- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Horror - Gadis Kecil
...
TS
abangruli
Kisah Horror - Gadis Kecil

Prologue
Lelaki itu mengintip dari kegelapan. Sosok yang ia lihat sepertinya seorang remaja belia. Diperhatikan dengan seksama agar ia tidak salah sasaran. Remaja itu tampak sedang fly. Ia terduduk di sebuah batu nisan sambil memejamkan mata. Bibirnya terlihat bergerak gerak seolah sedang bicara, walau tak ada lawan bicara selain angin malam yang terasa menusuk. Tubuh kurusnya ditutupi dengan kaos hitam lusuh dengan celana jeans belel yang penuh robekan di bagian lutut. Secara bentuk tubuh dan berat badan sangat pas sesuai yang ia cari. Sehuah lintingan ganja tergeletak disamping. Fix lagi fly. Berarti aman, remaja kurus tersebut tak akan menyadari kehadirannya, pikir lelaki itu. Dengan melangkah tanpa suara, ia mendekat hingga jarak tersisa hanyalah selemparan batu.
Ia menarik nafas menyaksikan mangsa dihadapannya. Pikirannya mulai bekerja memenuhi benak. Segala pembenaran perlu ia lakukan karena sebentar lagi ia harus membunuh suara hatinya. Tanpa pembenaran ia akan merasa berdosa. Dengan pembenaran ia akan merasa waras. Baiklah. Kembali ia mengamati dan menyimpulkan. Kurus, gak terurus dan sepertinya calon sampah masyarakat. Tidak punya masa depan. Bahkan bisa jadi kalau menghilang pun kedua orangtuanya malah bersyukur. Menghilang pun berarti sama seperti ia membersihkan jalan dari sampah yang berserakan. Aku bukan membunuh seseorang, aku hanya akan melenyapkan seonggok sampah, pikir lelaki itu berulang kali.
Dilihatnya keadaan sekeliling. Pukul 02.15 dinihari di daerah pemakaman. Jauh dari pemukiman. Tak ada siapapun selain barisan nisan, aneka pohon Kamboja dan mungkin pocong. Itupun jika memang pocong itu ada. Tapi dirinya tak takut pada pocong. Ia lebih takut pujaan hatinya pergi meninggalkan dirinya. Cintanya yang begitu besar adalah alasan dia saat ini sedang berada disini.
Kembali dia memandang sekeliling. Setelah dipastikan aman dia kemudian melangkah mendekati remaja tadi sedekat mungkin. Berdiri dari belakang dan memperhatikan tengkuk abg itu.
Diambilnya sapu tangan tebal dari dalam saku celana. Tangan satunya mengambil botol kecil, membuka tutup dan dengan hati hati meneteskan beberapa tetes ke sapu tangan. Kemudian dalam hitungan detik dan kecepatan yang gesit, ia mendekap si abg, menutup hidung abg itu dengan sapu tangan. Dengan segenap tenaga ia menahan geleparan tubuh yang tak sempat meronta apalagi melawan. Hanya menggelepar sesaat setelah itu diam melunglai.
Pingsan sudah, pikir lelaki itu. Ia berdiri dan membiarkan tubuh si kurus jatuh tergeletak. Sekarang mulai bekerja ke bagian berikutnya. Tubuh kurus itu diikat tangan dan kaki. Mulutnya pun di sumpal kapas dan diberi lakban. Ia tak mau andai si kurus itu mendadak bangun, ia berteriak gak karuan. Setelah itu dimasukkan tubuh si kurus kedalam karung. Dilipat sedemikian rupa agar nanti di dalam mobil bisa ia masukkan ke dalam koper besar yang sudah ia bawa. Ia ada waktu satu hingga dua jam sebelum si kurus sadar. Sambil menarik nafas panjang ia memulai bagian yang menurutnya tersulit. Menggotong tubuh si kurus hingga ke tempat mobilnya berhenti. Huff sampai kapan aku sanggup kerja berat seperti ini? Pikir nya dengan nafas yang terengah engah...
***
Lelaki berusia 35 tahun membuka pintu kediamannya. Dengan cepat dimasukkan koper besar berwarna hitam ke dalam rumah. Pintu pun segera ia tutup kembali dan dikunci hingga dua kali. Akhirnya tiba juga ia dirumah. Ia membalikkan tubuhnya dan hampir kaget saat melihat sosok kecil yang cantik sudah berdiri dihadapannya.
"Kenapa kok lama banget? Aku laper.. " rajuknya khas anak abg. Usianya memang terlihat seperti anak smp mungkin sekitar 10, 11 atau 12. Entahlah. Tak ada yang tahu tepat usia anak itu.
"Iya sayang. Maaf ya. Tapi di daerah sini susah cari mangsa yang aman. Akhirnya aku terpaksa cari kuburan sana.." jawab lelaki itu sambil membaringkan koper. Dibuka resleting kopernya dan dikeluarkan karung hitam berlubang tadi. Si kecil itu menyaksikan Dengan seksama. Seperti anak kecil yang tak sabar melihat oleh oleh makanan apa yang dibawa oleh ayahnya.
"Tapi masih hidupkan? Kamu gak nyolong mayat kan??"
"Masih hiduplah.. ini sebentar lagi bangun kayaknya.."
"Hihi... baguslah. Makanan itu harus fresh biar sehat bagi tubuh.. jangan makan makanan yang basi.."
Lelaki itu hanya tersenyum masam mendengar becandaan si cantik. Ia menyeret tubuh si kurus ke arah kamar mandi diikuti langkah riang si gadis kecil di belakangnya. Benar saja dugaannya tadi, baru saja sampai di dalam kamar mandi si remaja kurus mulai membuka mata. Karena mulutnya tertutup rapat ia tak bisa mengeluarkan suara apapun. Matanya terlihat panik memandang sekeliling. Tubuhnya hendak meronta tapi terhalang ikatan kuat pada tangan dan kaki. Menjadikan si kurus bagai seonggok daging yang hidup. Mata si cantik berbinar memandangnya.
"Tuh udah bangun kan? Ya udah pintunya kamu tutup ya. Aku laper juga. Mau masak indomie aja. Kalau udah selesai, kamu mandi dulu sampai badan kamu bersih. Jangan sampe ada darah yang keluar dari kamar mandi.." tutur lelaki itu panjang lebar. Ia kemudian keluar dan menutup pintu kamar mandi. Meninggalkan si cantik beserta si remaja kurus di dalam sana. Dia melangkah ke dapur, mengambil panci dan dua bungkus mie instan. Tak lupa ditambah dengan sebutir telur dan tomat biar sehat. Sambil menunggu air mendidih ia menyalakan TV dan membiarkan suara siaran memenuhi ruangan. Bagaimana pun ia enggan mendengar erangan sakaratul maut yang biasanya tetap terdengar ke tengah rumah.
Habis makan ini, tugas terakhir masih menanti. Membersihkan kamar mandi dari genangan darah dan membuang jasad si kurus ke tempat aman. Huff.. terkadang aku sudah merasa lelah dengan semua ini, pikir lelaki itu. Tapi aroma mie instan goreng kemudian menyeruak dan menghibur penatnya diri. Ia menarik nafas panjang. Hmmm... betapa lezatmya mie ini. Ia pun mulai melahap. Sama seperti si cantik di dalam kamar mandi sana.
[Bersambung]
Diubah oleh abangruli 26-11-2024 12:23
teguhjepang9932 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
6.2K
398
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
abangruli
#51
Bab 11 - Nyanyian Sunyi
Bayu, Kenzie, Rafi, dan Bella—berjalan dengan hati-hati memasuki halaman rumah. Pagar yang terbuka memudahkan mereka masuk tanpa perlu menimbulkan suara.
Setibanya di depan rumah, mereka berhenti sejenak, memandang bangunan besar yang tampak kosong dan gelap. Semua jendela tertutup rapat, dan pintu kayunya terlihat lusuh. Lampu halaman tidak menyala, membuat suasana semakin mencekam.
"Ini kok kayak rumah kosong ya?" Bisik Bayu heran, "padahal kan harusnya kalo ada orang debunya gak seperti ini..."
Ketiga temannya tak ada yang menjawab. Mulai berpikir aneh aneh dengan keadaan yang mencekam.
"Kita gak niat masuk kan?" bisik Bella dengan suara bergetar.
"Kita cuma ngintip bentar. Rekam, terus pulang," jawab Kenzie, mencoba menyemangati dirinya sendiri dan yang lain.
Bayu mengeluarkan kameranya dan mulai merekam suasana rumah itu. "Kalau ada apa-apa, kita langsung kabur," katanya, mencoba menenangkan Bella yang terlihat sangat ketakutan.
Mereka mengintip ke dalam jendela. Gelap. Tapi dari keremangan cahaya mereka bisa melihat bahwa ruangan di dalam benar benar seperti rumah kosong yang berdebu dan kotor.
"Ini mah beneran rumah kosong.. jangan jangan Andre salah rumah..." kata Rafi. Ada sedkit rasa lega dihatinya. Kalau memang rumah ini kosong. Berarti mereka tak akan ketemu pembunuh berdarah dingin yang kata Andre suka makan jantung orang.
Secara iseng Rafi mencoba membuka pintu depan. Anehnya, pintu itu tidak terkunci. Pintu terbuka dengan suara berderit perlahan. Mereka saling berpandangan.
Bella menggeleng keras. Ia tahu bagaimana tatapan temannya yang lain adalah keinginan untuk masuk ke dalam.
"Rumah kosong Bella... ini rumah kosong.. kita masuk sebentar untuk ambil gambar.. siapa tahu viral..." desak Bayu.
"Iya.. Bell.. nanggung... kita masuk aja.. yang penting kita harus bareng terus.. jangan ada yang pergi sendiri.." rayu Rafi sambil memegang tangan Bella, "lagian tenaga kamu kan paling badak. Mana ada yang berani ganggu kamu..."
Ketiga temannya tertawa kecil. Bella menarik tangannya sambil merengut kesal. Heran pada kaum cowok yang selalu menganggap gampang segala hal. Menyepelekan segala hal.
Edannya lagi. Tanpa menunggu persetujuan Bella, Bayu mulai memasuki rumah diikuti kedua temannya, menyebabkan Bella dengan terpaksa ikut masuk. Begitu mereka masuk, keheningan menyelimuti ruangan. Hanya terdengar deru napas mereka yang tak beraturan. Karena yakin rumah itu adalah rumah tak berpenghuni, kini mereka tak segan untuk menyalakan lampu senter. Diarahkan cahayanya ke beberapa sudut ruangan. Memeriksa ada apa di dalam ruangan. Mendadak, lampu gantung di langit-langit bergoyang pelan, seolah-olah baru saja ada yang melewati ruang tersebut.
"Itu angin.." bisik Kenzie. Semua menangguk setuju walau tubuh mereka tak percaya pada alasan itu. Sebenarnya tak ada angin yang terasa.
Ruangan pertama adalah ruang tamu yang penuh dengan perabotan tua berdebu. Di sudut ruangan, ada sebuah cermin besar yang sudah kusam, dan di sampingnya, sebuah kursi goyang.
Rafi menelan ludah dan berbisik, "Damn.. kenapa harus ada kursi goyang sih? Kayak di film horror aja..."
Kenzie menyalakan senter kedua, mengarahkan cahayanya ke kursi goyang tersebut. Mereka siap kabur jika kursinya bergoyang sendiri. Mereka saling pandang dengan wajah tegang. Beberapa detik berlalu tanpa ada gerakan sedikitpun. Kursinya diam tak bergerak juga tak bergoyang. Aman. Tanpa sadar mereka menarik nafas lega..
Bayu, yang masih merekam, mengarahkan kameranya ke kursi goyang dan bergumam, "Sayang tuh kursi gak gerak.. coba gerak.. suasana horror gini bakal jadi video yang keren kalau ada sesuatu yang muncul."
Plak!
Bella memukul kepala Bayu karena kesal mendengar ucapan Bayu. Bayu tertawa pelan. Namun dalam hatinya, ia juga merasa tak nyaman dan berharap tak ada sesuatu apapun yang muncul. Bahkan ia yakin jika ada seekor tikus yang mendadak muncul saat ini pasti akan membuat dirinya lari terkencing kencing...
Mereka melangkah lebih dalam ke dalam rumah. Langkah kaki mereka menimbulkan suara decitan di lantai kayu yang tua. Setiap langkah yang mereka ambil terasa semakin menegangkan, seolah-olah ada yang memperhatikan mereka dari balik kegelapan. Berkali kali Kenzie memutar pandangan dan menyorotkan senter ke segala arah untuk memastikan semua aman.
"Hei, kalian dengar nggak?" tanya Bella tiba-tiba, suaranya pelan dan penuh ketakutan.
Yang lainnya berhenti dan mencoba mendengarkan. Awalnya, mereka hanya mendengar suara angin yang berhembus pelan. Tapi kemudian, suara pelan terdengar di kejauhan. Suara itu seperti nyanyian kecil, samar-samar, tetapi semakin lama semakin jelas.
"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter..."
Mereka semua terdiam, wajah mereka berubah pucat. Lagu itu, "Cublak-Cublak Suweng," adalah lagu tradisional Jawa yang biasa dinyanyikan anak-anak. Tetapi kali ini, dalam suasana yang gelap dan sunyi, nyanyian itu terdengar begitu menyeramkan. Suaranya seperti berasal dari seorang anak kecil yang menyanyikannya dengan pelan dan pelafalan yang aneh, seperti bisikan halus di telinga namun menyesak ke dalam jiwa mereka...
"Siapa yang nyanyi malem malem gini? Gak ada waktu laen apa?!" Bella berbisik ketakutan, menggenggam tangan Rafi erat-erat.
"Mambu ketundung gudhel
Pak Empong lerak-lerek
Sopo ngguyu ndelekakhe..."
Suara nyanyian makin jelas terdengar dengan suara yang semakin menyeramkan. Bella kini mulai histeris. Setiap lirik menjadikan ketakutannya memuncak.
"Kita harus keluar dari sini sekarang!" bisik Kenzie, nada suaranya mulai panik. Mereka semua sepakat untuk kabur. Dengan secepat kilat mereka berlari mencoba keluar rumah. Namun, ketika mereka berbalik menuju pintu keluar, mereka mendapati pintu yang tadi mereka masuki sudah tertutup rapat. Mereka mencoba membukanya, tetapi pintu itu terkunci, seolah-olah ada yang sengaja mengurung mereka.
"Anjrit! Tadi pintunya kebuka!" seru Rafi dengan suara gemetar. Berkali-kali diguncangnya pintu agar terbuka.
Mereka panik. Bayu mencoba tetap merekam meski tangannya bergetar hebat. "Cari jalan lain!"
Mereka memutuskan untuk mencari jalan lain, mungkin lewat jendela di ruangan lain. Mereka bergegas menuju ruang makan yang berantakan. Di meja, ada piring dan gelas yang masih tersisa, seperti ada yang baru saja makan di sana, namun semuanya berdebu. Bau anyir samar tercium di udara, membuat mereka merasa mual.
Di sudut ruangan, mereka melihat sebuah pintu menuju dapur. Mereka mencoba pintu itu, berharap menemukan jendela yang bisa mereka buka. Tetapi ketika mereka masuk ke dalam dapur, ruangan itu dingin dan gelap. Ada sesuatu yang aneh di dapur ini—seperti ada bayangan yang bergerak di balik jendela, tetapi ketika Kenzie menyorotkan senternya, tidak ada siapa pun di sana.
Tiba-tiba, Bayu merasa pundaknya dicengkram erat. Ia menoleh dan melihat Rafi, wajahnya tampak ketakutan. "Setan lu! Bikin gue kaget!", seru Bayu kesal, "Lu kenapa Rafi?"
Rafi menunjuk ke arah lantai dapur. Di sana, ada bekas tangan berwarna merah, seperti noda darah yang masih baru. Bekas tangan itu memanjang di lantai seakan ada yang mencoba melarikan diri atau diseret dan meninggalkan jejak.
"T*i.... Ayo cepetan cari jalan keluar dari sini!" Isak Bella sambil mulai menangis.
Mereka berlari kembali menuju ruangan tamu, berharap menemukan jalan keluar. Kini Bayu dengan penuh tenaga mencoba membuka pintu. "Ayo kita dobrak aja!", teriak Bayu pada temannya. Kenzie dan Rafi setuju. Mereka baru saja hendak menghancurkan pintu dengan segenap tenaga yang mereka miliki, namun mendadak suara nyanyian itu kembali terdengar, semakin keras dan dekat. Kali ini, suaranya terdengar jelas dan menakutkan, seperti anak kecil yang sedang bermain sambil bernyanyi di belakang mereka.
"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter..."
Suara itu terdengar tepat di belakang mereka. Seketika itu juga Bayu menoleh. Dan ia tercekat. Bayu tertegun, tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak. Rafi dan Kenzie melihat perubahan Bayu dan otomatis menoleh juga. Sorotan lampu lampu senter langsung terpaku pada satu titik di hadapan mereka. Sebuah pemandangan mengerikan mereka saksikan. Ternyata Bella sedang terduduk di lantai, pandangannya kosong dengan kulit yang memucat. Dari bibirnya yang terlihat kelabu, keluar suara melantunkan lagu yang barusan mereka dengar. Nadanya dilantunkan dengan begitu menyayat hati..
"Mambu ketundung gudhel
Pak Empong lerak-lerek
Sopo ngguyu ndelekakhe..."
Perlahan bibirnya mulai tersenyum, mata Bella mulai memutih dan berkata, "Ayo Bayu, Rafi... Kenzie... duduk disini.. main bareng aku yuk... temani aku main.."
Dan mendadak semua sumber cahaya mati. Cahaya dari senter dan ponsel mati semua. Kegelapan total menyelimuti ruangan. Suara gemuruh jantung segera bersahutan dengan teriakan ngeri para lelaki yang menyadari, bahwa ada maut dihadapan mereka.
[Bersambung]
Bayu, Kenzie, Rafi, dan Bella—berjalan dengan hati-hati memasuki halaman rumah. Pagar yang terbuka memudahkan mereka masuk tanpa perlu menimbulkan suara.
Setibanya di depan rumah, mereka berhenti sejenak, memandang bangunan besar yang tampak kosong dan gelap. Semua jendela tertutup rapat, dan pintu kayunya terlihat lusuh. Lampu halaman tidak menyala, membuat suasana semakin mencekam.
"Ini kok kayak rumah kosong ya?" Bisik Bayu heran, "padahal kan harusnya kalo ada orang debunya gak seperti ini..."
Ketiga temannya tak ada yang menjawab. Mulai berpikir aneh aneh dengan keadaan yang mencekam.
"Kita gak niat masuk kan?" bisik Bella dengan suara bergetar.
"Kita cuma ngintip bentar. Rekam, terus pulang," jawab Kenzie, mencoba menyemangati dirinya sendiri dan yang lain.
Bayu mengeluarkan kameranya dan mulai merekam suasana rumah itu. "Kalau ada apa-apa, kita langsung kabur," katanya, mencoba menenangkan Bella yang terlihat sangat ketakutan.
Mereka mengintip ke dalam jendela. Gelap. Tapi dari keremangan cahaya mereka bisa melihat bahwa ruangan di dalam benar benar seperti rumah kosong yang berdebu dan kotor.
"Ini mah beneran rumah kosong.. jangan jangan Andre salah rumah..." kata Rafi. Ada sedkit rasa lega dihatinya. Kalau memang rumah ini kosong. Berarti mereka tak akan ketemu pembunuh berdarah dingin yang kata Andre suka makan jantung orang.
Secara iseng Rafi mencoba membuka pintu depan. Anehnya, pintu itu tidak terkunci. Pintu terbuka dengan suara berderit perlahan. Mereka saling berpandangan.
Bella menggeleng keras. Ia tahu bagaimana tatapan temannya yang lain adalah keinginan untuk masuk ke dalam.
"Rumah kosong Bella... ini rumah kosong.. kita masuk sebentar untuk ambil gambar.. siapa tahu viral..." desak Bayu.
"Iya.. Bell.. nanggung... kita masuk aja.. yang penting kita harus bareng terus.. jangan ada yang pergi sendiri.." rayu Rafi sambil memegang tangan Bella, "lagian tenaga kamu kan paling badak. Mana ada yang berani ganggu kamu..."
Ketiga temannya tertawa kecil. Bella menarik tangannya sambil merengut kesal. Heran pada kaum cowok yang selalu menganggap gampang segala hal. Menyepelekan segala hal.
Edannya lagi. Tanpa menunggu persetujuan Bella, Bayu mulai memasuki rumah diikuti kedua temannya, menyebabkan Bella dengan terpaksa ikut masuk. Begitu mereka masuk, keheningan menyelimuti ruangan. Hanya terdengar deru napas mereka yang tak beraturan. Karena yakin rumah itu adalah rumah tak berpenghuni, kini mereka tak segan untuk menyalakan lampu senter. Diarahkan cahayanya ke beberapa sudut ruangan. Memeriksa ada apa di dalam ruangan. Mendadak, lampu gantung di langit-langit bergoyang pelan, seolah-olah baru saja ada yang melewati ruang tersebut.
"Itu angin.." bisik Kenzie. Semua menangguk setuju walau tubuh mereka tak percaya pada alasan itu. Sebenarnya tak ada angin yang terasa.
Ruangan pertama adalah ruang tamu yang penuh dengan perabotan tua berdebu. Di sudut ruangan, ada sebuah cermin besar yang sudah kusam, dan di sampingnya, sebuah kursi goyang.
Rafi menelan ludah dan berbisik, "Damn.. kenapa harus ada kursi goyang sih? Kayak di film horror aja..."
Kenzie menyalakan senter kedua, mengarahkan cahayanya ke kursi goyang tersebut. Mereka siap kabur jika kursinya bergoyang sendiri. Mereka saling pandang dengan wajah tegang. Beberapa detik berlalu tanpa ada gerakan sedikitpun. Kursinya diam tak bergerak juga tak bergoyang. Aman. Tanpa sadar mereka menarik nafas lega..
Bayu, yang masih merekam, mengarahkan kameranya ke kursi goyang dan bergumam, "Sayang tuh kursi gak gerak.. coba gerak.. suasana horror gini bakal jadi video yang keren kalau ada sesuatu yang muncul."
Plak!
Bella memukul kepala Bayu karena kesal mendengar ucapan Bayu. Bayu tertawa pelan. Namun dalam hatinya, ia juga merasa tak nyaman dan berharap tak ada sesuatu apapun yang muncul. Bahkan ia yakin jika ada seekor tikus yang mendadak muncul saat ini pasti akan membuat dirinya lari terkencing kencing...
Mereka melangkah lebih dalam ke dalam rumah. Langkah kaki mereka menimbulkan suara decitan di lantai kayu yang tua. Setiap langkah yang mereka ambil terasa semakin menegangkan, seolah-olah ada yang memperhatikan mereka dari balik kegelapan. Berkali kali Kenzie memutar pandangan dan menyorotkan senter ke segala arah untuk memastikan semua aman.
"Hei, kalian dengar nggak?" tanya Bella tiba-tiba, suaranya pelan dan penuh ketakutan.
Yang lainnya berhenti dan mencoba mendengarkan. Awalnya, mereka hanya mendengar suara angin yang berhembus pelan. Tapi kemudian, suara pelan terdengar di kejauhan. Suara itu seperti nyanyian kecil, samar-samar, tetapi semakin lama semakin jelas.
"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter..."
Mereka semua terdiam, wajah mereka berubah pucat. Lagu itu, "Cublak-Cublak Suweng," adalah lagu tradisional Jawa yang biasa dinyanyikan anak-anak. Tetapi kali ini, dalam suasana yang gelap dan sunyi, nyanyian itu terdengar begitu menyeramkan. Suaranya seperti berasal dari seorang anak kecil yang menyanyikannya dengan pelan dan pelafalan yang aneh, seperti bisikan halus di telinga namun menyesak ke dalam jiwa mereka...
"Siapa yang nyanyi malem malem gini? Gak ada waktu laen apa?!" Bella berbisik ketakutan, menggenggam tangan Rafi erat-erat.
"Mambu ketundung gudhel
Pak Empong lerak-lerek
Sopo ngguyu ndelekakhe..."
Suara nyanyian makin jelas terdengar dengan suara yang semakin menyeramkan. Bella kini mulai histeris. Setiap lirik menjadikan ketakutannya memuncak.
"Kita harus keluar dari sini sekarang!" bisik Kenzie, nada suaranya mulai panik. Mereka semua sepakat untuk kabur. Dengan secepat kilat mereka berlari mencoba keluar rumah. Namun, ketika mereka berbalik menuju pintu keluar, mereka mendapati pintu yang tadi mereka masuki sudah tertutup rapat. Mereka mencoba membukanya, tetapi pintu itu terkunci, seolah-olah ada yang sengaja mengurung mereka.
"Anjrit! Tadi pintunya kebuka!" seru Rafi dengan suara gemetar. Berkali-kali diguncangnya pintu agar terbuka.
Mereka panik. Bayu mencoba tetap merekam meski tangannya bergetar hebat. "Cari jalan lain!"
Mereka memutuskan untuk mencari jalan lain, mungkin lewat jendela di ruangan lain. Mereka bergegas menuju ruang makan yang berantakan. Di meja, ada piring dan gelas yang masih tersisa, seperti ada yang baru saja makan di sana, namun semuanya berdebu. Bau anyir samar tercium di udara, membuat mereka merasa mual.
Di sudut ruangan, mereka melihat sebuah pintu menuju dapur. Mereka mencoba pintu itu, berharap menemukan jendela yang bisa mereka buka. Tetapi ketika mereka masuk ke dalam dapur, ruangan itu dingin dan gelap. Ada sesuatu yang aneh di dapur ini—seperti ada bayangan yang bergerak di balik jendela, tetapi ketika Kenzie menyorotkan senternya, tidak ada siapa pun di sana.
Tiba-tiba, Bayu merasa pundaknya dicengkram erat. Ia menoleh dan melihat Rafi, wajahnya tampak ketakutan. "Setan lu! Bikin gue kaget!", seru Bayu kesal, "Lu kenapa Rafi?"
Rafi menunjuk ke arah lantai dapur. Di sana, ada bekas tangan berwarna merah, seperti noda darah yang masih baru. Bekas tangan itu memanjang di lantai seakan ada yang mencoba melarikan diri atau diseret dan meninggalkan jejak.
"T*i.... Ayo cepetan cari jalan keluar dari sini!" Isak Bella sambil mulai menangis.
Mereka berlari kembali menuju ruangan tamu, berharap menemukan jalan keluar. Kini Bayu dengan penuh tenaga mencoba membuka pintu. "Ayo kita dobrak aja!", teriak Bayu pada temannya. Kenzie dan Rafi setuju. Mereka baru saja hendak menghancurkan pintu dengan segenap tenaga yang mereka miliki, namun mendadak suara nyanyian itu kembali terdengar, semakin keras dan dekat. Kali ini, suaranya terdengar jelas dan menakutkan, seperti anak kecil yang sedang bermain sambil bernyanyi di belakang mereka.
"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter..."
Suara itu terdengar tepat di belakang mereka. Seketika itu juga Bayu menoleh. Dan ia tercekat. Bayu tertegun, tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak. Rafi dan Kenzie melihat perubahan Bayu dan otomatis menoleh juga. Sorotan lampu lampu senter langsung terpaku pada satu titik di hadapan mereka. Sebuah pemandangan mengerikan mereka saksikan. Ternyata Bella sedang terduduk di lantai, pandangannya kosong dengan kulit yang memucat. Dari bibirnya yang terlihat kelabu, keluar suara melantunkan lagu yang barusan mereka dengar. Nadanya dilantunkan dengan begitu menyayat hati..
"Mambu ketundung gudhel
Pak Empong lerak-lerek
Sopo ngguyu ndelekakhe..."
Perlahan bibirnya mulai tersenyum, mata Bella mulai memutih dan berkata, "Ayo Bayu, Rafi... Kenzie... duduk disini.. main bareng aku yuk... temani aku main.."
Dan mendadak semua sumber cahaya mati. Cahaya dari senter dan ponsel mati semua. Kegelapan total menyelimuti ruangan. Suara gemuruh jantung segera bersahutan dengan teriakan ngeri para lelaki yang menyadari, bahwa ada maut dihadapan mereka.
[Bersambung]
ardian76 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup