- Beranda
- Stories from the Heart
Ketika Tuhan Telah Mencampakkan Dunia
...
TS
umanghorror
Ketika Tuhan Telah Mencampakkan Dunia

Angin malam membawa bau anyir yang tak tertahankan, bercampur dengan aroma tanah basah dan daging yang membusuk. Langit di atas tampak seperti luka yang terus menganga, merah darah, tak pernah ada sinar matahari lagi, hanya awan pekat yang menggantung rendah. Dunia ini bukan lagi milik manusia.
Aku bersembunyi di balik reruntuhan, di antara dinding-dinding yang dulunya adalah bangunan megah. Kini, hanya puing-puing yang tersisa—bangunan tanpa jiwa, sama seperti kami yang tersisa di sini. Tubuhku gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena ketakutan yang menggerogoti setiap detik. Di luar sana, di balik reruntuhan, mereka berkeliaran.
Mereka.
Bukan manusia.
Bukan makhluk yang seharusnya ada di dunia ini.
Dari jauh, samar-samar terdengar suara langkah berat yang menyeret di atas tanah. Aku tahu apa yang akan datang, tapi aku tak berani mengintip. Mata manusia tak layak melihat wujud mereka secara langsung, atau kami akan kehilangan akal sehat. Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh mereka yang cukup sial untuk bertahan hidup lebih lama.
Aku menahan napas saat suara itu semakin mendekat. Suara tawa mengerikan menyusulnya, tawa yang tak pernah terdengar di antara manusia. Iblis-iblis itu—makhluk yang seharusnya hanya ada dalam mimpi buruk—kini berjalan di antara kami, menguasai setiap jengkal tanah yang dulunya kami panggil rumah. Mereka yang kuat telah menjadi pemimpin, sementara sisanya hanyalah budak, tunduk pada kehendak para penguasa baru dunia ini.
Aku melirik ke celah di antara reruntuhan. Di kejauhan, di jalanan yang penuh retakan, manusia-manusia dengan tubuh kurus kering digiring seperti ternak. Mata mereka kosong, wajah mereka kotor dan pucat. Beberapa dari mereka dipasangi rantai besi yang terhubung ke kereta besar yang ditarik oleh makhluk setinggi dua kali manusia, tubuhnya ditutupi asap hitam tebal yang berputar-putar di sekitarnya.
Tidak ada yang melawan. Tidak ada yang bisa.
Perempuan di sebelahku, yang selama berhari-hari bersembunyi bersamaku di reruntuhan ini, berbisik dengan suara serak. "Sudah berakhir. Tuhan sudah meninggalkan kita. Dunia ini... bukan lagi milik kita."
Aku ingin menjawab, mengatakan bahwa itu tidak mungkin benar. Tapi bibirku kaku, suaraku hilang di tenggorokan. Dalam hati, aku tahu dia benar. Kami sudah ditinggalkan. Dunia ini telah menjadi neraka, tempat di mana setan-setan berkeliaran bebas, dan manusia hanyalah budak—mainan yang tak berarti di mata mereka.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berhenti. Semua menjadi senyap. Jantungku berdetak keras di dada, membuat telingaku berdenyut. Apakah mereka mendengar kami? Apakah persembunyian ini akhirnya ditemukan?
Tawa menggelegar menghantam udara, diikuti suara iblis yang menggema di sekitar kami. "Selamat datang di dunia baru... dunia yang telah dicampakkan."
Aku menahan napas. Di balik reruntuhan, aku bisa melihat bayangan mereka: tubuh-tubuh besar, hitam pekat, dengan mata bersinar merah menyala. Salah satu dari mereka, yang lebih besar dari yang lainnya, berhenti dan mengendus udara seperti binatang buas. Aku merasakan matanya—mata yang tak terlihat—mencari kami di kegelapan.
"Kalian tak bisa bersembunyi selamanya," desisnya, suaranya menggoda dan penuh kebencian. "Kami akan menemukan kalian... dan saat itu tiba, kalian akan tahu apa artinya menjadi budak sesungguhnya."
Tawa itu menggema lagi, menyakitkan di telingaku. Aku menundukkan kepala, menutup mata rapat-rapat, berharap agar semuanya segera berakhir. Tapi aku tahu, dalam dunia ini, harapan hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang tak akan pernah kembali.
Dunia ini sudah dicampakkan. Kami, manusia, tak lagi berhak atasnya. Yang tersisa hanyalah tunduk… atau musnah.
Chapter
Quote:

Diubah oleh umanghorror 05-10-2024 18:50
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
321
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
umanghorror
#4
2. Kelas Bathin Hitam
Saat pintu terbuka, Niken langsung disambut oleh pemandangan kelas yang berbeda dari yang pernah ia bayangkan. Kegelapan seperti menyelimuti ruangan, cahaya redup menyoroti murid-murid yang duduk diam, sebagian menatap ke arahnya dengan mata tajam, sebagian lainnya seperti tenggelam dalam meditasi yang dalam. Dinding-dinding kelas dipenuhi simbol-simbol kuno yang berkilauan samar, dan suasananya lebih mirip kuil angker daripada ruang belajar.
"Selamat datang di Kelas Bathin Hitam, Niken," kata Bu Rihanna dengan nada yang seolah penuh makna tersembunyi. “Di sinilah perjalananmu yang sebenarnya dimulai.”
Niken berdiri di ambang pintu, hatinya berdebar tak karuan. Dia tahu bahwa tempat ini bukan hanya sekolah biasa. Ini adalah tempat di mana batas antara kekuatan batin dan kegelapan menjadi semakin kabur, dan dia tidak yakin apakah dirinya siap menghadapi apa yang akan datang. Tapi satu hal yang pasti—dia tak lagi bisa mundur.
Setelah Bu Rihanna pergi, dengan tekad yang menggumpal di dadanya, Niken melangkah memasuki kelas Bathin Hitam. Begitu kakinya menginjak lantai dingin ruangan itu, sesuatu yang mengerikan langsung menghantamnya—sebuah aura hitam pekat yang terasa menyesakkan. Aura itu bukan sekadar kegelapan biasa, melainkan ancaman yang nyata. Niken bisa merasakan tatapan penuh kebencian dan ketidaknyamanan dari murid-murid yang sudah lebih dulu duduk di dalam kelas. Tatapan itu seperti duri tajam, menusuk dirinya, seolah mereka menganggap kehadirannya sebagai gangguan yang tak diinginkan.
Aura itu semakin pekat, mengelilinginya dengan cepat, seperti jaring kegelapan yang berusaha menghancurkan ketenangannya. Dalam sekejap, Niken merasakan tubuhnya mulai melemah, seolah aura itu mengisap kekuatan batinnya. Suara-suara samar mulai terdengar di telinganya—bisikan jahat, tawa penuh hinaan, dan rasa benci yang menusuk hingga ke tulang.
"Jadi ini yang mereka rasakan," pikir Niken, merasa terpojok oleh kebencian kolektif murid-murid di sekitarnya. Mereka tidak menginginkannya di sana. Dia bisa merasakan aura mereka yang salah kaprah, penuh kesalahpahaman, dan bahkan ketakutan yang diselimuti permusuhan.
Tapi Niken bukanlah seseorang yang mudah menyerah pada tekanan, terlebih ancaman yang ia rasakan saat ini. Menyadari betapa nyata dan berbahayanya kekuatan kegelapan itu, tanpa ragu-ragu lagi, dia merogoh sabit kecil hitamnya yang tersimpan dalam kantong tasnya. Seketika sabit kecil itu diselubungi oleh api hitam, lalu sabit itu membesar sampai ukurannya 1.5 kali tinggi badan Niken. Gagang sabit itu terasa dingin namun familiar di tangannya, memberinya rasa kontrol yang tiba-tiba muncul di tengah kepanikan.
Dengan satu gerakan cepat, Niken mengayunkan sabit hitam itu ke udara, membelah aura gelap yang berusaha menelannya. Sabit itu berkilau dalam cahaya redup ruangan, memancarkan kekuatan yang tak kasat mata, namun begitu nyata saat menyapu aura gelap yang menyelimuti tubuhnya.
Aura hitam itu langsung tercerai-berai, hancur oleh kekuatan sabit hitam yang mengerikan. Bisikan-bisikan jahat yang tadi memenuhi pikirannya lenyap seketika, meninggalkan keheningan yang mencekam. Murid-murid di kelas, yang tadi memandangnya dengan permusuhan, kini menatapnya dengan tatapan kaget, beberapa di antaranya bahkan mundur sedikit, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Begitu mudahnya kalian menyerang orang baru?" Niken berkata dingin, suaranya terdengar tajam di tengah keheningan. "Jika ini cara kalian menyambut orang, maka aku sudah siap bermain."
Kelas itu seketika berubah hening, bahkan lebih sunyi daripada sebelumnya. Niken masih memegang sabit hitamnya, matanya mengawasi setiap murid dengan waspada. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang berani menantang tatapannya sekarang. Aura kekuatan Niken, yang baru saja terpancar, sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia bukan gadis biasa.
Dari sudut kelas, seseorang tertawa pelan, suara yang anehnya menenangkan, namun mengandung kegelapan yang mendalam. "Kau cepat beradaptasi, Niken," suara itu bergema, seolah berasal dari bayangan di sudut ruangan. "Tapi ini baru permulaan. Di sini, hanya yang kuat yang akan bertahan. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan di tempat ini."
Niken merasakan detak jantungnya meningkat lagi, tetapi kali ini, bukan karena rasa takut. Melainkan karena sebuah tantangan yang terasa lebih nyata daripada sebelumnya. Sabit hitam di tangannya berkilau samar, dan dia tahu... dia harus terus waspada di tempat ini.
Niken terkejut mendengar suara yang familiar itu. Dia menoleh dan mendapati sosok Julius berdiri di dekat pintu kelas, dengan senyum tipis khasnya yang membuatnya tampak seperti seseorang yang selalu tahu lebih banyak dari yang ia katakan.
"Yah, kau terlalu santai, Niken," ujar Julius dengan nada bercanda yang menenangkan namun penuh kepastian. “Aku baru pergi sebentar, dan kau sudah membuat keributan di sini.”
Niken mengangkat alis, jelas-jelas tidak terkesan dengan kehadirannya. "Julius? Apa yang kau lakukan di sini?" katanya, suaranya terdengar malas, tapi dengan nada sinis yang sering ia gunakan ketika berbicara dengannya. "Bukankah kau seharusnya sibuk dengan... entahlah, hal-hal yang lebih penting? Aha, kamu lagi mengintip siswi-siswimu ganti pakaian di ruang ganti, kan?"
Julius tertawa kecil, seolah tidak terpengaruh oleh nada sindiran Niken. “Bahkan pacar kakakmu pun harus mengawasi adik yang bandel sepertimu, bukan?” Matanya menyapu ruangan, melihat murid-murid lainnya yang mulai mereda ketegangannya. “Lagipula, aku harus memastikan kau tidak dihancurkan oleh sambutan hangat mereka.”
Niken mendengus, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai, jelas sudah tidak lagi terpengaruh oleh aura yang sempat menyerangnya. "Jadi ini semua semacam ‘sapaan pertama’?" katanya sambil melirik ke arah murid-murid lain. “Harus kuakui, mereka punya selera humor yang... buruk.”
Julius hanya tersenyum dan melipat tangannya di dada. “Itu cara mereka memastikan siapa yang layak berada di sini. Dan tampaknya kau berhasil, meski dengan sedikit drama.” Tatapannya kembali fokus pada Niken, matanya berkilau seolah menyembunyikan sesuatu. "Seperti biasa, kau memang tak pernah suka hal-hal biasa, ya?"
Niken tersenyum miring, memperlihatkan sisi sinisnya yang khas. "Kalau hal-hal biasa menarik, mungkin aku akan lebih peduli. Tapi sayangnya, tidak. Dan kalau ini sambutan terbaik mereka," Niken memutar-mutar sabit hitamnya dengan main-main di tangannya, "aku rasa kita bisa akur."
Salah satu murid yang sebelumnya memancarkan aura hitam berdiri dan mendekati Niken dengan wajah kaku, tapi ada sedikit senyum kecut di bibirnya. "Kau benar-benar tak mudah ditakuti, ya?" katanya, suaranya penuh rasa hormat yang baru ditemukan. “Sambutan tadi seharusnya membuatmu lari ketakutan, tapi... sepertinya kita salah perhitungan.”
Niken menatapnya dengan datar, lalu menjawab dengan nada yang ringan tapi menusuk. “Lain kali, coba sesuatu yang lebih kreatif. Barangkali aku akan lebih terkesan.”
Julius menggelengkan kepalanya, seolah menikmati interaksi itu. “Kau benar-benar seperti kakakmu—atau bahkan lebih parah. Tidak heran aku suka berbicara denganmu,” ujarnya dengan nada menggoda.
“Yah, kurasa aku harus mengucapkan terima kasih atas pujian itu,” jawab Niken sambil tersenyum manis namun sinis. "Tapi, serius, Julius, apa yang kau lakukan di sini? Apa ini semacam skema rahasia yang kau buat dengan paman angkatku? Pasti kamu mau menyuruh pamanku untuk membawakan celana dalam kakakku ‘kan?"
Julius tertawa pelan, lalu menjawab, "Dasar! Kamu pikir aku seberapa mesumnya, huh? Ini semua hanya kebetulan. Atau mungkin takdir? Tapi kurasa... ini lebih kepada memastikan kau bertahan di kelas paling berbahaya di sekolah ini. Kelas Bathin Hitam tidak main-main, dan kau pasti sudah mulai merasakannya.”
Niken menghela napas, masih merasa jengkel namun dalam hatinya dia tahu Julius benar. “Kau selalu muncul di waktu yang tepat, ya? Atau mungkin... di waktu yang salah. Tapi, apapun itu, aku baik-baik saja.”
Julius menepuk pundak Niken dengan lembut, senyumnya masih tergantung di bibirnya. “Kau akan baik-baik saja. Tapi ingat, ini baru permulaan. Mereka mungkin sudah mengakui kehadiranmu, tapi belum tentu mereka akan menerimamu.”
Niken mengangkat bahu, menatap murid-murid di sekelilingnya yang kini sudah jauh lebih tenang. “Aku tidak peduli apakah mereka menerimaku atau tidak. Aku hanya ada di sini untuk satu alasan... dan itu bukan untuk menjadi teman mereka.”
Julius tersenyum lebar, seolah benar-benar menikmati sikap sinis Niken. "Dan itulah yang membuatmu sempurna di sini, Niken. Kau memang tak pernah bisa didikte oleh siapapun. Persis seperti kakakmu."
Niken hanya mendengus pelan. "Jangan bawa-bawa kakakku dalam hal ini, Julius. Aku tak ada urusan dengan dia lagi."
Tatapan Julius sejenak berubah serius, tapi hanya sebentar. Dia lalu mengangguk dan berkata, "Baiklah, kau menang kali ini. Tapi ingat, Bathin Hitam akan selalu menjadi ujian terbesar bagi semua orang yang masuk. Jadi jangan lengah... mereka akan terus menguji batasmu."
Niken tersenyum tipis, merasa bahwa tantangan ini mulai menarik. "Kalau begitu, biarkan mereka mencoba. Tapi lain kali aku tidak akan beri ampun kepada mereka. Mungkin aku akan sayat roh-roh mereka dan kuamputasi tangan dan kakinya, lalu aku jadikan pajangan di kamarku Fufufu."
"Selamat datang di Kelas Bathin Hitam, Niken," kata Bu Rihanna dengan nada yang seolah penuh makna tersembunyi. “Di sinilah perjalananmu yang sebenarnya dimulai.”
Niken berdiri di ambang pintu, hatinya berdebar tak karuan. Dia tahu bahwa tempat ini bukan hanya sekolah biasa. Ini adalah tempat di mana batas antara kekuatan batin dan kegelapan menjadi semakin kabur, dan dia tidak yakin apakah dirinya siap menghadapi apa yang akan datang. Tapi satu hal yang pasti—dia tak lagi bisa mundur.
Setelah Bu Rihanna pergi, dengan tekad yang menggumpal di dadanya, Niken melangkah memasuki kelas Bathin Hitam. Begitu kakinya menginjak lantai dingin ruangan itu, sesuatu yang mengerikan langsung menghantamnya—sebuah aura hitam pekat yang terasa menyesakkan. Aura itu bukan sekadar kegelapan biasa, melainkan ancaman yang nyata. Niken bisa merasakan tatapan penuh kebencian dan ketidaknyamanan dari murid-murid yang sudah lebih dulu duduk di dalam kelas. Tatapan itu seperti duri tajam, menusuk dirinya, seolah mereka menganggap kehadirannya sebagai gangguan yang tak diinginkan.
Aura itu semakin pekat, mengelilinginya dengan cepat, seperti jaring kegelapan yang berusaha menghancurkan ketenangannya. Dalam sekejap, Niken merasakan tubuhnya mulai melemah, seolah aura itu mengisap kekuatan batinnya. Suara-suara samar mulai terdengar di telinganya—bisikan jahat, tawa penuh hinaan, dan rasa benci yang menusuk hingga ke tulang.
"Jadi ini yang mereka rasakan," pikir Niken, merasa terpojok oleh kebencian kolektif murid-murid di sekitarnya. Mereka tidak menginginkannya di sana. Dia bisa merasakan aura mereka yang salah kaprah, penuh kesalahpahaman, dan bahkan ketakutan yang diselimuti permusuhan.
Tapi Niken bukanlah seseorang yang mudah menyerah pada tekanan, terlebih ancaman yang ia rasakan saat ini. Menyadari betapa nyata dan berbahayanya kekuatan kegelapan itu, tanpa ragu-ragu lagi, dia merogoh sabit kecil hitamnya yang tersimpan dalam kantong tasnya. Seketika sabit kecil itu diselubungi oleh api hitam, lalu sabit itu membesar sampai ukurannya 1.5 kali tinggi badan Niken. Gagang sabit itu terasa dingin namun familiar di tangannya, memberinya rasa kontrol yang tiba-tiba muncul di tengah kepanikan.
Dengan satu gerakan cepat, Niken mengayunkan sabit hitam itu ke udara, membelah aura gelap yang berusaha menelannya. Sabit itu berkilau dalam cahaya redup ruangan, memancarkan kekuatan yang tak kasat mata, namun begitu nyata saat menyapu aura gelap yang menyelimuti tubuhnya.
Aura hitam itu langsung tercerai-berai, hancur oleh kekuatan sabit hitam yang mengerikan. Bisikan-bisikan jahat yang tadi memenuhi pikirannya lenyap seketika, meninggalkan keheningan yang mencekam. Murid-murid di kelas, yang tadi memandangnya dengan permusuhan, kini menatapnya dengan tatapan kaget, beberapa di antaranya bahkan mundur sedikit, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Begitu mudahnya kalian menyerang orang baru?" Niken berkata dingin, suaranya terdengar tajam di tengah keheningan. "Jika ini cara kalian menyambut orang, maka aku sudah siap bermain."
Kelas itu seketika berubah hening, bahkan lebih sunyi daripada sebelumnya. Niken masih memegang sabit hitamnya, matanya mengawasi setiap murid dengan waspada. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang berani menantang tatapannya sekarang. Aura kekuatan Niken, yang baru saja terpancar, sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia bukan gadis biasa.
Dari sudut kelas, seseorang tertawa pelan, suara yang anehnya menenangkan, namun mengandung kegelapan yang mendalam. "Kau cepat beradaptasi, Niken," suara itu bergema, seolah berasal dari bayangan di sudut ruangan. "Tapi ini baru permulaan. Di sini, hanya yang kuat yang akan bertahan. Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan di tempat ini."
Niken merasakan detak jantungnya meningkat lagi, tetapi kali ini, bukan karena rasa takut. Melainkan karena sebuah tantangan yang terasa lebih nyata daripada sebelumnya. Sabit hitam di tangannya berkilau samar, dan dia tahu... dia harus terus waspada di tempat ini.
Niken terkejut mendengar suara yang familiar itu. Dia menoleh dan mendapati sosok Julius berdiri di dekat pintu kelas, dengan senyum tipis khasnya yang membuatnya tampak seperti seseorang yang selalu tahu lebih banyak dari yang ia katakan.
"Yah, kau terlalu santai, Niken," ujar Julius dengan nada bercanda yang menenangkan namun penuh kepastian. “Aku baru pergi sebentar, dan kau sudah membuat keributan di sini.”
Niken mengangkat alis, jelas-jelas tidak terkesan dengan kehadirannya. "Julius? Apa yang kau lakukan di sini?" katanya, suaranya terdengar malas, tapi dengan nada sinis yang sering ia gunakan ketika berbicara dengannya. "Bukankah kau seharusnya sibuk dengan... entahlah, hal-hal yang lebih penting? Aha, kamu lagi mengintip siswi-siswimu ganti pakaian di ruang ganti, kan?"
Julius tertawa kecil, seolah tidak terpengaruh oleh nada sindiran Niken. “Bahkan pacar kakakmu pun harus mengawasi adik yang bandel sepertimu, bukan?” Matanya menyapu ruangan, melihat murid-murid lainnya yang mulai mereda ketegangannya. “Lagipula, aku harus memastikan kau tidak dihancurkan oleh sambutan hangat mereka.”
Niken mendengus, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai, jelas sudah tidak lagi terpengaruh oleh aura yang sempat menyerangnya. "Jadi ini semua semacam ‘sapaan pertama’?" katanya sambil melirik ke arah murid-murid lain. “Harus kuakui, mereka punya selera humor yang... buruk.”
Julius hanya tersenyum dan melipat tangannya di dada. “Itu cara mereka memastikan siapa yang layak berada di sini. Dan tampaknya kau berhasil, meski dengan sedikit drama.” Tatapannya kembali fokus pada Niken, matanya berkilau seolah menyembunyikan sesuatu. "Seperti biasa, kau memang tak pernah suka hal-hal biasa, ya?"
Niken tersenyum miring, memperlihatkan sisi sinisnya yang khas. "Kalau hal-hal biasa menarik, mungkin aku akan lebih peduli. Tapi sayangnya, tidak. Dan kalau ini sambutan terbaik mereka," Niken memutar-mutar sabit hitamnya dengan main-main di tangannya, "aku rasa kita bisa akur."
Salah satu murid yang sebelumnya memancarkan aura hitam berdiri dan mendekati Niken dengan wajah kaku, tapi ada sedikit senyum kecut di bibirnya. "Kau benar-benar tak mudah ditakuti, ya?" katanya, suaranya penuh rasa hormat yang baru ditemukan. “Sambutan tadi seharusnya membuatmu lari ketakutan, tapi... sepertinya kita salah perhitungan.”
Niken menatapnya dengan datar, lalu menjawab dengan nada yang ringan tapi menusuk. “Lain kali, coba sesuatu yang lebih kreatif. Barangkali aku akan lebih terkesan.”
Julius menggelengkan kepalanya, seolah menikmati interaksi itu. “Kau benar-benar seperti kakakmu—atau bahkan lebih parah. Tidak heran aku suka berbicara denganmu,” ujarnya dengan nada menggoda.
“Yah, kurasa aku harus mengucapkan terima kasih atas pujian itu,” jawab Niken sambil tersenyum manis namun sinis. "Tapi, serius, Julius, apa yang kau lakukan di sini? Apa ini semacam skema rahasia yang kau buat dengan paman angkatku? Pasti kamu mau menyuruh pamanku untuk membawakan celana dalam kakakku ‘kan?"
Julius tertawa pelan, lalu menjawab, "Dasar! Kamu pikir aku seberapa mesumnya, huh? Ini semua hanya kebetulan. Atau mungkin takdir? Tapi kurasa... ini lebih kepada memastikan kau bertahan di kelas paling berbahaya di sekolah ini. Kelas Bathin Hitam tidak main-main, dan kau pasti sudah mulai merasakannya.”
Niken menghela napas, masih merasa jengkel namun dalam hatinya dia tahu Julius benar. “Kau selalu muncul di waktu yang tepat, ya? Atau mungkin... di waktu yang salah. Tapi, apapun itu, aku baik-baik saja.”
Julius menepuk pundak Niken dengan lembut, senyumnya masih tergantung di bibirnya. “Kau akan baik-baik saja. Tapi ingat, ini baru permulaan. Mereka mungkin sudah mengakui kehadiranmu, tapi belum tentu mereka akan menerimamu.”
Niken mengangkat bahu, menatap murid-murid di sekelilingnya yang kini sudah jauh lebih tenang. “Aku tidak peduli apakah mereka menerimaku atau tidak. Aku hanya ada di sini untuk satu alasan... dan itu bukan untuk menjadi teman mereka.”
Julius tersenyum lebar, seolah benar-benar menikmati sikap sinis Niken. "Dan itulah yang membuatmu sempurna di sini, Niken. Kau memang tak pernah bisa didikte oleh siapapun. Persis seperti kakakmu."
Niken hanya mendengus pelan. "Jangan bawa-bawa kakakku dalam hal ini, Julius. Aku tak ada urusan dengan dia lagi."
Tatapan Julius sejenak berubah serius, tapi hanya sebentar. Dia lalu mengangguk dan berkata, "Baiklah, kau menang kali ini. Tapi ingat, Bathin Hitam akan selalu menjadi ujian terbesar bagi semua orang yang masuk. Jadi jangan lengah... mereka akan terus menguji batasmu."
Niken tersenyum tipis, merasa bahwa tantangan ini mulai menarik. "Kalau begitu, biarkan mereka mencoba. Tapi lain kali aku tidak akan beri ampun kepada mereka. Mungkin aku akan sayat roh-roh mereka dan kuamputasi tangan dan kakinya, lalu aku jadikan pajangan di kamarku Fufufu."
arinu memberi reputasi
1