- Beranda
- Stories from the Heart
Bangkitnya Penjaga Dari Timur
...
TS
Gojira1998
Bangkitnya Penjaga Dari Timur
Halo halo agan dan aganwati, mohon ijin sebelumnya ane mau sharing sebuah cerita Sejarah Alternatif (What If....). Beberapa nama tokoh sejarah akan ada dalam story ini tapi jalan ceritanya sudah pasti fiksi, ya namanya juga Sejarah Alternatif. Jadi gak usah berlama - lama semoga kalian terhibur semua! Cekidot! 
================================================================================

Ayah Galih menatapnya dan sedikit mengangkat alisnya.
"Sudah bangun kau tuan muda?," ucap ayahnya, ada sedikit sarkas di nada bicaranya.
Galih hanya mengangguk pelan dengan wajah masih mengantuk.
"Mandilah dan langsung sarapan, kau tentu tak mau terlambat di hari pertamamu sekolah", kata ayahnya.
Ibunya mendatangi Galih dan melap muka berminyak anaknya yang mulai beranjak remaja itu.
Galih terlihat tidak nyaman dan berusaha menghindari usapan lap dari tangan ibunya.
"Bu, aku mau mandi, tidak usah lap mukaku!", protes Galih.
"Mukamu berminyak dan kamu sering cuci muka tidak memakai sabun", ibunya menjelaskan.
"Jadi dari pada gurumu mengomel karena dianggap kau belum mandi, lebih baik kamu diam biar ibu yang lap" tambah ibunya sambil menunjukan lap di tangannya.
Tahun depan Galih lulus, kemana karirnya ke depan dia tidak tahu. Tapi Galih yang terbiasa menulis berpikir menjadi wartawan di kota besar bukan ide yang buruk.
Tidak berapa lama kemudian Galih sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam cokelat sekolahnya. Dia pun pergi ke meja makan, menarik kursinya dan mulai makan.
Tiba - tiba ayahnya meletakan korannya sambil berkata "Hah! Sudah ku duga! Betul - betul licik mereka!".
"Ini yang sudah aku perkirakan, jika kita mendaftarkan tanah kita maka harus ada pengukuran ulang!", ujar ayahnya.
"Tapi bukankah itu bagus", ibu Galih angkat bicara.
"Jika pengukuran dilakukan kembali maka seharusnya tanah - tanah yang diambil alih pada saat perang bisa dikembalikan kepada pemiliknya atau ke negara", tambah ibunya.
"Jika berpikir senaif itu ya itu yang akan terjadi, tapi jika melihat mulai munculnya para tuan tanah baru, bisa jadi ini menjadi alasan untuk mengambil alih beberapa lahan tanah rakyat!", pungkas ayahnya.
Galih tiba - tiba angkat bicara
"Tapi jika ada pengawasan ketat dari pemerintah, bukankah seharusnya lebih aman yah?", ucap Galih.
"Itu yang menjadi pertanyaannya bukan?".
Galih terdiam, ayahnya terkadang seperti orang yang tak tertarik dengan politik, tapi setiap pemikirannya terhadap kebijakan pemerintah selalu ada benarnya.
Sebenarnya banyak partai yang ingin menjadikan ayahnya sebagai kader, tapi kebanyakan ditolak oleh ayah. Kemarin ada sebuah partai bernama Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI menawarkan posisi yang bagus, tapi ayah menolaknya. Kata ayah jika dia bergabung ke sebuah partai maka yang dia perjuangkan adalah kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat atau petani.
Dulu ayah sempat menjadi simpatisan Partai Nasional Indonesia atau PNI, tapi ayahnya lebih memilih melanjutkan karir dalam organisasi petani Sangger itu. Galih banyak belajar politik dan kebijakan dari ayahnya, mungkin ini yang membuat ayahnya menginginkan Galih mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Selesai makan Galih meletakan piringnya di tempat pencucian di belakang rumahnya. Dia mengambil tasnya di kamar kemudian memakai sepatu pantofel kulit hitam yang sudah disemir malam sebelumnya. Setelah itu dia mendatangi ayah ibunya untuk memberikan salam sebelum pergi ke sekolah.
"Ayah ibu aku pergi dulu ke sekolah", ucap Galih sembari mencium tangan ayah ibunya.
"Iya nak, hati - hati dijalan, jaga pergaulan jangan sampai kamu terjerumus", ayah Galih memperingatkan.
"Sudahlah yah, anak kita sudah besar, kita harus lebih percaya dengannya", bela ibu Galih.
Ayah Galih hanya mengangguk pelan. Begitulah ayahnya, disiplin dan keras, sampai - sampai Galih tidak paham bagaimana ayahnya menyampaikan rasa sayang.
Galih kemudian membuka pintu, dan berjalan menyusuri jalanan desa menuju sekolahnya.

================================================================================
Bangkitnya Penjaga Dari Timur

Spoiler for Karakter:
A. Indonesia
1. Galih Hardi
2. Gunawan Hardi
3. Dena Hardi
4. Yudi Brata
5. Fina Brata
6. Brata Sudrajat
7. Susi Sudrajat
8. Gama Manurung
9. Joseph Manurung
10. Halsa Laisina
11. Kapten Jonathan Laisina
12. Menlu Harmoko Suwandi
13. Presiden Sapta Hasro
14. Wapres Arga Sasongko
B. Belanda
1. Fergus van Ronnen
2. Bella van Ronnen
3. Jenderal Hubbert van Ronnen
4. Julina van Ronnen
5. Frank Gustra
6. Kolonel Wilmer van Oosten
7. Valentina van Stroon
C. Jepang
1. Makoto Hakaze
2. Yui Hakaze
3. Mayor Jenderal Koku Seiji
4. Jenderal Ryouta Shougo
5. Fudo Kurosawa
D. Tokoh Dalam Sejarah
1. Walther Hewel
2. Frank Murphy
3. Archibald Wavell
1. Galih Hardi
2. Gunawan Hardi
3. Dena Hardi
4. Yudi Brata
5. Fina Brata
6. Brata Sudrajat
7. Susi Sudrajat
8. Gama Manurung
9. Joseph Manurung
10. Halsa Laisina
11. Kapten Jonathan Laisina
12. Menlu Harmoko Suwandi
13. Presiden Sapta Hasro
14. Wapres Arga Sasongko
B. Belanda
1. Fergus van Ronnen
2. Bella van Ronnen
3. Jenderal Hubbert van Ronnen
4. Julina van Ronnen
5. Frank Gustra
6. Kolonel Wilmer van Oosten
7. Valentina van Stroon
C. Jepang
1. Makoto Hakaze
2. Yui Hakaze
3. Mayor Jenderal Koku Seiji
4. Jenderal Ryouta Shougo
5. Fudo Kurosawa
D. Tokoh Dalam Sejarah
1. Walther Hewel
2. Frank Murphy
3. Archibald Wavell
Spoiler for INDEX:
Prolog
Chapter 1 - Galih Hardi
Chapter 2 - Yudi Brata
Chapter 3 - Yui Hakaze
Chapter 4 - Makoto Hakaze
Chapter 5 - Yui Hakaze
Chapter 1 - Galih Hardi
Chapter 2 - Yudi Brata
Chapter 3 - Yui Hakaze
Chapter 4 - Makoto Hakaze
Chapter 5 - Yui Hakaze
Spoiler for Prolog:
Selama lebih dari 3 abad Belanda menjajah Nusantara, perampasan hak dan sumber daya alam yang dihisap habis - habisan sangat tidak manusiawi dan membawa kesengsaraan bagi rakyat. Sudah banyak terjadi perlawanan di berbagai daerah tapi selalu berhasil dipatahkan oleh Belanda.
Pada 28 Oktober 1928, sebuah kongres pemuda diadakan, dan segenap perwakilan pemuda dan pelajar dari seluruh Nusantara menyerukan sebuah sumpah yang terkenal dan diberi nama Sumpah Pemuda Indonesia. Sumpah ini menjadi ikrar para kaum pemuda dan pelajar terbentuknya sebuah bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Semangat sumpah pemuda ini kemudian menyebar keseluruh Indonesia, dan membuat terjadinya beberapa perlawanan di berbagai daerah hingga pada akhirnya pada Maret 1929, Perang Kemerdekaan Indonesia dimulai.
Belanda yang terkejut dengan semangat dan daya juang pemuda Indonesia sangat kewalahan. Belanda memohon bantuan kepada kolonial sekitarnya seperti Inggris dan Perancis, tapi dua negara itu tidak mau membantu Belanda karena dukungannya kepada Jerman pada perang dunia pertama. Belanda akhirnya terusir sampai ke Papua, dan memohon gencatan senjata, pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Sapta meminta untuk Belanda untuk pergi maka gencatan senjata dilakukan.
Belanda memohon kembali gencatan senjata tapi kali ini dengan perjanjian mereka membutuhkan waktu untuk 5 tahun agar benar - benar siap memberikan Papua kepada Indonesia. Pemerintahan Indonesia menyetujui, dan setelah satu tahun berperang, pada 17 Agustus 1930 Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda.
Pada 28 Oktober 1928, sebuah kongres pemuda diadakan, dan segenap perwakilan pemuda dan pelajar dari seluruh Nusantara menyerukan sebuah sumpah yang terkenal dan diberi nama Sumpah Pemuda Indonesia. Sumpah ini menjadi ikrar para kaum pemuda dan pelajar terbentuknya sebuah bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia. Semangat sumpah pemuda ini kemudian menyebar keseluruh Indonesia, dan membuat terjadinya beberapa perlawanan di berbagai daerah hingga pada akhirnya pada Maret 1929, Perang Kemerdekaan Indonesia dimulai.
Belanda yang terkejut dengan semangat dan daya juang pemuda Indonesia sangat kewalahan. Belanda memohon bantuan kepada kolonial sekitarnya seperti Inggris dan Perancis, tapi dua negara itu tidak mau membantu Belanda karena dukungannya kepada Jerman pada perang dunia pertama. Belanda akhirnya terusir sampai ke Papua, dan memohon gencatan senjata, pemerintahan Indonesia yang dipimpin Presiden Sapta meminta untuk Belanda untuk pergi maka gencatan senjata dilakukan.
Belanda memohon kembali gencatan senjata tapi kali ini dengan perjanjian mereka membutuhkan waktu untuk 5 tahun agar benar - benar siap memberikan Papua kepada Indonesia. Pemerintahan Indonesia menyetujui, dan setelah satu tahun berperang, pada 17 Agustus 1930 Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda.
Spoiler for Chapter 1 - Galih Hardi :
Menjelang pagi tapi gelap masih menyelimuti kampung Sangger, sebuah kampung yang berada di sebelah timur Semarang. Seberkas cahaya mentari mulai muncul di ufuk timur, mulai menerangi secara pelan di kampung yang damai itu. Lampu - lampu jalan di kampung satu persatu mulai padam secara otomatis, dan beberapa rumah juga mulai mematikan lampu di depan rumah mereka. Galih terbangun dari tidurnya, matanya membuka dan mengerjap beberapa kali. Dia mengangkat kepalanya sedikit dan melihat ke arah jendela, terlihat seberkas cahaya matahari terlihat.
Galih menggeliat sedikit sambil menguap, kemudian beranjak bangun dan terduduk di tempat tidurnya. Terdengar suara dentingan piring dari luar kamar, tanda ibunya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Galih kemudian berjalan dengan perlahan menuju jendela, terdapat sebuah foto Galih di dinding semasa kecil dengan sang kakak berseragam KNIL yang sedang memanggul senjata jenis laras panjang Mauser 1895. Terdapat nama pada seragam sang kakak yang tertulis Bagas Hardi, dan lambang militer yang menandakan dia seorang Letnan Satu.
Galih membuka jendela kamarnya dan terlihat jalanan desa didepan rumahnya, mulai ada beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas pagi. Pengantar koran yang sedang menggowes sepedanya dengan tumpukan koran baru yang akan diantar ke pelanggan, ada juga beberapa petani yang sedang membawa hasil panennya ke atas truk. Beberapa orang yang sedang bertegur sapa di jalan, dan para beberapa wanita yang sedang memyapu halaman atau menjemur pakaian.
Setiap rumah di kampung itu memiliki halaman dan rumah mereka berjarak 3 - 5 meter dari jalan desa, listrik dan air ledeng sudah masuk ke desa itu sesuai rencana pecepatan pembangunan yang diusung pemerintah. Walaupun belum semua mendapatkan karena pemasangan dijadwalkan secara bergilir, minggu lalu area jalan masuk desa sudah mendapatkan pemasangan, maka minggu ini merupakan jatah deretan rumah Galih yang berada dekat dengan perempatan pusat kampung.
Galih menguap sekali kemudian berjalan keluar kamar, dia menyibak kain yang menutup jalur masuk kamarnya pengganti pintu.
Ibunya, Dena Hardi sedang menyiapkan sarapan di meja, sudah tersedia bakul nasi, piring kecil sambal, irisan telur dadar, tempe tahu goreng dan setoples kerupuk.
Ayahnya sedang membaca koran kemarin ditemani segelas kopi hitam, koran - koram selalu dicetak pada pagi hari, tapi jika kita membeli di sore hari maka harganya bisa setengah lebih murah dibanding harga jual di pagi hari.
Gunawan Hardi adalah ketua asosiasi petani rakyat desa Sangger, setiap permasalahan petani di desanya ayahnya pasti akan selalu dilibatkan apalagi jika harus berhadapan dengan tengkulak nakal yang mau membeli hasil pertanian dengan harga sangat murah.
Galih menggeliat sedikit sambil menguap, kemudian beranjak bangun dan terduduk di tempat tidurnya. Terdengar suara dentingan piring dari luar kamar, tanda ibunya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Galih kemudian berjalan dengan perlahan menuju jendela, terdapat sebuah foto Galih di dinding semasa kecil dengan sang kakak berseragam KNIL yang sedang memanggul senjata jenis laras panjang Mauser 1895. Terdapat nama pada seragam sang kakak yang tertulis Bagas Hardi, dan lambang militer yang menandakan dia seorang Letnan Satu.
Galih membuka jendela kamarnya dan terlihat jalanan desa didepan rumahnya, mulai ada beberapa orang yang sedang melakukan aktivitas pagi. Pengantar koran yang sedang menggowes sepedanya dengan tumpukan koran baru yang akan diantar ke pelanggan, ada juga beberapa petani yang sedang membawa hasil panennya ke atas truk. Beberapa orang yang sedang bertegur sapa di jalan, dan para beberapa wanita yang sedang memyapu halaman atau menjemur pakaian.
Setiap rumah di kampung itu memiliki halaman dan rumah mereka berjarak 3 - 5 meter dari jalan desa, listrik dan air ledeng sudah masuk ke desa itu sesuai rencana pecepatan pembangunan yang diusung pemerintah. Walaupun belum semua mendapatkan karena pemasangan dijadwalkan secara bergilir, minggu lalu area jalan masuk desa sudah mendapatkan pemasangan, maka minggu ini merupakan jatah deretan rumah Galih yang berada dekat dengan perempatan pusat kampung.
Galih menguap sekali kemudian berjalan keluar kamar, dia menyibak kain yang menutup jalur masuk kamarnya pengganti pintu.
Ibunya, Dena Hardi sedang menyiapkan sarapan di meja, sudah tersedia bakul nasi, piring kecil sambal, irisan telur dadar, tempe tahu goreng dan setoples kerupuk.
Ayahnya sedang membaca koran kemarin ditemani segelas kopi hitam, koran - koram selalu dicetak pada pagi hari, tapi jika kita membeli di sore hari maka harganya bisa setengah lebih murah dibanding harga jual di pagi hari.
Gunawan Hardi adalah ketua asosiasi petani rakyat desa Sangger, setiap permasalahan petani di desanya ayahnya pasti akan selalu dilibatkan apalagi jika harus berhadapan dengan tengkulak nakal yang mau membeli hasil pertanian dengan harga sangat murah.
Ayahnya berperawakan tinggi kurus dengan kumis tipis dan rambut agak berantakan, tatapan mata tajam yang menunjukan rasa tidak mudah percaya dengan orang - orang. Sedangkan ibu Galih seorang ibu rumah tangga yang memiliki badan berisi dengan lengan berotot dan rambut hitam ikal, sangat cekatan sekali jika melakukan pekerjaan rumah. Mereka adalah contoh keluarga petani sederhana yang menikmati setiap momen dalam hidupnya.
Ayah Galih menatapnya dan sedikit mengangkat alisnya.
"Sudah bangun kau tuan muda?," ucap ayahnya, ada sedikit sarkas di nada bicaranya.
Galih hanya mengangguk pelan dengan wajah masih mengantuk.
"Mandilah dan langsung sarapan, kau tentu tak mau terlambat di hari pertamamu sekolah", kata ayahnya.
Ibunya mendatangi Galih dan melap muka berminyak anaknya yang mulai beranjak remaja itu.
Galih terlihat tidak nyaman dan berusaha menghindari usapan lap dari tangan ibunya.
"Bu, aku mau mandi, tidak usah lap mukaku!", protes Galih.
"Mukamu berminyak dan kamu sering cuci muka tidak memakai sabun", ibunya menjelaskan.
"Jadi dari pada gurumu mengomel karena dianggap kau belum mandi, lebih baik kamu diam biar ibu yang lap" tambah ibunya sambil menunjukan lap di tangannya.
Galih kemudian buru - buru pergi ke kamar mandi, tidak lama terdengar guyuran air dari kamar mandi.
Hari ini merupakan hari pertama di tahun ajaran baru, lulus dari sekolah dasar Galih melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan sekarang Galih berada di tingkat dua. Anak - anak di desanya rata - rata tamatan sekolah dasar, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan sebagai petani atau peternak.
Galih berpikir itu cara paling cepat dalam berkarir dan mendapatkan uang, tapi ayahnya berpendapat lain. Dia menginginkan Galih dapat bersekolah lebih tinggi, sehingga Galih dapat dengan mudah berkarir di perkantoran dengan pendapatan yang lebih baik pastinya.
Hari ini merupakan hari pertama di tahun ajaran baru, lulus dari sekolah dasar Galih melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan sekarang Galih berada di tingkat dua. Anak - anak di desanya rata - rata tamatan sekolah dasar, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan sebagai petani atau peternak.
Galih berpikir itu cara paling cepat dalam berkarir dan mendapatkan uang, tapi ayahnya berpendapat lain. Dia menginginkan Galih dapat bersekolah lebih tinggi, sehingga Galih dapat dengan mudah berkarir di perkantoran dengan pendapatan yang lebih baik pastinya.
Tahun depan Galih lulus, kemana karirnya ke depan dia tidak tahu. Tapi Galih yang terbiasa menulis berpikir menjadi wartawan di kota besar bukan ide yang buruk.
Tidak berapa lama kemudian Galih sudah keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam cokelat sekolahnya. Dia pun pergi ke meja makan, menarik kursinya dan mulai makan.
Galih memilih makan dalam diam sambil menikmati makananya, sedangkan ayahnya masih membaca koran.
Tiba - tiba ayahnya meletakan korannya sambil berkata "Hah! Sudah ku duga! Betul - betul licik mereka!".
Ayahnya menunjuk barisan headline pada koran yang bertuliskan Anjuran Pemerintah Untuk Mendaftarkan Ulang Kepemilikan Tanah Pasca Merdeka.
"Ini yang sudah aku perkirakan, jika kita mendaftarkan tanah kita maka harus ada pengukuran ulang!", ujar ayahnya.
"Tapi bukankah itu bagus", ibu Galih angkat bicara.
"Jika pengukuran dilakukan kembali maka seharusnya tanah - tanah yang diambil alih pada saat perang bisa dikembalikan kepada pemiliknya atau ke negara", tambah ibunya.
"Jika berpikir senaif itu ya itu yang akan terjadi, tapi jika melihat mulai munculnya para tuan tanah baru, bisa jadi ini menjadi alasan untuk mengambil alih beberapa lahan tanah rakyat!", pungkas ayahnya.
Galih tiba - tiba angkat bicara
"Tapi jika ada pengawasan ketat dari pemerintah, bukankah seharusnya lebih aman yah?", ucap Galih.
"Itu yang menjadi pertanyaannya bukan?".
Galih terdiam, ayahnya terkadang seperti orang yang tak tertarik dengan politik, tapi setiap pemikirannya terhadap kebijakan pemerintah selalu ada benarnya.
Sebenarnya banyak partai yang ingin menjadikan ayahnya sebagai kader, tapi kebanyakan ditolak oleh ayah. Kemarin ada sebuah partai bernama Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI menawarkan posisi yang bagus, tapi ayah menolaknya. Kata ayah jika dia bergabung ke sebuah partai maka yang dia perjuangkan adalah kepentingan partai, bukan kepentingan rakyat atau petani.
Dulu ayah sempat menjadi simpatisan Partai Nasional Indonesia atau PNI, tapi ayahnya lebih memilih melanjutkan karir dalam organisasi petani Sangger itu. Galih banyak belajar politik dan kebijakan dari ayahnya, mungkin ini yang membuat ayahnya menginginkan Galih mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Selesai makan Galih meletakan piringnya di tempat pencucian di belakang rumahnya. Dia mengambil tasnya di kamar kemudian memakai sepatu pantofel kulit hitam yang sudah disemir malam sebelumnya. Setelah itu dia mendatangi ayah ibunya untuk memberikan salam sebelum pergi ke sekolah.
"Ayah ibu aku pergi dulu ke sekolah", ucap Galih sembari mencium tangan ayah ibunya.
"Iya nak, hati - hati dijalan, jaga pergaulan jangan sampai kamu terjerumus", ayah Galih memperingatkan.
"Sudahlah yah, anak kita sudah besar, kita harus lebih percaya dengannya", bela ibu Galih.
Ayah Galih hanya mengangguk pelan. Begitulah ayahnya, disiplin dan keras, sampai - sampai Galih tidak paham bagaimana ayahnya menyampaikan rasa sayang.
Galih kemudian membuka pintu, dan berjalan menyusuri jalanan desa menuju sekolahnya.
Spoiler for Chapter 2 - Yudi Brata:
Yudi Brata sedang menyiapkan berkas yang akan dibawa dalam tasnya, jam di dinding menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
"Semoga tidak terlambat", batin Yudi.
Dia kemudian mengunci tasnya dan bercermin melihat kerapihan bajunya, merasa sudah rapi Yudi kemudian melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang berada di pusat kota Jakarta.
Yudi Brata adalah seorang pegawai kementerian luar negeri, akademisi lulusan dari Universitas Leiden di Belanda membuatnya cukup mudah untuk berkarir di instansi negara. Selain itu dia merupakan anak kepala desa Sangger, sehingga memudahkan dia mendapatkan relasi dari ayahnya.
Yudi berjalan dari Jalan Delima menuju kantor Kementerian Luar Negeri di daerah Pejambon Jakarta Pusat. Hanya berjarak sekitar 150 meter membuat Yudi memilih berjalan kaki ke kantornya, apa lagi tinggal di ibu kota dengan biaya tinggi mengharuskan Yudi harus berhemat, termasuk biaya transportasi.
Dia memasuki Gerbang yang dijaga oleh tiga orang tentara dengan seragam hijau dan masih desain lama era KNIL, Yudi kemudian menunjukan kartu pegawai kementeriannya dan salah seorang tentara melakukan cek dalam tasnya. Kegiatan yang biasa terjadi jika bekerja di area pemerintahan, apa lagi ketika kita harus memasuki istana negara, penjagaan akan jauh lebih ketat.
Yudi kemudian diperbolehkan untuk masuk, dia berjalan menaiki tangga di area teras gedung dan masuk ke lobby utama. Dia kemudian menaiki tangga gedung hingga ke lantai 3, ada sebuah ruangan dengan tulisan Dinas Intelijen Kemenlu. Ruangan kantor Yudi berada disebelah kantor Kepala dinas Intelijen Kemenlu yaitu Kapten Jonathan Laisina, seorang mantan agen intelijen militer era perang kemerdekaan.
Ketika para pasukan Republik berhasil merebut pangkalan angkatan laut Belanda di Surabaya, itu berkat jasa pengintaian dan sabotase Kapten Jonathan. 80% kekuatan angkatan laut Belanda berada di Surabaya dan akhirnya semua dapat diambil alih oleh pasukan Indonesia. Yudi sangat senang dan merasa terhormat bisa menjadi petugas intelijen andalan bagi Kapten Jonathan.
Hari ini Kapten Jonathan mengadakan rapat bagi diplomat khusus dan agen intelijen, salah seorang diplomat Indonesia yang bertugas di Indocina akan memaparkan hasil temuannya selama bertugas disana. Ada isu Jepang yang dipimpin oleh militerisme mereka sudah mulai bergerak di Asia, dan tentu saja menjadi tanda bahaya bagi negara - negara di Asia termasuk Indonesia yang baru merdeka tapi memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Yudi melihat rekannya Gama Manurung sedang mengetik sebuah surat di meja kerjanya.
"Laporan mingguan?", tanya Yudi
Gama yang sedang mengetik tiba - tiba menghentikan ketikannya dengan terkejut menoleh ke arah Yudi.
"Bisa tidak kau jangan mengagetkan seperti itu?!, hampir salah ketik ini aku buat!", protes Gama dengan aksen khas Bataknya.
Yudi nyengir melihat Gama yang terkejut karena ulahnya.
"Hahaha sabar sabar bung, lagian kau serius sekali, laporan mingguan kenapa sudah kau kerjakan sekarang?", tanya Yudi.
"Ini bukan laporan mingguan, ini hasil catatanku setelah pesta ulang tahun Raja Charles IV di kedubes Inggris kemarin", Gama menjelaskan.
"Apa yang kau dapat?".
"Tak banyak, tapi pihak Inggris agak was - was dengan pengaruh Jepang di Manchuria".
"Yah semua masih penasaran mau melangkah kemana Jepang saat ini".
"Tapi kemarin ku lihat menteri luar negeri kita berbicara cukup lama dengan duta besar Jepang di pesta itu", kata Gama
"Mungkin pembicaraan tentang masalah perdagangan, akhir - akhir ini produk Jepang mulai ramai masuk ke Indonesia", jelas Yudi.
Gama menoleh dan tersenyum sarkas, " justru isu yang aku dengar Jepang menawarkan kerja sama militer dengan kita".
Yudi sangat terkejut.
"Apa?!, tidak mungkin Jepang mengajukan hal semacam itu!". Yudi pun melanjutkan "Indonesia baru merdeka, dengan alasan apa mereka mau bekerja sama dengan kita?".
Bunyi ting berbunyi dari mesin tik dan Gama menarik kertas laporannya.
"Banyak hal Yud, kau lihat Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah, terutama minyak bumi. Kita punya daya tawar yang lebih Yud, cuman kita harus pilih - pilih sekutu jangan pula sekutu kita nanti ada pertemanan dengan Belanda", jelas Gama panjang lebar.
Pintu ruangan terbuka dan Kapten Thomas masuk diikuti ajudannya, dia melihat ke arah Gama dan Yudi.
"Rapat nanti akan dimulai jam 10 pagi, saya harap kalian juga menyiapkan laporan mingguan, terutama kamu Gama", Kapten Thomas menunjuk Gama. "Saya ingin tahu apa yang kamu dapat di kedubes Inggris kemarin".
"Siap pak!", seru Gama.
Yudi pergi ke tempat duduknya, dan membuka tas kerjanya. Ini diluar dugaan pikir Yudi, jika suatu negara menawarkan kerja sama militer maka itu adalah satu langkah menuju terbentuknya suatu persekutuan. Apa yang Jepang lihat dari Indonesia sebuah negara yang baru, lagipula ini baru isu, belum tentu itu benar.
Yudi tahu Jepang sedang tidak akur dengan negara - negara barat, apa lagi militerisme mereka membuat negara - negara Eropa teringat dengan Kekaisaran Jerman. Sehingga mereka merasa wilayah kolonial yang ada di Asia Pasifik terancam dari Jepang.
Di Liga Bangsa - Bangsa beberapa kali negara - negara barat menuduh Jepang menyerobot wilayah perbatasan Republik Cina, tapi bukti - bukti yang ada tidak kuat. Satu - satunya kekuatan Eropa yang tidak ikut campur ketegangan dengan Jepang adalah Jerman dan Spanyol, tentu saja jika dilihat dari kondisi kedua negara itu memang diam adalah sebuah alasan yang bagus untuk menunjukan kita negara baik.
Jerman setelah kekalahan di perang dunia pertama seperti kehilangan taringnya, mereka jauh lebih pasif saat ini, mungkin karena rasa malu akan kekalahan sekaligus dikte dari negara - negara pemenang perang. Sedangkan Spanyol, yah konflik republik dengan kaum nasionalis pimpinan Jenderal Franco tentu membuat negara itu lebih sibuk mengurus diri sendiri.
Tapi persekutuan Jepang dan Indonesia ini adalah permainan politik yang susah ditebak, tapi Yudi yakin secara militer ini akan menambah kekuatan Indonesia. Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, tentu saja Indonesia masih belum aman, tapi setidaknya mereka tidak akan macam - macam dengan kami.
Yudi kemudian melihat buku catatan kalendernya, dia melihat apakah ada jadwal pertemuan di kedubes Jepang, dia perlu tahu lebih banyak tentang ini.
Jarinya menelusuri setiap tanggal dan dia melihat, ternyata ada acara di kedubes Jepang pada tanggal 9 Juli yaitu pelantikan atase militer baru Jepang untuk Indonesia.
Yudi tersenyum kemudian menutup buku catatan kalendernya.
"Semoga tidak terlambat", batin Yudi.
Dia kemudian mengunci tasnya dan bercermin melihat kerapihan bajunya, merasa sudah rapi Yudi kemudian melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang berada di pusat kota Jakarta.
Yudi Brata adalah seorang pegawai kementerian luar negeri, akademisi lulusan dari Universitas Leiden di Belanda membuatnya cukup mudah untuk berkarir di instansi negara. Selain itu dia merupakan anak kepala desa Sangger, sehingga memudahkan dia mendapatkan relasi dari ayahnya.
Yudi berjalan dari Jalan Delima menuju kantor Kementerian Luar Negeri di daerah Pejambon Jakarta Pusat. Hanya berjarak sekitar 150 meter membuat Yudi memilih berjalan kaki ke kantornya, apa lagi tinggal di ibu kota dengan biaya tinggi mengharuskan Yudi harus berhemat, termasuk biaya transportasi.
Dia memasuki Gerbang yang dijaga oleh tiga orang tentara dengan seragam hijau dan masih desain lama era KNIL, Yudi kemudian menunjukan kartu pegawai kementeriannya dan salah seorang tentara melakukan cek dalam tasnya. Kegiatan yang biasa terjadi jika bekerja di area pemerintahan, apa lagi ketika kita harus memasuki istana negara, penjagaan akan jauh lebih ketat.
Yudi kemudian diperbolehkan untuk masuk, dia berjalan menaiki tangga di area teras gedung dan masuk ke lobby utama. Dia kemudian menaiki tangga gedung hingga ke lantai 3, ada sebuah ruangan dengan tulisan Dinas Intelijen Kemenlu. Ruangan kantor Yudi berada disebelah kantor Kepala dinas Intelijen Kemenlu yaitu Kapten Jonathan Laisina, seorang mantan agen intelijen militer era perang kemerdekaan.
Ketika para pasukan Republik berhasil merebut pangkalan angkatan laut Belanda di Surabaya, itu berkat jasa pengintaian dan sabotase Kapten Jonathan. 80% kekuatan angkatan laut Belanda berada di Surabaya dan akhirnya semua dapat diambil alih oleh pasukan Indonesia. Yudi sangat senang dan merasa terhormat bisa menjadi petugas intelijen andalan bagi Kapten Jonathan.
Hari ini Kapten Jonathan mengadakan rapat bagi diplomat khusus dan agen intelijen, salah seorang diplomat Indonesia yang bertugas di Indocina akan memaparkan hasil temuannya selama bertugas disana. Ada isu Jepang yang dipimpin oleh militerisme mereka sudah mulai bergerak di Asia, dan tentu saja menjadi tanda bahaya bagi negara - negara di Asia termasuk Indonesia yang baru merdeka tapi memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Yudi melihat rekannya Gama Manurung sedang mengetik sebuah surat di meja kerjanya.
"Laporan mingguan?", tanya Yudi
Gama yang sedang mengetik tiba - tiba menghentikan ketikannya dengan terkejut menoleh ke arah Yudi.
"Bisa tidak kau jangan mengagetkan seperti itu?!, hampir salah ketik ini aku buat!", protes Gama dengan aksen khas Bataknya.
Yudi nyengir melihat Gama yang terkejut karena ulahnya.
"Hahaha sabar sabar bung, lagian kau serius sekali, laporan mingguan kenapa sudah kau kerjakan sekarang?", tanya Yudi.
"Ini bukan laporan mingguan, ini hasil catatanku setelah pesta ulang tahun Raja Charles IV di kedubes Inggris kemarin", Gama menjelaskan.
"Apa yang kau dapat?".
"Tak banyak, tapi pihak Inggris agak was - was dengan pengaruh Jepang di Manchuria".
"Yah semua masih penasaran mau melangkah kemana Jepang saat ini".
"Tapi kemarin ku lihat menteri luar negeri kita berbicara cukup lama dengan duta besar Jepang di pesta itu", kata Gama
"Mungkin pembicaraan tentang masalah perdagangan, akhir - akhir ini produk Jepang mulai ramai masuk ke Indonesia", jelas Yudi.
Gama menoleh dan tersenyum sarkas, " justru isu yang aku dengar Jepang menawarkan kerja sama militer dengan kita".
Yudi sangat terkejut.
"Apa?!, tidak mungkin Jepang mengajukan hal semacam itu!". Yudi pun melanjutkan "Indonesia baru merdeka, dengan alasan apa mereka mau bekerja sama dengan kita?".
Bunyi ting berbunyi dari mesin tik dan Gama menarik kertas laporannya.
"Banyak hal Yud, kau lihat Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah, terutama minyak bumi. Kita punya daya tawar yang lebih Yud, cuman kita harus pilih - pilih sekutu jangan pula sekutu kita nanti ada pertemanan dengan Belanda", jelas Gama panjang lebar.
Pintu ruangan terbuka dan Kapten Thomas masuk diikuti ajudannya, dia melihat ke arah Gama dan Yudi.
"Rapat nanti akan dimulai jam 10 pagi, saya harap kalian juga menyiapkan laporan mingguan, terutama kamu Gama", Kapten Thomas menunjuk Gama. "Saya ingin tahu apa yang kamu dapat di kedubes Inggris kemarin".
"Siap pak!", seru Gama.
Yudi pergi ke tempat duduknya, dan membuka tas kerjanya. Ini diluar dugaan pikir Yudi, jika suatu negara menawarkan kerja sama militer maka itu adalah satu langkah menuju terbentuknya suatu persekutuan. Apa yang Jepang lihat dari Indonesia sebuah negara yang baru, lagipula ini baru isu, belum tentu itu benar.
Yudi tahu Jepang sedang tidak akur dengan negara - negara barat, apa lagi militerisme mereka membuat negara - negara Eropa teringat dengan Kekaisaran Jerman. Sehingga mereka merasa wilayah kolonial yang ada di Asia Pasifik terancam dari Jepang.
Di Liga Bangsa - Bangsa beberapa kali negara - negara barat menuduh Jepang menyerobot wilayah perbatasan Republik Cina, tapi bukti - bukti yang ada tidak kuat. Satu - satunya kekuatan Eropa yang tidak ikut campur ketegangan dengan Jepang adalah Jerman dan Spanyol, tentu saja jika dilihat dari kondisi kedua negara itu memang diam adalah sebuah alasan yang bagus untuk menunjukan kita negara baik.
Jerman setelah kekalahan di perang dunia pertama seperti kehilangan taringnya, mereka jauh lebih pasif saat ini, mungkin karena rasa malu akan kekalahan sekaligus dikte dari negara - negara pemenang perang. Sedangkan Spanyol, yah konflik republik dengan kaum nasionalis pimpinan Jenderal Franco tentu membuat negara itu lebih sibuk mengurus diri sendiri.
Tapi persekutuan Jepang dan Indonesia ini adalah permainan politik yang susah ditebak, tapi Yudi yakin secara militer ini akan menambah kekuatan Indonesia. Apa lagi Belanda masih bercokol di Papua, tentu saja Indonesia masih belum aman, tapi setidaknya mereka tidak akan macam - macam dengan kami.
Yudi kemudian melihat buku catatan kalendernya, dia melihat apakah ada jadwal pertemuan di kedubes Jepang, dia perlu tahu lebih banyak tentang ini.
Jarinya menelusuri setiap tanggal dan dia melihat, ternyata ada acara di kedubes Jepang pada tanggal 9 Juli yaitu pelantikan atase militer baru Jepang untuk Indonesia.
Yudi tersenyum kemudian menutup buku catatan kalendernya.
Diubah oleh Gojira1998 07-09-2024 11:57
aryatemangsa513 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
792
Kutip
11
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Gojira1998
#7
Spoiler for Chapter 3 - Yui Hakaze:
Cuaca terik pada musim panas di Jakarta tidak membuat gairah upacara di Kedubes Jepang menurun, militer dari Kekaisaran Jepang terlihat memadati lapangan tempat upacara akan dilaksanakan, sedangkan para wanita Jepang dengan kimono berwarna cerah tampak antusias.
Yui Hakaze adalah salah satu wanita yang mengenakan kimono, dia hadir disana sebagai wartawan dari surat kabar Shonen untuk meliput upacara pelantikan atase militer Jepang yang baru untuk bertugas di Indonesia.
Tidak mudah bagi seorang wartawan perempuan untuk mendapatkan kesempatan meliput suatu acara kenegaraan seperti ini, dan dia mendapatkan akses ke dalam tentu saja karena kakaknya Makoto Hakaze merupakan seorang diplomat Jepang yang bertugas di Indonesia. Yui tidak mungkin membuang setiap kesempatan yang ada untuk meliput, terutama acara - acara khusus seperti ini.
Yui melihat Makoto sedang berbincang dengan beberapa perwira Jepang, dirinya dan Makoto cukup dekat sejak kecil, mereka berdua adalah anak dari seorang perwira Jepang dan ibu rumah tangga yang tinggal di Kanagawa.
Ayah mereka adalah pensiunan komandan dengan pangkat terakhir adalah Mayor, ketika perang Jepang - Rusia terjadi pada tahun 1905, ayah mereka memegang peranan penting ketika pasukan Jepang mendarat di Vladivostok. Sedangkan ibu mereka adalah ibu rumah tangga yang penuh kasih kepada mereka. Perpaduan didikan militer sang ayah dan kasih lemah lembut sang ibu akhirnya membentuk karakter Yui yang sekarang, tegas dan keras diluar tapi dalam hatinya selembut sutera.
Yui memiliki sisi yang gampang tersentuh, tapi tidak akan segan - segan melakukan tindakan tegas apabila dia melihat ketidakadilan. Entah sudah berapa murid yang ditamparnya semasa di sekolah ketika dia melihat ada teman yang lebih lemah menerima kekerasan, dan korban tamparan dia sebagian besar adalah anak laki - laki.
Berbeda dengan adiknya, Makoto mendapatkan pengajaran khusus dari sang ayah, yaitu pengajaran kecintaan pada tanah air. Nilai - nilai kebanggaan sebagai prajurit Jepang yang terhormat dan pengabdian kepada Kaisar adalah hal mutlak bagi laki - laki Jepang. Pada usia 17 tahun Makoto harus berpisah dengan Yui, dia melanjutkan pendidikan ke sekolah militer di Tokyo.
Tiga tahun mengabdi pada dinas kemiliteran, dia kemudian melanjutkan kuliah dan mengambil Ilmu Hubungan Internasional, sehingga membuat jenjang karir dia melesat dan pada akhirnya diangkat menjadi diplomat Jepang. Sempat bertugas di Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan sekarang ditempatkan di Indonesia, sebuah negara yang baru berumur 5 tahun. Yui sendiri melanjutkan perkuliahan dengan mengambil Ilmu Jurnalistik dan menjadi wartawan koran Shonen sejak baru lulus hingga saat ini.
Dia dan kakaknya saling menyayangi, tapi prinsip kakaknya untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Kekaisaran sering membuat mereka berdua terlibat perdebatan. Makoto selalu berpendapat sudah saatnya Jepang berdiri lebih tinggi dari raksasa - raksasa barat bahkan tindakan tegas bila diperlukan, bagi Makoto perang lebih baik daripada kekuatan Jepang dianggap lemah. Sebuah pikiran yang Yui anggap hanya akan menjerumuskan Jepang ke dalam masalah.
Makoto terlihat mendatangi Yui, kumis tipis, sorot mata syahdu dan murah senyum membuat sang kakak terlihat tampan, tidak heran dia begitu mudah mendapatkan perhatian dari para wanita. Hari ini dia memakai jas hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu - kupu, serta seikat kecil bunga sakura di saku atas jasnya.
“kau tidak apa - apa duduk sendiri disini?”, tanya Makoto
Yui tersenyum kepada sang kakak dan berkata” oh tidak apa2”.
Yui kemudian melihat ke arah para tamu.
“ aku sedang melihat situasi apa memungkinkan jika mewawancarai salah satu tamu penting disini”, lanjut Yui.
“Baiklah jika ada yang ingin kau wawancarai sebutkan saja namanya, aku akan memberikan akses kepadamu untuk wawancara eksklusif” jelas Makoto.
“Asalkan itu adalah tamu Jepang, jika itu tamu dari negara lain aku takut agak sulit untuk meminta izin mereka dan belum tentu mereka bersedia” lanjut Makoto.
“Pilihan pertamaku tentu saja Jenderal Ryouta Shougo yang dilantik hari ini, tapi jika ada yang lebih menarik untuk dimintai pendapat aku akan memilih orang itu”, jawab Yui.
“Aku harap kau tidak menanyakan tentang politik luar negeri Jepang, jangan membuat para pejabat ini semakin tidak nyaman, tuduhan negara - negara barat kepada kita sudah membuat mereka sakit kepala!”, Makoto memperingatkan.
“Tenang saja kak, aku hanya fokus pada berita upacara ini, tidak lebih”, jawab Yui meyakinkan.
Makoto menatap Yui dengan curiga.
“Baiklah aku akan kembali ke tempat duduk para diplomat, maaf harus meninggalkanmu disini”
“Baiklah kak”, jawab Yui.
Makoto kemudian berjalan menuju tempat duduk para diplomat.
Seorang pembawa acara maju ke panggung upacara, disana duduk para petinggi - petinggi militer Jepang termasuk Mayor Jenderal Koku Seiji, orang kepercayaan dari Perdana Menteri Hideki Tojo. Ini menarik pikir Yui, untuk upacara pergantian atase militer di Indonesia Perdana Menteri sampai mengirimkan tangan kanannya, sepenting apa upacara ini bagi sang Perdana Menteri.
Pembawa acara mempersilahkan para hadirin untuk mengambil tempat yang sudah disediakan karena upacara akan segera dimulai, para hadirin pun mulai berjalan dan duduk ditempat yang sudah disiapkan. Pada sebelah kanan panggung berjejer para duta besar, diplomat atau atase militer dari negara sahabat.
Beberapa Yui mengenalnya seperti duta besar Jerman untuk Indonesia Hans von Zolff yang terlihat mengobrol dengan seseorang di sebelahnya, yaitu diplomat Jerman Walther Hewel, banyak orang mengatakan dia adalah sahabat dari Adolf Hitler penguasa Jerman yang baru dan sedang menjadi sorotan di Eropa.
Ada juga duta besar Perancis Jean Louis de Renouard, atase militer Inggris untuk Indonesia Jenderal Archibald Wavell, dan duta besar Amerika Serikat Frank Murphy. Ada juga beberapa tamu dari Indonesia dan tentu saja Menteri Luar Negeri Harmoko Suwandi pasti menghadiri acara ini, jika memungkinkan aku ingin mewawancarai dia nanti, pikir Yui penuh harap.
Tapi yang mencuri fokus Yui adalah pria yang duduk dibelakang sang menteri, seorang pria berjas hitam dengan kacamata kotaknya dan badan tegap tapi gesturenya tidak menunjukan dia dari militer. Matanya tajam seolah sedang mencari sesuatu tapi tidak mengintimidasi, dan memakai pin dengan bendera indonesia dengan latar belakang bola dunia, dia pasti dari kementerian luar negeri Indonesia.
Upacara kemudian dimulai dengan tarian Awa Odori untuk memperingati para prajurit yang gugur dan mengingat kembali kemenangan Jepang atas Rusia. Setelah itu Jenderal Ryouta Shougo dipersilahkan naik ke panggung, dan menerima surat tugas dari duta besar Jepang. Kemudian Jenderal Mora Fukunishi atase militer Jepang sebelumnya menyerahkan secara seremonial pedang katana yang melambangkan jabatan atase militer kepada Jenderal Routa Shougo. Jenderal Ryouta menerimanya dan memberikan hormat militer kepada Jenderal Mora, setelah itu dia membungkuk memberikan hormat kepada para hadirin.
Jenderal Ryouta memberikan sedikit pidato pendeknya, kemudian melakukan salam teriakan banzai yang diikuti oleh tamu - tamu Jepang.
Jamuan makan siang pun dihidangkan dengan cara prasmanan, kebanyakan merupakan makanan khas negeri Sakura seperti udon dengan kuah dashi dan soyu, ramen dengan irisan daging sapi, nori atau rumput laut, serta nitamago yaitu telur rebus khas Jepang. Gyoza isi ayam berbumbu, sup miso, dan katsu sando. Ada juga sushi dan onigiri dengan varian toping dan isi dalamnya mulai dari salmon, tuna, sapi, dan ayam. Tidak ketinggalan juga kue khas Jepang seperti dorayaki, mochi, namagashi dan dango. Terdapat juga berbagai buah - buahan.
Para pria biasanya mengambil makanan yang mereka suka, sedangkan para perempuan hanya mencoba satu atau dua jenis makanan. Yui mengambil beberapa sushi tuna dan satu mangkok sup miso, ketika sedang mengambil sushi dia tidak sengaja menyenggol orang di sebelahnya. Yui menatap orang itu dan sangat terkejut, karena orang yang disebelahnya adalah pria yang duduk di belakang menlu tadi.
Yui dengan jantung berdebar minta maaf dengan bahasa Jepang tanpa dia sadari, pria itu justru menenangkan Yui dengan memberi gestur memohon maaf sambil menangkupkan kedua tangannya. Yui dengan cepat sadar dan meminta maaf menggunakan bahasa Inggris.
“Maaf sudah menyenggol lengan anda”, kata Yui.
Pria itu tersenyum.
“Tidak apa - apa itu hal biasa terjadi jika kita berada di tempat ramai”, kata pria itu dengan bahasa inggris yang sangat fasih.
“Saya tidak menyadari ada orang disebelah saya, jelas sebuah kecerobohan dari saya”, kata Yui.
Pria itu tertawa pelan.
“Mungkin sushi ini memiliki daya tarik luar biasa, apa lagi kita sedang lapar bukan?”, jelas sang pria dengan ramah. Yui tersenyum malu.
Pria itu melanjutkan, “Oh! Jika saya mengucapkan sesuatu yang memalukan saya mohon maaf kepada anda nona…..?”.
“Yui, Yui Hakaze”, kata Yui sambil tersenyum.
“Hakaze? Mohon maaf apakah anda masih ada hubungan kerabat dengan Makoto Hakaze seorang diplomat Jepang?”, dia bertanya dengan penasaran.
“Dia kakakku”
Pria itu terkejut.
“Oh anda adalah adik yang pernah dia ceritakan dulu, seorang jurnalis dari surat kabar Shonen, benar bukan?”, tanya sang pria memastikan.
“Ya itu benar, anda mengenal kakak saya?”, tanya Yui penasaran.
“Iya kami sama - sama mendapatkan pelatihan hubungan luar negeri di Inggris, dan sekarang dia ditugaskan di Indonesia, jadi kami terkadang bekerja sama” jawab pria itu. “Bisa dibilang kami berteman baik”.
“Aku senang mendengarnya, saya harap kakak saya tidak menyusahkan anda tuan……..?”
“Tolong jangan panggil tuan, perkenalkan nama saya Yudi Brata, anda bisa memanggil saya Yudi”, kata Yudi sambil mengulurkan tangan untuk perkenalan.
“Senang berkenalan dengan anda Yudi Brata”, jawab Yui sambil bersalaman.
Yui berbicara dalam hatinya, pria ini cukup menarik.
Yui Hakaze adalah salah satu wanita yang mengenakan kimono, dia hadir disana sebagai wartawan dari surat kabar Shonen untuk meliput upacara pelantikan atase militer Jepang yang baru untuk bertugas di Indonesia.
Tidak mudah bagi seorang wartawan perempuan untuk mendapatkan kesempatan meliput suatu acara kenegaraan seperti ini, dan dia mendapatkan akses ke dalam tentu saja karena kakaknya Makoto Hakaze merupakan seorang diplomat Jepang yang bertugas di Indonesia. Yui tidak mungkin membuang setiap kesempatan yang ada untuk meliput, terutama acara - acara khusus seperti ini.
Yui melihat Makoto sedang berbincang dengan beberapa perwira Jepang, dirinya dan Makoto cukup dekat sejak kecil, mereka berdua adalah anak dari seorang perwira Jepang dan ibu rumah tangga yang tinggal di Kanagawa.
Ayah mereka adalah pensiunan komandan dengan pangkat terakhir adalah Mayor, ketika perang Jepang - Rusia terjadi pada tahun 1905, ayah mereka memegang peranan penting ketika pasukan Jepang mendarat di Vladivostok. Sedangkan ibu mereka adalah ibu rumah tangga yang penuh kasih kepada mereka. Perpaduan didikan militer sang ayah dan kasih lemah lembut sang ibu akhirnya membentuk karakter Yui yang sekarang, tegas dan keras diluar tapi dalam hatinya selembut sutera.
Yui memiliki sisi yang gampang tersentuh, tapi tidak akan segan - segan melakukan tindakan tegas apabila dia melihat ketidakadilan. Entah sudah berapa murid yang ditamparnya semasa di sekolah ketika dia melihat ada teman yang lebih lemah menerima kekerasan, dan korban tamparan dia sebagian besar adalah anak laki - laki.
Berbeda dengan adiknya, Makoto mendapatkan pengajaran khusus dari sang ayah, yaitu pengajaran kecintaan pada tanah air. Nilai - nilai kebanggaan sebagai prajurit Jepang yang terhormat dan pengabdian kepada Kaisar adalah hal mutlak bagi laki - laki Jepang. Pada usia 17 tahun Makoto harus berpisah dengan Yui, dia melanjutkan pendidikan ke sekolah militer di Tokyo.
Tiga tahun mengabdi pada dinas kemiliteran, dia kemudian melanjutkan kuliah dan mengambil Ilmu Hubungan Internasional, sehingga membuat jenjang karir dia melesat dan pada akhirnya diangkat menjadi diplomat Jepang. Sempat bertugas di Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan sekarang ditempatkan di Indonesia, sebuah negara yang baru berumur 5 tahun. Yui sendiri melanjutkan perkuliahan dengan mengambil Ilmu Jurnalistik dan menjadi wartawan koran Shonen sejak baru lulus hingga saat ini.
Dia dan kakaknya saling menyayangi, tapi prinsip kakaknya untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Kekaisaran sering membuat mereka berdua terlibat perdebatan. Makoto selalu berpendapat sudah saatnya Jepang berdiri lebih tinggi dari raksasa - raksasa barat bahkan tindakan tegas bila diperlukan, bagi Makoto perang lebih baik daripada kekuatan Jepang dianggap lemah. Sebuah pikiran yang Yui anggap hanya akan menjerumuskan Jepang ke dalam masalah.
Makoto terlihat mendatangi Yui, kumis tipis, sorot mata syahdu dan murah senyum membuat sang kakak terlihat tampan, tidak heran dia begitu mudah mendapatkan perhatian dari para wanita. Hari ini dia memakai jas hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu - kupu, serta seikat kecil bunga sakura di saku atas jasnya.
“kau tidak apa - apa duduk sendiri disini?”, tanya Makoto
Yui tersenyum kepada sang kakak dan berkata” oh tidak apa2”.
Yui kemudian melihat ke arah para tamu.
“ aku sedang melihat situasi apa memungkinkan jika mewawancarai salah satu tamu penting disini”, lanjut Yui.
“Baiklah jika ada yang ingin kau wawancarai sebutkan saja namanya, aku akan memberikan akses kepadamu untuk wawancara eksklusif” jelas Makoto.
“Asalkan itu adalah tamu Jepang, jika itu tamu dari negara lain aku takut agak sulit untuk meminta izin mereka dan belum tentu mereka bersedia” lanjut Makoto.
“Pilihan pertamaku tentu saja Jenderal Ryouta Shougo yang dilantik hari ini, tapi jika ada yang lebih menarik untuk dimintai pendapat aku akan memilih orang itu”, jawab Yui.
“Aku harap kau tidak menanyakan tentang politik luar negeri Jepang, jangan membuat para pejabat ini semakin tidak nyaman, tuduhan negara - negara barat kepada kita sudah membuat mereka sakit kepala!”, Makoto memperingatkan.
“Tenang saja kak, aku hanya fokus pada berita upacara ini, tidak lebih”, jawab Yui meyakinkan.
Makoto menatap Yui dengan curiga.
“Baiklah aku akan kembali ke tempat duduk para diplomat, maaf harus meninggalkanmu disini”
“Baiklah kak”, jawab Yui.
Makoto kemudian berjalan menuju tempat duduk para diplomat.
Seorang pembawa acara maju ke panggung upacara, disana duduk para petinggi - petinggi militer Jepang termasuk Mayor Jenderal Koku Seiji, orang kepercayaan dari Perdana Menteri Hideki Tojo. Ini menarik pikir Yui, untuk upacara pergantian atase militer di Indonesia Perdana Menteri sampai mengirimkan tangan kanannya, sepenting apa upacara ini bagi sang Perdana Menteri.
Pembawa acara mempersilahkan para hadirin untuk mengambil tempat yang sudah disediakan karena upacara akan segera dimulai, para hadirin pun mulai berjalan dan duduk ditempat yang sudah disiapkan. Pada sebelah kanan panggung berjejer para duta besar, diplomat atau atase militer dari negara sahabat.
Beberapa Yui mengenalnya seperti duta besar Jerman untuk Indonesia Hans von Zolff yang terlihat mengobrol dengan seseorang di sebelahnya, yaitu diplomat Jerman Walther Hewel, banyak orang mengatakan dia adalah sahabat dari Adolf Hitler penguasa Jerman yang baru dan sedang menjadi sorotan di Eropa.
Ada juga duta besar Perancis Jean Louis de Renouard, atase militer Inggris untuk Indonesia Jenderal Archibald Wavell, dan duta besar Amerika Serikat Frank Murphy. Ada juga beberapa tamu dari Indonesia dan tentu saja Menteri Luar Negeri Harmoko Suwandi pasti menghadiri acara ini, jika memungkinkan aku ingin mewawancarai dia nanti, pikir Yui penuh harap.
Tapi yang mencuri fokus Yui adalah pria yang duduk dibelakang sang menteri, seorang pria berjas hitam dengan kacamata kotaknya dan badan tegap tapi gesturenya tidak menunjukan dia dari militer. Matanya tajam seolah sedang mencari sesuatu tapi tidak mengintimidasi, dan memakai pin dengan bendera indonesia dengan latar belakang bola dunia, dia pasti dari kementerian luar negeri Indonesia.
Upacara kemudian dimulai dengan tarian Awa Odori untuk memperingati para prajurit yang gugur dan mengingat kembali kemenangan Jepang atas Rusia. Setelah itu Jenderal Ryouta Shougo dipersilahkan naik ke panggung, dan menerima surat tugas dari duta besar Jepang. Kemudian Jenderal Mora Fukunishi atase militer Jepang sebelumnya menyerahkan secara seremonial pedang katana yang melambangkan jabatan atase militer kepada Jenderal Routa Shougo. Jenderal Ryouta menerimanya dan memberikan hormat militer kepada Jenderal Mora, setelah itu dia membungkuk memberikan hormat kepada para hadirin.
Jenderal Ryouta memberikan sedikit pidato pendeknya, kemudian melakukan salam teriakan banzai yang diikuti oleh tamu - tamu Jepang.
Jamuan makan siang pun dihidangkan dengan cara prasmanan, kebanyakan merupakan makanan khas negeri Sakura seperti udon dengan kuah dashi dan soyu, ramen dengan irisan daging sapi, nori atau rumput laut, serta nitamago yaitu telur rebus khas Jepang. Gyoza isi ayam berbumbu, sup miso, dan katsu sando. Ada juga sushi dan onigiri dengan varian toping dan isi dalamnya mulai dari salmon, tuna, sapi, dan ayam. Tidak ketinggalan juga kue khas Jepang seperti dorayaki, mochi, namagashi dan dango. Terdapat juga berbagai buah - buahan.
Para pria biasanya mengambil makanan yang mereka suka, sedangkan para perempuan hanya mencoba satu atau dua jenis makanan. Yui mengambil beberapa sushi tuna dan satu mangkok sup miso, ketika sedang mengambil sushi dia tidak sengaja menyenggol orang di sebelahnya. Yui menatap orang itu dan sangat terkejut, karena orang yang disebelahnya adalah pria yang duduk di belakang menlu tadi.
Yui dengan jantung berdebar minta maaf dengan bahasa Jepang tanpa dia sadari, pria itu justru menenangkan Yui dengan memberi gestur memohon maaf sambil menangkupkan kedua tangannya. Yui dengan cepat sadar dan meminta maaf menggunakan bahasa Inggris.
“Maaf sudah menyenggol lengan anda”, kata Yui.
Pria itu tersenyum.
“Tidak apa - apa itu hal biasa terjadi jika kita berada di tempat ramai”, kata pria itu dengan bahasa inggris yang sangat fasih.
“Saya tidak menyadari ada orang disebelah saya, jelas sebuah kecerobohan dari saya”, kata Yui.
Pria itu tertawa pelan.
“Mungkin sushi ini memiliki daya tarik luar biasa, apa lagi kita sedang lapar bukan?”, jelas sang pria dengan ramah. Yui tersenyum malu.
Pria itu melanjutkan, “Oh! Jika saya mengucapkan sesuatu yang memalukan saya mohon maaf kepada anda nona…..?”.
“Yui, Yui Hakaze”, kata Yui sambil tersenyum.
“Hakaze? Mohon maaf apakah anda masih ada hubungan kerabat dengan Makoto Hakaze seorang diplomat Jepang?”, dia bertanya dengan penasaran.
“Dia kakakku”
Pria itu terkejut.
“Oh anda adalah adik yang pernah dia ceritakan dulu, seorang jurnalis dari surat kabar Shonen, benar bukan?”, tanya sang pria memastikan.
“Ya itu benar, anda mengenal kakak saya?”, tanya Yui penasaran.
“Iya kami sama - sama mendapatkan pelatihan hubungan luar negeri di Inggris, dan sekarang dia ditugaskan di Indonesia, jadi kami terkadang bekerja sama” jawab pria itu. “Bisa dibilang kami berteman baik”.
“Aku senang mendengarnya, saya harap kakak saya tidak menyusahkan anda tuan……..?”
“Tolong jangan panggil tuan, perkenalkan nama saya Yudi Brata, anda bisa memanggil saya Yudi”, kata Yudi sambil mengulurkan tangan untuk perkenalan.
“Senang berkenalan dengan anda Yudi Brata”, jawab Yui sambil bersalaman.
Yui berbicara dalam hatinya, pria ini cukup menarik.
Diubah oleh Gojira1998 05-09-2024 11:20
gokil4ever dan rinandya memberi reputasi
2
Kutip
Balas