasukan BASS. Dengan harapan akan banyak korban berjatuhan terkena sabetan sabitnya. Hal ini akan menjatuhkan mental Djohan, sebagai Silver Clan yang bertugas menjaga keamanan warga sekitarnya.
“Menjauh dari sini!” teriak Djohan pada pasukan BASS yang sedang melawan monster Beaters.
“Kena kau!” momen itu berhasil dimanfaatkan oleh Beaters wanita berwarna merah menyala. Dua pisau sabit miliknya menancap bagian tubuh depan Djohan. Serangannya tidak berhenti di situ, kuku tajamnya berniat menusuk luka yang terbuka itu.
“Tubuhku kaku…,” Djohan hanya bisa pasrah, ketika kuku tajam musuhnya mulai meluncur dengan cepat.
Tiba-tiba kilatan petir datang mengikis jemari Beaters wanita itu, membuatnya harus melepaskan senjata yang mengunci Djohan didepannya. Seorang petugas wanita menjadi dalangnya, Leah anggota tim 13 menembakan Thunder Gun miliknya. Sama dengan dua rekannya yang lain, jemarinya kembali tubuh dengan cepat. Saat perhatiannya teralihkan, Djohan sudah terlepas dari jeratan dua sabit yang menusuk tubuhnya.
“Aku benci wanita pengganggu!” satu bola yang mengikuti Gareth kini berpindah haluan, meluncur dengan deras ke arah Leah. Tidak berhenti di situ, bola itu kini berubah wujudnya menjadi sama denggan anggota timn 13 itu, dengan wajah yang lebih menyeramkan.
“Jangan-jangan…,” sisa dua bola lainnya juga berubah sosoknya. “ada pepatah yang mengatakan, musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri, cocok dengan situasi ini…,” dengan begini, tidak ada cara lagi untuk membantu Djohan selain mengalahkan tiruan dirinya sendiri. Beaters wanita itu dengan sempurna mengurung lawan lainnya agar tidak mengganggu pertarungan.
Tiruan Leah mengeluarkan Thunder Gun miliknya, petir tiruan berwarna merah meluncur. Arahnya sembarang hingga mengenai beberapa pasukan BASS yang menghalangi jalannya. Melihat itu semua membuat Djohan tidak memperdulikan musuh didepannya, kakinya melangkah ingin membantu Leah, tapi satu tembakan menghujam tanah.
“Leah…,” Djohan terhenti tepat di belakang tanda.
“Kali ini kau tidak akan lolos!” datang membawa sabit panjang dengan dua mata pisau, Djohan masih membelakanginya.
Satu tebasan kuat membelah tubuh Djohan, namun keanehan terjadi, sosok Djohan terlihat seperti gambar saja. Lalu muncul dari sebelah kiri dan kanannya, dua Beaters berwarna silver mengepal tinjunya kuat-kuat.
“Trik murahan!” sang Beaters mengayunkan sabitnya lagi, ternyata mereka juga hanya ilusi. “mana tubuh asli---,” sosok Djohan yang terbelah didepannya kembali menyatu. Sedari tadi Djohan tidak pernah berpindah tempat, hanya gerakannya saja yang terlampau cepat mampu menciptakan ilusi seakan-akan dirinya bergerak dari sisi lain.
“ARGH!” tendangan telak mengenai perut Beaters wanita itu hingga terpental jauh. “akan kuselesaikan dengan cepat!” sebuah motivasi muncul.