Chapter 227
Quote:
Djohan melesat di udara ketika merasakan suatu kekuatan yang besar baru saja datang. Cahaya merah tadi merupakan perwujudan monster Beaters yang sedang dilawan oleh Gareth. Sedangkan cahaya berwarna oranye kemerahan kini meliuk-liuk mencari celah untuk dapat menyerah di satu titik. Bola darah seukuran bola tenis sangat merepotkan, benda tersebut menjadi perisai yang sangat sensitif jika penggunanya berada dalam jarak serangan musuh.
“Senjatanya panjang, sedangkan pertahanannya kuat, arghhh…,” Gareth tampak frustasi karena belum menemukan jawaban atas pertahanan sang musuh. “bagaimana kalau ini…,” Gareth melemparkan dua belati panasnya, lalu dengan menggunakan teknologi ‘C-Particle’ yang disematkan di baju tempurnya. Empat buah pisau kecil muncul di masing-masing sela jarinya. Dengan total delapan buah pisau kecil, Gareth melemparnya dengan akurasi dan kecepatan tinggi.
Semua pisaunya mampu dihadang, ada yang langsung ditangkis oleh Beaters merah mengkilat, ada yang terkena bola tenis yang berubah menjadi duri tajam yang panjang. Serangannya tadi terlihat asal, tetapi Gareth sedang mencari titik kelemahannya. Wajahnya kini sumringah, percobaan kecil tadi memberikannya sebuah ide.
“Jadi bola darah itu akan melindungi dari serangan tidak terlihat, aku hanya perlu menghujaminya dengan serangan bertubi-tubi!” pikir Gareth lalu menyalakan roket dikakinya dan terbang ke angkasa.
Kedua belati andalannya disimpan ke dalam sarungnya yang terletak tepat di bawah pinggangnya. Lalu dari kedua tangannya, tidak hentinya pisau-pisau kecil bermunculan menghujam tanah tepat di mana sang Monster berada. Layaknya sedang bermandikan hujan pisau. Visornya dengan cepat terus merekam, beberapa pisau yang mengarah ke bagian kaki diusir mundur oleh bola darah. Semakin menguatkan teorinya jika serangan tidak terlihat akan ditahan oleh benda tersebut.
Beaters wanita berwarna merah mengkilat itu tidak tinggal diam, dua sabetan dari sabitnya meluncur deras ke arah Gareth. Hasil dari satu bola darah yang menyatu dengan sabit panjangnya itu. Tentu saja hanya bermodalkan serangan berwujud besar belum cukup untuk melukai Gareth. Serangan itu hanya mengenai angin saja.
“Sekarang!” Gareth meluncur, mengambil kembali dua belati andalannya itu dari sarungnya.
“Hm?” muncul kawat-kawat tajam yang menahan tubuhnya, bola-bola darah miliknya juga terbungkus oleh sesuatu yang berwarna hitam.
Dua belati panas menyala dikegelapan malam. Gareth berhasil melukai kedua mata dan leher sang musuh dalam satu serangan itu. Badannya berbalik, serangan lanjutan diarahkan pada posisi letak jantung dan pangkal lehel. Tempat biasanya Beat diletakan oleh monster Beaters.
“Musnah kalian!” dua belati panasnya berhasil menusuk tepat di tempat yang di tuju. Lagi-lagi monster Beaters itu tidak bereaksi sama sekali, hanya diam saja meskipun dihujam serangan fatal.
Lalu Gareth menjelaskan, maksud tujuannya mengeluarkan pisau kecil sebanyak itu tadi. Ketika pisau berhasil dihadang, C-Particle bekerja mengubah wujudnya menjadi sebuah kawat tajam. Sedangkan sisanya menjadi sebuah pembungkus berwarna hitam untuk mengikat bola darahnya. Sedangkan fungsi bola darah sebagai benteng pertahanan terhadap serangan tidak terlihat. Lalu bagaimana bola darah itu dapat berfungsi jika sudah dimatikan terlebih dahulu, sehingga kawat tajamnya dapat mengikat tanpa pengawasan.
“Cih, bukan di dua tempat ini, aku akan---” Gareth melepaskan dua belati panasnya melompat jauh kebelakang. Darah yang keluar dari titik serangannya tadi bergerak untuk melukainya. “darah sendiri pun dapat dikendalikannya?” pembungkus berwarna hitam lenyap setelah bola darah didalamnya berontak membuat duri-duri panjang disekeliling tubuhnya.
Beaters wanita itu mencabut sendiri dua belati panas milik Gareth, dilemparnya jauh dari pandangan. “Hm,” perlahan semua luka yang dialaminya sembuh dengan sendirinya. “kau lumayan juga…”
Tiba-tiba saja tubuh Gareth tidak bisa bergerak, dirinya sendiri tidak tahu mengapa hal tersebut bisa terjadi. Setelah dipikir-pikir dengan cepat, ternyata saat penyerangan pertama. Darah yang memancar dari leher dan mata sang musuh bergerak lalu menempel di baju tempurnya. Kini darah tersebut mengeras menutup roket pelontar di kedua kakinya dan sebagian menjadi sangat lengket di bawah kakinya. Visor memberitahu bahwa status kedua pelontar roket sedang mati.
“Cela---” Ujung sabit mengayun kencang, jika terkena serangan ini sudah dipastikan dirinya tidak akan selamat.
Tetapi datang dari atas dengan kecepatan tinggi Djohan menghantam dua pisau sabit panjang itu dengan tumitnya, membuat senjata itu pecah. Musuh kembali mundur, setelah melihat Djohan dengan wujud manusianya. Kekuatan anggota Silver Clan dapat langsung dirasakan, tiba-tiba sikapnya berubah drastis.
“NAH! INI DIA MANGSA YANG SESUNGGUHNYA! IZINKAN AKU UNTUK MENYIKSAMU PERLAHAN-LAHAN!” tawanya membuat telinga sakit bagi yang mendengarnya, seperti seorang maniak.
“Kau tidak—” sudah jelas Gareth tidak mau Djohan khawatir dengannya.
“Tenang saja,” potongnya. “padahal aku tinggal melepas sepatu dan roketnya, lalu membuatnya kembali. Tapi kau keburu datang…,” tidak ingin terlihat lemah dihadapan saingannya. “wanita itu sudah jadi gila, jangan halangi aku!” dua belati panasnya kembali muncul dan Djohan berubah menjadi mode Armored.