- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Memilih Bahagia
...
TS
sofanzani
Aku Memilih Bahagia

Quote:

Quote:
Dulu aku berpikir kalau one of the biggest bullshit on earthadalah ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Mendengar kata itu, yang terlintas dalam benakku adalah orang-orang lemah yang harus menyerah kalah karena tak berhasil memperjuangkan cinta. “Cinta tak harus memiliki” juga seperti sebuah penobatan diri jika pelakunya adalah orang-orang berhati tulus yang dengan perkasa memberikan segenap rasa tanpa perlu balas asa.
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Quote:
Quote:
Quote:

Terlambat itu tidak pernah menyenangkan. Sebuah situasi dimana kita harus berpacu dengan waktu sambil terus berkonsentrasi dengan keadaan sekitar. Ketidakseimbangan fungsi otak kadang menyebabkan kita uring-uringan karena nyawa kita sudah sampai di tempat tujuan tapi badan masih bergumul dengan persiapan-persiapan. Seperti aku pagi ini, aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada audisi untuk menjadi pianis di grup choir kampusku. Hari yang sudah kunanti sejak sebulan lalu, ketika pengumumannya ku dapatkan dari poster-poster yang dipajang di berbagai sudut kampus.
Kulewatkan mandi. Menyikat gigi ditambah dua-tiga basuhan di muka rasanya sudah cukup. Tak sempat membongkar lemari untuk memilih baju, aku lebih memilih menggaet apa saja yang masih tergantung di hanger di kamarku. Asal tak bau saat kuendus, maka kuanggap masih layak pakai.
Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju ke luar rumah.
“Bundaaa, Aksa pergiiiiii....” Setengah teriak, aku pamit pada ibuku. Rumah kami tidak terlalu besar, ibuku pasti mendengar teriakanku.
“Sarapan dulu, naak..., kamu itu kebiasaan pamit teriak-teriak, gak mau cium bunda dulu, apa?”
Hihi, mendengar ibuku mendumel, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, setengah berlari, hanya untuk mencium pipi malaikatku itu. “Nggak keburu, Bun. Aksa terlambat, sampai ketemu siang yaa, Doain aksa, hari ini ada audisi... mmuaach”, akupun berlari keluar lagi.
Ibuku Cuma menggeleng.
Aku langsung masuk ke dalam mobilku. Mencoba menstarternya dengan penuh harap cemas, karena kadang butuh hingga sepuluh kali putar kunci hingga ia mau menyala. Sebuah mobil hatchback hitam produksi Jepang tahun 1987. Mobil yang AC-nya tidak mampu mencegah keringat keluar saat hari panas. Mobil dengan power steering dan power windows (buka jendela sama putar stirnya harus pake power, hehe), mobil yang kadang suka ngadat di tengah jalan dan ogah buru-buru sampai ke tempat tujuan.
Tapi biarpun begitu, aku sayang sama si hitam ini, karena dia punya sentimental value buat aku. Peninggalan almarhum ayahku.
Berangkaaaat....
Quote:
Well, kamu harus tahu kalau si Hitam tidak mengantarku sampai ke parkiran kampus. Bukan karena ngadat lagi, tapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan untukku tiba on time jika memaksa menyetirnya. Macet dimana-mana. Akhirnya terpaksa aku pinggirkan dia di tengah perjalanan, dan memilih memesan ojek online saja.
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Next: 2. Audition (Lanjutan)
Polling
0 suara
Aksa lebih baik memilih siapa?
Diubah oleh sofanzani 08-11-2024 15:24
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
161.9K
Kutip
667
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
sofanzani
#637
25. Meniti Harapan di Bawah Langit Edinburgh
Quote:
Edinburgh selalu punya cara mempertemukan Fika dengan sesuatu yang baru setiap harinya, meskipun bagi Fika, setiap detik adalah kesempatan mengingatku. Hampir setiap pagi ia memulai harinya dengan pesan singkat kepadaku sebelum berangkat ke kampus. Meski terasa jauh dan kadang tak cukup, komunikasi ini adalah tali tipis yang terus ia jaga di tengah padatnya rutinitas.
Suatu sore yang dingin, setelah menghadiri diskusi kelompok yang melelahkan, Fika menerima pesan dariku yang menanyakan kabar dan mengirimkan foto langit sore dari kota kami, yang sama-sama sering kami lihat saat jalan-jalan sore. Fika tersenyum sambil mengetik balasan, “Langitnya masih sama, ya. Aku kangen kita bisa lihat bareng.”
Balasanku datang cepat: “Iya, langitnya sih sama, cuma rasanya beda tanpa kamu. Jadi, kapan pulang?”
Kalimat itu membuat hatinya tercekat, perasaannya bertabrakan antara kerinduan dan kewajiban. Ia pun menjawab, “Cepat atau lambat, ya. Tapi semester ini super sibuk, mungkin gak bisa sering pulang.”
Percakapan yang semula ringan itu perlahan berubah serius. Aku bertanya, “Kamu benar-benar happydi sana, kan? Kadang aku takut kalau kamu terlalu tenggelam di sana... aku cuma berharap kamu gak lupa tujuan kita.”
“Aku gak lupa, kok,” jawab Fika cepat. “Aku di sini juga untuk kita. Semua ini juga buat masa depan kita.” Tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa kalimat itu terdengar lemah.
Beban studinya, kesempatan-kesempatan yang ia temui, dan pengalaman-pengalaman baru membuatnya harus terus meyakinkan diri bahwa semuanya masih berjalan sesuai rencana. Apalagi, di kampusnya, banyak yang kagum pada prestasinya dan menganggapnya salah satu mahasiswa berbakat. Beberapa kali, profesornya bahkan menyarankan agar ia melanjutkan magang di Edinburgh, sesuatu yang sebenarnya belum berani ia ceritakan padaku.
Di sisi lain, komunikasi yang semakin intens juga menimbulkan perdebatan kecil antara kami. Suatu malam ketika jadwalnya sangat padat, Fika lupa membalas pesanku. Ia baru menyadarinya keesokan pagi dan langsung mengirim pesan panjang menjelaskan situasinya, tetapi aku hanya menjawab singkat. “Ya udah, gak apa-apa.”
Fika merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Ia mengirim pesan lagi, “Kamu marah?”
“Gak, cuma... kayaknya kamu makin sibuk aja sekarang,” balasku. Ada jeda sebelum aku melanjutkan, “Kadang aku ngerasa kita gak lagi ada di halaman yang sama, Fik.”
Kata-kataku itu seperti menyengat. Fika tahu bahwa kesibukannya di Edinburgh menyita waktunya. Meskipun ia ingin sekali menunjukkan bahwa ia tetap berkomitmen, kadang ia tak bisa memenuhi harapanku sepenuhnya. Ia merasa perbedaan waktu dan kesibukan masing-masing menambah jarak di antara kami, membuat hubungan yang seharusnya hangat menjadi dingin perlahan.
Di saat yang sama, Fika menerima banyak ajakan untuk acara kampus dan kegiatan sosial. Teman-teman barunya sering mengajaknya keluar, bahkan sesekali menyarankan untuk mencari hiburan di luar kuliah. Di salah satu acara kampus, seorang rekan sekelasnya yang bernama Liam mulai menunjukkan ketertarikan padanya. Liam sering membantunya dengan tugas, dan tanpa disadari Fika, kehadiran Liam menjadi pelipur lara di saat-saat ia merasa lelah.
Pada suatu malam, setelah hari yang sangat melelahkan di kampus, Fika dan Liam bersama beberapa teman lainnya memutuskan untuk minum kopi di kafe dekat apartemen mereka. Liam dengan lembut bertanya, “Fika, kamu pernah terpikir untuk tinggal lebih lama di sini? Kamu berbakat banget, profesor juga sepertinya sangat menghargaimu.”
Pertanyaan itu membuat Fika terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkannya secara serius. Tapi, kali ini, di balik kerinduan padaku, ia menyadari bahwa Edinburgh menawarkan kesempatan yang sulit untuk dilewatkan.
Namun, ketika ia kembali ke apartemennya malam itu, ia langsung menghubungiku. Ia merasa ingin memastikan bahwa perasaannya masih terhubung dengan orang yang ia cintai.
“Maaf kalau belakangan ini aku kurang ada waktu buat kita. Aku cuma mau bilang... aku masih setia sama kamu. Apa pun yang aku lalui di sini, kamu tetap orang yang aku sayang,” ucap Fika dengan suara sedikit gemetar.
Ada jeda sebelum aku menjawab, suaraku terdengar tenang namun ada nada cemas yang tak bisa kusembunyikan. “Aku percaya kamu, Fik. Tapi kamu harus ingat, aku gak ada di sana untuk memastikan. Aku cuma berharap kamu ingat rencana kita.”
Kata-kataku itu kembali membangunkan Fika. Edinburgh mungkin menawarkan dunia yang baru, tapi ia sadar bahwa hatinya selalu pulang pada satu tujuan. Di malam yang sunyi itu, dengan ketenangan yang baru ia sadari, Fika memutuskan untuk tetap setia—baik pada mimpinya maupun pada cintanya.
Suatu sore yang dingin, setelah menghadiri diskusi kelompok yang melelahkan, Fika menerima pesan dariku yang menanyakan kabar dan mengirimkan foto langit sore dari kota kami, yang sama-sama sering kami lihat saat jalan-jalan sore. Fika tersenyum sambil mengetik balasan, “Langitnya masih sama, ya. Aku kangen kita bisa lihat bareng.”
Balasanku datang cepat: “Iya, langitnya sih sama, cuma rasanya beda tanpa kamu. Jadi, kapan pulang?”
Kalimat itu membuat hatinya tercekat, perasaannya bertabrakan antara kerinduan dan kewajiban. Ia pun menjawab, “Cepat atau lambat, ya. Tapi semester ini super sibuk, mungkin gak bisa sering pulang.”
Percakapan yang semula ringan itu perlahan berubah serius. Aku bertanya, “Kamu benar-benar happydi sana, kan? Kadang aku takut kalau kamu terlalu tenggelam di sana... aku cuma berharap kamu gak lupa tujuan kita.”
“Aku gak lupa, kok,” jawab Fika cepat. “Aku di sini juga untuk kita. Semua ini juga buat masa depan kita.” Tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa kalimat itu terdengar lemah.
Beban studinya, kesempatan-kesempatan yang ia temui, dan pengalaman-pengalaman baru membuatnya harus terus meyakinkan diri bahwa semuanya masih berjalan sesuai rencana. Apalagi, di kampusnya, banyak yang kagum pada prestasinya dan menganggapnya salah satu mahasiswa berbakat. Beberapa kali, profesornya bahkan menyarankan agar ia melanjutkan magang di Edinburgh, sesuatu yang sebenarnya belum berani ia ceritakan padaku.
Di sisi lain, komunikasi yang semakin intens juga menimbulkan perdebatan kecil antara kami. Suatu malam ketika jadwalnya sangat padat, Fika lupa membalas pesanku. Ia baru menyadarinya keesokan pagi dan langsung mengirim pesan panjang menjelaskan situasinya, tetapi aku hanya menjawab singkat. “Ya udah, gak apa-apa.”
Fika merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Ia mengirim pesan lagi, “Kamu marah?”
“Gak, cuma... kayaknya kamu makin sibuk aja sekarang,” balasku. Ada jeda sebelum aku melanjutkan, “Kadang aku ngerasa kita gak lagi ada di halaman yang sama, Fik.”
Kata-kataku itu seperti menyengat. Fika tahu bahwa kesibukannya di Edinburgh menyita waktunya. Meskipun ia ingin sekali menunjukkan bahwa ia tetap berkomitmen, kadang ia tak bisa memenuhi harapanku sepenuhnya. Ia merasa perbedaan waktu dan kesibukan masing-masing menambah jarak di antara kami, membuat hubungan yang seharusnya hangat menjadi dingin perlahan.
Di saat yang sama, Fika menerima banyak ajakan untuk acara kampus dan kegiatan sosial. Teman-teman barunya sering mengajaknya keluar, bahkan sesekali menyarankan untuk mencari hiburan di luar kuliah. Di salah satu acara kampus, seorang rekan sekelasnya yang bernama Liam mulai menunjukkan ketertarikan padanya. Liam sering membantunya dengan tugas, dan tanpa disadari Fika, kehadiran Liam menjadi pelipur lara di saat-saat ia merasa lelah.
Pada suatu malam, setelah hari yang sangat melelahkan di kampus, Fika dan Liam bersama beberapa teman lainnya memutuskan untuk minum kopi di kafe dekat apartemen mereka. Liam dengan lembut bertanya, “Fika, kamu pernah terpikir untuk tinggal lebih lama di sini? Kamu berbakat banget, profesor juga sepertinya sangat menghargaimu.”
Pertanyaan itu membuat Fika terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkannya secara serius. Tapi, kali ini, di balik kerinduan padaku, ia menyadari bahwa Edinburgh menawarkan kesempatan yang sulit untuk dilewatkan.
Namun, ketika ia kembali ke apartemennya malam itu, ia langsung menghubungiku. Ia merasa ingin memastikan bahwa perasaannya masih terhubung dengan orang yang ia cintai.
“Maaf kalau belakangan ini aku kurang ada waktu buat kita. Aku cuma mau bilang... aku masih setia sama kamu. Apa pun yang aku lalui di sini, kamu tetap orang yang aku sayang,” ucap Fika dengan suara sedikit gemetar.
Ada jeda sebelum aku menjawab, suaraku terdengar tenang namun ada nada cemas yang tak bisa kusembunyikan. “Aku percaya kamu, Fik. Tapi kamu harus ingat, aku gak ada di sana untuk memastikan. Aku cuma berharap kamu ingat rencana kita.”
Kata-kataku itu kembali membangunkan Fika. Edinburgh mungkin menawarkan dunia yang baru, tapi ia sadar bahwa hatinya selalu pulang pada satu tujuan. Di malam yang sunyi itu, dengan ketenangan yang baru ia sadari, Fika memutuskan untuk tetap setia—baik pada mimpinya maupun pada cintanya.
Quote:
Sore itu, aku dan Bunda duduk di teras rumah ketika matahari mulai terbenam, menyebarkan cahaya keemasan di langit, menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Bunda menyeduh teh manis kesukaanku, dan aroma harum teh melayang di udara.
"Gimana kuliahmu, nak?" Bunda memulai percakapan, menatapku dengan senyuman lembut.
"Baik, Bunda. Aksa lagi banyak tugas, tapi aman kok. Masih bisa diatasi," jawabku sambil menggapai cangkir teh yang disodorkan Bunda.
"Kamu jaga kesehatan, ya. Jangan sampai stres," Bunda mengingatkan, lalu menatap jauh ke arah jalan luar pagar. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Fika? Masih sering berkomunikasi?"
Aku mengangguk, tetapi ada rasa berat yang mengendap di dadaku. "Iya, Bunda. Fika baik-baik saja, kok. Dia lagi menikmati banget waktu di Edinburgh."
"Oh iya? Syukurlah... Bunda seneng dengernya. Fika itu perempuan yang baik, Aksa. Kalau kamu tahu, Bunda itu selalu berharap kamu emang bisa ketemu dengan seseorang yang kayak dia," Bunda melanjutkan, lalu mengalihkan pandangannya padaku. "Tapi kamu juga harus jujur sama perasaanmu, nak."
Aku menunduk, terdiam sejenak. Dalam hatiku, konflik berkecamuk antara kesetiaan dan perasaanku yang rumit. "Bunda, ada yang pengen Aksa ceritain. Tapi ini... ini sulit."
Bunda menatapku dengan penuh perhatian. "Apa?"
"Aksa kan pernah ikut acara gathering choir di villa gitu. Ke sana, Aksa pergi sama salah satu temen kampus. Angel namanya," aku memulai, suaraku bergetar.
"Iya, terus?"
"Di acara itu, Aksa sama Angel... bercumbu."
Bunda terdiam sejenak, mengingat kata-kata yang baru saja kuucapkan. Ketika air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, dia berusaha mengatur perasaannya. "Aksa, kenapa kamu bisa ngelakuin itu?" suaranya bergetar, mencerminkan kekecewaan yang mendalam.
"Aksa nggak tahu, Bunda. Aksa ngerasa terjebak antara perasaan untuk Fika dan ketertarikan Aksa sama Angel. Tapi kayaknya AKsa cuma terbawa suasana, aja" jawabku, menunduk, merasa bersalah.
"Cinta itu bukan cuma tentang perasaan saat ini, Aksa. Tapi juga tentang komitmen. Sekarang Bunda tanya, gimana perasaanmu terhadap Fika?" Bunda bertanya, suaranya penuh ketulusan.
"Aksa sayang banget sama Fika. Dia selalu mendukung Aksa, dan Aksa gak pernah mau nyakitin Fika, Bun. Tapi sekarang... Aksa ngerasa bersalah banget," jelasku, napasku berat.
Bunda mengusap air mata yang mengalir di pipinya, mencoba menahan kekecewaan. "Aksa, kamu harus janji nggak akan mengulanginya lagi. Kita kubur dalam-dalam kejadian itu demi kelangsungan hubunganmu dengan Fika."
"Aksa nggak tahu apa Aksa bisa, Bunda. Rasa bersalah terlalu berat," aku mengungkapkan ketakutanku.
"Bunda tidak mengajari berbohong, atau tidak mengakui kesalahan, tapi ini semua semata-mata demi kebaikan," Bunda menjawab, menghapus air mata yang menetes. "Jangan biarin kesalahan ini merusak hubungan kalian. Kamu udah berbuat salah, jadi kamu harus belajar dari kesalahan kamu itu."
Mendengar kata-kata Bunda, aku merasakan beban di dadaku sedikit berkurang. Aku tahu aku harus menghadapi kenyataan ini, dan dengan dukungan Bunda, aku merasa lebih siap untuk melangkah maju.
"Janji, nak. Janji pada Bunda bahwa kamu akan menjaga hatimu dan menjaga hubunganmu dengan Fika," Bunda meminta, berharap aku mendengarkan.
"Iya, Aksa janji, Bunda. Aksa nggak akan mengulanginya lagi," jawabku, merasakan kelegaan dan rasa bersalah yang menyusut, berharap untuk memperbaiki semuanya.
"Gimana kuliahmu, nak?" Bunda memulai percakapan, menatapku dengan senyuman lembut.
"Baik, Bunda. Aksa lagi banyak tugas, tapi aman kok. Masih bisa diatasi," jawabku sambil menggapai cangkir teh yang disodorkan Bunda.
"Kamu jaga kesehatan, ya. Jangan sampai stres," Bunda mengingatkan, lalu menatap jauh ke arah jalan luar pagar. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Fika? Masih sering berkomunikasi?"
Aku mengangguk, tetapi ada rasa berat yang mengendap di dadaku. "Iya, Bunda. Fika baik-baik saja, kok. Dia lagi menikmati banget waktu di Edinburgh."
"Oh iya? Syukurlah... Bunda seneng dengernya. Fika itu perempuan yang baik, Aksa. Kalau kamu tahu, Bunda itu selalu berharap kamu emang bisa ketemu dengan seseorang yang kayak dia," Bunda melanjutkan, lalu mengalihkan pandangannya padaku. "Tapi kamu juga harus jujur sama perasaanmu, nak."
Aku menunduk, terdiam sejenak. Dalam hatiku, konflik berkecamuk antara kesetiaan dan perasaanku yang rumit. "Bunda, ada yang pengen Aksa ceritain. Tapi ini... ini sulit."
Bunda menatapku dengan penuh perhatian. "Apa?"
"Aksa kan pernah ikut acara gathering choir di villa gitu. Ke sana, Aksa pergi sama salah satu temen kampus. Angel namanya," aku memulai, suaraku bergetar.
"Iya, terus?"
"Di acara itu, Aksa sama Angel... bercumbu."
Bunda terdiam sejenak, mengingat kata-kata yang baru saja kuucapkan. Ketika air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, dia berusaha mengatur perasaannya. "Aksa, kenapa kamu bisa ngelakuin itu?" suaranya bergetar, mencerminkan kekecewaan yang mendalam.
"Aksa nggak tahu, Bunda. Aksa ngerasa terjebak antara perasaan untuk Fika dan ketertarikan Aksa sama Angel. Tapi kayaknya AKsa cuma terbawa suasana, aja" jawabku, menunduk, merasa bersalah.
"Cinta itu bukan cuma tentang perasaan saat ini, Aksa. Tapi juga tentang komitmen. Sekarang Bunda tanya, gimana perasaanmu terhadap Fika?" Bunda bertanya, suaranya penuh ketulusan.
"Aksa sayang banget sama Fika. Dia selalu mendukung Aksa, dan Aksa gak pernah mau nyakitin Fika, Bun. Tapi sekarang... Aksa ngerasa bersalah banget," jelasku, napasku berat.
Bunda mengusap air mata yang mengalir di pipinya, mencoba menahan kekecewaan. "Aksa, kamu harus janji nggak akan mengulanginya lagi. Kita kubur dalam-dalam kejadian itu demi kelangsungan hubunganmu dengan Fika."
"Aksa nggak tahu apa Aksa bisa, Bunda. Rasa bersalah terlalu berat," aku mengungkapkan ketakutanku.
"Bunda tidak mengajari berbohong, atau tidak mengakui kesalahan, tapi ini semua semata-mata demi kebaikan," Bunda menjawab, menghapus air mata yang menetes. "Jangan biarin kesalahan ini merusak hubungan kalian. Kamu udah berbuat salah, jadi kamu harus belajar dari kesalahan kamu itu."
Mendengar kata-kata Bunda, aku merasakan beban di dadaku sedikit berkurang. Aku tahu aku harus menghadapi kenyataan ini, dan dengan dukungan Bunda, aku merasa lebih siap untuk melangkah maju.
"Janji, nak. Janji pada Bunda bahwa kamu akan menjaga hatimu dan menjaga hubunganmu dengan Fika," Bunda meminta, berharap aku mendengarkan.
"Iya, Aksa janji, Bunda. Aksa nggak akan mengulanginya lagi," jawabku, merasakan kelegaan dan rasa bersalah yang menyusut, berharap untuk memperbaiki semuanya.
Diubah oleh sofanzani 18-11-2024 10:25
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas