- Beranda
- Wedding & Family
Viral Tren 'Marriage Is Scary' Bikin Banyak Wanita Takut Menikah! Apa Sebabnya?
...
TS
harrywjyy
Viral Tren 'Marriage Is Scary' Bikin Banyak Wanita Takut Menikah! Apa Sebabnya?

Sumber Gambar
Selamat Datang di Thread TS!

Tren "marriage is scary" yang sedang viral di media sosial mencerminkan ketakutan yang semakin banyak dirasakan oleh wanita terhadap institusi pernikahan. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dalam cara pandang wanita terhadap pernikahan, yang dulu dianggap sebagai tujuan hidup yang diidamkan, kini malah menjadi sesuatu yang menakutkan. Ketakutan ini muncul dari berbagai faktor, mulai dari pengalaman pribadi hingga cerita orang lain yang tersebar luas di media sosial. Dengan kata lain, media sosial telah menjadi platform yang memperkuat ketakutan tersebut, karena memungkinkan orang untuk berbagi dan memperdebatkan kekhawatiran mereka secara lebih terbuka dan luas.
Salah satu faktor utama yang memicu ketakutan ini adalah adanya kekhawatiran bahwa pernikahan bisa membawa lebih banyak masalah daripada kebahagiaan. Banyak wanita yang merasa takut terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia, di mana mereka mungkin tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari pasangan, atau bahkan menghadapi tekanan dari keluarga besar. Ketakutan ini diperkuat oleh berbagai cerita horor tentang pernikahan yang beredar di media sosial, seperti suami yang tidak membela istri di depan keluarga, pasangan yang tidak mau berbagi tanggung jawab rumah tangga, atau bahkan ketidaksetiaan dalam pernikahan. Kisah-kisah ini, meski mungkin hanya dialami oleh sebagian kecil orang, tetap memiliki dampak yang besar karena sering kali diperbesar oleh narasi media sosial.

Sumber Gambar
Selain itu, tren ini juga menunjukkan adanya perubahan nilai-nilai yang dianut oleh generasi muda, terutama wanita. Banyak dari mereka yang lebih menghargai kebebasan dan kemandirian daripada terikat dalam sebuah pernikahan. Mereka cenderung lebih fokus pada pengembangan diri, karier, dan kebahagiaan pribadi, daripada merasa terburu-buru untuk menikah hanya karena tekanan sosial. Ketakutan terhadap pernikahan ini bisa jadi merupakan manifestasi dari keinginan untuk mempertahankan kebebasan tersebut, dan ketidakmampuan atau ketidakrelaan untuk menyesuaikan diri dengan komitmen jangka panjang yang dituntut oleh pernikahan.
Namun, penting juga untuk diingat bahwa ketakutan terhadap pernikahan yang diungkapkan melalui tren "marriage is scary" ini tidak selalu mencerminkan realitas pernikahan itu sendiri. Meskipun ada banyak tantangan yang dihadapi dalam pernikahan, tidak semua pengalaman pernikahan berakhir dengan kegagalan atau ketidakbahagiaan. Banyak pasangan yang mampu membangun hubungan yang sehat dan saling mendukung, bahkan di tengah berbagai rintangan. Oleh karena itu, tren ini juga harus dilihat dengan kacamata kritis, dan tidak diambil sebagai gambaran umum dari semua pernikahan.
Konten Sensitif
Sumber Gambar
Di sisi lain, tren "marriage is scary" ini juga bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi dari ketakutan yang sebenarnya lebih dalam: ketakutan akan kegagalan dalam hubungan. Ketakutan ini mungkin diperkuat oleh realitas sosial dan ekonomi yang semakin kompleks, di mana tekanan untuk sukses dalam segala aspek kehidupan semakin besar. Pernikahan, yang dianggap sebagai salah satu bentuk komitmen terbesar dalam hidup seseorang, secara alami menjadi sumber ketakutan, terutama jika dihadapkan dengan ketidakpastian masa depan. Oleh karena itu, tren ini mungkin lebih merupakan refleksi dari rasa tidak aman yang lebih luas, bukan hanya terhadap pernikahan itu sendiri, tetapi terhadap kehidupan secara keseluruhan.
Akhirnya, meskipun tren "marriage is scary" ini dapat dipahami sebagai respons terhadap berbagai kekhawatiran yang sah, penting untuk diingat bahwa pernikahan adalah sebuah perjalanan yang sangat personal dan unik bagi setiap orang. Apa yang menakutkan bagi satu orang mungkin tidak relevan bagi orang lain. Oleh karena itu, penting untuk tidak terjebak dalam narasi negatif yang beredar di media sosial, tetapi sebaliknya, mencari pemahaman yang lebih dalam tentang apa yang benar-benar diinginkan dalam sebuah hubungan, serta bagaimana membangun pernikahan yang sehat dan bahagia.
Sumber Valid (baca baik-baik):
Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3
Terima Kasih Sudah Mampir, Jangan Lupa Komen danCendolnya Gan!



ghiffardana dan 6 lainnya memberi reputasi
7
1.9K
67
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Wedding & Family
9KThread•14.6KAnggota
Tampilkan semua post
User telah dihapus
#4
Karena banyak pria khususnya yang muslim nggak punya bekal ilmu agama. Nggak tahu cara memperlakukan istri. Dikira tugasnya cuma cari nafkah, kasih duit, selesai. Parahnya malah banyak yang minta dibantuin cari nafkah. Padahal itu udah kewajibannya.
Sedangkan si istri setelah nikah malah jadi double tanggung jawabnya. Waktu single kerja buat nafkahin diri sendiri dan cuma ngurus diri sendiri setelah nikah malah disuruh ngurus anak orang pula (suaminya).
Dalam Islam tugas istri cuma dua:
Patuh sama suami (selama tidak bertentangan dengan agama) dan melayani suami (di urusan ranjang)
Tugas suami:
Menafkahi, menyiapkan tempat tinggal yang layak, memberi makan, menyediakan pakaian, membimbing, memberi nafkah batin, melindungi, dst.
Kalau suami nggak sanggup melakukannya bisa sewa pembantu, koki, baby sitter, dll. Kalau nggak sanggup ya boleh minta tolong istri. Tapi namanya minta tolong ya nggak boleh maksa apalagi semena-mena. Instead of meratukan istrinya malah jadiin istri ART. Zolim itu namanya.
Udah bagus dibantuin. Harusnya terima kasih si istri udah mau meringankan bebannya. Jangan malah nambah minta dibantuin cari nafkah.
Emang waktu istri hamil, melahirkan, menyusui, dia minta suaminya bantuin buat ngerasain sakitnya? Badan dia rusak, robek, dijahit, berdarah, masih aja disuruh kerja. Terus suaminya ngapain?
Paling pulang kerja nongkrong-nongkrong, godain cewek, dll. Di kantor juga nggak melulu banyak kerjaan. Banyak yg bisa kongko di pantry, buka sosmed, pergi ngopi, dll. Ada juga yg malah flirting ke teman kantor. Sementara istrinya di rumah jungkir balik ngejar-ngejar anak balitanya yang lari ke sana ke mari.
Bahkan dalam Islam, ibu nggak wajib menyusui bayinya lho. Zaman nabi Muhammad dulu, bayi disusuin sama ibu susu. Jadi ada perempuan yang dibayar khusus buat menyusui bayinya. (CMIIW)
Ibu-ibu zaman sekarang, udah baik banget mau menyusui bayinya sendiri. Padahal proses menyusui itu bisa bikin badannya rusak. Terus suami-suami nggak tahu diri pada menyalahkan istrinya kalau sudah begitu.
Sayang nggak banyak pria Indonesia yg ngerti. Kebanyakan mereka dimanja sama ortunya dari kecil. Nggak boleh capek, nggak boleh terluka, dll. Akibatnya kebawa sampai berumahtangga. Sedangkan para wanitanya dari kecil udah dituntut ini itu.
Sedangkan si istri setelah nikah malah jadi double tanggung jawabnya. Waktu single kerja buat nafkahin diri sendiri dan cuma ngurus diri sendiri setelah nikah malah disuruh ngurus anak orang pula (suaminya).
Dalam Islam tugas istri cuma dua:
Patuh sama suami (selama tidak bertentangan dengan agama) dan melayani suami (di urusan ranjang)
Tugas suami:
Menafkahi, menyiapkan tempat tinggal yang layak, memberi makan, menyediakan pakaian, membimbing, memberi nafkah batin, melindungi, dst.
Kalau suami nggak sanggup melakukannya bisa sewa pembantu, koki, baby sitter, dll. Kalau nggak sanggup ya boleh minta tolong istri. Tapi namanya minta tolong ya nggak boleh maksa apalagi semena-mena. Instead of meratukan istrinya malah jadiin istri ART. Zolim itu namanya.
Udah bagus dibantuin. Harusnya terima kasih si istri udah mau meringankan bebannya. Jangan malah nambah minta dibantuin cari nafkah.
Emang waktu istri hamil, melahirkan, menyusui, dia minta suaminya bantuin buat ngerasain sakitnya? Badan dia rusak, robek, dijahit, berdarah, masih aja disuruh kerja. Terus suaminya ngapain?
Paling pulang kerja nongkrong-nongkrong, godain cewek, dll. Di kantor juga nggak melulu banyak kerjaan. Banyak yg bisa kongko di pantry, buka sosmed, pergi ngopi, dll. Ada juga yg malah flirting ke teman kantor. Sementara istrinya di rumah jungkir balik ngejar-ngejar anak balitanya yang lari ke sana ke mari.
Bahkan dalam Islam, ibu nggak wajib menyusui bayinya lho. Zaman nabi Muhammad dulu, bayi disusuin sama ibu susu. Jadi ada perempuan yang dibayar khusus buat menyusui bayinya. (CMIIW)
Ibu-ibu zaman sekarang, udah baik banget mau menyusui bayinya sendiri. Padahal proses menyusui itu bisa bikin badannya rusak. Terus suami-suami nggak tahu diri pada menyalahkan istrinya kalau sudah begitu.
Sayang nggak banyak pria Indonesia yg ngerti. Kebanyakan mereka dimanja sama ortunya dari kecil. Nggak boleh capek, nggak boleh terluka, dll. Akibatnya kebawa sampai berumahtangga. Sedangkan para wanitanya dari kecil udah dituntut ini itu.
Diubah oleh User telah dihapus 15-08-2024 08:25
.odysius dan 6 lainnya memberi reputasi
3
Tutup