- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Horror - Gadis Kecil
...
TS
abangruli
Kisah Horror - Gadis Kecil

Prologue
Lelaki itu mengintip dari kegelapan. Sosok yang ia lihat sepertinya seorang remaja belia. Diperhatikan dengan seksama agar ia tidak salah sasaran. Remaja itu tampak sedang fly. Ia terduduk di sebuah batu nisan sambil memejamkan mata. Bibirnya terlihat bergerak gerak seolah sedang bicara, walau tak ada lawan bicara selain angin malam yang terasa menusuk. Tubuh kurusnya ditutupi dengan kaos hitam lusuh dengan celana jeans belel yang penuh robekan di bagian lutut. Secara bentuk tubuh dan berat badan sangat pas sesuai yang ia cari. Sehuah lintingan ganja tergeletak disamping. Fix lagi fly. Berarti aman, remaja kurus tersebut tak akan menyadari kehadirannya, pikir lelaki itu. Dengan melangkah tanpa suara, ia mendekat hingga jarak tersisa hanyalah selemparan batu.
Ia menarik nafas menyaksikan mangsa dihadapannya. Pikirannya mulai bekerja memenuhi benak. Segala pembenaran perlu ia lakukan karena sebentar lagi ia harus membunuh suara hatinya. Tanpa pembenaran ia akan merasa berdosa. Dengan pembenaran ia akan merasa waras. Baiklah. Kembali ia mengamati dan menyimpulkan. Kurus, gak terurus dan sepertinya calon sampah masyarakat. Tidak punya masa depan. Bahkan bisa jadi kalau menghilang pun kedua orangtuanya malah bersyukur. Menghilang pun berarti sama seperti ia membersihkan jalan dari sampah yang berserakan. Aku bukan membunuh seseorang, aku hanya akan melenyapkan seonggok sampah, pikir lelaki itu berulang kali.
Dilihatnya keadaan sekeliling. Pukul 02.15 dinihari di daerah pemakaman. Jauh dari pemukiman. Tak ada siapapun selain barisan nisan, aneka pohon Kamboja dan mungkin pocong. Itupun jika memang pocong itu ada. Tapi dirinya tak takut pada pocong. Ia lebih takut pujaan hatinya pergi meninggalkan dirinya. Cintanya yang begitu besar adalah alasan dia saat ini sedang berada disini.
Kembali dia memandang sekeliling. Setelah dipastikan aman dia kemudian melangkah mendekati remaja tadi sedekat mungkin. Berdiri dari belakang dan memperhatikan tengkuk abg itu.
Diambilnya sapu tangan tebal dari dalam saku celana. Tangan satunya mengambil botol kecil, membuka tutup dan dengan hati hati meneteskan beberapa tetes ke sapu tangan. Kemudian dalam hitungan detik dan kecepatan yang gesit, ia mendekap si abg, menutup hidung abg itu dengan sapu tangan. Dengan segenap tenaga ia menahan geleparan tubuh yang tak sempat meronta apalagi melawan. Hanya menggelepar sesaat setelah itu diam melunglai.
Pingsan sudah, pikir lelaki itu. Ia berdiri dan membiarkan tubuh si kurus jatuh tergeletak. Sekarang mulai bekerja ke bagian berikutnya. Tubuh kurus itu diikat tangan dan kaki. Mulutnya pun di sumpal kapas dan diberi lakban. Ia tak mau andai si kurus itu mendadak bangun, ia berteriak gak karuan. Setelah itu dimasukkan tubuh si kurus kedalam karung. Dilipat sedemikian rupa agar nanti di dalam mobil bisa ia masukkan ke dalam koper besar yang sudah ia bawa. Ia ada waktu satu hingga dua jam sebelum si kurus sadar. Sambil menarik nafas panjang ia memulai bagian yang menurutnya tersulit. Menggotong tubuh si kurus hingga ke tempat mobilnya berhenti. Huff sampai kapan aku sanggup kerja berat seperti ini? Pikir nya dengan nafas yang terengah engah...
***
Lelaki berusia 35 tahun membuka pintu kediamannya. Dengan cepat dimasukkan koper besar berwarna hitam ke dalam rumah. Pintu pun segera ia tutup kembali dan dikunci hingga dua kali. Akhirnya tiba juga ia dirumah. Ia membalikkan tubuhnya dan hampir kaget saat melihat sosok kecil yang cantik sudah berdiri dihadapannya.
"Kenapa kok lama banget? Aku laper.. " rajuknya khas anak abg. Usianya memang terlihat seperti anak smp mungkin sekitar 10, 11 atau 12. Entahlah. Tak ada yang tahu tepat usia anak itu.
"Iya sayang. Maaf ya. Tapi di daerah sini susah cari mangsa yang aman. Akhirnya aku terpaksa cari kuburan sana.." jawab lelaki itu sambil membaringkan koper. Dibuka resleting kopernya dan dikeluarkan karung hitam berlubang tadi. Si kecil itu menyaksikan Dengan seksama. Seperti anak kecil yang tak sabar melihat oleh oleh makanan apa yang dibawa oleh ayahnya.
"Tapi masih hidupkan? Kamu gak nyolong mayat kan??"
"Masih hiduplah.. ini sebentar lagi bangun kayaknya.."
"Hihi... baguslah. Makanan itu harus fresh biar sehat bagi tubuh.. jangan makan makanan yang basi.."
Lelaki itu hanya tersenyum masam mendengar becandaan si cantik. Ia menyeret tubuh si kurus ke arah kamar mandi diikuti langkah riang si gadis kecil di belakangnya. Benar saja dugaannya tadi, baru saja sampai di dalam kamar mandi si remaja kurus mulai membuka mata. Karena mulutnya tertutup rapat ia tak bisa mengeluarkan suara apapun. Matanya terlihat panik memandang sekeliling. Tubuhnya hendak meronta tapi terhalang ikatan kuat pada tangan dan kaki. Menjadikan si kurus bagai seonggok daging yang hidup. Mata si cantik berbinar memandangnya.
"Tuh udah bangun kan? Ya udah pintunya kamu tutup ya. Aku laper juga. Mau masak indomie aja. Kalau udah selesai, kamu mandi dulu sampai badan kamu bersih. Jangan sampe ada darah yang keluar dari kamar mandi.." tutur lelaki itu panjang lebar. Ia kemudian keluar dan menutup pintu kamar mandi. Meninggalkan si cantik beserta si remaja kurus di dalam sana. Dia melangkah ke dapur, mengambil panci dan dua bungkus mie instan. Tak lupa ditambah dengan sebutir telur dan tomat biar sehat. Sambil menunggu air mendidih ia menyalakan TV dan membiarkan suara siaran memenuhi ruangan. Bagaimana pun ia enggan mendengar erangan sakaratul maut yang biasanya tetap terdengar ke tengah rumah.
Habis makan ini, tugas terakhir masih menanti. Membersihkan kamar mandi dari genangan darah dan membuang jasad si kurus ke tempat aman. Huff.. terkadang aku sudah merasa lelah dengan semua ini, pikir lelaki itu. Tapi aroma mie instan goreng kemudian menyeruak dan menghibur penatnya diri. Ia menarik nafas panjang. Hmmm... betapa lezatmya mie ini. Ia pun mulai melahap. Sama seperti si cantik di dalam kamar mandi sana.
[Bersambung]
Diubah oleh abangruli 26-11-2024 12:23
teguhjepang9932 dan 26 lainnya memberi reputasi
27
6.2K
398
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
abangruli
#48
Bab 10 - Satu Demi Satu
Andre bergegas masuk ke dalam mobil. Ia tak sudi untuk berlama-lama diluar. Tak lupa dengan sigap dikunci pintu. Krek. Secara otomatis keempat pintu mobil terkunci. Andre menarik nafas lega.Suara deru halus terdengar saat mesin ia nyatalakan. Selain untuk menyalakan pendingin udara, ia juga berniat langsung kabur jika terjadi hal hal di luar nalar. Ia memandang ke sekeliling dalam mobil, memastikan tidak ada penyusup gila yang masuk ke dalam. Aman, mobilnya sepi selain dirinya sendiri. Walau begitu tangannya sedikit gemetar saat mengambil ponsel dari saku celana.
Beberapa kali ia mencoba menenangkan diri, mengatur napas agar lebih stabil. "Tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Kaca jendela mobil yang sedikit berembun karena pendingin udara terus menderu dengan lembut di dalam kabin. Di luar, jalanan malam tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain suara jangkrik yang samar terdengar dari kejauhan. Edan, kenapa malam ini malah sepi banget, rutuk Andre. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang akhirnya Andre mulai merasa tenang.
Namun, ketenangan Andre tidak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela sampingnya. Tok, tok, tok.
Andre tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. Dia memutar kepalanya ke arah suara, dan dilihatnya seorang pria berseragam berdiri di luar mobilnya. Cahaya dari lampu jalan memantul pada badge di dada seragam pria itu—seorang petugas keamanan.
Andre ragu sejenak. Dengan tangan gemetar, ia membuka sedikit kaca jendela, cukup untuk berbicara. Udara dingin dari luar masuk, menyapu wajahnya.
"Maaf, Mas. Kamu baik-baik saja?" tanya petugas itu dengan suara tenang namun sedikit dingin. Wajahnya tak terlalu jelas dalam cahaya remang-remang.
Andre berusaha menenangkan diri. "I-iya, saya baik-baik saja," jawabnya, meski nadanya terdengar goyah.
Petugas itu mengangguk pelan, matanya mengamati Andre dengan teliti. "Tadi saya lihat kamu masuk mobil dengan tergesa-gesa. Ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya lagi.
Andre menelan ludah, berusaha menguasai dirinya. "Tidak... tidak ada apa-apa. Saya hanya merasa agak... cemas. Mungkin hanya kecapekan."
Petugas itu tersenyum tipis, tetapi senyumnya terasa aneh bagi Andre—terlalu kaku, seperti topeng. "Baiklah, yang penting kamu aman," katanya sambil menggeser sedikit tubuhnya, seolah ingin melihat ke dalam mobil lebih jelas. "Tapi sebaiknya jangan terlalu lama di sini, Mas. Malam-malam seperti ini, suasananya sering... tak terduga."
Andre merasakan sesuatu yang aneh. Ada yang tidak beres dengan petugas ini, tetapi ia tidak bisa mengerti apa itu. "Terima kasih, Pak," ucapnya buru-buru. "Saya juga memang mau segera pulang..." Andre merasa takut, ia ingin segera kabur meninggalkan temannya yang lain.
Tiba-tiba, petugas itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke jendela yang terbuka sedikit, hingga wajahnya hampir menempel di kaca. Seketika Andre terkejut, ingin menjauh tapi terhalang oleh kursi yang sempit.
"Apa Kamu benar-benar sendirian di sini?" tanya petugas itu dengan suara yang lebih rendah, nyaris seperti berbisik.
Andre merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang sangat salah dengan cara petugas ini berbicara. Dia merasakan hawa dingin yang tak biasa merayap di sepanjang tubuhnya. Sebelum sempat menjawab, petugas itu mengetuk kaca sekali lagi—lebih keras kali ini. Tok! Tok!
Andre menoleh ke arah suara, dan seketika jantungnya berdegup kencang.
Wajah petugas itu telah berubah. Kulitnya yang tadi tampak normal kini berwarna kelabu pucat. Matanya tidak lagi bersinar hidup, melainkan kosong, hitam pekat seperti lubang tanpa dasar. Bibirnya menyunggingkan senyum yang lebih lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia.
Andre terdiam, tertegun dalam ketakutan. Suara petugas itu kembali terdengar, namun kini semakin aneh, seperti berasal dari dalam pikirannya sendiri. "Kau tak sendirian di sini, Andre..."
Andre terengah-engah, tubuhnya mulai gemetar hebat. Bagaimana orang ini tahu namanya?
Anjrit!!!
Dia pasti bukan orang!!!
Pikirannya kacau balau, berusaha mencari jalan keluar. Jari-jarinya mencoba meraih tombol untuk menaikkan jendela, tetapi tangannya terlalu kaku, tidak bisa bergerak dengan baik.
"Siapa kamu?!" Andre akhirnya berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan.
Senyuman di wajah petugas itu semakin menyeramkan. "Aku sudah lama di sini. Sangat lama..." Suaranya berdesis, dan tiba-tiba tubuhnya menembus kaca jendela, seperti asap yang merembes ke dalam kabin mobil.
Andre menjerit, mencoba membuka pintu untuk melarikan diri, tetapi tubuhnya terasa lumpuh. Petugas itu—atau apapun makhluk itu—kini berada di sampingnya, wajahnya begitu dekat hingga Andre bisa merasakan hawa dingin yang memancar darinya.
"Tidak ada gunanya, Andre. Kau sudah ada di wilayahku," desisnya pelan, mengulur tangan yang tampak menghitam dan menua, mendekati wajah Andre.
Sekuat tenaga Andre mencoba bergerak, tetapi tubuhnya seperti terkunci. Pandangannya mulai kabur, suara di telinganya semakin menjauh, dan akhirnya semuanya menjadi gelap.
***
Andre terbangun dengan napas tersengal-sengal. Dadanya naik turun, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia mendapati dirinya masih duduk di kursi pengemudi, mesin mobil masih menyala, dan pendingin udara masih berhembus lembut. Kaca jendela tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda bekas ketukan atau apapun.
Sekilas ia melihat jam di dashboard—hanya berselang beberapa menit sejak ia pertama kali duduk di mobil tadi. Tidak mungkin! Pikir Andre panik. Semua kejadian tadi terasa begitu nyata, tetapi kini tidak ada jejak apapun. Hanya suara mesin mobil yang terdengar, serta keheningan malam di luar sana.
Andre meremas setir mobil, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Apakah tadi hanya mimpi buruk? Atau… apakah yang baru saja terjadi adalah sesuatu yang lebih dari sekadar mimpi?
Perlahan ia menyalakan ponselnya, dan membuka aplikasi pesan, berniat menghubungi Bella untuk menanyakan kabar mereka. Namun sebelum sempat mengetik, ponselnya mati tiba-tiba. Andre mengerutkan kening, mencoba menghidupkannya kembali, tapi tak ada respons. Ponsel itu mati total.
Dari sudut matanya, Andre merasakan sesuatu. Ia menoleh perlahan ke arah kaca spion.
Di sana, di kursi belakang, sesosok gadis kecil duduk dengan tenang, menatapnya melalui pantulan di kaca spion. Mata hitam pekat itu kembali muncul, disertai dengan senyum yang menyeringai. Itu gadis yang ia lihat!
"Kita belum selesai, Andre..."
Andre menjerit, berusaha keluar dari mobil, tetapi pintu tidak bisa dibuka. Kunci otomatis seakan terkunci dari luar. Tangan Andre gemetar hebat, dadanya sesak. Ia menekan tombol apa saja yang ada di dashboard, namun tidak ada yang berfungsi.
Sosok di kursi belakang semakin mendekat, mendesak Andre dalam ketakutan luar biasa. Wajahnya semakin jelas dalam cermin spion, kulit kelabu pucat dengan senyum yang semakin lebar.
"Andre... kau milikku sekarang..." suara itu menggema di telinga Andre, seperti desisan lembut namun mematikan.
Pada detik itu, segalanya tiba-tiba gelap gulita. Andre merasa tubuhnya terhempas ke dalam kekosongan, seperti jatuh ke dalam jurang tanpa dasar.
***
Gadis kecil itu tertawa geli... malam masih cukup panjang untuk menikmati semuanya satu demi satu....
[Bersambung]
Andre bergegas masuk ke dalam mobil. Ia tak sudi untuk berlama-lama diluar. Tak lupa dengan sigap dikunci pintu. Krek. Secara otomatis keempat pintu mobil terkunci. Andre menarik nafas lega.Suara deru halus terdengar saat mesin ia nyatalakan. Selain untuk menyalakan pendingin udara, ia juga berniat langsung kabur jika terjadi hal hal di luar nalar. Ia memandang ke sekeliling dalam mobil, memastikan tidak ada penyusup gila yang masuk ke dalam. Aman, mobilnya sepi selain dirinya sendiri. Walau begitu tangannya sedikit gemetar saat mengambil ponsel dari saku celana.
Beberapa kali ia mencoba menenangkan diri, mengatur napas agar lebih stabil. "Tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Kaca jendela mobil yang sedikit berembun karena pendingin udara terus menderu dengan lembut di dalam kabin. Di luar, jalanan malam tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain suara jangkrik yang samar terdengar dari kejauhan. Edan, kenapa malam ini malah sepi banget, rutuk Andre. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang akhirnya Andre mulai merasa tenang.
Namun, ketenangan Andre tidak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela sampingnya. Tok, tok, tok.
Andre tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. Dia memutar kepalanya ke arah suara, dan dilihatnya seorang pria berseragam berdiri di luar mobilnya. Cahaya dari lampu jalan memantul pada badge di dada seragam pria itu—seorang petugas keamanan.
Andre ragu sejenak. Dengan tangan gemetar, ia membuka sedikit kaca jendela, cukup untuk berbicara. Udara dingin dari luar masuk, menyapu wajahnya.
"Maaf, Mas. Kamu baik-baik saja?" tanya petugas itu dengan suara tenang namun sedikit dingin. Wajahnya tak terlalu jelas dalam cahaya remang-remang.
Andre berusaha menenangkan diri. "I-iya, saya baik-baik saja," jawabnya, meski nadanya terdengar goyah.
Petugas itu mengangguk pelan, matanya mengamati Andre dengan teliti. "Tadi saya lihat kamu masuk mobil dengan tergesa-gesa. Ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya lagi.
Andre menelan ludah, berusaha menguasai dirinya. "Tidak... tidak ada apa-apa. Saya hanya merasa agak... cemas. Mungkin hanya kecapekan."
Petugas itu tersenyum tipis, tetapi senyumnya terasa aneh bagi Andre—terlalu kaku, seperti topeng. "Baiklah, yang penting kamu aman," katanya sambil menggeser sedikit tubuhnya, seolah ingin melihat ke dalam mobil lebih jelas. "Tapi sebaiknya jangan terlalu lama di sini, Mas. Malam-malam seperti ini, suasananya sering... tak terduga."
Andre merasakan sesuatu yang aneh. Ada yang tidak beres dengan petugas ini, tetapi ia tidak bisa mengerti apa itu. "Terima kasih, Pak," ucapnya buru-buru. "Saya juga memang mau segera pulang..." Andre merasa takut, ia ingin segera kabur meninggalkan temannya yang lain.
Tiba-tiba, petugas itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke jendela yang terbuka sedikit, hingga wajahnya hampir menempel di kaca. Seketika Andre terkejut, ingin menjauh tapi terhalang oleh kursi yang sempit.
"Apa Kamu benar-benar sendirian di sini?" tanya petugas itu dengan suara yang lebih rendah, nyaris seperti berbisik.
Andre merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang sangat salah dengan cara petugas ini berbicara. Dia merasakan hawa dingin yang tak biasa merayap di sepanjang tubuhnya. Sebelum sempat menjawab, petugas itu mengetuk kaca sekali lagi—lebih keras kali ini. Tok! Tok!
Andre menoleh ke arah suara, dan seketika jantungnya berdegup kencang.
Wajah petugas itu telah berubah. Kulitnya yang tadi tampak normal kini berwarna kelabu pucat. Matanya tidak lagi bersinar hidup, melainkan kosong, hitam pekat seperti lubang tanpa dasar. Bibirnya menyunggingkan senyum yang lebih lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia.
Andre terdiam, tertegun dalam ketakutan. Suara petugas itu kembali terdengar, namun kini semakin aneh, seperti berasal dari dalam pikirannya sendiri. "Kau tak sendirian di sini, Andre..."
Andre terengah-engah, tubuhnya mulai gemetar hebat. Bagaimana orang ini tahu namanya?
Anjrit!!!
Dia pasti bukan orang!!!
Pikirannya kacau balau, berusaha mencari jalan keluar. Jari-jarinya mencoba meraih tombol untuk menaikkan jendela, tetapi tangannya terlalu kaku, tidak bisa bergerak dengan baik.
"Siapa kamu?!" Andre akhirnya berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan.
Senyuman di wajah petugas itu semakin menyeramkan. "Aku sudah lama di sini. Sangat lama..." Suaranya berdesis, dan tiba-tiba tubuhnya menembus kaca jendela, seperti asap yang merembes ke dalam kabin mobil.
Andre menjerit, mencoba membuka pintu untuk melarikan diri, tetapi tubuhnya terasa lumpuh. Petugas itu—atau apapun makhluk itu—kini berada di sampingnya, wajahnya begitu dekat hingga Andre bisa merasakan hawa dingin yang memancar darinya.
"Tidak ada gunanya, Andre. Kau sudah ada di wilayahku," desisnya pelan, mengulur tangan yang tampak menghitam dan menua, mendekati wajah Andre.
Sekuat tenaga Andre mencoba bergerak, tetapi tubuhnya seperti terkunci. Pandangannya mulai kabur, suara di telinganya semakin menjauh, dan akhirnya semuanya menjadi gelap.
***
Andre terbangun dengan napas tersengal-sengal. Dadanya naik turun, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia mendapati dirinya masih duduk di kursi pengemudi, mesin mobil masih menyala, dan pendingin udara masih berhembus lembut. Kaca jendela tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda bekas ketukan atau apapun.
Sekilas ia melihat jam di dashboard—hanya berselang beberapa menit sejak ia pertama kali duduk di mobil tadi. Tidak mungkin! Pikir Andre panik. Semua kejadian tadi terasa begitu nyata, tetapi kini tidak ada jejak apapun. Hanya suara mesin mobil yang terdengar, serta keheningan malam di luar sana.
Andre meremas setir mobil, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Apakah tadi hanya mimpi buruk? Atau… apakah yang baru saja terjadi adalah sesuatu yang lebih dari sekadar mimpi?
Perlahan ia menyalakan ponselnya, dan membuka aplikasi pesan, berniat menghubungi Bella untuk menanyakan kabar mereka. Namun sebelum sempat mengetik, ponselnya mati tiba-tiba. Andre mengerutkan kening, mencoba menghidupkannya kembali, tapi tak ada respons. Ponsel itu mati total.
Dari sudut matanya, Andre merasakan sesuatu. Ia menoleh perlahan ke arah kaca spion.
Di sana, di kursi belakang, sesosok gadis kecil duduk dengan tenang, menatapnya melalui pantulan di kaca spion. Mata hitam pekat itu kembali muncul, disertai dengan senyum yang menyeringai. Itu gadis yang ia lihat!
"Kita belum selesai, Andre..."
Andre menjerit, berusaha keluar dari mobil, tetapi pintu tidak bisa dibuka. Kunci otomatis seakan terkunci dari luar. Tangan Andre gemetar hebat, dadanya sesak. Ia menekan tombol apa saja yang ada di dashboard, namun tidak ada yang berfungsi.
Sosok di kursi belakang semakin mendekat, mendesak Andre dalam ketakutan luar biasa. Wajahnya semakin jelas dalam cermin spion, kulit kelabu pucat dengan senyum yang semakin lebar.
"Andre... kau milikku sekarang..." suara itu menggema di telinga Andre, seperti desisan lembut namun mematikan.
Pada detik itu, segalanya tiba-tiba gelap gulita. Andre merasa tubuhnya terhempas ke dalam kekosongan, seperti jatuh ke dalam jurang tanpa dasar.
***
Gadis kecil itu tertawa geli... malam masih cukup panjang untuk menikmati semuanya satu demi satu....
[Bersambung]
Diubah oleh abangruli 25-10-2024 18:36
gokil4ever dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Tutup