- Beranda
- Stories from the Heart
Bangkitnya Penjaga Dari Timur
...
TS
Gojira1998
Bangkitnya Penjaga Dari Timur
Halo halo agan dan aganwati, mohon ijin sebelumnya ane mau sharing sebuah cerita Sejarah Alternatif (What If....). Beberapa nama tokoh sejarah akan ada dalam story ini tapi jalan ceritanya sudah pasti fiksi, ya namanya juga Sejarah Alternatif. Jadi gak usah berlama - lama semoga kalian terhibur semua! Cekidot! 
================================================================================

Ayah Galih menatapnya dan sedikit mengangkat alisnya.
"Sudah bangun kau tuan muda?," ucap ayahnya, ada sedikit sarkas di nada bicaranya.
Galih hanya mengangguk pelan dengan wajah masih mengantuk.
"Mandilah dan langsung sarapan, kau tentu tak mau terlambat di hari pertamamu sekolah", kata ayahnya.
Ibunya mendatangi Galih dan melap muka berminyak anaknya yang mulai beranjak remaja itu.
Galih terlihat tidak nyaman dan berusaha menghindari usapan lap dari tangan ibunya.
"Bu, aku mau mandi, tidak usah lap mukaku!", protes Galih.
"Mukamu berminyak dan kamu sering cuci muka tidak memakai sabun", ibunya menjelaskan.
"Jadi dari pada gurumu mengomel karena dianggap kau belum mandi, lebih baik kamu diam biar ibu yang lap" tambah ibunya sambil menunjukan lap di tangannya.
Tahun depan Galih lulus, kemana karirnya ke depan dia tidak tahu. Tapi Galih yang terbiasa menulis berpikir menjadi wartawan di kota besar bukan ide yang buruk.
Tidak berapa lama kemudian Galih sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam cokelat sekolahnya. Dia pun pergi ke meja makan, menarik kursinya dan mulai makan.
Tiba - tiba ayahnya meletakan korannya sambil berkata "Hah! Sudah ku duga! Betul - betul licik mereka!".
"Ini yang sudah aku perkirakan, jika kita mendaftarkan tanah kita maka harus ada pengukuran ulang!", ujar ayahnya.
"Tapi bukankah itu bagus", ibu Galih angkat bicara.
"Jika pengukuran dilakukan kembali maka seharusnya tanah - tanah yang diambil alih pada saat perang bisa dikembalikan kepada pemiliknya atau ke negara", tambah ibunya.
"Jika berpikir senaif itu ya itu yang akan terjadi, tapi jika melihat mulai munculnya para tuan tanah baru, bisa jadi ini menjadi alasan untuk mengambil alih beberapa lahan tanah rakyat!", pungkas ayahnya.
Galih tiba - tiba angkat bicara
"Tapi jika ada pengawasan ketat dari pemerintah, bukankah seharusnya lebih aman yah?", ucap Galih.
"Itu yang menjadi pertanyaannya bukan?".
Galih terdiam, ayahnya terkadang seperti orang yang tak tertarik dengan politik, tapi setiap pemikirannya terhadap kebijakan pemerintah selalu ada benarnya.
Sebenarnya banyak partai yang ingin menjadikan ayahnya sebagai kader, tapi kebanyakan ditolak oleh ayah. Kemarin ada sebuah partai bernama Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI menawarkan posisi yang bagus, tapi ayah menolaknya. Kata ayah jika dia bergabung ke sebuah partai maka yang dia perjuangkan adalah kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat atau petani.
Dulu ayah sempat menjadi simpatisan Partai Nasional Indonesia atau PNI, tapi ayahnya lebih memilih melanjutkan karir dalam organisasi petani Sangger itu. Galih banyak belajar politik dan kebijakan dari ayahnya, mungkin ini yang membuat ayahnya menginginkan Galih mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Selesai makan Galih meletakan piringnya di tempat pencucian di belakang rumahnya. Dia mengambil tasnya di kamar kemudian memakai sepatu pantofel kulit hitam yang sudah disemir malam sebelumnya. Setelah itu dia mendatangi ayah ibunya untuk memberikan salam sebelum pergi ke sekolah.
"Ayah ibu aku pergi dulu ke sekolah", ucap Galih sembari mencium tangan ayah ibunya.
"Iya nak, hati - hati dijalan, jaga pergaulan jangan sampai kamu terjerumus", ayah Galih memperingatkan.
"Sudahlah yah, anak kita sudah besar, kita harus lebih percaya dengannya", bela ibu Galih.
Ayah Galih hanya mengangguk pelan. Begitulah ayahnya, disiplin dan keras, sampai - sampai Galih tidak paham bagaimana ayahnya menyampaikan rasa sayang.
Galih kemudian membuka pintu, dan berjalan menyusuri jalanan desa menuju sekolahnya.

================================================================================
Bangkitnya Penjaga Dari Timur

Spoiler for Karakter:
A. Indonesia
1. Galih Hardi
2. Gunawan Hardi
3. Dena Hardi
4. Yudi Brata
5. Fina Brata
6. Brata Sudrajat
7. Susi Sudrajat
8. Gama Manurung
9. Joseph Manurung
10. Halsa Laisina
11. Kapten Jonathan Laisina
12. Menlu Harmoko Suwandi
13. Presiden Sapta Hasro
14. Wapres Arga Sasongko
B. Belanda
1. Fergus van Ronnen
2. Bella van Ronnen
3. Jenderal Hubbert van Ronnen
4. Julina van Ronnen
5. Frank Gustra
6. Kolonel Wilmer van Oosten
7. Valentina van Stroon
C. Jepang
1. Makoto Hakaze
2. Yui Hakaze
3. Mayor Jenderal Koku Seiji
4. Jenderal Ryouta Shougo
5. Fudo Kurosawa
D. Tokoh Dalam Sejarah
1. Walther Hewel
2. Frank Murphy
3. Archibald Wavell
1. Galih Hardi
2. Gunawan Hardi
3. Dena Hardi
4. Yudi Brata
5. Fina Brata
6. Brata Sudrajat
7. Susi Sudrajat
8. Gama Manurung
9. Joseph Manurung
10. Halsa Laisina
11. Kapten Jonathan Laisina
12. Menlu Harmoko Suwandi
13. Presiden Sapta Hasro
14. Wapres Arga Sasongko
B. Belanda
1. Fergus van Ronnen
2. Bella van Ronnen
3. Jenderal Hubbert van Ronnen
4. Julina van Ronnen
5. Frank Gustra
6. Kolonel Wilmer van Oosten
7. Valentina van Stroon
C. Jepang
1. Makoto Hakaze
2. Yui Hakaze
3. Mayor Jenderal Koku Seiji
4. Jenderal Ryouta Shougo
5. Fudo Kurosawa
D. Tokoh Dalam Sejarah
1. Walther Hewel
2. Frank Murphy
3. Archibald Wavell
Spoiler for INDEX:
Prolog
Chapter 1 - Galih Hardi
Chapter 2 - Yudi Brata
Chapter 3 - Yui Hakaze
Chapter 4 - Makoto Hakaze
Chapter 5 - Yui Hakaze
Chapter 1 - Galih Hardi
Chapter 2 - Yudi Brata
Chapter 3 - Yui Hakaze
Chapter 4 - Makoto Hakaze
Chapter 5 - Yui Hakaze
Spoiler for Prolog:
Selama lebih dari 3 abad Belanda menjajah Nusantara, perampasan hak dan sumber daya alam yang dihisap habis - habisan sangat tidak manusiawi dan membawa kesengsaraan bagi rakyat. Sudah banyak terjadi perlawanan di berbagai daerah tapi selalu berhasil dipatahkan oleh Belanda.
Pada 28 Oktober 1928, sebuah kongres pemuda diadakan, dan segenap perwakilan pemuda dan pelajar dari seluruh Nusantara menyerukan sebuah sumpah yang terkenal dan diberi nama Sumpah Pemuda Indonesia. Sumpah ini menjadi ikrar para kaum pemuda dan pelajar terbentuknya sebuah bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Semangat sumpah pemuda ini kemudian menyebar keseluruh Indonesia, dan membuat terjadinya beberapa perlawanan di berbagai daerah hingga pada akhirnya pada Maret 1929, Perang Kemerdekaan Indonesia dimulai.
Belanda yang terkejut dengan semangat dan daya juang pemuda Indonesia sangat kewalahan. Belanda memohon bantuan kepada kolonial sekitarnya seperti Inggris dan Perancis, tapi dua negara itu tidak mau membantu Belanda karena dukungannya kepada Jerman pada perang dunia pertama. Belanda akhirnya terusir sampai ke Papua, dan memohon gencatan senjata, pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Sapta meminta untuk Belanda untuk pergi maka gencatan senjata dilakukan.
Belanda memohon kembali gencatan senjata tapi kali ini dengan perjanjian mereka membutuhkan waktu untuk 5 tahun agar benar - benar siap memberikan Papua kepada Indonesia. Pemerintahan Indonesia menyetujui, dan setelah satu tahun berperang, pada 17 Agustus 1930 Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda.
Pada 28 Oktober 1928, sebuah kongres pemuda diadakan, dan segenap perwakilan pemuda dan pelajar dari seluruh Nusantara menyerukan sebuah sumpah yang terkenal dan diberi nama Sumpah Pemuda Indonesia. Sumpah ini menjadi ikrar para kaum pemuda dan pelajar terbentuknya sebuah bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Semangat sumpah pemuda ini kemudian menyebar keseluruh Indonesia, dan membuat terjadinya beberapa perlawanan di berbagai daerah hingga pada akhirnya pada Maret 1929, Perang Kemerdekaan Indonesia dimulai.
Belanda yang terkejut dengan semangat dan daya juang pemuda Indonesia sangat kewalahan. Belanda memohon bantuan kepada kolonial sekitarnya seperti Inggris dan Perancis, tapi dua negara itu tidak mau membantu Belanda karena dukungannya kepada Jerman pada perang dunia pertama. Belanda akhirnya terusir sampai ke Papua, dan memohon gencatan senjata, pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Sapta meminta untuk Belanda untuk pergi maka gencatan senjata dilakukan.
Belanda memohon kembali gencatan senjata tapi kali ini dengan perjanjian mereka membutuhkan waktu untuk 5 tahun agar benar - benar siap memberikan Papua kepada Indonesia. Pemerintahan Indonesia menyetujui, dan setelah satu tahun berperang, pada 17 Agustus 1930 Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda.
Spoiler for Chapter 1 - Galih Hardi :
Menjelang pagi tapi gelap masih menyelimuti kampung Sangger, sebuah kampung yang berada di sebelah timur Semarang. Seberkas cahaya mentari mulai muncul di ufuk timur, mulai menerangi secara pelan di kampung yang damai itu. Lampu - lampu jalan di kampung satu persatu mulai padam secara otomatis, dan beberapa rumah juga mulai mematikan lampu di depan rumah mereka. Galih terbangun dari tidurnya, matanya membuka dan mengerjap beberapa kali. Dia mengangkat kepalanya sedikit dan melihat ke arah jendela, terlihat seberkas cahaya matahari terlihat.
Galih menggeliat sedikit sambil menguap, kemudian beranjak bangun dan terduduk di tempat tidurnya. Terdengar suara dentingan piring dari luar kamar, tanda ibunya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Galih kemudian berjalan dengan perlahan menuju jendela, terdapat sebuah foto Galih di dinding semasa kecil dengan sang kakak berseragam KNIL yang sedang memanggul senjata jenis laras panjang Mauser 1895. Terdapat nama pada seragam sang kakak yang tertulis Bagas Hardi, dan lambang militer yang menandakan dia seorang Letnan Satu.
Galih membuka jendela kamarnya dan terlihat jalanan desa didepan rumahnya, mulai ada beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas pagi. Pengantar koran yang sedang menggowes sepedanya dengan tumpukan koran baru yang akan diantar ke pelanggan, ada juga beberapa petani yang sedang membawa hasil panennya ke atas truk. Beberapa orang yang sedang bertegur sapa di jalan, dan para beberapa wanita yang sedang memyapu halaman atau menjemur pakaian.
Setiap rumah di kampung itu memiliki halaman dan rumah mereka berjarak 3 - 5 meter dari jalan desa, listrik dan air ledeng sudah masuk ke desa itu sesuai rencana pecepatan pembangunan yang diusung pemerintah. Walaupun belum semua mendapatkan karena pemasangan dijadwalkan secara bergilir, minggu lalu area jalan masuk desa sudah mendapatkan pemasangan, maka minggu ini merupakan jatah deretan rumah Galih yang berada dekat dengan perempatan pusat kampung.
Galih menguap sekali kemudian berjalan keluar kamar, dia menyibak kain yang menutup jalur masuk kamarnya pengganti pintu.
Ibunya, Dena Hardi sedang menyiapkan sarapan di meja, sudah tersedia bakul nasi, piring kecil sambal, irisan telur dadar, tempe tahu goreng dan setoples kerupuk.
Ayahnya sedang membaca koran kemarin ditemani segelas kopi hitam, koran - koram selalu dicetak pada pagi hari, tapi jika kita membeli di sore hari maka harganya bisa setengah lebih murah dibanding harga jual di pagi hari.
Gunawan Hardi adalah ketua asosiasi petani rakyat desa Sangger, setiap permasalahan petani di desanya ayahnya pasti akan selalu dilibatkan apalagi jika harus berhadapan dengan tengkulak nakal yang mau membeli hasil pertanian dengan harga sangat murah.
Galih menggeliat sedikit sambil menguap, kemudian beranjak bangun dan terduduk di tempat tidurnya. Terdengar suara dentingan piring dari luar kamar, tanda ibunya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Galih kemudian berjalan dengan perlahan menuju jendela, terdapat sebuah foto Galih di dinding semasa kecil dengan sang kakak berseragam KNIL yang sedang memanggul senjata jenis laras panjang Mauser 1895. Terdapat nama pada seragam sang kakak yang tertulis Bagas Hardi, dan lambang militer yang menandakan dia seorang Letnan Satu.
Galih membuka jendela kamarnya dan terlihat jalanan desa didepan rumahnya, mulai ada beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas pagi. Pengantar koran yang sedang menggowes sepedanya dengan tumpukan koran baru yang akan diantar ke pelanggan, ada juga beberapa petani yang sedang membawa hasil panennya ke atas truk. Beberapa orang yang sedang bertegur sapa di jalan, dan para beberapa wanita yang sedang memyapu halaman atau menjemur pakaian.
Setiap rumah di kampung itu memiliki halaman dan rumah mereka berjarak 3 - 5 meter dari jalan desa, listrik dan air ledeng sudah masuk ke desa itu sesuai rencana pecepatan pembangunan yang diusung pemerintah. Walaupun belum semua mendapatkan karena pemasangan dijadwalkan secara bergilir, minggu lalu area jalan masuk desa sudah mendapatkan pemasangan, maka minggu ini merupakan jatah deretan rumah Galih yang berada dekat dengan perempatan pusat kampung.
Galih menguap sekali kemudian berjalan keluar kamar, dia menyibak kain yang menutup jalur masuk kamarnya pengganti pintu.
Ibunya, Dena Hardi sedang menyiapkan sarapan di meja, sudah tersedia bakul nasi, piring kecil sambal, irisan telur dadar, tempe tahu goreng dan setoples kerupuk.
Ayahnya sedang membaca koran kemarin ditemani segelas kopi hitam, koran - koram selalu dicetak pada pagi hari, tapi jika kita membeli di sore hari maka harganya bisa setengah lebih murah dibanding harga jual di pagi hari.
Gunawan Hardi adalah ketua asosiasi petani rakyat desa Sangger, setiap permasalahan petani di desanya ayahnya pasti akan selalu dilibatkan apalagi jika harus berhadapan dengan tengkulak nakal yang mau membeli hasil pertanian dengan harga sangat murah.
Ayahnya berperawakan tinggi kurus dengan kumis tipis dan rambut agak berantakan, tatapan mata tajam yang menunjukan rasa tidak mudah percaya dengan orang - orang. Sedangkan ibu Galih seorang ibu rumah tangga yang memiliki badan berisi dengan lengan berotot dan rambut hitam ikal, sangat cekatan sekali jika melakukan pekerjaan rumah. Mereka adalah contoh keluarga petani sederhana yang menikmati setiap momen dalam hidupnya.
Ayah Galih menatapnya dan sedikit mengangkat alisnya.
"Sudah bangun kau tuan muda?," ucap ayahnya, ada sedikit sarkas di nada bicaranya.
Galih hanya mengangguk pelan dengan wajah masih mengantuk.
"Mandilah dan langsung sarapan, kau tentu tak mau terlambat di hari pertamamu sekolah", kata ayahnya.
Ibunya mendatangi Galih dan melap muka berminyak anaknya yang mulai beranjak remaja itu.
Galih terlihat tidak nyaman dan berusaha menghindari usapan lap dari tangan ibunya.
"Bu, aku mau mandi, tidak usah lap mukaku!", protes Galih.
"Mukamu berminyak dan kamu sering cuci muka tidak memakai sabun", ibunya menjelaskan.
"Jadi dari pada gurumu mengomel karena dianggap kau belum mandi, lebih baik kamu diam biar ibu yang lap" tambah ibunya sambil menunjukan lap di tangannya.
Galih kemudian buru - buru pergi ke kamar mandi, tidak lama terdengar guyuran air dari kamar mandi.
Hari ini merupakan hari pertama di tahun ajaran baru, lulus dari sekolah dasar Galih melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan sekarang Galih berada di tingkat dua. Anak - anak di desanya rata - rata tamatan sekolah dasar, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan sebagai petani atau peternak.
Galih berpikir itu cara paling cepat dalam berkarir dan mendapatkan uang, tapi ayahnya berpendapat lain. Dia menginginkan Galih dapat bersekolah lebih tinggi, sehingga Galih dapat dengan mudah berkarir di perkantoran dengan pendapatan yang lebih baik pastinya.
Hari ini merupakan hari pertama di tahun ajaran baru, lulus dari sekolah dasar Galih melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan sekarang Galih berada di tingkat dua. Anak - anak di desanya rata - rata tamatan sekolah dasar, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan sebagai petani atau peternak.
Galih berpikir itu cara paling cepat dalam berkarir dan mendapatkan uang, tapi ayahnya berpendapat lain. Dia menginginkan Galih dapat bersekolah lebih tinggi, sehingga Galih dapat dengan mudah berkarir di perkantoran dengan pendapatan yang lebih baik pastinya.
Tahun depan Galih lulus, kemana karirnya ke depan dia tidak tahu. Tapi Galih yang terbiasa menulis berpikir menjadi wartawan di kota besar bukan ide yang buruk.
Tidak berapa lama kemudian Galih sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam cokelat sekolahnya. Dia pun pergi ke meja makan, menarik kursinya dan mulai makan.
Galih memilih makan dalam diam sambil menikmati makananya, sedangkan ayahnya masih membaca koran.
Tiba - tiba ayahnya meletakan korannya sambil berkata "Hah! Sudah ku duga! Betul - betul licik mereka!".
Ayahnya menunjuk barisan headline pada koran yang bertuliskan Anjuran Pemerintah Untuk Mendaftarkan Ulang Kepemilikan Tanah Pasca Merdeka.
"Ini yang sudah aku perkirakan, jika kita mendaftarkan tanah kita maka harus ada pengukuran ulang!", ujar ayahnya.
"Tapi bukankah itu bagus", ibu Galih angkat bicara.
"Jika pengukuran dilakukan kembali maka seharusnya tanah - tanah yang diambil alih pada saat perang bisa dikembalikan kepada pemiliknya atau ke negara", tambah ibunya.
"Jika berpikir senaif itu ya itu yang akan terjadi, tapi jika melihat mulai munculnya para tuan tanah baru, bisa jadi ini menjadi alasan untuk mengambil alih beberapa lahan tanah rakyat!", pungkas ayahnya.
Galih tiba - tiba angkat bicara
"Tapi jika ada pengawasan ketat dari pemerintah, bukankah seharusnya lebih aman yah?", ucap Galih.
"Itu yang menjadi pertanyaannya bukan?".
Galih terdiam, ayahnya terkadang seperti orang yang tak tertarik dengan politik, tapi setiap pemikirannya terhadap kebijakan pemerintah selalu ada benarnya.
Sebenarnya banyak partai yang ingin menjadikan ayahnya sebagai kader, tapi kebanyakan ditolak oleh ayah. Kemarin ada sebuah partai bernama Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI menawarkan posisi yang bagus, tapi ayah menolaknya. Kata ayah jika dia bergabung ke sebuah partai maka yang dia perjuangkan adalah kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat atau petani.
Dulu ayah sempat menjadi simpatisan Partai Nasional Indonesia atau PNI, tapi ayahnya lebih memilih melanjutkan karir dalam organisasi petani Sangger itu. Galih banyak belajar politik dan kebijakan dari ayahnya, mungkin ini yang membuat ayahnya menginginkan Galih mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Selesai makan Galih meletakan piringnya di tempat pencucian di belakang rumahnya. Dia mengambil tasnya di kamar kemudian memakai sepatu pantofel kulit hitam yang sudah disemir malam sebelumnya. Setelah itu dia mendatangi ayah ibunya untuk memberikan salam sebelum pergi ke sekolah.
"Ayah ibu aku pergi dulu ke sekolah", ucap Galih sembari mencium tangan ayah ibunya.
"Iya nak, hati - hati dijalan, jaga pergaulan jangan sampai kamu terjerumus", ayah Galih memperingatkan.
"Sudahlah yah, anak kita sudah besar, kita harus lebih percaya dengannya", bela ibu Galih.
Ayah Galih hanya mengangguk pelan. Begitulah ayahnya, disiplin dan keras, sampai - sampai Galih tidak paham bagaimana ayahnya menyampaikan rasa sayang.
Galih kemudian membuka pintu, dan berjalan menyusuri jalanan desa menuju sekolahnya.
Spoiler for Chapter 2 - Yudi Brata:
Yudi Brata sedang menyiapkan berkas yang akan dibawa dalam tasnya, jam di dinding menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
"Semoga tidak terlambat", batin Yudi.
Dia kemudian mengunci tasnya dan bercermin melihat kerapihan bajunya, merasa sudah rapi Yudi kemudian melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang berada di pusat kota Jakarta.
Yudi Brata adalah seorang pegawai kementerian luar negeri, akademisi lulusan dari Universitas Leiden di Belanda membuatnya cukup mudah untuk berkarir di instansi negara. Selain itu dia merupakan anak kepala desa Sangger, sehingga memudahkan dia mendapatkan relasi dari ayahnya.
Yudi berjalan dari Jalan Delima menuju kantor Kementerian Luar Negeri di daerah Pejambon Jakarta Pusat. Hanya berjarak sekitar 150 meter membuat Yudi memilih berjalan kaki ke kantornya, apa lagi tinggal di ibu kota dengan biaya tinggi mengharuskan Yudi harus berhemat, termasuk biaya transportasi.
Dia memasuki Gerbang yang dijaga oleh tiga orang tentara dengan seragam hijau dan masih desain lama era KNIL, Yudi kemudian menunjukan kartu pegawai kementeriannya dan salah seorang tentara melakukan cek dalam tasnya. Kegiatan yang biasa terjadi jika bekerja di area pemerintahan, apa lagi ketika kita harus memasuki istana negara, penjagaan akan jauh lebih ketat.
Yudi kemudian diperbolehkan untuk masuk, dia berjalan menaiki tangga di area teras gedung dan masuk ke lobby utama. Dia kemudian menaiki tangga gedung hingga ke lantai 3, ada sebuah ruangan dengan tulisan Dinas Intelijen Kemenlu. Ruangan kantor Yudi berada disebelah kantor Kepala dinas Intelijen Kemenlu yaitu Kapten Jonathan Laisina, seorang mantan agen intelijen militer era perang kemerdekaan.
Ketika para pasukan Republik berhasil merebut pangkalan angkatan laut Belanda di Surabaya, itu berkat jasa pengintaian dan sabotase Kapten Jonathan. 80% kekuatan angkatan laut Belanda berada di Surabaya dan akhirnya semua dapat diambil alih oleh pasukan Indonesia. Yudi sangat senang dan merasa terhormat bisa menjadi petugas intelijen andalan bagi Kapten Jonathan.
Hari ini Kapten Jonathan mengadakan rapat bagi diplomat khusus dan agen intelijen, salah seorang diplomat Indonesia yang bertugas di Indocina akan memaparkan hasil temuannya selama bertugas disana. Ada isu Jepang yang dipimpin oleh militerisme mereka sudah mulai bergerak di Asia, dan tentu saja menjadi tanda bahaya bagi negara - negara di Asia termasuk Indonesia yang baru merdeka tapi memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Yudi melihat rekannya Gama Manurung sedang mengetik sebuah surat di meja kerjanya.
"Laporan mingguan?", tanya Yudi
Gama yang sedang mengetik tiba - tiba menghentikan ketikannya dengan terkejut menoleh ke arah Yudi.
"Bisa tidak kau jangan mengagetkan seperti itu?!, hampir salah ketik ini aku buat!", protes Gama dengan aksen khas Bataknya.
Yudi nyengir melihat Gama yang terkejut karena ulahnya.
"Hahaha sabar sabar bung, lagian kau serius sekali, laporan mingguan kenapa sudah kau kerjakan sekarang?", tanya Yudi.
"Ini bukan laporan mingguan, ini hasil catatanku setelah pesta ulang tahun Raja Charles IV di kedubes Inggris kemarin", Gama menjelaskan.
"Apa yang kau dapat?".
"Tak banyak, tapi pihak Inggris agak was - was dengan pengaruh Jepang di Manchuria".
"Yah semua masih penasaran mau melangkah kemana Jepang saat ini".
"Tapi kemarin ku lihat menteri luar negeri kita berbicara cukup lama dengan duta besar Jepang di pesta itu", kata Gama
"Mungkin pembicaraan tentang masalah perdagangan, akhir - akhir ini produk Jepang mulai ramai masuk ke Indonesia", jelas Yudi.
Gama menoleh dan tersenyum sarkas, " justru isu yang aku dengar Jepang menawarkan kerja sama militer dengan kita".
Yudi sangat terkejut.
"Apa?!, tidak mungkin Jepang mengajukan hal semacam itu!". Yudi pun melanjutkan "Indonesia baru merdeka, dengan alasan apa mereka mau bekerja sama dengan kita?".
Bunyi ting berbunyi dari mesin tik dan Gama menarik kertas laporannya.
"Banyak hal Yud, kau lihat Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah, terutama minyak bumi. Kita punya daya tawar yang lebih Yud, cuman kita harus pilih - pilih sekutu jangan pula sekutu kita nanti ada pertemanan dengan Belanda", jelas Gama panjang lebar.
Pintu ruangan terbuka dan Kapten Thomas masuk diikuti ajudannya, dia melihat ke arah Gama dan Yudi.
"Rapat nanti akan dimulai jam 10 pagi, saya harap kalian juga menyiapkan laporan mingguan, terutama kamu Gama", Kapten Thomas menunjuk Gama. "Saya ingin tahu apa yang kamu dapat di kedubes Inggris kemarin".
"Siap pak!", seru Gama.
Yudi pergi ke tempat duduknya, dan membuka tas kerjanya. Ini diluar dugaan pikir Yudi, jika suatu negara menawarkan kerja sama militer maka itu adalah satu langkah menuju terbentuknya suatu persekutuan. Apa yang Jepang lihat dari Indonesia sebuah negara yang baru, lagipula ini baru isu, belum tentu itu benar.
Yudi tahu Jepang sedang tidak akur dengan negara - negara barat, apa lagi militerisme mereka membuat negara - negara Eropa teringat dengan Kekaisaran Jerman. Sehingga mereka merasa wilayah kolonial yang ada di Asia Pasifik terancam dari Jepang.
Di Liga Bangsa - Bangsa beberapa kali negara - negara barat menuduh Jepang menyerobot wilayah perbatasan Republik Cina, tapi bukti - bukti yang ada tidak kuat. Satu - satunya kekuatan Eropa yang tidak ikut campur ketegangan dengan Jepang adalah Jerman dan Spanyol, tentu saja jika dilihat dari kondisi kedua negara itu memang diam adalah sebuah alasan yang bagus untuk menunjukan kita negara baik.
Jerman setelah kekalahan di perang dunia pertama seperti kehilangan taringnya, mereka jauh lebih pasif saat ini, mungkin karena rasa malu akan kekalahan sekaligus dikte dari negara - negara pemenang perang. Sedangkan Spanyol, yah konflik republik dengan kaum nasionalis pimpinan Jenderal Franco tentu membuat negara itu lebih sibuk mengurus diri sendiri.
Tapi persekutuan Jepang dan Indonesia ini adalah permainan politik yang susah ditebak, tapi Yudi yakin secara militer ini akan menambah kekuatan Indonesia. Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, tentu saja Indonesia masih belum aman, tapi setidaknya mereka tidak akan macam - macam dengan kami.
Yudi kemudian melihat buku catatan kalendernya, dia melihat apakah ada jadwal pertemuan di kedubes Jepang, dia perlu tahu lebih banyak tentang ini.
Jarinya menelusuri setiap tanggal dan dia melihat, ternyata ada acara di kedubes Jepang pada tanggal 9 Juli yaitu pelantikan atase militer baru Jepang untuk Indonesia.
Yudi tersenyum kemudian menutup buku catatan kalendernya.
"Semoga tidak terlambat", batin Yudi.
Dia kemudian mengunci tasnya dan bercermin melihat kerapihan bajunya, merasa sudah rapi Yudi kemudian melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang berada di pusat kota Jakarta.
Yudi Brata adalah seorang pegawai kementerian luar negeri, akademisi lulusan dari Universitas Leiden di Belanda membuatnya cukup mudah untuk berkarir di instansi negara. Selain itu dia merupakan anak kepala desa Sangger, sehingga memudahkan dia mendapatkan relasi dari ayahnya.
Yudi berjalan dari Jalan Delima menuju kantor Kementerian Luar Negeri di daerah Pejambon Jakarta Pusat. Hanya berjarak sekitar 150 meter membuat Yudi memilih berjalan kaki ke kantornya, apa lagi tinggal di ibu kota dengan biaya tinggi mengharuskan Yudi harus berhemat, termasuk biaya transportasi.
Dia memasuki Gerbang yang dijaga oleh tiga orang tentara dengan seragam hijau dan masih desain lama era KNIL, Yudi kemudian menunjukan kartu pegawai kementeriannya dan salah seorang tentara melakukan cek dalam tasnya. Kegiatan yang biasa terjadi jika bekerja di area pemerintahan, apa lagi ketika kita harus memasuki istana negara, penjagaan akan jauh lebih ketat.
Yudi kemudian diperbolehkan untuk masuk, dia berjalan menaiki tangga di area teras gedung dan masuk ke lobby utama. Dia kemudian menaiki tangga gedung hingga ke lantai 3, ada sebuah ruangan dengan tulisan Dinas Intelijen Kemenlu. Ruangan kantor Yudi berada disebelah kantor Kepala dinas Intelijen Kemenlu yaitu Kapten Jonathan Laisina, seorang mantan agen intelijen militer era perang kemerdekaan.
Ketika para pasukan Republik berhasil merebut pangkalan angkatan laut Belanda di Surabaya, itu berkat jasa pengintaian dan sabotase Kapten Jonathan. 80% kekuatan angkatan laut Belanda berada di Surabaya dan akhirnya semua dapat diambil alih oleh pasukan Indonesia. Yudi sangat senang dan merasa terhormat bisa menjadi petugas intelijen andalan bagi Kapten Jonathan.
Hari ini Kapten Jonathan mengadakan rapat bagi diplomat khusus dan agen intelijen, salah seorang diplomat Indonesia yang bertugas di Indocina akan memaparkan hasil temuannya selama bertugas disana. Ada isu Jepang yang dipimpin oleh militerisme mereka sudah mulai bergerak di Asia, dan tentu saja menjadi tanda bahaya bagi negara - negara di Asia termasuk Indonesia yang baru merdeka tapi memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Yudi melihat rekannya Gama Manurung sedang mengetik sebuah surat di meja kerjanya.
"Laporan mingguan?", tanya Yudi
Gama yang sedang mengetik tiba - tiba menghentikan ketikannya dengan terkejut menoleh ke arah Yudi.
"Bisa tidak kau jangan mengagetkan seperti itu?!, hampir salah ketik ini aku buat!", protes Gama dengan aksen khas Bataknya.
Yudi nyengir melihat Gama yang terkejut karena ulahnya.
"Hahaha sabar sabar bung, lagian kau serius sekali, laporan mingguan kenapa sudah kau kerjakan sekarang?", tanya Yudi.
"Ini bukan laporan mingguan, ini hasil catatanku setelah pesta ulang tahun Raja Charles IV di kedubes Inggris kemarin", Gama menjelaskan.
"Apa yang kau dapat?".
"Tak banyak, tapi pihak Inggris agak was - was dengan pengaruh Jepang di Manchuria".
"Yah semua masih penasaran mau melangkah kemana Jepang saat ini".
"Tapi kemarin ku lihat menteri luar negeri kita berbicara cukup lama dengan duta besar Jepang di pesta itu", kata Gama
"Mungkin pembicaraan tentang masalah perdagangan, akhir - akhir ini produk Jepang mulai ramai masuk ke Indonesia", jelas Yudi.
Gama menoleh dan tersenyum sarkas, " justru isu yang aku dengar Jepang menawarkan kerja sama militer dengan kita".
Yudi sangat terkejut.
"Apa?!, tidak mungkin Jepang mengajukan hal semacam itu!". Yudi pun melanjutkan "Indonesia baru merdeka, dengan alasan apa mereka mau bekerja sama dengan kita?".
Bunyi ting berbunyi dari mesin tik dan Gama menarik kertas laporannya.
"Banyak hal Yud, kau lihat Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah, terutama minyak bumi. Kita punya daya tawar yang lebih Yud, cuman kita harus pilih - pilih sekutu jangan pula sekutu kita nanti ada pertemanan dengan Belanda", jelas Gama panjang lebar.
Pintu ruangan terbuka dan Kapten Thomas masuk diikuti ajudannya, dia melihat ke arah Gama dan Yudi.
"Rapat nanti akan dimulai jam 10 pagi, saya harap kalian juga menyiapkan laporan mingguan, terutama kamu Gama", Kapten Thomas menunjuk Gama. "Saya ingin tahu apa yang kamu dapat di kedubes Inggris kemarin".
"Siap pak!", seru Gama.
Yudi pergi ke tempat duduknya, dan membuka tas kerjanya. Ini diluar dugaan pikir Yudi, jika suatu negara menawarkan kerja sama militer maka itu adalah satu langkah menuju terbentuknya suatu persekutuan. Apa yang Jepang lihat dari Indonesia sebuah negara yang baru, lagipula ini baru isu, belum tentu itu benar.
Yudi tahu Jepang sedang tidak akur dengan negara - negara barat, apa lagi militerisme mereka membuat negara - negara Eropa teringat dengan Kekaisaran Jerman. Sehingga mereka merasa wilayah kolonial yang ada di Asia Pasifik terancam dari Jepang.
Di Liga Bangsa - Bangsa beberapa kali negara - negara barat menuduh Jepang menyerobot wilayah perbatasan Republik Cina, tapi bukti - bukti yang ada tidak kuat. Satu - satunya kekuatan Eropa yang tidak ikut campur ketegangan dengan Jepang adalah Jerman dan Spanyol, tentu saja jika dilihat dari kondisi kedua negara itu memang diam adalah sebuah alasan yang bagus untuk menunjukan kita negara baik.
Jerman setelah kekalahan di perang dunia pertama seperti kehilangan taringnya, mereka jauh lebih pasif saat ini, mungkin karena rasa malu akan kekalahan sekaligus dikte dari negara - negara pemenang perang. Sedangkan Spanyol, yah konflik republik dengan kaum nasionalis pimpinan Jenderal Franco tentu membuat negara itu lebih sibuk mengurus diri sendiri.
Tapi persekutuan Jepang dan Indonesia ini adalah permainan politik yang susah ditebak, tapi Yudi yakin secara militer ini akan menambah kekuatan Indonesia. Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, tentu saja Indonesia masih belum aman, tapi setidaknya mereka tidak akan macam - macam dengan kami.
Yudi kemudian melihat buku catatan kalendernya, dia melihat apakah ada jadwal pertemuan di kedubes Jepang, dia perlu tahu lebih banyak tentang ini.
Jarinya menelusuri setiap tanggal dan dia melihat, ternyata ada acara di kedubes Jepang pada tanggal 9 Juli yaitu pelantikan atase militer baru Jepang untuk Indonesia.
Yudi tersenyum kemudian menutup buku catatan kalendernya.
Diubah oleh Gojira1998 07-09-2024 11:57
aryatemangsa513 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
801
Kutip
11
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Gojira1998
#8
Spoiler for Chapter 4 - Makoto Hakaze:
Upacara militer pelantikan atase militer Jepang berjalan cukup sukses dan Makoto bangga akan hal itu. Apa lagi upacara ini disaksikan para perwakilan dari negara - negara barat yang selalu merongrong kedaulatan Jepang di Liga Bangsa - Bangsa, Makoto tahu mengapa pemerintahan Jepang mengadakan upacara pelantikan atase militer begitu elegan dan mewah, apalagi kalau bukan untuk menunjukan kepada dunia kerja sama Jepang dengan Indonesia.
Indonesia merupakan satu - satunya negara Asia Tenggara yang berhasil merebut kemerdekaan dari tangan kolonial barat, dan sebuah prestise jika Jepang mampu bekerja sama dengan Indonesia, dua negara yang mampu menghalau kekuatan barat di Asia.
Selain Indonesia ada juga Kerajaan Siam yang menjadi negara berdaulat, tapi sayangnya Siam lebih banyak melakukan kompromi terhadap Barat.
Makoto diam - diam bersyukur karena ditugaskan ke Indonesia, karena dengan begini maka dia memiliki tanggung jawab besar sebagai diplomat untuk membantu terjalinnya kerjasama persahabatan antara Kekaisaran Jepang dengan Republik Indonesia. Tentu saja bukan hal mudah menarik minat pemerintahan Indonesia, apa lagi ada satu halangan terbesar yaitu Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI. Mereka selalu merongrong pemerintahan sekarang terutama arah politik luar negeri Indonesia.
Baru - baru ini surat kabar Harian Rakyat yang merupakan koran yang dikelola PKI menulis di headline mereka dengan judul “Penjajahan Jilid Dua : Jepang Menanti”, dengan gaya tulisan yang konfrontasi dan terkesan menantang. Mereka mengkritik banyaknya produk - produk Jepang ke Indonesia, bagaimana mereka bisa memenuhi berbagai kebutuhan terhadap produk yang mereka tidak punya, bahkan pabriknya pun tidak ada.
Justru produk - produk Jepang memiliki peran penting untuk membantu perekonomian Indonesia, dari mulai traktor sawah, radio, peralatan mekanik, bahkan hingga transportasi seperti kereta dan mobil.
Makoto tidak habis pikir, di Jepang para komunis sudah dihabisi oleh Kempetai, polisi rahasia Kekaisaran Jepang. Tapi di Indonesia kaum komunis masih mendapat tempat, padahal mereka sudah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1926 dan dengan cepat dihabisi oleh pasukan KNIL.
Musso si pemimpin PKI memang pintar mengambil hati orang, dia mengatakan tahun 1926 adalah murni perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dilakukan PKI. Tapi sekarang Indonesia sudah merdeka maka perjuangan PKI adalah mempertahankan kemerdekaan dan berupaya mensejahterakan rakyat. Dengan menentang keras pemerintahan dan provokasi di kampung - kampung untuk mengambil tanah negara, Makoto tersenyum sinis melihat usaha mereka.
Ketika Makoto sedang menikmati minumannya tiba - tiba ada yang menepuk bahunya, dia pun menoleh dan melihat yang menepuk pundaknya tadi. Ternyata Fudo Kurosawa, salah satu diplomat yang tidak disukai Makoto karena sikapnya yang sombong dan sok tahu.
“Ada apa?”, tanya Makoto.
“Kau dari tadi hanya menemui para diplomat dan perwira militer”, kata Fudo.
“Tentu saja, berbagai informasi bisa saja bermunculan disini”, jelas Makoto.
Fudo tertawa sinis sambil menggeleng kepala.
“Kau selalu seperti itu, terlalu serius”. Fudo melanjutkan,”Banyak gadis - gadis cantik cantik disini, sayang sekali jika kau lewatkan”.
Fudo mengarahkan tangannya ke gadis - gadis Jepang yang memakai kimono.
“Mereka adalah putri - putri Kekaisaran Jepang yang terhormat, tidak pantas kau menganggap mereka seperti pramuria di Shanghai”, jawab Makoto dengan tegas.
Fudo kemudian berusaha menenangkan.
“Heeee, kau salah paham, aku tidak menganggap mereka seperti pramuria, justru aku menghormati mereka dengan tidak membiarkan mereka sendirian kawan”, jawab Fudo membela diri.
“Tapi wanita tetap wanita, mereka membutuhkan perhatian dan kehangatan dari seorang pria”, lanjut Fudo sambil memainkan jarinya di depan wajah Makoto.
Makoto menarik nafas pelan dan menghembuskan perlahan.
“Kau sudah dengar? Amerika dan Cina sedang gencar melakukan kerja sama perdagangan”, tanya Makoto.
Fudo membalikan matanya ke atas.
“Hmmmmhh lagi - lagi soal pekerjaan, kau betul - betul tak bisa bersantai”, keluh Fudo.
Fudo melanjutkan,“Yah aku sudah mendengar itu, tapi dari info intelijen yang aku dapat tidak usah terlalu khawatir, Cina hanya melakukan perdagangan untuk barang - barang dengan teknologi terbaru dan Amerika mendapatkan pasokan pangan dari Cina”.
“Ada rumor beredar dengan melakukan kerja sama perdagangan dengan Cina, Amerika ingin menancapkan pengaruhnya di Asia Pasifik”, Makoto menjelaskan.
“Oh itu sudah jelas kawan, mereka menguasai Pasifik dan Filipina, target selanjutnya adalah Cina, secara strategi ekonomi dan politik mereka melakukan langkah yang tepat”.
“Tapi ini menjadikan ancaman bagi kita, mereka bermain - main di teritori kita!”.
“Apa yang kau takutkan? Cina dan Filipina?”, tanya Fudo sinis.
Fudo melanjutkan,” Mereka masih terbelakang Makoto, bahkan dengan Indonesia yang baru merdeka 4 tahun saja mereka masih tertinggal 20 tahun, lagi pula Amerika masih sangat jauh dari teritori kita, pengaruh politiknya tidak akan sekuat kita”.
“Tapi jika kita membiarkan Cina semakin erat dengan Amerika, di kemudian hari akan menjadi ancaman bagi kita, bahkan Amerika salah satu negara barat yang selalu menuduh kita punya ambisi menguasai Asia Timur”, pungkas Makoto.
“Aku mendengar kemarin Perdana Menteri Tojo menyerahkan surat percepatan pembangunan infrastruktur militer wilayah terluar kepada Kaisar Hirohito”, kata Fudo sambil berbisik.
Makoto heran. “Untuk wilayah mana?”.
“Manchuria”.
Ekspresi Makoto berubah terkejut. Dengan tetap berusaha menahan nada suaranya dia berkata, “Tapi itu akan memancing reaksi Soviet, mereka tidak akan terima adanya kekuatan militer di dekat wilayah terlemah mereka”.
“Tepat, tapi duta besar kita di Kremlin sudah memastikan kepada Stalin bahwa apa yang dilakukan Jepang untuk mempertahankan diri apabila Cina mengadakan perjanjian aliansi kepada Amerika”, jawab Fudo.
“Apa respon Stalin?”, tanya Makoto cepat.
“Mereka setuju dengan kita, asal menjauhkan pengaruh Amerika dari wilayah mereka”
“Berarti sekarang tugas kita para diplomat untuk membangun persahabatan dengan Indonesia, untuk menahan pengaruh barat dari wilayah selatan”, tegas Makoto.
“Sayangnya kita masih tidak tahu bagaimana pandangan pemerintah Indonesia kepada kita”, jawab Fudo.
Mereka terdiam sejenak, kemudian Makoto melihat di deretan prasmanan adiknya Yui sedang berbicara dengan seseorang dari Indonesia. Orang itu adalah Yudi Brata dari Kementerian Luar Negeri Indonesia, mereka saling mengenal dan berteman baik. Makoto tiba - tiba penasaran ingin mengorek informasi dari koleganya ini.
“Hei aku pergi dulu, aku mau mencicipi takoyaki cumi - cumi dan berkenalan dengan salah satu gadis disana”, kata Makoto.
Fudo kemudian tertawa sumringah.
“Nah! Itulah yang ku maksud menikmati pesta kawan”, kata Fudo sambil bersemangat.
Makoto kemudian berjalan menghampiri Yui dan Yudi yang sedang bercengkerama.
“Sepertinya kalian sudah saling kenal”, ucap Makoto dengan menggunakan bahasa Inggris.
Mereka berdua kemudian secara bersamaan melihat Makoto yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Ya, adikmu tidak sengaja menyenggol lenganku tadi ketika kami sama - sama mengambil makanan”, kata Yudi. “Dia sangat baik dengan meminta maaf, tapi tidak masalah justru aku senang bisa mengobrol dengannya”.
“Ah sekali lagi aku minta maaf Yudi untuk apa yang dilakukan adikku”, ucap Makoto tulus.
“Oh tidak apa - apa Makoto, ini bukan hal yang serius. Percayalah aku tidak terluka”, kata Yudi.
“Kau akan terluka jika membuat Yui marah, dia cukup mengerikan ketika sedang naik pitam”
Mereka berdua pun tertawa.
“Kakak! Jangan membuatku malu, lagipula dia sudah memaafkan”, bisik Yui dengan pipi memerah tanda malu.
Yudi memandang Yui. “Kamu punya kakak yang baik dan humoris, percayalah ketika kami pendidikan, kakakmu adalah badut di asrama, dan asrama hanya akan sepi ketika dia sakit atau sedang pergi ke kota minum di klub dan kadang menemui beberapa wanita….”.
Makoto langsung terlihat gelisah
“Hoi! Hoi! Yudi jangan ceritakan bagian itu, semua hanya salah paham saja”, ucap Makoto terbata.
Yui dan Yudi tertawa.
“Tenanglah kak Makoto, aku tahu semua wanita yang kudekati sejak sebelum kau berangkat ke luar negeri”, kata Yui sambil tersenyum.
“Tapi jujur aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi disini Makoto, aku pikir kau akan ditugaskan ke Jerman”, kata Yudi.
“Justru aku bersyukur kita bisa bertemu disini, setidaknya kita semakin dapat saling bekerja sama untuk kedua negara kita”, jawab Makoto.
“Aku yakin kalian akan memberikan kontribusi yang besar bagi masing - masing negara, setidaknya untuk saat ini”, Yui menimpali.
“Betul untuk saat ini”, jawab Yudi singkat. “Negara kami masih sangat baru sehingga jalinan kerja sama dengan negara - negara lain akan sangat penting bagi kami”.
Yudi pun melanjutkan.”Tapi yang menjadi pertanyaan, siapakah yang bisa kami percaya? Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, keadaan kami belum sepenuhnya aman”.
“Aku dengar tahun depan mereka sudah seharusnya angkat kaki dari sana, apakah mereka sudah menunjukan tanda - tanda akan meninggalkan Papua?”, tanya Makoto.
Yudi menggeleng dengan gusar.
“Tidak ada, bahkan surat dari presiden kami yang mengingatkan pihak mereka untuk mempersiapkan diri meninggalkan Papua sama sekali tidak ditanggapi”, ucap Yudi dengan getir, jelas terlihat ada emosi yang tertahan dari Yudi.
Makoto terkejut mendengar berita itu.
“Itu sama saja sudah melakukan penghinaan kepada Indonesia!, bagaimana tanggapan pemerintahmu?”, tanya Makoto.
“Semua sepakat akan memberikan peringatan keras kepada Belanda apabila Desember nanti tidak ada tanda - tanda mereka akan pergi fari sana”, ucap Yudi dengan tegas, tiba - tiba ekspresinya berubah. “Semua sepakat kecuali PKI, mereka menolak rencana apabila Indonesia harus mengerahkan kekuatan militer untuk mengusir Belanda dari sana”.
“Aku mendengar PKI bahkan menyebut kami akan menjajah Indonesia kedepannya, aku membaca itu di harian rakyat, itu koran kaum mereka bukan?”, tanya Yui.
Yudi mengangguk pelan.
“Aku meminta maaf jika kalian harus membaca koran ngawur itu, tapi percayalah sejauh ini pejabat pemerintahan kami melihat kalian adalah mitra penting bagi ekonomi dan politik kami”
Sebuah jawaban yang cukup memuaskan Makoto.
Tiba - tiba Yudi berkata kepada Makoto,” Hei apakah kalian mendapatkan undangan makan malam di kedubes Jerman? Aku dengar Walther Hewel diplomat senior mereka akan memaparkan program pemerintahan baru mereka”.
“Ya kami juga mendapatkan undangan dari mereka, sepertinya untuk 3 tahun ke depan Eropa akan berfokus pada Jerman dan Adolf Hitler”, jawab Makoto.
“Seorang pemimpin karismatik di tengah lesunya kekuatan politik Jerman, aku penasaran apakah kedatangan Mayjen Koku Seiji ke Indonesia juga ada kaitannya dengan makan malam di kedubes Jerman nanti”, kata Yui dengan penasaran tapi bersemangat.
Tiba - tiba mata Yui berbinar mendapatkan sebuah ide.
“Kak aku tahu siapa yang ingin ku wawancara, aku ingin wawancara eksklusif dengan Mayjen Seiji!”, ucap Yui dengan semangat.
Makoto terperangah.
“Itu tidak mungkin! Dia orang sangat penting dan memiliki akses langsung ke Tokyo, akan sulit meminta untuk wawancara dengan dia”, jelas Makoto.
“Kecuali wawancara singkat di pesta ini, mungkin 15 menit dia menghilang orang - orang tidak akan menyadarinya”, timpal Yudi.
Makoto berpikir sejenak.
“Baiklah akan ku coba”, jawab Makoto.
Yui pun tersenyum.
Indonesia merupakan satu - satunya negara Asia Tenggara yang berhasil merebut kemerdekaan dari tangan kolonial barat, dan sebuah prestise jika Jepang mampu bekerja sama dengan Indonesia, dua negara yang mampu menghalau kekuatan barat di Asia.
Selain Indonesia ada juga Kerajaan Siam yang menjadi negara berdaulat, tapi sayangnya Siam lebih banyak melakukan kompromi terhadap Barat.
Makoto diam - diam bersyukur karena ditugaskan ke Indonesia, karena dengan begini maka dia memiliki tanggung jawab besar sebagai diplomat untuk membantu terjalinnya kerjasama persahabatan antara Kekaisaran Jepang dengan Republik Indonesia. Tentu saja bukan hal mudah menarik minat pemerintahan Indonesia, apa lagi ada satu halangan terbesar yaitu Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI. Mereka selalu merongrong pemerintahan sekarang terutama arah politik luar negeri Indonesia.
Baru - baru ini surat kabar Harian Rakyat yang merupakan koran yang dikelola PKI menulis di headline mereka dengan judul “Penjajahan Jilid Dua : Jepang Menanti”, dengan gaya tulisan yang konfrontasi dan terkesan menantang. Mereka mengkritik banyaknya produk - produk Jepang ke Indonesia, bagaimana mereka bisa memenuhi berbagai kebutuhan terhadap produk yang mereka tidak punya, bahkan pabriknya pun tidak ada.
Justru produk - produk Jepang memiliki peran penting untuk membantu perekonomian Indonesia, dari mulai traktor sawah, radio, peralatan mekanik, bahkan hingga transportasi seperti kereta dan mobil.
Makoto tidak habis pikir, di Jepang para komunis sudah dihabisi oleh Kempetai, polisi rahasia Kekaisaran Jepang. Tapi di Indonesia kaum komunis masih mendapat tempat, padahal mereka sudah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1926 dan dengan cepat dihabisi oleh pasukan KNIL.
Musso si pemimpin PKI memang pintar mengambil hati orang, dia mengatakan tahun 1926 adalah murni perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dilakukan PKI. Tapi sekarang Indonesia sudah merdeka maka perjuangan PKI adalah mempertahankan kemerdekaan dan berupaya mensejahterakan rakyat. Dengan menentang keras pemerintahan dan provokasi di kampung - kampung untuk mengambil tanah negara, Makoto tersenyum sinis melihat usaha mereka.
Ketika Makoto sedang menikmati minumannya tiba - tiba ada yang menepuk bahunya, dia pun menoleh dan melihat yang menepuk pundaknya tadi. Ternyata Fudo Kurosawa, salah satu diplomat yang tidak disukai Makoto karena sikapnya yang sombong dan sok tahu.
“Ada apa?”, tanya Makoto.
“Kau dari tadi hanya menemui para diplomat dan perwira militer”, kata Fudo.
“Tentu saja, berbagai informasi bisa saja bermunculan disini”, jelas Makoto.
Fudo tertawa sinis sambil menggeleng kepala.
“Kau selalu seperti itu, terlalu serius”. Fudo melanjutkan,”Banyak gadis - gadis cantik cantik disini, sayang sekali jika kau lewatkan”.
Fudo mengarahkan tangannya ke gadis - gadis Jepang yang memakai kimono.
“Mereka adalah putri - putri Kekaisaran Jepang yang terhormat, tidak pantas kau menganggap mereka seperti pramuria di Shanghai”, jawab Makoto dengan tegas.
Fudo kemudian berusaha menenangkan.
“Heeee, kau salah paham, aku tidak menganggap mereka seperti pramuria, justru aku menghormati mereka dengan tidak membiarkan mereka sendirian kawan”, jawab Fudo membela diri.
“Tapi wanita tetap wanita, mereka membutuhkan perhatian dan kehangatan dari seorang pria”, lanjut Fudo sambil memainkan jarinya di depan wajah Makoto.
Makoto menarik nafas pelan dan menghembuskan perlahan.
“Kau sudah dengar? Amerika dan Cina sedang gencar melakukan kerja sama perdagangan”, tanya Makoto.
Fudo membalikan matanya ke atas.
“Hmmmmhh lagi - lagi soal pekerjaan, kau betul - betul tak bisa bersantai”, keluh Fudo.
Fudo melanjutkan,“Yah aku sudah mendengar itu, tapi dari info intelijen yang aku dapat tidak usah terlalu khawatir, Cina hanya melakukan perdagangan untuk barang - barang dengan teknologi terbaru dan Amerika mendapatkan pasokan pangan dari Cina”.
“Ada rumor beredar dengan melakukan kerja sama perdagangan dengan Cina, Amerika ingin menancapkan pengaruhnya di Asia Pasifik”, Makoto menjelaskan.
“Oh itu sudah jelas kawan, mereka menguasai Pasifik dan Filipina, target selanjutnya adalah Cina, secara strategi ekonomi dan politik mereka melakukan langkah yang tepat”.
“Tapi ini menjadikan ancaman bagi kita, mereka bermain - main di teritori kita!”.
“Apa yang kau takutkan? Cina dan Filipina?”, tanya Fudo sinis.
Fudo melanjutkan,” Mereka masih terbelakang Makoto, bahkan dengan Indonesia yang baru merdeka 4 tahun saja mereka masih tertinggal 20 tahun, lagi pula Amerika masih sangat jauh dari teritori kita, pengaruh politiknya tidak akan sekuat kita”.
“Tapi jika kita membiarkan Cina semakin erat dengan Amerika, di kemudian hari akan menjadi ancaman bagi kita, bahkan Amerika salah satu negara barat yang selalu menuduh kita punya ambisi menguasai Asia Timur”, pungkas Makoto.
“Aku mendengar kemarin Perdana Menteri Tojo menyerahkan surat percepatan pembangunan infrastruktur militer wilayah terluar kepada Kaisar Hirohito”, kata Fudo sambil berbisik.
Makoto heran. “Untuk wilayah mana?”.
“Manchuria”.
Ekspresi Makoto berubah terkejut. Dengan tetap berusaha menahan nada suaranya dia berkata, “Tapi itu akan memancing reaksi Soviet, mereka tidak akan terima adanya kekuatan militer di dekat wilayah terlemah mereka”.
“Tepat, tapi duta besar kita di Kremlin sudah memastikan kepada Stalin bahwa apa yang dilakukan Jepang untuk mempertahankan diri apabila Cina mengadakan perjanjian aliansi kepada Amerika”, jawab Fudo.
“Apa respon Stalin?”, tanya Makoto cepat.
“Mereka setuju dengan kita, asal menjauhkan pengaruh Amerika dari wilayah mereka”
“Berarti sekarang tugas kita para diplomat untuk membangun persahabatan dengan Indonesia, untuk menahan pengaruh barat dari wilayah selatan”, tegas Makoto.
“Sayangnya kita masih tidak tahu bagaimana pandangan pemerintah Indonesia kepada kita”, jawab Fudo.
Mereka terdiam sejenak, kemudian Makoto melihat di deretan prasmanan adiknya Yui sedang berbicara dengan seseorang dari Indonesia. Orang itu adalah Yudi Brata dari Kementerian Luar Negeri Indonesia, mereka saling mengenal dan berteman baik. Makoto tiba - tiba penasaran ingin mengorek informasi dari koleganya ini.
“Hei aku pergi dulu, aku mau mencicipi takoyaki cumi - cumi dan berkenalan dengan salah satu gadis disana”, kata Makoto.
Fudo kemudian tertawa sumringah.
“Nah! Itulah yang ku maksud menikmati pesta kawan”, kata Fudo sambil bersemangat.
Makoto kemudian berjalan menghampiri Yui dan Yudi yang sedang bercengkerama.
“Sepertinya kalian sudah saling kenal”, ucap Makoto dengan menggunakan bahasa Inggris.
Mereka berdua kemudian secara bersamaan melihat Makoto yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Ya, adikmu tidak sengaja menyenggol lenganku tadi ketika kami sama - sama mengambil makanan”, kata Yudi. “Dia sangat baik dengan meminta maaf, tapi tidak masalah justru aku senang bisa mengobrol dengannya”.
“Ah sekali lagi aku minta maaf Yudi untuk apa yang dilakukan adikku”, ucap Makoto tulus.
“Oh tidak apa - apa Makoto, ini bukan hal yang serius. Percayalah aku tidak terluka”, kata Yudi.
“Kau akan terluka jika membuat Yui marah, dia cukup mengerikan ketika sedang naik pitam”
Mereka berdua pun tertawa.
“Kakak! Jangan membuatku malu, lagipula dia sudah memaafkan”, bisik Yui dengan pipi memerah tanda malu.
Yudi memandang Yui. “Kamu punya kakak yang baik dan humoris, percayalah ketika kami pendidikan, kakakmu adalah badut di asrama, dan asrama hanya akan sepi ketika dia sakit atau sedang pergi ke kota minum di klub dan kadang menemui beberapa wanita….”.
Makoto langsung terlihat gelisah
“Hoi! Hoi! Yudi jangan ceritakan bagian itu, semua hanya salah paham saja”, ucap Makoto terbata.
Yui dan Yudi tertawa.
“Tenanglah kak Makoto, aku tahu semua wanita yang kudekati sejak sebelum kau berangkat ke luar negeri”, kata Yui sambil tersenyum.
“Tapi jujur aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi disini Makoto, aku pikir kau akan ditugaskan ke Jerman”, kata Yudi.
“Justru aku bersyukur kita bisa bertemu disini, setidaknya kita semakin dapat saling bekerja sama untuk kedua negara kita”, jawab Makoto.
“Aku yakin kalian akan memberikan kontribusi yang besar bagi masing - masing negara, setidaknya untuk saat ini”, Yui menimpali.
“Betul untuk saat ini”, jawab Yudi singkat. “Negara kami masih sangat baru sehingga jalinan kerja sama dengan negara - negara lain akan sangat penting bagi kami”.
Yudi pun melanjutkan.”Tapi yang menjadi pertanyaan, siapakah yang bisa kami percaya? Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, keadaan kami belum sepenuhnya aman”.
“Aku dengar tahun depan mereka sudah seharusnya angkat kaki dari sana, apakah mereka sudah menunjukan tanda - tanda akan meninggalkan Papua?”, tanya Makoto.
Yudi menggeleng dengan gusar.
“Tidak ada, bahkan surat dari presiden kami yang mengingatkan pihak mereka untuk mempersiapkan diri meninggalkan Papua sama sekali tidak ditanggapi”, ucap Yudi dengan getir, jelas terlihat ada emosi yang tertahan dari Yudi.
Makoto terkejut mendengar berita itu.
“Itu sama saja sudah melakukan penghinaan kepada Indonesia!, bagaimana tanggapan pemerintahmu?”, tanya Makoto.
“Semua sepakat akan memberikan peringatan keras kepada Belanda apabila Desember nanti tidak ada tanda - tanda mereka akan pergi fari sana”, ucap Yudi dengan tegas, tiba - tiba ekspresinya berubah. “Semua sepakat kecuali PKI, mereka menolak rencana apabila Indonesia harus mengerahkan kekuatan militer untuk mengusir Belanda dari sana”.
“Aku mendengar PKI bahkan menyebut kami akan menjajah Indonesia kedepannya, aku membaca itu di harian rakyat, itu koran kaum mereka bukan?”, tanya Yui.
Yudi mengangguk pelan.
“Aku meminta maaf jika kalian harus membaca koran ngawur itu, tapi percayalah sejauh ini pejabat pemerintahan kami melihat kalian adalah mitra penting bagi ekonomi dan politik kami”
Sebuah jawaban yang cukup memuaskan Makoto.
Tiba - tiba Yudi berkata kepada Makoto,” Hei apakah kalian mendapatkan undangan makan malam di kedubes Jerman? Aku dengar Walther Hewel diplomat senior mereka akan memaparkan program pemerintahan baru mereka”.
“Ya kami juga mendapatkan undangan dari mereka, sepertinya untuk 3 tahun ke depan Eropa akan berfokus pada Jerman dan Adolf Hitler”, jawab Makoto.
“Seorang pemimpin karismatik di tengah lesunya kekuatan politik Jerman, aku penasaran apakah kedatangan Mayjen Koku Seiji ke Indonesia juga ada kaitannya dengan makan malam di kedubes Jerman nanti”, kata Yui dengan penasaran tapi bersemangat.
Tiba - tiba mata Yui berbinar mendapatkan sebuah ide.
“Kak aku tahu siapa yang ingin ku wawancara, aku ingin wawancara eksklusif dengan Mayjen Seiji!”, ucap Yui dengan semangat.
Makoto terperangah.
“Itu tidak mungkin! Dia orang sangat penting dan memiliki akses langsung ke Tokyo, akan sulit meminta untuk wawancara dengan dia”, jelas Makoto.
“Kecuali wawancara singkat di pesta ini, mungkin 15 menit dia menghilang orang - orang tidak akan menyadarinya”, timpal Yudi.
Makoto berpikir sejenak.
“Baiklah akan ku coba”, jawab Makoto.
Yui pun tersenyum.
Diubah oleh Gojira1998 05-09-2024 11:21
gokil4ever dan rinandya memberi reputasi
2
Kutip
Balas