- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Memilih Bahagia
...
TS
sofanzani
Aku Memilih Bahagia

Quote:

Quote:
Dulu aku berpikir kalau one of the biggest bullshit on earthadalah ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Mendengar kata itu, yang terlintas dalam benakku adalah orang-orang lemah yang harus menyerah kalah karena tak berhasil memperjuangkan cinta. “Cinta tak harus memiliki” juga seperti sebuah penobatan diri jika pelakunya adalah orang-orang berhati tulus yang dengan perkasa memberikan segenap rasa tanpa perlu balas asa.
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Quote:
Quote:
Quote:

Terlambat itu tidak pernah menyenangkan. Sebuah situasi dimana kita harus berpacu dengan waktu sambil terus berkonsentrasi dengan keadaan sekitar. Ketidakseimbangan fungsi otak kadang menyebabkan kita uring-uringan karena nyawa kita sudah sampai di tempat tujuan tapi badan masih bergumul dengan persiapan-persiapan. Seperti aku pagi ini, aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada audisi untuk menjadi pianis di grup choir kampusku. Hari yang sudah kunanti sejak sebulan lalu, ketika pengumumannya ku dapatkan dari poster-poster yang dipajang di berbagai sudut kampus.
Kulewatkan mandi. Menyikat gigi ditambah dua-tiga basuhan di muka rasanya sudah cukup. Tak sempat membongkar lemari untuk memilih baju, aku lebih memilih menggaet apa saja yang masih tergantung di hanger di kamarku. Asal tak bau saat kuendus, maka kuanggap masih layak pakai.
Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju ke luar rumah.
“Bundaaa, Aksa pergiiiiii....” Setengah teriak, aku pamit pada ibuku. Rumah kami tidak terlalu besar, ibuku pasti mendengar teriakanku.
“Sarapan dulu, naak..., kamu itu kebiasaan pamit teriak-teriak, gak mau cium bunda dulu, apa?”
Hihi, mendengar ibuku mendumel, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, setengah berlari, hanya untuk mencium pipi malaikatku itu. “Nggak keburu, Bun. Aksa terlambat, sampai ketemu siang yaa, Doain aksa, hari ini ada audisi... mmuaach”, akupun berlari keluar lagi.
Ibuku Cuma menggeleng.
Aku langsung masuk ke dalam mobilku. Mencoba menstarternya dengan penuh harap cemas, karena kadang butuh hingga sepuluh kali putar kunci hingga ia mau menyala. Sebuah mobil hatchback hitam produksi Jepang tahun 1987. Mobil yang AC-nya tidak mampu mencegah keringat keluar saat hari panas. Mobil dengan power steering dan power windows (buka jendela sama putar stirnya harus pake power, hehe), mobil yang kadang suka ngadat di tengah jalan dan ogah buru-buru sampai ke tempat tujuan.
Tapi biarpun begitu, aku sayang sama si hitam ini, karena dia punya sentimental value buat aku. Peninggalan almarhum ayahku.
Berangkaaaat....
Quote:
Well, kamu harus tahu kalau si Hitam tidak mengantarku sampai ke parkiran kampus. Bukan karena ngadat lagi, tapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan untukku tiba on time jika memaksa menyetirnya. Macet dimana-mana. Akhirnya terpaksa aku pinggirkan dia di tengah perjalanan, dan memilih memesan ojek online saja.
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Next: 2. Audition (Lanjutan)
Polling
0 suara
Aksa lebih baik memilih siapa?
Diubah oleh sofanzani 08-11-2024 15:24
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
161.4K
Kutip
667
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sofanzani
#628
20. Malam Terakhir di Kota Bandung
Quote:
Dua bulan berlalu sejak semua kemelut yang menyerang ketenangan hari-hariku. Masalah Erik, konflik ibuku dan Fika, dan juga kondisi hubunganku dan Fika yang nyaris berakhir. Tapi syukurlah, semua kesulitan terlah berhasil kami lalui. Kini hanya tinggal harapan baru yang menyegarkan. Tentang ceritaku dan Fika. Sekarang, dan seterusnya.
