- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Memilih Bahagia
...
TS
sofanzani
Aku Memilih Bahagia

Quote:

Quote:
Dulu aku berpikir kalau one of the biggest bullshit on earthadalah ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Mendengar kata itu, yang terlintas dalam benakku adalah orang-orang lemah yang harus menyerah kalah karena tak berhasil memperjuangkan cinta. “Cinta tak harus memiliki” juga seperti sebuah penobatan diri jika pelakunya adalah orang-orang berhati tulus yang dengan perkasa memberikan segenap rasa tanpa perlu balas asa.
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Quote:
Quote:
Quote:

Terlambat itu tidak pernah menyenangkan. Sebuah situasi dimana kita harus berpacu dengan waktu sambil terus berkonsentrasi dengan keadaan sekitar. Ketidakseimbangan fungsi otak kadang menyebabkan kita uring-uringan karena nyawa kita sudah sampai di tempat tujuan tapi badan masih bergumul dengan persiapan-persiapan. Seperti aku pagi ini, aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada audisi untuk menjadi pianis di grup choir kampusku. Hari yang sudah kunanti sejak sebulan lalu, ketika pengumumannya ku dapatkan dari poster-poster yang dipajang di berbagai sudut kampus.
Kulewatkan mandi. Menyikat gigi ditambah dua-tiga basuhan di muka rasanya sudah cukup. Tak sempat membongkar lemari untuk memilih baju, aku lebih memilih menggaet apa saja yang masih tergantung di hanger di kamarku. Asal tak bau saat kuendus, maka kuanggap masih layak pakai.
Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju ke luar rumah.
“Bundaaa, Aksa pergiiiiii....” Setengah teriak, aku pamit pada ibuku. Rumah kami tidak terlalu besar, ibuku pasti mendengar teriakanku.
“Sarapan dulu, naak..., kamu itu kebiasaan pamit teriak-teriak, gak mau cium bunda dulu, apa?”
Hihi, mendengar ibuku mendumel, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, setengah berlari, hanya untuk mencium pipi malaikatku itu. “Nggak keburu, Bun. Aksa terlambat, sampai ketemu siang yaa, Doain aksa, hari ini ada audisi... mmuaach”, akupun berlari keluar lagi.
Ibuku Cuma menggeleng.
Aku langsung masuk ke dalam mobilku. Mencoba menstarternya dengan penuh harap cemas, karena kadang butuh hingga sepuluh kali putar kunci hingga ia mau menyala. Sebuah mobil hatchback hitam produksi Jepang tahun 1987. Mobil yang AC-nya tidak mampu mencegah keringat keluar saat hari panas. Mobil dengan power steering dan power windows (buka jendela sama putar stirnya harus pake power, hehe), mobil yang kadang suka ngadat di tengah jalan dan ogah buru-buru sampai ke tempat tujuan.
Tapi biarpun begitu, aku sayang sama si hitam ini, karena dia punya sentimental value buat aku. Peninggalan almarhum ayahku.
Berangkaaaat....
Quote:
Well, kamu harus tahu kalau si Hitam tidak mengantarku sampai ke parkiran kampus. Bukan karena ngadat lagi, tapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan untukku tiba on time jika memaksa menyetirnya. Macet dimana-mana. Akhirnya terpaksa aku pinggirkan dia di tengah perjalanan, dan memilih memesan ojek online saja.
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Next: 2. Audition (Lanjutan)
Polling
0 suara
Aksa lebih baik memilih siapa?
Diubah oleh sofanzani 08-11-2024 15:24
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
161.4K
Kutip
667
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sofanzani
#634
23. Di Antara Keraguan dan Rindu
Quote:
Suasana di vila terasa menyenangkan dengan cuaca yang cerah. Aku tiba bersama Angel dan juga anggota choir lainnya. Vila ini berada di antara pepohonan yang rindang, yang memberikan kami suasana yang sangat tenang dan menyejukkan. Setibanya kami di sana, suara tawa dan canda langsung terdengar di seantero vila. Kesenangan telah dimulai!
"Ini dia, vila kita!" seru Gery, melompat-lompat penuh semangat.
Kami semua menuju ke halaman belakang, sebuah tempat yang cukup luas, yang dilengkapi dengan kolam renang dan tentu saja spot untuk barbecue. Tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, kami membagi diri dalam beberapa kelompok untuk bermain berbagai permainan. Suasana penuh keceriaan itu memikat perhatianku, tetapi aku tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang Fika yang terus menghantui benakku, meski aku tertawa dan bersenang-senang.
Siang berganti sore, aroma barbecue mulai menguar ke berbagai penjuru. Gery yang sejak awal ditunjuk sebagai juru masak mencoba memasak daging di atas panggangan, namun caranya sedikit aneh dan... cenderung konyol. "Tunggu! Ini harus diputar dulu!" serunya sambil mengacaukan dagingnya yang mulai mengeluarkan asap. Semua tertawa melihat usaha Gery.
"Aduh, Gery! Awas kebakar!" Angel berseloroh sambil mengambil beberapa potong jagung untuk dibakar. "Kita semua tidak ingin merayakan barbecue dengan sajian daging arang, kan?"
Ketika malam mulai tiba, kami semua berkumpul di sekitar meja makan, menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Di antara cerita dan canda, aku berusaha keras mengumpulkan konsentrasiku di tempat itu, mencoba menikmati setiap adegan, meskipun bayangan wajah Fika terus membayangi setiap senyumku.
Malam melarut, beberapa orang kini berada di dalam vila untuk bermain kartu uno, beberapa lainnya bermain gitar dan menyanyi, dan ada juga yang sudah tidur di kamar, juga tergeletak di beberapa kasur yang digelar di ruang tengah. Mungkin mereka kelelahan.
Suasana di luar vila pun semakin syahdu. Beberapa lampu kecil mulai menyala di sekitar kolam, menciptakan atmosfer yang menawan. Tawa dan keceriaan yang penuh di siang hari perlahan mulai tergantikan oleh suasana yang lebih tenang. Aku merasakan ketegangan di udara, seolah ada sesuatu yang mengundang untuk dijelajahi lebih jauh.
Aku bersantai di pinggir kolam, sambil sesekali men-scroll media sosialku. Tak lama, Angel mendekat, terlihat santai dengan jeans dan sweater abu-abu, dengan rambut yang dibiarkan terurai. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya dengan mata berkilau, memantulkan cahaya lampu yang temaram. Aku mengiyakan. Kami pun duduk berdua di tepi kolam.
"Makasih udah datang ke sini, ya, Aksa. Aku senang kamu ikut," Angel memulai percakapan dengan lembut."
Aku menatap Angel, merasakan kehangatan yang jujur saja tak bisa kuabaikan. "Iya, Angel. Sama-sama. Makasih juga udah ngajak aku," jawabku pelan, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa rindu yang mengganggu.
"Aku selalu suka suasana kayak gini, Sa." kata Angel pelan, tatapannya jatuh ke kolam. "Tenang, dan... bisa lupa semua yang bikin penat."
Aku mengangguk, mengikuti tatapan Angel.
Angel menoleh, matanya menatapku dengan pandangan lembut yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Dan ada teman ngobrol juga yang bikin tambah nyaman," gumamnya dengan senyum samar.
Aku merasakan napasku tercekat. "Iya," aku menjawab perlahan, menyadari bahwa Angel memiliki daya tarik tersendiri yang tak pernah kusadari selama ini.
Kami terus bertukar cerita, membahas hobi, impian masa depan, dan kenangan yang tak jarang membuat kami tertawa lepas. Setiap tawa Angel seakan memikatku sedikit demi sedikit, menyusupkan rasa penasaran dan ketertarikan yang perlahan tumbuh tanpa kusadari.
Hening sesaat mengisi di antara kami, namun bukan hening yang canggung—justru ada ketenangan yang membuat kami ingin menikmati momen ini lebih lama.
Angel menatap dalam ke arahku, dan dengan lembut bertanya, "Menurut kamu, kita harus selalu bertahan sama satu hal? Atau, kadang... kita perlu nyoba lihat sesuatu yang baru?"
Aku sedikit terdiam, menangkap makna di balik pertanyaan itu. Aku ingin menjawab, namun lidahku kelu. Tatapanku bertaut dengan mata Angel, dan untuk sesaat, waktu seakan berhenti. Perlahan, kami semakin mendekat tanpa kata, seolah-olah saling memahami tanpa perlu mengucapkannya.
Kulihat sedikit noda hitam di sudut mata Angel. Mungkin sisa jelaga barbecue yang sempat melayang dan akhirnya mendarat di situ.
"Maaf, ada sesuatu di wajahmu," ucapku mendekat dan mencoba menyapu jelaga itu.
Ketika akhirnya jarak di antara kami menghilang, entah apa yang ada di pikiran kami saat itu. Bibir kami bersentuhan dalam ciuman lembut yang mengalir tanpa paksaan. Sekejap. Hanya sekejap, namun begitu dalam dan mendebarkan, membuat kami sama-sama kehilangan kata-kata. Sepertinya kami sama-sama terbawa suasana.
Namun tiba-tiba, ponselku bergetar di saku. Kami tersentak, mengakhiri ciuman itu dengan canggung. Angel membuang muka, dan aku, setelah melihat layar ponsel yang bertuliskan nama Fika, merasakan dilema yang berat di dadaku. Tapi, seolah terhipnotis oleh momen itu, aku memutuskan untuk tidak mengangkat telepon dari Fika. Ponsel itu terus bergetar, namun aku hanya diam, membiarkannya berdering tanpa jawaban.
Kami duduk dalam diam, saling bertukar pandang dengan rasa campur aduk di hati masing-masing.
"Siapa?" tanya Angel, memperhatikan ekspresiku yang berubah.
"Teman," jawabku, berusaha terdengar santai.
Angel mengangguk, tetapi aku tahu bahwa dia tidak begitu saja mempercayai jawabanku. Kami berusaha mengalihkan perhatian dengan beranjak dari situ dan bergabung kembali bersama teman-teman lain, tetapi perasaan bersalah terus menggangguku sejak saat itu. Momen itu terasa tidak seharusnya terjadi, dan aku menyadari bahwa aku harus lebih berhati-hati dengan perasaan dan juga tindakanku.
"Ini dia, vila kita!" seru Gery, melompat-lompat penuh semangat.
Kami semua menuju ke halaman belakang, sebuah tempat yang cukup luas, yang dilengkapi dengan kolam renang dan tentu saja spot untuk barbecue. Tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, kami membagi diri dalam beberapa kelompok untuk bermain berbagai permainan. Suasana penuh keceriaan itu memikat perhatianku, tetapi aku tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang Fika yang terus menghantui benakku, meski aku tertawa dan bersenang-senang.
Siang berganti sore, aroma barbecue mulai menguar ke berbagai penjuru. Gery yang sejak awal ditunjuk sebagai juru masak mencoba memasak daging di atas panggangan, namun caranya sedikit aneh dan... cenderung konyol. "Tunggu! Ini harus diputar dulu!" serunya sambil mengacaukan dagingnya yang mulai mengeluarkan asap. Semua tertawa melihat usaha Gery.
"Aduh, Gery! Awas kebakar!" Angel berseloroh sambil mengambil beberapa potong jagung untuk dibakar. "Kita semua tidak ingin merayakan barbecue dengan sajian daging arang, kan?"
Ketika malam mulai tiba, kami semua berkumpul di sekitar meja makan, menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Di antara cerita dan canda, aku berusaha keras mengumpulkan konsentrasiku di tempat itu, mencoba menikmati setiap adegan, meskipun bayangan wajah Fika terus membayangi setiap senyumku.
Malam melarut, beberapa orang kini berada di dalam vila untuk bermain kartu uno, beberapa lainnya bermain gitar dan menyanyi, dan ada juga yang sudah tidur di kamar, juga tergeletak di beberapa kasur yang digelar di ruang tengah. Mungkin mereka kelelahan.
Suasana di luar vila pun semakin syahdu. Beberapa lampu kecil mulai menyala di sekitar kolam, menciptakan atmosfer yang menawan. Tawa dan keceriaan yang penuh di siang hari perlahan mulai tergantikan oleh suasana yang lebih tenang. Aku merasakan ketegangan di udara, seolah ada sesuatu yang mengundang untuk dijelajahi lebih jauh.
Aku bersantai di pinggir kolam, sambil sesekali men-scroll media sosialku. Tak lama, Angel mendekat, terlihat santai dengan jeans dan sweater abu-abu, dengan rambut yang dibiarkan terurai. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya dengan mata berkilau, memantulkan cahaya lampu yang temaram. Aku mengiyakan. Kami pun duduk berdua di tepi kolam.
"Makasih udah datang ke sini, ya, Aksa. Aku senang kamu ikut," Angel memulai percakapan dengan lembut."
Aku menatap Angel, merasakan kehangatan yang jujur saja tak bisa kuabaikan. "Iya, Angel. Sama-sama. Makasih juga udah ngajak aku," jawabku pelan, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa rindu yang mengganggu.
"Aku selalu suka suasana kayak gini, Sa." kata Angel pelan, tatapannya jatuh ke kolam. "Tenang, dan... bisa lupa semua yang bikin penat."
Aku mengangguk, mengikuti tatapan Angel.
Angel menoleh, matanya menatapku dengan pandangan lembut yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Dan ada teman ngobrol juga yang bikin tambah nyaman," gumamnya dengan senyum samar.
Aku merasakan napasku tercekat. "Iya," aku menjawab perlahan, menyadari bahwa Angel memiliki daya tarik tersendiri yang tak pernah kusadari selama ini.
Kami terus bertukar cerita, membahas hobi, impian masa depan, dan kenangan yang tak jarang membuat kami tertawa lepas. Setiap tawa Angel seakan memikatku sedikit demi sedikit, menyusupkan rasa penasaran dan ketertarikan yang perlahan tumbuh tanpa kusadari.
Hening sesaat mengisi di antara kami, namun bukan hening yang canggung—justru ada ketenangan yang membuat kami ingin menikmati momen ini lebih lama.
Angel menatap dalam ke arahku, dan dengan lembut bertanya, "Menurut kamu, kita harus selalu bertahan sama satu hal? Atau, kadang... kita perlu nyoba lihat sesuatu yang baru?"
Aku sedikit terdiam, menangkap makna di balik pertanyaan itu. Aku ingin menjawab, namun lidahku kelu. Tatapanku bertaut dengan mata Angel, dan untuk sesaat, waktu seakan berhenti. Perlahan, kami semakin mendekat tanpa kata, seolah-olah saling memahami tanpa perlu mengucapkannya.
Kulihat sedikit noda hitam di sudut mata Angel. Mungkin sisa jelaga barbecue yang sempat melayang dan akhirnya mendarat di situ.
"Maaf, ada sesuatu di wajahmu," ucapku mendekat dan mencoba menyapu jelaga itu.
Ketika akhirnya jarak di antara kami menghilang, entah apa yang ada di pikiran kami saat itu. Bibir kami bersentuhan dalam ciuman lembut yang mengalir tanpa paksaan. Sekejap. Hanya sekejap, namun begitu dalam dan mendebarkan, membuat kami sama-sama kehilangan kata-kata. Sepertinya kami sama-sama terbawa suasana.
Namun tiba-tiba, ponselku bergetar di saku. Kami tersentak, mengakhiri ciuman itu dengan canggung. Angel membuang muka, dan aku, setelah melihat layar ponsel yang bertuliskan nama Fika, merasakan dilema yang berat di dadaku. Tapi, seolah terhipnotis oleh momen itu, aku memutuskan untuk tidak mengangkat telepon dari Fika. Ponsel itu terus bergetar, namun aku hanya diam, membiarkannya berdering tanpa jawaban.
Kami duduk dalam diam, saling bertukar pandang dengan rasa campur aduk di hati masing-masing.
"Siapa?" tanya Angel, memperhatikan ekspresiku yang berubah.
"Teman," jawabku, berusaha terdengar santai.
Angel mengangguk, tetapi aku tahu bahwa dia tidak begitu saja mempercayai jawabanku. Kami berusaha mengalihkan perhatian dengan beranjak dari situ dan bergabung kembali bersama teman-teman lain, tetapi perasaan bersalah terus menggangguku sejak saat itu. Momen itu terasa tidak seharusnya terjadi, dan aku menyadari bahwa aku harus lebih berhati-hati dengan perasaan dan juga tindakanku.
Quote:
Keesokan paginya, aku bangun dengan kepala berat dan hati yang sedikit gelisah. Ingatan tentang malam sebelumnya, ciuman yang tak terduga dengan Angel, terus bermain di benakku. Setiap kali memikirkannya, hatiku berdesir antara perasaan bersalah dan kebingungan. Sejenak aku terdiam, menatap langit-langit kamar vila sambil mencoba meresapi semua yang terjadi.
Aku melirik ponselku yang menunjukkan beberapa panggilan tak terjawab dari Fika tadi malam. Perasaanku semakin tertekan saat menyadari diriku tak mengangkat telepon dari Fika, padahal aku tahu dia pasti menungguku dengan penuh rindu di seberang sana.
"Apa yang aku lakukan?" gumamku, meremas rambut dengan frustrasi. Ingatan wajah Fika membayangi pikiranku, dan rasa bersalah mulai menguasai diriku.
Namun, sebelum sempat merenung lebih jauh, pintu kamar diketuk pelan. Suara Angel terdengar dari luar, "Aksa? Kita mau sarapan bareng, nih. Kamu ikut, kan?"
Aku sempat ragu, tetapi akhirnya menjawab, "Iya, aku turun sebentar lagi."
Saat kami semua berkumpul di ruang makan vila, suasana terasa sedikit canggung, terutama bagiku. Angel tersenyum ceria seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi. Namun, setiap tatapan kami beradu, aku merasakan ketegangan aneh yang tak pernah ada sebelumnya. Sementara anggota paduan suara lainnya menikmati sarapan dan saling bercanda, aku merasa terjebak dalam konflik batin yang tak terlihat oleh orang lain.
Setelah sarapan, kami bersiap-siap untuk mengikuti berbagai aktivitas outdoor di vila. Kami tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan setiap waktu yang berlalu, mengingat besok kami sudah harus kembali pulang. Aku mencoba ikut larut dalam kebersamaan itu, namun pikiranku terus dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang tak bisa kuabaikan.
Ketika sore mulai berganti malam, seluruh rombongan berkumpul di sekitar api unggun yang disiapkan di halaman. Nyala api menerangi wajah-wajah yang bersemangat dan gembira. Aku duduk sedikit terpisah, melihat teman-temanku tertawa sambil memanggang sosis.
Di tengah keramaian itu, Angel mendekat dan duduk di sebelahku. Kami sempat terdiam beberapa saat, hanya ditemani suara api yang berderak dan suara gelak tawa yang memecah keheningan.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Angel dengan nada lembut, menatapku dengan ekspresi penuh perhatian.
Aku menghela napas panjang, merasa berat untuk menjawab. "Aku... enggak tahu. Rasanya... ada yang salah."
Angel terdiam sejenak. "Aku minta maaf kalau apa yang terjadi tadi malam membuat kamu merasa enggak nyaman. Kita... mungkin terbawa suasana."
Aku tersenyum tipis, menyadari bahwa kata-kata Angel sebenarnya adalah apa yang aku butuhkan saat ini. Meskipun ada sesuatu di antara kami, aku sadar bahwa aku harus menghadapi kenyataan dengan jujur pada diri sendiri dan juga pada Fika.
Aku melirik ponselku yang menunjukkan beberapa panggilan tak terjawab dari Fika tadi malam. Perasaanku semakin tertekan saat menyadari diriku tak mengangkat telepon dari Fika, padahal aku tahu dia pasti menungguku dengan penuh rindu di seberang sana.
"Apa yang aku lakukan?" gumamku, meremas rambut dengan frustrasi. Ingatan wajah Fika membayangi pikiranku, dan rasa bersalah mulai menguasai diriku.
Namun, sebelum sempat merenung lebih jauh, pintu kamar diketuk pelan. Suara Angel terdengar dari luar, "Aksa? Kita mau sarapan bareng, nih. Kamu ikut, kan?"
Aku sempat ragu, tetapi akhirnya menjawab, "Iya, aku turun sebentar lagi."
Saat kami semua berkumpul di ruang makan vila, suasana terasa sedikit canggung, terutama bagiku. Angel tersenyum ceria seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi. Namun, setiap tatapan kami beradu, aku merasakan ketegangan aneh yang tak pernah ada sebelumnya. Sementara anggota paduan suara lainnya menikmati sarapan dan saling bercanda, aku merasa terjebak dalam konflik batin yang tak terlihat oleh orang lain.
Setelah sarapan, kami bersiap-siap untuk mengikuti berbagai aktivitas outdoor di vila. Kami tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan setiap waktu yang berlalu, mengingat besok kami sudah harus kembali pulang. Aku mencoba ikut larut dalam kebersamaan itu, namun pikiranku terus dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang tak bisa kuabaikan.
Ketika sore mulai berganti malam, seluruh rombongan berkumpul di sekitar api unggun yang disiapkan di halaman. Nyala api menerangi wajah-wajah yang bersemangat dan gembira. Aku duduk sedikit terpisah, melihat teman-temanku tertawa sambil memanggang sosis.
Di tengah keramaian itu, Angel mendekat dan duduk di sebelahku. Kami sempat terdiam beberapa saat, hanya ditemani suara api yang berderak dan suara gelak tawa yang memecah keheningan.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Angel dengan nada lembut, menatapku dengan ekspresi penuh perhatian.
Aku menghela napas panjang, merasa berat untuk menjawab. "Aku... enggak tahu. Rasanya... ada yang salah."
Angel terdiam sejenak. "Aku minta maaf kalau apa yang terjadi tadi malam membuat kamu merasa enggak nyaman. Kita... mungkin terbawa suasana."
Aku tersenyum tipis, menyadari bahwa kata-kata Angel sebenarnya adalah apa yang aku butuhkan saat ini. Meskipun ada sesuatu di antara kami, aku sadar bahwa aku harus menghadapi kenyataan dengan jujur pada diri sendiri dan juga pada Fika.
Diubah oleh sofanzani 10-11-2024 13:32
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas