Kaskus

Sports

  • Beranda
  • ...
  • Liga Inggris
  • » [L4US] Liverpool Forum Kaskus - Season 2024/25 - Endings and Beginnings «

viniestAvatar border
TS
viniest
» [L4US] Liverpool Forum Kaskus - Season 2024/25 - Endings and Beginnings «
» [L4US] Liverpool Forum Kaskus - Season 2024/25 - Endings and Beginnings «
 
Quote:

 
 
Quote:




ngopiguysAvatar border
bnbabaAvatar border
thebloezAvatar border
thebloez dan 30 lainnya memberi reputasi
25
192.9K
6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Liga Inggris
Liga Inggris
KASKUS Official
3.5KThread15.3KAnggota
Tampilkan semua post
FlasharpoonAvatar border
Flasharpoon
#269
KOLOM KOEZ ARRAIHAN ■

■ GRAVENBERCH KUNCI PENTING LINI TENGAH LIVERPOOL : Sebuah Tranformasi Skema Taktik Arne Slots ■


Setelah 3 match EPL resmi dijalani Liverpool, banyak pihak mempertanyakan, apa sebenarnya yang dikejar Liverpool dari seorang Martin Zubimendi, padahal ada seorang Ryan Gravenberch yang telah menjadi mesin cemerlang Liverpool. Tetapi, sekali lagi, tulisan ini bukan ingin membahas yang tak ada. Pertanyaan itu hanya untuk menggambarkan noktah kecil dari taktik bisnis yang mungkin tidak terjamah oleh benak kita. Mari kita menganalisa "sesuatu" yang sudah ada dan kita miliki. Ryan Gravenberch.

Tidak banyak pihak yang menduga bahwa saat ini, musim ini, Graven bisa menjadi sosok yang sepenting ini. Naluri kepelatihan Klopp sudah mencium bakat anak ini. Sampai ketika Munchen menahan untuk tidak melepasnya, Klopp bertahan menunggunya, membujuknya dan akhirnya Munchen menyerah dan melepasnya.

Tetapi daya cium Klopp atas talent seorang Graven belum mampu menjadikan Graven punya posisi yang kuat dalam pendekatan taktik Klopp. Musim lalu, Graven hanya bermain 38 match di semua kompestisi, dan itupun hanya 21 match Graven menjadi starter, mencetak 4 gol dan 2 assist. Sebuah musim yang dinilai sebagai "cukup" tetapi tidak ada yang lebih, untuk bisa dijadikan sebuah pokok bahasan di Inggris.

Kalau mau jujur, semestinya, Graven harus berterima kasih pada Erik Ten Hag pelatih MU yang akhir pekan lalu timnya dibantai Gravenberch. Ten Hag lah yang pertama sekali menurunkan Graven di tim utama Ajax saat usianya baru 16 tahun, saat itu Ajax menghadapi PSV tahun 2018. Sebuah Bigmatch di Belanda. Macth ini dipercaya banyak pihak sebagai magnet awal yang membuat banyak pelatih Belanda di Eredivisie membuka pandangannya. Graven pemain termuda yang turun di kompetisi tertinggi Belanda itu mengalahkan rekor usia legenda Belanda Clerence Seedorf saat pertama sekali turun di Liga Belanda. Jadi, Erik Ten Haq adalah tokoh yang mestinya akan dikenang Graven dalam perjalanan karir sepakbolanya. Tetapi kita tahu, hari Minggu lalu Graven lah yang menjadi tokoh utama Liverpool saat menghancurkan hagemoni Ten Hag di rumah kebanggaan MU : Old Trafford. Sebuah ironi yang menyesakkan di sepakbola.

Dalam benak saya, Klopp gagal memaksimalkan peran Graven karena sulit mendesain karakter Graven dalam tajtiknya. Klopp sangat tahu bakat Graven tetapi dia sulit menyediakan tempat yang nyaman sesuai karakter Graven. Tetapi memang pemainlah yang wajib menyesuaikan diri dengan taktik. Sampai disini, kita memahami bahwa Klopp cerdas, bisa menemukan anak ini, tetapi upayanya untuk menjadikannya pemain penting belum berhasil.

Lalu kemudian datanglah AS. Asli orang Belanda. Tetapi AS datang justru mengejar Zubimendi, walau AS juga paham di dalam timnya sudah ada Graven. Jadi, AS ingin memastikan bahwa di timnya harus ada 2 pemain yang sama level kualitasnya untuk satu tugas penting di No.6 dengan karakter taktik AS. Dia tahu Graven akan mampu, tapi AS butuh pendamping Graven yang bisa saling bergantian di posisi No.6 dan itu hanya pada Zubimendi. Dalam konteks ini Wataru Endo memang sulit memainkan oeran No.6 AS karena Endo bukan pemain yang cerdas saat dengan bola. Bukan type pemain yang mengolah bola, membaca ruang dan tidak mudah kehilangan bola sampai pada passing yang menghancurkan pertahanan lawan.

Graven menjadi pemain kedua di tim Liverpool dengan 88,5% passing komplit setelah Van Dijk. Dalam pola AS, build up dari lini belakang diawali dari Alisson, Konate di kanan dan Robbo di kiri serta Van Dijk berdiri vertikal dengan Alisson dalam jarak antara 6-7 meter. Dalam banyak build up yang berhasil, Van Dijk selalu menyekesaikan passing komplitnya kepada Graven ini. Graven ini lah yang melapis ruang Van Dijk, jika Van Dijk lepas bola maka bola tidak akan diambil musuh karena Graven sangat cerdas menjaga posisi.

Maka yang terjadi, setiap Van Dijk melepas passing ke Graven, maka Graven akan membawa bola sejauh mungkin, bahkan lawan MU, Graven tudak kehilangan bola saat show of force individual mengecoh Kobbie Mainoo. Padahal MU itu sangat bergantung pada peran Mainoo untuk mengalirkan bola ke Bruno Fernandez. Dan bahkan saat piala FA musim lalu, Mainoo inilah yang mengja curkan lini tengah Liverpool bahkan dia mencetak gol. Maka malam kemarin itu, Mainoo dibuat tidak berkutik oleh Graven.

Graven selalu menggiring bola mendekati kotak 16 lawan. Graven tinggal memilih kepada siapa bola akan di passing. Dalam catatan, Graven dalam 3 match Liverpool di EPL ini telah melakukan "carries the ball" (menggiring bola minimal lima meter atau lebih) lebih dari 40 kali dan hanya kalah dari Luis Diaz yang sudah melakukan 45 kali, menggiring bola dengan sempurna. Apa yang dilakukan Diaz dan Graven itu bukan saja sekedar menggiring bola, tetapi mereka menjadi bahkan yang aktif, passing and moving dalam membongkar pertahanan lawan. Inilah yang ditampilkan Graven. Dia melakukan intersep, lalu menggiring bola, membaca situasi dan ruang, lalu dia melakukan passing, secepat kilat dia kembali bergerak mencari ruang lagi, dan ini semua dilakukan Graven dalam sepersekian detik. Inilah yang sulit dilakukan Endo. Endo ahli dalam bola-bola direct (bola yang langsung di passing ketika dikuasai). Tetapi lemah ketika melakukan : Carries" ini. Sementara, kecerdasan ketika melakukan carries inilah awal mula cara membunuh lawan dalam taktik AS.

Dari apa yanh diuraikan diatas, maka sangat jelas, bagaimana Graven memikul peran sebagai "playing a key in role" Liverpool. Graven mungkin tidak membuat gol, tidak membuat assist bahkan mungkin bukan yang langsung terlibat dalam merancang terjadinya gol, tetapi Graven lah awla mula bola itu bergerak menerobos pertahanan lawan, merusak sistem grandel lawan di area no.6 lawan.

Jadi ketika Graven menguasai bola, Graven mendesain gerakannya untuk para "team-mate" mengatur posisi. Bahkan yang membuat Mac Allister dan Szoboszlai terasa nyaman adalah bahwa ketika Graven menguasai bola, mereka berdua bebas berlari, mengatur posisi, atau melakukan 'moving without ball' bergerak tanpa bola, ini kemudian yang dalam pandangan lawan, jadi sangat sulit dicerna lawan. Karena selain mereka harus konsentrasi pada bola di kaki Graven, dalam waktu yang sama mereka juga harus memperhitungkan gerakan Szobo, Allister dan Mo. Salah bahkan Diaz di wing kiri. Graven memang membuat sistem pertahanan lawan jadi sangat rumit bekerja. Perhatikanlah, betapa bola-bola dari kaki Graven itu menyusur tanah, mulus dan mudah diterima kawan-kawannya. Tetapi sulit dihadang lawan.

