- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Memilih Bahagia
...
TS
sofanzani
Aku Memilih Bahagia

Quote:

Quote:
Dulu aku berpikir kalau one of the biggest bullshit on earthadalah ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Mendengar kata itu, yang terlintas dalam benakku adalah orang-orang lemah yang harus menyerah kalah karena tak berhasil memperjuangkan cinta. “Cinta tak harus memiliki” juga seperti sebuah penobatan diri jika pelakunya adalah orang-orang berhati tulus yang dengan perkasa memberikan segenap rasa tanpa perlu balas asa.
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Quote:
Quote:
Quote:

Terlambat itu tidak pernah menyenangkan. Sebuah situasi dimana kita harus berpacu dengan waktu sambil terus berkonsentrasi dengan keadaan sekitar. Ketidakseimbangan fungsi otak kadang menyebabkan kita uring-uringan karena nyawa kita sudah sampai di tempat tujuan tapi badan masih bergumul dengan persiapan-persiapan. Seperti aku pagi ini, aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada audisi untuk menjadi pianis di grup choir kampusku. Hari yang sudah kunanti sejak sebulan lalu, ketika pengumumannya ku dapatkan dari poster-poster yang dipajang di berbagai sudut kampus.
Kulewatkan mandi. Menyikat gigi ditambah dua-tiga basuhan di muka rasanya sudah cukup. Tak sempat membongkar lemari untuk memilih baju, aku lebih memilih menggaet apa saja yang masih tergantung di hanger di kamarku. Asal tak bau saat kuendus, maka kuanggap masih layak pakai.
Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju ke luar rumah.
“Bundaaa, Aksa pergiiiiii....” Setengah teriak, aku pamit pada ibuku. Rumah kami tidak terlalu besar, ibuku pasti mendengar teriakanku.
“Sarapan dulu, naak..., kamu itu kebiasaan pamit teriak-teriak, gak mau cium bunda dulu, apa?”
Hihi, mendengar ibuku mendumel, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, setengah berlari, hanya untuk mencium pipi malaikatku itu. “Nggak keburu, Bun. Aksa terlambat, sampai ketemu siang yaa, Doain aksa, hari ini ada audisi... mmuaach”, akupun berlari keluar lagi.
Ibuku Cuma menggeleng.
Aku langsung masuk ke dalam mobilku. Mencoba menstarternya dengan penuh harap cemas, karena kadang butuh hingga sepuluh kali putar kunci hingga ia mau menyala. Sebuah mobil hatchback hitam produksi Jepang tahun 1987. Mobil yang AC-nya tidak mampu mencegah keringat keluar saat hari panas. Mobil dengan power steering dan power windows (buka jendela sama putar stirnya harus pake power, hehe), mobil yang kadang suka ngadat di tengah jalan dan ogah buru-buru sampai ke tempat tujuan.
Tapi biarpun begitu, aku sayang sama si hitam ini, karena dia punya sentimental value buat aku. Peninggalan almarhum ayahku.
Berangkaaaat....
Quote:
Well, kamu harus tahu kalau si Hitam tidak mengantarku sampai ke parkiran kampus. Bukan karena ngadat lagi, tapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan untukku tiba on time jika memaksa menyetirnya. Macet dimana-mana. Akhirnya terpaksa aku pinggirkan dia di tengah perjalanan, dan memilih memesan ojek online saja.
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Next: 2. Audition (Lanjutan)
Polling
0 suara
Aksa lebih baik memilih siapa?
Diubah oleh sofanzani 08-11-2024 15:24
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
161.9K
Kutip
667
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sofanzani
#636
24. Ketegangan yang Tercipta
Quote:
Setelah malam yang penuh rasa campur aduk di villa, aku kembali ke kampus dengan pikiran yang tak menentu. Saat melangkah memasuki halaman, aroma segar dari taman dan suara riuh rendah para mahasiswa lainnya membangunkanku dari lamunan. Aku teringat pertemuan terakhirku dengan Fika sebelum pergi ke villa, dan perasaanku semakin berat.
Di dalam kelas, aku duduk di bangku dengan tatapan kosong. Teman-teman sekelasku yang antusias berdiskusi mengenai proyek kelompok tampak ceria, tetapi semua itu hanya terdengar samar di telingaku. Pikiranku melayang pada senyuman Fika dan kenangan indah kami bersama. Namun, bayangan momen di villa dengan Angel membuatku merasa bersalah.
Satu per satu, teman-teman sekelasku mulai memperhatikan aku yang tampak jauh dari biasanya. Salah satu dari mereka, Fira, menyentuh lenganku. "Eh, kamu kenapa? Kelihatan kayak orang bingung."
Aku tersentak dari lamunan dan mencoba tersenyum. "Eh.., Enggak apa-apa, cuma sedikit capek aja," jawabku, berusaha mengalihkan perhatian.
Setelah jam kuliah berakhir, aku melangkah menuju kantin untuk mengisi perut. Saat itu, aku mendengar suara yang sangat kukenal. "Aksa!" teriak Angel dari jauh, melambaikan tangan.
Aku pura-pura tidak mendengarnya, berusaha menghindar. Namun, Angel sudah lebih dekat, berjalan menghampiriku. "Kamu sehat?"
Aku merasa tidak nyaman, seakan semua orang di kantin menatap kami. "Ya," jawabku singkat. "Tapi... aku ada hal lain yang harus dikerjakan."
Angel tersenyum lebar. "Ayo, kita cari tempat duduk. Aku mau cerita tentang rencana kegiatan choir kita selanjutnya."
Aku terpaksa mengikuti langkah Angel, merasa terjebak dalam situasi yang tidak kuinginkan. Di sudut kantin, kami duduk berhadapan. Angel mulai bercerita dengan penuh semangat, menguraikan ide-ide baru untuk acara choir.
Meskipun mendengarkan, pikiranku tetap melayang. Di dalam hati, aku tahu bahwa aku masih merindukan Fika dan merasa terjebak di antara dua dunia yang berbeda.
Setelah perbincangan yang cukup panjang, aku pamit dan melangkah keluar dari kantin. Aku merasa lelah dengan semua pikiran yang mengganggu. Mungkin, saatnya aku memberikan waktu bagi diriku sendiri untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya aku inginkan.
Di dalam kelas, aku duduk di bangku dengan tatapan kosong. Teman-teman sekelasku yang antusias berdiskusi mengenai proyek kelompok tampak ceria, tetapi semua itu hanya terdengar samar di telingaku. Pikiranku melayang pada senyuman Fika dan kenangan indah kami bersama. Namun, bayangan momen di villa dengan Angel membuatku merasa bersalah.
Satu per satu, teman-teman sekelasku mulai memperhatikan aku yang tampak jauh dari biasanya. Salah satu dari mereka, Fira, menyentuh lenganku. "Eh, kamu kenapa? Kelihatan kayak orang bingung."
Aku tersentak dari lamunan dan mencoba tersenyum. "Eh.., Enggak apa-apa, cuma sedikit capek aja," jawabku, berusaha mengalihkan perhatian.
Setelah jam kuliah berakhir, aku melangkah menuju kantin untuk mengisi perut. Saat itu, aku mendengar suara yang sangat kukenal. "Aksa!" teriak Angel dari jauh, melambaikan tangan.
Aku pura-pura tidak mendengarnya, berusaha menghindar. Namun, Angel sudah lebih dekat, berjalan menghampiriku. "Kamu sehat?"
Aku merasa tidak nyaman, seakan semua orang di kantin menatap kami. "Ya," jawabku singkat. "Tapi... aku ada hal lain yang harus dikerjakan."
Angel tersenyum lebar. "Ayo, kita cari tempat duduk. Aku mau cerita tentang rencana kegiatan choir kita selanjutnya."
Aku terpaksa mengikuti langkah Angel, merasa terjebak dalam situasi yang tidak kuinginkan. Di sudut kantin, kami duduk berhadapan. Angel mulai bercerita dengan penuh semangat, menguraikan ide-ide baru untuk acara choir.
Meskipun mendengarkan, pikiranku tetap melayang. Di dalam hati, aku tahu bahwa aku masih merindukan Fika dan merasa terjebak di antara dua dunia yang berbeda.
Setelah perbincangan yang cukup panjang, aku pamit dan melangkah keluar dari kantin. Aku merasa lelah dengan semua pikiran yang mengganggu. Mungkin, saatnya aku memberikan waktu bagi diriku sendiri untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya aku inginkan.
Quote:
Malam tiba, saat aku sudah sampai di rumah, aku mencoba memusatkan perhatian pada tugas kuliah yang menumpuk. Tapi, pikiranku terus melayang pada momen-momen di villa dan juga Fika. Aku merindukan senyumannya dan kehangatan suaranya, tapi ada rasa ragu yang membuatku menahan diri untuk menghubunginya.
Ponselku tiba-tiba bergetar. Nama Fika muncul di layar, membuat jantungku berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, aku meraih telepon itu. Namun, sebelum aku sempat mengangkat, bayangan tentang pertemuanku dengan Angel dan ketegangan yang muncul kembali menghantui. Aku memilih membiarkannya bergetar.
Fika menelepon dua kali, tapi aku tetap tak mengangkat. Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan kembali fokus pada tugas kuliah, tapi hatiku tetap gelisah. Aku tahu Fika pasti khawatir.
Beberapa menit kemudian, ponselku berbunyi lagi. Kali ini, sebuah pesan muncul di layar:
"Aksa, kamu di mana? Kenapa nggak ngangkat teleponku?"
Aku merasakan panik. Berusaha mengetik balasan, aku menulis, "Maaf, Sayang. Tadi ada banyak yang harus dikerjain." Tapi sebelum pesan itu terkirim, ponselku bergetar lagi. Pesan baru masuk dari Fika: "Kamu nggak ada kabar sama sekali. Aku nggak penting, ya, buat kamu?"
Aku terkejut membaca kalimat itu. Ada rasa bersalah yang menyergap. Aku segera mengetik lagi: "Nggak, Fika. Kamu penting banget buat aku. Aku nggak bermaksud bikin kamu ngerasa kayak gitu."
Tapi, sebelum mengirim pesan itu, aku memilih menutup ponsel dan mencoba menenangkan diriku. Tapi hatiku tetap gelisah. Aku tahu, ini adalah masalah kecil yang bisa berujung besar jika tidak segera diselesaikan.
Di sisi lain, aku tahu Fika pasti merasa cemas. Dia pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak merespons. Aku berjanji dalam hati, malam itu juga aku harus bicara dengannya dan menjelaskan semuanya.
Ponselku tiba-tiba bergetar. Nama Fika muncul di layar, membuat jantungku berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, aku meraih telepon itu. Namun, sebelum aku sempat mengangkat, bayangan tentang pertemuanku dengan Angel dan ketegangan yang muncul kembali menghantui. Aku memilih membiarkannya bergetar.
Fika menelepon dua kali, tapi aku tetap tak mengangkat. Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan kembali fokus pada tugas kuliah, tapi hatiku tetap gelisah. Aku tahu Fika pasti khawatir.
Beberapa menit kemudian, ponselku berbunyi lagi. Kali ini, sebuah pesan muncul di layar:
"Aksa, kamu di mana? Kenapa nggak ngangkat teleponku?"
Aku merasakan panik. Berusaha mengetik balasan, aku menulis, "Maaf, Sayang. Tadi ada banyak yang harus dikerjain." Tapi sebelum pesan itu terkirim, ponselku bergetar lagi. Pesan baru masuk dari Fika: "Kamu nggak ada kabar sama sekali. Aku nggak penting, ya, buat kamu?"
Aku terkejut membaca kalimat itu. Ada rasa bersalah yang menyergap. Aku segera mengetik lagi: "Nggak, Fika. Kamu penting banget buat aku. Aku nggak bermaksud bikin kamu ngerasa kayak gitu."
Tapi, sebelum mengirim pesan itu, aku memilih menutup ponsel dan mencoba menenangkan diriku. Tapi hatiku tetap gelisah. Aku tahu, ini adalah masalah kecil yang bisa berujung besar jika tidak segera diselesaikan.
Di sisi lain, aku tahu Fika pasti merasa cemas. Dia pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak merespons. Aku berjanji dalam hati, malam itu juga aku harus bicara dengannya dan menjelaskan semuanya.
Quote:
Di Edinburgh, Fika duduk di kamarnya sambil memandangi ponselnya. Perasaan kesal dan rindu bercampur dalam pikirannya. "Kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Apa dia terlalu sibuk untukku?" pikirnya, menggigit bibir untuk menahan air mata. Fika merasa diabaikan, meskipun dia yakin itu bukan maksudku. Namun, kecemasan tetap sulit untuk ditepis.
Saat akhirnya aku mengirim pesan:
"Sayang, maaf. Aku nggak ngangkat telepon kamu. Oh iya, ada yang pengen aku ceritain."
Dia membacanya dengan hati-hati. Ada sedikit rasa lega, meskipun kekesalan belum sepenuhnya reda. Dia langsung membalas:
"Cerita apa? Kenapa kamu nggak ngangkat?"
Membaca pesan itu, aku tahu aku harus segera menjelaskan. Aku mengetik dengan hati-hati:
"Bukan hal buruk kok. Aku janji, ini tentang kita. Aku pengen bicara."
Fika terdiam sejenak sebelum membalas:
"Ya udah. Telepon ya."
Aku mengerti ketegangan dan kekesalan dalam nada pesannya.
Setelah panggilan telepon tersambung, aku langsung membuka pembicaraan. "Aku... sebenernya... pergi ke villa dengan teman-teman choir. Aku nggak bilang karena aku enggak mau bikin kamu khawatir."
Fika terdiam sesaat sebelum menjawab. "Kenapa nggak jujur aja, sih? Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?"
Aku menghela napas panjang. "Aku enggak bermaksud kayak gitu, Fika. Aku cuma... nggak mau kamu ngerasa keganggu sama hal yang nggak penting."
"Bukan soal penting atau nggak, Aksa. Ini tentang kepercayaan. Kalau kamu nggak bisa terbuka, gimana aku bisa ngerasa deket sama kamu?" jawabnya.
Aku merasa kata-katanya menusuk tepat di hati. "Maaf, Fika. Aku nggak mau kamu ngerasa kayak gini. Kamu itu penting banget buat aku, dan aku juga akan berusaha menjadi lebih baik."
Fika menghela napas panjang sebelum menjawab, "Aku cuma ingin kita bisa terbuka satu sama lain. Aku kangen kamu, Aksa. Aku pengen ngerasa kalau kita benar-benar selalu ada untuk satu sama lain."
Aku tersenyum kecil meskipun hati terasa berat. "Video call, ya? Nanti malam."
"Malam siapa?" tanya Fika.
"Malamku," jawabku sambil tertawa kecil.
Dia akhirnya mengiyakan, meski aku tahu ada sisa kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang.
Malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih terbuka dengan Fika. Aku tahu, hubungan kami adalah sesuatu yang sangat berharga, dan aku tidak ingin kehilangan itu karena kesalahanku sendiri.
Saat akhirnya aku mengirim pesan:
"Sayang, maaf. Aku nggak ngangkat telepon kamu. Oh iya, ada yang pengen aku ceritain."
Dia membacanya dengan hati-hati. Ada sedikit rasa lega, meskipun kekesalan belum sepenuhnya reda. Dia langsung membalas:
"Cerita apa? Kenapa kamu nggak ngangkat?"
Membaca pesan itu, aku tahu aku harus segera menjelaskan. Aku mengetik dengan hati-hati:
"Bukan hal buruk kok. Aku janji, ini tentang kita. Aku pengen bicara."
Fika terdiam sejenak sebelum membalas:
"Ya udah. Telepon ya."
Aku mengerti ketegangan dan kekesalan dalam nada pesannya.
Setelah panggilan telepon tersambung, aku langsung membuka pembicaraan. "Aku... sebenernya... pergi ke villa dengan teman-teman choir. Aku nggak bilang karena aku enggak mau bikin kamu khawatir."
Fika terdiam sesaat sebelum menjawab. "Kenapa nggak jujur aja, sih? Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?"
Aku menghela napas panjang. "Aku enggak bermaksud kayak gitu, Fika. Aku cuma... nggak mau kamu ngerasa keganggu sama hal yang nggak penting."
"Bukan soal penting atau nggak, Aksa. Ini tentang kepercayaan. Kalau kamu nggak bisa terbuka, gimana aku bisa ngerasa deket sama kamu?" jawabnya.
Aku merasa kata-katanya menusuk tepat di hati. "Maaf, Fika. Aku nggak mau kamu ngerasa kayak gini. Kamu itu penting banget buat aku, dan aku juga akan berusaha menjadi lebih baik."
Fika menghela napas panjang sebelum menjawab, "Aku cuma ingin kita bisa terbuka satu sama lain. Aku kangen kamu, Aksa. Aku pengen ngerasa kalau kita benar-benar selalu ada untuk satu sama lain."
Aku tersenyum kecil meskipun hati terasa berat. "Video call, ya? Nanti malam."
"Malam siapa?" tanya Fika.
"Malamku," jawabku sambil tertawa kecil.
Dia akhirnya mengiyakan, meski aku tahu ada sisa kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang.
Malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih terbuka dengan Fika. Aku tahu, hubungan kami adalah sesuatu yang sangat berharga, dan aku tidak ingin kehilangan itu karena kesalahanku sendiri.
Diubah oleh sofanzani 15-11-2024 14:06
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas