- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Memilih Bahagia
...
TS
sofanzani
Aku Memilih Bahagia

Quote:

Quote:
Dulu aku berpikir kalau one of the biggest bullshit on earthadalah ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Mendengar kata itu, yang terlintas dalam benakku adalah orang-orang lemah yang harus menyerah kalah karena tak berhasil memperjuangkan cinta. “Cinta tak harus memiliki” juga seperti sebuah penobatan diri jika pelakunya adalah orang-orang berhati tulus yang dengan perkasa memberikan segenap rasa tanpa perlu balas asa.
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Quote:
Quote:
Quote:

Terlambat itu tidak pernah menyenangkan. Sebuah situasi dimana kita harus berpacu dengan waktu sambil terus berkonsentrasi dengan keadaan sekitar. Ketidakseimbangan fungsi otak kadang menyebabkan kita uring-uringan karena nyawa kita sudah sampai di tempat tujuan tapi badan masih bergumul dengan persiapan-persiapan. Seperti aku pagi ini, aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada audisi untuk menjadi pianis di grup choir kampusku. Hari yang sudah kunanti sejak sebulan lalu, ketika pengumumannya ku dapatkan dari poster-poster yang dipajang di berbagai sudut kampus.
Kulewatkan mandi. Menyikat gigi ditambah dua-tiga basuhan di muka rasanya sudah cukup. Tak sempat membongkar lemari untuk memilih baju, aku lebih memilih menggaet apa saja yang masih tergantung di hanger di kamarku. Asal tak bau saat kuendus, maka kuanggap masih layak pakai.
Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju ke luar rumah.
“Bundaaa, Aksa pergiiiiii....” Setengah teriak, aku pamit pada ibuku. Rumah kami tidak terlalu besar, ibuku pasti mendengar teriakanku.
“Sarapan dulu, naak..., kamu itu kebiasaan pamit teriak-teriak, gak mau cium bunda dulu, apa?”
Hihi, mendengar ibuku mendumel, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, setengah berlari, hanya untuk mencium pipi malaikatku itu. “Nggak keburu, Bun. Aksa terlambat, sampai ketemu siang yaa, Doain aksa, hari ini ada audisi... mmuaach”, akupun berlari keluar lagi.
Ibuku Cuma menggeleng.
Aku langsung masuk ke dalam mobilku. Mencoba menstarternya dengan penuh harap cemas, karena kadang butuh hingga sepuluh kali putar kunci hingga ia mau menyala. Sebuah mobil hatchback hitam produksi Jepang tahun 1987. Mobil yang AC-nya tidak mampu mencegah keringat keluar saat hari panas. Mobil dengan power steering dan power windows (buka jendela sama putar stirnya harus pake power, hehe), mobil yang kadang suka ngadat di tengah jalan dan ogah buru-buru sampai ke tempat tujuan.
Tapi biarpun begitu, aku sayang sama si hitam ini, karena dia punya sentimental value buat aku. Peninggalan almarhum ayahku.
Berangkaaaat....
Quote:
Well, kamu harus tahu kalau si Hitam tidak mengantarku sampai ke parkiran kampus. Bukan karena ngadat lagi, tapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan untukku tiba on time jika memaksa menyetirnya. Macet dimana-mana. Akhirnya terpaksa aku pinggirkan dia di tengah perjalanan, dan memilih memesan ojek online saja.
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Next: 2. Audition (Lanjutan)
Polling
0 suara
Aksa lebih baik memilih siapa?
Diubah oleh sofanzani 08-11-2024 15:24
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
161.4K
Kutip
667
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sofanzani
#638
26. Dalam Diam Aku Merasa Jauh
Quote:
Aku duduk di kamar sembari memandangi layar ponselku. Foto Fika di Edinburgh terlihat begitu ceria; di tengah lingkungan baru, dengan teman-teman baru, dan kesempatan yang terus bermunculan di sekelilingnya. Foto itu membuat dadaku terasa berat. Ada rasa rindu, tapi juga kecemasan yang sulit aku redam.
Aku teringat percakapan terakhir kami. Fika terdengar riang, penuh semangat bercerita tentang proyek kampusnya, tentang dosennya yang selalu mendukung, dan teman-teman yang setia menemani. Tapi, di balik itu semua, aku merasakan ada jurang yang perlahan muncul di antara kami. Aku takut jarak ini tak lagi sekadar hitungan mil, tapi jadi jarak emosional yang kian sulit dijembatani.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan kegelisahan yang terus berputar dalam pikiranku. Aku ingat kesalahan dulu dengan Angel, saat hatiku sempat goyah dan tergelincir. Itu sudah berlalu, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulanginya. Tapi, dalam benakku sekarang, satu pertanyaan selalu muncul: kalau aku saja bisa tergoda, bagaimana dengan Fika yang berada di negeri yang penuh dengan peluang? Bagaimana kalau suatu saat, Fika juga lelah mempertahankan kami?
Perasaan itu menyiksaku. Aku tahu ini egois. Aku ingin Fika tetap setia, sementara aku sendiri pernah khilaf. Rasa bersalah itu semakin membebaniku, tapi keinginanku agar Fika tetap setia semakin kuat.
Malam itu, Bunda mengetuk pintu kamarku. Melihat wajahku yang terlihat resah, Bunda masuk, duduk di sebelahku, lalu mengusap lembut bahuku.
"Ada yang kamu pikirkan, Nak?" tanya Bunda pelan, suaranya lembut penuh perhatian.
Aku terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, "Aksa cemas, Bun. Cemas kalau Fika... mungkin, nanti bisa berubah."
Bunda mengangguk paham, senyum lembutnya memberiku rasa nyaman yang hampir hilang. "Terkadang, kecemasan datang dari perbuatan kita sendiri, Aksa. Kau tahu itu?"
Aku mengangguk, menundukkan pandangan. "Aksa pernah salah, Bun. Tapi sekarang... Aksa nggak mau dia melakukan kesalahan yang sama."
Bunda menarik napas, lalu menatapku dalam-dalam. "Aksa, kepercayaan itu seperti kaca—kalau retak, sulit sekali membuatnya kembali utuh. Tapi, kalau kamu benar-benar mencintai Fika, mulailah percaya padanya. Bunda tahu ini berat, tapi cuma itu yang bisa menenangkan hati kamu."
Aku termenung mendengar nasihat Bunda, perasaan campur aduk antara takut dan malu. Aku tahu, kalau aku ingin Fika tetap setia, aku harus memulai dari diriku sendiri—dari ketulusan menerima kesalahanku dan mempercayai bahwa Fika juga sekuat aku untuk menolak godaan.
Aku menatap lantai kamar dengan perasaan campur aduk. Bunda duduk di sebelahku, menepuk pundakku dengan lembut, memberi isyarat bahwa ia siap mendengarkan apapun yang mengganjal di hati putranya. Sejenak aku ingin berbicara, mengungkapkan segala ketakutan dan penyesalan yang selama ini menghantui.
"Aksa," ujar Bunda dengan suara lembut, "kalau kamu merasa ragu, ingatlah, itu bukan soal Fika saja... mungkin, ini juga soal kamu yang belum benar-benar berdamai dengan masa lalumu."
Aku mengangguk pelan, merasakan kepedihan yang sulit aku ungkapkan. "Aksa tahu, Bun. Aksa masih merasa bersalah sama Fika. Aksa takut kalau... kalau dia tahu tentang semuanya, tentang Angel waktu itu."
Bunda menghela napas dalam, menatapku dengan penuh kasih. "Nak, setiap orang punya kesalahan. Bunda tidak akan menutupi bahwa yang kamu lakukan dulu memang menyakitkan. Dan Bunda tahu kamu tahu itu. Tapi, yang penting sekarang, kamu sudah belajar dari kesalahan itu, kan? Kalau kamu nggak mau mengulangi, jadikan itu pengingat untuk menjadi pasangan yang lebih baik."
Aku memejamkan mata, merasa seakan beban di pundakku sedikit mereda. Bunda memang tidak menghakimiku, tapi nasihatnya menembus jauh ke dalam hati.
"Bunda, Aksa takut... Aksa takut kalau Fika menemukan seseorang di sana yang lebih baik dari Aksa," ucapku lirih. "Seseorang yang nggak pernah mengkhianatinya."
Bunda tersenyum tipis, matanya menatapku dengan lembut. "Aksa, kesetiaan bukan soal siapa yang paling sempurna atau siapa yang paling benar. Kesetiaan itu pilihan, dan cinta itu saling memaafkan. Kalau kamu memilih untuk tetap mencintai Fika, biarkan kepercayaanmu padanya juga tumbuh, bukan karena kamu takut, tapi karena kamu yakin. Dan kalau kamu benar-benar ingin melanjutkan hubungan ini dengan Fika, kamu harus berdamai dengan masa lalu, Nak."
Aku mendengar kata-kata itu dengan hati yang berdebar. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada kelegaan yang muncul. Mungkin, aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Mungkin, aku bisa membiarkan kesalahanku jadi pembelajaran, bukan sebagai sumber kecemasan yang terus-menerus.
"Jadi, Bunda mau Aksa... melupakan itu, ya?" tanyaku perlahan, mencari kepastian.
Bunda menatapku, hampir meneteskan air mata, tapi ia menahannya, menyalurkan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. "Bunda nggak mengajarkanmu untuk melupakan apa yang sudah kamu lakukan. Tapi kalau memang kamu ingin memperjuangkan Fika, biarkan yang lalu berlalu. Jangan biarkan kesalahan itu menghantui hubungan kalian selamanya. Buat janji, bukan hanya ke Fika, tapi juga ke dirimu sendiri untuk tidak mengulanginya lagi."
Aku menunduk, suaraku nyaris berbisik, "Aksa janji, Bun. Aksa akan jadi lebih baik... untuk Fika dan untuk Aksa sendiri."
Bunda tersenyum, mengusap kepalaku dengan penuh kasih. "Itu yang Bunda harapkan. Kau tahu, Aksa, mencintai seseorang bukan hanya soal menghindari kesalahan, tapi juga belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik untuk orang yang kita sayangi."
Aku terdiam, merenungkan kata-kata Bunda. Sekarang aku tahu, perjuanganku untuk mempertahankan Fika bukanlah soal menghindari kesalahan dari masa lalu, tetapi tentang menjadi sosok yang lebih baik dengan setiap langkah yang aku ambil.
Aku teringat percakapan terakhir kami. Fika terdengar riang, penuh semangat bercerita tentang proyek kampusnya, tentang dosennya yang selalu mendukung, dan teman-teman yang setia menemani. Tapi, di balik itu semua, aku merasakan ada jurang yang perlahan muncul di antara kami. Aku takut jarak ini tak lagi sekadar hitungan mil, tapi jadi jarak emosional yang kian sulit dijembatani.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan kegelisahan yang terus berputar dalam pikiranku. Aku ingat kesalahan dulu dengan Angel, saat hatiku sempat goyah dan tergelincir. Itu sudah berlalu, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulanginya. Tapi, dalam benakku sekarang, satu pertanyaan selalu muncul: kalau aku saja bisa tergoda, bagaimana dengan Fika yang berada di negeri yang penuh dengan peluang? Bagaimana kalau suatu saat, Fika juga lelah mempertahankan kami?
Perasaan itu menyiksaku. Aku tahu ini egois. Aku ingin Fika tetap setia, sementara aku sendiri pernah khilaf. Rasa bersalah itu semakin membebaniku, tapi keinginanku agar Fika tetap setia semakin kuat.
Malam itu, Bunda mengetuk pintu kamarku. Melihat wajahku yang terlihat resah, Bunda masuk, duduk di sebelahku, lalu mengusap lembut bahuku.
"Ada yang kamu pikirkan, Nak?" tanya Bunda pelan, suaranya lembut penuh perhatian.
Aku terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, "Aksa cemas, Bun. Cemas kalau Fika... mungkin, nanti bisa berubah."
Bunda mengangguk paham, senyum lembutnya memberiku rasa nyaman yang hampir hilang. "Terkadang, kecemasan datang dari perbuatan kita sendiri, Aksa. Kau tahu itu?"
Aku mengangguk, menundukkan pandangan. "Aksa pernah salah, Bun. Tapi sekarang... Aksa nggak mau dia melakukan kesalahan yang sama."
Bunda menarik napas, lalu menatapku dalam-dalam. "Aksa, kepercayaan itu seperti kaca—kalau retak, sulit sekali membuatnya kembali utuh. Tapi, kalau kamu benar-benar mencintai Fika, mulailah percaya padanya. Bunda tahu ini berat, tapi cuma itu yang bisa menenangkan hati kamu."
Aku termenung mendengar nasihat Bunda, perasaan campur aduk antara takut dan malu. Aku tahu, kalau aku ingin Fika tetap setia, aku harus memulai dari diriku sendiri—dari ketulusan menerima kesalahanku dan mempercayai bahwa Fika juga sekuat aku untuk menolak godaan.
Aku menatap lantai kamar dengan perasaan campur aduk. Bunda duduk di sebelahku, menepuk pundakku dengan lembut, memberi isyarat bahwa ia siap mendengarkan apapun yang mengganjal di hati putranya. Sejenak aku ingin berbicara, mengungkapkan segala ketakutan dan penyesalan yang selama ini menghantui.
"Aksa," ujar Bunda dengan suara lembut, "kalau kamu merasa ragu, ingatlah, itu bukan soal Fika saja... mungkin, ini juga soal kamu yang belum benar-benar berdamai dengan masa lalumu."
Aku mengangguk pelan, merasakan kepedihan yang sulit aku ungkapkan. "Aksa tahu, Bun. Aksa masih merasa bersalah sama Fika. Aksa takut kalau... kalau dia tahu tentang semuanya, tentang Angel waktu itu."
Bunda menghela napas dalam, menatapku dengan penuh kasih. "Nak, setiap orang punya kesalahan. Bunda tidak akan menutupi bahwa yang kamu lakukan dulu memang menyakitkan. Dan Bunda tahu kamu tahu itu. Tapi, yang penting sekarang, kamu sudah belajar dari kesalahan itu, kan? Kalau kamu nggak mau mengulangi, jadikan itu pengingat untuk menjadi pasangan yang lebih baik."
Aku memejamkan mata, merasa seakan beban di pundakku sedikit mereda. Bunda memang tidak menghakimiku, tapi nasihatnya menembus jauh ke dalam hati.
"Bunda, Aksa takut... Aksa takut kalau Fika menemukan seseorang di sana yang lebih baik dari Aksa," ucapku lirih. "Seseorang yang nggak pernah mengkhianatinya."
Bunda tersenyum tipis, matanya menatapku dengan lembut. "Aksa, kesetiaan bukan soal siapa yang paling sempurna atau siapa yang paling benar. Kesetiaan itu pilihan, dan cinta itu saling memaafkan. Kalau kamu memilih untuk tetap mencintai Fika, biarkan kepercayaanmu padanya juga tumbuh, bukan karena kamu takut, tapi karena kamu yakin. Dan kalau kamu benar-benar ingin melanjutkan hubungan ini dengan Fika, kamu harus berdamai dengan masa lalu, Nak."
Aku mendengar kata-kata itu dengan hati yang berdebar. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada kelegaan yang muncul. Mungkin, aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Mungkin, aku bisa membiarkan kesalahanku jadi pembelajaran, bukan sebagai sumber kecemasan yang terus-menerus.
"Jadi, Bunda mau Aksa... melupakan itu, ya?" tanyaku perlahan, mencari kepastian.
Bunda menatapku, hampir meneteskan air mata, tapi ia menahannya, menyalurkan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. "Bunda nggak mengajarkanmu untuk melupakan apa yang sudah kamu lakukan. Tapi kalau memang kamu ingin memperjuangkan Fika, biarkan yang lalu berlalu. Jangan biarkan kesalahan itu menghantui hubungan kalian selamanya. Buat janji, bukan hanya ke Fika, tapi juga ke dirimu sendiri untuk tidak mengulanginya lagi."
Aku menunduk, suaraku nyaris berbisik, "Aksa janji, Bun. Aksa akan jadi lebih baik... untuk Fika dan untuk Aksa sendiri."
Bunda tersenyum, mengusap kepalaku dengan penuh kasih. "Itu yang Bunda harapkan. Kau tahu, Aksa, mencintai seseorang bukan hanya soal menghindari kesalahan, tapi juga belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik untuk orang yang kita sayangi."
Aku terdiam, merenungkan kata-kata Bunda. Sekarang aku tahu, perjuanganku untuk mempertahankan Fika bukanlah soal menghindari kesalahan dari masa lalu, tetapi tentang menjadi sosok yang lebih baik dengan setiap langkah yang aku ambil.
Quote:
Sudah larut malam di Indonesia ketika aku menatap layar ponsel yang seakan hening membeku. Chat terakhir dari Fika belum dibalas sejak sore tadi, dan pesan-pesan yang lain belum disentuh. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Fika hanya sibuk, mungkin sedang rapat kelompok atau belajar di perpustakaan. Tapi bayangan foto-fotonya dengan teman-teman di Edinburgh, terutama yang bersama Liam, terus terlintas dalam pikiranku, seperti luka kecil yang semakin lama semakin perih.
Hingga akhirnya, satu pikiran muncul di benakku: apakah Fika masih sepenuhnya untukku? Atau... mungkin sudah ada orang lain di sana yang mengisi ruang yang kutinggalkan?
Setelah beberapa saat, aku menyerah pada dorongan hati dan menekan panggilan suara. Nada tunggu berbunyi, tapi tetap tak ada jawaban. Ketika akhirnya Fika mengangkat telepon dengan suara lelah dan sedikit serak, hatiku seketika terpecah antara kelegaan dan kecemasan.
"Hei, sayang. Kamu lagi sibuk?" Aku mencoba terdengar biasa.
Fika menghela napas panjang sebelum menjawab, "Baru selesai belajar kelompok, jadi lupa lihat hape. Maaf, ya. Eh, kenapa kamu telepon malam-malam?"
Nada netralnya membuat keraguanku semakin mencuat. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan emosi yang sudah mengaduk hatiku sejak sore. "Aku cuma... ya, aku khawatir," jawabku pelan, dengan nada yang jauh dari sekadar basa-basi. "Tadi aku lihat foto kamu sama teman-teman di kampus, ada Liam juga di situ, kan?"
"Oh, itu tadi makan bareng anak-anak setelah diskusi. Gak ada yang istimewa, kok," jawab Fika santai.
"Tapi... kamu beneran gak ada rasa apa-apa ke dia?" Aku hampir menahan napas, berusaha menyembunyikan kegelisahanku. Pertanyaanku menggantung seperti beban yang nyaris tak tertahankan.
"Aksa..." Fika terdengar terkejut, seolah tak percaya aku akan menanyakan hal semacam itu. "Kamu serius? Aku gak pernah ada pikiran untuk dekat sama orang lain di sini. Kamu tahu itu."
Aku terdiam. Di satu sisi, hatiku ingin percaya. Namun, ingatan tentang masa lalu—saat aku pernah mengkhianati Fika bersama Angel—menjadi bayangan yang tak bisa aku lupakan, terus membayangi pikiranku.
Aku berdehem, mencoba menahan amarah dan ketakutan yang terpendam. "Aku... maaf, Fik. Aku cuma... aku takut aja. Takut kalau kamu nanti jatuh hati sama yang lain di sana. Aku nggak mau kehilangan kamu."
Sejenak, hanya ada keheningan di ujung telepon, dan Fika menarik napas panjang, suaranya lebih lembut namun tegas. "Aksa, aku di sini juga untuk kita. Aku nggak mau kamu selalu khawatir sama hal-hal kayak gini. Kalau kamu terus-menerus gak percaya sama aku, hubungan kita akan sulit bertahan."
Kata-katanya menusuk tepat di hatiku. Aku sadar, ketakutanku telah mengarahkan percakapan ini pada konflik yang selama ini coba kuhindari. Aku tahu betul bahwa aku harus mempercayai Fika, tapi luka dari perbuatanku dulu masih melekat, membuatku tak mampu benar-benar tenang.
"Aku percaya sama kamu, Fik," ucapku akhirnya, suaraku rendah. "Aku cuma... aku cuma takut kamu menemukan kehidupan yang lebih baik di sana. Seseorang yang lebih baik dari aku."
Fika menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab, "Aksa, kalau aku nyari yang lebih baik, aku gak akan ngejalanin semua ini. Kalau aku ingin kehidupan lain, aku gak akan bangun tengah malam cuma buat mastiin kamu baik-baik aja di situ."
Aku mengangguk meski Fika tak bisa melihatnya. Rasa bersalah mengaduk hatiku, menyadarkanku bahwa ketidakpercayaan ini justru berasal dari ketakutanku sendiri.
"Iya. Maaf. Aku nggak akan ngulangin lagi, kok. Maaf karena bikin kamu ngerasa gak dipercaya," ucapku lirih.
"Kita harus belajar saling percaya, Aksa. Bukan cuma buat sekarang, tapi buat nanti. Seterusnya. Karena jarak dan waktu gak pernah gampang buat kita," balas Fika lembut.
Aku menelan ludah, merasakan beban ketidakpastian yang perlahan sirna dengan kata-kata Fika. Meski masih ada rasa takut, aku sadar, perasaan itulah yang mesti kujaga agar hubungan kami tetap kuat—bukan dengan kecurigaan, tapi dengan kepercayaan yang tulus.
Dan di tengah heningnya malam itu, aku mengerti bahwa cinta yang sebenarnya adalah kepercayaan, meski jarak, waktu, dan bayangan masa lalu kerap menghantui.
Hingga akhirnya, satu pikiran muncul di benakku: apakah Fika masih sepenuhnya untukku? Atau... mungkin sudah ada orang lain di sana yang mengisi ruang yang kutinggalkan?
Setelah beberapa saat, aku menyerah pada dorongan hati dan menekan panggilan suara. Nada tunggu berbunyi, tapi tetap tak ada jawaban. Ketika akhirnya Fika mengangkat telepon dengan suara lelah dan sedikit serak, hatiku seketika terpecah antara kelegaan dan kecemasan.
"Hei, sayang. Kamu lagi sibuk?" Aku mencoba terdengar biasa.
Fika menghela napas panjang sebelum menjawab, "Baru selesai belajar kelompok, jadi lupa lihat hape. Maaf, ya. Eh, kenapa kamu telepon malam-malam?"
Nada netralnya membuat keraguanku semakin mencuat. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan emosi yang sudah mengaduk hatiku sejak sore. "Aku cuma... ya, aku khawatir," jawabku pelan, dengan nada yang jauh dari sekadar basa-basi. "Tadi aku lihat foto kamu sama teman-teman di kampus, ada Liam juga di situ, kan?"
"Oh, itu tadi makan bareng anak-anak setelah diskusi. Gak ada yang istimewa, kok," jawab Fika santai.
"Tapi... kamu beneran gak ada rasa apa-apa ke dia?" Aku hampir menahan napas, berusaha menyembunyikan kegelisahanku. Pertanyaanku menggantung seperti beban yang nyaris tak tertahankan.
"Aksa..." Fika terdengar terkejut, seolah tak percaya aku akan menanyakan hal semacam itu. "Kamu serius? Aku gak pernah ada pikiran untuk dekat sama orang lain di sini. Kamu tahu itu."
Aku terdiam. Di satu sisi, hatiku ingin percaya. Namun, ingatan tentang masa lalu—saat aku pernah mengkhianati Fika bersama Angel—menjadi bayangan yang tak bisa aku lupakan, terus membayangi pikiranku.
Aku berdehem, mencoba menahan amarah dan ketakutan yang terpendam. "Aku... maaf, Fik. Aku cuma... aku takut aja. Takut kalau kamu nanti jatuh hati sama yang lain di sana. Aku nggak mau kehilangan kamu."
Sejenak, hanya ada keheningan di ujung telepon, dan Fika menarik napas panjang, suaranya lebih lembut namun tegas. "Aksa, aku di sini juga untuk kita. Aku nggak mau kamu selalu khawatir sama hal-hal kayak gini. Kalau kamu terus-menerus gak percaya sama aku, hubungan kita akan sulit bertahan."
Kata-katanya menusuk tepat di hatiku. Aku sadar, ketakutanku telah mengarahkan percakapan ini pada konflik yang selama ini coba kuhindari. Aku tahu betul bahwa aku harus mempercayai Fika, tapi luka dari perbuatanku dulu masih melekat, membuatku tak mampu benar-benar tenang.
"Aku percaya sama kamu, Fik," ucapku akhirnya, suaraku rendah. "Aku cuma... aku cuma takut kamu menemukan kehidupan yang lebih baik di sana. Seseorang yang lebih baik dari aku."
Fika menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab, "Aksa, kalau aku nyari yang lebih baik, aku gak akan ngejalanin semua ini. Kalau aku ingin kehidupan lain, aku gak akan bangun tengah malam cuma buat mastiin kamu baik-baik aja di situ."
Aku mengangguk meski Fika tak bisa melihatnya. Rasa bersalah mengaduk hatiku, menyadarkanku bahwa ketidakpercayaan ini justru berasal dari ketakutanku sendiri.
"Iya. Maaf. Aku nggak akan ngulangin lagi, kok. Maaf karena bikin kamu ngerasa gak dipercaya," ucapku lirih.
"Kita harus belajar saling percaya, Aksa. Bukan cuma buat sekarang, tapi buat nanti. Seterusnya. Karena jarak dan waktu gak pernah gampang buat kita," balas Fika lembut.
Aku menelan ludah, merasakan beban ketidakpastian yang perlahan sirna dengan kata-kata Fika. Meski masih ada rasa takut, aku sadar, perasaan itulah yang mesti kujaga agar hubungan kami tetap kuat—bukan dengan kecurigaan, tapi dengan kepercayaan yang tulus.
Dan di tengah heningnya malam itu, aku mengerti bahwa cinta yang sebenarnya adalah kepercayaan, meski jarak, waktu, dan bayangan masa lalu kerap menghantui.
Next: 27. Langkah Terlaarang
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas
Tutup