Bahkan, sebagai contoh, saat lawan MU, Ml. Salah melakukan passing sebanyak 21 kali dalam 'final third area' MU. Dan Graven melakukannya 17 kali, dan diantara passing-passing itu, Graven bahkan diselingi dengan duel sampai 10 kali, dan 7 duel dimenangkan oleh Graven. Korbannya lebih banyak pada Casemiro dan Mainoo. Banyaknya memangkan duel ini hanya kalah dari Van Dijk yang memang ahlinya duel di tubuh Liverpool.

AS ketika ditanya peran sentral Gravenberch ini, seusai match lawan MU, memberikan narasinya :

" Kualitasnya ketika bersama bola adalah jawaban saya yang pertama. Tetapi mungkin karena dia berasal dari Belanda, kita tahu bahwa pemain-pemain Belanda terlatih sangat baik bersama bola. Dia benar-benar pemain yang sangat penting ketika melakukan build up, tetapi hal yang ingin Saya tekankan adalah ketika saya pertama datang dan melihatnya lalu bekerja bersamanya (dalam latihan) dia snagat bagus dalam berlari, lalu membawa bola dan juga ketika melakukan duel."

"Hari ini Anda lihat, karena Graven, menjadikan Szobo dan Allister begitu bisa banyak bergerak dan berlari. Kadang dia terlambat, tetapi dia kembali berlari mengejar dan melakukan duel, dan semua dilakukan dengan impresif. Lalu Saya berpikir, betapa bagusnya anak ini bahkan ketika tanpa bola".

Gravenberch juga menciptakan pola kerja yang memaksimalkan peran Mac Allister dan Szoboszlai di lini tengah. Szoboszlai (19 kali) dan MacAllister (18 kali) recovery dan ini yang tertinggi di EPL sejauh 3 match EPL berlangsung. Semua itu karena Gravenberch mampu memenangkan duel dan aliran passingnya di lini tengah sehingga menjamin peran maksimal bagi Szobo dan Allister serta Diaz.

Gravenberch masih 22 tahun. Tetapi apa yang sudah dilakukannya musim ini dengan pendekatan taktik AS adalah sebuah garansi masa depan dirinya secara sinergitas dengan Liverpool. Peran yang dijalankan Graven dan caranya bekerjanya di lapangan, bukan saja menghebatkan dirinya dalam menterjemahkan peran unik No.6 itu sendiri, tetapi ternyata mampu menghidupkan dan memaksimalkan karakter Szobo dan MacAllister di lini tengah, dan sedemikian itu, ketiganya akhirnya memberi peluang dan jalan yang hebat bagi Diaz, Jota Dan Salah di lini depan.

Garis gelombang resonansi sistem build up Liverpool dari Alisson, Van Dijk, Gravanbech lalu ke lini depan, adalah perjalanan sinergitas yang menunjukkan Liverpool meraih kembali kekuatannya dalam sajian menu yang berbeda dari apa yang sudah pernah dipersembahkan Jurgen Klopp. Kegemilangan era Klopp bukan berhenti tetapi mampu diteruskan oleh AS dan anak-anak yang ditinggalkan Klopp dalam sebuah perjamuan musim ini. Memang belum ada trophy yang diraih, tetapi kekuatan permainan tampak naik kepermukaan.

Graven tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada Van Dijk, Allister dan Szobo dan semua elemen sistem dalam tubuh Liverpool. Pesan ini menguatkan pemahaman kita bahwa sebuah kekuatan itu lahir dari menyatunya kekuatan elemen-elemen gelombang kecil lalu disinergitaskan oleh sistem dan menjadikannya gelombang besar, yang memukul, merubuhkan dan sekaligus sampai menghancurkan lawan. Dan Graven bagian dari elemen yang menjadikan gelombang itu berpotensi terus membesar dan mematikan.

● Data dan Kutipan Wawancara dari Analyts Opta.

#KAG
#Jkt4Sep24
ayahfatih
lifehack
alston9
alston9 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.