- Beranda
- Stories from the Heart
Rumah Terbengkalai (True Story)
...
TS
wedi
Rumah Terbengkalai (True Story)

#The Winner Writer II Horor
#Hot Genre Horor No 3.
#Top Catagori Novel Horor No 2.
#On Kaskus: HT ...

Hai, Readers.
Saya punya cerita yang mungkin menarik untuk kalian baca, kisah ini saya angkat dari kejadian nyata yang saya alami sendiri.
Quote:
Quote:
Spoiler for Temukan Athor di Sosial Media:
Spoiler for Link Donasi Gan:
Spoiler for Fizzo Novel::
Sebelumnya saya minta maaf jika ada:
-Kesalahan dalam Post saya
-Update ceritanya lama.
-Saltik atau Typo karena cerita belum sempat di Revisi ulang.
Quote:
Quote:
Quote:
----------------------------------------------------------------
NovelTool: TAMAT
Index On Kaskus (TAMAT)
0. Author Kembali 2024!
1. Prolog.
2. Perkenalan.
3. Rumah Tua Part 1.
4. Rumah Tua End.
5. Malam Pertama Part 1.
6. Malam Pertama End.
7. Interaksi Astral Part 1.
8. Interaksi Astral End.
9. Malam Penuh Cemas: Bab1 (2024)
10. Malam Penuh Cemas: Bab 2 (2024)
11. Malam Penuh Cemas: Bab 3 (2024)
12. Malam Penuh Cemas: End (2024)
13. Munguji Mental: Bab 1 (2024)
14. Menguji Mental: Bab 2 (2024)
15. Menguji Mental: Bab End (2024)
16. Aku Kembali: Bab 1 (2024)
17. Aku Kembali: Bab 2 (2024)
18. Aku Kembali: Bab 3 (2024)
19. Aku Kembali: Bab 4 (2024)
20. Aku Kembali: End (2024)
21. Dia Adik-ku: Bab 1 (2024)
22. Dia Adik-Ku: Bab 2 (2024)
23. Dia Adik-ku: Bab 3 (2024)
24. Dia Adik-Ku: Bab 4 (2024)
25. Dia Adik-Ku: Bab End (2024)
26. Teman Atau Lawan: Bab 1 (2024)
27. Teman Atau Lawan: Bab 1² (2024)
28. Teman Atau Lawan: Bab 2 (2024)
29. Teman Atau Lawan: Bab 3 (2024)
30. Teman Atau Lawan: Bab 4 (2024)
31. Teman Atau Lawan: Bab 5 (2024) ]
32. Teman Atau Lawan: Bab End¹ (2024)
32. Teman Atau Lawan: Bab End (2024)
33. Penderitaan: Bab 1 (2024)
34. POV Kevin: Penderitaan Bab 2 (2024)
35. Pov Kevin: Penderitaan: Bab 3¹ (2024)
36. POV Kevin: Penderitaan: Bab 3² (2024)
37. POV Kevin: Penderitaan: Bab 4¹
38. POV Kevin: Penderitaan: Bab 4²
39. Pov Kevin: Penderitaan bab 5
40. Pov Kevin: Penderitaan bab 6
41. Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
42. Pov Kevin: Penderitaan End
43. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP1
44. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP2-3
45. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP4-5
46. Pov Kevin: Mengungkap Misteri EP6-7
47. Pov Kevin: Mengungkap Misteri End
48. Pov kevin: Perjuangan Akhir EP1-2
49. Perjuangan Akhir EP3
50. Perjuangan Akhir: TAMAT
>>>TAMAT<<<<
----------------------------------------------------------------
Quote:
Diubah oleh wedi 22-10-2024 19:47
iwanridwanmks dan 59 lainnya memberi reputasi
56
57.5K
371
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wedi
#276
POV Kevin: Penderitaan Bab 2
—Demi kelangsungan alur cerita agar tersampaikan dengan baik, maka mulai dari sini POV(Sudut Pandang) akan berpindah kepada Kevin. Dikarenakan pada chapter yang berjudul: Penderitaan. Akan banyak adegan yang tak bisa dijelaskan oleh Karakter utama. Yok, kasih semangat buat Kevin—
=================================
"Mau ke mana lagi, sih, Vin? Baru balik, udah mau pergi lagi... Mau jadi apa hidup lo?"
Ya, meskipun nada suara itu terdengar familiar, itu adalah Ibuku—cerewet, namun penuh kasih. Kami adalah pendatang baru di Bogor, pindahan dari Bekasi. Namun, meski begitu, Bogor bukanlah tempat yang sepenuhnya asing bagi kami, karena banyak saudara Ibu yang tinggal di sini.
Pagi ini, aku baru saja pulang dari rumah loji. Sejak Deni jatuh sakit, rumah itu terasa kacau. Rasa cemas dan kekhawatiran tentang kondisi Deni masih membebani pikiranku. Semoga dia segera pulih.
Kriing... Kriing...
"HP-mu bunyi!" gerutu Ibuku, tampak terganggu dengan kebiasaanku yang sering keluar rumah.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di kursi dan melihat panggilan dari Rifaldy. Sepertinya dia sudah menungguku untuk segera kembali ke rumahnya.
"Halo, Pa?" sapaku sambil cepat-cepat memasukkan pakaian ke dalam ransel.
"Udah siap belum?" tanya Rifaldy. Di latar belakang, terdengar suara sendok dan piring yang bersentuhan.
"Sabar, Pa! Gue masih ngepak baju," jawabku. "Sisain makan buat gue, ya. Rumah gue kosong melompong."
BRAK!
Aku terlonjak kaget saat sebuah bolpoin melayang dan mengenai keningku.
"Ngapain sih, Nya?" protesku, mengusap kening yang terkena bolpoin.
"Ngomong tuh yang bener, jangan kayak ember bocor!" omel Ibuku dengan ekspresi jengkel. "He! Orang tuh ye harus nye ngejaga marwah keluarga, nah ini lo malah asal jeplak aje!"
"Ya bilang apaan, Nya?" jawabku santai sambil melanjutkan packing. "Emang bener di rumah nggak ada apa-apa. Nya juga tiduran terus."
Ibuku berdiri dan memukul kepalaku lembut. "Eh, kalau Enya punya duit, warung sebelah udah abis diborong!"
Aku menghela napas, tersenyum tipis dan merogoh isi tas, mengeluarkan beberapa lembar uang. "Nih, Nya."
Wajah Ibuku langsung cerah, dan dia tersenyum kecil. "Duit dari mane, nih? Bukan hasil ngutang, kan?"
"Buseet, Enya! Ini duit Kevin. Rifaldy yang kasih," jelasku, terkejut ketika melihat ponselku yang masih aktif. "Halo, Pa! Ya udah, gue jalan sekarang. Oke... oke," lanjutku, tergesa-gesa menutup panggilan.
"Lu kerja sama Rifaldy?" tanya Ibuku lagi. Mungkin yang ibuku tahu biasanya aku hanya bermain dengan Rifaldy. Tapi itu tidak sepenuhnya salah, hanya waktu lalu Kakak Rifaldy memberiku sejumlah uang.
"Bisa dibilang begitu, Nya." Aku mendekat dan mencium lengan Ibuku. "Kevin pamit, ya. Kayaknya Kevin bakal lama di loji."
"Ya udah, hati-hati. Jangan jadi benalu di rumah orang, belajar mandiri," pesan Ibuku saat aku bergegas pergi.
Perjalanan menuju rumah Rifaldy memakan waktu sekitar sepuluh menit. Meskipun aku tak punya kendaraan, suasana pagi yang cerah membuat langkahku terasa ringan dan penuh semangat.
Begitu tiba, aku berdiri di depan deretan rumah yang bersebelahan. Di sebelah kiri, rumah Rifaldy, dan di seberangnya, rumah Mang Rudi. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir kelelahan dari perjalanan.
Tatapanku tak lepas dari rumah Mang Rudi. Kenangan akan kejadian hari itu kembali menghantui. Saat itu, aku dan Mang Rudi harus membawa tubuh Deni yang tak berdaya ke dalam rumah. Suasana yang penuh kepanikan dan ketegangan.
Namun, sikap beberapa anggota keluarga membuatku heran. Bukannya memberikan dukungan, mereka malah cenderung menyalahkan Deni. Bahkan, ada yang mengusulkan agar Deni segera dipulangkan ke orang tuanya. Sikap dingin itu membuatku muak. Untungnya, Mang Rudi dan Bang Ferdy menolak gagasan itu, memilih untuk merawat Deni sampai dia pulih.
Kini, aku mulai mendekati rumah Rifaldy. Langkahku terhenti saat melihat jendela rumah Mang Rudi terbuka. Di dalam, tampak Deni duduk di bangku, terlihat lebih segar. Rasa lega mengalir dalam diriku. Tanpa sadar, langkahku semakin cepat menuju rumah Mang Rudi.
"Assalamu'alaikum," sapa ku dari pintu, membuat mereka menoleh.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak. Aku berdiri di ambang pintu, menatap Deni yang tersenyum. "Akhirnya lo sadar juga, Den!" seruku, masih berdiri di pintu.
"Masuklah, Vin! Udah kayak penagih utang aja berdiri di situ," canda Mang Rudi, mencairkan suasana.
"Alhamdulillah, Vin..." ucap Deni pelan. Tapi dari sorot matanya, tampak ada kesedihan yang mengganggu. Senyumnya tampak dipaksakan.
Aku duduk di sampingnya. "Gue kira lo nggak bakal sadar lagi, Den," kataku, membuatnya sedikit terkejut, lalu menahan tawanya.
"Jangan ngomong sembarangan!" canda Mang Rudi sambil melemparkan bantal kecil ke arahku, lalu tertawa.
Di ruang tamu yang sederhana ini, kami duduk mengelilingi meja kecil, tertawa dan berbincang ringan. Kami mengenang momen-momen lucu saat membawa Deni ke rumah Mang Rudi.
Tiba-tiba, suara dari luar mengganggu keheningan. Seorang wanita memanggil Mang Rudi dari depan rumah. Itu Ibu Rifaldy.
"Deni sama Kevin, ya?" teriak Ibu Rifaldy dari balik pintu, sapu di tangannya masih tergenggam.
"Iya, Teh. Baru pagi tadi Deni siuman," jawab Mang Rudi.
"Bukan kasih tau Uwa." ucap Ibu Rifaldy, tatapannya beralih kepadaku. "Kevin sama Deni makan dulu gih. Bareng sama Rifaldy," perintahnya, sulit untuk ditolak.
Namun, aku menunggu respons dari Deni. "Makasih, Wa, tapi Deni baru aja makan sama Mang Rudi," jawabnya lembut.
Meski suasana jadi sedikit tegang, kami tetap berusaha menikmati waktu sampai keluarga yang lain mulai berdatangan. Ruangan mulai terasa penuh, membuatku merasa tidak nyaman, hingga aku memutuskan untuk keluar sejenak. "Gue di depan aja, Den," bisikku pelan, yang dianggukan Deni.
Aku melangkah keluar dan duduk di teras kecil yang memisahkan rumah Mang Rudi dan Rifaldy. Teras ini setinggi lututku, dengan keramik kuning di atasnya.
"Oy!" Rifaldy tiba-tiba menepuk bahuku. "Deni udah sadar?"
"Iya, Pa. Baru tadi gue lihat," jawabku, sambil mengisyaratkan agar dia masuk dan menemui Deni.
"Rame banget di dalam, males ah," tolak Rifaldy, enggan ikut berbaur.
"Parah lo, Pa. Deni kayaknya lagi nunggu orang yang bisa ngajak dia keluar dari situ," ucapku, membuat Rifaldy berpikir sejenak, lalu melangkah melewati pagar.
Akhirnya, Rifaldy masuk ke dalam, menyapa semua orang, hingga ikut dalam obrolan yang tak kumengerti, hingga akhirnya dia berhasil membawa Deni keluar dari sana. Aku melihat dari kejauhan. Senyum Deni, meski masih pudar, kini terlihat lebih tulus.
Kami pun memasuki ruang makan, namun Rifaldy dan Deni tidak ikut menyantap hidangan yang terhidang. Keduanya tampak sangat antusias saat membicarakan rumah Loji setelah kepergian Deni. Rifaldy bahkan mengungkapkan betapa sulitnya mengelola kebutuhan pekerja, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dari pembicaraan mereka, aku bisa merasakan keinginan kuat Rifaldy untuk segera membawa Deni kembali ke rumah Loji, dan benar saja, Deni akhirnya setuju untuk ikut serta.
Singkat cerita, kami bersiap untuk berpamitan dan kembali ke rumah Loji. Seperti biasa, kami membawa bekal untuk para pekerja. Di depan rumah, mang Rudi dan Ibu Rifaldy sudah menanti dengan penuh perhatian, seolah-olah mengantar kepergian kami dengan penuh kehangatan.
"Oy! Yang pakai baju hitam!" seru mang Rudi, disertai tawa ringan. Pasti ia merujuk pada Rifaldy, yang memang mengenakan kaos hitam. "Titip, ya! Kalau ada apa-apa kabarin!" pesan mang Rudi dengan nada penuh perhatian.
"Siaapp, bos!" sahut Rifaldy tanpa ragu, penuh semangat.
Deni melangkah cepat ke arah mang Rudi, tampak berterima kasih atas semua yang telah dilakukan mang Rudi untuknya.
Selama aku mengenalnya, Deni adalah sosok pria dengan sifat dan etika yang luar biasa. Rasa hormatnya tidak tergantung pada usia, dan ia tidak pernah menunjukkan sikap sombong. Kerendahan hatinya membentuk sosok yang sederahan namun tegas. Kebaikan sekecil apapun yang diterimanya selalu dihargai dengan tulus.
Satu jam berlalu, dan kami mulai meninggalkan rumah Rifaldy. Dari kejauhan, tampak sebuah bangunan besar berdiri kokoh, menantang terik matahari siang ini.
Saat kami melewati pintu gerbang, suara riuh mang Tohir menyambut kedatangan kami. Lebih tepatnya, dia bersorak saat melihat Deni kembali. "Wwoohh!! Syukur alhamdulillah! Sudah sehat!" teriak mang Tohir dengan langkah cepat menghampiri kami.
Deni tertawa kecil, membalas sambutan hangat mang Tohir. "Alhamdulillah, Mang!"
"Saya khawatir sekali, Mas," ucap mang Tohir dengan nada cemas. "Saya takut banget kalau Mas Deni kenapa-kenapa!" Ia merangkul lengan Deni dan membantunya masuk ke dalam rumah dengan penuh kepedulian.
Di setiap langkah mereka, tampak mereka mengobrol ringan, mungkin membahas kondisi Deni. Sementara itu, aku dan Rifaldy sibuk mengemas barang-barang yang tertinggal di motor.
"Rif, menurut lu, Deni bakal baik-baik aja?" tanyaku, setelah Rifaldy selesai menyandarkan motornya. "Jujur, gue masih terpengaruh kejadian kemarin."
Rifaldy berbalik menatapku, "Semoga dia benar-benar sembuh, Vin." Langkahnya terhenti sejenak, seolah ia sedang memikirkan sesuatu. "Kalau dia kambuh lagi, kita ngga usah panik seperti kemarin."
Kata-kata Rifaldy membuka kembali ingatanku tentang kejadian itu. Aku yakin ada yang janggal, karena saat Deni tak sadarkan diri, ia sering tertawa tiba-tiba dan kemudian menangis. Suhu badannya juga terasa aneh, kadang sangat panas, kadang dingin seperti es.
Pikiran ini terus berputar di kepalaku, sulit untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa ada sesuatu yang mengganggu dalam diri Deni, namun aku tidak bisa berbuat banyak untuk memverifikasi kecurigaanku.
"Semoga saja Deni baik-baik saja," ucapku, menjawab Rifaldy.
Aku menyerahkan bingkisan makan siang kepada mang Tohir, yang segera menerimanya dan membawanya ke dapur.
"Vin, mang Ento sudah pergi, ya?" tanya Deni kepadaku, yang tampak murung duduk di kursi kayu.
"Iya, Pa," jawabku, lalu duduk di kursi lain dengan meja kayu sebagai pemisah. "Ketika lu pingsan, pagi-paginya mang Ento pamit." Deni mengangguk lembut mendengar penjelasanku.
Tatapannya tetap tertuju ke bawah, wajahnya datar dan kosong. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
"Pa?" panggilku lembut. "Yakin sudah sembuh?" Tanyaku lagi, membuat Deni menoleh pelan ke arahku.
"Sudah, Vin," jawabnya singkat dengan senyum kecil di wajahnya.
Aku menghela napas, merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Mata lu ngga bisa berbohong, Pa!" Ia hanya menggeleng samar. "Lebih baik istirahat di kamar, Pa." titahku, dan Deni pun berdiri dan menuju kamar tanpa bantahan.
Sifatnya terasa semakin dingin dan kaku. Apakah kami salah langkah? Haruskah kami membiarkannya tetap di rumah mang Rudi?
Pikiran ini berkecamuk dalam benakku, membuatku bangkit untuk menemui Rifaldy yang sedang berbincang dengan mang Tohir di ruang belakang.
"Oy! Rif," sapa ku, membuat Rifaldy dan mang Tohir menoleh. "Gue yakin Deni belum sepenuhnya pulih." gumamku.
Mendengar itu, mereka berhenti sejenak dan mulai mempertimbangkan.
"Kasihan, kalau tahu dia belum sehat sebaiknya jangan ke sini dulu," ungkap mang Tohir.
"Kenapa tidak kita pulangkan saja, Rif?" tambahku.
Rifaldy tampak berpikir, matanya menunjukkan kebingungan. "Gw coba tanya Deni dulu, deh," ujarnya, dan ia melangkah menuju kamar.
"Mang Tohir, makan dulu. Kami dan yang lain sudah makan," kataku, yang dianggukkan mang Tohir.
Aku pun menuju kamar dan mendapati Rifaldy sedang duduk bersama Deni. Deni tampak gelisah, duduk di tepi tempat tidur dengan lengan bertumpu pada paha, wajahnya masih tertunduk, seakan menahan sesuatu yang tak dapat ia ucapkan.
"Gimana, Den?" tanya Rifaldy, melanjutkan percakapan sebelumnya.
Deni mengalihkan pandangan lembut ke arah Rifaldy, menghela napas panjang. "Jujur, itu yang gue mau, Rif," ujarnya, membuatku penasaran dengan arah pembicaraan ini.
"Ya sudah, coba telepon Bang Ferdy, Den," saran Rifaldy.
Aku hanya diam, menyaksikan mereka. Tampaknya Deni ingin meminta izin kepada Kakak Rifaldy antara pulang atau tetap di sini. Sesaat ia mencoba menghubungi Kakak Rifaldy, dan berdebat halus dengannya. Namun, sikap tidak enak yang dimiliki Deni justru membuatnya terjebak dalam permintaan Kakak Rifaldy.
Deni memang sulit untuk menolak permintaan, bahkan jika itu sulit sekalipun, ia akan mempertimbangkannya. Mungkin ia tidak ingin melukai hati orang lain meskipun mengabaikan dirinya sendiri.
Rifaldy menepuk bahu Deni, berusaha menenangkannya. "Tenang, Den. Gue dan Kevin selalu ada di samping lu."
"Iya, Den. Apapun keputusan lu, kami pasti dukung," tambahku. Deni mengangguk lembut, lalu kembali menatap kami.
"Sepertinya gue bakal di sini, setidaknya sampai lantai satu selesai," ujar Deni, membuat kami tersenyum menyambut pilihannya dengan baik.
"Sebelumnya..." Deni berdiri, lalu melanjutkan, "Kita harus mencari pekerja untuk membantu mang Tohir."
Aku dan Rifaldy saling berpandangan, mencoba menghubungkan pemikiran kami.
"Siapa ya?" gumam Rifaldy.
"Gue tanya mang Tohir dulu," jawab Deni, tampak terburu-buru meskipun kondisinya belum sepenuhnya pulih.
"Lu nggak niat istirahat dulu, Pa?" tanyaku, mencoba mengingatkannya.
"Gue sudah sembuh kok," jawabnya penuh percaya diri. "Tenang saja."
Akhirnya ia keluar kamar, mungkin untuk menemui mang Tohir. Sementara aku dan Rifaldy masih terdiam, memandangi Deni yang berlalu begitu saja.
"Anak yang sulit ditebak," gumam Rifaldy, menggelengkan kepala membuatku mengangguk kecil.
Namun kehadiran Deni di sini tentu membawa suasana yang lebih hidup, terlebih gagasannya sangat membantu kelancaran pembangunan rumah ini.
Entah ambisi apa yang menggerakkan Kakak Rifaldy hingga memiliki hasrat untuk membangun rumah sebesar ini. Bahkan ia tidak peduli dengan lingkungan sekitar yang masih sepi, tanpa pemukiman warga.
Bagiku, sangat sulit membayangkan bisa tertarik pada rumah ini. Jangankan membelinya, bahkan jika diberikan secara cuma-cuma, aku masih akan berpikir ribuan kali sebelum menerimanya.
Saat ini aku dan Rifaldy hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, sibuk dengan permainan game kami. Sementara itu, Deni tampak sibuk dengan urusannya sendiri, mondar-mandir di ruang tamu sambil berbicara di telepon. Tak terasa, sore mulai merayap mendekat.
"Rif, besok antar aku ya. Aku perlu ke tempat material untuk pesan bahan bangunan," kata Deni dengan wajah segar, sepertinya baru selesai mandi, rambutnya masih basah.
"Okeehh!" jawab Rifaldy sambil melirik sekilas, lalu kembali fokus pada layar game-nya.
"Istirahatlah, Pa!" saranku tanpa berpaling dari layar TV. "Biarkan aku dan Rifaldy yang beli makan nanti."
"Lu bantuin Mang Tohir?" tanya Rifaldy.
Deni merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, "Gak tega lihat dia kerja sendirian, Rif."
Aku menoleh cepat ke arahnya, "Gila, Pa! Badan belum pulih, tapi sudah kembali beraktivitas."
Dia tidak bergeming, masih dengan mata terpejam, mungkin berusaha menghilangkan rasa lelah dari aktivitas hari ini. Membiarkannya adalah yang terbaik saat ini.
"Rif, ayo jalan sekarang, yuk?" ajakku.
"Hayo, selesai ini kita berangkat," sahut Rifaldy.
Kami pun meluncur menggunakan motor untuk membeli beberapa perlengkapan mandi dan makan malam. Aku sengaja berangkat lebih awal, karena perjalanan menuju tempat tersebut cukup jauh, dan aku tidak ingin berkeliling di sekitar sini ketika malam mulai turun.
Singkat cerita kami berhasil membeli semua yang diperlukan, dan kembali ke rumah Loji. Namun baru saja menyandarkan motor terlihat Mang Tohir berlari menghampiri kami dengan tergesa-gesa.
"Mas...." ucap Mang Tohir cepat, membuatku langsung merasakan kegelisahan. "Ma-ma-Mas, Deni..." lanjutnya tergagap sambil menunjuk ke arah kamar. "Dia bersikap aneh, Mas!"
Tanpa membuang waktu, kami segera melangkah cepat untuk memeriksa kondisi Deni yang kini membuat kami cemas.
Namun, apa yang kami temui sungguh mengejutkan. Aku mengerutkan alis ketika melihat Deni yang sedang berdiri tegap pada sudut di dalam kamar. Wajahnya pucat lesu, bibirnya terbuka dan bergetar. Matanya terbelalak lebar menatap langit-langit seraya lengannya mengepal keras nan kaku—seakan sedang menahan sakit yang luar biasa.
"Den?" tanya Rifaldy lembut, dengan langkah waspada kami menghampirinya perlahan. Namun, belum sempat lengan Rifaldy meraih bahunya, Deni justru roboh tak sadarkan diri.
Kami mempercepat langkah menghampiri tubuhnya yang menggigil hebat. Suara gigi yang bergetar terdengar jelas saat kami mengangkatnya ke tempat tidur.
Aku dan Rifaldy saling melempar pandang, mencoba mencari penjelasan atas kejadian ini. Kali ini, aku benar-benar yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Deni.
NOTE: Jadwal update: Kamis dan Minggu.
Mohon sekiranya, bisa menunggu..
=================================
"Mau ke mana lagi, sih, Vin? Baru balik, udah mau pergi lagi... Mau jadi apa hidup lo?"
Ya, meskipun nada suara itu terdengar familiar, itu adalah Ibuku—cerewet, namun penuh kasih. Kami adalah pendatang baru di Bogor, pindahan dari Bekasi. Namun, meski begitu, Bogor bukanlah tempat yang sepenuhnya asing bagi kami, karena banyak saudara Ibu yang tinggal di sini.
Pagi ini, aku baru saja pulang dari rumah loji. Sejak Deni jatuh sakit, rumah itu terasa kacau. Rasa cemas dan kekhawatiran tentang kondisi Deni masih membebani pikiranku. Semoga dia segera pulih.
Kriing... Kriing...
"HP-mu bunyi!" gerutu Ibuku, tampak terganggu dengan kebiasaanku yang sering keluar rumah.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di kursi dan melihat panggilan dari Rifaldy. Sepertinya dia sudah menungguku untuk segera kembali ke rumahnya.
"Halo, Pa?" sapaku sambil cepat-cepat memasukkan pakaian ke dalam ransel.
"Udah siap belum?" tanya Rifaldy. Di latar belakang, terdengar suara sendok dan piring yang bersentuhan.
"Sabar, Pa! Gue masih ngepak baju," jawabku. "Sisain makan buat gue, ya. Rumah gue kosong melompong."
BRAK!
Aku terlonjak kaget saat sebuah bolpoin melayang dan mengenai keningku.
"Ngapain sih, Nya?" protesku, mengusap kening yang terkena bolpoin.
"Ngomong tuh yang bener, jangan kayak ember bocor!" omel Ibuku dengan ekspresi jengkel. "He! Orang tuh ye harus nye ngejaga marwah keluarga, nah ini lo malah asal jeplak aje!"
"Ya bilang apaan, Nya?" jawabku santai sambil melanjutkan packing. "Emang bener di rumah nggak ada apa-apa. Nya juga tiduran terus."
Ibuku berdiri dan memukul kepalaku lembut. "Eh, kalau Enya punya duit, warung sebelah udah abis diborong!"
Aku menghela napas, tersenyum tipis dan merogoh isi tas, mengeluarkan beberapa lembar uang. "Nih, Nya."
Wajah Ibuku langsung cerah, dan dia tersenyum kecil. "Duit dari mane, nih? Bukan hasil ngutang, kan?"
"Buseet, Enya! Ini duit Kevin. Rifaldy yang kasih," jelasku, terkejut ketika melihat ponselku yang masih aktif. "Halo, Pa! Ya udah, gue jalan sekarang. Oke... oke," lanjutku, tergesa-gesa menutup panggilan.
"Lu kerja sama Rifaldy?" tanya Ibuku lagi. Mungkin yang ibuku tahu biasanya aku hanya bermain dengan Rifaldy. Tapi itu tidak sepenuhnya salah, hanya waktu lalu Kakak Rifaldy memberiku sejumlah uang.
"Bisa dibilang begitu, Nya." Aku mendekat dan mencium lengan Ibuku. "Kevin pamit, ya. Kayaknya Kevin bakal lama di loji."
"Ya udah, hati-hati. Jangan jadi benalu di rumah orang, belajar mandiri," pesan Ibuku saat aku bergegas pergi.
Perjalanan menuju rumah Rifaldy memakan waktu sekitar sepuluh menit. Meskipun aku tak punya kendaraan, suasana pagi yang cerah membuat langkahku terasa ringan dan penuh semangat.
Begitu tiba, aku berdiri di depan deretan rumah yang bersebelahan. Di sebelah kiri, rumah Rifaldy, dan di seberangnya, rumah Mang Rudi. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir kelelahan dari perjalanan.
Tatapanku tak lepas dari rumah Mang Rudi. Kenangan akan kejadian hari itu kembali menghantui. Saat itu, aku dan Mang Rudi harus membawa tubuh Deni yang tak berdaya ke dalam rumah. Suasana yang penuh kepanikan dan ketegangan.
Namun, sikap beberapa anggota keluarga membuatku heran. Bukannya memberikan dukungan, mereka malah cenderung menyalahkan Deni. Bahkan, ada yang mengusulkan agar Deni segera dipulangkan ke orang tuanya. Sikap dingin itu membuatku muak. Untungnya, Mang Rudi dan Bang Ferdy menolak gagasan itu, memilih untuk merawat Deni sampai dia pulih.
Kini, aku mulai mendekati rumah Rifaldy. Langkahku terhenti saat melihat jendela rumah Mang Rudi terbuka. Di dalam, tampak Deni duduk di bangku, terlihat lebih segar. Rasa lega mengalir dalam diriku. Tanpa sadar, langkahku semakin cepat menuju rumah Mang Rudi.
"Assalamu'alaikum," sapa ku dari pintu, membuat mereka menoleh.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak. Aku berdiri di ambang pintu, menatap Deni yang tersenyum. "Akhirnya lo sadar juga, Den!" seruku, masih berdiri di pintu.
"Masuklah, Vin! Udah kayak penagih utang aja berdiri di situ," canda Mang Rudi, mencairkan suasana.
"Alhamdulillah, Vin..." ucap Deni pelan. Tapi dari sorot matanya, tampak ada kesedihan yang mengganggu. Senyumnya tampak dipaksakan.
Aku duduk di sampingnya. "Gue kira lo nggak bakal sadar lagi, Den," kataku, membuatnya sedikit terkejut, lalu menahan tawanya.
"Jangan ngomong sembarangan!" canda Mang Rudi sambil melemparkan bantal kecil ke arahku, lalu tertawa.
Di ruang tamu yang sederhana ini, kami duduk mengelilingi meja kecil, tertawa dan berbincang ringan. Kami mengenang momen-momen lucu saat membawa Deni ke rumah Mang Rudi.
Tiba-tiba, suara dari luar mengganggu keheningan. Seorang wanita memanggil Mang Rudi dari depan rumah. Itu Ibu Rifaldy.
"Deni sama Kevin, ya?" teriak Ibu Rifaldy dari balik pintu, sapu di tangannya masih tergenggam.
"Iya, Teh. Baru pagi tadi Deni siuman," jawab Mang Rudi.
"Bukan kasih tau Uwa." ucap Ibu Rifaldy, tatapannya beralih kepadaku. "Kevin sama Deni makan dulu gih. Bareng sama Rifaldy," perintahnya, sulit untuk ditolak.
Namun, aku menunggu respons dari Deni. "Makasih, Wa, tapi Deni baru aja makan sama Mang Rudi," jawabnya lembut.
Meski suasana jadi sedikit tegang, kami tetap berusaha menikmati waktu sampai keluarga yang lain mulai berdatangan. Ruangan mulai terasa penuh, membuatku merasa tidak nyaman, hingga aku memutuskan untuk keluar sejenak. "Gue di depan aja, Den," bisikku pelan, yang dianggukan Deni.
Aku melangkah keluar dan duduk di teras kecil yang memisahkan rumah Mang Rudi dan Rifaldy. Teras ini setinggi lututku, dengan keramik kuning di atasnya.
"Oy!" Rifaldy tiba-tiba menepuk bahuku. "Deni udah sadar?"
"Iya, Pa. Baru tadi gue lihat," jawabku, sambil mengisyaratkan agar dia masuk dan menemui Deni.
"Rame banget di dalam, males ah," tolak Rifaldy, enggan ikut berbaur.
"Parah lo, Pa. Deni kayaknya lagi nunggu orang yang bisa ngajak dia keluar dari situ," ucapku, membuat Rifaldy berpikir sejenak, lalu melangkah melewati pagar.
Akhirnya, Rifaldy masuk ke dalam, menyapa semua orang, hingga ikut dalam obrolan yang tak kumengerti, hingga akhirnya dia berhasil membawa Deni keluar dari sana. Aku melihat dari kejauhan. Senyum Deni, meski masih pudar, kini terlihat lebih tulus.
Kami pun memasuki ruang makan, namun Rifaldy dan Deni tidak ikut menyantap hidangan yang terhidang. Keduanya tampak sangat antusias saat membicarakan rumah Loji setelah kepergian Deni. Rifaldy bahkan mengungkapkan betapa sulitnya mengelola kebutuhan pekerja, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dari pembicaraan mereka, aku bisa merasakan keinginan kuat Rifaldy untuk segera membawa Deni kembali ke rumah Loji, dan benar saja, Deni akhirnya setuju untuk ikut serta.
Singkat cerita, kami bersiap untuk berpamitan dan kembali ke rumah Loji. Seperti biasa, kami membawa bekal untuk para pekerja. Di depan rumah, mang Rudi dan Ibu Rifaldy sudah menanti dengan penuh perhatian, seolah-olah mengantar kepergian kami dengan penuh kehangatan.
"Oy! Yang pakai baju hitam!" seru mang Rudi, disertai tawa ringan. Pasti ia merujuk pada Rifaldy, yang memang mengenakan kaos hitam. "Titip, ya! Kalau ada apa-apa kabarin!" pesan mang Rudi dengan nada penuh perhatian.
"Siaapp, bos!" sahut Rifaldy tanpa ragu, penuh semangat.
Deni melangkah cepat ke arah mang Rudi, tampak berterima kasih atas semua yang telah dilakukan mang Rudi untuknya.
Selama aku mengenalnya, Deni adalah sosok pria dengan sifat dan etika yang luar biasa. Rasa hormatnya tidak tergantung pada usia, dan ia tidak pernah menunjukkan sikap sombong. Kerendahan hatinya membentuk sosok yang sederahan namun tegas. Kebaikan sekecil apapun yang diterimanya selalu dihargai dengan tulus.
Satu jam berlalu, dan kami mulai meninggalkan rumah Rifaldy. Dari kejauhan, tampak sebuah bangunan besar berdiri kokoh, menantang terik matahari siang ini.
Saat kami melewati pintu gerbang, suara riuh mang Tohir menyambut kedatangan kami. Lebih tepatnya, dia bersorak saat melihat Deni kembali. "Wwoohh!! Syukur alhamdulillah! Sudah sehat!" teriak mang Tohir dengan langkah cepat menghampiri kami.
Deni tertawa kecil, membalas sambutan hangat mang Tohir. "Alhamdulillah, Mang!"
"Saya khawatir sekali, Mas," ucap mang Tohir dengan nada cemas. "Saya takut banget kalau Mas Deni kenapa-kenapa!" Ia merangkul lengan Deni dan membantunya masuk ke dalam rumah dengan penuh kepedulian.
Di setiap langkah mereka, tampak mereka mengobrol ringan, mungkin membahas kondisi Deni. Sementara itu, aku dan Rifaldy sibuk mengemas barang-barang yang tertinggal di motor.
"Rif, menurut lu, Deni bakal baik-baik aja?" tanyaku, setelah Rifaldy selesai menyandarkan motornya. "Jujur, gue masih terpengaruh kejadian kemarin."
Rifaldy berbalik menatapku, "Semoga dia benar-benar sembuh, Vin." Langkahnya terhenti sejenak, seolah ia sedang memikirkan sesuatu. "Kalau dia kambuh lagi, kita ngga usah panik seperti kemarin."
Kata-kata Rifaldy membuka kembali ingatanku tentang kejadian itu. Aku yakin ada yang janggal, karena saat Deni tak sadarkan diri, ia sering tertawa tiba-tiba dan kemudian menangis. Suhu badannya juga terasa aneh, kadang sangat panas, kadang dingin seperti es.
Pikiran ini terus berputar di kepalaku, sulit untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa ada sesuatu yang mengganggu dalam diri Deni, namun aku tidak bisa berbuat banyak untuk memverifikasi kecurigaanku.
"Semoga saja Deni baik-baik saja," ucapku, menjawab Rifaldy.
Aku menyerahkan bingkisan makan siang kepada mang Tohir, yang segera menerimanya dan membawanya ke dapur.
"Vin, mang Ento sudah pergi, ya?" tanya Deni kepadaku, yang tampak murung duduk di kursi kayu.
"Iya, Pa," jawabku, lalu duduk di kursi lain dengan meja kayu sebagai pemisah. "Ketika lu pingsan, pagi-paginya mang Ento pamit." Deni mengangguk lembut mendengar penjelasanku.
Tatapannya tetap tertuju ke bawah, wajahnya datar dan kosong. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
"Pa?" panggilku lembut. "Yakin sudah sembuh?" Tanyaku lagi, membuat Deni menoleh pelan ke arahku.
"Sudah, Vin," jawabnya singkat dengan senyum kecil di wajahnya.
Aku menghela napas, merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Mata lu ngga bisa berbohong, Pa!" Ia hanya menggeleng samar. "Lebih baik istirahat di kamar, Pa." titahku, dan Deni pun berdiri dan menuju kamar tanpa bantahan.
Sifatnya terasa semakin dingin dan kaku. Apakah kami salah langkah? Haruskah kami membiarkannya tetap di rumah mang Rudi?
Pikiran ini berkecamuk dalam benakku, membuatku bangkit untuk menemui Rifaldy yang sedang berbincang dengan mang Tohir di ruang belakang.
"Oy! Rif," sapa ku, membuat Rifaldy dan mang Tohir menoleh. "Gue yakin Deni belum sepenuhnya pulih." gumamku.
Mendengar itu, mereka berhenti sejenak dan mulai mempertimbangkan.
"Kasihan, kalau tahu dia belum sehat sebaiknya jangan ke sini dulu," ungkap mang Tohir.
"Kenapa tidak kita pulangkan saja, Rif?" tambahku.
Rifaldy tampak berpikir, matanya menunjukkan kebingungan. "Gw coba tanya Deni dulu, deh," ujarnya, dan ia melangkah menuju kamar.
"Mang Tohir, makan dulu. Kami dan yang lain sudah makan," kataku, yang dianggukkan mang Tohir.
Aku pun menuju kamar dan mendapati Rifaldy sedang duduk bersama Deni. Deni tampak gelisah, duduk di tepi tempat tidur dengan lengan bertumpu pada paha, wajahnya masih tertunduk, seakan menahan sesuatu yang tak dapat ia ucapkan.
"Gimana, Den?" tanya Rifaldy, melanjutkan percakapan sebelumnya.
Deni mengalihkan pandangan lembut ke arah Rifaldy, menghela napas panjang. "Jujur, itu yang gue mau, Rif," ujarnya, membuatku penasaran dengan arah pembicaraan ini.
"Ya sudah, coba telepon Bang Ferdy, Den," saran Rifaldy.
Aku hanya diam, menyaksikan mereka. Tampaknya Deni ingin meminta izin kepada Kakak Rifaldy antara pulang atau tetap di sini. Sesaat ia mencoba menghubungi Kakak Rifaldy, dan berdebat halus dengannya. Namun, sikap tidak enak yang dimiliki Deni justru membuatnya terjebak dalam permintaan Kakak Rifaldy.
Deni memang sulit untuk menolak permintaan, bahkan jika itu sulit sekalipun, ia akan mempertimbangkannya. Mungkin ia tidak ingin melukai hati orang lain meskipun mengabaikan dirinya sendiri.
Rifaldy menepuk bahu Deni, berusaha menenangkannya. "Tenang, Den. Gue dan Kevin selalu ada di samping lu."
"Iya, Den. Apapun keputusan lu, kami pasti dukung," tambahku. Deni mengangguk lembut, lalu kembali menatap kami.
"Sepertinya gue bakal di sini, setidaknya sampai lantai satu selesai," ujar Deni, membuat kami tersenyum menyambut pilihannya dengan baik.
"Sebelumnya..." Deni berdiri, lalu melanjutkan, "Kita harus mencari pekerja untuk membantu mang Tohir."
Aku dan Rifaldy saling berpandangan, mencoba menghubungkan pemikiran kami.
"Siapa ya?" gumam Rifaldy.
"Gue tanya mang Tohir dulu," jawab Deni, tampak terburu-buru meskipun kondisinya belum sepenuhnya pulih.
"Lu nggak niat istirahat dulu, Pa?" tanyaku, mencoba mengingatkannya.
"Gue sudah sembuh kok," jawabnya penuh percaya diri. "Tenang saja."
Akhirnya ia keluar kamar, mungkin untuk menemui mang Tohir. Sementara aku dan Rifaldy masih terdiam, memandangi Deni yang berlalu begitu saja.
"Anak yang sulit ditebak," gumam Rifaldy, menggelengkan kepala membuatku mengangguk kecil.
Namun kehadiran Deni di sini tentu membawa suasana yang lebih hidup, terlebih gagasannya sangat membantu kelancaran pembangunan rumah ini.
Entah ambisi apa yang menggerakkan Kakak Rifaldy hingga memiliki hasrat untuk membangun rumah sebesar ini. Bahkan ia tidak peduli dengan lingkungan sekitar yang masih sepi, tanpa pemukiman warga.
Bagiku, sangat sulit membayangkan bisa tertarik pada rumah ini. Jangankan membelinya, bahkan jika diberikan secara cuma-cuma, aku masih akan berpikir ribuan kali sebelum menerimanya.
Saat ini aku dan Rifaldy hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, sibuk dengan permainan game kami. Sementara itu, Deni tampak sibuk dengan urusannya sendiri, mondar-mandir di ruang tamu sambil berbicara di telepon. Tak terasa, sore mulai merayap mendekat.
"Rif, besok antar aku ya. Aku perlu ke tempat material untuk pesan bahan bangunan," kata Deni dengan wajah segar, sepertinya baru selesai mandi, rambutnya masih basah.
"Okeehh!" jawab Rifaldy sambil melirik sekilas, lalu kembali fokus pada layar game-nya.
"Istirahatlah, Pa!" saranku tanpa berpaling dari layar TV. "Biarkan aku dan Rifaldy yang beli makan nanti."
"Lu bantuin Mang Tohir?" tanya Rifaldy.
Deni merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, "Gak tega lihat dia kerja sendirian, Rif."
Aku menoleh cepat ke arahnya, "Gila, Pa! Badan belum pulih, tapi sudah kembali beraktivitas."
Dia tidak bergeming, masih dengan mata terpejam, mungkin berusaha menghilangkan rasa lelah dari aktivitas hari ini. Membiarkannya adalah yang terbaik saat ini.
"Rif, ayo jalan sekarang, yuk?" ajakku.
"Hayo, selesai ini kita berangkat," sahut Rifaldy.
Kami pun meluncur menggunakan motor untuk membeli beberapa perlengkapan mandi dan makan malam. Aku sengaja berangkat lebih awal, karena perjalanan menuju tempat tersebut cukup jauh, dan aku tidak ingin berkeliling di sekitar sini ketika malam mulai turun.
Singkat cerita kami berhasil membeli semua yang diperlukan, dan kembali ke rumah Loji. Namun baru saja menyandarkan motor terlihat Mang Tohir berlari menghampiri kami dengan tergesa-gesa.
"Mas...." ucap Mang Tohir cepat, membuatku langsung merasakan kegelisahan. "Ma-ma-Mas, Deni..." lanjutnya tergagap sambil menunjuk ke arah kamar. "Dia bersikap aneh, Mas!"
Tanpa membuang waktu, kami segera melangkah cepat untuk memeriksa kondisi Deni yang kini membuat kami cemas.
Namun, apa yang kami temui sungguh mengejutkan. Aku mengerutkan alis ketika melihat Deni yang sedang berdiri tegap pada sudut di dalam kamar. Wajahnya pucat lesu, bibirnya terbuka dan bergetar. Matanya terbelalak lebar menatap langit-langit seraya lengannya mengepal keras nan kaku—seakan sedang menahan sakit yang luar biasa.
"Den?" tanya Rifaldy lembut, dengan langkah waspada kami menghampirinya perlahan. Namun, belum sempat lengan Rifaldy meraih bahunya, Deni justru roboh tak sadarkan diri.
Kami mempercepat langkah menghampiri tubuhnya yang menggigil hebat. Suara gigi yang bergetar terdengar jelas saat kami mengangkatnya ke tempat tidur.
Aku dan Rifaldy saling melempar pandang, mencoba mencari penjelasan atas kejadian ini. Kali ini, aku benar-benar yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Deni.
NOTE: Jadwal update: Kamis dan Minggu.
Mohon sekiranya, bisa menunggu..
Diubah oleh wedi 28-09-2024 17:09
sampeuk dan 4 lainnya memberi reputasi
5