- Beranda
- Stories from the Heart
Satu Kelas Dengan Dia
...
TS
aguzblackrx
Satu Kelas Dengan Dia
Horror, Romance


Quote:
PROLOG
Bagas tak sengaja menjadi indigo karena insiden tenggelam di kolam empang yang berair kotor saat masih berumur 3 tahun yang membuat jiwanya terbawa ke alam gaib dan mendapat kemapuan bisa melihat makhuk tak kasat mata meski tidak sekaligus dan berangsur angsur lama hingga dia bertemu dengan sosok di sekolah nya yang membuat dirinya menyadari memiliki kemampuan dan mendapatkan sebuah tanggung jawab besar dalam hidupnya
Quote:
Spoiler for Jangan di Buka:
Quote:
Diubah oleh aguzblackrx 21-09-2024 09:52
dwi.haryana.982 dan 28 lainnya memberi reputasi
27
30K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aguzblackrx
#381
part 57
kriett
pintu kamar mandi terbuka, sesosok berdiri mengejutkan ku, aku terperangah dengan sosok yang berdiri dengan melipatkan kedua tangannya di dada yang bidang, pakaian khas zaman kerajaan dengan sebuah keris terselip dipinggang nya. satu hal yang tidak bisa aku sangka, senyumannya
senyuman dengan rasa penuh puas, senyuman kemenangan sangat nampak jelas dari garis bibirnya dengan kumis tipisnya . tubuh ku seolah kaku begitu lama saat melihat sosok yang sudah aku kenal sebelumnya, namun perkenalan dulu dengan tidak mengenakan.
"Ja jaka wa r dh a na " gumam ku spontan dengan bibir gemetar
sosok yang ada di depan ku berdiri gagah menunjukan kesombongannya , dialah jin penjaga hesty yang dari awal seperti tidak menyukai ku bahkan memusuhiku.
pluk pluk
sebuah tangan menepuk pundak sebelah kiri ku, membuyarkan pandangan ku yang sempat kaku karena sosok itu.
"Bagas kau kenapa? seperti lihat setan "
akupun terhenyak dengan tepukan dari sinta, spontan aku menoleh ke arahnya dan kembali melihat sosok jaka wardhana yang tadi berdiri. akan tetapi seperti kilat dia telah pergi sekejap mata. napas ku tersengah engah , kaget dan seperti ada rasa takut yang begitu besar. seperti maling yang ketahuan mencuri barang lalu ketahuan oleh saksi dan mungkin begitulah perasaan ku, aku takut jaka wardhana memberi tahu hesty bahwa aku bersama wanita lain atau bahkan dia melihat ku berduaan di kamar mandi.
"kamu kenapa bagas, malah bengong " tanya sinta memastikan
"ti tidak , aku gak apa apa '' ucap ku lalu berlalu pergi meraih pakaian ku dan sesegera memakainya.
sinta memincingkan mata sesekali sambil menoleh meski dia sedang memakaikan baju yang dia ambil di dalam lemari. rasa tidak tenang terus menghantui perasaan ku, banyak pertanyaan yang berseliweran di dalam pikiran ku, mengapa dan bagaimana bisa jaka wardhana ada disini dan sejak kapan dia ada disini memperhatikan ku? apa tujuannya? apakah dia membawa pesan atau hal lain yang tidak aku ketahui?
bergegas aku merapihkan pakaian ku, tas ransel sudah mengantung di pundak ku sedangkan sinta malah asyik dengan merias wajahnya dengan make up.
sorot mata ku malah tajam terhadapnya, banyak waktu yang terbuang di kontrakan ini, seakan aku memang dipenjara dengan masalah demi masalah.
"sudah ceritakan saja apa yang mau kamu ceritakan " ucap ku memerintah kepada gadis yang malah asyik bersolek,
nampak lipstik merah bermerk mahal dioleskannya pada bibir nya, dia nampak santai seperti tidak memiliki rasa beban sama sekali. sinta menghentikan aktivitasnya dan menghela napasnya sejenak.
"gak sabaran amat sih?" gerutu nya dengan nada cemberut
tenggorokan ku tercekat heran, dengan kelakuan betina satu ini, dia yang punya cerita malah aku yang disuruh menunggu jam tayang. tentu saja banyak waktu yang terbuang membuat ku semakin tidak sabar
"iya ceritakan saja, waktu ku tak banyak " ucap ku sambil melirik jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 20.30 wib
sinta lalu menyelesaikan goresan lipstik di bibirnya, lalu bangun dan beranjak menuju aku yang sedang berdiri di depan pintu. tiba tiba tangan sinta menarik tangan kiri ku dan menyeretku paksa duduk di atas karpet berbulu .
