- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Arkeologi - Kutukan Desa Mola-Mola
...
TS
wedi
Ekspedisi Arkeologi - Kutukan Desa Mola-Mola
Quote:

Judul: Ekspedisi Arkeologi.
Genre: Petualangan/Misteri.
Status: TAMAT.
Sinopsis:
Kutukan Desa Mola-Mola adalah sebuah novel misteri yang mengikuti perjalanan seorang arkeolog bernama Satrio dalam mengungkap rahasia kutukan yang menyelimuti desa terpencil bernama Mola-Mola. Desa ini dihantui oleh kejadian-kejadian aneh setelah melupakan tradisi leluhur mereka. Bersama tim penelitinya, Satrio menemukan petunjuk dari prasasti kuno dan artefak tersembunyi yang mengarahkan mereka pada sebauh suku besar yang kini di kenal Mola-Mola.
Di tengah pencarian, Satrio terpisah dari tim dan berjuang bertahan hidup di hutan yang penuh bahaya, sementara tim penelitinya mencoba melacak jejaknya. Makin dalam mereka menelusuri misteri desa, semakin jelas bahwa kutukan itu bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari balas dendam berdarah yang melibatkan masa lalu kelam dua keluarga besar desa. Di puncak ketegangan, mereka harus berpacu dengan waktu untuk menghentikan kutukan sebelum menghancurkan desa dan seluruh penghuninya.
Berikut salah satu karya yang sudah mulai saya kerjakan. Jumlah bab sudah mencapai 42 Bab. Bahkan sudah mendekati Tamat. Dan di sini juga teman-teman tidak perlu membaca, hehe.. Saya sudah merubahnya ke Audio.
Isi Post ini akan terus saya update jika peminatnya bagus, dan saya ada rencana akan merubah semua karya saya menjadi bentuk Audio, dan saya upload di youtube.
Spoiler for Daftar Cerita:
1. Rumah Terbengkalai [TAMAT]
2. Ekspedisi Arkeologi [On Going]
3. Rumah Terbengkalai II - Awal Kebangkitan [Next Projek]
4. Amnesia [Next Projek Revisi]
2. Ekspedisi Arkeologi [On Going]
3. Rumah Terbengkalai II - Awal Kebangkitan [Next Projek]
4. Amnesia [Next Projek Revisi]
Siapa tau rejeki saya bagus di sini. Aminn..
Quote:
Untuk daftar isi sementara saya update di sini lantaran TH belum bisa di edit. Semoga bisa menghibur. Update setiap hari. InsyaAllah, sampai tamat selama masih ada pembacanya.
Daftar Isi:
Bab 1: Desa Mola-Mola
Bab 2: Arkeologi Muda
Bab 3: Kepedihan Lisa dan Desa
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 1
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 2
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 3
Bab 4: Kutukan kembali Vol. 4 End
Bab 5: Tekad Satrio Vol. 1
Bab 5: Awal Petualangan Vol 2 End
Bab 6: Jejak Penjelajah
Bab 7: Ancaman Hutan
Bab 8: Misteri Batu Penjelajah
Bab 9: Prasasti Di Gua Batu
Bab 10: Arah Barat
Bab 11: Aksi Melewati Sungai
Bab 12: Hutan Misterius
Bab 13: Pria Kekar
Bab 14: Pria Desa Mola-Mola
Bab 15: Legenda Batu Kuno
Bab 16: Bab 16
Bab 16: Tim Satrio
Bab 17: Teka-teki Dibalik Kutukan V1
Bab 18: Teka-teki Dibalik Kutukan V2
Bab 19: Teka-teki Dibalik Kutukan V3
Bab 20: Teka-teki Dibalik Kutukan V4
Bab 21: Teka-teki Dibalik Kutukan V5
Bab 22: Teka-teki Dibalik Kutukan V6
Bab 23: Uraian Buku Catatan Satrio.
Bab 24: Babak Akhir V1
Bab 25: Babak Akhir V2
Bab 26: Babak Akhir V3
Bab 27: Babak Akhir V4
Bab 28: Babak Akhir V5
Bab 29: Hari Baru TAMAT
Daftar Isi:
Bab 1: Desa Mola-Mola
Bab 2: Arkeologi Muda
Bab 3: Kepedihan Lisa dan Desa
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 1
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 2
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 3
Bab 4: Kutukan kembali Vol. 4 End
Bab 5: Tekad Satrio Vol. 1
Bab 5: Awal Petualangan Vol 2 End
Bab 6: Jejak Penjelajah
Bab 7: Ancaman Hutan
Bab 8: Misteri Batu Penjelajah
Bab 9: Prasasti Di Gua Batu
Bab 10: Arah Barat
Bab 11: Aksi Melewati Sungai
Bab 12: Hutan Misterius
Bab 13: Pria Kekar
Bab 14: Pria Desa Mola-Mola
Bab 15: Legenda Batu Kuno
Bab 16: Bab 16
Bab 16: Tim Satrio
Bab 17: Teka-teki Dibalik Kutukan V1
Bab 18: Teka-teki Dibalik Kutukan V2
Bab 19: Teka-teki Dibalik Kutukan V3
Bab 20: Teka-teki Dibalik Kutukan V4
Bab 21: Teka-teki Dibalik Kutukan V5
Bab 22: Teka-teki Dibalik Kutukan V6
Bab 23: Uraian Buku Catatan Satrio.
Bab 24: Babak Akhir V1
Bab 25: Babak Akhir V2
Bab 26: Babak Akhir V3
Bab 27: Babak Akhir V4
Bab 28: Babak Akhir V5
Bab 29: Hari Baru TAMAT
Diubah oleh wedi 17-11-2024 14:14
sukhhoi dan 10 lainnya memberi reputasi
11
2.8K
Kutip
125
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wedi
#47
Bab 24: Babak Akhir V1
Spoiler for Audio:
Spoiler for Teks:
Quote:
Bab 24. Teka-teki Dibalik Kutukan.
Suasana malam yang semula diharapkan tenang justru kembali terasa mencekam, ketika kutukan itu menyerang secara membabi buta. Di depan rumah, Ekot dan beberapa warga terlihat berusaha memapah seorang gadis menjauh, langkah mereka tergesa, penuh kecemasan yang terpendam.
"Bagaimana kondisinya, Ekot?" tanya Satrio, napasnya masih terengah setelah pengejarannya yang terputus.
Ekot menoleh, wajahnya tampak lega meski peluh membasahi keningnya. "Mereka baik-baik saja. Kita sampai tepat waktu, Ageo."
Satrio mengangguk, namun tatapannya kembali menerawang, menyisir bentangan ladang jagung yang menghilang di kegelapan, menuju arah hutan. Rasa penasaran dan waspada berkecamuk di dalam dirinya.
“Mahluk sialan itu... ia punya rencana. Bahkan mencoba mengalihkan perhatian dengan menyerangku,” gumam Satrio, hampir bicara pada dirinya sendiri.
Balewa, yang berdiri tak jauh, tampak berpikir sejenak sebelum menyahut, "Apa kau ingin mengatakan... kutukan ini dilakukan oleh sesuatu yang memiliki rupa?"
Satrio menatapnya, mengangguk perlahan. "Andai ini dilakukan oleh makhluk tak kasat mata, tentulah ia tak akan lari terbirit-birit saat aku mengejarnya."
Ekot segera memberi perintah pada yang lain. "Balewa, bawa keluarga Nava ke rumahku. Kutukan ini terlalu berbahaya jika mereka tetap tinggal di sini."
Tanpa membuang waktu, Balewa, dibantu beberapa warga lainnya, memapah keluarga Nava yang tampak ketakutan. Keluarga itu telah menjadi sasaran kutukan untuk kedua kalinya, seolah makhluk itu tak terima aksinya berhasil digagalkan oleh kehadiran Satrio.
Satrio mengamati mereka pergi, hatinya dipenuhi perasaan tak tenang. Ia tahu bahwa malam ini bukanlah serangan terakhir dari mahluk itu.
"Ekot, mintalah beberapa pemuda untuk tetap berjaga malam ini. Mulailah berfokus pada tiap sisi desa, karena makhluk bejat itu selalu muncul dari arah hutan," ujar Satrio tegas, matanya menatap tajam ke arah temannya.
Ekot mengangguk, segera memahami maksud Satrio.
Sementara itu, Satrio terus memperhatikan asap yang mulai menipis di dalam rumah. Pikirannya berputar-putar, mencoba merangkai petunjuk yang berceceran di antara kepulan kabut tersebut.
"Bagaimana cara makhluk itu membuat asap-asap ini?" pikir Satrio, langkahnya hati-hati, dan lengannya terus menutup hidung untuk menghindari bau menyengat yang masih tersisa. Dengan waspada, ia mulai menyisir rumah Nava, berharap menemukan sesuatu yang akan membawanya pada sebuah kesimpulan.
"Ekot, siapa yang bertugas menjaga rumah ini? Dan ke mana mereka?" tanyanya sambil tetap mengamati setiap sudut.
"Ada tiga orang. Nanjan, Mamut, dan Hanjak. Aku sendiri kebetulan lewat di sekitar sini saat melihat asap mencurigakan di ujung sana. Kami semua langsung berlarian mendekat, dan akhirnya aku menemukanmu di ladang jagung," jawab Ekot, mengingat kembali peristiwa yang baru saja terjadi.
Satrio mengangguk kecil, menyerap informasi itu. "Jelaslah sudah, Ekot. Jika makhluk itu mulai merasa terdesak. Sampai ia repot-repot membuat strategi untuk mengalihkan perhatian kita."
Ekot menatap Satrio dengan tatapan penuh tanya. "Maksudmu? makhluk itu sudah mulai menyusun rencana?"
"Benar," gumam Satrio pelan, tatapannya tajam penuh keyakinan. "Mahluk terkutuk ini mungkin bisa lebih berbahaya lagi Ekot. Ada pola disetiap serangannya, itu berarti ia memiliki pemikiran. Dan cobalah terka, Mahluk seperti apa yang bisa berpikir?"
"Apa kau ingin bilang ini perbuatan manusia?" jawab Ekot.
Satrio menjentikan jarinya. "Binggo, tepat sekali."
Ekot terus mengikuti setiap gerakan Satrio yang tampak teliti menelusuri setiap inci tanah di sekitar rumah. Sesekali Satrio berjongkok, memeriksa sesuatu dengan seksama, lalu menggeleng tipis sebelum akhirnya melanjutkan pencariannya. Hingga langkahnya terhenti di sisi belakang rumah.
Alis Satrio berkerut tajam, hampir bertemu di tengah, ketika pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang mencurigakan di tanah.
"Apa ini?" gumamnya pelan, sambil membungkuk untuk mengamati lebih dekat. Dengan hati-hati, ia mengambil segumpal benda hitam dari tanah, lalu mendekatkannya ke hidung. "Tak salah lagi, bau ini sama persis dengan aroma asap tadi."
Ekot yang sejak tadi mengamati dengan bingung, akhirnya angkat suara. "Apa yang kau temukan, Ageo?" tanyanya penuh rasa ingin tahu, memperhatikan ekspresi penuh kepuasan di wajah Satrio.
Satrio tersenyum tipis, mengangguk penuh arti. "Ekot, waktu itu aku belum bisa berjanji pada kalian. Tapi setelah malam ini, barulah aku yakin kita bisa menghentikan kutukan ini."
Ekot menatapnya dengan mata yang menyiratkan harapan bercampur rasa penasaran. "Aku percaya padamu Ageo. Lalu apakah yang bisa aku bantu untukmu?"
Satrio menggenggam gumpalan hitam itu erat, seakan memantapkan tekadnya. "Kita harus menyusun rencana. Aku butuh bantuan seluruh warga desa."
Ekot mengangguk, matanya menyala penuh semangat. "Katakan, Ageo. Apa langkah pertama?"
Satrio menatap ladang jagung yang terbentang gelap di depannya. "Aku akan menjelaskan rencana itu nanti. Saat ini, sebaiknya kita kembali berjaga seperti biasa."
Mengerti akan hal itu, Ekot pun mengerahkan semua pemuda untuk tetap berjaga. Malam semakin larut, mengiringi wajah-wajah penuh kewaspadaan yang berjaga ditiap jengkal desa. Tak ada satu suara pun yang luput dari pengawasan mereka. Hingga fajar pun tiba, melukiskan senyum menandakan tugas telah usai.
Suasana pagi di Desa Mola-Mola terasa tenang, namun ada ketegangan yang menggantung tipis di udara. Para warga mulai berdatangan ke rumah Pak Kades sejak matahari baru saja menyembul di balik bukit. Beberapa di antara mereka sibuk merawat keluarga Nava yang tampak lemah dan pucat setelah peristiwa mencekam malam tadi. Di halaman rumah Pak Kades, warga lainnya bergotong-royong menata buah-buahan segar dan hasil bumi dalam anyaman-anyaman bambu.
Warga desa telah sepakat bahwa semua persembahan itu akan dibawa bersama-sama menuju rumah Petua Adat. Sebuah harapan agar permohonan maaf mereka dapat diterima baik oleh keluarga petua adat.
Namun, di antara kerumunan itu, tak terlihat satu pun pemuda. Ekot, Balewa, dan yang lainnya masih terlelap setelah berjaga semalam suntuk, melindungi setiap sudut desa dari kemungkinan serangan lain. Begitu juga dengan Satrio. Di rumah kecilnya yang terletak di depan desa, ia masih terbaring, tubuhnya kelelahan setelah perjuangan panjang mengejar bayangan misterius di ladang jagung.
Para warga bekerja dalam keheningan yang penuh harap, seakan tak ingin membangunkan mereka yang semalam telah mempertaruhkan nyawa demi keselamatan desa.
Satrio akhirnya tersadar. Meski tubuhnya masih terasa berat, ia tahu dirinya tak bisa berlama-lama terbaring. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, tentang rencana yang akan ia siapkan untuk malam ini.
Setelah beberapa saat mempersiapkan diri, Satrio pun melangkah keluar, menuju kediaman Pak Kades. Di tengah perjalanan, sosok Balewa muncul dari kejauhan, tampak berjalan menuju arah yang sama. Begitu mereka berpapasan, Balewa tersenyum kecil, menyambut kehadirannya.
"Ageo, rupanya kau sudah bangun," sapa Balewa dengan nada setengah bercanda.
"Tentu saja Balewa. Lagi pula ini sudah siang bolong," balas Satrio, menahan senyum. "Apa kita menuju ke tempat yang sama?"
Balewa mengangguk pelan. "Ke rumah Pak Kades?" sahut Balewa. "Seperti biasa, kita berkumpul di sana bukan?"
Perjalanan mereka berlanjut dalam keheningan yang sesekali diiringi suara langkah kaki di atas tanah berpasir. Jalan-jalan sempit desa mengantarkan mereka berdua menuju rumah Pak Kades, tempat yang biasanya menjadi pusat keramaian, tempat warga berkumpul dan bertukar kabar. Namun, begitu mereka tiba di sana, keheningan justru menyambut. Tak ada suara, tak ada satu pun orang yang terlihat di halaman.
Satrio menghentikan langkahnya, menatap rumah di hadapannya dengan dahi berkerut. "Mengapa sepi sekali di sini?" tanyanya perlahan, setengah kepada dirinya sendiri.
"Mungkin mereka di dalam," jawab Balewa sambil melirik Satrio, seolah berusaha menenangkan perasaan gelisah yang mulai muncul. "Atau… mungkin sedang melakukan sesuatu di luar. Tapi, tenang saja, Ekot pasti ada di dalam. Biar aku yang mengetuk pintu."
Balewa melangkah mendekati pintu kayu tua itu, lalu mengetuknya beberapa kali. "Ekot! Pak Kades! Ini aku, Balewa!" serunya, mencoba memecah keheningan.
Namun, hanya kesunyian yang menjawab. Tak ada suara langkah, tak ada tanda-tanda kehadiran dari dalam. Balewa mengetuk pintu sedikit lebih keras. Di sampingnya, Satrio berdiri, matanya menyapu setiap sudut halaman, dengan sikap tenang.
Tak lama mereka berdiri di depan pintu rumah Pak Kades, seorang pria paruh baya yang melintas menyapa mereka dengan ramah.
"Mungkin sebentar lagi Pak Kades tiba," katanya dengan suara yang tenang. "Kami baru saja dari rumah Petua Adat."
"Ah, terima kasih, Pak Tata. Aku bahkan tidak tahu kalau ada pertemuan di sana," sahut Balewa, mengangkat alisnya sejenak, tampak sedikit terkejut.
Pak Tata tersenyum tipis. "Begitulah Pak Kades kita. Selalu penuh kejutan," balasnya, menepuk pundak Balewa dengan santai. "Apa kalian ingin mampir ke rumahku? Lumayan untuk sekadar menunggu."
"Terima kasih, Pak. Tapi biarlah kami menunggu di sini saja," Balewa menolak halus, tersenyum sopan.
Pak Tata mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya pamit," ujarnya, sebelum melanjutkan langkahnya menyusuri jalan desa, menyisakan jejak kehangatan khas penduduk yang akrab satu sama lain.
Setelah Pak Tata menjauh, Satrio menghela napas pelan, pandangannya tertuju pada jalan yang sepi. "Ekot mungkin ikut bersama mereka," ujarnya, seakan merenung.
Balewa mengangguk ringan, tampak sedikit memikirkan kemungkinan itu. "Bisa jadi. Sepertinya kita yang terlalu lama di alam mimpi."
Mereka kembali terdiam, membiarkan angin desa yang tenang berbisik di antara mereka, sambil menunggu kehadiran Pak Kades dan rombongan dari rumah Petua Adat.
Beberapa menit kemudian, hingga akhirnya terdengar suara tawa dan percakapan dari arah kejauhan. Balewa dan Satrio berdiri ketika menyadari rombongan Pak Kades telah kembali.
Ekot, yang melihat mereka menunggu di depan pintu, segera menghampiri dengan senyum riang di wajahnya.
"Ageo, Balewa," sapa Ekot hangat. "Maaf tidak memberitahu kalian tentang pertemuan ini. Aku tak ingin mengganggu waktu istirahat kalian."
"Tak masalah, Ekot," jawab Satrio dengan nada tenang.
Pak Kades ikut mendekat, mengangguk kecil kepada mereka. "Ageo, Balewa. Sudah lama kalian menunggu di sini?"
"Tidak begitu lama, Pak," sahut Balewa sopan.
"Kalau begitu, ayo, kita masuk," ajak Pak Kades sambil membuka pintu, memberi isyarat kepada mereka untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Balewa dan Satrio saling bertukar pandang, kemudian melangkah masuk mengikuti Pak Kades dan Ekot, bersiap mendengar kabar penting yang mungkin baru saja mereka dapatkan dari rumah Petua Adat.
"Sepertinya rencana itu berjalan lancar, Ekot?" tanya Satrio, matanya menyiratkan ketenangan yang baru saja diraih.
"Tentu saja, Ageo," jawab Ekot, sedikit tersenyum. "Bagaimana Djaya bisa menolak, sedangkan di depan rumahnya dipenuhi warga desa yang berharap? Dia tak punya pilihan selain setuju."
Pak Kades mengangguk, menghembuskan napas panjang. "Setidaknya untuk saat ini, saya merasa lebih lega. Begitu pula dengan warga lainnya."
"Ikatan yang seharusnya memang sudah terjalin sejak lama," tambah Pak Janjan, menatap Pak Kades sejenak. "Bukankah begitu, Pak Kades?"
Pak Purrok, yang sejak tadi diam, mendengus kecil. "Kalau saja kutukan itu ikut luluh, seperti hati Djaya… pastilah malam ini kita bisa tidur dengan tenang."
Sejenak ruangan itu hening. Masing-masing tenggelam dalam harapan dan kekhawatiran.
Ekot menatap Satrio dalam-dalam, mencari keyakinan di balik tatapan tenang itu. "Ageo?" panggilnya pelan. "Tentang rencana itu…?"
Semua mata tertuju pada Satrio, menunggu penjelasan yang mungkin menjadi titik terang bagi mereka.
Satrio menghela napas dan menyusun kata-katanya. "Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi setelah ini, bisakah aku bertemu dengan Petua Adat?"
"Sangat bisa, Ageo," jawab Pak Kades, menganggukkan kepala. "Sekarang katakanlah. Apa rencanamu?"
Setelah beberapa menit penjelasan panjang lebar, percakapan pun mencapai titik akhirnya. Satrio dan Ekot saling menatap sebelum bangkit berdiri, meminta izin untuk berangkat menemui Petua Adat.
"Semoga rencana ini akan berjalan dengan baik," ucap Pak Kades dengan nada penuh harapan, matanya menyiratkan kepercayaan.
Pak Purrok, yang sejak tadi duduk memperhatikan, mengangguk pelan. "Dan semoga kita semua dalam lindungan-Nya," tuturnya lirih, hampir seperti doa.
Balewa, dengan keyakinan yang tergambar jelas, tersenyum tipis. "Demi tombak runcing yang kumiliki, aku bersumpah, tugas ini akan berjalan tanpa cela," katanya, menyuarakan tekadnya.
Satrio menyahut sambil menepuk pundak Balewa. "Semoga perhitungan kita tepat," balasnya sambil menatap satu per satu wajah yang mengelilinginya, menyadari betapa besar harapan yang mereka gantungkan pada dirinya.
Dengan langkah mantap, Satrio dan Ekot pun beranjak dari rumah Pak Kades. Suasana desa di luar begitu hening, seolah turut menjaga kerahasiaan misi mereka. Di antara derap langkah yang menggema di jalan setapak, Satrio menoleh ke arah Ekot, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu.
"Kau yakin Djaya tak akan menahan kita lagi?" tanyanya pelan, memastikan.
Ekot mengangguk mantap. "Ayah berhasil membuatnya tersentuh. Kurasa kali ini, Djaya tak punya alasan lagi untuk menolak."
Satrio menyerap kata-kata itu, membawa serta kegelisahan atas apa yang akan ia dengar dari Petua Adat nanti. Dalam hatinya dipenuhi harapan, jika akan ada jawaban yang bisa memperkuat kerangka teorinya.
Suasana malam yang semula diharapkan tenang justru kembali terasa mencekam, ketika kutukan itu menyerang secara membabi buta. Di depan rumah, Ekot dan beberapa warga terlihat berusaha memapah seorang gadis menjauh, langkah mereka tergesa, penuh kecemasan yang terpendam.
"Bagaimana kondisinya, Ekot?" tanya Satrio, napasnya masih terengah setelah pengejarannya yang terputus.
Ekot menoleh, wajahnya tampak lega meski peluh membasahi keningnya. "Mereka baik-baik saja. Kita sampai tepat waktu, Ageo."
Satrio mengangguk, namun tatapannya kembali menerawang, menyisir bentangan ladang jagung yang menghilang di kegelapan, menuju arah hutan. Rasa penasaran dan waspada berkecamuk di dalam dirinya.
“Mahluk sialan itu... ia punya rencana. Bahkan mencoba mengalihkan perhatian dengan menyerangku,” gumam Satrio, hampir bicara pada dirinya sendiri.
Balewa, yang berdiri tak jauh, tampak berpikir sejenak sebelum menyahut, "Apa kau ingin mengatakan... kutukan ini dilakukan oleh sesuatu yang memiliki rupa?"
Satrio menatapnya, mengangguk perlahan. "Andai ini dilakukan oleh makhluk tak kasat mata, tentulah ia tak akan lari terbirit-birit saat aku mengejarnya."
Ekot segera memberi perintah pada yang lain. "Balewa, bawa keluarga Nava ke rumahku. Kutukan ini terlalu berbahaya jika mereka tetap tinggal di sini."
Tanpa membuang waktu, Balewa, dibantu beberapa warga lainnya, memapah keluarga Nava yang tampak ketakutan. Keluarga itu telah menjadi sasaran kutukan untuk kedua kalinya, seolah makhluk itu tak terima aksinya berhasil digagalkan oleh kehadiran Satrio.
Satrio mengamati mereka pergi, hatinya dipenuhi perasaan tak tenang. Ia tahu bahwa malam ini bukanlah serangan terakhir dari mahluk itu.
"Ekot, mintalah beberapa pemuda untuk tetap berjaga malam ini. Mulailah berfokus pada tiap sisi desa, karena makhluk bejat itu selalu muncul dari arah hutan," ujar Satrio tegas, matanya menatap tajam ke arah temannya.
Ekot mengangguk, segera memahami maksud Satrio.
Sementara itu, Satrio terus memperhatikan asap yang mulai menipis di dalam rumah. Pikirannya berputar-putar, mencoba merangkai petunjuk yang berceceran di antara kepulan kabut tersebut.
"Bagaimana cara makhluk itu membuat asap-asap ini?" pikir Satrio, langkahnya hati-hati, dan lengannya terus menutup hidung untuk menghindari bau menyengat yang masih tersisa. Dengan waspada, ia mulai menyisir rumah Nava, berharap menemukan sesuatu yang akan membawanya pada sebuah kesimpulan.
"Ekot, siapa yang bertugas menjaga rumah ini? Dan ke mana mereka?" tanyanya sambil tetap mengamati setiap sudut.
"Ada tiga orang. Nanjan, Mamut, dan Hanjak. Aku sendiri kebetulan lewat di sekitar sini saat melihat asap mencurigakan di ujung sana. Kami semua langsung berlarian mendekat, dan akhirnya aku menemukanmu di ladang jagung," jawab Ekot, mengingat kembali peristiwa yang baru saja terjadi.
Satrio mengangguk kecil, menyerap informasi itu. "Jelaslah sudah, Ekot. Jika makhluk itu mulai merasa terdesak. Sampai ia repot-repot membuat strategi untuk mengalihkan perhatian kita."
Ekot menatap Satrio dengan tatapan penuh tanya. "Maksudmu? makhluk itu sudah mulai menyusun rencana?"
"Benar," gumam Satrio pelan, tatapannya tajam penuh keyakinan. "Mahluk terkutuk ini mungkin bisa lebih berbahaya lagi Ekot. Ada pola disetiap serangannya, itu berarti ia memiliki pemikiran. Dan cobalah terka, Mahluk seperti apa yang bisa berpikir?"
"Apa kau ingin bilang ini perbuatan manusia?" jawab Ekot.
Satrio menjentikan jarinya. "Binggo, tepat sekali."
Ekot terus mengikuti setiap gerakan Satrio yang tampak teliti menelusuri setiap inci tanah di sekitar rumah. Sesekali Satrio berjongkok, memeriksa sesuatu dengan seksama, lalu menggeleng tipis sebelum akhirnya melanjutkan pencariannya. Hingga langkahnya terhenti di sisi belakang rumah.
Alis Satrio berkerut tajam, hampir bertemu di tengah, ketika pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang mencurigakan di tanah.
"Apa ini?" gumamnya pelan, sambil membungkuk untuk mengamati lebih dekat. Dengan hati-hati, ia mengambil segumpal benda hitam dari tanah, lalu mendekatkannya ke hidung. "Tak salah lagi, bau ini sama persis dengan aroma asap tadi."
Ekot yang sejak tadi mengamati dengan bingung, akhirnya angkat suara. "Apa yang kau temukan, Ageo?" tanyanya penuh rasa ingin tahu, memperhatikan ekspresi penuh kepuasan di wajah Satrio.
Satrio tersenyum tipis, mengangguk penuh arti. "Ekot, waktu itu aku belum bisa berjanji pada kalian. Tapi setelah malam ini, barulah aku yakin kita bisa menghentikan kutukan ini."
Ekot menatapnya dengan mata yang menyiratkan harapan bercampur rasa penasaran. "Aku percaya padamu Ageo. Lalu apakah yang bisa aku bantu untukmu?"
Satrio menggenggam gumpalan hitam itu erat, seakan memantapkan tekadnya. "Kita harus menyusun rencana. Aku butuh bantuan seluruh warga desa."
Ekot mengangguk, matanya menyala penuh semangat. "Katakan, Ageo. Apa langkah pertama?"
Satrio menatap ladang jagung yang terbentang gelap di depannya. "Aku akan menjelaskan rencana itu nanti. Saat ini, sebaiknya kita kembali berjaga seperti biasa."
Mengerti akan hal itu, Ekot pun mengerahkan semua pemuda untuk tetap berjaga. Malam semakin larut, mengiringi wajah-wajah penuh kewaspadaan yang berjaga ditiap jengkal desa. Tak ada satu suara pun yang luput dari pengawasan mereka. Hingga fajar pun tiba, melukiskan senyum menandakan tugas telah usai.
Suasana pagi di Desa Mola-Mola terasa tenang, namun ada ketegangan yang menggantung tipis di udara. Para warga mulai berdatangan ke rumah Pak Kades sejak matahari baru saja menyembul di balik bukit. Beberapa di antara mereka sibuk merawat keluarga Nava yang tampak lemah dan pucat setelah peristiwa mencekam malam tadi. Di halaman rumah Pak Kades, warga lainnya bergotong-royong menata buah-buahan segar dan hasil bumi dalam anyaman-anyaman bambu.
Warga desa telah sepakat bahwa semua persembahan itu akan dibawa bersama-sama menuju rumah Petua Adat. Sebuah harapan agar permohonan maaf mereka dapat diterima baik oleh keluarga petua adat.
Namun, di antara kerumunan itu, tak terlihat satu pun pemuda. Ekot, Balewa, dan yang lainnya masih terlelap setelah berjaga semalam suntuk, melindungi setiap sudut desa dari kemungkinan serangan lain. Begitu juga dengan Satrio. Di rumah kecilnya yang terletak di depan desa, ia masih terbaring, tubuhnya kelelahan setelah perjuangan panjang mengejar bayangan misterius di ladang jagung.
Para warga bekerja dalam keheningan yang penuh harap, seakan tak ingin membangunkan mereka yang semalam telah mempertaruhkan nyawa demi keselamatan desa.
Satrio akhirnya tersadar. Meski tubuhnya masih terasa berat, ia tahu dirinya tak bisa berlama-lama terbaring. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, tentang rencana yang akan ia siapkan untuk malam ini.
Setelah beberapa saat mempersiapkan diri, Satrio pun melangkah keluar, menuju kediaman Pak Kades. Di tengah perjalanan, sosok Balewa muncul dari kejauhan, tampak berjalan menuju arah yang sama. Begitu mereka berpapasan, Balewa tersenyum kecil, menyambut kehadirannya.
"Ageo, rupanya kau sudah bangun," sapa Balewa dengan nada setengah bercanda.
"Tentu saja Balewa. Lagi pula ini sudah siang bolong," balas Satrio, menahan senyum. "Apa kita menuju ke tempat yang sama?"
Balewa mengangguk pelan. "Ke rumah Pak Kades?" sahut Balewa. "Seperti biasa, kita berkumpul di sana bukan?"
Perjalanan mereka berlanjut dalam keheningan yang sesekali diiringi suara langkah kaki di atas tanah berpasir. Jalan-jalan sempit desa mengantarkan mereka berdua menuju rumah Pak Kades, tempat yang biasanya menjadi pusat keramaian, tempat warga berkumpul dan bertukar kabar. Namun, begitu mereka tiba di sana, keheningan justru menyambut. Tak ada suara, tak ada satu pun orang yang terlihat di halaman.
Satrio menghentikan langkahnya, menatap rumah di hadapannya dengan dahi berkerut. "Mengapa sepi sekali di sini?" tanyanya perlahan, setengah kepada dirinya sendiri.
"Mungkin mereka di dalam," jawab Balewa sambil melirik Satrio, seolah berusaha menenangkan perasaan gelisah yang mulai muncul. "Atau… mungkin sedang melakukan sesuatu di luar. Tapi, tenang saja, Ekot pasti ada di dalam. Biar aku yang mengetuk pintu."
Balewa melangkah mendekati pintu kayu tua itu, lalu mengetuknya beberapa kali. "Ekot! Pak Kades! Ini aku, Balewa!" serunya, mencoba memecah keheningan.
Namun, hanya kesunyian yang menjawab. Tak ada suara langkah, tak ada tanda-tanda kehadiran dari dalam. Balewa mengetuk pintu sedikit lebih keras. Di sampingnya, Satrio berdiri, matanya menyapu setiap sudut halaman, dengan sikap tenang.
Tak lama mereka berdiri di depan pintu rumah Pak Kades, seorang pria paruh baya yang melintas menyapa mereka dengan ramah.
"Mungkin sebentar lagi Pak Kades tiba," katanya dengan suara yang tenang. "Kami baru saja dari rumah Petua Adat."
"Ah, terima kasih, Pak Tata. Aku bahkan tidak tahu kalau ada pertemuan di sana," sahut Balewa, mengangkat alisnya sejenak, tampak sedikit terkejut.
Pak Tata tersenyum tipis. "Begitulah Pak Kades kita. Selalu penuh kejutan," balasnya, menepuk pundak Balewa dengan santai. "Apa kalian ingin mampir ke rumahku? Lumayan untuk sekadar menunggu."
"Terima kasih, Pak. Tapi biarlah kami menunggu di sini saja," Balewa menolak halus, tersenyum sopan.
Pak Tata mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya pamit," ujarnya, sebelum melanjutkan langkahnya menyusuri jalan desa, menyisakan jejak kehangatan khas penduduk yang akrab satu sama lain.
Setelah Pak Tata menjauh, Satrio menghela napas pelan, pandangannya tertuju pada jalan yang sepi. "Ekot mungkin ikut bersama mereka," ujarnya, seakan merenung.
Balewa mengangguk ringan, tampak sedikit memikirkan kemungkinan itu. "Bisa jadi. Sepertinya kita yang terlalu lama di alam mimpi."
Mereka kembali terdiam, membiarkan angin desa yang tenang berbisik di antara mereka, sambil menunggu kehadiran Pak Kades dan rombongan dari rumah Petua Adat.
Beberapa menit kemudian, hingga akhirnya terdengar suara tawa dan percakapan dari arah kejauhan. Balewa dan Satrio berdiri ketika menyadari rombongan Pak Kades telah kembali.
Ekot, yang melihat mereka menunggu di depan pintu, segera menghampiri dengan senyum riang di wajahnya.
"Ageo, Balewa," sapa Ekot hangat. "Maaf tidak memberitahu kalian tentang pertemuan ini. Aku tak ingin mengganggu waktu istirahat kalian."
"Tak masalah, Ekot," jawab Satrio dengan nada tenang.
Pak Kades ikut mendekat, mengangguk kecil kepada mereka. "Ageo, Balewa. Sudah lama kalian menunggu di sini?"
"Tidak begitu lama, Pak," sahut Balewa sopan.
"Kalau begitu, ayo, kita masuk," ajak Pak Kades sambil membuka pintu, memberi isyarat kepada mereka untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Balewa dan Satrio saling bertukar pandang, kemudian melangkah masuk mengikuti Pak Kades dan Ekot, bersiap mendengar kabar penting yang mungkin baru saja mereka dapatkan dari rumah Petua Adat.
"Sepertinya rencana itu berjalan lancar, Ekot?" tanya Satrio, matanya menyiratkan ketenangan yang baru saja diraih.
"Tentu saja, Ageo," jawab Ekot, sedikit tersenyum. "Bagaimana Djaya bisa menolak, sedangkan di depan rumahnya dipenuhi warga desa yang berharap? Dia tak punya pilihan selain setuju."
Pak Kades mengangguk, menghembuskan napas panjang. "Setidaknya untuk saat ini, saya merasa lebih lega. Begitu pula dengan warga lainnya."
"Ikatan yang seharusnya memang sudah terjalin sejak lama," tambah Pak Janjan, menatap Pak Kades sejenak. "Bukankah begitu, Pak Kades?"
Pak Purrok, yang sejak tadi diam, mendengus kecil. "Kalau saja kutukan itu ikut luluh, seperti hati Djaya… pastilah malam ini kita bisa tidur dengan tenang."
Sejenak ruangan itu hening. Masing-masing tenggelam dalam harapan dan kekhawatiran.
Ekot menatap Satrio dalam-dalam, mencari keyakinan di balik tatapan tenang itu. "Ageo?" panggilnya pelan. "Tentang rencana itu…?"
Semua mata tertuju pada Satrio, menunggu penjelasan yang mungkin menjadi titik terang bagi mereka.
Satrio menghela napas dan menyusun kata-katanya. "Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi setelah ini, bisakah aku bertemu dengan Petua Adat?"
"Sangat bisa, Ageo," jawab Pak Kades, menganggukkan kepala. "Sekarang katakanlah. Apa rencanamu?"
Setelah beberapa menit penjelasan panjang lebar, percakapan pun mencapai titik akhirnya. Satrio dan Ekot saling menatap sebelum bangkit berdiri, meminta izin untuk berangkat menemui Petua Adat.
"Semoga rencana ini akan berjalan dengan baik," ucap Pak Kades dengan nada penuh harapan, matanya menyiratkan kepercayaan.
Pak Purrok, yang sejak tadi duduk memperhatikan, mengangguk pelan. "Dan semoga kita semua dalam lindungan-Nya," tuturnya lirih, hampir seperti doa.
Balewa, dengan keyakinan yang tergambar jelas, tersenyum tipis. "Demi tombak runcing yang kumiliki, aku bersumpah, tugas ini akan berjalan tanpa cela," katanya, menyuarakan tekadnya.
Satrio menyahut sambil menepuk pundak Balewa. "Semoga perhitungan kita tepat," balasnya sambil menatap satu per satu wajah yang mengelilinginya, menyadari betapa besar harapan yang mereka gantungkan pada dirinya.
Dengan langkah mantap, Satrio dan Ekot pun beranjak dari rumah Pak Kades. Suasana desa di luar begitu hening, seolah turut menjaga kerahasiaan misi mereka. Di antara derap langkah yang menggema di jalan setapak, Satrio menoleh ke arah Ekot, suaranya rendah namun penuh rasa ingin tahu.
"Kau yakin Djaya tak akan menahan kita lagi?" tanyanya pelan, memastikan.
Ekot mengangguk mantap. "Ayah berhasil membuatnya tersentuh. Kurasa kali ini, Djaya tak punya alasan lagi untuk menolak."
Satrio menyerap kata-kata itu, membawa serta kegelisahan atas apa yang akan ia dengar dari Petua Adat nanti. Dalam hatinya dipenuhi harapan, jika akan ada jawaban yang bisa memperkuat kerangka teorinya.
Diubah oleh wedi 17-11-2024 14:23
sampeuk dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup