- Beranda
- Citizen Journalism
Briptu Putri Cikita Minta Maaf tapi Kembali Dirujak Netizen, Tuding Orang lagi Ngobat
...
TS
amekachi
Briptu Putri Cikita Minta Maaf tapi Kembali Dirujak Netizen, Tuding Orang lagi Ngobat

Polwan Cantik Briptu Putri Cikita Minta Maaf tapi Kembali Dirujak Netizen, Tuding Orang pakai Obat-obatan Terlarang
Seorang polwan yang sempat menjadi sorotan publik karena aksinya menegur seorang pria yang sedang makan saat diinterogasi polisi, kini meminta maaf. Briptu Putri Cikita akhirnya mengakui kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung melalui media sosial TikTok.
Kejadian tersebut memicu reaksi keras dari netizen, yang menilai bahwa tindakan Putri Cikita sebagai seorang polisi seharusnya lebih mengayomi masyarakat. Namun, dalam video lengkap terkait peristiwa itu yang ditayangkan dalam program The Police Trans 7, terungkap bahwa sebenarnya yang tidak sopan adalah orang yang sedang makan tersebut.
Quote:

Dengan munculnya permintaan maaf ini, diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi Putri Cikita dan seluruh aparat kepolisian lainnya untuk selalu berhati-hati dalam bertindak dan mengingat pentingnya kesopanan serta kepatutan dalam bertugas, yang dimana salah satu tugas kepolisian adalah mengayomi masyarakat.
Namun disini, di Indonesia ya seperti inilah keadaannya ya gansist. Ketika orang salah maka akan diperlihatkan kesalahan yang lainnya, apalagi seorang anggota kepolisian. Seperti Briptu Putri Cikita nih gansist, klop sekali netizen dibantu media ikut bikin viral kejadian yang lain yang dilakukan oleh yang bersangkutan.
Quote:

Kesimpulannya, sepertinya kalau acara-acara yang menayangkan aksi polisi dalam memberantas penyakit masyarakat seperti The Police itu terus ditayangkan, ya bakalan bikin polemik terus. Ada kemarin kaskuser yang menilai jika acara-acara semacam itu ditiadakan, karena sebelum Briptu Putri sebenarnya sudah ada masalah, jika dilanjutkan ya terus bermasalah.
Lebih baik pemberantasan penyakit masyarakat oleh petugas kepolisian tetap jalan, namun dengan meminimalisir untuk bisa diviralkan. Sebab penilaian masyarakat ya, polisi datangin warung yang diduga ada beberapa orang yang terindikasi berbuat yang melanggar hukum seperti memakai narkoba dan minum-minuman keras, ya harus sesuai pemikiran mereka.
"Permisi mas, mohon maaf. Anda sekarang kok kelihatan matanya merah?"
"Mohon maaf, seribu maaf nih. Kamu habis nelen apa tadi?"
"Batu es bu, keloloden!" jawab yang ditanyai.

Sumber Tulisan dan Gambar:
Tribunnews
Medcom
gErOnImO2008 dan 19 lainnya memberi reputasi
20
3.5K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Citizen Journalism
16.7KThread•15.2KAnggota
Tampilkan semua post
adhie nih
#26
Ini analisa sotoy aja ya.
Bkn buat kasus ini aja, tapi untuk general
Kadang gue mikir kenapa netijen 62 khususnya, gampang ngerujak orang yg "berkasus seperti ini", di medsos.
Ini tu mirip klo ada maling kelas cere, macem maling motor, jemuran, dll, klo ketangkep di jalanan/tempat umum, bakal habis dihakimi massa yg tiba2 muncul entah darimana, yg kadang ga tau hal ihwal nya, tapi ikut "memeriahkan".
Masyarakat kita banyak yg tertekan secara ekonomi (yg paling kasat mata), atau hal2 lain. Semua itu bisa diobati kalau ada penyalurannya, masalahnya penyalurannya pasti gak gratis
Akhirnya, mereka ini mgkn cari yg gratis, atau seminim2 nya yg cost paling rendah.
Misalnya apa, ya itu tadi. Ga sengaja Liat maling di jalan lagi digebukin, lgsng join. Toh ga perlu beli tiket.
Ada artis lagi dirujak di medsos, ikut ngata2in ajaa.. "gue lagi emosi ni. Gue pengen ngatain orang.. siapa ya... Ahhh ini aja, gue ngatain artis anu yg lagi kasus ahh.." mungkin gt.
Kalo org ada budget, kalo lg penat, dll, mungkin pelampiasan, ntn nplix kek, ke bioskop kek, sewa lapangan basket/futsal,dll.
Nah kalo ga ada dana?
Ya cari yg gratis/minim cost.
-analisa pribadi-
Bkn buat kasus ini aja, tapi untuk general
Kadang gue mikir kenapa netijen 62 khususnya, gampang ngerujak orang yg "berkasus seperti ini", di medsos.
Ini tu mirip klo ada maling kelas cere, macem maling motor, jemuran, dll, klo ketangkep di jalanan/tempat umum, bakal habis dihakimi massa yg tiba2 muncul entah darimana, yg kadang ga tau hal ihwal nya, tapi ikut "memeriahkan".
Masyarakat kita banyak yg tertekan secara ekonomi (yg paling kasat mata), atau hal2 lain. Semua itu bisa diobati kalau ada penyalurannya, masalahnya penyalurannya pasti gak gratis
Akhirnya, mereka ini mgkn cari yg gratis, atau seminim2 nya yg cost paling rendah.
Misalnya apa, ya itu tadi. Ga sengaja Liat maling di jalan lagi digebukin, lgsng join. Toh ga perlu beli tiket.
Ada artis lagi dirujak di medsos, ikut ngata2in ajaa.. "gue lagi emosi ni. Gue pengen ngatain orang.. siapa ya... Ahhh ini aja, gue ngatain artis anu yg lagi kasus ahh.." mungkin gt.
Kalo org ada budget, kalo lg penat, dll, mungkin pelampiasan, ntn nplix kek, ke bioskop kek, sewa lapangan basket/futsal,dll.
Nah kalo ga ada dana?
Ya cari yg gratis/minim cost.
-analisa pribadi-
Diubah oleh adhie nih 28-08-2024 11:57
amekachi memberi reputasi
1
Tutup