"baik lah aku akan memulai ceritanya " ucap sinta dengan membulatkan matanya ke arah ku.
rasa kesal memang masih menghias di dada ku, namun memang namanya laki-laki aku harus ekstra sabar jika melayani permainan seorang betina seperti sinta yang seolah bermain dengan perasaan dan waktu.
" iya, aku dengar " ucap ku singkat dengan sedikit nada ditekan
sinta menarik napas, matanya dipaling kan ke arah sebuah foto yang di dinding, foto itu baru aku sadari keberadaanya, foto bersama dengan seorang pemuda tampan dengan rambut khas anak zaman sekarang. rambut lurus belah tengah dan gaya rambut under cut, dia memakai jaket base ball berwarna hitam dan krem di bagian lengan.
"jadi kami itu saling mencintai, kita sudah berjanji akan selalu bersama namun takdir berkata lain" ucap sinta membuka ceritanya dengan nada datar
aku hanya menagngguk pelan, mencoba mencerna dan memahami dari setiap kata yang keluar dari mulutnya
"Aku disini sedang melaksanakan kuliah, aku rela jauh dari orang tua demi impian ku bisa berkuliah bersama Adryan (pacar sinta). setiap hari kami selalu bersama, hubungan kami sudah 3 tahun semenjak kelas XI SMA, dan ini adalah semester 3 " ucap sinta lalu menghentikan ceritanya,
sebuah tetesan air mata jatuh dari sudut matanya, reflek dia menyeka nya itu mengapa dia menghentikan ceritanya
"lantas, apa yang terjadi ?" aku mencoba membuat sebuah pertanyaan agar sinta tidak merasa sendiri berbicara
sinta melirik ke arah ku , matanya mulai berlinang air mata dan hidungnya memerah. sepertinya sinta tak kuasa menahan rasa sedih yang teramat sangat.
"janji kami hingga tua nanti harus terkubur bersama jasad adryan. kami sudah dimabuk cinta sehingga hubungan layaknya suami istri sering kita lakukan, apalagi aku jauh dari orang tua ku, sayangnya aku hamil, setelah aku melakukan test pack tadi pagi. lalu aku segera mengunjugi kosannya dan kami terlibat cek cok mengenai kehamilan ku, dia ingin aku menggugurkannya namun aku menolak dan ingin dinikahi, akan tetapi dia marah lalu pergi meninggalkan ku" ucap sinta dan kembali menyeka air matanya
luapan emosi sinta nampak berubah menjadi iba bagi ku ketika dia mulai kembali menangis. tangisan dengan penuh kesedihan yang teramat mendalam apalagi ditinggalkan oleh sang kekasih. rasa kehilangan itu seolah merobek kebahagian yang seharusnya dia dapatkan.
"tapi ... tapi aku bagaimana ,bagaimana bisa aku hidup dengan anak ini sedangkan papa dan mama ku pasti akan mengusirku bahkan papa mungkin akan membunuh ku" ucap sinta yang diiringi tangisan
Sebagai pria aku sungguh dibuat bingung harus bagaimana, yang aku pikir bagaimana agar dia menjadi tenang, aku teringat di film film sering seseorang yang menangis sebenarnya butuh yang namanya teman dan sebuah sandaran atau pun belaian lembut.
aku memberanikan diri menyentuh pundak sinta yang tergantung sebuah tali tangktop warna hitam itu, tangan ku mencoba menggapainya meski berat dan selembut lembutnya aku mencoba menepuk pelan.beberapa tepukan aku lakukan meski kaku, tak banyak yang bisa aku lakukan.
sinta masih sesenggukkan lalu tiba tiba tubuhnya mendekati ku lalu kepalanya disandarkan di bahu ku, moment ini aku sepertinya harus merelakan pundak ini sementara.
"Bagas, ?" tanya sinta lirih sembari menangis
" I, iya, sinta " jawab ku sedikit tidak nyaman dengan sandarannya,
"boleh kah aku pinjam pundak mu sebentar saja?" tanya sinta lagi
"i, iya , boleh , tapi ...." ucap ku terhenti
sinta malah melingkarkan kedua tangannya di perut ku seolah aku adalah pacarnya , pelukan seperti ini baru sekali aku rasakan. perlahan aku memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"setelah adryan pergi, aku mendapatkan telp dari rumah sakit bahwa adryan mengalami kecelakan diperjalanan. itu yang membuat ku ingin ikut mati saja" ucap sinta yang membuatku terkejut, terlalu bodoh ikut mati
"Astagifirullah, jangan berfikir kayak gitu , dosa " ucap ku
"oh jadi, sosok itu yang ada di depan kamar mayat yang perutnya terburai keluar kepala nya penuh darah ?" ucap ku bergumam spontan
tiba tiba sinta menghentikan tangisnya dan menatap ku penuh tanda tanya seolah ada yang ingin dia ketahui dari ku.
"Bagas, kamu, kenapa bisa .... " tanya sinta namun pertanyaannya terhenti
aku lupa bahwa aku bisa melihat hal gaib dan aku tak sengaja membicarakan itu di depan sinta. lalu aku melirik ke arah foto adryan dan sinta. mata ku menajam mengingat kembali sosok yang telah ku temui di rumah sakit itu , dan ternyata benar. sosok itu ada kemiripan dengan yang ada dalam foto yang berada di dinding.
"Bagas, jawab, apa yang kamu lihat di rumah sakit ?" desak sinta sambil mengguncang guncang kedua pundak ku
"Eh.... itu , ehmm bukan apa apa ... "
seolah mengerti apa yang keluar dari mulutku tiba tiba sinta meraih jaket levis yang mengantung didekstop dinding dan memakainya.
"Bagas, aku tau kamu bisa melihat hal gaib, tunjukan aku , aku pengen ketemu adyan, banyak hal yang ingin aku sampaikan " ucap sinta yang membuat ku tak mampu berbohong lagi
"Tapi, kamu gak bisa melihatnya , aku bisa " jawab ku
" iya , makanya aku pengen ketemu dia untuk yang terakhir kalinya, plish bantu aku " ajak sinta sedikit memaksa sambil menarik tangan ku menuju keluar
tanpa pikir panjang aku mengangguk paham, dan menurutinya.
kami pun keluar kontrakan itu, akan tetapi bayang bayang dari jaka wardhana tidak bisa lupa begitu saja, bahkan ada pirasat buruk yang mungkin akan aku hadapi hari ini.
lalu dengan cepat aku menaiki motor ku bersama sinta dan melesat menuju rumah sakit dimana ada hesty yang sedang kritis dan ada jasad adryan yang ada disana menunggu sinta.
(Bersambung)
kriett
pintu kamar mandi terbuka, sesosok berdiri mengejutkan ku, aku terperangah dengan sosok yang berdiri dengan melipatkan kedua tangannya di dada yang bidang, pakaian khas zaman kerajaan dengan sebuah keris terselip dipinggang nya. satu hal yang tidak bisa aku sangka, senyumannya
senyuman dengan rasa penuh puas, senyuman kemenangan sangat nampak jelas dari garis bibirnya dengan kumis tipisnya . tubuh ku seolah kaku begitu lama saat melihat sosok yang sudah aku kenal sebelumnya, namun perkenalan dulu dengan tidak mengenakan.
"Ja jaka wa r dh a na " gumam ku spontan dengan bibir gemetar
sosok yang ada di depan ku berdiri gagah menunjukan kesombongannya , dialah jin penjaga hesty yang dari awal seperti tidak menyukai ku bahkan memusuhiku.
pluk pluk
sebuah tangan menepuk pundak sebelah kiri ku, membuyarkan pandangan ku yang sempat kaku karena sosok itu.
"Bagas kau kenapa? seperti lihat setan "
akupun terhenyak dengan tepukan dari sinta, spontan aku menoleh ke arahnya dan kembali melihat sosok jaka wardhana yang tadi berdiri. akan tetapi seperti kilat dia telah pergi sekejap mata. napas ku tersengah engah , kaget dan seperti ada rasa takut yang begitu besar. seperti maling yang ketahuan mencuri barang lalu ketahuan oleh saksi dan mungkin begitulah perasaan ku, aku takut jaka wardhana memberi tahu hesty bahwa aku bersama wanita lain atau bahkan dia melihat ku berduaan di kamar mandi.
"kamu kenapa bagas, malah bengong " tanya sinta memastikan
"ti tidak , aku gak apa apa '' ucap ku lalu berlalu pergi meraih pakaian ku dan sesegera memakainya.
sinta memincingkan mata sesekali sambil menoleh meski dia sedang memakaikan baju yang dia ambil di dalam lemari. rasa tidak tenang terus menghantui perasaan ku, banyak pertanyaan yang berseliweran di dalam pikiran ku, mengapa dan bagaimana bisa jaka wardhana ada disini dan sejak kapan dia ada disini memperhatikan ku? apa tujuannya? apakah dia membawa pesan atau hal lain yang tidak aku ketahui?
bergegas aku merapihkan pakaian ku, tas ransel sudah mengantung di pundak ku sedangkan sinta malah asyik dengan merias wajahnya dengan make up.
sorot mata ku malah tajam terhadapnya, banyak waktu yang terbuang di kontrakan ini, seakan aku memang dipenjara dengan masalah demi masalah.
"sudah ceritakan saja apa yang mau kamu ceritakan " ucap ku memerintah kepada gadis yang malah asyik bersolek,
nampak lipstik merah bermerk mahal dioleskannya pada bibir nya, dia nampak santai seperti tidak memiliki rasa beban sama sekali. sinta menghentikan aktivitasnya dan menghela napasnya sejenak.
"gak sabaran amat sih?" gerutu nya dengan nada cemberut
tenggorokan ku tercekat heran, dengan kelakuan betina satu ini, dia yang punya cerita malah aku yang disuruh menunggu jam tayang. tentu saja banyak waktu yang terbuang membuat ku semakin tidak sabar
"iya ceritakan saja, waktu ku tak banyak " ucap ku sambil melirik jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 20.30 wib
sinta lalu menyelesaikan goresan lipstik di bibirnya, lalu bangun dan beranjak menuju aku yang sedang berdiri di depan pintu. tiba tiba tangan sinta menarik tangan kiri ku dan menyeretku paksa duduk di atas karpet berbulu .
"baik lah aku akan memulai ceritanya " ucap sinta dengan membulatkan matanya ke arah ku.
rasa kesal memang masih menghias di dada ku, namun memang namanya laki-laki aku harus ekstra sabar jika melayani permainan seorang betina seperti sinta yang seolah bermain dengan perasaan dan waktu.
" iya, aku dengar " ucap ku singkat dengan sedikit nada ditekan
sinta menarik napas, matanya dipaling kan ke arah sebuah foto yang di dinding, foto itu baru aku sadari keberadaanya, foto bersama dengan seorang pemuda tampan dengan rambut khas anak zaman sekarang. rambut lurus belah tengah dan gaya rambut under cut, dia memakai jaket base ball berwarna hitam dan krem di bagian lengan.
"jadi kami itu saling mencintai, kita sudah berjanji akan selalu bersama namun takdir berkata lain" ucap sinta membuka ceritanya dengan nada datar
aku hanya menagngguk pelan, mencoba mencerna dan memahami dari setiap kata yang keluar dari mulutnya
"Aku disini sedang melaksanakan kuliah, aku rela jauh dari orang tua demi impian ku bisa berkuliah bersama Adryan (pacar sinta). setiap hari kami selalu bersama, hubungan kami sudah 3 tahun semenjak kelas XI SMA, dan ini adalah semester 3 " ucap sinta lalu menghentikan ceritanya,
sebuah tetesan air mata jatuh dari sudut matanya, reflek dia menyeka nya itu mengapa dia menghentikan ceritanya
"lantas, apa yang terjadi ?" aku mencoba membuat sebuah pertanyaan agar sinta tidak merasa sendiri berbicara
sinta melirik ke arah ku , matanya mulai berlinang air mata dan hidungnya memerah. sepertinya sinta tak kuasa menahan rasa sedih yang teramat sangat.
"janji kami hingga tua nanti harus terkubur bersama jasad adryan. kami sudah dimabuk cinta sehingga hubungan layaknya suami istri sering kita lakukan, apalagi aku jauh dari orang tua ku, sayangnya aku hamil, setelah aku melakukan test pack tadi pagi. lalu aku segera mengunjugi kosannya dan kami terlibat cek cok mengenai kehamilan ku, dia ingin aku menggugurkannya namun aku menolak dan ingin dinikahi, akan tetapi dia marah lalu pergi meninggalkan ku" ucap sinta dan kembali menyeka air matanya
luapan emosi sinta nampak berubah menjadi iba bagi ku ketika dia mulai kembali menangis. tangisan dengan penuh kesedihan yang teramat mendalam apalagi ditinggalkan oleh sang kekasih. rasa kehilangan itu seolah merobek kebahagian yang seharusnya dia dapatkan.
"tapi ... tapi aku bagaimana ,bagaimana bisa aku hidup dengan anak ini sedangkan papa dan mama ku pasti akan mengusirku bahkan papa mungkin akan membunuh ku" ucap sinta yang diiringi tangisan
Sebagai pria aku sungguh dibuat bingung harus bagaimana, yang aku pikir bagaimana agar dia menjadi tenang, aku teringat di film film sering seseorang yang menangis sebenarnya butuh yang namanya teman dan sebuah sandaran atau pun belaian lembut.
aku memberanikan diri menyentuh pundak sinta yang tergantung sebuah tali tangktop warna hitam itu, tangan ku mencoba menggapainya meski berat dan selembut lembutnya aku mencoba menepuk pelan.beberapa tepukan aku lakukan meski kaku, tak banyak yang bisa aku lakukan.
sinta masih sesenggukkan lalu tiba tiba tubuhnya mendekati ku lalu kepalanya disandarkan di bahu ku, moment ini aku sepertinya harus merelakan pundak ini sementara.
"Bagas, ?" tanya sinta lirih sembari menangis
" I, iya, sinta " jawab ku sedikit tidak nyaman dengan sandarannya,
"boleh kah aku pinjam pundak mu sebentar saja?" tanya sinta lagi
"i, iya , boleh , tapi ...." ucap ku terhenti
sinta malah melingkarkan kedua tangannya di perut ku seolah aku adalah pacarnya , pelukan seperti ini baru sekali aku rasakan. perlahan aku memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"setelah adryan pergi, aku mendapatkan telp dari rumah sakit bahwa adryan mengalami kecelakan diperjalanan. itu yang membuat ku ingin ikut mati saja" ucap sinta yang membuatku terkejut, terlalu bodoh ikut mati
"Astagifirullah, jangan berfikir kayak gitu , dosa " ucap ku
"oh jadi, sosok itu yang ada di depan kamar mayat yang perutnya terburai keluar kepala nya penuh darah ?" ucap ku bergumam spontan
tiba tiba sinta menghentikan tangisnya dan menatap ku penuh tanda tanya seolah ada yang ingin dia ketahui dari ku.
"Bagas, kamu, kenapa bisa .... " tanya sinta namun pertanyaannya terhenti
aku lupa bahwa aku bisa melihat hal gaib dan aku tak sengaja membicarakan itu di depan sinta. lalu aku melirik ke arah foto adryan dan sinta. mata ku menajam mengingat kembali sosok yang telah ku temui di rumah sakit itu , dan ternyata benar. sosok itu ada kemiripan dengan yang ada dalam foto yang berada di dinding.
"Bagas, jawab, apa yang kamu lihat di rumah sakit ?" desak sinta sambil mengguncang guncang kedua pundak ku
"Eh.... itu , ehmm bukan apa apa ... "
seolah mengerti apa yang keluar dari mulutku tiba tiba sinta meraih jaket levis yang mengantung didekstop dinding dan memakainya.
"Bagas, aku tau kamu bisa melihat hal gaib, tunjukan aku , aku pengen ketemu adyan, banyak hal yang ingin aku sampaikan " ucap sinta yang membuat ku tak mampu berbohong lagi
"Tapi, kamu gak bisa melihatnya , aku bisa " jawab ku
" iya , makanya aku pengen ketemu dia untuk yang terakhir kalinya, plish bantu aku " ajak sinta sedikit memaksa sambil menarik tangan ku menuju keluar
tanpa pikir panjang aku mengangguk paham, dan menurutinya.
kami pun keluar kontrakan itu, akan tetapi bayang bayang dari jaka wardhana tidak bisa lupa begitu saja, bahkan ada pirasat buruk yang mungkin akan aku hadapi hari ini.
lalu dengan cepat aku menaiki motor ku bersama sinta dan melesat menuju rumah sakit dimana ada hesty yang sedang kritis dan ada jasad adryan yang ada disana menunggu sinta.
(Bersambung)
riodgarp dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup

