- Beranda
- Stories from the Heart
Rumah Terbengkalai (True Story)
...
TS
wedi
Rumah Terbengkalai (True Story)

#The Winner Writer II Horor
#Hot Genre Horor No 3.
#Top Catagori Novel Horor No 2.
#On Kaskus: HT ...

Hai, Readers.
Saya punya cerita yang mungkin menarik untuk kalian baca, kisah ini saya angkat dari kejadian nyata yang saya alami sendiri.
Quote:
Quote:
Cerita Lainnya: Audio Versi:
1. Ekspedisi Arkeologi - Kutukan Desa Mola-Mola
1. Ekspedisi Arkeologi - Kutukan Desa Mola-Mola
Spoiler for Temukan Athor di Sosial Media:
Spoiler for Link Donasi Gan:
Quote:
Dana: 081585512078
Spoiler for Fizzo Novel::
Buat yang mau baca Novel author lainnya bisa ke sini: Nama Pena: D. Eyzha_HR.Di sana bisa tanpa baca alias ada fitur audio baca.
Sebelumnya saya minta maaf jika ada:
-Kesalahan dalam Post saya
-Update ceritanya lama.
-Saltik atau Typo karena cerita belum sempat di Revisi ulang.
Quote:
Untuk Versi REVISI DAN TERUPDATE bisa cek di sini: Mangatoon - Rumah Terbengkalai True Story
Quote:
- WARNING -
Dimohon kerjasamanya bagi siapapun yang sudah tahu menahu tentang lokasi di cerita ini untuk tetap MERAHASIAKANNYA. Dan bagi yang MASIH PENASARAN, TS mohon dengan sangat untuk penasaranlah dari segi ceritanya saja (tidak perlu mencari & menerka). Let mystery be a mystery, untuk kebaikan kita bersama & sisi unik dari cerita ini.
Dimohon kerjasamanya bagi siapapun yang sudah tahu menahu tentang lokasi di cerita ini untuk tetap MERAHASIAKANNYA. Dan bagi yang MASIH PENASARAN, TS mohon dengan sangat untuk penasaranlah dari segi ceritanya saja (tidak perlu mencari & menerka). Let mystery be a mystery, untuk kebaikan kita bersama & sisi unik dari cerita ini.
Quote:
Note: SAYA HANYA MEMPOST CERITA INI DI KASKUS DAN MANGATOON. SELAIN DI DUA PLATFORM INI CERITA DIJAMIN PLAGIAT ..
----------------------------------------------------------------
NovelTool: TAMAT
Index On Kaskus (TAMAT)
0. Author Kembali 2024!
1. Prolog.
2. Perkenalan.
3. Rumah Tua Part 1.
4. Rumah Tua End.
5. Malam Pertama Part 1.
6. Malam Pertama End.
7. Interaksi Astral Part 1.
8. Interaksi Astral End.
9. Malam Penuh Cemas: Bab1 (2024)
10. Malam Penuh Cemas: Bab 2 (2024)
11. Malam Penuh Cemas: Bab 3 (2024)
12. Malam Penuh Cemas: End (2024)
13. Munguji Mental: Bab 1 (2024)
14. Menguji Mental: Bab 2 (2024)
15. Menguji Mental: Bab End (2024)
16. Aku Kembali: Bab 1 (2024)
17. Aku Kembali: Bab 2 (2024)
18. Aku Kembali: Bab 3 (2024)
19. Aku Kembali: Bab 4 (2024)
20. Aku Kembali: End (2024)
21. Dia Adik-ku: Bab 1 (2024)
22. Dia Adik-Ku: Bab 2 (2024)
23. Dia Adik-ku: Bab 3 (2024)
24. Dia Adik-Ku: Bab 4 (2024)
25. Dia Adik-Ku: Bab End (2024)
26. Teman Atau Lawan: Bab 1 (2024)
27. Teman Atau Lawan: Bab 1² (2024)
28. Teman Atau Lawan: Bab 2 (2024)
29. Teman Atau Lawan: Bab 3 (2024)
30. Teman Atau Lawan: Bab 4 (2024)
31. Teman Atau Lawan: Bab 5 (2024) ]
32. Teman Atau Lawan: Bab End¹ (2024)
32. Teman Atau Lawan: Bab End (2024)
33. Penderitaan: Bab 1 (2024)
34. POV Kevin: Penderitaan Bab 2 (2024)
35. Pov Kevin: Penderitaan: Bab 3¹ (2024)
36. POV Kevin: Penderitaan: Bab 3² (2024)
37. POV Kevin: Penderitaan: Bab 4¹
38. POV Kevin: Penderitaan: Bab 4²
39. Pov Kevin: Penderitaan bab 5
40. Pov Kevin: Penderitaan bab 6
41. Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
42. Pov Kevin: Penderitaan End
43. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP1
44. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP2-3
45. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP4-5
46. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP6-7
47. Pov Kevin: Mengungkap Misteri End
48. Pov kevin: Perjuangan Akhir EP1-2
49. Perjuangan Akhir EP3
50. Perjuangan Akhir: TAMAT
>>>TAMAT<<<<
----------------------------------------------------------------
Quote:
Plot Story:
Cerita diangkat berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh lima Pria remaja asal Bogor Jawa Barat.
Kejadian Bermula ketika Yudi membeli sebuah rumah tua peninggalan belanda yang hendak ia renovasi menjadi bangunan mewah berlantai empat.
Seiring pembangunan berjalan, kejadian aneh kerap dialami oleh para-pekerja yang membuat meraka merasa tidak nyaman, interaksi keberadaan makhluk tak kesat mata terasa kental ketika malam menjelang. Deni dan empat kawannya yang diberi tugas mengawasi pekerja tak luput dari gangguan yang sulit diterima oleh nalar.
Hingga detik ini pembangun telah terhenti, yang tinggal hanya menyisakan rumah besar yang terbengkalai.
Gangguan seperti apa yang mereka rasakan? lalu adakah kisah kelam dibalik berdirinya bangunan besar ini? mari ikuti pengakuannya dalam cerita "Rumah Terbengkalai"
dan pastikan anda tidak membacanya seorang diri.
Diubah oleh wedi 22-10-2024 19:47
iwanridwanmks dan 59 lainnya memberi reputasi
56
57.8K
Kutip
371
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wedi
#294
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir EP1-2
Quote:
Suara angin yang menggoyangkan dedaunan seakan menjadi saksi bisu atas apa yang telah terjadi antara aku dan Deni. Entah nasihat apa yang diberikan Pak Rusman padanya, sehingga Deni membuat pilihan yang sepenuhnya di luar jangkauanku.
“Lu sendiri ngga bisa kasih jawaban, kan?” gumamku dengan nada yang jelas-jelas penuh emosi. Aku membalikkan tubuh, hendak melanjutkan perjalanan. “Kalau lu nggak bisa buat gw yakin. Gw nggak bakal bawa Rifaldy dan Mang Tohir keluar dari rumah itu.” Saat tanganku menarik gas motor pelan, tiba-tiba Deni menghentikannya.
“Tolong bantu gw, Vin... biar gw lepas dari semua ini... Gw udah capek, Vin!” Suaranya terdengar berat, bergelombang oleh kelelahan dan keputusasaan yang coba ia tahan.
Aku terdiam, merasakan beban berat di udara. “Kita harus yakin, Jang. Percaya dengan keputusan yang Deni ambil,” Mang Tabah menimpali, suaranya tenang namun penuh makna.
Napas mulai berderu di dadaku, batinku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Haruskah aku menahannya dan membiarkan Deni terjerat dalam penderitaannya? Ataukah aku menerima keputusannya, meski aku tahu itu bisa saja berujung pada kematiannya?
“Cara bicara lu itu bukan kayak orang yang cari solusi, Den! Lebih kayak orang yang nyerah!” Aku mencoba meredam kekesalan, tapi suaraku mulai meninggi.
“Gue nggak nyerah, Vin! Gue cuma mau akhiri ini semp—”
“—Sampai akhirnya lo sembuh!” potongku, berteriak dengan kemarahan yang membara. “Hah? Itu bukan maksud lu?” Deni masih terdiam, tak memberiku jawaban. Aku kembali mendekat, “Ayo! Bilang yang sebenarnya!”
“Gw nggak bisa pastikan, Vin. buat gw, semua yang sudah terjadi... cukup berakhir di gw.”
“Maksud lo apa?” Helm yang kugenggam kulempar ke tanah dengan kasar. “Lo mau mati di rumah itu? Hah? Lo lihat badan lo sekarang? Mau ngelawan apa lo?”
“Kalau itu bisa memutus mata rantai ini, gue rela, Vin.”
“Lu bodoh, Den! Lu pikir setelah lu mati semuanya akan lebih baik? Apa yang harus kita katakan ke keluarga lu?”
“Gue nggak kepikiran sampai sana, Vin. Tapi kalau itu terjadi, bilang aja gue kecelakaan.” Ia menatap tubuhnya yang penuh luka dengan senyum pahit. “Bukankah ini udah cukup meyakinkan?”
“Tapi jangan sampai sejauh itu, Jang!” sela Mang Tabah, mencoba menenangkan situasi.
"Mang. Asal Mamang tau. Kalau dia nggak diikat semalam aja, saya yakin sekarang dia ngga mungkin di sini," tukasku cepat, mengingat malam yang hampir berakhir tragis.
Deni menghela napas panjang sebelum berkata dengan nada yang lebih tenang, namun tetap berat, “Gue cuma mau pastiin, saat gue cari benda itu, nggak ada satu orang pun di sana.”
Aku mengerutkan dahi, bingung dengan arah pembicaraannya. “Benda? Maksud lo apa?”
“Stop, Vin! Jangan tanya lebih jauh! Kalau lo terus ngejar ini, mata rantainya nggak akan pernah terputus!” Sorot matanya tajam, penuh peringatan yang membuatku terdiam. Seolah ia melarangku terlibat lebih dalam.
Mang Tabah melihat ke langit, memperhatikan awan yang semakin gelap. “Hayu, Jang, cuaca sudah mulai mendung,” ia mengingatkan kami akan suasana sore yang mulai berubah muram.
Aku menatap Deni sekali lagi, mencoba menegaskan pilihan yang akan kuambil. “Oke, gue ikuti mau lu.” Dengan berat hati, aku berbalik dan kembali menarik pedal gas motor tua ini. “Tapi apapun alasannya, gue cuma pengen yang terbaik buat lo.”
“Thanks, Vin. Lo kawan terbaik gue.”
"Inget, Den. Jalan lo masih panjang. Jangan berhenti sampai di sini."
“Gue nggak akan lupa kata-kata lo, Vin.”
“Terus! Gue harus bilang apa sama Rifaldy dan Mang Tohirke? Apa pun alasannya, nggak ada yang bakal masuk akal!”
“Yang penting, setelah lo balik, suruh Mang Rudi datang ke sini, Vin.”
“Mang Rudi? Kenapa nggak gue atau yang lain aja?”
“Di antara kita, cuma dia yang punya keyakinan sekuat itu.”
Aku mengangguk samar, walaupun pikiranku masih terombang-ambing mencari cara untuk meyakinkan Rifaldy dan Mang Tohir agar mereka mau meninggalkan rumah terkutuk itu.
Saat pikiran-pikiranku berkecamuk, mendadak muncul satu ide yang mungkin bisa menyelamatkan situasi. "Den, lu bisa hubungi Mang Rudi sekarang ngga?"
"Bisa aja, tapi ponsel gue kan ketinggalan di rumah."
"Wah, bener juga ya... Tadinya gue mau minta Mang Rudi buat pura-pura nyuruh Rifaldy dan Mang Tohir ke rumahnya. Motor ini kan cuma bisa muat tiga orang maksimal. Kalau mereka ke sana, lu bakal sendirian di sini, dan kita bisa keluar."
Deni terdiam sesaat, sepertinya dia mempertimbangkan perkataanku. "Tenang aja, nanti gue coba SMS Mang Rudi. Semoga aja dia ngerti maksud gue."
"Sip... Eh, tapi kalau lu tiba-tiba kambuh lagi?" Tanyaku, sedikit ragu. Kali ini, Deni hanya terdiam. Mungkin dia sengaja membatasi pembicaraan ini, mencoba melindungiku dari kekhawatiran yang berlebihan. "Ya udah, lu coba aja nanti."
"Oke."
Sebelum percakapan kami berlanjut, Mang Tabah mengisyaratkan ke arah gang. "Jang, saya izin turun di sini aja ya, di depan gang. Berdua di motor bisa, kan?"
"Ah, iya, Mang. Nyaris aja gue lupa," jawabku, sedikit terkejut. "Bisa, Mang, jangan khawatir. Terima kasih banyak ya, Mang, udah bantu kami."
"Terima kasih banyak ya, Mang. Saya juga ga tau harus gimana kalau ngga ada bantuan Mang," tambah Deni dengan senyum tipis, meski sorot matanya tetap menyiratkan beban yang berat.
Setelah Mang Tabah turun, langit di atas semakin gelap, gumpalan awan hitam mulai mendekat. Aku hanya bisa berharap sebelum hujan turun, kami sudah berhasil membawa Rifaldy dan Mang Tohir keluar dari rumah itu. Namun, perasaan gelisah masih menghantui, seolah tidak ada rencana yang benar-benar menjamin keselamatan kami.
Meninggalkan Deni di rumah ini sendirian, apalagi tanpa ada yang menjaga, jelas berisiko. Aku tahu penyakitnya bisa kambuh kapan saja, membawa kami ke dalam situasi yang lebih berbahaya. Nyawanya bisa terancam kapan saja, dan entah mengapa aku merasa langkah yang kami ambil ini mungkin lebih berbahaya daripada kelihatannya.
Beberapa menit setelah mengantar Mang Tabah, kami tiba di depan rumah tua berlantai lima yang tampak semakin suram di bawah langit mendung. Bayangan seseorang terlihat samar dari balik jendela, bergerak menuju pintu depan. Aku menekan klakson beberapa kali.
"Alhamdulillah, kalian balik juga!" seru Mang Tohir, membuka pintu dengan sigap. Langkahnya cepat menghampiri Deni yang tampak kelelahan. "Gimana, Mas? Udah lebih baik?"
Deni mengangguk pelan. "Alhamdulillah, sedikit lebih baik daripada kemarin."
Aku memarkir motor dengan cepat, lalu bergegas masuk untuk membantu. "Sini, Mang. Biar saya aja yang bawa Deni. Sekalian mau kasih obat nanti."
Mang Tohir tersenyum dan mengalah. "Mantap, Mas. Emang perhatian banget jadi temen. Salut saya."
Aku mendekatkan wajahku ke Deni dan berbisik pelan, "Den, ponsel lu di mana?"
"Kayaknya di kamar Rifaldy," jawab Deni dengan suara rendah, hampir tak terdengar.
Aku mengangguk, tahu apa yang harus dilakukan. Segera setelah aku membantu Deni duduk di atas kasurnya, aku melangkah cepat ke kamar Rifaldy untuk mencari ponselnya. Untung saja Rifaldy sedang sibuk dengan ritualnya di kamar mandi, sehingga aku bisa mengambil ponsel Deni tanpa gangguan.
"Den, nih ponsel lu," kataku setelah kembali ke kamarnya, menyerahkan ponsel itu ke tangannya.
"Thanks, Vin," sahutnya, sedikit lega.
Aku keluar lagi untuk mengalihkan perhatian Mang Tohir, agar Deni bisa melancarkan rencananya tanpa gangguan. "Gw tahan Mang Tohir di luar ya."
"Oke, Vin," balas Deni dengan nada penuh kepastian, meski bayangan cemas masih tampak di wajahnya.
Saat pintu kamar tertutup perlahan, meninggalkan Deni sendirian di dalam, aku tidak bisa menepis kekhawatiran yang semakin menggerogoti. Deni terlihat tenang, tapi aku tahu di dalam dirinya, badai besar bisa kapan saja datang menyeretnya ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
====
EP2
====
Note Author:
Ini akan menjadi bab penutup sebelum PoV kembali pada Deni.
*******
Aku menatap langit-langit, saat suara guntur mulai bergemuruh di udara, memecah keheningan di ruang utama. Mang Tohir duduk di sebelahku, bercerita tentang saat kami membawa Deni berobat.
"Udah diminum obatnya, Mas?" tanyanya sambil melirikku.
"Udah, Mang," sahutku sambil menggeser duduk lebih dekat.
"Tadi bawa Deni ke tabib, ya?"
"Iya, Mang. Penuh banget tempatnya, nunggu lama, bikin kesal," aku mencoba terdengar jengkel, meski hanya pura-pura.
Mang Tohir tersenyum simpul mendengar keluhanku. "Berarti manjur tuh tabib, sampai begitu banyak yang datang," ujarnya.
"Iya, Mang," jawabku sambil melirik ke arah kamar, masih belum ada tanda-tanda Rifaldy. "Itu si Rif bangun jam berapa, Mang?"
"Entahlah, Mas. Kayaknya sore baru bangun," jawab Mang Tohir datar.
"Udah sore baru bangun!" seruku diikuti tawa kecil. "Dasar tidur kayak batu."
Namun, di balik senyumku, pikiranku masih berkutat pada Mang Rudi. Dengan perhatian besarnya pada Deni, aku bertanya-tanya, apakah dia akan setuju dengan keputusan kami.
Apapun yang akan diputuskan, melibatkan Mang Rudi pastinya membawa dampak besar. Tapi kami tidak punya banyak pilihan untuk membuat Rifaldy dan Mang Tohir mau keluar dari rumah ini.
"Oy! Lu udah balik rupanya," sapa Rifaldy tiba-tiba dari arah dapur, suaranya memecah lamunanku.
"Segar bener kelihatannya," godaku.
"Gimana tadi berobatnya?" tanyanya sambil duduk di kursi sebelahku.
"Biasa aja, cuma disuruh banyak istirahat," jawabku singkat.
Rifaldy mendongak melihat keluar jendela. "Mendung banget."
Tak lama, suara dering ponsel terdengar memecah kesunyian. "Rif, ponsel lu, tuh."
Rifaldy bergegas meraihnya. "Pasti si Baso, nih," gumamnya, sebelum melihat layar. "Eh, bukan! Mang Rudi."
"Halloo, Mang Rudi! Ha… Serius? Terus gimana Deni? Yakin? Yaudah nanti diomongin lagi… Yoo…"
"Kenapa, Rif?" tanyaku pura-pura penasaran setelah ia menutup panggilan.
"Ah, ini Mang Rudi, aneh banget," jawabnya dengan wajah heran.
"Kenapa, Mas?" Mang Tohir juga terlihat penasaran.
"Aku sama Mang Tohir disuruh balik buat benerin bak mandi yang jebol."
"Waduh, emang nggak ada tukang di sana?" tanya Mang Tohir, alisnya terangkat.
"Katanya sih bukan nggak ada tukang, tapi dia lagi bokek. Nggak ada duit," jelas Rifaldy dengan tawa kecil. "Aduh, ada-ada aja, Mamang ini."
"Lu sama Mang Tohir?" tanyaku ulang.
"Iya, terus lu jagain Deni."
"Ogah, ah, kalau cuma gue sendiri!" tukasku cepat.
"Lah, terus siapa yang jagain? Mang Tohir kan nggak bisa bawa motor, Vin!"
"Ngga, ah. Mending lu aja yang di sini, gue yang balik."
"Terus gimana Deni?" tanya Rifaldy seolah mulai mempertimbangkan.
"Gimana kalau kita bertiga aja yang balik?" usulku berbisik, memancing mereka.
Mang Tohir langsung menggeleng kaget. "Jangan, Mas. Kasihan Deni."
"Setiap malam juga kita tinggal tidur, kok!" aku menambahkan, membuat mereka terdiam. Mereka berada di persimpangan sulit.
"Lu mau di sini, Rif?" tanyaku lagi, memojokkannya. Dari sikapnya, aku tahu dia pasti enggan tinggal sendirian di rumah ini. Paling-paling, dia bakal bersembunyi di kamar, tidak peduli pada Deni.
"Ya udah, kita bertiga aja. Tapi lu iket dulu si Deni," katanya akhirnya, seperti yang sudah kuduga.
"Oke, bos," jawabku, bangkit menuju kamar Deni.
Perlahan aku membuka pintu. Deni duduk bersila di tempat tidurnya. "Den…," panggilku pelan, membuatnya menoleh.
Aku terdiam, menatap wajahnya. Berat rasanya, tapi aku harus melakukannya. Demi dia.
"Lu yakin?" tanyaku lagi, serius. Dia hanya mengangguk pelan.
Tanpa banyak bicara, aku mengambil tali di dekat kasur. "Tiduran dulu, kayak biasa. Gelangnya nggak gue kancing." Awalnya dia terlihat bingung dan sedikit menolak, tapi setelah penjelasanku, dia mengangguk pasrah.
"Apapun yang terjadi, jangan sampai gue dengar kabar buruk dari lu," gumamku sambil mengikat gelang ke pergelangannya. "Kalau sampai terjadi, gue nggak akan maafin lu."
"Makasih, Vin…" jawabnya pelan, suaranya serak.
Selesai mengikat, aku berdiri. "Jaga diri lu baik-baik, Den." Senyumnya yang lirih menghujam perasaanku. Berat sekali rasanya meninggalkannya sendirian di sini.
Aku menutup pintu, meninggalkan dia sendirian.
"Beres, Vin?" tanya Rifaldy yang sudah siap di atas motor.
"Hayo, sebelum hujan, Mas!" desak Mang Tohir.
Kami bertiga keluar, menutup pintu utama, dan bersiap melaju. "Cepat! Gerimis nih," kata Rifaldy.
Pepohonan lebat di sepanjang jalan mengaburkan pandangan. Hujan turun perlahan, dan semakin deras saat kami mulai menjauh dari rumah itu. Semua yang terjadi di dalam rumah tadi terasa semakin jauh, namun bayang-bayang senyum Deni terus menghantuiku. Apakah ini akhir dari kisah kami?
Hujan semakin deras saat kami tiba di depan rumah Rifaldy. Langit malam yang kelam seolah mengiringi suasana hatiku, menambah berat kenangan pahit yang tak pernah bisa aku hapus dari ingatan. Sisa-sisa cahaya sore sudah lenyap, digantikan oleh kabut hujan yang menari di bawah sinar lampu jalan.
"Waduh, waduh! Ada-ada saja, Rifaldy!" seru Ibu Rifaldy yang baru saja muncul dari dalam rumah, matanya membelalak ketika melihat putranya yang basah kuyup. "Kamu harus pulang di tengah hujan begini?" Nada suaranya setengah kesal, setengah khawatir.
Rifaldy hanya membalas dengan senyuman lebar, nyengir seperti biasa, menunjukkan gigi-giginya yang putih. "Habis gak keburu, Bu," jawabnya sekenanya.
"Mandi sana, cepat!" perintah ibunya tegas, sambil melambaikan tangan, mendorong Rifaldy masuk ke dalam rumah. Tanpa banyak bicara, Rifaldy menurut, melangkah ke dalam dengan langkah santai, diikuti ibunya yang masih bergumam soal anaknya yang keras kepala.
Aku dan Mang Tohir, dengan pakaian yang sudah basah kuyup, terpaksa duduk di teras rumah, bersandar pada pagar. Dingin mulai merayapi kulitku, dan aku menggigil, merasakan angin malam yang menusuk tulang.
"Dingin, Mang," keluhku, sambil memeluk tubuhku sendiri, berharap kehangatan dari pelukan itu.
"Iya, Mas. Dipaksa banget, sih," balas Mang Tohir sambil menggosok-gosok lengannya yang juga menggigil. Tubuhnya sedikit bergidik, menandakan bahwa ia merasakan hal yang sama—dingin yang memaksa masuk melalui celah-celah pakaian basah kami.
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka, dan Rifaldy melemparkan handuk ke arahku. "Pakai ini dulu," ucapnya sambil nyengir, sebelum melesat ke kamar mandi. "Gue mandi dulu ya, sebentar."
Aku menangkap handuk itu dan mengangguk. Namun sebelum sempat menggunakannya, terdengar suara lain yang membuatku menoleh.
"Vin, Mang. Masuk sini," suara Mang Rudi memanggil dari pintu rumah sebelah. Ia tampak berdiri di ambang pintu dengan wajah ramah, namun ada kegetiran di sorot matanya. "Ngapain di situ? Udah hujan-hujan, mana baju pada basah. Sini, masuk."
Tanpa banyak bicara, aku dan Mang Tohir berdiri dan mengikuti arahan Mang Rudi. Kami dipersilakan untuk mandi di rumahnya, mengganti pakaian yang sudah basah. Mang Rudi bahkan sudah menyiapkan baju ganti untuk kami. Meski baju itu pas di tubuh Mang Tohir, tapi di tubuhku, terasa sedikit longgar.
Setelah selesai, kami duduk di ruang tamu yang hangat. Di atas meja, dua cangkir kopi hangat sudah menanti. Asap tipis mengepul dari permukaan hitam pekatnya, mengundang tubuh yang kedinginan untuk segera mendekat.
"Ngopi dulu, biar hangat," kata Mang Rudi, suaranya lembut tapi ada ketegangan yang samar-samar terselip di sana. Ia duduk di kursi tamunya, namun ada sesuatu yang ganjil dalam gerak-geriknya. Meskipun tersenyum, matanya tak tenang, menatap ke arah jam dinding berkali-kali, dan jemarinya mengetuk-ngetuk tepi sofa tanpa henti.
"Kondisi Deni, ya, Mang?" tanyaku pelan, membaca kegelisahan di wajahnya.
Mang Tohir yang sudah duduk di kursi tamu, juga merasa ada yang aneh, tetapi mencoba mencairkan suasana. "Pak, yang bak bocornya di mana, nih?" tanyanya, berusaha terdengar riang.
Mang Rudi hanya tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. "Nggak jadi, Pak. Sudah, ngopi aja dulu." Jawabannya terasa datar, dan tatapan kosongnya kembali tertuju pada jam dinding di atas lemari.
Mang Tohir menatapku dan mengangkat alisnya, heran. Kami datang meninggalkan Deni di sana untuk memperbaiki bak bocor, tapi ternyata tak ada perbaikan yang perlu dilakukan.
"Waduh! Saya ninggalin Mas Deni di sana buat ini. Eh, nggak tahunya ngga jadi," kata Mang Tohir, tertawa kecil, meskipun ada kegelisahan yang jelas di matanya. Namun tawanya terdengar kikuk, seperti mencoba menutupi ketegangan yang menggantung di udara.
Mang Rudi, di sisi lain, tetap tak bergeming. Wajahnya masih diliputi kecemasan yang dalam. Matanya terus mengintip jam dinding, seakan ada sesuatu yang ia tunggu. Jemarinya semakin intens mengetuk sofa, seolah mengikuti detik yang terus bergerak. Ia tampak seolah ada beban besar yang belum terucapkan, sesuatu yang menahannya dari mengungkapkan perasaannya dengan jujur.
Aku dan Mang Tohir saling berpandangan, bingung dan tak yakin harus berkata apa. Ada yang ganjil dengan malam ini, lebih dari sekadar hujan deras dan udara dingin.
“Lu sendiri ngga bisa kasih jawaban, kan?” gumamku dengan nada yang jelas-jelas penuh emosi. Aku membalikkan tubuh, hendak melanjutkan perjalanan. “Kalau lu nggak bisa buat gw yakin. Gw nggak bakal bawa Rifaldy dan Mang Tohir keluar dari rumah itu.” Saat tanganku menarik gas motor pelan, tiba-tiba Deni menghentikannya.
“Tolong bantu gw, Vin... biar gw lepas dari semua ini... Gw udah capek, Vin!” Suaranya terdengar berat, bergelombang oleh kelelahan dan keputusasaan yang coba ia tahan.
Aku terdiam, merasakan beban berat di udara. “Kita harus yakin, Jang. Percaya dengan keputusan yang Deni ambil,” Mang Tabah menimpali, suaranya tenang namun penuh makna.
Napas mulai berderu di dadaku, batinku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Haruskah aku menahannya dan membiarkan Deni terjerat dalam penderitaannya? Ataukah aku menerima keputusannya, meski aku tahu itu bisa saja berujung pada kematiannya?
“Cara bicara lu itu bukan kayak orang yang cari solusi, Den! Lebih kayak orang yang nyerah!” Aku mencoba meredam kekesalan, tapi suaraku mulai meninggi.
“Gue nggak nyerah, Vin! Gue cuma mau akhiri ini semp—”
“—Sampai akhirnya lo sembuh!” potongku, berteriak dengan kemarahan yang membara. “Hah? Itu bukan maksud lu?” Deni masih terdiam, tak memberiku jawaban. Aku kembali mendekat, “Ayo! Bilang yang sebenarnya!”
“Gw nggak bisa pastikan, Vin. buat gw, semua yang sudah terjadi... cukup berakhir di gw.”
“Maksud lo apa?” Helm yang kugenggam kulempar ke tanah dengan kasar. “Lo mau mati di rumah itu? Hah? Lo lihat badan lo sekarang? Mau ngelawan apa lo?”
“Kalau itu bisa memutus mata rantai ini, gue rela, Vin.”
“Lu bodoh, Den! Lu pikir setelah lu mati semuanya akan lebih baik? Apa yang harus kita katakan ke keluarga lu?”
“Gue nggak kepikiran sampai sana, Vin. Tapi kalau itu terjadi, bilang aja gue kecelakaan.” Ia menatap tubuhnya yang penuh luka dengan senyum pahit. “Bukankah ini udah cukup meyakinkan?”
“Tapi jangan sampai sejauh itu, Jang!” sela Mang Tabah, mencoba menenangkan situasi.
"Mang. Asal Mamang tau. Kalau dia nggak diikat semalam aja, saya yakin sekarang dia ngga mungkin di sini," tukasku cepat, mengingat malam yang hampir berakhir tragis.
Deni menghela napas panjang sebelum berkata dengan nada yang lebih tenang, namun tetap berat, “Gue cuma mau pastiin, saat gue cari benda itu, nggak ada satu orang pun di sana.”
Aku mengerutkan dahi, bingung dengan arah pembicaraannya. “Benda? Maksud lo apa?”
“Stop, Vin! Jangan tanya lebih jauh! Kalau lo terus ngejar ini, mata rantainya nggak akan pernah terputus!” Sorot matanya tajam, penuh peringatan yang membuatku terdiam. Seolah ia melarangku terlibat lebih dalam.
Mang Tabah melihat ke langit, memperhatikan awan yang semakin gelap. “Hayu, Jang, cuaca sudah mulai mendung,” ia mengingatkan kami akan suasana sore yang mulai berubah muram.
Aku menatap Deni sekali lagi, mencoba menegaskan pilihan yang akan kuambil. “Oke, gue ikuti mau lu.” Dengan berat hati, aku berbalik dan kembali menarik pedal gas motor tua ini. “Tapi apapun alasannya, gue cuma pengen yang terbaik buat lo.”
“Thanks, Vin. Lo kawan terbaik gue.”
"Inget, Den. Jalan lo masih panjang. Jangan berhenti sampai di sini."
“Gue nggak akan lupa kata-kata lo, Vin.”
“Terus! Gue harus bilang apa sama Rifaldy dan Mang Tohirke? Apa pun alasannya, nggak ada yang bakal masuk akal!”
“Yang penting, setelah lo balik, suruh Mang Rudi datang ke sini, Vin.”
“Mang Rudi? Kenapa nggak gue atau yang lain aja?”
“Di antara kita, cuma dia yang punya keyakinan sekuat itu.”
Aku mengangguk samar, walaupun pikiranku masih terombang-ambing mencari cara untuk meyakinkan Rifaldy dan Mang Tohir agar mereka mau meninggalkan rumah terkutuk itu.
Saat pikiran-pikiranku berkecamuk, mendadak muncul satu ide yang mungkin bisa menyelamatkan situasi. "Den, lu bisa hubungi Mang Rudi sekarang ngga?"
"Bisa aja, tapi ponsel gue kan ketinggalan di rumah."
"Wah, bener juga ya... Tadinya gue mau minta Mang Rudi buat pura-pura nyuruh Rifaldy dan Mang Tohir ke rumahnya. Motor ini kan cuma bisa muat tiga orang maksimal. Kalau mereka ke sana, lu bakal sendirian di sini, dan kita bisa keluar."
Deni terdiam sesaat, sepertinya dia mempertimbangkan perkataanku. "Tenang aja, nanti gue coba SMS Mang Rudi. Semoga aja dia ngerti maksud gue."
"Sip... Eh, tapi kalau lu tiba-tiba kambuh lagi?" Tanyaku, sedikit ragu. Kali ini, Deni hanya terdiam. Mungkin dia sengaja membatasi pembicaraan ini, mencoba melindungiku dari kekhawatiran yang berlebihan. "Ya udah, lu coba aja nanti."
"Oke."
Sebelum percakapan kami berlanjut, Mang Tabah mengisyaratkan ke arah gang. "Jang, saya izin turun di sini aja ya, di depan gang. Berdua di motor bisa, kan?"
"Ah, iya, Mang. Nyaris aja gue lupa," jawabku, sedikit terkejut. "Bisa, Mang, jangan khawatir. Terima kasih banyak ya, Mang, udah bantu kami."
"Terima kasih banyak ya, Mang. Saya juga ga tau harus gimana kalau ngga ada bantuan Mang," tambah Deni dengan senyum tipis, meski sorot matanya tetap menyiratkan beban yang berat.
Setelah Mang Tabah turun, langit di atas semakin gelap, gumpalan awan hitam mulai mendekat. Aku hanya bisa berharap sebelum hujan turun, kami sudah berhasil membawa Rifaldy dan Mang Tohir keluar dari rumah itu. Namun, perasaan gelisah masih menghantui, seolah tidak ada rencana yang benar-benar menjamin keselamatan kami.
Meninggalkan Deni di rumah ini sendirian, apalagi tanpa ada yang menjaga, jelas berisiko. Aku tahu penyakitnya bisa kambuh kapan saja, membawa kami ke dalam situasi yang lebih berbahaya. Nyawanya bisa terancam kapan saja, dan entah mengapa aku merasa langkah yang kami ambil ini mungkin lebih berbahaya daripada kelihatannya.
Beberapa menit setelah mengantar Mang Tabah, kami tiba di depan rumah tua berlantai lima yang tampak semakin suram di bawah langit mendung. Bayangan seseorang terlihat samar dari balik jendela, bergerak menuju pintu depan. Aku menekan klakson beberapa kali.
"Alhamdulillah, kalian balik juga!" seru Mang Tohir, membuka pintu dengan sigap. Langkahnya cepat menghampiri Deni yang tampak kelelahan. "Gimana, Mas? Udah lebih baik?"
Deni mengangguk pelan. "Alhamdulillah, sedikit lebih baik daripada kemarin."
Aku memarkir motor dengan cepat, lalu bergegas masuk untuk membantu. "Sini, Mang. Biar saya aja yang bawa Deni. Sekalian mau kasih obat nanti."
Mang Tohir tersenyum dan mengalah. "Mantap, Mas. Emang perhatian banget jadi temen. Salut saya."
Aku mendekatkan wajahku ke Deni dan berbisik pelan, "Den, ponsel lu di mana?"
"Kayaknya di kamar Rifaldy," jawab Deni dengan suara rendah, hampir tak terdengar.
Aku mengangguk, tahu apa yang harus dilakukan. Segera setelah aku membantu Deni duduk di atas kasurnya, aku melangkah cepat ke kamar Rifaldy untuk mencari ponselnya. Untung saja Rifaldy sedang sibuk dengan ritualnya di kamar mandi, sehingga aku bisa mengambil ponsel Deni tanpa gangguan.
"Den, nih ponsel lu," kataku setelah kembali ke kamarnya, menyerahkan ponsel itu ke tangannya.
"Thanks, Vin," sahutnya, sedikit lega.
Aku keluar lagi untuk mengalihkan perhatian Mang Tohir, agar Deni bisa melancarkan rencananya tanpa gangguan. "Gw tahan Mang Tohir di luar ya."
"Oke, Vin," balas Deni dengan nada penuh kepastian, meski bayangan cemas masih tampak di wajahnya.
Saat pintu kamar tertutup perlahan, meninggalkan Deni sendirian di dalam, aku tidak bisa menepis kekhawatiran yang semakin menggerogoti. Deni terlihat tenang, tapi aku tahu di dalam dirinya, badai besar bisa kapan saja datang menyeretnya ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
====
EP2
====
Note Author:
Ini akan menjadi bab penutup sebelum PoV kembali pada Deni.
*******
Aku menatap langit-langit, saat suara guntur mulai bergemuruh di udara, memecah keheningan di ruang utama. Mang Tohir duduk di sebelahku, bercerita tentang saat kami membawa Deni berobat.
"Udah diminum obatnya, Mas?" tanyanya sambil melirikku.
"Udah, Mang," sahutku sambil menggeser duduk lebih dekat.
"Tadi bawa Deni ke tabib, ya?"
"Iya, Mang. Penuh banget tempatnya, nunggu lama, bikin kesal," aku mencoba terdengar jengkel, meski hanya pura-pura.
Mang Tohir tersenyum simpul mendengar keluhanku. "Berarti manjur tuh tabib, sampai begitu banyak yang datang," ujarnya.
"Iya, Mang," jawabku sambil melirik ke arah kamar, masih belum ada tanda-tanda Rifaldy. "Itu si Rif bangun jam berapa, Mang?"
"Entahlah, Mas. Kayaknya sore baru bangun," jawab Mang Tohir datar.
"Udah sore baru bangun!" seruku diikuti tawa kecil. "Dasar tidur kayak batu."
Namun, di balik senyumku, pikiranku masih berkutat pada Mang Rudi. Dengan perhatian besarnya pada Deni, aku bertanya-tanya, apakah dia akan setuju dengan keputusan kami.
Apapun yang akan diputuskan, melibatkan Mang Rudi pastinya membawa dampak besar. Tapi kami tidak punya banyak pilihan untuk membuat Rifaldy dan Mang Tohir mau keluar dari rumah ini.
"Oy! Lu udah balik rupanya," sapa Rifaldy tiba-tiba dari arah dapur, suaranya memecah lamunanku.
"Segar bener kelihatannya," godaku.
"Gimana tadi berobatnya?" tanyanya sambil duduk di kursi sebelahku.
"Biasa aja, cuma disuruh banyak istirahat," jawabku singkat.
Rifaldy mendongak melihat keluar jendela. "Mendung banget."
Tak lama, suara dering ponsel terdengar memecah kesunyian. "Rif, ponsel lu, tuh."
Rifaldy bergegas meraihnya. "Pasti si Baso, nih," gumamnya, sebelum melihat layar. "Eh, bukan! Mang Rudi."
"Halloo, Mang Rudi! Ha… Serius? Terus gimana Deni? Yakin? Yaudah nanti diomongin lagi… Yoo…"
"Kenapa, Rif?" tanyaku pura-pura penasaran setelah ia menutup panggilan.
"Ah, ini Mang Rudi, aneh banget," jawabnya dengan wajah heran.
"Kenapa, Mas?" Mang Tohir juga terlihat penasaran.
"Aku sama Mang Tohir disuruh balik buat benerin bak mandi yang jebol."
"Waduh, emang nggak ada tukang di sana?" tanya Mang Tohir, alisnya terangkat.
"Katanya sih bukan nggak ada tukang, tapi dia lagi bokek. Nggak ada duit," jelas Rifaldy dengan tawa kecil. "Aduh, ada-ada aja, Mamang ini."
"Lu sama Mang Tohir?" tanyaku ulang.
"Iya, terus lu jagain Deni."
"Ogah, ah, kalau cuma gue sendiri!" tukasku cepat.
"Lah, terus siapa yang jagain? Mang Tohir kan nggak bisa bawa motor, Vin!"
"Ngga, ah. Mending lu aja yang di sini, gue yang balik."
"Terus gimana Deni?" tanya Rifaldy seolah mulai mempertimbangkan.
"Gimana kalau kita bertiga aja yang balik?" usulku berbisik, memancing mereka.
Mang Tohir langsung menggeleng kaget. "Jangan, Mas. Kasihan Deni."
"Setiap malam juga kita tinggal tidur, kok!" aku menambahkan, membuat mereka terdiam. Mereka berada di persimpangan sulit.
"Lu mau di sini, Rif?" tanyaku lagi, memojokkannya. Dari sikapnya, aku tahu dia pasti enggan tinggal sendirian di rumah ini. Paling-paling, dia bakal bersembunyi di kamar, tidak peduli pada Deni.
"Ya udah, kita bertiga aja. Tapi lu iket dulu si Deni," katanya akhirnya, seperti yang sudah kuduga.
"Oke, bos," jawabku, bangkit menuju kamar Deni.
Perlahan aku membuka pintu. Deni duduk bersila di tempat tidurnya. "Den…," panggilku pelan, membuatnya menoleh.
Aku terdiam, menatap wajahnya. Berat rasanya, tapi aku harus melakukannya. Demi dia.
"Lu yakin?" tanyaku lagi, serius. Dia hanya mengangguk pelan.
Tanpa banyak bicara, aku mengambil tali di dekat kasur. "Tiduran dulu, kayak biasa. Gelangnya nggak gue kancing." Awalnya dia terlihat bingung dan sedikit menolak, tapi setelah penjelasanku, dia mengangguk pasrah.
"Apapun yang terjadi, jangan sampai gue dengar kabar buruk dari lu," gumamku sambil mengikat gelang ke pergelangannya. "Kalau sampai terjadi, gue nggak akan maafin lu."
"Makasih, Vin…" jawabnya pelan, suaranya serak.
Selesai mengikat, aku berdiri. "Jaga diri lu baik-baik, Den." Senyumnya yang lirih menghujam perasaanku. Berat sekali rasanya meninggalkannya sendirian di sini.
Aku menutup pintu, meninggalkan dia sendirian.
"Beres, Vin?" tanya Rifaldy yang sudah siap di atas motor.
"Hayo, sebelum hujan, Mas!" desak Mang Tohir.
Kami bertiga keluar, menutup pintu utama, dan bersiap melaju. "Cepat! Gerimis nih," kata Rifaldy.
Pepohonan lebat di sepanjang jalan mengaburkan pandangan. Hujan turun perlahan, dan semakin deras saat kami mulai menjauh dari rumah itu. Semua yang terjadi di dalam rumah tadi terasa semakin jauh, namun bayang-bayang senyum Deni terus menghantuiku. Apakah ini akhir dari kisah kami?
Hujan semakin deras saat kami tiba di depan rumah Rifaldy. Langit malam yang kelam seolah mengiringi suasana hatiku, menambah berat kenangan pahit yang tak pernah bisa aku hapus dari ingatan. Sisa-sisa cahaya sore sudah lenyap, digantikan oleh kabut hujan yang menari di bawah sinar lampu jalan.
"Waduh, waduh! Ada-ada saja, Rifaldy!" seru Ibu Rifaldy yang baru saja muncul dari dalam rumah, matanya membelalak ketika melihat putranya yang basah kuyup. "Kamu harus pulang di tengah hujan begini?" Nada suaranya setengah kesal, setengah khawatir.
Rifaldy hanya membalas dengan senyuman lebar, nyengir seperti biasa, menunjukkan gigi-giginya yang putih. "Habis gak keburu, Bu," jawabnya sekenanya.
"Mandi sana, cepat!" perintah ibunya tegas, sambil melambaikan tangan, mendorong Rifaldy masuk ke dalam rumah. Tanpa banyak bicara, Rifaldy menurut, melangkah ke dalam dengan langkah santai, diikuti ibunya yang masih bergumam soal anaknya yang keras kepala.
Aku dan Mang Tohir, dengan pakaian yang sudah basah kuyup, terpaksa duduk di teras rumah, bersandar pada pagar. Dingin mulai merayapi kulitku, dan aku menggigil, merasakan angin malam yang menusuk tulang.
"Dingin, Mang," keluhku, sambil memeluk tubuhku sendiri, berharap kehangatan dari pelukan itu.
"Iya, Mas. Dipaksa banget, sih," balas Mang Tohir sambil menggosok-gosok lengannya yang juga menggigil. Tubuhnya sedikit bergidik, menandakan bahwa ia merasakan hal yang sama—dingin yang memaksa masuk melalui celah-celah pakaian basah kami.
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka, dan Rifaldy melemparkan handuk ke arahku. "Pakai ini dulu," ucapnya sambil nyengir, sebelum melesat ke kamar mandi. "Gue mandi dulu ya, sebentar."
Aku menangkap handuk itu dan mengangguk. Namun sebelum sempat menggunakannya, terdengar suara lain yang membuatku menoleh.
"Vin, Mang. Masuk sini," suara Mang Rudi memanggil dari pintu rumah sebelah. Ia tampak berdiri di ambang pintu dengan wajah ramah, namun ada kegetiran di sorot matanya. "Ngapain di situ? Udah hujan-hujan, mana baju pada basah. Sini, masuk."
Tanpa banyak bicara, aku dan Mang Tohir berdiri dan mengikuti arahan Mang Rudi. Kami dipersilakan untuk mandi di rumahnya, mengganti pakaian yang sudah basah. Mang Rudi bahkan sudah menyiapkan baju ganti untuk kami. Meski baju itu pas di tubuh Mang Tohir, tapi di tubuhku, terasa sedikit longgar.
Setelah selesai, kami duduk di ruang tamu yang hangat. Di atas meja, dua cangkir kopi hangat sudah menanti. Asap tipis mengepul dari permukaan hitam pekatnya, mengundang tubuh yang kedinginan untuk segera mendekat.
"Ngopi dulu, biar hangat," kata Mang Rudi, suaranya lembut tapi ada ketegangan yang samar-samar terselip di sana. Ia duduk di kursi tamunya, namun ada sesuatu yang ganjil dalam gerak-geriknya. Meskipun tersenyum, matanya tak tenang, menatap ke arah jam dinding berkali-kali, dan jemarinya mengetuk-ngetuk tepi sofa tanpa henti.
"Kondisi Deni, ya, Mang?" tanyaku pelan, membaca kegelisahan di wajahnya.
Mang Tohir yang sudah duduk di kursi tamu, juga merasa ada yang aneh, tetapi mencoba mencairkan suasana. "Pak, yang bak bocornya di mana, nih?" tanyanya, berusaha terdengar riang.
Mang Rudi hanya tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. "Nggak jadi, Pak. Sudah, ngopi aja dulu." Jawabannya terasa datar, dan tatapan kosongnya kembali tertuju pada jam dinding di atas lemari.
Mang Tohir menatapku dan mengangkat alisnya, heran. Kami datang meninggalkan Deni di sana untuk memperbaiki bak bocor, tapi ternyata tak ada perbaikan yang perlu dilakukan.
"Waduh! Saya ninggalin Mas Deni di sana buat ini. Eh, nggak tahunya ngga jadi," kata Mang Tohir, tertawa kecil, meskipun ada kegelisahan yang jelas di matanya. Namun tawanya terdengar kikuk, seperti mencoba menutupi ketegangan yang menggantung di udara.
Mang Rudi, di sisi lain, tetap tak bergeming. Wajahnya masih diliputi kecemasan yang dalam. Matanya terus mengintip jam dinding, seakan ada sesuatu yang ia tunggu. Jemarinya semakin intens mengetuk sofa, seolah mengikuti detik yang terus bergerak. Ia tampak seolah ada beban besar yang belum terucapkan, sesuatu yang menahannya dari mengungkapkan perasaannya dengan jujur.
Aku dan Mang Tohir saling berpandangan, bingung dan tak yakin harus berkata apa. Ada yang ganjil dengan malam ini, lebih dari sekadar hujan deras dan udara dingin.
Diubah oleh wedi 12-10-2024 02:22
sampeuk dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas