Quote:
Aku menoleh ke arah jendela kamar, menatap ke dalam. Di sana, terbaring Deni, tubuhnya terikat dengan tali yang menarik erat kaki dan tangannya. Ia tak berhenti meronta, tertawa gila, lalu menggeram seperti binatang buas. Wajahnya kini pucat pasi, tak lagi menyerupai sosok sahabat yang aku kenal. Raut wajah itu terasa asing—menghantui pikiranku seakan tak ada lagi Deni yang dulu.
****
Udara pagi yang dingin dan lembab disertai kicauan burung yang merdu seakan menjadi ironi dari suasana malam mencekam yang baru saja kami lalui. Meski tubuh ini masih lelah, pikiranku dengan cepat kembali ke keadaan Deni. Kekhawatiran menggigit hatiku, mendorongku untuk segera memeriksa keadaannya.
Tanpa menunggu lebih lama, aku bangkit dari tempat tidur, meninggalkan Rifaldy yang masih terlelap. Aku melangkah cepat menuju kamar Deni, tangan gemetar saat meraih tuas pintu. Suara berderit yang menyayat telinga ketika pintu terbuka hanya mempertegas suasana seram yang mengintai di dalam. Aroma pengap dan tidak segar segera menyergapku.
Mataku terpaku pada sosok sahabatku yang terbaring tak berdaya di atas kasur. Tali-tali yang mengikatnya tampak terlalu ketat, seakan menghukumnya dalam penderitaan yang tak berujung. Pemandangan itu membuat hatiku mencelos—ketakutan yang tak kunjung usai.
“Den…” bisikku pelan, berharap suaraku bisa merayap masuk ke dalam pikirannya yang tersesat. Tapi, tak ada tanggapan, seakan ia tenggelam dalam dunia yang tak terjangkau oleh siapa pun.
Dengan hati-hati, aku mendekat dan berjongkok di sampingnya. Rasa berat di dadaku semakin menjadi-jadi. Tanpa memikirkan resiko, aku mulai membuka ikatan di lengannya. Tangan ini bergetar, takut menyentuh luka-luka yang tampak membekas. Tindakan ini terasa seperti membebaskannya dari belenggu, meskipun aku tahu, itu hanya bagian kecil dari penderitaan yang menghantuinya.
Selesai melepas ikatan di lengannya, aku beralih ke kakinya, mencoba secepat mungkin tanpa membuatnya merasa lebih sakit. Setiap gerakan membuatku lebih sadar akan betapa rapuhnya kondisi Deni saat ini.
Saat aku selesai, dia mulai merintih, matanya berkedip-kedip, mencoba sadar dari tidur yang penuh kesakitan. “Setelah ini, gue bantu lu makan, terus minum obat,” ucapku dengan suara yang dipenuhi keraguan, takut kalau aku tak bisa menepati janji tersebut.
Dengan seluruh ikatan yang kini terlepas, aku menarik napas panjang, mencoba mengendalikan kegelisahan yang menggumpal di dalam dada. Aku melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi Deni, meski ada perasaan aneh yang menyelimutiku—seolah segala usaha ini mungkin sia-sia. Bubur yang kusiapkan, dalam kesederhanaannya, terasa seperti lambang dari segala hal yang telah hancur di rumah ini.
Aku kembali membawa piring berisi bubur. Deni, kini telah membuka mata, meski lemas, tersenyum kecil di balik penderitaannya. Sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tidak ada senyuman sama sekali.
Aku berjongkok di samping tempat tidurnya. “Den, kita makan dulu, ya. Lu harus abisin semuanya ini!” Tekadku menguatkan suaraku, meski di dalam hati aku merasa rapuh.
Dengan hati-hati, kugenggam sendok dan mulai menyuapinya. Setiap suapan adalah bentuk harapanku. Aku ingin melihat perubahan—sekecil apa pun, seperti kilatan kehidupan yang masih ada di balik tubuh yang tersiksa ini. Aku hanya ingin sahabatku kembali, menjadi Deni yang aku kenal, meskipun aku sadar, harapan itu mungkin semakin jauh.
“Den…” Aku menoleh ke arah pintu, lalu kembali berbisik pelan, memastikan tidak ada siapa pun selain aku dan Deni di kamar ini. “Kemarin gue cari si Andre. Gue udah keliling, tanya sana-sini, tapi ngga ada yang kenal sama rumah ini.”
Deni mengalihkan pandangannya, matanya sayu, penuh kekecewaan yang tak terkatakan. Aku tahu itu. "Lu ngga usah pikirin, Den. Gue bakal coba lagi. Gue janji."
“Vin… Maafin...” Suaranya terdengar serak, nyaris tak terdengar.
Kata-kata itu terasa menghancurkan, seakan ia ingin mengucapkan lebih banyak, tapi aku segera menghentikannya. “Udah, Den. Lu simpen tenaga. Serahin semua ini sama gue.”
Deni tersenyum kecil, tapi ada sesuatu di balik senyuman itu—sebuah keputusasaan yang tak bisa dia sembunyikan. Perlahan, ia mengangkat tangan kirinya, yang telah melemah, lalu mengepal. Ini adalah ritual sederhana kami—tos tangan, tanda persahabatan yang selalu menyatukan kami.
"Lu pasti sembuh, Den. Gw yakin itu!" Namun, perban putih di wajahnya kini basah, air mata perlahan mengalir, melunturkan semua rasa yang selama ini ia pendam.
"Rifaldy?" tanya Deni, suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Aku menggeleng pelan, teringat semua sikap egois Rifaldy terhadapnya. "Anak manja kaya dia, Den... Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin dia sendiri pun tak mau repot-repot mengurus orang lain," jawabku, berusaha tegar.
Meski terlihat menyedihkan, aku bersyukur Deni masih mampu menghabiskan makanan dan meminum obatnya dengan baik. Namun, perhatianku tertuju pada beberapa perban di pergelangan lengan dan kakinya yang tampak rusak akibat gelang pengikat.
"Lu istirahat, ya... Nanti pas dokter datang, bilang aja semua yang lu rasain, Oke?" Ia hanya mengangguk pelan, mengikuti perkataanku.
Setelah menyelesaikan rutinitas pertama di rumah ini, kini saatnya aku merencanakan langkah selanjutnya. Aku melangkah keluar dari kamar dan melihat Mang Tohir sedang sibuk di dapur.
"Wah, boleh juga tuh!" gumamku, menggoda Mang Tohir yang tengah membuat kopi.
"Oh, iya. Siap... Saya langsung buat, kan, Mas," sahutnya, dengan gesit mengambil cangkir lain.
"Mang, nanti kalau Rifaldy bangun dan nyari aku... Bilang aja aku pulang dulu," jelasku, menaruh piring di atas meja. "Di sini terus, sampai lupa kalau aku juga punya keluarga." Ucapanku itu membuat senyum Mang Tohir melebar.
"Betul, Mas. Selama ada kesempatan untuk pulang, ya... Pulang dulu," sahut Mang Tohir sambil memberikan cangkir kopi untukku. "Saya juga, kalau rumahnya dekat, pasti pulang tiap hari."
Aku menghela napas, "Mana bisa... Semenjak Deni jatuh sakit, perlahan aku mulai mengerti sifat Bang Ferdy seperti apa," kataku, berjalan ke ruang tengah.
"Iya, bener juga sih, Mas," sahut Mang Tohir, suaranya sedikit meninggi. "Rugi kalau ada yang pulang!" Lalu, ia tertawa lepas.
"Ngga ada ade, ngga ada Kakak, sama-sama kepala batu, haduh!" sahutku, lalu meniup perlahan cangkir kopiku.
Setelah itu, menyadari hari mulai siang, aku segera bersiap-siap untuk melanjutkan misi pencarian. Kali ini, aku akan mengubah arah tujuan, berharap di sana ada seseorang yang bisa aku temui.
Udara segar menyentuh wajahku saat melangkah keluar dari rumah. Dengan tekad yang membara, aku menuju motor tua yang terparkir di samping rumah.
"Semoga hari ini usahaku membuahkan hasil," bisikku, berdoa dalam hati.
Suara mesin yang bergetar mulai memenuhi udara pagi saat aku menyalakannya. Mesin sempat tersendat, membuatku panik sejenak, tetapi beruntung setelah beberapa detik, akhirnya meraung stabil.
“Gue mohon jangan tambah masalah, ya?” ujarku, setelah memeriksa mesin motor, lalu menarik gas, untuk segera keluar dari gerbang rumah loji.
EP5
Sepanjang perjalanan, angin pagi berhembus segar, namun pikiranku tetap terfokus untuk menemukan Andre. Setiap detakan jantungku seakan mengiringi langkahku menuju pencarian yang penuh harapan.
Saat ini, rute yang aku pilih tidak menuju jalan raya, melainkan ke arah sebaliknya—semakin dalam ke dalam loji. Karena kemarin aku tidak menemukan apapun di sana, semoga dengan waktu yang masih panjang dan rute yang baru, aku bisa bertemu dengan seseorang.
Mataku melebar saat melihat dari kejauhan seorang pria tengah mendorong gerobak dagangannya. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung menambah kecepatan, mendekat ke arahnya.
"Mang...." Aku berhenti tepat di depan gerobaknya.
"Oh, siap, Kang! Mau cari apa? Tempe, tahu, semua ada. Sayur juga masih segar-segar nih, Kang," sahutnya, mengira aku sebagai pembeli.
Aku tersenyum kikuk, merasa tidak enak telah menghambat perjalanannya. "Eh... Ngga, Mang. Maaf, aku mau tanya, Mang." Suaraku hampir tak terdengar, dan raut wajahnya berubah seketika. "Boleh, Mang?"
"Tanya apa, Kang?"
"Tau rumah yang di ujung sana, Mang?" tanyaku, sambil menunjuk ke arah rumah Bang Ferdy yang sudah tidak terlihat.
Seketika, ia tampak berpikir, lalu mengangkat kepalanya dengan sorot mata yang memberikan harapan. "Oh... Rumah besar yang di sana itu?"
"Iya, betul, Mang," jawabku dengan antusias. "Tau siapa pemiliknya, Mang?"
"Kalau dulu, itu rumah punya Mak Ratih. Tapi udah dibeli sama orang kota. Ngga tau siapa," ujarnya, menutup penjelasannya.
Sesaat aku merenungkan nama yang baru aku dengar. Aku menduga itu nama seorang nenek yang sebelumnya terlihat bersama Bang Ferdy dan Andre. Namun, tentu saja, ini belum cukup.
"Terus, Mamang tau ngga tentang anaknya yang bernama Andre?" tanyaku lagi. Pria itu tampak berpikir, namun raut wajahnya menunjukkan keraguan.
"Saya kenal cuma sekilas aja, Kang. Jadi ngga apal siapa anaknya," ungkapnya, lalu ia tampak berpikir keras. "Nih... Kalau Akang mau tanya, coba lurus lagi ke sana. Nanti ada gang kecil, akang belok kiri. Di sana ada satu rumah. Siapa tahu mereka tahu tentang yang Akang cari," lanjutnya, membuat semangatku semakin berkobar. Aku merasa semakin dekat dengan apa yang aku cari.
"Oke, Mang. Makasih banyak, ya," tambahkan, sambil tersenyum.
"Iya, Kang. Sama-sama. Coba aja ke rumah itu, mudah-mudahan ada yang tahu di sana," tutupnya. Aku pun kembali memacu motor menuju tempat yang disebutkan pedagang itu.
Beberapa menit berlalu, dan aku mulai resah dengan perjalanan yang aku tempuh. Karena sedari tadi, tidak ada gang yang aku temui.
Aku berdecak frustasi, lalu menoleh ke belakang. Hanya nampak jalan tanah merah yang dikelilingi rumput liar dan pepohonan. "Mana ini, Gang-nya. Apa sudah kelewat?" tanyaku dalam hati, lalu menatap jalan di depanku dan mencoba melanjutkan perjalanan dengan pelan.
Hingga tampak dari kejauhan, sebuah jalan setapak yang membelah rumput-rumput liar. Saat aku berhenti di depan jalan itu, terlihat sebuah rumah tua yang terbuat dari anyaman rotan. Tak banyak pilihan, aku pun mulai menyusuri jalan kecil yang menuju ke rumah tersebut.
"Assalamualaikum!" seruku, dengan nada yang sedikit lebih keras.
"Wa'allaikumsalam," suara tegas seorang pria terdengar menjawab salamku dari dalam rumah.
Jeritan pintu kayu yang mulai terbuka perlahan, memperlihatkan sosok pria berbadan cukup kekar berdiri di ambang pintu. Kulitnya coklat, menandakan ia sering menghabiskan waktu di bawah terik matahari, dan tubuhnya yang kekar terbentuk dari rutinitas yang berat. Mungkin usianya tidak jauh dari Mang Tohir—sekitar 48 tahun. "Iyah, nyari siapa, Jang?"
"Maaf, Mang, kalau mengganggu. Aku mau tumpang tanya, boleh, Mang?" jawabku, berusaha terdengar sopan.
"Ohh... Boleh, boleh. Silakan duduk," ujarnya, mempersilakanku duduk di balai bambu yang ada di depan rumahnya. "Emang, mau tanya apa ya, Jang?"
Aku menghela napas, merangkai kalimat untuk menjelaskan semuanya. "Mamang, tau rumah yang di ujung sana?" tanyaku. Ia terkesiap, kedua alisnya hampir bertemu, seolah sedang mengingat-ingat.
"Iya, tau, Jang. Itu rumah Mak Ratih. Emang ada apa, Jang?"
"Gini, Mang. Saya lagi cari anaknya yang bernama Andre. Apa Mamang kenal?"
"Oh, si Andre. Setahu saya, dia jarang pulang ke sana. Kalau tidak salah, dia kerja di Serang," jawabnya. Mataku bersinar saat mendengar ucapannya.
"Wah! Berarti Mamang kenal, Andre?" ulangku dengan penuh semangat.
"Kenal, dulu saya pernah kerja di rumah itu. Benerin pagar yang roboh," jelasnya, "Kenapa tidak tanya Mak Ratih? Biasanya ada di sana."
Dari perkataannya, tampaknya pria ini belum tahu bahwa rumah itu sudah berpindah tangan. "Rumahnya sudah dibeli sama kakak teman saya. Tapi kami masih ada urusan yang belum selesai sama Andre," ungkapku.
"Oh iya, ya? Saya malah tidak tahu kalau sudah laku rumahnya," ujarnya.
"Terus sekarang, Mamang tahu di mana Andre?"
"Saya taunya si Andre itu kerja di Serang. Kalau tempatnya, saya tidak tahu, Jang," jawabnya. Mendengar itu, harapan dan semangatku seolah runtuh tak tersisa. Bagaimana mungkin aku mencari orang di kota lain hanya berbekal sebuah nama dan rumah suram itu?
"Emang ada masalah apa, Jang?" tanya pria itu, melihatku dengan penuh perhatian. "Keliatan banyak pikiran," lanjutnya.
"Iya, Mang. Saya nyari Andre demi teman saya," ucapku, membuat pria itu memasang ekspresi bingung.
"Bentar," ia menepuk pelan pundakku, lalu bangkit dari duduknya. "Saya buat kopi dulu, Jang. Biar enak ngobrolnya."
"Ih, Mang... Ng-ngga usah repotin, Mang," jawabku, merasa canggung menerima tawarannya.
"Ah! Ngga apa-apa, cuma kopi," tutupnya, tetap dengan pendiriannya, lalu masuk ke dalam rumah.
Tatapanku kosong, tak sanggup membayangkan jika aku tidak bisa menyelesaikan permintaan Deni. Apakah ia akan mengerti dengan apa yang akan kusampaikan? Atau justru aku malah membuatnya kehilangan harapan dan terpuruk dalam kondisi terburuknya?
"Jang, silakan."
Aku terhentak, melihat pria itu telah kembali dengan dua gelas kopi hitam yang ia suguhkan. "Aduh, jadi tidak enak. Makasih, Mang."
"Saya biasa dipanggil Tabah di sini," jelasnya, lalu duduk di balai bambu—berhadapan denganku.
"Saya Kevin, Mang. Saya teman dari adik yang membeli rumah Andre," ucapku.
"Keliatan, kamu banyak masalah," ucapnya sambil menyalakan sebatang rokok.
Sesaat aku berpikir, sepertinya tidak akan ada masalah jika aku bercerita padanya. Lagi pula, ia mengenal sosok Andre.