- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Memilih Bahagia
...
TS
sofanzani
Aku Memilih Bahagia

Quote:

Quote:
Dulu aku berpikir kalau one of the biggest bullshit on earthadalah ungkapan “cinta tak harus memiliki”. Mendengar kata itu, yang terlintas dalam benakku adalah orang-orang lemah yang harus menyerah kalah karena tak berhasil memperjuangkan cinta. “Cinta tak harus memiliki” juga seperti sebuah penobatan diri jika pelakunya adalah orang-orang berhati tulus yang dengan perkasa memberikan segenap rasa tanpa perlu balas asa.
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Bullshit! Sakit is sakit, men! Meredam perasaan itu ngilu.
Tapi itu dulu, sebelum aku tahu kalau ungkapan itu bisa benar terjadi untuk beberapa orang. Sebelum aku tahu beberapa orang di muka bumi ini pernah merasakannya. Dan sialnya aku sendiri yang merasakannya. Untuk itu ku tarik kembali kata-kataku. Aku yang bullshit!
Aku pernah terjebak di kondisi yang menamparku dengan dilema. Sebuah situasi yang menguras otakku untuk memberikan keputusan. Sebuah situasi sulit yang memaksaku bijak memilih, bertahan atau pergi.
Semua karena dia, seseorang yang ku genggam raganya tanpa bisa kunikmati rasanya. Dia yang berusaha menggenapkan setengah hatinya di hatiku, namun masih meninggalkan setengah lagi di hati yang lain.
Kadang aku ingin pergi, tapi hati ini selalu membujuk otak untuk menyampingkan logika. Kita lihat saja bagaimana hasilnya...
Aku akan menceritakan semuanya dari awal.....
Quote:
Quote:
Quote:

Terlambat itu tidak pernah menyenangkan. Sebuah situasi dimana kita harus berpacu dengan waktu sambil terus berkonsentrasi dengan keadaan sekitar. Ketidakseimbangan fungsi otak kadang menyebabkan kita uring-uringan karena nyawa kita sudah sampai di tempat tujuan tapi badan masih bergumul dengan persiapan-persiapan. Seperti aku pagi ini, aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada audisi untuk menjadi pianis di grup choir kampusku. Hari yang sudah kunanti sejak sebulan lalu, ketika pengumumannya ku dapatkan dari poster-poster yang dipajang di berbagai sudut kampus.
Kulewatkan mandi. Menyikat gigi ditambah dua-tiga basuhan di muka rasanya sudah cukup. Tak sempat membongkar lemari untuk memilih baju, aku lebih memilih menggaet apa saja yang masih tergantung di hanger di kamarku. Asal tak bau saat kuendus, maka kuanggap masih layak pakai.
Aku bergegas keluar kamar, langsung menuju ke luar rumah.
“Bundaaa, Aksa pergiiiiii....” Setengah teriak, aku pamit pada ibuku. Rumah kami tidak terlalu besar, ibuku pasti mendengar teriakanku.
“Sarapan dulu, naak..., kamu itu kebiasaan pamit teriak-teriak, gak mau cium bunda dulu, apa?”
Hihi, mendengar ibuku mendumel, aku pun masuk kembali ke dalam rumah, setengah berlari, hanya untuk mencium pipi malaikatku itu. “Nggak keburu, Bun. Aksa terlambat, sampai ketemu siang yaa, Doain aksa, hari ini ada audisi... mmuaach”, akupun berlari keluar lagi.
Ibuku Cuma menggeleng.
Aku langsung masuk ke dalam mobilku. Mencoba menstarternya dengan penuh harap cemas, karena kadang butuh hingga sepuluh kali putar kunci hingga ia mau menyala. Sebuah mobil hatchback hitam produksi Jepang tahun 1987. Mobil yang AC-nya tidak mampu mencegah keringat keluar saat hari panas. Mobil dengan power steering dan power windows (buka jendela sama putar stirnya harus pake power, hehe), mobil yang kadang suka ngadat di tengah jalan dan ogah buru-buru sampai ke tempat tujuan.
Tapi biarpun begitu, aku sayang sama si hitam ini, karena dia punya sentimental value buat aku. Peninggalan almarhum ayahku.
Berangkaaaat....
Quote:
Well, kamu harus tahu kalau si Hitam tidak mengantarku sampai ke parkiran kampus. Bukan karena ngadat lagi, tapi karena situasi jalan yang tidak memungkinkan untukku tiba on time jika memaksa menyetirnya. Macet dimana-mana. Akhirnya terpaksa aku pinggirkan dia di tengah perjalanan, dan memilih memesan ojek online saja.
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Setibanya di kampus, aku langsung menuju lantai 5, tempat dilaksanakannya audisi tersebut. Sudah banyak orang di sana. Puluhan. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk menyalurkan hobi bernyanyi lewat paduan suara. Dan sekarang adalah hari untuk pendaftaran ulang dan pembagian suara.
Berbeda denganku, mereka semua langsung diterima menjadi anggota choir, tapi masing-masing dari mereka akan mengisi posisi suara yang berbeda. Sedangkan aku, untuk menjadi pianis, aku harus bersaing dengan setidaknya 4 pianis lainnya untuk mendapatkan posisi incaran tersebut. Kalau tidak lolos, maka dua pilihan diberikan: Bergabung menjadi penyanyi, atau tidak tergabung dalam choir sama sekali.
Aku akan mencoba peruntunganku hari ini.
“Pagi kak, maaf saya terlambat” kataku setelah menghampiri sebuah meja dengan papan nama bertuliskan ‘PENDAFTARAN ULANG’ di atasnya...
Seorang senior cewek jutek berbadan tambun hanya menatapku sekilas, lalu langsung berkata, “Nama?”
Ingin rasanya aku memperlihatkan sebuah cermin besar di hadapannya, biar dia tahu kalo dia jelek sekali berperangai seperti itu. “Aksa, Aksara Abhiseva” jawabku tak kalah datar.
“Yakin kamu udah daftar? Gak ada namamu nih disini...” Katanya sambil terus menatap layar laptopnya dan menggulir-gulir tombol scroll di tetikusnya.
“Hmmm, yakin sih kak, saya daftar sekitar empat hari yang lalu....”
“Di mana?”
“Di ruang seni kak, waktu itu ketemu sama kak Rival”
Dia menatapku tajam, seolah-olah berhasrat menjadikanku camilan untuk mengisi ulang toples kecilnya yang isinya sudah hampir habis.
“Ada yang salah, kak?” Tanyaku polos.
“Kamu mau audisi pianis?”
“Iya, kak...”
“Bukan di sini lah! Ini buat daftar ulang penyanyi! Kalau audisi di sini kamu maen apa? Piano di android?? Kamu pikir gampang bawa piano ke lantai lima?? Audisi pianis di ruang seni lah...!”
Gila! Haruskah dia berbicara panjang lebar seperti itu hanya untuk memberitahukan kalau aku berada di tempat yang salah? Aku pun beranjak tanpa permisi, bukan bermaksud tidak sopan, hanya refleks berpacu dengan waktu karena sudah membuang waktu ku di sana. Tapi biarlah kalaupun dia menganggapku tidak sopan, aku rasa impas dengan sikap yang dia berikan padaku.
Aku bergegas menuju ruang seni. Semoga masih ada waktu untukku.
Pelataran ruang seni sepi, hanya ada sebuah meja dengan beberapa lembar kertas di atasnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun terdengar suara percakapan di dalam ruang seni. Hingga akhirnya seorang laki-laki keluar dari sana. Oh, itu Kak Rival, orang yang tadi aku sebutkan pada si jutek.
“Kak Rival!” Sapaku dari jauh sambil perlahan menghampirinya.
Dia mengerenyitkan dahi, mencoba mengingat siapa aku nampaknya. “Aksa, ya?”
“Iya kak” jawabku. Masih ingat rupanya dia. “Audisinya udah kelar ya kak?”
“Udah sih, tadi cuman ada dua orang yang audisi, yang satu mengundurkan diri, dan saya kira kamu juga gak jadi...”
“Maaf kak, saya tadi terlambat, persoalan teknis ka, hehe...” Jawabku kikuk. “Jadi...., saya udah gak bisa ikut lagi yah?” Lanjutku.
“Hmmm... Sebentar....” Jawabnya pendek sambil masuk kembali ke ruang seni.
Sesaat kemudian, dia hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. “Masuk, Sa...” katanya kepadaku.
“Oh iya, baik kak...” Semoga ada kabar baik.
Termasuk kak Rival, ada tiga orang di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dua orang lainnya adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, dan seorang perempuan cantik dengan sweater biru muda dan rambut diikat ekor kuda. Rasanya aku pernah melihat dia beberapa kali di kampus ini.
“Pagi, pak..., kak..., maaf saya terlambat...”
“Yaa.. yaa.. gak apa-apa, kamu beruntung kami masih di sini, hehe...” Kata pria tadi ramah. “Oh iya kenalan dulu, saya Aryo, music coach di sini” Ujar dia seraya menyodorkan tangannya kepadaku.
Sambil menyambut uluran tangannya, aku pun merespon “Aksa, pa....”
“Asuransi??” Si cantik tiba-tiba nyamber, nyeletuk sambil senyum-senyum.
“Jangan sebut merk, kak...” timpalku mencoba melumerkan suasana. Ya, seringkali aku mendapatkan joke seperti itu, karena namaku yang memang mirip nama salah satu perusahaan asuransi terkenal.
Si cantik pun menyodorkan tangannya. “Aku Fika...” Katanya memperkenalkan diri.
“Saya gak usah nyebutin nama lagi kan, kak?” Candaku
“Ga usah, aku udah tau kamu, si asuransi, hahaha...”
Aku Cuma senyum-senyum “Maaf, Kakak di sini sebagai?”
“Untuk event skrg, aku jadi koordinator rekrutmen” jawabnya sigap
“Oh okee...” Jawabku. “Sekarang saya ngapain nih, Pak? Kak?”
“Debus kayaknya asik...” si Fika lagi-lagi nyeletuk. “Ya main piano lah.., hahaha”
Lagi-lagi aku cuman bisa nyengir. Ngocol banget tuh orang.
“Kamu main piano udah lama?” Pak Aryo membuka pertanyaan.
“Serius belajarnya sih pas SMP kelas 2 pa...”
“Kursus?”
“Nggak pak, otodidak....”
“Dua peserta audisi sebelumnya kursus, Sa. Certified. Kamu minder nggak?
“Hmmm, Sama sekali ngga sih pa, buat saya sertifikat cuman pengakuan di atas kertas aja, dan musik itu soal rasa, energi yang keluar dari dasar hati, yang disalurkan lewat kemampuan mengolah suara. Kursus atau ngga, nggak akan mempengaruhi feel dan skill seseorang bermain musik. Menurut saya”
Pak Aryo cuman senyum.
Aku? Tenggorokan berasa kering, tercekat, takut kata-kataku salah tadi.
“Okee, saya terkesan sama filosofimu, lanjut main, Sa...!”
Kami beranjak beberapa langkah menuju sebuah piano jenis upright yang diletakkan di sebelah jendela.
“Play anything you want...”
Aku sempat terbengong sebentar, sampai akhirnya sesuatu berbisik di kepalaku, dan aku memutuskan untuk memainkan Claudine....
Next: 2. Audition (Lanjutan)
Polling
0 suara
Aksa lebih baik memilih siapa?
Diubah oleh sofanzani 08-11-2024 15:24
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
161.9K
Kutip
667
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
sofanzani
#627
19. The Revenge (Lanjutan)
Quote:
"Jadi, lo mau gua bantu ngapain?" Erwin terdengar penasaran.
"Ini bukan hanya soal gua. Erik kan anak polisi. Gua pengen dia tahu ada konsekuensi dari semua yang dia lakuin. Gua mau lo bantu viral-in perbuatannya," Juno mengungkapkan rencananya.
Erwin terdiam sejenak. "Viralin? Gimana maksud lo?"
"Gini. Kita harus ambil video sebagai bukti, terutama dari CCTV di minimarket kemarin. Setelah gua dipukul, Erik datang dan melabrak gua di sana. Itu adalah kesempatan kita untuk dapatkan rekaman yang menunjukkan semua yang terjadi. Gua sengaja membiarkan diri gua dipukuli tanpa gua melawan, karena kalau gua melawan, ini bakal jadi perkelahian, bukan penganiayaan." jelas Juno dengan penuh semangat.
"Berarti kita butuh bukti, kan? Lo udah punya?" Erwin bertanya.
"Belum ada, tapi gua bisa minta izin untuk lihat rekaman CCTV. Kalo kita dapat rekaman itu, kita bisa bikin berita di media sosial yang bikin dia malu. Dia gak bakal bisa menghindar dari itu, bahkan kalo dia anak polisi," jawab Juno.
"Kalau gitu, gua siap bantu. Kita butuh merencanakan semua ini dengan baik," Erwin setuju.
"Oke, gua bakal kontak anak-anak RBC. Mereka pasti akan mau bantu. Gua juga bisa minta tolong si Ivan untuk nyebarin info ini," kata Juno.
"Berarti kita harus bergerak cepat. Kalo kita bisa dapat bukti dan berita ini viral sebelum dia sempat melindungi dirinya, itu bisa jadi masalah besar buat Erik," Erwin menyusun strategi.
"Yes! Dan kita harus pastikan semua orang tahu tentang kekerasan yang dia lakukan. Gak peduli seberapa kuat posisinya," Juno menegaskan.
Mereka pun mengakhiri percakapan dengan saling berkomitmen untuk menjalankan rencana ini secepat mungkin. Juno tahu bahwa dia berada di jalur yang tepat untuk menghadapi Erik dan memberikan pelajaran berharga baginya.
"Ini bukan hanya soal gua. Erik kan anak polisi. Gua pengen dia tahu ada konsekuensi dari semua yang dia lakuin. Gua mau lo bantu viral-in perbuatannya," Juno mengungkapkan rencananya.
Erwin terdiam sejenak. "Viralin? Gimana maksud lo?"
"Gini. Kita harus ambil video sebagai bukti, terutama dari CCTV di minimarket kemarin. Setelah gua dipukul, Erik datang dan melabrak gua di sana. Itu adalah kesempatan kita untuk dapatkan rekaman yang menunjukkan semua yang terjadi. Gua sengaja membiarkan diri gua dipukuli tanpa gua melawan, karena kalau gua melawan, ini bakal jadi perkelahian, bukan penganiayaan." jelas Juno dengan penuh semangat.
"Berarti kita butuh bukti, kan? Lo udah punya?" Erwin bertanya.
"Belum ada, tapi gua bisa minta izin untuk lihat rekaman CCTV. Kalo kita dapat rekaman itu, kita bisa bikin berita di media sosial yang bikin dia malu. Dia gak bakal bisa menghindar dari itu, bahkan kalo dia anak polisi," jawab Juno.
"Kalau gitu, gua siap bantu. Kita butuh merencanakan semua ini dengan baik," Erwin setuju.
"Oke, gua bakal kontak anak-anak RBC. Mereka pasti akan mau bantu. Gua juga bisa minta tolong si Ivan untuk nyebarin info ini," kata Juno.
"Berarti kita harus bergerak cepat. Kalo kita bisa dapat bukti dan berita ini viral sebelum dia sempat melindungi dirinya, itu bisa jadi masalah besar buat Erik," Erwin menyusun strategi.
"Yes! Dan kita harus pastikan semua orang tahu tentang kekerasan yang dia lakukan. Gak peduli seberapa kuat posisinya," Juno menegaskan.
Mereka pun mengakhiri percakapan dengan saling berkomitmen untuk menjalankan rencana ini secepat mungkin. Juno tahu bahwa dia berada di jalur yang tepat untuk menghadapi Erik dan memberikan pelajaran berharga baginya.
Quote:
Keesokan harinya, Juno memutuskan untuk berkeliling di sekitar kampus, mencari orang-orang yang mungkin menjadi saksi kejadian kemarin. Beberapa teman dari RBC sudah mendengar tentang insiden tersebut dan bersedia untuk memberikan kesaksian.
"Juno, lo baik-baik aja?" tanya salah satu temannya, Dika, saat mereka bertemu.
"Enggak. Erik mukul gua, dan sekarang gua berencana untuk bikin dia ngerasain akibatnya," Juno menjawab tegas.
Dika mengangguk, "Kita dukung lo, Jun!"
"Thanks, Dik. Kita butuh semua saksi yang ada di situ. Yang penting, kita dapat bukti yang jelas. Lo bisa bantu gua ke minimarket dan minta akses ke CCTV?" tanya Juno.
"Dua jempol buat rencana lo, Juno. Ayo, kita ke minimarket sekarang!" Dika setuju.
Setelah mereka sampai di minimarket, Juno dan Dika berbicara dengan pemilik minimarket, menjelaskan situasi yang terjadi kemarin. Pemilik yang melihat betapa seriusnya situasi itu, akhirnya setuju untuk membiarkan mereka melihat rekaman CCTV.
Setelah beberapa menit menunggu, mereka bisa melihat rekaman yang jelas. Di layar, tampak Juno terlibat adu mulut dengan Erik sebelum Erik melayangkan pukulan. Juno merekam layar dengan ponselnya, memastikan bahwa bukti tersebut tidak hilang.
"Itu dia, kita bisa pakai ini!" Juno bersemangat. "Sekarang, kita harus segera unggah ke media sosial."
Dengan rekaman itu, mereka mengunggah video ke media sosial, dan dalam hitungan jam, video itu mulai viral. Banyak orang mulai berdiskusi dan mendukung Juno, membuat Erik terpojok. Juno merasa bahwa langkah ini adalah cara untuk membuat Erik sadar akan tindakan bodohnya.
Sementara itu, Erwin memantau perkembangan dan menyiapkan artikel untuk dipublikasikan. Dengan keterampilan jurnalisnya, dia tahu persis bagaimana cara menarik perhatian media dan publik.
Di sisi lain, Erik mendengar tentang video yang viral dan merasa terpojok. Dia menghubungi teman-teman di RBC untuk mencari cara menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Namun, semakin banyak orang yang mulai berbicara tentang kekerasannya, semakin besar tekanan yang ia rasakan.
"Juno harus dihentikan," Erik berbisik pada dirinya sendiri sambil meremas ponselnya. Dia tidak bisa membiarkan semua ini berlanjut, terutama dengan reputasinya sebagai anak polisi.
"Juno, lo baik-baik aja?" tanya salah satu temannya, Dika, saat mereka bertemu.
"Enggak. Erik mukul gua, dan sekarang gua berencana untuk bikin dia ngerasain akibatnya," Juno menjawab tegas.
Dika mengangguk, "Kita dukung lo, Jun!"
"Thanks, Dik. Kita butuh semua saksi yang ada di situ. Yang penting, kita dapat bukti yang jelas. Lo bisa bantu gua ke minimarket dan minta akses ke CCTV?" tanya Juno.
"Dua jempol buat rencana lo, Juno. Ayo, kita ke minimarket sekarang!" Dika setuju.
Setelah mereka sampai di minimarket, Juno dan Dika berbicara dengan pemilik minimarket, menjelaskan situasi yang terjadi kemarin. Pemilik yang melihat betapa seriusnya situasi itu, akhirnya setuju untuk membiarkan mereka melihat rekaman CCTV.
Setelah beberapa menit menunggu, mereka bisa melihat rekaman yang jelas. Di layar, tampak Juno terlibat adu mulut dengan Erik sebelum Erik melayangkan pukulan. Juno merekam layar dengan ponselnya, memastikan bahwa bukti tersebut tidak hilang.
"Itu dia, kita bisa pakai ini!" Juno bersemangat. "Sekarang, kita harus segera unggah ke media sosial."
Dengan rekaman itu, mereka mengunggah video ke media sosial, dan dalam hitungan jam, video itu mulai viral. Banyak orang mulai berdiskusi dan mendukung Juno, membuat Erik terpojok. Juno merasa bahwa langkah ini adalah cara untuk membuat Erik sadar akan tindakan bodohnya.
Sementara itu, Erwin memantau perkembangan dan menyiapkan artikel untuk dipublikasikan. Dengan keterampilan jurnalisnya, dia tahu persis bagaimana cara menarik perhatian media dan publik.
Di sisi lain, Erik mendengar tentang video yang viral dan merasa terpojok. Dia menghubungi teman-teman di RBC untuk mencari cara menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Namun, semakin banyak orang yang mulai berbicara tentang kekerasannya, semakin besar tekanan yang ia rasakan.
"Juno harus dihentikan," Erik berbisik pada dirinya sendiri sambil meremas ponselnya. Dia tidak bisa membiarkan semua ini berlanjut, terutama dengan reputasinya sebagai anak polisi.
Quote:
Beberapa hari setelah insiden di minimarket, Juno merasakan dampak dari tindakannya. Berita tentang Erik yang menyerang Juno menyebar dengan cepat, dan orang-orang mulai membicarakannya di berbagai platform media sosial. Namun, meskipun publik semakin mengetahui tindakan Erik, Juno tahu bahwa ini belum cukup. Ia perlu membuat rencana yang lebih matang untuk memastikan Erik tidak hanya mendapatkan konsekuensi sosial, tetapi juga memahami kesalahan yang telah dia buat.
Di sebuah kafe kecil di Bandung, Juno dan Erwin duduk berdiskusi. Mereka mengatur rencana untuk langkah selanjutnya.
"Jadi, apa rencananya, Jun?" tanya Erwin sambil menyeruput kopinya.
"Kita harus menunjukkan ke semua orang bahwa Erik tidak layak untuk dihormati, terutama karena dia menyalahgunakan statusnya sebagai anak polisi," Juno menjelaskan. "Tapi kita harus hati-hati. Jika kita membuatnya terlihat terlalu buruk, dia mungkin akan mencoba membalas."
"Jadi kita perlu mengumpulkan lebih banyak bukti? Mungkin dengan mencari saksi lain yang melihat kejadian itu?" saran Erwin.
"Benar. Selain itu, kita juga bisa mulai mendekati beberapa media yang lebih besar untuk membahas kasus ini. Kita perlu membuat cerita ini menjadi isu publik yang lebih besar," Juno melanjutkan.
Erwin mengangguk, "Kita juga bisa mengumpulkan dukungan dari teman-teman lain di komunitas kita. Jika mereka semua bersatu melawan Erik, dia tidak akan bisa menepis apa yang telah dia lakukan."
Setelah mereka mendiskusikan rencana tersebut, Juno memutuskan untuk menghubungi beberapa orang yang pernah menjadi korban tindakan kasar Erik sebelumnya. Dengan dukungan mereka, Juno berharap bisa membuat suara mereka didengar.
"Kita perlu membuktikan bahwa ini bukan hanya tentang kita. Ini tentang semua orang yang pernah diperlakukan buruk olehnya," Juno menjelaskan.
Beberapa hari kemudian, Juno mengumpulkan saksi-saksi dan teman-teman yang setuju untuk berbicara. Mereka semua berkumpul di sebuah tempat yang aman, di mana mereka bisa berbagi cerita tanpa rasa takut. Satu per satu, mereka menceritakan pengalaman mereka, dan Juno merekam semuanya.
Saat mereka selesai, Juno melihat kembali rekaman itu. "Ini akan menjadi senjata kita," katanya kepada kelompok tersebut. "Kita akan mengubahnya menjadi video dan membagikannya secara online."
Saksi-saksi itu setuju untuk membantu, dan mereka semua menyepakati untuk beraksi bersama. Juno merasa semangat baru mengalir dalam dirinya. Dia tahu bahwa dengan bersatu, mereka bisa membuat perubahan.
Juno kemudian menghubungi Erwin. "Win, kita siap. Gua sudah merekam semua cerita dari saksi-saksi. Sekarang kita tinggal edit dan rilis."
"Bagus! Gua akan mulai menghubungi beberapa jurnalis untuk meliput ini," Erwin menjawab.
Malam itu, mereka bekerja lembur untuk mengedit video. Setelah selesai, Juno mempostingnya di media sosial dengan caption yang mengajak orang lain untuk berbicara jika mereka juga pernah mengalami perlakuan yang sama.
Dalam waktu singkat, video itu mulai mendapatkan perhatian. Banyak orang mulai berbagi, dan komentar yang masuk tidak berhenti. Mereka semua menunjukkan dukungan untuk Juno dan semua korban lainnya.
Beberapa hari kemudian, sebuah stasiun berita lokal menghubungi Juno untuk melakukan wawancara. Juno tahu bahwa ini adalah kesempatan besar untuk menyuarakan masalah yang lebih luas tentang kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Saat Juno berdiri di depan kamera, ia merasakan sedikit ketegangan. Namun, ia tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menyampaikan pesan yang kuat.
"Kami tidak akan lagi tinggal diam. Kami ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa tidak peduli seberapa besar kekuasaan yang kamu miliki, tindakanmu tetap akan ada konsekuensinya," ucap Juno dengan percaya diri.
Wawancara itu segera menjadi viral. Juno dan semua korban lainnya akhirnya mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk memperjuangkan keadilan.
Di sisi lain, Erik mulai merasakan dampaknya. Dia terpojok oleh berita yang terus menerus beredar dan mulai kehilangan dukungan dari teman-temannya di RBC. Masyarakat mulai mempertanyakan perilakunya dan bagaimana dia memperlakukan orang lain.
Juno tahu bahwa ini adalah langkah awal, tetapi ia tidak bisa berhenti di sini. Ia dan Erwin sudah mempersiapkan rencana selanjutnya untuk memastikan Erik merasakan semua konsekuensi dari tindakannya.
Di sebuah kafe kecil di Bandung, Juno dan Erwin duduk berdiskusi. Mereka mengatur rencana untuk langkah selanjutnya.
"Jadi, apa rencananya, Jun?" tanya Erwin sambil menyeruput kopinya.
"Kita harus menunjukkan ke semua orang bahwa Erik tidak layak untuk dihormati, terutama karena dia menyalahgunakan statusnya sebagai anak polisi," Juno menjelaskan. "Tapi kita harus hati-hati. Jika kita membuatnya terlihat terlalu buruk, dia mungkin akan mencoba membalas."
"Jadi kita perlu mengumpulkan lebih banyak bukti? Mungkin dengan mencari saksi lain yang melihat kejadian itu?" saran Erwin.
"Benar. Selain itu, kita juga bisa mulai mendekati beberapa media yang lebih besar untuk membahas kasus ini. Kita perlu membuat cerita ini menjadi isu publik yang lebih besar," Juno melanjutkan.
Erwin mengangguk, "Kita juga bisa mengumpulkan dukungan dari teman-teman lain di komunitas kita. Jika mereka semua bersatu melawan Erik, dia tidak akan bisa menepis apa yang telah dia lakukan."
Setelah mereka mendiskusikan rencana tersebut, Juno memutuskan untuk menghubungi beberapa orang yang pernah menjadi korban tindakan kasar Erik sebelumnya. Dengan dukungan mereka, Juno berharap bisa membuat suara mereka didengar.
"Kita perlu membuktikan bahwa ini bukan hanya tentang kita. Ini tentang semua orang yang pernah diperlakukan buruk olehnya," Juno menjelaskan.
Beberapa hari kemudian, Juno mengumpulkan saksi-saksi dan teman-teman yang setuju untuk berbicara. Mereka semua berkumpul di sebuah tempat yang aman, di mana mereka bisa berbagi cerita tanpa rasa takut. Satu per satu, mereka menceritakan pengalaman mereka, dan Juno merekam semuanya.
Saat mereka selesai, Juno melihat kembali rekaman itu. "Ini akan menjadi senjata kita," katanya kepada kelompok tersebut. "Kita akan mengubahnya menjadi video dan membagikannya secara online."
Saksi-saksi itu setuju untuk membantu, dan mereka semua menyepakati untuk beraksi bersama. Juno merasa semangat baru mengalir dalam dirinya. Dia tahu bahwa dengan bersatu, mereka bisa membuat perubahan.
Juno kemudian menghubungi Erwin. "Win, kita siap. Gua sudah merekam semua cerita dari saksi-saksi. Sekarang kita tinggal edit dan rilis."
"Bagus! Gua akan mulai menghubungi beberapa jurnalis untuk meliput ini," Erwin menjawab.
Malam itu, mereka bekerja lembur untuk mengedit video. Setelah selesai, Juno mempostingnya di media sosial dengan caption yang mengajak orang lain untuk berbicara jika mereka juga pernah mengalami perlakuan yang sama.
Dalam waktu singkat, video itu mulai mendapatkan perhatian. Banyak orang mulai berbagi, dan komentar yang masuk tidak berhenti. Mereka semua menunjukkan dukungan untuk Juno dan semua korban lainnya.
Beberapa hari kemudian, sebuah stasiun berita lokal menghubungi Juno untuk melakukan wawancara. Juno tahu bahwa ini adalah kesempatan besar untuk menyuarakan masalah yang lebih luas tentang kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Saat Juno berdiri di depan kamera, ia merasakan sedikit ketegangan. Namun, ia tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menyampaikan pesan yang kuat.
"Kami tidak akan lagi tinggal diam. Kami ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa tidak peduli seberapa besar kekuasaan yang kamu miliki, tindakanmu tetap akan ada konsekuensinya," ucap Juno dengan percaya diri.
Wawancara itu segera menjadi viral. Juno dan semua korban lainnya akhirnya mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk memperjuangkan keadilan.
Di sisi lain, Erik mulai merasakan dampaknya. Dia terpojok oleh berita yang terus menerus beredar dan mulai kehilangan dukungan dari teman-temannya di RBC. Masyarakat mulai mempertanyakan perilakunya dan bagaimana dia memperlakukan orang lain.
Juno tahu bahwa ini adalah langkah awal, tetapi ia tidak bisa berhenti di sini. Ia dan Erwin sudah mempersiapkan rencana selanjutnya untuk memastikan Erik merasakan semua konsekuensi dari tindakannya.
Diubah oleh sofanzani 06-11-2024 16:49
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas