211
Quote:
Di ujung perjalanan, Troy melihat sebuah pulau yang sebagian daratannya berubah menjadi emas. Lalu sebuah cahaya dengan cepat menangkapnya menjauh. Sudah susah payah Troy mengeluarkan kekuatannya, tetapi berakhir pilu setelah cahaya yang tidak diketahui siapa malah menariknya jauh.
“HEI! SIAPA KAU?!” tanya Troy yang tidak bisa bergerak karena kedua tangannya diikat begitu erat.
Cahaya tersebut perlahan memudar, memperlihatkan wajah Bright yang begitu murung dan sedih.
“Ku mohon, kita harus tetap hidup,” mendengar ucapan Bright seperti itu Troy hanya bisa pasrah.
Daratan emas itu terbentuk akibat pedang George yang menancap kuat. Tidak diketahui keberadaan pemilik pedangnya, hanya sebagian jubah putihnya yang tertinggal di sana. Pepohonan banyak yang rusak, belum lagi lubang-lubang besar di tanah juga tampak. Pertarungan yang tidak sepadan tersebut sangat merugikan bagi Royal Beaters Clan. Yang tersisa kini hanyalah Stam, ditempatnya sudah banyak anggota BASS yang mengepungnya.
“Apa yang kalian mau?!” bentak Solo dari pintu depan, gerombolan berbaju hitam itu tidak diizinkan masuk olehnya.
“Um Nona…,” ucap kapten Briar. “kami hanya ingin bicara dengan boss anda, mereka semua datang karena aku ada di sini. Aku berkata jujur,” senyumnya melebar, tampak palsu.
Pintu terbuka, sosok Sterling menyambut kapten Briar. “Aku akan mengizinkan, tapi hanya kau saja yang boleh masuk,” tunjuk Sterling ke sosok kapten Briar.
“Apa kau serius?!” bisik Solo dengan raut wajah kecewa.
“Orang berbadan tegap itu akan tewas jika berani macam-macam, ada aku di sini dan yang lainnya,” jawaban bercanda keluar dari mulut Sterling, lalu mempersilahkan kapten Briar masuk seorang diri.
Bagian dalam caffe sudah disterilkan dari pengunjung. Mereka tampak kebingungan ketika diminta untuk meninggalkan kopi mereka. Ada beberapa yang mengutuk aksi BASS karena mengganggu waktu santainya. Gonzalo menyilangkan kedua tangannya, kapten Briar yang ukuran badannya sama dengannya hanya tersenyum. Lio dengan wajah juteknya menyambut, sedangkan Vivian tidak perduli sambil menyantap sajian didepannya.
Kapten Briar digiring menuju kantornya tuan Stam. Dari lorong saja aura dingin sudah sangat terasa. Sterling mengetuk pintunya, lalu membukakan pintu untuk Kapten Briar. Ajaran dari tuan Stam yang selalu memuliakan tamu diterapkan oleh Sterling, yang bahkan dari kelakuannya saja tidak pernah menunjukan sikap seorang gentleman. Pembicaraan dimulai ketika Kapten Briar duduk di sofa yang empuk.
“Kau pasti sudah dengar beritanya, Troy si anak emas itu kabur dari penjara,” ucap Kapten Briar tanpa mengenalkan dulu dirinya.
“Iya, aku sudah diberitahu oleh rekanku yang lain,” jawab tuan Stam dingin.
“Kapten Julian? Ya dia memang bisa diandalkan, oh iya aku Kapten Briar, siapa tahu kau lupa,” akhirnya Kapten Briar memperkenalkan dirinya secara resmi. “ada sesuatu yang aneh, menurutku si anak emas itu kabur bukan karena kemauannya, apa kau mengerti apa yang kumaksud?”
Sterling dan tuan Stam mengecilkan matanya, teruntuk tuam Stam, alasan Troy melakukan itu sudah diketahuinya. Beat didalam dirinya mendadak bertindak di luar kebiasaan, yang bisa menjadi sinyal bahwa telah terjadi sesuatu. Kemungkinan besar melibatkan seorang ketua dari Royal Clan, yang terdekat dengannya, yaitu Golden Clan.
“Sejujurnya, jika si anak emas itu dalam keadaan yang prima. Bukan tidak mungkin kerusakan yang lebih gila bisa saja terjadi. Tetapi perilakunya sungguh berbeda, dia menyerang hanya untuk melumpuhkanku, membuat baju tempur milikku rusak. Apa telah terjadi sesuatu di luar sini yang kami tidak ketahui?” tanya Kapten Briar.
“Aku hanya bisa memberi peringatan, khususnya pada warga di kota ini. Suatu bencana dashyat akan terjadi dalam waktu dekat. Aku akan berusaha semampuku untuk membantu kalian,” jawaban dari tuan Stam malah semakin membuat Kapten Briar bingung.
“Hei, jelaskan lebih detil. Kita ini kan masih teman bukan?” Sterling lega ada orang yang lebih menyebalkan dibanding dirinya, sikap Kapten Briar yang seolah-olah akrab membuatnya muak. Tuan Stam membuka mulutnya, sebuah informasi mahal telah diberikannya, hingga membuat Kapten Briar bergetar hebat. Jika tidak melakukan perencanaan dari sekarang, tidak bisa dibayangkan berapa banyak warga yang menjadi korban.
Pembicaraan pun berakhir setelah semua informasi sudah didapatkan. Kapten Briar akan langsung mengadakan rapat dengan para kapten yang masih tersisa, kebanyakan dari mereka mendapatkan cidera yang tergolong parah. Pertarungan melawan Troy mengikis jumlah kapten, sebelumnya malah jumlahnya sudah berkurang akibat insiden di markas tempo hari.
Sebelum pergi, Kapten Briar bertanya satu hal pada tuan Stam. “Aku sudah menghitung jumlah kalian, nampaknya kurang satu orang,” ucap Kapten Briar.
“Djohan maksudmu? Dia kusuruh untuk membeli bahan-bahan makanan, cepatlah pergi sebelum dia kembali. Anak itu terlalu banyak ingin tahu, merepotkan,” jawab Sterling.
Orang tinggi besar itu digiring kembali ke luar ruangan. Sebenarnya Djohan sedang diberikan misi lain oleh tuan Stam, untuk soal ini BASS tidak perlu tahu. Akhirnya mobil-mobil hitam hilang dari halaman Wilson Caffe, bisnis kembali dibuka untuk umum. Para pelanggan dengan cepat kembali datang, bahkan ada yang tadinya sudah terusir. Ingin menyelesaikan apa yang dimulainya.
Di sebuah lokasi yang jarang ada manusia disekitarnya. Bright dan Troy bersembunyi dari kejaran Helios. Banyak pertanyaan yang ingin diutarakan, tetapi melihat kondisi Bright yang sangat lemah dan tak sadarkan diri membuat Troy mengurungkan niatnya tersebut. Ia memilih untuk menjaga rekannya itu dulu sampai pulih.
“Apa!?” Troy dengan sigap mengeluarkan pedang cahayanya, ada suara langkah kaki orang mendekat.
“Kau sangat menyukai pegunungan kah?” orang itu adalah Djohan, yang menyusul ke tempat Bright dan Troy.