- Beranda
- Stories from the Heart
Bangkitnya Penjaga Dari Timur
...
TS
Gojira1998
Bangkitnya Penjaga Dari Timur
Halo halo agan dan aganwati, mohon ijin sebelumnya ane mau sharing sebuah cerita Sejarah Alternatif (What If....). Beberapa nama tokoh sejarah akan ada dalam story ini tapi jalan ceritanya sudah pasti fiksi, ya namanya juga Sejarah Alternatif. Jadi gak usah berlama - lama semoga kalian terhibur semua! Cekidot! 
================================================================================

Ayah Galih menatapnya dan sedikit mengangkat alisnya.
"Sudah bangun kau tuan muda?," ucap ayahnya, ada sedikit sarkas di nada bicaranya.
Galih hanya mengangguk pelan dengan wajah masih mengantuk.
"Mandilah dan langsung sarapan, kau tentu tak mau terlambat di hari pertamamu sekolah", kata ayahnya.
Ibunya mendatangi Galih dan melap muka berminyak anaknya yang mulai beranjak remaja itu.
Galih terlihat tidak nyaman dan berusaha menghindari usapan lap dari tangan ibunya.
"Bu, aku mau mandi, tidak usah lap mukaku!", protes Galih.
"Mukamu berminyak dan kamu sering cuci muka tidak memakai sabun", ibunya menjelaskan.
"Jadi dari pada gurumu mengomel karena dianggap kau belum mandi, lebih baik kamu diam biar ibu yang lap" tambah ibunya sambil menunjukan lap di tangannya.
Tahun depan Galih lulus, kemana karirnya ke depan dia tidak tahu. Tapi Galih yang terbiasa menulis berpikir menjadi wartawan di kota besar bukan ide yang buruk.
Tidak berapa lama kemudian Galih sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam cokelat sekolahnya. Dia pun pergi ke meja makan, menarik kursinya dan mulai makan.
Tiba - tiba ayahnya meletakan korannya sambil berkata "Hah! Sudah ku duga! Betul - betul licik mereka!".
"Ini yang sudah aku perkirakan, jika kita mendaftarkan tanah kita maka harus ada pengukuran ulang!", ujar ayahnya.
"Tapi bukankah itu bagus", ibu Galih angkat bicara.
"Jika pengukuran dilakukan kembali maka seharusnya tanah - tanah yang diambil alih pada saat perang bisa dikembalikan kepada pemiliknya atau ke negara", tambah ibunya.
"Jika berpikir senaif itu ya itu yang akan terjadi, tapi jika melihat mulai munculnya para tuan tanah baru, bisa jadi ini menjadi alasan untuk mengambil alih beberapa lahan tanah rakyat!", pungkas ayahnya.
Galih tiba - tiba angkat bicara
"Tapi jika ada pengawasan ketat dari pemerintah, bukankah seharusnya lebih aman yah?", ucap Galih.
"Itu yang menjadi pertanyaannya bukan?".
Galih terdiam, ayahnya terkadang seperti orang yang tak tertarik dengan politik, tapi setiap pemikirannya terhadap kebijakan pemerintah selalu ada benarnya.
Sebenarnya banyak partai yang ingin menjadikan ayahnya sebagai kader, tapi kebanyakan ditolak oleh ayah. Kemarin ada sebuah partai bernama Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI menawarkan posisi yang bagus, tapi ayah menolaknya. Kata ayah jika dia bergabung ke sebuah partai maka yang dia perjuangkan adalah kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat atau petani.
Dulu ayah sempat menjadi simpatisan Partai Nasional Indonesia atau PNI, tapi ayahnya lebih memilih melanjutkan karir dalam organisasi petani Sangger itu. Galih banyak belajar politik dan kebijakan dari ayahnya, mungkin ini yang membuat ayahnya menginginkan Galih mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Selesai makan Galih meletakan piringnya di tempat pencucian di belakang rumahnya. Dia mengambil tasnya di kamar kemudian memakai sepatu pantofel kulit hitam yang sudah disemir malam sebelumnya. Setelah itu dia mendatangi ayah ibunya untuk memberikan salam sebelum pergi ke sekolah.
"Ayah ibu aku pergi dulu ke sekolah", ucap Galih sembari mencium tangan ayah ibunya.
"Iya nak, hati - hati dijalan, jaga pergaulan jangan sampai kamu terjerumus", ayah Galih memperingatkan.
"Sudahlah yah, anak kita sudah besar, kita harus lebih percaya dengannya", bela ibu Galih.
Ayah Galih hanya mengangguk pelan. Begitulah ayahnya, disiplin dan keras, sampai - sampai Galih tidak paham bagaimana ayahnya menyampaikan rasa sayang.
Galih kemudian membuka pintu, dan berjalan menyusuri jalanan desa menuju sekolahnya.

================================================================================
Bangkitnya Penjaga Dari Timur

Spoiler for Karakter:
A. Indonesia
1. Galih Hardi
2. Gunawan Hardi
3. Dena Hardi
4. Yudi Brata
5. Fina Brata
6. Brata Sudrajat
7. Susi Sudrajat
8. Gama Manurung
9. Joseph Manurung
10. Halsa Laisina
11. Kapten Jonathan Laisina
12. Menlu Harmoko Suwandi
13. Presiden Sapta Hasro
14. Wapres Arga Sasongko
B. Belanda
1. Fergus van Ronnen
2. Bella van Ronnen
3. Jenderal Hubbert van Ronnen
4. Julina van Ronnen
5. Frank Gustra
6. Kolonel Wilmer van Oosten
7. Valentina van Stroon
C. Jepang
1. Makoto Hakaze
2. Yui Hakaze
3. Mayor Jenderal Koku Seiji
4. Jenderal Ryouta Shougo
5. Fudo Kurosawa
D. Tokoh Dalam Sejarah
1. Walther Hewel
2. Frank Murphy
3. Archibald Wavell
1. Galih Hardi
2. Gunawan Hardi
3. Dena Hardi
4. Yudi Brata
5. Fina Brata
6. Brata Sudrajat
7. Susi Sudrajat
8. Gama Manurung
9. Joseph Manurung
10. Halsa Laisina
11. Kapten Jonathan Laisina
12. Menlu Harmoko Suwandi
13. Presiden Sapta Hasro
14. Wapres Arga Sasongko
B. Belanda
1. Fergus van Ronnen
2. Bella van Ronnen
3. Jenderal Hubbert van Ronnen
4. Julina van Ronnen
5. Frank Gustra
6. Kolonel Wilmer van Oosten
7. Valentina van Stroon
C. Jepang
1. Makoto Hakaze
2. Yui Hakaze
3. Mayor Jenderal Koku Seiji
4. Jenderal Ryouta Shougo
5. Fudo Kurosawa
D. Tokoh Dalam Sejarah
1. Walther Hewel
2. Frank Murphy
3. Archibald Wavell
Spoiler for INDEX:
Prolog
Chapter 1 - Galih Hardi
Chapter 2 - Yudi Brata
Chapter 3 - Yui Hakaze
Chapter 4 - Makoto Hakaze
Chapter 5 - Yui Hakaze
Chapter 1 - Galih Hardi
Chapter 2 - Yudi Brata
Chapter 3 - Yui Hakaze
Chapter 4 - Makoto Hakaze
Chapter 5 - Yui Hakaze
Spoiler for Prolog:
Selama lebih dari 3 abad Belanda menjajah Nusantara, perampasan hak dan sumber daya alam yang dihisap habis - habisan sangat tidak manusiawi dan membawa kesengsaraan bagi rakyat. Sudah banyak terjadi perlawanan di berbagai daerah tapi selalu berhasil dipatahkan oleh Belanda.
Pada 28 Oktober 1928, sebuah kongres pemuda diadakan, dan segenap perwakilan pemuda dan pelajar dari seluruh Nusantara menyerukan sebuah sumpah yang terkenal dan diberi nama Sumpah Pemuda Indonesia. Sumpah ini menjadi ikrar para kaum pemuda dan pelajar terbentuknya sebuah bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Semangat sumpah pemuda ini kemudian menyebar keseluruh Indonesia, dan membuat terjadinya beberapa perlawanan di berbagai daerah hingga pada akhirnya pada Maret 1929, Perang Kemerdekaan Indonesia dimulai.
Belanda yang terkejut dengan semangat dan daya juang pemuda Indonesia sangat kewalahan. Belanda memohon bantuan kepada kolonial sekitarnya seperti Inggris dan Perancis, tapi dua negara itu tidak mau membantu Belanda karena dukungannya kepada Jerman pada perang dunia pertama. Belanda akhirnya terusir sampai ke Papua, dan memohon gencatan senjata, pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Sapta meminta untuk Belanda untuk pergi maka gencatan senjata dilakukan.
Belanda memohon kembali gencatan senjata tapi kali ini dengan perjanjian mereka membutuhkan waktu untuk 5 tahun agar benar - benar siap memberikan Papua kepada Indonesia. Pemerintahan Indonesia menyetujui, dan setelah satu tahun berperang, pada 17 Agustus 1930 Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda.
Pada 28 Oktober 1928, sebuah kongres pemuda diadakan, dan segenap perwakilan pemuda dan pelajar dari seluruh Nusantara menyerukan sebuah sumpah yang terkenal dan diberi nama Sumpah Pemuda Indonesia. Sumpah ini menjadi ikrar para kaum pemuda dan pelajar terbentuknya sebuah bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Semangat sumpah pemuda ini kemudian menyebar keseluruh Indonesia, dan membuat terjadinya beberapa perlawanan di berbagai daerah hingga pada akhirnya pada Maret 1929, Perang Kemerdekaan Indonesia dimulai.
Belanda yang terkejut dengan semangat dan daya juang pemuda Indonesia sangat kewalahan. Belanda memohon bantuan kepada kolonial sekitarnya seperti Inggris dan Perancis, tapi dua negara itu tidak mau membantu Belanda karena dukungannya kepada Jerman pada perang dunia pertama. Belanda akhirnya terusir sampai ke Papua, dan memohon gencatan senjata, pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Sapta meminta untuk Belanda untuk pergi maka gencatan senjata dilakukan.
Belanda memohon kembali gencatan senjata tapi kali ini dengan perjanjian mereka membutuhkan waktu untuk 5 tahun agar benar - benar siap memberikan Papua kepada Indonesia. Pemerintahan Indonesia menyetujui, dan setelah satu tahun berperang, pada 17 Agustus 1930 Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda.
Spoiler for Chapter 1 - Galih Hardi :
Menjelang pagi tapi gelap masih menyelimuti kampung Sangger, sebuah kampung yang berada di sebelah timur Semarang. Seberkas cahaya mentari mulai muncul di ufuk timur, mulai menerangi secara pelan di kampung yang damai itu. Lampu - lampu jalan di kampung satu persatu mulai padam secara otomatis, dan beberapa rumah juga mulai mematikan lampu di depan rumah mereka. Galih terbangun dari tidurnya, matanya membuka dan mengerjap beberapa kali. Dia mengangkat kepalanya sedikit dan melihat ke arah jendela, terlihat seberkas cahaya matahari terlihat.
Galih menggeliat sedikit sambil menguap, kemudian beranjak bangun dan terduduk di tempat tidurnya. Terdengar suara dentingan piring dari luar kamar, tanda ibunya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Galih kemudian berjalan dengan perlahan menuju jendela, terdapat sebuah foto Galih di dinding semasa kecil dengan sang kakak berseragam KNIL yang sedang memanggul senjata jenis laras panjang Mauser 1895. Terdapat nama pada seragam sang kakak yang tertulis Bagas Hardi, dan lambang militer yang menandakan dia seorang Letnan Satu.
Galih membuka jendela kamarnya dan terlihat jalanan desa didepan rumahnya, mulai ada beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas pagi. Pengantar koran yang sedang menggowes sepedanya dengan tumpukan koran baru yang akan diantar ke pelanggan, ada juga beberapa petani yang sedang membawa hasil panennya ke atas truk. Beberapa orang yang sedang bertegur sapa di jalan, dan para beberapa wanita yang sedang memyapu halaman atau menjemur pakaian.
Setiap rumah di kampung itu memiliki halaman dan rumah mereka berjarak 3 - 5 meter dari jalan desa, listrik dan air ledeng sudah masuk ke desa itu sesuai rencana pecepatan pembangunan yang diusung pemerintah. Walaupun belum semua mendapatkan karena pemasangan dijadwalkan secara bergilir, minggu lalu area jalan masuk desa sudah mendapatkan pemasangan, maka minggu ini merupakan jatah deretan rumah Galih yang berada dekat dengan perempatan pusat kampung.
Galih menguap sekali kemudian berjalan keluar kamar, dia menyibak kain yang menutup jalur masuk kamarnya pengganti pintu.
Ibunya, Dena Hardi sedang menyiapkan sarapan di meja, sudah tersedia bakul nasi, piring kecil sambal, irisan telur dadar, tempe tahu goreng dan setoples kerupuk.
Ayahnya sedang membaca koran kemarin ditemani segelas kopi hitam, koran - koram selalu dicetak pada pagi hari, tapi jika kita membeli di sore hari maka harganya bisa setengah lebih murah dibanding harga jual di pagi hari.
Gunawan Hardi adalah ketua asosiasi petani rakyat desa Sangger, setiap permasalahan petani di desanya ayahnya pasti akan selalu dilibatkan apalagi jika harus berhadapan dengan tengkulak nakal yang mau membeli hasil pertanian dengan harga sangat murah.
Galih menggeliat sedikit sambil menguap, kemudian beranjak bangun dan terduduk di tempat tidurnya. Terdengar suara dentingan piring dari luar kamar, tanda ibunya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Galih kemudian berjalan dengan perlahan menuju jendela, terdapat sebuah foto Galih di dinding semasa kecil dengan sang kakak berseragam KNIL yang sedang memanggul senjata jenis laras panjang Mauser 1895. Terdapat nama pada seragam sang kakak yang tertulis Bagas Hardi, dan lambang militer yang menandakan dia seorang Letnan Satu.
Galih membuka jendela kamarnya dan terlihat jalanan desa didepan rumahnya, mulai ada beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas pagi. Pengantar koran yang sedang menggowes sepedanya dengan tumpukan koran baru yang akan diantar ke pelanggan, ada juga beberapa petani yang sedang membawa hasil panennya ke atas truk. Beberapa orang yang sedang bertegur sapa di jalan, dan para beberapa wanita yang sedang memyapu halaman atau menjemur pakaian.
Setiap rumah di kampung itu memiliki halaman dan rumah mereka berjarak 3 - 5 meter dari jalan desa, listrik dan air ledeng sudah masuk ke desa itu sesuai rencana pecepatan pembangunan yang diusung pemerintah. Walaupun belum semua mendapatkan karena pemasangan dijadwalkan secara bergilir, minggu lalu area jalan masuk desa sudah mendapatkan pemasangan, maka minggu ini merupakan jatah deretan rumah Galih yang berada dekat dengan perempatan pusat kampung.
Galih menguap sekali kemudian berjalan keluar kamar, dia menyibak kain yang menutup jalur masuk kamarnya pengganti pintu.
Ibunya, Dena Hardi sedang menyiapkan sarapan di meja, sudah tersedia bakul nasi, piring kecil sambal, irisan telur dadar, tempe tahu goreng dan setoples kerupuk.
Ayahnya sedang membaca koran kemarin ditemani segelas kopi hitam, koran - koram selalu dicetak pada pagi hari, tapi jika kita membeli di sore hari maka harganya bisa setengah lebih murah dibanding harga jual di pagi hari.
Gunawan Hardi adalah ketua asosiasi petani rakyat desa Sangger, setiap permasalahan petani di desanya ayahnya pasti akan selalu dilibatkan apalagi jika harus berhadapan dengan tengkulak nakal yang mau membeli hasil pertanian dengan harga sangat murah.
Ayahnya berperawakan tinggi kurus dengan kumis tipis dan rambut agak berantakan, tatapan mata tajam yang menunjukan rasa tidak mudah percaya dengan orang - orang. Sedangkan ibu Galih seorang ibu rumah tangga yang memiliki badan berisi dengan lengan berotot dan rambut hitam ikal, sangat cekatan sekali jika melakukan pekerjaan rumah. Mereka adalah contoh keluarga petani sederhana yang menikmati setiap momen dalam hidupnya.
Ayah Galih menatapnya dan sedikit mengangkat alisnya.
"Sudah bangun kau tuan muda?," ucap ayahnya, ada sedikit sarkas di nada bicaranya.
Galih hanya mengangguk pelan dengan wajah masih mengantuk.
"Mandilah dan langsung sarapan, kau tentu tak mau terlambat di hari pertamamu sekolah", kata ayahnya.
Ibunya mendatangi Galih dan melap muka berminyak anaknya yang mulai beranjak remaja itu.
Galih terlihat tidak nyaman dan berusaha menghindari usapan lap dari tangan ibunya.
"Bu, aku mau mandi, tidak usah lap mukaku!", protes Galih.
"Mukamu berminyak dan kamu sering cuci muka tidak memakai sabun", ibunya menjelaskan.
"Jadi dari pada gurumu mengomel karena dianggap kau belum mandi, lebih baik kamu diam biar ibu yang lap" tambah ibunya sambil menunjukan lap di tangannya.
Galih kemudian buru - buru pergi ke kamar mandi, tidak lama terdengar guyuran air dari kamar mandi.
Hari ini merupakan hari pertama di tahun ajaran baru, lulus dari sekolah dasar Galih melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan sekarang Galih berada di tingkat dua. Anak - anak di desanya rata - rata tamatan sekolah dasar, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan sebagai petani atau peternak.
Galih berpikir itu cara paling cepat dalam berkarir dan mendapatkan uang, tapi ayahnya berpendapat lain. Dia menginginkan Galih dapat bersekolah lebih tinggi, sehingga Galih dapat dengan mudah berkarir di perkantoran dengan pendapatan yang lebih baik pastinya.
Hari ini merupakan hari pertama di tahun ajaran baru, lulus dari sekolah dasar Galih melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan sekarang Galih berada di tingkat dua. Anak - anak di desanya rata - rata tamatan sekolah dasar, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan sebagai petani atau peternak.
Galih berpikir itu cara paling cepat dalam berkarir dan mendapatkan uang, tapi ayahnya berpendapat lain. Dia menginginkan Galih dapat bersekolah lebih tinggi, sehingga Galih dapat dengan mudah berkarir di perkantoran dengan pendapatan yang lebih baik pastinya.
Tahun depan Galih lulus, kemana karirnya ke depan dia tidak tahu. Tapi Galih yang terbiasa menulis berpikir menjadi wartawan di kota besar bukan ide yang buruk.
Tidak berapa lama kemudian Galih sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam cokelat sekolahnya. Dia pun pergi ke meja makan, menarik kursinya dan mulai makan.
Galih memilih makan dalam diam sambil menikmati makananya, sedangkan ayahnya masih membaca koran.
Tiba - tiba ayahnya meletakan korannya sambil berkata "Hah! Sudah ku duga! Betul - betul licik mereka!".
Ayahnya menunjuk barisan headline pada koran yang bertuliskan Anjuran Pemerintah Untuk Mendaftarkan Ulang Kepemilikan Tanah Pasca Merdeka.
"Ini yang sudah aku perkirakan, jika kita mendaftarkan tanah kita maka harus ada pengukuran ulang!", ujar ayahnya.
"Tapi bukankah itu bagus", ibu Galih angkat bicara.
"Jika pengukuran dilakukan kembali maka seharusnya tanah - tanah yang diambil alih pada saat perang bisa dikembalikan kepada pemiliknya atau ke negara", tambah ibunya.
"Jika berpikir senaif itu ya itu yang akan terjadi, tapi jika melihat mulai munculnya para tuan tanah baru, bisa jadi ini menjadi alasan untuk mengambil alih beberapa lahan tanah rakyat!", pungkas ayahnya.
Galih tiba - tiba angkat bicara
"Tapi jika ada pengawasan ketat dari pemerintah, bukankah seharusnya lebih aman yah?", ucap Galih.
"Itu yang menjadi pertanyaannya bukan?".
Galih terdiam, ayahnya terkadang seperti orang yang tak tertarik dengan politik, tapi setiap pemikirannya terhadap kebijakan pemerintah selalu ada benarnya.
Sebenarnya banyak partai yang ingin menjadikan ayahnya sebagai kader, tapi kebanyakan ditolak oleh ayah. Kemarin ada sebuah partai bernama Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI menawarkan posisi yang bagus, tapi ayah menolaknya. Kata ayah jika dia bergabung ke sebuah partai maka yang dia perjuangkan adalah kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat atau petani.
Dulu ayah sempat menjadi simpatisan Partai Nasional Indonesia atau PNI, tapi ayahnya lebih memilih melanjutkan karir dalam organisasi petani Sangger itu. Galih banyak belajar politik dan kebijakan dari ayahnya, mungkin ini yang membuat ayahnya menginginkan Galih mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Selesai makan Galih meletakan piringnya di tempat pencucian di belakang rumahnya. Dia mengambil tasnya di kamar kemudian memakai sepatu pantofel kulit hitam yang sudah disemir malam sebelumnya. Setelah itu dia mendatangi ayah ibunya untuk memberikan salam sebelum pergi ke sekolah.
"Ayah ibu aku pergi dulu ke sekolah", ucap Galih sembari mencium tangan ayah ibunya.
"Iya nak, hati - hati dijalan, jaga pergaulan jangan sampai kamu terjerumus", ayah Galih memperingatkan.
"Sudahlah yah, anak kita sudah besar, kita harus lebih percaya dengannya", bela ibu Galih.
Ayah Galih hanya mengangguk pelan. Begitulah ayahnya, disiplin dan keras, sampai - sampai Galih tidak paham bagaimana ayahnya menyampaikan rasa sayang.
Galih kemudian membuka pintu, dan berjalan menyusuri jalanan desa menuju sekolahnya.
Spoiler for Chapter 2 - Yudi Brata:
Yudi Brata sedang menyiapkan berkas yang akan dibawa dalam tasnya, jam di dinding menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
"Semoga tidak terlambat", batin Yudi.
Dia kemudian mengunci tasnya dan bercermin melihat kerapihan bajunya, merasa sudah rapi Yudi kemudian melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang berada di pusat kota Jakarta.
Yudi Brata adalah seorang pegawai kementerian luar negeri, akademisi lulusan dari Universitas Leiden di Belanda membuatnya cukup mudah untuk berkarir di instansi negara. Selain itu dia merupakan anak kepala desa Sangger, sehingga memudahkan dia mendapatkan relasi dari ayahnya.
Yudi berjalan dari Jalan Delima menuju kantor Kementerian Luar Negeri di daerah Pejambon Jakarta Pusat. Hanya berjarak sekitar 150 meter membuat Yudi memilih berjalan kaki ke kantornya, apa lagi tinggal di ibu kota dengan biaya tinggi mengharuskan Yudi harus berhemat, termasuk biaya transportasi.
Dia memasuki Gerbang yang dijaga oleh tiga orang tentara dengan seragam hijau dan masih desain lama era KNIL, Yudi kemudian menunjukan kartu pegawai kementeriannya dan salah seorang tentara melakukan cek dalam tasnya. Kegiatan yang biasa terjadi jika bekerja di area pemerintahan, apa lagi ketika kita harus memasuki istana negara, penjagaan akan jauh lebih ketat.
Yudi kemudian diperbolehkan untuk masuk, dia berjalan menaiki tangga di area teras gedung dan masuk ke lobby utama. Dia kemudian menaiki tangga gedung hingga ke lantai 3, ada sebuah ruangan dengan tulisan Dinas Intelijen Kemenlu. Ruangan kantor Yudi berada disebelah kantor Kepala dinas Intelijen Kemenlu yaitu Kapten Jonathan Laisina, seorang mantan agen intelijen militer era perang kemerdekaan.
Ketika para pasukan Republik berhasil merebut pangkalan angkatan laut Belanda di Surabaya, itu berkat jasa pengintaian dan sabotase Kapten Jonathan. 80% kekuatan angkatan laut Belanda berada di Surabaya dan akhirnya semua dapat diambil alih oleh pasukan Indonesia. Yudi sangat senang dan merasa terhormat bisa menjadi petugas intelijen andalan bagi Kapten Jonathan.
Hari ini Kapten Jonathan mengadakan rapat bagi diplomat khusus dan agen intelijen, salah seorang diplomat Indonesia yang bertugas di Indocina akan memaparkan hasil temuannya selama bertugas disana. Ada isu Jepang yang dipimpin oleh militerisme mereka sudah mulai bergerak di Asia, dan tentu saja menjadi tanda bahaya bagi negara - negara di Asia termasuk Indonesia yang baru merdeka tapi memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Yudi melihat rekannya Gama Manurung sedang mengetik sebuah surat di meja kerjanya.
"Laporan mingguan?", tanya Yudi
Gama yang sedang mengetik tiba - tiba menghentikan ketikannya dengan terkejut menoleh ke arah Yudi.
"Bisa tidak kau jangan mengagetkan seperti itu?!, hampir salah ketik ini aku buat!", protes Gama dengan aksen khas Bataknya.
Yudi nyengir melihat Gama yang terkejut karena ulahnya.
"Hahaha sabar sabar bung, lagian kau serius sekali, laporan mingguan kenapa sudah kau kerjakan sekarang?", tanya Yudi.
"Ini bukan laporan mingguan, ini hasil catatanku setelah pesta ulang tahun Raja Charles IV di kedubes Inggris kemarin", Gama menjelaskan.
"Apa yang kau dapat?".
"Tak banyak, tapi pihak Inggris agak was - was dengan pengaruh Jepang di Manchuria".
"Yah semua masih penasaran mau melangkah kemana Jepang saat ini".
"Tapi kemarin ku lihat menteri luar negeri kita berbicara cukup lama dengan duta besar Jepang di pesta itu", kata Gama
"Mungkin pembicaraan tentang masalah perdagangan, akhir - akhir ini produk Jepang mulai ramai masuk ke Indonesia", jelas Yudi.
Gama menoleh dan tersenyum sarkas, " justru isu yang aku dengar Jepang menawarkan kerja sama militer dengan kita".
Yudi sangat terkejut.
"Apa?!, tidak mungkin Jepang mengajukan hal semacam itu!". Yudi pun melanjutkan "Indonesia baru merdeka, dengan alasan apa mereka mau bekerja sama dengan kita?".
Bunyi ting berbunyi dari mesin tik dan Gama menarik kertas laporannya.
"Banyak hal Yud, kau lihat Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah, terutama minyak bumi. Kita punya daya tawar yang lebih Yud, cuman kita harus pilih - pilih sekutu jangan pula sekutu kita nanti ada pertemanan dengan Belanda", jelas Gama panjang lebar.
Pintu ruangan terbuka dan Kapten Thomas masuk diikuti ajudannya, dia melihat ke arah Gama dan Yudi.
"Rapat nanti akan dimulai jam 10 pagi, saya harap kalian juga menyiapkan laporan mingguan, terutama kamu Gama", Kapten Thomas menunjuk Gama. "Saya ingin tahu apa yang kamu dapat di kedubes Inggris kemarin".
"Siap pak!", seru Gama.
Yudi pergi ke tempat duduknya, dan membuka tas kerjanya. Ini diluar dugaan pikir Yudi, jika suatu negara menawarkan kerja sama militer maka itu adalah satu langkah menuju terbentuknya suatu persekutuan. Apa yang Jepang lihat dari Indonesia sebuah negara yang baru, lagipula ini baru isu, belum tentu itu benar.
Yudi tahu Jepang sedang tidak akur dengan negara - negara barat, apa lagi militerisme mereka membuat negara - negara Eropa teringat dengan Kekaisaran Jerman. Sehingga mereka merasa wilayah kolonial yang ada di Asia Pasifik terancam dari Jepang.
Di Liga Bangsa - Bangsa beberapa kali negara - negara barat menuduh Jepang menyerobot wilayah perbatasan Republik Cina, tapi bukti - bukti yang ada tidak kuat. Satu - satunya kekuatan Eropa yang tidak ikut campur ketegangan dengan Jepang adalah Jerman dan Spanyol, tentu saja jika dilihat dari kondisi kedua negara itu memang diam adalah sebuah alasan yang bagus untuk menunjukan kita negara baik.
Jerman setelah kekalahan di perang dunia pertama seperti kehilangan taringnya, mereka jauh lebih pasif saat ini, mungkin karena rasa malu akan kekalahan sekaligus dikte dari negara - negara pemenang perang. Sedangkan Spanyol, yah konflik republik dengan kaum nasionalis pimpinan Jenderal Franco tentu membuat negara itu lebih sibuk mengurus diri sendiri.
Tapi persekutuan Jepang dan Indonesia ini adalah permainan politik yang susah ditebak, tapi Yudi yakin secara militer ini akan menambah kekuatan Indonesia. Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, tentu saja Indonesia masih belum aman, tapi setidaknya mereka tidak akan macam - macam dengan kami.
Yudi kemudian melihat buku catatan kalendernya, dia melihat apakah ada jadwal pertemuan di kedubes Jepang, dia perlu tahu lebih banyak tentang ini.
Jarinya menelusuri setiap tanggal dan dia melihat, ternyata ada acara di kedubes Jepang pada tanggal 9 Juli yaitu pelantikan atase militer baru Jepang untuk Indonesia.
Yudi tersenyum kemudian menutup buku catatan kalendernya.
"Semoga tidak terlambat", batin Yudi.
Dia kemudian mengunci tasnya dan bercermin melihat kerapihan bajunya, merasa sudah rapi Yudi kemudian melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang berada di pusat kota Jakarta.
Yudi Brata adalah seorang pegawai kementerian luar negeri, akademisi lulusan dari Universitas Leiden di Belanda membuatnya cukup mudah untuk berkarir di instansi negara. Selain itu dia merupakan anak kepala desa Sangger, sehingga memudahkan dia mendapatkan relasi dari ayahnya.
Yudi berjalan dari Jalan Delima menuju kantor Kementerian Luar Negeri di daerah Pejambon Jakarta Pusat. Hanya berjarak sekitar 150 meter membuat Yudi memilih berjalan kaki ke kantornya, apa lagi tinggal di ibu kota dengan biaya tinggi mengharuskan Yudi harus berhemat, termasuk biaya transportasi.
Dia memasuki Gerbang yang dijaga oleh tiga orang tentara dengan seragam hijau dan masih desain lama era KNIL, Yudi kemudian menunjukan kartu pegawai kementeriannya dan salah seorang tentara melakukan cek dalam tasnya. Kegiatan yang biasa terjadi jika bekerja di area pemerintahan, apa lagi ketika kita harus memasuki istana negara, penjagaan akan jauh lebih ketat.
Yudi kemudian diperbolehkan untuk masuk, dia berjalan menaiki tangga di area teras gedung dan masuk ke lobby utama. Dia kemudian menaiki tangga gedung hingga ke lantai 3, ada sebuah ruangan dengan tulisan Dinas Intelijen Kemenlu. Ruangan kantor Yudi berada disebelah kantor Kepala dinas Intelijen Kemenlu yaitu Kapten Jonathan Laisina, seorang mantan agen intelijen militer era perang kemerdekaan.
Ketika para pasukan Republik berhasil merebut pangkalan angkatan laut Belanda di Surabaya, itu berkat jasa pengintaian dan sabotase Kapten Jonathan. 80% kekuatan angkatan laut Belanda berada di Surabaya dan akhirnya semua dapat diambil alih oleh pasukan Indonesia. Yudi sangat senang dan merasa terhormat bisa menjadi petugas intelijen andalan bagi Kapten Jonathan.
Hari ini Kapten Jonathan mengadakan rapat bagi diplomat khusus dan agen intelijen, salah seorang diplomat Indonesia yang bertugas di Indocina akan memaparkan hasil temuannya selama bertugas disana. Ada isu Jepang yang dipimpin oleh militerisme mereka sudah mulai bergerak di Asia, dan tentu saja menjadi tanda bahaya bagi negara - negara di Asia termasuk Indonesia yang baru merdeka tapi memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Yudi melihat rekannya Gama Manurung sedang mengetik sebuah surat di meja kerjanya.
"Laporan mingguan?", tanya Yudi
Gama yang sedang mengetik tiba - tiba menghentikan ketikannya dengan terkejut menoleh ke arah Yudi.
"Bisa tidak kau jangan mengagetkan seperti itu?!, hampir salah ketik ini aku buat!", protes Gama dengan aksen khas Bataknya.
Yudi nyengir melihat Gama yang terkejut karena ulahnya.
"Hahaha sabar sabar bung, lagian kau serius sekali, laporan mingguan kenapa sudah kau kerjakan sekarang?", tanya Yudi.
"Ini bukan laporan mingguan, ini hasil catatanku setelah pesta ulang tahun Raja Charles IV di kedubes Inggris kemarin", Gama menjelaskan.
"Apa yang kau dapat?".
"Tak banyak, tapi pihak Inggris agak was - was dengan pengaruh Jepang di Manchuria".
"Yah semua masih penasaran mau melangkah kemana Jepang saat ini".
"Tapi kemarin ku lihat menteri luar negeri kita berbicara cukup lama dengan duta besar Jepang di pesta itu", kata Gama
"Mungkin pembicaraan tentang masalah perdagangan, akhir - akhir ini produk Jepang mulai ramai masuk ke Indonesia", jelas Yudi.
Gama menoleh dan tersenyum sarkas, " justru isu yang aku dengar Jepang menawarkan kerja sama militer dengan kita".
Yudi sangat terkejut.
"Apa?!, tidak mungkin Jepang mengajukan hal semacam itu!". Yudi pun melanjutkan "Indonesia baru merdeka, dengan alasan apa mereka mau bekerja sama dengan kita?".
Bunyi ting berbunyi dari mesin tik dan Gama menarik kertas laporannya.
"Banyak hal Yud, kau lihat Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah, terutama minyak bumi. Kita punya daya tawar yang lebih Yud, cuman kita harus pilih - pilih sekutu jangan pula sekutu kita nanti ada pertemanan dengan Belanda", jelas Gama panjang lebar.
Pintu ruangan terbuka dan Kapten Thomas masuk diikuti ajudannya, dia melihat ke arah Gama dan Yudi.
"Rapat nanti akan dimulai jam 10 pagi, saya harap kalian juga menyiapkan laporan mingguan, terutama kamu Gama", Kapten Thomas menunjuk Gama. "Saya ingin tahu apa yang kamu dapat di kedubes Inggris kemarin".
"Siap pak!", seru Gama.
Yudi pergi ke tempat duduknya, dan membuka tas kerjanya. Ini diluar dugaan pikir Yudi, jika suatu negara menawarkan kerja sama militer maka itu adalah satu langkah menuju terbentuknya suatu persekutuan. Apa yang Jepang lihat dari Indonesia sebuah negara yang baru, lagipula ini baru isu, belum tentu itu benar.
Yudi tahu Jepang sedang tidak akur dengan negara - negara barat, apa lagi militerisme mereka membuat negara - negara Eropa teringat dengan Kekaisaran Jerman. Sehingga mereka merasa wilayah kolonial yang ada di Asia Pasifik terancam dari Jepang.
Di Liga Bangsa - Bangsa beberapa kali negara - negara barat menuduh Jepang menyerobot wilayah perbatasan Republik Cina, tapi bukti - bukti yang ada tidak kuat. Satu - satunya kekuatan Eropa yang tidak ikut campur ketegangan dengan Jepang adalah Jerman dan Spanyol, tentu saja jika dilihat dari kondisi kedua negara itu memang diam adalah sebuah alasan yang bagus untuk menunjukan kita negara baik.
Jerman setelah kekalahan di perang dunia pertama seperti kehilangan taringnya, mereka jauh lebih pasif saat ini, mungkin karena rasa malu akan kekalahan sekaligus dikte dari negara - negara pemenang perang. Sedangkan Spanyol, yah konflik republik dengan kaum nasionalis pimpinan Jenderal Franco tentu membuat negara itu lebih sibuk mengurus diri sendiri.
Tapi persekutuan Jepang dan Indonesia ini adalah permainan politik yang susah ditebak, tapi Yudi yakin secara militer ini akan menambah kekuatan Indonesia. Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, tentu saja Indonesia masih belum aman, tapi setidaknya mereka tidak akan macam - macam dengan kami.
Yudi kemudian melihat buku catatan kalendernya, dia melihat apakah ada jadwal pertemuan di kedubes Jepang, dia perlu tahu lebih banyak tentang ini.
Jarinya menelusuri setiap tanggal dan dia melihat, ternyata ada acara di kedubes Jepang pada tanggal 9 Juli yaitu pelantikan atase militer baru Jepang untuk Indonesia.
Yudi tersenyum kemudian menutup buku catatan kalendernya.
Diubah oleh Gojira1998 07-09-2024 11:57
aryatemangsa513 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
777
Kutip
11
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Gojira1998
#9
Spoiler for Chapter 5 - Yui Hakaze:
Acara jamuan makan masih berlangsung di kedubes Jepang, tapi Yui sedang berada di ruang kantor kakaknya yang cukup “wah”, memang kakaknya masih muda tapi memiliki kemampuan yang setara diplomat senior. Dia duduk di sebuah kursi sofa tamu berwarna hijau jenis single seat, di depannya ada sebuah meja kecil dengan beberapa cemilan. Sebuah sofa hijau panjang berada di sebelah meja itu, dimana Mayjen Seiji nanti akan duduk.
Yui cukup bersemangat sekaligus gugup, melakukan wawancara dengan pejabat tinggi pemerintahan bukan hal baru bagi Yui, tapi materi pertanyaan yang akan diajukan nanti membuat Yui harap - harap cemas.
Beberapa pertanyaan mungkin akan membuat pria berumur 48 tahun itu akan tersinggung karena berkaitan dengan kerahasiaan negara, tapi itu nantinya akan menjadi headline yang bagus bagi surat kabarnya. Kapan lagi ada kesempatan untuk mewawancarai informan terdekat sang Perdana Menteri.
Kemudian pintu terbuka dan Makoto yang pertama kali masuk kemudian berdiri menyamping dan mempersilahkan seseorang untuk masuk, seseorang masuk dengan seragam coklat kemiliteran Jepang dan terpampang lambang pangkat mayor di lengan kanannya. Mayor Seiji pastinya tampan di masa mudanya dan sampai sekarang bentuk ketampanan masa mudanya masih terlihat, walau kumis tebal dan kacamata bulatnya menambah kesan banyak pengalaman dalam hidupnya.
Makoto kemudian mempersilahkan Mayjen Seiji untuk ke tempat duduknya, Yui kemudian dengan cepat berdiri dan membungkuk memberi hormat. Makoto memperkenalkan adiknya kepada Seiji.
“Jenderal Koku Seiji perkenalkan ini adik saya yang meminta wawancara dengan anda, dia sekarang bekerja sebagai jurnalis untuk surat kabar Shonen”, ucap Makoto dengan sopan.
Seiji kemudian menatap Yui, dan membungkuk hormat kepada Yui, dan dibalas oleh Yui.
“Shonen selalu menjadi andalan pemerintah untuk memberikan informasi yang tepat bagi rakyat Jepang”, kata sang Mayjen dengan jujur.
“Kami hanya melakukan tugas kami sebagai penyambung lidah kekaisaran kepada rakyatnya”, jawab Yui.
Seiji tertawa pelan dan mengangguk setuju.
“Sebuah jawaban dari anak seorang pahlawan perang, ayah kalian pasti bangga”, kata Mayjen Seiji dengan kagum.
Yui dan Makoto terkejut, mereka saling pandang keheranan.
Makoto kemudian bertanya,”Jenderal kenal dengan ayah kami?”.
Seiji tersenyum hangat.
“Tentu saja aku mengenalnya, Ryoji Hakaze adalah Rikugun Taii (Kapten) di kesatuanku saat aku masih berpangkat Letnan Dua selama perang melawan Rusia tahun 1905”, Mayjen Seiji menjelaskan.
“Kami kadang masih berkomunikasi walaupun dia sudah pensiun, tapi dengan jujur aku mengatakan, ayah kalian punya nyali yang luar biasa di medan tempur”, lanjut Seiji.
Yui dan Makoto tersenyum bangga.
“Kami merasa sangat terhormat mendengar kedekatan anda dengan ayah kami”, kata Makoto dengan bangga.
Makoto kemudian mempersilahkan Seiji untuk duduk.
“Silahkan duduk Jenderal”, ucap Makoto.
Sang Mayjen kemudian mengambil tempat duduk berhadapan dengan Yui, dan Yui sudah duduk kembali di kursinya.
“Tuan Seiji terima kasih banyak atas kesediaan anda untuk menghadiri wawancara ini”, kata Yui.
Seiji tersenyum dan mengangguk pelan. Yui pun melanjutkan wawancaranya.
“Tuan Seiji saya akan mengajukan beberapa pertanyaan singkat saja dalam wawancara ini, dan jika menurut anda pertanyaan yang saya ajukan tidak pantas mohon untuk saya diingatkan”, jelas Yui.
“Mungkin jika saya bisa meminta, pertanyaan yang berkaitan dengan keluarga Kekaisaran mohon tidak diajukan karena keluarga Kaisar bukanlah konsumsi publik”, Seiji mengingatkan.
“Baiklah Tuan Seiji’, kata Yui sambil mengangguk sepakat.
“Tuan Seiji, negara kita akhir - akhir ini selalu berkonfrontasi dengan negara - negara barat seperti Amerika Serikat dan Inggris di Liga Bangsa - Bangsa, dengan segala tuduhan - tuduhan yang mereka timpakan kepada kita, terutama mereka menuduh kita berambisi untuk menguasai Republik Cina”, kata Yui dengan tutur kata yang lancar.
Yui pun melanjutkan.
“Bagaimana pendapat internal pemerintahan terutama Perdana Menteri Hideki Tojo terkait tuduhan dan konfrontasi ini?”, tanya Yui.
Seiji diam sejenak kemudian menjawab.
“Sudah jelas tuduhan - tuduhan yang dilancarkan oleh pihak barat adalah sikap mereka yang bermusuhan dengan kita, apa yang membuat mereka menjadi seperti itu? Apa lagi kalau bukan negara kita yang semakin maju dan makmur”, jawab Seiji dengan tenang.
“Industri Amerika membutuhkan berbagai sumber daya alam yang sebagian besar dihasilkan di Asia, sayangnya pengaruh mereka masih sangat kecil di sini dibanding negara - negara Eropa yang sudah terlebih dahulu menguasai Asia Tenggara dan Selatan”, jelas Seiji.
“Amerika jelas menjalankan diplomasi bersahabat dengan negara - negara Eropa untuk memperlancar pengaruh mereka ke Asia, apa lagi pada The Great War kemarin Amerika memilih ke pihak sekutu bersama Inggris dan Perancis. Kita juga berada di pihak yang sama saat itu, tapi sekarang perang sudah usai maka kita kembali untuk menjalankan pemerintahan masing - masing.”
Sembari Seiji menjelaskan Yui mencatat beberapa poin di buku kecilnya.
“Tapi di Asia ini hanya kita yang mampu mengimbangi pengaruh negara - negara Barat, sehingga bagi Amerika kita adalah hambatan terbesar mereka, dan akan menggunakan berbagai cara untuk menjatuhkan martabat negara kita di mata dunia”, terdapat emosi yang tertahan di nada bicara Seiji.
“Itu mengapa Perdana Menteri Tojo menolak pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina”, timpal Yui.
“Benar sekali, Amerika beralasan untuk pangkalan itu untuk menjaga wilayah Filipina, mereka berpikir kita akan percaya dengan alasan mereka, tapi kita tidak bodoh”, ujar Seiji.
“Mereka membangun pangkalan disana jelas untuk membentuk sebuah garis pertahanan di Selatan bersama dengan negara - negara sahabatnya. Indocina koloni Perancis, Semenanjung Malaya, Borneo Utara, dan Burma dikuasai Inggris, bahkan benua paling selatan Australia dibawah kekuasaan Inggris”, jelas Seiji.
“Bisa dibilang kita terkepung dari arah selatan?”, tanya Yui.
Seiji menghela nafas sedikit.
“Ya bisa dikatakan seperti itu”, ucap Seiji singkat.
Kemudian Seiji mengangkat satu jarinya dan menatap Yui.
“Kecuali jika Indonesia dan Cina tidak terpengaruh, itulah mengapa bagi pemerintahan Jepang, Indonesia dan Cina memiliki peran penting demi melanjutkan perdamaian di kawasan Asia Pasifik. Jika mereka tidak terpengaruh, setidaknya Amerika dan negara barat lainnya tidak akan berani melangkah lebih jauh”, kata Seiji.
“Tuan Seiji, apakah pemerintah ada memiliki rencana untuk membentuk suatu aliansi yang dapat bekerja sama dengan Jepang jika sewaktu - waktu sangat dibutuhkan?”, tanya Yui dengan cepat.
Seiji diam sejenak, kemudian menjawab pertanyaan Yui dengan gestur seperti kurang nyaman.
“Sejauh ini tidak ada, pemerintah kita sepenuhnya fokus untuk menjalin hubungan bilateral terhadap beberapa negara saja termasuk di Indonesia sekarang”, ucap Seiji dengan tenang tapi memiliki kesan berhati - hati.
Dia berbohong pikir Yui, Makoto banyak berbicara dengan Yui tentang strategi politik pemerintah Jepang, dan salah satu agenda mereka adalah mencari sekutu untuk menahan kuatnya pengaruh Amerika dan Inggris di kawasan Asia Pasifik. Tapi Yui tahu cara menutup mulut sehingga dia tidak berani sedikitpun menulis apa yang dibicarakan kakaknya untuk menjadi bahan berita bagi Shonen.
“Oh ya Tuan Seiji saya hampir lupa menanyakan hal ini, Jerman saat ini berada di era baru dengan pemimpin mereka Adolf Hitler, sangat idealis, nasionalis dan dicintai oleh rakyatnya. Seluruh Eropa saat ini sedang terfokus melihat kebangkitan Jerman yang didorong oleh kaum Nasional Sosialisme mereka, bagaimana pendapat pemerintahan kita melihat Jerman saat ini?”, tanya Yui
“Tentu Jerman sekarang bukan lagi Jerman yang kalah perang 15 tahun yang lalu, Hitler menjadi solusi bagi Jerman untuk bangkit kembali setelah terpuruk. Pemerintah tentunya melihat ada peluang kerja sama yang sangat baik dengan Jerman, tapi sekali lagi rencana dan program pemerintahan mereka belum kita ketahui sehingga membangun hubungan bilateral dengan mereka belum menjadi prioritas kita”, ucap Seiji.
“Apakah kedatangan diplomat senior Jerman Walther Hewel ke Indonesia juga menjadi alasan untuk anda datang ke sini? Untuk melihat kemungkinan hubungan bilateral kita dengan Jerman”, tanya Yui.
Pertanyaan Yui hampir melewati batas, Makoto yang duduk dekat ajudan sang jenderal terlihat meringis sedangkan sang ajudan menatap tajam kepada Yui.
Seiji menatap Yui dalam, kemudian duduk tegak di kursinya. Suasana cukup tegang, semua hening dan diam, hanya suara detik jam dinding yang bergerak saja yang terdengar dan keramaian pesta yang terkesan cukup jauh dari ruangan mereka berada.
Tiba - tiba Seiji tertawa, Yui kebingungan, sedangkan Makoto tetap tegang tapi dalam hati agak sedikit lega.
“Sekarang aku yakin kau benar - benar anak ayahmu, sangat pintar dan memahami situasi!”, ucap Seiji sambil tersenyum.
“Ya saya memang akan bertemu Walther Hewel dalam waktu dekat ini, tapi untuk apa yang menjadi pembahasan disana nanti, saya tidak beritahu kepada anda”, lanjut Seiji.
Yui mengangguk gugup.
“Baik untuk bagian diplomat Jerman saya tidak akan masukan ke dalam artikel saya”, kata Yui.
“Sebuah tindakan yang bijaksana nak. Nah karena pesta masih berlangsung alangkah baiknya kita kembali lagi ke sana, aku yakin masih ingin mencicipi satu atau dua makanan lagi”, ucap Seiji sambil berdiri.
“Terima kasih banyak atas wawancaranya Tuan Seiji”, ucap Yui yang kemudian ikut berdiri dan memberi hormat dengan membungkukan badannya.
Seiji membalas dengan membungkuk juga, kemudian berjalan berjalan menuju pintu. Ajudannya membukakan pintu, ketika melewati Makoto, dia berhenti dan menepuk pundaknya.
“Sampaikan salamku kepada ayah kalian”, ucap Seiji
“Baik Jenderal”, balas Makoto.
Seiji keluar dan Makoto menutup pintunya. Yui menatap kakaknya dan berkata pelan,” hampir saja”.
Yui cukup bersemangat sekaligus gugup, melakukan wawancara dengan pejabat tinggi pemerintahan bukan hal baru bagi Yui, tapi materi pertanyaan yang akan diajukan nanti membuat Yui harap - harap cemas.
Beberapa pertanyaan mungkin akan membuat pria berumur 48 tahun itu akan tersinggung karena berkaitan dengan kerahasiaan negara, tapi itu nantinya akan menjadi headline yang bagus bagi surat kabarnya. Kapan lagi ada kesempatan untuk mewawancarai informan terdekat sang Perdana Menteri.
Kemudian pintu terbuka dan Makoto yang pertama kali masuk kemudian berdiri menyamping dan mempersilahkan seseorang untuk masuk, seseorang masuk dengan seragam coklat kemiliteran Jepang dan terpampang lambang pangkat mayor di lengan kanannya. Mayor Seiji pastinya tampan di masa mudanya dan sampai sekarang bentuk ketampanan masa mudanya masih terlihat, walau kumis tebal dan kacamata bulatnya menambah kesan banyak pengalaman dalam hidupnya.
Makoto kemudian mempersilahkan Mayjen Seiji untuk ke tempat duduknya, Yui kemudian dengan cepat berdiri dan membungkuk memberi hormat. Makoto memperkenalkan adiknya kepada Seiji.
“Jenderal Koku Seiji perkenalkan ini adik saya yang meminta wawancara dengan anda, dia sekarang bekerja sebagai jurnalis untuk surat kabar Shonen”, ucap Makoto dengan sopan.
Seiji kemudian menatap Yui, dan membungkuk hormat kepada Yui, dan dibalas oleh Yui.
“Shonen selalu menjadi andalan pemerintah untuk memberikan informasi yang tepat bagi rakyat Jepang”, kata sang Mayjen dengan jujur.
“Kami hanya melakukan tugas kami sebagai penyambung lidah kekaisaran kepada rakyatnya”, jawab Yui.
Seiji tertawa pelan dan mengangguk setuju.
“Sebuah jawaban dari anak seorang pahlawan perang, ayah kalian pasti bangga”, kata Mayjen Seiji dengan kagum.
Yui dan Makoto terkejut, mereka saling pandang keheranan.
Makoto kemudian bertanya,”Jenderal kenal dengan ayah kami?”.
Seiji tersenyum hangat.
“Tentu saja aku mengenalnya, Ryoji Hakaze adalah Rikugun Taii (Kapten) di kesatuanku saat aku masih berpangkat Letnan Dua selama perang melawan Rusia tahun 1905”, Mayjen Seiji menjelaskan.
“Kami kadang masih berkomunikasi walaupun dia sudah pensiun, tapi dengan jujur aku mengatakan, ayah kalian punya nyali yang luar biasa di medan tempur”, lanjut Seiji.
Yui dan Makoto tersenyum bangga.
“Kami merasa sangat terhormat mendengar kedekatan anda dengan ayah kami”, kata Makoto dengan bangga.
Makoto kemudian mempersilahkan Seiji untuk duduk.
“Silahkan duduk Jenderal”, ucap Makoto.
Sang Mayjen kemudian mengambil tempat duduk berhadapan dengan Yui, dan Yui sudah duduk kembali di kursinya.
“Tuan Seiji terima kasih banyak atas kesediaan anda untuk menghadiri wawancara ini”, kata Yui.
Seiji tersenyum dan mengangguk pelan. Yui pun melanjutkan wawancaranya.
“Tuan Seiji saya akan mengajukan beberapa pertanyaan singkat saja dalam wawancara ini, dan jika menurut anda pertanyaan yang saya ajukan tidak pantas mohon untuk saya diingatkan”, jelas Yui.
“Mungkin jika saya bisa meminta, pertanyaan yang berkaitan dengan keluarga Kekaisaran mohon tidak diajukan karena keluarga Kaisar bukanlah konsumsi publik”, Seiji mengingatkan.
“Baiklah Tuan Seiji’, kata Yui sambil mengangguk sepakat.
“Tuan Seiji, negara kita akhir - akhir ini selalu berkonfrontasi dengan negara - negara barat seperti Amerika Serikat dan Inggris di Liga Bangsa - Bangsa, dengan segala tuduhan - tuduhan yang mereka timpakan kepada kita, terutama mereka menuduh kita berambisi untuk menguasai Republik Cina”, kata Yui dengan tutur kata yang lancar.
Yui pun melanjutkan.
“Bagaimana pendapat internal pemerintahan terutama Perdana Menteri Hideki Tojo terkait tuduhan dan konfrontasi ini?”, tanya Yui.
Seiji diam sejenak kemudian menjawab.
“Sudah jelas tuduhan - tuduhan yang dilancarkan oleh pihak barat adalah sikap mereka yang bermusuhan dengan kita, apa yang membuat mereka menjadi seperti itu? Apa lagi kalau bukan negara kita yang semakin maju dan makmur”, jawab Seiji dengan tenang.
“Industri Amerika membutuhkan berbagai sumber daya alam yang sebagian besar dihasilkan di Asia, sayangnya pengaruh mereka masih sangat kecil di sini dibanding negara - negara Eropa yang sudah terlebih dahulu menguasai Asia Tenggara dan Selatan”, jelas Seiji.
“Amerika jelas menjalankan diplomasi bersahabat dengan negara - negara Eropa untuk memperlancar pengaruh mereka ke Asia, apa lagi pada The Great War kemarin Amerika memilih ke pihak sekutu bersama Inggris dan Perancis. Kita juga berada di pihak yang sama saat itu, tapi sekarang perang sudah usai maka kita kembali untuk menjalankan pemerintahan masing - masing.”
Sembari Seiji menjelaskan Yui mencatat beberapa poin di buku kecilnya.
“Tapi di Asia ini hanya kita yang mampu mengimbangi pengaruh negara - negara Barat, sehingga bagi Amerika kita adalah hambatan terbesar mereka, dan akan menggunakan berbagai cara untuk menjatuhkan martabat negara kita di mata dunia”, terdapat emosi yang tertahan di nada bicara Seiji.
“Itu mengapa Perdana Menteri Tojo menolak pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina”, timpal Yui.
“Benar sekali, Amerika beralasan untuk pangkalan itu untuk menjaga wilayah Filipina, mereka berpikir kita akan percaya dengan alasan mereka, tapi kita tidak bodoh”, ujar Seiji.
“Mereka membangun pangkalan disana jelas untuk membentuk sebuah garis pertahanan di Selatan bersama dengan negara - negara sahabatnya. Indocina koloni Perancis, Semenanjung Malaya, Borneo Utara, dan Burma dikuasai Inggris, bahkan benua paling selatan Australia dibawah kekuasaan Inggris”, jelas Seiji.
“Bisa dibilang kita terkepung dari arah selatan?”, tanya Yui.
Seiji menghela nafas sedikit.
“Ya bisa dikatakan seperti itu”, ucap Seiji singkat.
Kemudian Seiji mengangkat satu jarinya dan menatap Yui.
“Kecuali jika Indonesia dan Cina tidak terpengaruh, itulah mengapa bagi pemerintahan Jepang, Indonesia dan Cina memiliki peran penting demi melanjutkan perdamaian di kawasan Asia Pasifik. Jika mereka tidak terpengaruh, setidaknya Amerika dan negara barat lainnya tidak akan berani melangkah lebih jauh”, kata Seiji.
“Tuan Seiji, apakah pemerintah ada memiliki rencana untuk membentuk suatu aliansi yang dapat bekerja sama dengan Jepang jika sewaktu - waktu sangat dibutuhkan?”, tanya Yui dengan cepat.
Seiji diam sejenak, kemudian menjawab pertanyaan Yui dengan gestur seperti kurang nyaman.
“Sejauh ini tidak ada, pemerintah kita sepenuhnya fokus untuk menjalin hubungan bilateral terhadap beberapa negara saja termasuk di Indonesia sekarang”, ucap Seiji dengan tenang tapi memiliki kesan berhati - hati.
Dia berbohong pikir Yui, Makoto banyak berbicara dengan Yui tentang strategi politik pemerintah Jepang, dan salah satu agenda mereka adalah mencari sekutu untuk menahan kuatnya pengaruh Amerika dan Inggris di kawasan Asia Pasifik. Tapi Yui tahu cara menutup mulut sehingga dia tidak berani sedikitpun menulis apa yang dibicarakan kakaknya untuk menjadi bahan berita bagi Shonen.
“Oh ya Tuan Seiji saya hampir lupa menanyakan hal ini, Jerman saat ini berada di era baru dengan pemimpin mereka Adolf Hitler, sangat idealis, nasionalis dan dicintai oleh rakyatnya. Seluruh Eropa saat ini sedang terfokus melihat kebangkitan Jerman yang didorong oleh kaum Nasional Sosialisme mereka, bagaimana pendapat pemerintahan kita melihat Jerman saat ini?”, tanya Yui
“Tentu Jerman sekarang bukan lagi Jerman yang kalah perang 15 tahun yang lalu, Hitler menjadi solusi bagi Jerman untuk bangkit kembali setelah terpuruk. Pemerintah tentunya melihat ada peluang kerja sama yang sangat baik dengan Jerman, tapi sekali lagi rencana dan program pemerintahan mereka belum kita ketahui sehingga membangun hubungan bilateral dengan mereka belum menjadi prioritas kita”, ucap Seiji.
“Apakah kedatangan diplomat senior Jerman Walther Hewel ke Indonesia juga menjadi alasan untuk anda datang ke sini? Untuk melihat kemungkinan hubungan bilateral kita dengan Jerman”, tanya Yui.
Pertanyaan Yui hampir melewati batas, Makoto yang duduk dekat ajudan sang jenderal terlihat meringis sedangkan sang ajudan menatap tajam kepada Yui.
Seiji menatap Yui dalam, kemudian duduk tegak di kursinya. Suasana cukup tegang, semua hening dan diam, hanya suara detik jam dinding yang bergerak saja yang terdengar dan keramaian pesta yang terkesan cukup jauh dari ruangan mereka berada.
Tiba - tiba Seiji tertawa, Yui kebingungan, sedangkan Makoto tetap tegang tapi dalam hati agak sedikit lega.
“Sekarang aku yakin kau benar - benar anak ayahmu, sangat pintar dan memahami situasi!”, ucap Seiji sambil tersenyum.
“Ya saya memang akan bertemu Walther Hewel dalam waktu dekat ini, tapi untuk apa yang menjadi pembahasan disana nanti, saya tidak beritahu kepada anda”, lanjut Seiji.
Yui mengangguk gugup.
“Baik untuk bagian diplomat Jerman saya tidak akan masukan ke dalam artikel saya”, kata Yui.
“Sebuah tindakan yang bijaksana nak. Nah karena pesta masih berlangsung alangkah baiknya kita kembali lagi ke sana, aku yakin masih ingin mencicipi satu atau dua makanan lagi”, ucap Seiji sambil berdiri.
“Terima kasih banyak atas wawancaranya Tuan Seiji”, ucap Yui yang kemudian ikut berdiri dan memberi hormat dengan membungkukan badannya.
Seiji membalas dengan membungkuk juga, kemudian berjalan berjalan menuju pintu. Ajudannya membukakan pintu, ketika melewati Makoto, dia berhenti dan menepuk pundaknya.
“Sampaikan salamku kepada ayah kalian”, ucap Seiji
“Baik Jenderal”, balas Makoto.
Seiji keluar dan Makoto menutup pintunya. Yui menatap kakaknya dan berkata pelan,” hampir saja”.
0
Kutip
Balas