- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Arkeologi - Kutukan Desa Mola-Mola
...
TS
wedi
Ekspedisi Arkeologi - Kutukan Desa Mola-Mola
Quote:

Judul: Ekspedisi Arkeologi.
Genre: Petualangan/Misteri.
Status: TAMAT.
Sinopsis:
Kutukan Desa Mola-Mola adalah sebuah novel misteri yang mengikuti perjalanan seorang arkeolog bernama Satrio dalam mengungkap rahasia kutukan yang menyelimuti desa terpencil bernama Mola-Mola. Desa ini dihantui oleh kejadian-kejadian aneh setelah melupakan tradisi leluhur mereka. Bersama tim penelitinya, Satrio menemukan petunjuk dari prasasti kuno dan artefak tersembunyi yang mengarahkan mereka pada sebauh suku besar yang kini di kenal Mola-Mola.
Di tengah pencarian, Satrio terpisah dari tim dan berjuang bertahan hidup di hutan yang penuh bahaya, sementara tim penelitinya mencoba melacak jejaknya. Makin dalam mereka menelusuri misteri desa, semakin jelas bahwa kutukan itu bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari balas dendam berdarah yang melibatkan masa lalu kelam dua keluarga besar desa. Di puncak ketegangan, mereka harus berpacu dengan waktu untuk menghentikan kutukan sebelum menghancurkan desa dan seluruh penghuninya.
Berikut salah satu karya yang sudah mulai saya kerjakan. Jumlah bab sudah mencapai 42 Bab. Bahkan sudah mendekati Tamat. Dan di sini juga teman-teman tidak perlu membaca, hehe.. Saya sudah merubahnya ke Audio.
Isi Post ini akan terus saya update jika peminatnya bagus, dan saya ada rencana akan merubah semua karya saya menjadi bentuk Audio, dan saya upload di youtube.
Spoiler for Daftar Cerita:
1. Rumah Terbengkalai [TAMAT]
2. Ekspedisi Arkeologi [On Going]
3. Rumah Terbengkalai II - Awal Kebangkitan [Next Projek]
4. Amnesia [Next Projek Revisi]
2. Ekspedisi Arkeologi [On Going]
3. Rumah Terbengkalai II - Awal Kebangkitan [Next Projek]
4. Amnesia [Next Projek Revisi]
Siapa tau rejeki saya bagus di sini. Aminn..
Quote:
Untuk daftar isi sementara saya update di sini lantaran TH belum bisa di edit. Semoga bisa menghibur. Update setiap hari. InsyaAllah, sampai tamat selama masih ada pembacanya.
Daftar Isi:
Bab 1: Desa Mola-Mola
Bab 2: Arkeologi Muda
Bab 3: Kepedihan Lisa dan Desa
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 1
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 2
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 3
Bab 4: Kutukan kembali Vol. 4 End
Bab 5: Tekad Satrio Vol. 1
Bab 5: Awal Petualangan Vol 2 End
Bab 6: Jejak Penjelajah
Bab 7: Ancaman Hutan
Bab 8: Misteri Batu Penjelajah
Bab 9: Prasasti Di Gua Batu
Bab 10: Arah Barat
Bab 11: Aksi Melewati Sungai
Bab 12: Hutan Misterius
Bab 13: Pria Kekar
Bab 14: Pria Desa Mola-Mola
Bab 15: Legenda Batu Kuno
Bab 16: Bab 16
Bab 16: Tim Satrio
Bab 17: Teka-teki Dibalik Kutukan V1
Bab 18: Teka-teki Dibalik Kutukan V2
Bab 19: Teka-teki Dibalik Kutukan V3
Bab 20: Teka-teki Dibalik Kutukan V4
Bab 21: Teka-teki Dibalik Kutukan V5
Bab 22: Teka-teki Dibalik Kutukan V6
Bab 23: Uraian Buku Catatan Satrio.
Bab 24: Babak Akhir V1
Bab 25: Babak Akhir V2
Bab 26: Babak Akhir V3
Bab 27: Babak Akhir V4
Bab 28: Babak Akhir V5
Bab 29: Hari Baru TAMAT
Daftar Isi:
Bab 1: Desa Mola-Mola
Bab 2: Arkeologi Muda
Bab 3: Kepedihan Lisa dan Desa
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 1
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 2
Bab 4: Kutukan Kembali Vol. 3
Bab 4: Kutukan kembali Vol. 4 End
Bab 5: Tekad Satrio Vol. 1
Bab 5: Awal Petualangan Vol 2 End
Bab 6: Jejak Penjelajah
Bab 7: Ancaman Hutan
Bab 8: Misteri Batu Penjelajah
Bab 9: Prasasti Di Gua Batu
Bab 10: Arah Barat
Bab 11: Aksi Melewati Sungai
Bab 12: Hutan Misterius
Bab 13: Pria Kekar
Bab 14: Pria Desa Mola-Mola
Bab 15: Legenda Batu Kuno
Bab 16: Bab 16
Bab 16: Tim Satrio
Bab 17: Teka-teki Dibalik Kutukan V1
Bab 18: Teka-teki Dibalik Kutukan V2
Bab 19: Teka-teki Dibalik Kutukan V3
Bab 20: Teka-teki Dibalik Kutukan V4
Bab 21: Teka-teki Dibalik Kutukan V5
Bab 22: Teka-teki Dibalik Kutukan V6
Bab 23: Uraian Buku Catatan Satrio.
Bab 24: Babak Akhir V1
Bab 25: Babak Akhir V2
Bab 26: Babak Akhir V3
Bab 27: Babak Akhir V4
Bab 28: Babak Akhir V5
Bab 29: Hari Baru TAMAT
Diubah oleh wedi 17-11-2024 14:14
sukhhoi dan 10 lainnya memberi reputasi
11
2.8K
Kutip
125
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wedi
#45
Bab 22: Teka-teki Dibalik Kutukan.
Spoiler for Audio:
Spoiler for Teks:
Quote:
Bab 22: Teka-teki Dibalik Kutukan.
Satrio dan Ekot terus melangkah, menyusuri jalan-jalan kecil yang berliku di tengah desa. Sesekali, mereka disapa oleh pandangan ingin tahu dari para warga yang tengah sibuk dengan berbagai aktivitas. Satrio mengamati dengan seksama, menangkap berbagai fragmen kehidupan desa yang sederhana namun sarat makna. Hingga akhirnya, mereka tiba di rumah Pak Kades, yang kali ini tampak lebih sepi dibandingkan saat ia berangkat ke gua leluhur tadi pagi.
"Kalian sudah kembali rupanya," Pak Kades menyambut mereka dengan nada tenang, meski dari wajahnya tampak ia menyimpan banyak pikiran. "Mpong, tolong buatkan minuman dan beberapa makanan untuk mereka," ujarnya kepada seorang pemuda yang segera berlalu masuk ke dalam rumah.
Pak Kades menoleh pada Satrio dan Ekot, tatapannya penuh selidik. "Apa kalian bertemu dengan leluhur?" tanyanya dengan nada antusias.
Ekot menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ayah, kami sebenarnya baru saja dari rumah Petua Adat. Tapi seperti biasa, Djaya menghadang kami, tak mengizinkan kami bertemu."
Satrio menambahkan, "Masa lalunya seolah menjadi tembok yang menghalangi kami."
Ekot menatap Pak Kades dengan tatapan penuh harap. "Jika ada sesuatu yang bisa diceritakan, Ayah... aku ingin tahu lebih dalam. Mengapa Djaya begitu marah pada warga desa?"
Pak Kades menunduk sejenak, matanya menerawang seolah kembali pada masa lalu yang penuh luka. "Djaya masih menyimpan dendam terhadap warga desa. Kau tak akan mengerti, karena saat kejadian itu usiamu baru lima tahun."
Ekot merapatkan tangannya, suaranya penuh kesungguhan. "Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dan dendam apa itu?"
Pak Kades menghela napas berat, lalu melanjutkan kisahnya dengan suara yang nyaris bergetar. "Hari itu adalah hari yang takkan pernah terlupakan, terutama bagi Petua Adat. Tradisi yang selalu ia junjung tinggi, justru merenggut nyawa dua putri yang ia cintai, Nara dan Sanja."
Ekot tampak terguncang mendengar penuturan itu, namun tatapannya tetap terfokus pada ayahnya, berusaha menyerap setiap kata.
Pak Kades pun melanjutkan. "Di siang itu, kami mendapat kabar jika ada hal penting yang ingin disampaikan Petua adat. Warga pun ramai-ramai mendatangi rumahnya. Tak banyak yang kami ketahui, apa maksud Petua Adat meminta warga berkumpul. Sampai akhirnya, Petua adat menyampaikan jika ada hal penting sekaligus memalukan yang akan di sampaikan oleh kedua putrinya. Di hadapan seluruh desa, mereka mengakui kesalahan yang tak seharusnya terjadi. Bahwa mereka telah gagal mempertahankan kesucian mereka. Suara mereka, penuh penyesalan dan permohonan maaf, berharap warga mau mempertimbangkan kesalahan mereka."
Pak Kades menarik napas panjang, lalu menatap Ekot dengan sorot mata yang dipenuhi perasaan bersalah dan pedih. "Namun, permintaan maaf mereka hanya menuai kemarahan dan kecaman, dari ayahku, kakekmu, Datuk Marubus. Baginya, hukum adat adalah hukum mutlak. Tak peduli siapa yang melanggarnya, bahkan jika itu menimpa keluarga Petua Adat sendiri. Dan akhirnya, Nara dan Sanja pun menjalani hukuman adat, mereka dipersembahkan kepada raja rimba."
Ekot terdiam, tangannya mengepal erat, menyadari betapa pahitnya warisan yang ditinggalkan oleh tradisi tersebut. "Jadi... itulah mengapa Djaya begitu membenci warga desa. Kehilangan saudara yang harusnya mendapat dukungan, malah dipaksa tunduk pada hukum yang begitu kejam."
Pak Kades mengangguk, wajahnya menunduk dalam kesedihan yang mendalam. "Bagi Djaya, seluruh desa adalah penyebab dari penderitaan keluarganya. Bahkan bukan hanya Djaya yang merasa kecewa terhadap warga. Djata, adik Djaya. Justru lebih membenci ayahnya sendiri, dan ia pun memilih pergi dari desa ini. kini, kau mengerti kenapa luka itu masih membara hingga hari ini."
Suasana menjadi sunyi, menyisakan perasaan getir yang membebani ruangan. Mpong datang membawakan minuman, namun tak seorang pun langsung menyentuhnya.
Satrio yang sejak tadi menyimak dengan saksama akhirnya mulai memahami alasan di balik sikap keras Djaya terhadapnya dan Ekot. Ia menghela napas panjang, membiarkan pikirannya tenggelam dalam renungan mendalam.
“Tak terbayangkan betapa kuatnya pendirian Petua Adat dalam menjaga tradisi. Bahkan, dia rela menghukum kedua anak gadisnya demi kehormatan desa, hingga keluarganya sendiri terpecah. Apakah warga desa benar-benar mengerti pengorbanan sebesar itu? Ketika Petua Adat harus memilih antara kasih sayang kepada darah dagingnya atau warisan leluhur, ia memilih tradisi. Jika suatu saat warga desa mengabaikan tradisi itu, wajar jika dia akan sangat kecewa…” pikir Satrio, merasakan getirnya beban yang dipikul oleh Petua Adat.
Ekot menatap ayahnya dengan mata penuh tekad. “Kita harus berusaha untuk menghapus bayangan masa lalu itu, Ayah, kalau kita ingin menyembuhkan luka di hati Djaya.”
Satrio mengangguk setuju. “Aku yakin, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Bukan begitu, Ekot?”
Pak Kades terdiam, wajahnya mencerminkan keraguan yang dalam. “Apakah masih mungkin? Setelah sekian lama, apakah ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya?”
Satrio menatap Pak Kades dengan mantap, matanya menunjukkan keyakinan. “Lebih baik kita mencoba. Setidaknya, kita bisa menunjukkan bahwa kita tak pernah melupakan pengorbanan Petua Adat, dan desa ini masih menghargai tradisi mereka.”
Sejenak Pak Kades tampak merenung, wajahnya dipenuhi penyesalan dan kepedihan. "Aku akan membicarakan ini kepada warga," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
"Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf. Kita harus segera memperbaiki ini semua. Bukankah desa ini memiliki tali persodaraan yang erat." sahut Ekot, memberi dorongan.
"Ayah akan mengajak warga, untuk bersama-sama mendatangi rumah petua adat, menyampaikan jika kami semua masih perpegang pada tradisi adat. Selain itu, kita harus meluruskan suatu hal tentang kepergian Nara dan Sanja. Mungkin Djaya beranggapan, jika seluruh warga menganggap mereka aib bagi desa ini. Tentu saja hal itu tidaklah benar. Kami justru menganggapnya sebagai pahlawan, yang menegaskan betapa berlakunya hukuman adat itu. Tenpa Nara dan Sanja, mungkin desa ini sudah kacau balau, menghadapi perilaku yang bisa saja diluar batas."
Pada akhirnya, keputusan bulat diambil. Mereka bersepakat untuk menghapus tembok yang selama ini memisahkan dua sosok penting di desa itu, sebuah langkah yang mungkin bisa membawa perubahan besar.
Tiba-tiba, Balewa datang dengan wajah puas, seperti pembawa kabar baik yang sudah lama ditunggu.
Pak Kades menoleh. "Bagaimana, Balewa? Dan ke mana warga lainnya?"
"Semua sudah selesai, Pak Kades," jawab Balewa dengan senyum kecil. "Warga lebih memilih pulang setelah tugas selesai."
Pak Kades mengangguk puas, lalu memandang Satrio dengan pandangan penuh makna. "Ageo, saya sudah meminta warga untuk membangunkan rumah kecil untukmu. Memang tak mewah, tapi cukup untuk tempatmu beristirahat. Letaknya juga tak jauh dari gerbang desa. Saya memilih tempat itu, agar memudahkanmu bila ingin bolak-balik ke gua leluhur."
Satrio terdiam sejenak, rasa syukur tampak di matanya. "Terima kasih, Pak Kades. Saya tak pernah membayangkan akan disambut sebaik ini. Terima kasih untuk segalanya."
Balewa menimpali dengan antusias, "Kau tahu? Saat Pak Kades mengusulkan ide itu, warga menyambutnya dengan gembira. Mereka bahkan tak ragu membantu sampai selesai."
Satrio tersenyum, meski ada sedikit keraguan di hatinya. "Apa ini tidak berlebihan untuk orang luar sepertiku?"
Ekot tertawa ringan, lalu menepuk bahu Satrio dengan hangat. "Ageo, kau bukan lagi orang luar bagi kami. Kau sudah seperti keluarga di desa ini."
=======
Mendengar itu, hati Satrio terasa semakin hangat. Semakin jelas baginya bahwa ikatannya dengan desa ini telah tumbuh dalam. Kini, tekadnya semakin kuat untuk membebaskan desa dari kutukan yang mencekik mereka semua.
"Malam ini, biarlah kami yang berjaga, Ageo," ujar Ekot dengan nada mantap.
Pak Kades menambahkan, "Kami tahu kau sudah kelelahan. Biarkan Ekot dan yang lain mengawal malam ini."
Balewa menimpali, menepuk dadanya dengan bangga. "Kau tak perlu khawatir. Kami sudah menyiapkan taktik baru untuk menghadapi serangan itu."
Satrio memandang mereka dengan rasa penasaran. "Seberapa efektif taktik itu?"
Ekot tersenyum, mata penuh keyakinan. "Kau yang merancangnya, Ageo. Dan kali ini, aku berjanji tidak akan ada satu pun gadis desa yang jadi korban."
Pak Kades mengangguk setuju, lalu memberi isyarat pada Balewa. "Balewa, antar Ageo ke rumah barunya. Biarkan dia beristirahat dengan tenang."
Balewa mengangguk, lalu menatap Satrio. "Ayo, Ageo. Istirahatlah. Malam ini, desa ini berada dalam penjagaan kami."
Satrio mengikuti langkah Balewa, merasa sedikit lebih lega. Malam ini mungkin akan jauh lebih aman, mempercayakan desa ditangan yang tepat. Kasatria yang seharusnya menjadi penjaga mutlak, dan pahlawan di desa ini.
“Nah, Ageo. Inilah rumah barumu,” kata Balewa sambil menepuk pundak Satrio dengan senyum puas.
Mulut Satrio sedikit terbuka, kedua alisnya terangkat tinggi. Ia benar-benar tak percaya rumah sederhana di depannya bisa terbangun secepat itu. Rumah kecil itu terbuat dari potongan kayu yang disusun rapi. Meski tidak besar, rumah itu tampak kokoh dan penuh nilai. Di depan, terdapat kursi dan meja kayu, seolah sengaja disiapkan agar ia bisa bersantai di sana.
“Aku benar-benar kagum. Pagi tadi rumah ini belum ada sama sekali. Bagaimana bisa kalian membangunnya secepat ini?” tanya Satrio, takjub.
Balewa tersenyum bangga. “Kami di desa ini punya kebiasaan yang sudah terjaga sejak lama. Setiap kali ada yang butuh tempat tinggal, semua warga akan turun tangan untuk membantu. Itu sudah jadi tradisi kami.”
Satrio mengangguk, lalu matanya menangkap keranjang buah yang diletakkan di teras rumah. “Lalu, untuk buah-buahan itu?”
“Itu juga dari warga desa. Mereka memberikan sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah bersedia membantu desa ini,” ujar Balewa sambil tersenyum.
“Bukankah itu terlalu berlebihan? Bahkan aku merasa belum melakukan apa-apa untuk desa ini,” balas Satrio, merasa sedikit canggung.
Balewa menepuk bahunya lagi. “Sudahlah, terima saja. Kau lebih berarti bagi desa ini dari yang kau kira. Sekarang, lebih baik kau beristirahat. Malam akan segera tiba, dan aku harus kembali ke tempat Pak Kades.”
Satrio mengangguk, matanya menunjukkan rasa syukur. “Baiklah. Aku sangat berterima kasih untuk semua ini. Berhati-hatilah saat berjaga, Balewa.”
Balewa mengangguk, tersenyum hangat sebelum berbalik meninggalkan Satrio.
Matahari tenggelam, malam pun tiba. Di bawah nyala api yang berkelip-kelip, Satrio merasakan semangat yang tak biasa. Seolah setiap sudut desa memberi energi yang menguatkan tekadnya, untuk segera memecahkan misteri. Di hadapannya, buku catatan tebal terbuka. Di halaman yang telah banyak ditandai, penuh dengan catatan, dan sketsa dari penemuannya selama ini. Satrio berharap, ia dapat menyusun kerangka teori yang bisa mengungkap makna, dari teks dan simbol kuno yang terdapat di dinding gua.
Satrio dan Ekot terus melangkah, menyusuri jalan-jalan kecil yang berliku di tengah desa. Sesekali, mereka disapa oleh pandangan ingin tahu dari para warga yang tengah sibuk dengan berbagai aktivitas. Satrio mengamati dengan seksama, menangkap berbagai fragmen kehidupan desa yang sederhana namun sarat makna. Hingga akhirnya, mereka tiba di rumah Pak Kades, yang kali ini tampak lebih sepi dibandingkan saat ia berangkat ke gua leluhur tadi pagi.
"Kalian sudah kembali rupanya," Pak Kades menyambut mereka dengan nada tenang, meski dari wajahnya tampak ia menyimpan banyak pikiran. "Mpong, tolong buatkan minuman dan beberapa makanan untuk mereka," ujarnya kepada seorang pemuda yang segera berlalu masuk ke dalam rumah.
Pak Kades menoleh pada Satrio dan Ekot, tatapannya penuh selidik. "Apa kalian bertemu dengan leluhur?" tanyanya dengan nada antusias.
Ekot menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ayah, kami sebenarnya baru saja dari rumah Petua Adat. Tapi seperti biasa, Djaya menghadang kami, tak mengizinkan kami bertemu."
Satrio menambahkan, "Masa lalunya seolah menjadi tembok yang menghalangi kami."
Ekot menatap Pak Kades dengan tatapan penuh harap. "Jika ada sesuatu yang bisa diceritakan, Ayah... aku ingin tahu lebih dalam. Mengapa Djaya begitu marah pada warga desa?"
Pak Kades menunduk sejenak, matanya menerawang seolah kembali pada masa lalu yang penuh luka. "Djaya masih menyimpan dendam terhadap warga desa. Kau tak akan mengerti, karena saat kejadian itu usiamu baru lima tahun."
Ekot merapatkan tangannya, suaranya penuh kesungguhan. "Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dan dendam apa itu?"
Pak Kades menghela napas berat, lalu melanjutkan kisahnya dengan suara yang nyaris bergetar. "Hari itu adalah hari yang takkan pernah terlupakan, terutama bagi Petua Adat. Tradisi yang selalu ia junjung tinggi, justru merenggut nyawa dua putri yang ia cintai, Nara dan Sanja."
Ekot tampak terguncang mendengar penuturan itu, namun tatapannya tetap terfokus pada ayahnya, berusaha menyerap setiap kata.
Pak Kades pun melanjutkan. "Di siang itu, kami mendapat kabar jika ada hal penting yang ingin disampaikan Petua adat. Warga pun ramai-ramai mendatangi rumahnya. Tak banyak yang kami ketahui, apa maksud Petua Adat meminta warga berkumpul. Sampai akhirnya, Petua adat menyampaikan jika ada hal penting sekaligus memalukan yang akan di sampaikan oleh kedua putrinya. Di hadapan seluruh desa, mereka mengakui kesalahan yang tak seharusnya terjadi. Bahwa mereka telah gagal mempertahankan kesucian mereka. Suara mereka, penuh penyesalan dan permohonan maaf, berharap warga mau mempertimbangkan kesalahan mereka."
Pak Kades menarik napas panjang, lalu menatap Ekot dengan sorot mata yang dipenuhi perasaan bersalah dan pedih. "Namun, permintaan maaf mereka hanya menuai kemarahan dan kecaman, dari ayahku, kakekmu, Datuk Marubus. Baginya, hukum adat adalah hukum mutlak. Tak peduli siapa yang melanggarnya, bahkan jika itu menimpa keluarga Petua Adat sendiri. Dan akhirnya, Nara dan Sanja pun menjalani hukuman adat, mereka dipersembahkan kepada raja rimba."
Ekot terdiam, tangannya mengepal erat, menyadari betapa pahitnya warisan yang ditinggalkan oleh tradisi tersebut. "Jadi... itulah mengapa Djaya begitu membenci warga desa. Kehilangan saudara yang harusnya mendapat dukungan, malah dipaksa tunduk pada hukum yang begitu kejam."
Pak Kades mengangguk, wajahnya menunduk dalam kesedihan yang mendalam. "Bagi Djaya, seluruh desa adalah penyebab dari penderitaan keluarganya. Bahkan bukan hanya Djaya yang merasa kecewa terhadap warga. Djata, adik Djaya. Justru lebih membenci ayahnya sendiri, dan ia pun memilih pergi dari desa ini. kini, kau mengerti kenapa luka itu masih membara hingga hari ini."
Suasana menjadi sunyi, menyisakan perasaan getir yang membebani ruangan. Mpong datang membawakan minuman, namun tak seorang pun langsung menyentuhnya.
Satrio yang sejak tadi menyimak dengan saksama akhirnya mulai memahami alasan di balik sikap keras Djaya terhadapnya dan Ekot. Ia menghela napas panjang, membiarkan pikirannya tenggelam dalam renungan mendalam.
“Tak terbayangkan betapa kuatnya pendirian Petua Adat dalam menjaga tradisi. Bahkan, dia rela menghukum kedua anak gadisnya demi kehormatan desa, hingga keluarganya sendiri terpecah. Apakah warga desa benar-benar mengerti pengorbanan sebesar itu? Ketika Petua Adat harus memilih antara kasih sayang kepada darah dagingnya atau warisan leluhur, ia memilih tradisi. Jika suatu saat warga desa mengabaikan tradisi itu, wajar jika dia akan sangat kecewa…” pikir Satrio, merasakan getirnya beban yang dipikul oleh Petua Adat.
Ekot menatap ayahnya dengan mata penuh tekad. “Kita harus berusaha untuk menghapus bayangan masa lalu itu, Ayah, kalau kita ingin menyembuhkan luka di hati Djaya.”
Satrio mengangguk setuju. “Aku yakin, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Bukan begitu, Ekot?”
Pak Kades terdiam, wajahnya mencerminkan keraguan yang dalam. “Apakah masih mungkin? Setelah sekian lama, apakah ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya?”
Satrio menatap Pak Kades dengan mantap, matanya menunjukkan keyakinan. “Lebih baik kita mencoba. Setidaknya, kita bisa menunjukkan bahwa kita tak pernah melupakan pengorbanan Petua Adat, dan desa ini masih menghargai tradisi mereka.”
Sejenak Pak Kades tampak merenung, wajahnya dipenuhi penyesalan dan kepedihan. "Aku akan membicarakan ini kepada warga," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
"Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf. Kita harus segera memperbaiki ini semua. Bukankah desa ini memiliki tali persodaraan yang erat." sahut Ekot, memberi dorongan.
"Ayah akan mengajak warga, untuk bersama-sama mendatangi rumah petua adat, menyampaikan jika kami semua masih perpegang pada tradisi adat. Selain itu, kita harus meluruskan suatu hal tentang kepergian Nara dan Sanja. Mungkin Djaya beranggapan, jika seluruh warga menganggap mereka aib bagi desa ini. Tentu saja hal itu tidaklah benar. Kami justru menganggapnya sebagai pahlawan, yang menegaskan betapa berlakunya hukuman adat itu. Tenpa Nara dan Sanja, mungkin desa ini sudah kacau balau, menghadapi perilaku yang bisa saja diluar batas."
Pada akhirnya, keputusan bulat diambil. Mereka bersepakat untuk menghapus tembok yang selama ini memisahkan dua sosok penting di desa itu, sebuah langkah yang mungkin bisa membawa perubahan besar.
Tiba-tiba, Balewa datang dengan wajah puas, seperti pembawa kabar baik yang sudah lama ditunggu.
Pak Kades menoleh. "Bagaimana, Balewa? Dan ke mana warga lainnya?"
"Semua sudah selesai, Pak Kades," jawab Balewa dengan senyum kecil. "Warga lebih memilih pulang setelah tugas selesai."
Pak Kades mengangguk puas, lalu memandang Satrio dengan pandangan penuh makna. "Ageo, saya sudah meminta warga untuk membangunkan rumah kecil untukmu. Memang tak mewah, tapi cukup untuk tempatmu beristirahat. Letaknya juga tak jauh dari gerbang desa. Saya memilih tempat itu, agar memudahkanmu bila ingin bolak-balik ke gua leluhur."
Satrio terdiam sejenak, rasa syukur tampak di matanya. "Terima kasih, Pak Kades. Saya tak pernah membayangkan akan disambut sebaik ini. Terima kasih untuk segalanya."
Balewa menimpali dengan antusias, "Kau tahu? Saat Pak Kades mengusulkan ide itu, warga menyambutnya dengan gembira. Mereka bahkan tak ragu membantu sampai selesai."
Satrio tersenyum, meski ada sedikit keraguan di hatinya. "Apa ini tidak berlebihan untuk orang luar sepertiku?"
Ekot tertawa ringan, lalu menepuk bahu Satrio dengan hangat. "Ageo, kau bukan lagi orang luar bagi kami. Kau sudah seperti keluarga di desa ini."
=======
Mendengar itu, hati Satrio terasa semakin hangat. Semakin jelas baginya bahwa ikatannya dengan desa ini telah tumbuh dalam. Kini, tekadnya semakin kuat untuk membebaskan desa dari kutukan yang mencekik mereka semua.
"Malam ini, biarlah kami yang berjaga, Ageo," ujar Ekot dengan nada mantap.
Pak Kades menambahkan, "Kami tahu kau sudah kelelahan. Biarkan Ekot dan yang lain mengawal malam ini."
Balewa menimpali, menepuk dadanya dengan bangga. "Kau tak perlu khawatir. Kami sudah menyiapkan taktik baru untuk menghadapi serangan itu."
Satrio memandang mereka dengan rasa penasaran. "Seberapa efektif taktik itu?"
Ekot tersenyum, mata penuh keyakinan. "Kau yang merancangnya, Ageo. Dan kali ini, aku berjanji tidak akan ada satu pun gadis desa yang jadi korban."
Pak Kades mengangguk setuju, lalu memberi isyarat pada Balewa. "Balewa, antar Ageo ke rumah barunya. Biarkan dia beristirahat dengan tenang."
Balewa mengangguk, lalu menatap Satrio. "Ayo, Ageo. Istirahatlah. Malam ini, desa ini berada dalam penjagaan kami."
Satrio mengikuti langkah Balewa, merasa sedikit lebih lega. Malam ini mungkin akan jauh lebih aman, mempercayakan desa ditangan yang tepat. Kasatria yang seharusnya menjadi penjaga mutlak, dan pahlawan di desa ini.
“Nah, Ageo. Inilah rumah barumu,” kata Balewa sambil menepuk pundak Satrio dengan senyum puas.
Mulut Satrio sedikit terbuka, kedua alisnya terangkat tinggi. Ia benar-benar tak percaya rumah sederhana di depannya bisa terbangun secepat itu. Rumah kecil itu terbuat dari potongan kayu yang disusun rapi. Meski tidak besar, rumah itu tampak kokoh dan penuh nilai. Di depan, terdapat kursi dan meja kayu, seolah sengaja disiapkan agar ia bisa bersantai di sana.
“Aku benar-benar kagum. Pagi tadi rumah ini belum ada sama sekali. Bagaimana bisa kalian membangunnya secepat ini?” tanya Satrio, takjub.
Balewa tersenyum bangga. “Kami di desa ini punya kebiasaan yang sudah terjaga sejak lama. Setiap kali ada yang butuh tempat tinggal, semua warga akan turun tangan untuk membantu. Itu sudah jadi tradisi kami.”
Satrio mengangguk, lalu matanya menangkap keranjang buah yang diletakkan di teras rumah. “Lalu, untuk buah-buahan itu?”
“Itu juga dari warga desa. Mereka memberikan sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah bersedia membantu desa ini,” ujar Balewa sambil tersenyum.
“Bukankah itu terlalu berlebihan? Bahkan aku merasa belum melakukan apa-apa untuk desa ini,” balas Satrio, merasa sedikit canggung.
Balewa menepuk bahunya lagi. “Sudahlah, terima saja. Kau lebih berarti bagi desa ini dari yang kau kira. Sekarang, lebih baik kau beristirahat. Malam akan segera tiba, dan aku harus kembali ke tempat Pak Kades.”
Satrio mengangguk, matanya menunjukkan rasa syukur. “Baiklah. Aku sangat berterima kasih untuk semua ini. Berhati-hatilah saat berjaga, Balewa.”
Balewa mengangguk, tersenyum hangat sebelum berbalik meninggalkan Satrio.
Matahari tenggelam, malam pun tiba. Di bawah nyala api yang berkelip-kelip, Satrio merasakan semangat yang tak biasa. Seolah setiap sudut desa memberi energi yang menguatkan tekadnya, untuk segera memecahkan misteri. Di hadapannya, buku catatan tebal terbuka. Di halaman yang telah banyak ditandai, penuh dengan catatan, dan sketsa dari penemuannya selama ini. Satrio berharap, ia dapat menyusun kerangka teori yang bisa mengungkap makna, dari teks dan simbol kuno yang terdapat di dinding gua.
Diubah oleh wedi 17-11-2024 14:22
sampeuk dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas
Tutup