Quote:
Di rumah, suasana siang terasa sedikit melankolis. Bunda menyambut Fika dengan hangat, seperti biasanya. Sejak mengenal Fika, Bunda selalu merasa Fika memiliki kebaikan yang tulus.
"Fika, sudah siap untuk perjalanannya?" tanya Bunda sambil tersenyum lembut.
Fika tersenyum, meski di dalam hatinya ada sebersit keraguan dan harapan. "Iya, Bunda. Rasanya masih sulit dipercaya, tapi Fika udah mempersiapkan semuanya."
Fika kembali ada di ruang tamuku, memandangi suasana hangat rumah yang membuatnya merasa seperti di rumah sendiri. Bunda duduk di samping Fika, matanya penuh perhatian. "Nak, perjalanan ini adalah langkah besar untukmu. Bunda yakin kamu bisa menjalani semuanya dengan baik di sana."
Kata-kata bunda terdengar menenangkan, tetapi sekaligus menimbulkan rasa haru. Aku berdiri di dekat pintu, memperhatikan percakapan Bunda dan Fika. Aku merasa ada yang istimewa dalam hubungan Fika dan Ibuku; meski mereka belum lama saling mengenal, Fika sudah seperti bagian dari keluarga.
Ketika melangkah mendekat, Ibuku melirik ke arahku sambil tersenyum. "Aksa, kamu jagain Fika baik-baik ya. Ini mungkin terakhir kali kalian di sini sebelum dia berangkat."
Fika terdiam sejenak, menatap ibuku. "Terima kasih untuk segalanya, Bunda. Terima kasih sudah memperlakukan aku seperti keluarga." Suaranya bergetar pelan.
Ibuku segera menggenggam tangannya dengan hangat. "Kamu bagian dari keluarga ini juga, sayang. Kapan pun kamu kembali, rumah ini terbuka buat kamu," jawab Bunda, matanya berkilau sedikit.
Setelah itu, ibuku menyiapkan minuman hangat dan beberapa kue untuk kami, seolah memberi momen ini kenangan tersendiri. Kami mengobrol tentang banyak hal—tentang rencana Fika di Edinburgh, harapan Bunda, dan cerita-cerita yang lucu.
Di sela tawa dan cerita, ada ketulusan yang membuat momen itu terasa begitu berharga.
Ketika senja mulai turun, aku dan Fika pamit pada ibuku untuk berjalan-jalan di kota. Ibuku menatap kami berdua sambil melambaikan tangan, menyadari bahwa kepergian Fika bukan hanya perjalanan biasa.
Senja mulai menyelimuti langit saat aku dan Fika meninggalkan rumah. Suasana terasa tenang namun penuh makna. Kami berjalan pelan di sepanjang jalan kota, menikmati setiap detik kebersamaan tanpa terburu-buru, seolah ingin menunda perpisahan yang semakin mendekat.
"Kamu pasti sering berjalan-jalan begini, ya?" tanya Fika sambil menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.
Aku hanya tersenyum tipis. "Iya, terutama kalau lagi butuh menenangkan pikiran. Tapi hari ini rasanya beda. Ini lebih istimewa, mungkin karena ada kamu." Kalimat itu keluar begitu saja, membuat Fika tersenyum dan sedikit terharu.
Kami berjalan menuju salah satu taman kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Tempat ini menjadi lebih indah dan ramai dengan pedagang yang menjajakan makanan dan mainan.
Fika mengajakku ke penjual permen kapas, salah satu hal sederhana yang selalu mengingatkannya pada masa kecil.
"Kamu suka permen kapas?" tanyaku sambil memberikan satu pada Fika.
Fika tertawa, "Udah lama nggak makan ini. Rasanya manis banget, kayak kenangan yang mau aku bawa ke Edinburgh nanti." Dia menggigit kembang gula itu dengan hati-hati, seolah ingin menyimpan manisnya lebih lama.
Setelah itu, kami berjalan menyusuri trotoar, menikmati suasana kota yang sibuk namun terasa tenang bagi kami berdua. Langkahku dan Fika melambat ketika kami tiba di sebuah bangku kecil yang menghadap jalan.
"Aksa, kamu bakal baik-baik aja, kan, setelah aku pergi?" Fika bertanya dengan suara lembut, namun ada nada kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
Aku terdiam sejenak, menatap air yang mengalir di bawah jembatan. "Aku bakal kangen banget, tapi aku juga senang karena kamu bakal ngejar mimpi kamu. Aku bakal baik-baik aja kok. Lagipula, kita bisa tetap terhubung, kan?"
Fika mengangguk pelan, merasa tenang dengan kata-kataku. "Iya, kita akan tetap terhubung," bisiknya, meski di dalam hatinya, dia tahu jarak ribuan kilometer itu akan membawa banyak perubahan.
Kami lalu kembali melanjutkan langkah, kali ini menuju sebuah kedai kopi kecil yang biasa kami kunjungi. Di sana, kami duduk di sudut favorit, menikmati suasana dan memesan minuman yang selalu menjadi pilihan kami—cokelat panas untuk Fika, dan kopi hitam untukku.
"Aksa," Fika memulai, menatapnya dengan mata penuh harapan. "Kamu tahu, banyak hal yang aku pelajari selama kita bersama. Aku nggak akan pernah lupa bagaimana kamu selalu mendukung aku, membuatku merasa lebih kuat."
Kalimat yang membuatku tersenyum. Akupun menatap matanya dalam-dalam. "Kamu yang membuat aku merasa berarti. Kamu yang mengajarkan aku banyak hal juga, tentang keberanian untuk mengejar mimpi. Aku bangga sama kamu."
Kami diam, membiarkan kata-kata itu menyusup dalam hati. Keheningan terasa hangat, seolah semua sudah tersampaikan tanpa perlu banyak bicara.
Saat malam semakin larut, Fika menyandarkan kepalanya di bahuku, memejamkan mata untuk menikmati momen terakhir ini dengan sepenuh hati.
"Aku akan merindukan semua ini," bisiknya.
Aku mengangguk pelan, merasa perpisahan sudah semakin nyata. "Aku juga, sayang."
"Fika, sudah siap untuk perjalanannya?" tanya Bunda sambil tersenyum lembut.
Fika tersenyum, meski di dalam hatinya ada sebersit keraguan dan harapan. "Iya, Bunda. Rasanya masih sulit dipercaya, tapi Fika udah mempersiapkan semuanya."
Fika kembali ada di ruang tamuku, memandangi suasana hangat rumah yang membuatnya merasa seperti di rumah sendiri. Bunda duduk di samping Fika, matanya penuh perhatian. "Nak, perjalanan ini adalah langkah besar untukmu. Bunda yakin kamu bisa menjalani semuanya dengan baik di sana."
Kata-kata bunda terdengar menenangkan, tetapi sekaligus menimbulkan rasa haru. Aku berdiri di dekat pintu, memperhatikan percakapan Bunda dan Fika. Aku merasa ada yang istimewa dalam hubungan Fika dan Ibuku; meski mereka belum lama saling mengenal, Fika sudah seperti bagian dari keluarga.
Ketika melangkah mendekat, Ibuku melirik ke arahku sambil tersenyum. "Aksa, kamu jagain Fika baik-baik ya. Ini mungkin terakhir kali kalian di sini sebelum dia berangkat."
Fika terdiam sejenak, menatap ibuku. "Terima kasih untuk segalanya, Bunda. Terima kasih sudah memperlakukan aku seperti keluarga." Suaranya bergetar pelan.
Ibuku segera menggenggam tangannya dengan hangat. "Kamu bagian dari keluarga ini juga, sayang. Kapan pun kamu kembali, rumah ini terbuka buat kamu," jawab Bunda, matanya berkilau sedikit.
Setelah itu, ibuku menyiapkan minuman hangat dan beberapa kue untuk kami, seolah memberi momen ini kenangan tersendiri. Kami mengobrol tentang banyak hal—tentang rencana Fika di Edinburgh, harapan Bunda, dan cerita-cerita yang lucu.
Di sela tawa dan cerita, ada ketulusan yang membuat momen itu terasa begitu berharga.
Ketika senja mulai turun, aku dan Fika pamit pada ibuku untuk berjalan-jalan di kota. Ibuku menatap kami berdua sambil melambaikan tangan, menyadari bahwa kepergian Fika bukan hanya perjalanan biasa.
***
Senja mulai menyelimuti langit saat aku dan Fika meninggalkan rumah. Suasana terasa tenang namun penuh makna. Kami berjalan pelan di sepanjang jalan kota, menikmati setiap detik kebersamaan tanpa terburu-buru, seolah ingin menunda perpisahan yang semakin mendekat.
"Kamu pasti sering berjalan-jalan begini, ya?" tanya Fika sambil menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.
Aku hanya tersenyum tipis. "Iya, terutama kalau lagi butuh menenangkan pikiran. Tapi hari ini rasanya beda. Ini lebih istimewa, mungkin karena ada kamu." Kalimat itu keluar begitu saja, membuat Fika tersenyum dan sedikit terharu.
Kami berjalan menuju salah satu taman kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Tempat ini menjadi lebih indah dan ramai dengan pedagang yang menjajakan makanan dan mainan.
Fika mengajakku ke penjual permen kapas, salah satu hal sederhana yang selalu mengingatkannya pada masa kecil.
"Kamu suka permen kapas?" tanyaku sambil memberikan satu pada Fika.
Fika tertawa, "Udah lama nggak makan ini. Rasanya manis banget, kayak kenangan yang mau aku bawa ke Edinburgh nanti." Dia menggigit kembang gula itu dengan hati-hati, seolah ingin menyimpan manisnya lebih lama.
Setelah itu, kami berjalan menyusuri trotoar, menikmati suasana kota yang sibuk namun terasa tenang bagi kami berdua. Langkahku dan Fika melambat ketika kami tiba di sebuah bangku kecil yang menghadap jalan.
"Aksa, kamu bakal baik-baik aja, kan, setelah aku pergi?" Fika bertanya dengan suara lembut, namun ada nada kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
Aku terdiam sejenak, menatap air yang mengalir di bawah jembatan. "Aku bakal kangen banget, tapi aku juga senang karena kamu bakal ngejar mimpi kamu. Aku bakal baik-baik aja kok. Lagipula, kita bisa tetap terhubung, kan?"
Fika mengangguk pelan, merasa tenang dengan kata-kataku. "Iya, kita akan tetap terhubung," bisiknya, meski di dalam hatinya, dia tahu jarak ribuan kilometer itu akan membawa banyak perubahan.
Kami lalu kembali melanjutkan langkah, kali ini menuju sebuah kedai kopi kecil yang biasa kami kunjungi. Di sana, kami duduk di sudut favorit, menikmati suasana dan memesan minuman yang selalu menjadi pilihan kami—cokelat panas untuk Fika, dan kopi hitam untukku.
"Aksa," Fika memulai, menatapnya dengan mata penuh harapan. "Kamu tahu, banyak hal yang aku pelajari selama kita bersama. Aku nggak akan pernah lupa bagaimana kamu selalu mendukung aku, membuatku merasa lebih kuat."
Kalimat yang membuatku tersenyum. Akupun menatap matanya dalam-dalam. "Kamu yang membuat aku merasa berarti. Kamu yang mengajarkan aku banyak hal juga, tentang keberanian untuk mengejar mimpi. Aku bangga sama kamu."
Kami diam, membiarkan kata-kata itu menyusup dalam hati. Keheningan terasa hangat, seolah semua sudah tersampaikan tanpa perlu banyak bicara.
Saat malam semakin larut, Fika menyandarkan kepalanya di bahuku, memejamkan mata untuk menikmati momen terakhir ini dengan sepenuh hati.
"Aku akan merindukan semua ini," bisiknya.
Aku mengangguk pelan, merasa perpisahan sudah semakin nyata. "Aku juga, sayang."
Next: 21. Sampai Jumpa
Diubah oleh sofanzani 07-11-2024 12:19
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas
Tutup