- Beranda
- Citizen Journalism
Demo Ojol Minta Aplikasi Gojek dan Grab Ditutup, Begini Respon Menkominfo!
...
TS
harrywjyy
Demo Ojol Minta Aplikasi Gojek dan Grab Ditutup, Begini Respon Menkominfo!

Sumber Gambar
Selamat Datang di Thread TS!

Ketegangan antara komunitas pengemudi ojek online (ojol) dan pemerintah terkait tuntutan yang disuarakan oleh Koalisi Ojol Nasional (KON) menimbulkan diskusi yang kompleks mengenai masa depan layanan transportasi daring di Indonesia. Ketika KON mendesak pemerintah untuk menutup aplikasi Gojek dan Grab jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, hal ini memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk dari Garda Indonesia yang menilai desakan tersebut tidak bijak. Langkah untuk menutup aplikasi ini, seperti yang dikemukakan oleh Igun Wicaksono, Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Transportasi Daring Roda Dua Garda Indonesia, dianggap sebagai pendekatan yang berlebihan dan berpotensi merugikan banyak pihak, termasuk para pengemudi sendiri.
Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa aplikasi seperti Gojek dan Grab telah menjadi bagian integral dari ekosistem transportasi dan ekonomi digital di Indonesia. Penutupan aplikasi tersebut tidak hanya akan berdampak pada pengguna yang sangat bergantung pada layanan ini, tetapi juga pada ribuan pengemudi yang mencari nafkah dari platform tersebut. Desakan untuk menutup aplikasi mungkin lahir dari rasa frustrasi yang mendalam, namun solusi yang lebih bijak harus ditemukan melalui dialog yang konstruktif antara semua pihak yang terlibat, termasuk pengemudi, perusahaan aplikator, dan pemerintah.

Sumber Gambar
Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie, dengan tegas menolak permintaan untuk menutup aplikasi pengantaran apa pun, dengan alasan bahwa langkah tersebut akan mengganggu pelayanan kepada masyarakat. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah menyadari pentingnya mempertahankan layanan transportasi daring yang stabil dan andal, terutama di tengah semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan ini. Bagi banyak orang, aplikasi ini tidak hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, mulai dari pengiriman barang hingga akses terhadap layanan lainnya.
Sikap Garda Indonesia yang tidak setuju dengan desakan KON ini mencerminkan pemahaman yang lebih luas tentang dinamika industri transportasi daring. Menutup aplikasi tidak hanya akan memutus mata pencaharian ribuan pengemudi, tetapi juga bisa menciptakan masalah baru yang lebih besar, seperti meningkatnya pengangguran dan ketidakstabilan ekonomi. Sebaliknya, fokus seharusnya diarahkan pada bagaimana meningkatkan kondisi kerja dan kesejahteraan pengemudi, misalnya melalui kebijakan tarif yang lebih adil dan perlindungan sosial yang memadai.

Sumber Gambar
Perdebatan ini juga menyoroti perlunya pendekatan yang lebih matang dalam menangani ketidakpuasan di kalangan pengemudi ojol. Alih-alih mengancam dengan penutupan aplikasi, yang akan memiliki dampak negatif yang luas, para pengemudi dan organisasi yang mewakili mereka perlu lebih proaktif dalam mencari solusi bersama dengan aplikator dan pemerintah. Dialog terbuka yang melibatkan semua pemangku kepentingan adalah kunci untuk mencapai kesepakatan yang adil dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, menjaga keseimbangan antara kepentingan pengemudi, aplikator, dan masyarakat luas merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama. Pemerintah perlu mengambil peran aktif dalam mediasi dan penyusunan kebijakan yang mendukung kesejahteraan pengemudi tanpa merugikan pihak lain. Sementara itu, organisasi pengemudi seperti Garda Indonesia perlu terus berperan sebagai suara yang rasional dan konstruktif dalam memperjuangkan hak-hak pengemudi, tanpa harus mengorbankan stabilitas industri transportasi daring di Indonesia.
Sumber Valid (baca baik-baik):
Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3
Terima Kasih Sudah Mampir, Jangan Lupa Komen danCendolnya Gan!



cosacca2012 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
2.2K
55
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Citizen Journalism
16.6KThread•15KAnggota
Tampilkan semua post
adhie nih
#18
Menurut gue ya, mungkin para driver ini menuntut aplikasi pengantaran online ini untuk ditutup, karena emosi semata tapi ga tau mesti gimana.
Nah dalam kondisi kayak gini, latar belakang orang yg emosi tersebut (background pendidikan, kondisi spritual/keagamaan, seberapa besar tekanan ekonomi, kondisi keluarga, dll) akan sangat menentukan gmn reaksi org tersebut dalam menghadapi "letupan emosi" tsb.
Latar belakang para driver online tsb, tentu bermacam dan akan sangat banyak variable yang bermain, so akan lebih etis bila pendapat diserahkan pada masing2 pembaca.
Kalian pernah ga sih, kesel, bete, tapi ga tau mau marah sama siapa, akhirnya sesuatu/seseorang yg lagi apes deket sama kalian, bakal kena imbasnya, walaupun itu ga menyelesaikan masalah dan bukan solusi.
Jadi semacem "main hantam" aja.
Terlepas dari pribadi masing2 driver online tsb (ada yang jujur kerja keras, ada yang maap kata kerja ga amanah, dll), karena tuntutan ekonomi yang berat, mereka jadi stress dan tertekan.
Itulah mengapa, mereka benci sama apps dan kebijakan bagi hasilnya, tapi ga mau meninggalkannya, padahal itu hal termudah kan?
Ini udah jadi semacam perilaku irasional dan org yang sedang dalam kondisi tertekan, cenderung irasional kan?
Gue bukan menawarkan solusi karena gue ga pnya kapasitas untuk itu, gue cuma coba melihat dan mengamati fenomena ini.
Gue pernah jadi driver lalamove, dulu resign dari kntor, balik kntor lagi 1 year later.
Sementara gue tetep harus support istri untuk isi kas keluarga, dan gue punya 1 anak.
Yaa emang sering gue kecewa dgn kondisi pengantaran online. Potongan komisi lah, withdraw dana yg ga bisa seketika lah, belum lagi customer kadang rese ga memanusiakan kami para driver.
Kesel, tapi tetep butuh itu apps buat jadi tambahan pemasukan.ujung2nya jadi uring2an sendiri.
Pelampiasannya kadang kalo masih waras, cuma ngelus dada.
Kadang curhat ke istri.
Kadang bisa edan juga.
Ngedumel, mengumpat kata2 kasar dan teriak2 sendiri di mobil, even marah sama Tuhan, pernah gue jalanin.
Momen 1 tahun jadi driver online, kasi pelajaran banyak buat gue.
Dulu gue bangga dengan kestabilan emosi gue. Gue sombong dengan kata org2, gue punya karakter sabar dan iklas.
Ternyata... Dalam kondisi yg berat gue bisa irasional juga dan masi jauh dari org yang bisa ikhlas dan berjiwa besar.
Apps vs Driver online, Semacam love hate relationship ya...
Nah dalam kondisi kayak gini, latar belakang orang yg emosi tersebut (background pendidikan, kondisi spritual/keagamaan, seberapa besar tekanan ekonomi, kondisi keluarga, dll) akan sangat menentukan gmn reaksi org tersebut dalam menghadapi "letupan emosi" tsb.
Latar belakang para driver online tsb, tentu bermacam dan akan sangat banyak variable yang bermain, so akan lebih etis bila pendapat diserahkan pada masing2 pembaca.
Kalian pernah ga sih, kesel, bete, tapi ga tau mau marah sama siapa, akhirnya sesuatu/seseorang yg lagi apes deket sama kalian, bakal kena imbasnya, walaupun itu ga menyelesaikan masalah dan bukan solusi.
Jadi semacem "main hantam" aja.
Terlepas dari pribadi masing2 driver online tsb (ada yang jujur kerja keras, ada yang maap kata kerja ga amanah, dll), karena tuntutan ekonomi yang berat, mereka jadi stress dan tertekan.
Itulah mengapa, mereka benci sama apps dan kebijakan bagi hasilnya, tapi ga mau meninggalkannya, padahal itu hal termudah kan?
Ini udah jadi semacam perilaku irasional dan org yang sedang dalam kondisi tertekan, cenderung irasional kan?
Gue bukan menawarkan solusi karena gue ga pnya kapasitas untuk itu, gue cuma coba melihat dan mengamati fenomena ini.
Gue pernah jadi driver lalamove, dulu resign dari kntor, balik kntor lagi 1 year later.
Sementara gue tetep harus support istri untuk isi kas keluarga, dan gue punya 1 anak.
Yaa emang sering gue kecewa dgn kondisi pengantaran online. Potongan komisi lah, withdraw dana yg ga bisa seketika lah, belum lagi customer kadang rese ga memanusiakan kami para driver.
Kesel, tapi tetep butuh itu apps buat jadi tambahan pemasukan.ujung2nya jadi uring2an sendiri.
Pelampiasannya kadang kalo masih waras, cuma ngelus dada.
Kadang curhat ke istri.
Kadang bisa edan juga.
Ngedumel, mengumpat kata2 kasar dan teriak2 sendiri di mobil, even marah sama Tuhan, pernah gue jalanin.
Momen 1 tahun jadi driver online, kasi pelajaran banyak buat gue.
Dulu gue bangga dengan kestabilan emosi gue. Gue sombong dengan kata org2, gue punya karakter sabar dan iklas.
Ternyata... Dalam kondisi yg berat gue bisa irasional juga dan masi jauh dari org yang bisa ikhlas dan berjiwa besar.
Apps vs Driver online, Semacam love hate relationship ya...

Diubah oleh adhie nih 06-09-2024 11:47
hedhehog dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup