- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.3K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#86
44
Quote:
Setelah semuanya sepakat akhirnya penelusuran akan dilakukan nanti di sebuah taman bermain yang terbengkalai, bertempat di area pegunungan. Suasana dan hawa dingin akan menusuk nantinya ketika memasuki waktu tengah malam. Mereka berpisah di tempat makan, Dissa akan melanjutkan perjalanannya dengan mengunjungi distrik belanja di kota. Sisanya kembali ke kosan yang dijadikan markas utama oleh Pandu dan juga Ardit. Rekanan tak kasat mata yang dimiliki masing-masing tidak ikut, mereka terbang begitu saja menghilang dari pandangan. Tampak wajah kesal diperlihatkan oleh Dissa, berbeda dengan Pandu yang sangat santai. Menurutnya Gasimah berhak untuk bersenang-senang sesama kaumnya.
Langit masih cerah, waktu pertemuan selanjutnya sangat jauh. Ardit memutuskan untuk mengikuti kelas sore untuk mempersingkat waktunya. Sementara Pandu tetap tinggal di kosan, menonton tayangan yang dikerjakan oleh pembuat konten lainnya. Sebagai satu usaha untuk menambah jam tayang mereka, karena akun Pandu sudah berada dijajaran atas. Keanggotaan yang didapatkannya dari forum membuat Pandu tidak harus repot-repot mengiklannya di media sosial lain. Penonton yang melakukannya sendiri dengan saling bertukar pikiran dengan penonton lainnya.
“Hm, coba iseng ah nonton si nomor satu,” jemarinya mengetikan satu nama, seseorang yang memuncaki daftar Lima Elit, yaitu Rafadika.
Selama menonton Pandu juga memperhatikan cara si nomor satu itu dalam membawakan akunnya. Menurutnya pembawaannya begitu natural, seakan-akan seperti mendengar teman dekat sedang bercerita pengalamannya. Meskipun tempat yang dikunjungi sebegitu seramnya, hawa dan aura yang ditampilkan oleh Rafadika membuat hal-hal yang menakutkan itu hilang. Mungkin ini salah satu penyebab kenapa posisinya sulit digeser, terutama bagi mereka yang baru terjun. Yaitu membuat penonton nyaman menonton tayangan mistis tanpa menakuti-nakuti mereka dengan berbagai aksi penampakan atau cerita-cerita seram yang melatar belakangi tempat tersebut.
“Kayaknya gue engga bisa sih nandingin dia, apalagi pembawaan gue agak kaku kayak lagi baca naskah,” ucap Pandu. “oh iya,” jemarinya kembali mengetikan sesuatu. “dia bilang nontonin konten gue, coba sekarang gue cek konten dia,” nama yang diketikan kali ini adalah Dissa, seseorang yang nanti malam akan melakukan penelusuran bersamanya.
Satu video yang ditonton adalah tentang pengalaman penjual makanan yang berjualan hingga dini hari. Yaitu cerita pedagang sate yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Jauh dari tempat-tempat angker ataupun lingkungan yang seram. Tetapi ada satu pengalamannya yang begitu mencenangkan. Ketika suatu malam ada satu keluarga besar datang untuk memesan jamuan besar. Dengan semangat pedagang sate tersebut membuat ratusan tusuk sate sebagaimana yang dipesan. Ia melihat begitu lahapnya satu keluarga besar tersebut, hingga tusuk satenya pun sempat dijilat untuk memakan sisa daging yang masih menempel. Keanehan terjadi saat ada seorang pembeli datang, lalu menepuk pundak sang pedagang sambil berkata.
“Bang, ngapain liat meja kosong?” kata si pembeli. “bikin banyak-banyak buat siapa?” lanjutnya.
Pedagang sate itu menoleh, “kosong? Ini ada satu keluarga lagi pada makan, masa engga keliatan?” kepalanya kembali melihat ke arah meja dan ternyata benar saja, di atas meja panjang itu hanya ada piring-piring yang berisikan sate, tidak ada orang-orang yang sedang makan di sana. “tadi ada kok mas---” seseorang pembeli tadi juga menghilang, padahal tidak ada selang satu menit setelah kepalanya berputar.
Pandu hanya bisa melongo mendengar kisah pedagang sate tersebut. Ketika sedang asik melanjutkan ceritanya, terdengar suara ketukan dari pintunya, membuat nyawa Pandu melayang setengah karena terkejut. Lalu pintu terbuka, sosok Ardit muncul, kelas sorenya tidak jadi dilaksanakan karena sang dosen sedang ada kunjungan ke luar kota. Matanya tertuju pada layar yang menampilkan Dissa di sana dengan seseorang yang sedang di wawancara.
“Wew, lo nontonin Dissa dari tadi?” tanya Ardit dengan begitu santai.
“Wah si geblek, bikin kaget aja,” balas Pandu. “engga, tadi gue cek si Rafadika juga. Ini gue nonton Dissa cuman satu episode, ini juga belum beres.”
“Lah, biasa aja kok lo kayak yang salting. Jangan-jangan….,” Ardit mengkerutkan wajahnya. “cinta pada pandangan pertama?” ucapnya dengan tawa yang begitu besar. “daripada lo terjebak clbk sama Kanindini, kan siapa tau dari sini berlanjut,” ia kemudian duduk di lantai yang beralaskan karpet.
“Lo jangan ngada-ngada, dia itu lebih senior dari kita,” ucap Pandu.
Ardit tidak percaya dengan perkataan sahabatnya itu, bukan berarti Dissa memulai lebih dahulu usianya lebih tua dari mereka. Ponselnya dikeluarkan, menuju mesin pencarian, dengan mengetikan nama Dissa semua infonya keluar dalam waktu yang sangat singkat. Di biodatanya tertera bahwa Dissa lebih tua usianya terpaut 2 tahun dari Pandu dan juga Ardit. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, bukanlah masalah untuk merajut kisah asmara. Ardit pun memperlihatkan layar ponselnya, agar Pandu dapat melihat dengan jelas.
“Cuman beda 2 tahun, bisalah, usia hanyalah angka,” ucap Ardit.
“Eh ngomong-ngomong Gasimah ke mana?” dengan seketika Pandu membelokan arah pembicaraan.
Di langit yang biru, awan tipis-tipis menghiasi menghalangi matahari mengambil semua perhatian. Dua makhluk tak kasat mata sedang melayang di angkasa. Norman meminta Gasimah untuk memberi tahunya di mana letak paling indah yang diberikan oleh kota ini. Berdiri tepat di atas kotanya merupakan jawabannya. Dari sini semuanya terlihat indah, kota tersaji begitu rapat bersandingan dengan alam disekitarnya. Berbeda dengan tempat Norman tinggal dengan Dissa, warna hijau dedaunan pun sudah jarang.
“Apa aku pindah aja tinggalnya di sini?” ucap Norman sambil memandangi Gasimah.
Di tempat berbeda, lingkungan rumah sakit terbengkalai, terjadi guncangan hebat sampai penjaganya mengira ada kejadian gempa bumi.
Langit masih cerah, waktu pertemuan selanjutnya sangat jauh. Ardit memutuskan untuk mengikuti kelas sore untuk mempersingkat waktunya. Sementara Pandu tetap tinggal di kosan, menonton tayangan yang dikerjakan oleh pembuat konten lainnya. Sebagai satu usaha untuk menambah jam tayang mereka, karena akun Pandu sudah berada dijajaran atas. Keanggotaan yang didapatkannya dari forum membuat Pandu tidak harus repot-repot mengiklannya di media sosial lain. Penonton yang melakukannya sendiri dengan saling bertukar pikiran dengan penonton lainnya.
“Hm, coba iseng ah nonton si nomor satu,” jemarinya mengetikan satu nama, seseorang yang memuncaki daftar Lima Elit, yaitu Rafadika.
Selama menonton Pandu juga memperhatikan cara si nomor satu itu dalam membawakan akunnya. Menurutnya pembawaannya begitu natural, seakan-akan seperti mendengar teman dekat sedang bercerita pengalamannya. Meskipun tempat yang dikunjungi sebegitu seramnya, hawa dan aura yang ditampilkan oleh Rafadika membuat hal-hal yang menakutkan itu hilang. Mungkin ini salah satu penyebab kenapa posisinya sulit digeser, terutama bagi mereka yang baru terjun. Yaitu membuat penonton nyaman menonton tayangan mistis tanpa menakuti-nakuti mereka dengan berbagai aksi penampakan atau cerita-cerita seram yang melatar belakangi tempat tersebut.
“Kayaknya gue engga bisa sih nandingin dia, apalagi pembawaan gue agak kaku kayak lagi baca naskah,” ucap Pandu. “oh iya,” jemarinya kembali mengetikan sesuatu. “dia bilang nontonin konten gue, coba sekarang gue cek konten dia,” nama yang diketikan kali ini adalah Dissa, seseorang yang nanti malam akan melakukan penelusuran bersamanya.
Satu video yang ditonton adalah tentang pengalaman penjual makanan yang berjualan hingga dini hari. Yaitu cerita pedagang sate yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Jauh dari tempat-tempat angker ataupun lingkungan yang seram. Tetapi ada satu pengalamannya yang begitu mencenangkan. Ketika suatu malam ada satu keluarga besar datang untuk memesan jamuan besar. Dengan semangat pedagang sate tersebut membuat ratusan tusuk sate sebagaimana yang dipesan. Ia melihat begitu lahapnya satu keluarga besar tersebut, hingga tusuk satenya pun sempat dijilat untuk memakan sisa daging yang masih menempel. Keanehan terjadi saat ada seorang pembeli datang, lalu menepuk pundak sang pedagang sambil berkata.
“Bang, ngapain liat meja kosong?” kata si pembeli. “bikin banyak-banyak buat siapa?” lanjutnya.
Pedagang sate itu menoleh, “kosong? Ini ada satu keluarga lagi pada makan, masa engga keliatan?” kepalanya kembali melihat ke arah meja dan ternyata benar saja, di atas meja panjang itu hanya ada piring-piring yang berisikan sate, tidak ada orang-orang yang sedang makan di sana. “tadi ada kok mas---” seseorang pembeli tadi juga menghilang, padahal tidak ada selang satu menit setelah kepalanya berputar.
Pandu hanya bisa melongo mendengar kisah pedagang sate tersebut. Ketika sedang asik melanjutkan ceritanya, terdengar suara ketukan dari pintunya, membuat nyawa Pandu melayang setengah karena terkejut. Lalu pintu terbuka, sosok Ardit muncul, kelas sorenya tidak jadi dilaksanakan karena sang dosen sedang ada kunjungan ke luar kota. Matanya tertuju pada layar yang menampilkan Dissa di sana dengan seseorang yang sedang di wawancara.
“Wew, lo nontonin Dissa dari tadi?” tanya Ardit dengan begitu santai.
“Wah si geblek, bikin kaget aja,” balas Pandu. “engga, tadi gue cek si Rafadika juga. Ini gue nonton Dissa cuman satu episode, ini juga belum beres.”
“Lah, biasa aja kok lo kayak yang salting. Jangan-jangan….,” Ardit mengkerutkan wajahnya. “cinta pada pandangan pertama?” ucapnya dengan tawa yang begitu besar. “daripada lo terjebak clbk sama Kanindini, kan siapa tau dari sini berlanjut,” ia kemudian duduk di lantai yang beralaskan karpet.
“Lo jangan ngada-ngada, dia itu lebih senior dari kita,” ucap Pandu.
Ardit tidak percaya dengan perkataan sahabatnya itu, bukan berarti Dissa memulai lebih dahulu usianya lebih tua dari mereka. Ponselnya dikeluarkan, menuju mesin pencarian, dengan mengetikan nama Dissa semua infonya keluar dalam waktu yang sangat singkat. Di biodatanya tertera bahwa Dissa lebih tua usianya terpaut 2 tahun dari Pandu dan juga Ardit. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, bukanlah masalah untuk merajut kisah asmara. Ardit pun memperlihatkan layar ponselnya, agar Pandu dapat melihat dengan jelas.
“Cuman beda 2 tahun, bisalah, usia hanyalah angka,” ucap Ardit.
“Eh ngomong-ngomong Gasimah ke mana?” dengan seketika Pandu membelokan arah pembicaraan.
Di langit yang biru, awan tipis-tipis menghiasi menghalangi matahari mengambil semua perhatian. Dua makhluk tak kasat mata sedang melayang di angkasa. Norman meminta Gasimah untuk memberi tahunya di mana letak paling indah yang diberikan oleh kota ini. Berdiri tepat di atas kotanya merupakan jawabannya. Dari sini semuanya terlihat indah, kota tersaji begitu rapat bersandingan dengan alam disekitarnya. Berbeda dengan tempat Norman tinggal dengan Dissa, warna hijau dedaunan pun sudah jarang.
“Apa aku pindah aja tinggalnya di sini?” ucap Norman sambil memandangi Gasimah.
Di tempat berbeda, lingkungan rumah sakit terbengkalai, terjadi guncangan hebat sampai penjaganya mengira ada kejadian gempa bumi.
namakuve dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup