Chapter 219
Quote:
Warga kota Surban akan disuguhkan sebuah terror yang sangat luar biasa. Tetapi di kota sebelahnya, mereka tetap hidup dengan damai dan tentram. Malam-malam begini Djohan sengaja menyisihkan waktunya untuk berkunjung kerumahnya, terutama ke adik perempuannya.
Tidak banyak obrolan di dalam rumah, karena fokusnya adalah untuk mengajak adiknya pergi keluar. Sebuah tempat makan biasa jauh dari kata mewah dipilihnya. Adiknya sungguh terkesan dengan tindakan kakaknya itu. Selama ini mereka belum pernah jalan berdua, apalagi menyantap makanan selain masakan Ibu.
“Eh..tumben banget ngajak ke sini. Gajinya lebih bulan ini?” tanya Melissa dengan nada bercanda.
“Iya, bos aku lagi baik. Malahan sengaja ke sini biar mesennya banyak tapi uang yang keluar enggak terlalu banyak,” Djohan membalasnya dengan tertawa.
Suasana yang begitu ceria menggambarkan hubungan kakak dan adik ini begitu baik. Satu-persatu makanan pun tiba, mereka berdua menyantapnya dengan lahap. Suasana kota yang tidak terlalu ramai seperti di kota Surban membuat semuanya terasa sempurna.
Saat makanannya sudah hampir habis, Djohan mengeluarkan sesuatu dari bawah meja. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Melissa kegirangan sambil menahan tangisnya. Sikap kakaknya sangat manis di malam yang dingin ini.
“Kamu janji bukanya nanti yah, kalau aku suruh,” pinta Djohan.
“Kenapa?” tanya Melissa penasaran.
“Kalau sekarang sih hadiahnya enggak berharga, dia butuh didiamkan terlebih dahulu,” Djohan masih sempat melempar candaan.
Dengan wajah murungnya, Melissa menerimanya, termasuk dengan syarat pembukaan hadiah tersebut. “Iya aku bukanya nanti kalau ada kabar dari kakak.”
Djohan melihat wajah adiknya untuk yang terakhir kalinya malam itu. Beat dalam tubuhnya berguncang hebat, tandanya pertempuran sudah dimulai. Untung saja ia masih sempat mengunjungi keluarganya. Bahkan mengajak adik satu-satunya makan malam bersama. Sebagai kakak yang baik, Djohan mengantar adiknya sampai depan rumah, namun melewatkan waktunya untuk berpamitan kepada orang tuanya.
“Titip salam ke Ayah sama Ibu, aku enggak mau ganggu mereka tidur,” ucap Djohan dengan senyuman tulusnya.
“Hati-hati ya kak, buat hadiahnya terima kasih,” ucap Melissa membalas senyum kakaknya.
Setelah Melissa masuk, Djohan melesat pergi ke kota Surban, semoga pertempurannya belum terlalu merusak dan membuat keadaan kota menjadi kacau.
Sel-sel milik Red Sun bertebaran ke seluruh sudut kota. Karena malam yang gelap dan ukurannya yang kecil seperti serangga kumbang, memudahkan sel-sel ini untuk menyelinap masuk ke dalam tubuh inangnya. Dimulai dari satu orang lalu menyebar ke banyak orang.
“Eh, apaan nih?!” satu orang telah dimasuki oleh sel milik Red Sun. meliuk-meliuk dengan cepat menuju jantung. “argh!” orang ini tersungkur, keluar darah dari kedua matanya. Perlahan badannya kejang-kejang, lalu cakar panjang mulai terlihat.
Orang-orang disekitarnya terkejut dan mulai panik. Seraya kondisi itu dialami juga oleh orang lain di dekat mereka. Dalam waktu singkat sekumpulan manusia telah diubah paksa menjadi monster Beaters. Teriakan-teriakan mereka menggema ke seluruh kota, sementara itu Helios sang Red Sun menikmati suaranya.
“Akhirnya! Rencana yang harusnya sudah kujalankan sejak dulu kala, kini berhasil juga…,” ucap Helios dengan bentukan naturalnya sebagai monster Beaters.
Sesaat setelah mengucapkannya, tubuhnya mendadak membeku tanpa aba-aba. Tuan Stam telah tiba dengan cepat mengeluarkan kekuatannya. Lalu di saat Helios sedang membeku, tuan Stam menangkap bongkahan es besar tersebut, melemparnya jauh dari area padat.
“Gila sekali, padahal dari jarak sejauh itu tetapi masih bisa dibekukan,” ucap Bright yang mengikuti dari belakang memuji ketua Silver Clan tersebut.
“Jangan lengah Bright! Kita harus siap-siap, demi tuan George!” Troy melesat mengejar lagi tuan Stam.
Helios yang masih terperangkap dalam keadaan membeku mendarat kasar di sebuah tempat yang luas, yaitu sebuah bandara. Meskipun kota Surban merupakan kota yang paling sibuk dan terkenal akan julukannya kota tanpa tertidur, tetapi bandara tidak sesibuk yang dipikirkan. Di jam malam seperti ini hanya ada sedikit penerbangan. Tuan Stam sudah memikirkannya dengan membekukan semua jendela yang ada, sebagai tanda bahwa orang-orang didalamnya harus cepat keluar.
“Heh,” bongkahan esnya pecah. “bahkan aku tidak menyadari kedatanganmu tadi,” Helios menyadari bahwa ada dua lainnya mengikuti tuan Stam. “hm, membawa pasukan juga. Bagus jadi aku tidak perlu repot-repot mengambil Beat Raja Gold---” sebuah laser panas meluncur tepat mengenai wajah monsternya.
“Diam kau!” Bright tidak terima dengan perkataan Helios, seakan-akan menurunkan derajat tuan George.
“Tenangkan kepalamu,” ucap tuan Stam. “aku tidak mengizinkanmu untuk mengacaukan pertarungan ini…,” akhirnya Bright mampu meredam kembali emosinya.
“Maaf atas perkataanku tadi, lagipula….,” Helios terdiam sejenak. “tidak ada satu pun dari kalian membawanya,” matanya menyorot tajam, tubuhnya semakin merah tandanya suhu didalamnya semakin meningkat.
Beat Raja Golden Clan berada di tempat yang aman, ruangan bawah tanah yang digunakan Silver Clan berlatih.