- Beranda
- The Lounge
Cara Menghentikan Kebiasaan Menjadi People Pleaser
...
TS
penyukabiru
Cara Menghentikan Kebiasaan Menjadi People Pleaser

Pernah nggak, sih, ngerasa selalu pengen bikin orang lain senang sampai lupa sama keinginan dan kebutuhan diri sendiri? Atau setuju sama pendapat orang lain walaupun sebenarnya nggak setuju? Kalau iya, bisa jadi kamu adalah seorang **people pleaser**. Di thread ini, kita akan bahas lebih dalam tentang people pleaser, ciri-cirinya, kenapa mereka cenderung kayak gitu, dan bagaimana cara berhenti jadi people pleaser.
Apa itu People Pleaser?
People pleaser adalah orang yang selalu berusaha membuat orang lain senang, bahkan sampai mengorbankan diri mereka sendiri. Mereka cenderung menomorduakan kebutuhan atau pendapatnya demi menghindari konflik, mendapatkan penerimaan, atau menjaga hubungan baik. Ini bukan cuma sekadar bersikap baik, tapi lebih ke kecenderungan berlebihan untuk nggak bilang "tidak" atau selalu setuju sama orang lain.
Ciri-Ciri People Pleaser
- **Sulit menolak permintaan orang lain:** Kalau kamu susah banget bilang "tidak," bahkan kalau itu bikin kamu kerepotan atau nggak nyaman, ini bisa jadi tanda utama kamu adalah people pleaser.

- **Takut mengecewakan orang lain:** Kamu merasa cemas kalau orang lain kecewa atau marah sama kamu, jadi kamu selalu berusaha menyenangkan mereka.

- **Menghindari konflik:** Kamu lebih memilih mengalah atau diam daripada berdebat atau berkonfrontasi.
Konten Sensitif
- **Butuh validasi dari orang lain:** Kesejahteraan emosionalmu seringkali tergantung dari penerimaan orang lain. Kamu merasa senang atau tenang hanya jika orang lain setuju atau puas denganmu.

- **Mengorbankan diri sendiri:** Kamu sering mengesampingkan kebutuhan, keinginan, bahkan batasan dirimu hanya demi menyenangkan orang lain.


Penyebab People Pleaser
Ada beberapa alasan kenapa seseorang bisa menjadi people pleaser, di antaranya:
Ada beberapa alasan kenapa seseorang bisa menjadi people pleaser, di antaranya:
- **Masa kecil yang penuh tuntutan:** Anak yang tumbuh di lingkungan yang penuh ekspektasi, di mana mereka hanya dihargai ketika bisa memenuhi keinginan orang tua atau orang dewasa lainnya, seringkali membawa pola ini hingga dewasa.
- **Pengalaman trauma atau penolakan:** Seseorang yang pernah mengalami penolakan atau perlakuan buruk cenderung berusaha keras mendapatkan penerimaan, sebagai cara untuk merasa aman atau berharga.
- **Rasa kurang percaya diri:** People pleaser sering kali memiliki masalah dengan self-esteem, di mana mereka merasa nilai diri mereka ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan mereka.
Dampak Negatif Jadi People Pleaser
Jadi people pleaser kelihatannya bikin semua orang senang, tapi dampaknya terhadap diri sendiri bisa serius:
Jadi people pleaser kelihatannya bikin semua orang senang, tapi dampaknya terhadap diri sendiri bisa serius:
- **Kehilangan jati diri:** Terlalu sering mengikuti keinginan orang lain bisa bikin kamu kehilangan kontak dengan apa yang sebenarnya kamu mau.
- **Kelelahan emosional:** Terus-menerus memenuhi ekspektasi orang lain bisa bikin kamu lelah secara mental dan emosional.
- **Rasa dendam yang terpendam:** Sering mengorbankan diri sendiri bisa bikin kamu merasa tidak dihargai dan akhirnya memendam kebencian pada orang-orang yang kamu coba senangkan.
Bagaimana Berhenti Jadi People Pleaser
1. **Belajar bilang "tidak":** Ini hal yang paling penting. Mulailah dengan menolak hal-hal kecil yang nggak benar-benar penting bagi kamu. Semakin sering kamu bilang "tidak," semakin nyaman kamu melakukannya.
2. **Pahami bahwa kamu nggak bisa menyenangkan semua orang:** Sadari bahwa nggak semua orang akan selalu suka sama keputusan atau tindakanmu, dan itu nggak apa-apa.
3. **Fokus pada kebutuhan dan prioritas diri sendiri:** Tanyakan ke diri sendiri, "Apa yang sebenarnya aku butuhkan?" sebelum setuju untuk melakukan sesuatu.
4. **Tingkatkan self-esteem:** Cobalah untuk menghargai dirimu sendiri tanpa bergantung pada pendapat orang lain. Bangun kepercayaan diri dan buat batasan yang sehat.
5. **Latih assertiveness:** Belajar bagaimana menyatakan pendapat dan kebutuhanmu dengan tegas tapi tetap sopan. Assertiveness membantu kamu menjaga hubungan tanpa harus mengorbankan diri sendiri.
Jadi, people pleaser mungkin terlihat kayak solusi jangka pendek yang bikin semua orang senang, tapi pada akhirnya, itu bisa bikin kamu kehilangan diri sendiri dan merasa kosong. Mulailah belajar untuk menempatkan dirimu sendiri sebagai prioritas. Ingat, menjaga diri sendiri bukan berarti egois—itu adalah bentuk cinta dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Inspired by adjiesantosoputro
muchnur321571 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
779
15
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.2KAnggota
Tampilkan semua post
adri141
#3
Share pengalaman gan,
Dulu saya banget ini, sampe dihadepin sama 1 manusia ga tau malu.
Mungkin kita baik sekali dua kali ga masalah, yang penting ikhlas aj membantu. Sampe akhirnya bantuan ane jadi kewajiban buat bantu dia. Seolah2 ane jadi inang parasit. Parasitnya dia. Selama 4 tahun setiap hari ketemu dan ane cuma tahan dan sabar. Nah masalahnya dia umur 20 tahun diatas ane dan senior. Komunikasi sosialnya bagus banget, humble banget, itu ke orang lain yg gatau klo kerja bareng gmn rasanya. Dengan komunikasinya yg gitu, dikit2 kadang nglakuin aksi liciknya. 4 tahun lebih ane bareng dan gitu polanya.
Kalo ketahuan kelicikannya, pasti bakal dipepet terus dan ngomongin sesuatu hal yg disuka korban kelicikannya itu. Dan kebanyakan korban yg dimanfaatin itu jadi lupa.
Sampe akhirnya ketergantungan dan ga kerasa emosi ane tergerus. Mau marah susah ke org yg tua, disindir bolak balik ga kerasa, bibit2 benci dan dendam jadi muncul. Ini yg ane takutin dari diri. Gatau kapan bisa meledak. Akhirnya ane membatasi diri, jaga jarak dan pelan2 nolakin. Harus punya prinsip dan ketegasan. Jadi orang bener, jangan jadi orang baik. Klo ketemu orang sama2 baik gapapa, pasti klo ga imbang salah 1 ngrasa gaenak, jadi gantian. Kalo enggak? Dimanfaatin habis2an dan kyk ane bilang diatas, jd kewajiban bantu.
Ini pengalaman ane awal2 masuk dunia kerja.
Bikin geleng2 ketemu orang dengan karakter dan sifat kyk gini.
Dulu saya banget ini, sampe dihadepin sama 1 manusia ga tau malu.
Mungkin kita baik sekali dua kali ga masalah, yang penting ikhlas aj membantu. Sampe akhirnya bantuan ane jadi kewajiban buat bantu dia. Seolah2 ane jadi inang parasit. Parasitnya dia. Selama 4 tahun setiap hari ketemu dan ane cuma tahan dan sabar. Nah masalahnya dia umur 20 tahun diatas ane dan senior. Komunikasi sosialnya bagus banget, humble banget, itu ke orang lain yg gatau klo kerja bareng gmn rasanya. Dengan komunikasinya yg gitu, dikit2 kadang nglakuin aksi liciknya. 4 tahun lebih ane bareng dan gitu polanya.
Kalo ketahuan kelicikannya, pasti bakal dipepet terus dan ngomongin sesuatu hal yg disuka korban kelicikannya itu. Dan kebanyakan korban yg dimanfaatin itu jadi lupa.
Sampe akhirnya ketergantungan dan ga kerasa emosi ane tergerus. Mau marah susah ke org yg tua, disindir bolak balik ga kerasa, bibit2 benci dan dendam jadi muncul. Ini yg ane takutin dari diri. Gatau kapan bisa meledak. Akhirnya ane membatasi diri, jaga jarak dan pelan2 nolakin. Harus punya prinsip dan ketegasan. Jadi orang bener, jangan jadi orang baik. Klo ketemu orang sama2 baik gapapa, pasti klo ga imbang salah 1 ngrasa gaenak, jadi gantian. Kalo enggak? Dimanfaatin habis2an dan kyk ane bilang diatas, jd kewajiban bantu.
Ini pengalaman ane awal2 masuk dunia kerja.
Bikin geleng2 ketemu orang dengan karakter dan sifat kyk gini.
muwe dan penyukabiru memberi reputasi
2
Tutup