- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#82
41
Quote:
Dua orang teman manusia Gasimah dari tadi hanya melongo saja, mereka bertiga duduk saling bersebrangan. Jarang sekali Gasimah memperhatikan penampilannya, bahkan di kesehariannya, hanya bermodalkan setelan panjang lurus berwarna putih, layaknya penampilan hantu pada umumnya. Tapi kali ini sungguh-sungguh berbeda, jika manusia lain bisa melihatnya maka sudah banyak yang antri hanya untuk berkenalan. Ini membuat Ardit semakin penasaran dengan sosok Norman, yang bisa Gasimah menjadi sangat cantik dan elegan.
“Ih kamu ngeliatnya jangan gitu, kayak orang cabul tau!” sahut Gasimah kepada Ardit.
“Lah, tuh yang cabul si Panwir!” Ardit membelokan pernyataan Gasimah.
“Jangan bawa-bawa gue,” ucap Pandu. “eh emang kamu seyakin itu kalau sosok yang namanya Norman itu pasti datang? Kan kita nanti bukan penelusuran, cuman ngobrol-ngobrol biasa aja,” lanjutnya.
Suasana hangat yang tercipta saat Gasimah datang mendadak berubah menjadi dingin, di luar padahal matahari sedang terik-teriknya. Ardit menyenggol pelan Pandu, yang sama sekali tidak bisa membaca suasana hati seorang perempuan. Pantas saja menurutnya hubungan dengan Kanindini berakhir begitu saja tanpa adanya penjelasan. Ardit mencoba membuat Gasimah kembali nyaman, menurutnya jika Norman itu mengikuti seorang manusia, sudah pasti sosoknya akan muncul.
Gasimah tiba-tiba beranjak dari tempatnya, wajahnya masih menunjukan ketidak senangan, “Aku mau cari angin dulu, nanti kalau butuh tinggal panggil aja,” ucapnya dingin lalu melayang menembus atap.
Ardit menepuk jidatnya, “Kan lo tuh, cewek kalau udah ngambek susah dibalikin ke mode benernya,” keluhnya. “padahal lo bisa ledek aja, ‘duh pake baju rapih mau kemana neng?’”
“Iya-iya gue paham,” ucap Pandu sambil memalingkan wajahnya. “kita tunggu aja kabar dari Dissa, nanti kalau ada Norman kita panggil Gasimah.”
“Masalahnya gini sob, kita kan engga bisa ngeliat Norman? Kalau semisal kita panggil Gasimah terus beneran engga ada, wah bisa kacau ini kedepannya,” dua sahabat itu berpikir bersama mencari solusi.
Dalam lamunan tak berujung itu, akhirnya orang yang dinanti memberikan kabarnya. Sebelumnya meminta maaf karena ketika sampai tidak mengabari, karena ada satu dua hal yang perlu dilakukan. Ardit sebagai jubir tidak mempermasalahkannya. Lalu sebuah nama restoran diberitahu oleh Dissa, tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, keduanya berangkat dalam keadaan lapar karena menunggu kabar dari seseorang yang mengajaknya kolaborasi itu.
Mobil dijalankan, menuju tempat di sebuah pegunungan dingin. Dari kosan Pandu jaraknya cukup jauh, setidaknya keadaan di dalam mobil membuat perjalan mereka berdua terasa nyaman, tanpa harus berjibaku dengan sinar matahari yang menyengat kulit. Tidak ada tanda-tanda Gasimah ikut masuk ke dalam mobil. Semuanya terasa sepi, biasanya aja saja hal yang dibicarakan hantu cantik itu. Ban berputar beradu dengan aspal panas, tidak terasa bangunan yang dijadikan tempat pertemuan sudah terlihat.
“Ada pesannya nih langsung ke lantai dua aja, udah dipesan,” ucap Ardit.
“Okay,” jawab Pandu yang menyetir mobilnya sendiri.
Saat berada diparkiran, seorang bapak berusia menuju lanjut menyapa Pandu dan Ardit. Orang itu adalah supirnya Dissa. Berdiri santai di samping mobil hitam milik Dissa sambil menikmati sebuah rokok. Cuaca dingin sangat cocok untuk mengebulkan rongga mulut dan tenggorokan. Ia berkata Dissa sudah menunggu di dalam, tempatnya sudah dipesan untuk melakukan suting. Ardit dan Pandu tidak lupa mengucapkan terima kasihnya meskipun sudah mengetahui tentang hal itu.
Keduanya menaiki tangga kayu setelah diberi arahan oleh pelayan tepat saat mereka tadi masuk. Ardit tersenyum lebar merasa dirinya menjadi orang terkenal berkat tampil di video permintaan Dheril waktu itu. Padahal hal sebenarnya adalah Dissa sudah memberikan foto mereka berdua kepada pelayan di bawah agar mereka tidak menerka-nerka rupa mereka. Sebuah lambaian tangan terlihat dari ujung tangga, Dissa seorang diri duduk tanpa adanya kamera disekitarnya.
“Mayan coy,” bisik Ardit setelah melihat sosok Dissa.
“Lo kan ada Lumba-lumba, kasian dia,” ucapan Pandu ini sukses membuat Ardit cemberut.
Pandu dan Ardit duduk satu meja dengan Dissa, mereka saling mengenal diri masing-masing. Tidak ada kamera yang dipasang karena Dissa ingin memberikan beberapa daftar pertanyaan yang nantinya akan muncul. Ini sudah dilakukannya sebelum acara dimulai, agar narasumber nyaman dengan pertanyaan yang ada, jika dirasa ada yang menyinggung, narasumber berhak menolak. Selain Pandu, Ardit juga ikut membaca beberapa pertanyaan itu, ada satu pertanyaan yang menurutnya cukup tajam.
“Pan, ini lo yakin mau jawab?” Ardit menunjuk satu pertanyaan.
“Mana?” Pandu melihatnya, ternyata sebuah pertanyaan yang mengungkit kasusnya dulu dengan Dheril. “ini gampang, jawab aja semua salah paham,” Ardit mengangguk sambil tersenyum, dalam benaknya sangat jarang sahabatnya itu mempunyai pikiran yang jernih.
“Bagaimana? Semua aman?” tanya Dissa.
Pandu mengangguk, lalu acara tanya jawab pun segera dimulai, setelah Dissa menyiapkan semua peralatannya. Ardit ikut membantu, tidak enak hati jika melihat seorang perempuan begitu repot menyiapkan semuanya.
Sementara itu Gasimah berada di atap restoran sambil memandangi pepohonan jauh yang menghiasi pegunungan. Wajahnya murung karena sosok Norman ternyata tidak ada. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, Gasimah menjadi kesal. Padahal tempo hari sudah diperingatkan jika sosok itu masih mengikutinya, tidak ada belas kasihan seperti waktu itu.
“Kan aku udah bilang, JANGAN IKUT---,” Gasimah menoleh, ternyata bukan sosok pendek waktu itu yang berjalan mendekatinya. “kamu….”
“Hei, kenapa di atas? Dissa udah pesan satu lantai lho, di bawah aja gimana? Lebih nyaman duduknya?” ucap Norman dengan setelan manusianya yang begitu rapih, sebuah kemeja panjang polos yang bagian lengannya dilipat, dipadukan dengan dalaman kaos polos berwarna putih
“Ih kamu ngeliatnya jangan gitu, kayak orang cabul tau!” sahut Gasimah kepada Ardit.
“Lah, tuh yang cabul si Panwir!” Ardit membelokan pernyataan Gasimah.
“Jangan bawa-bawa gue,” ucap Pandu. “eh emang kamu seyakin itu kalau sosok yang namanya Norman itu pasti datang? Kan kita nanti bukan penelusuran, cuman ngobrol-ngobrol biasa aja,” lanjutnya.
Suasana hangat yang tercipta saat Gasimah datang mendadak berubah menjadi dingin, di luar padahal matahari sedang terik-teriknya. Ardit menyenggol pelan Pandu, yang sama sekali tidak bisa membaca suasana hati seorang perempuan. Pantas saja menurutnya hubungan dengan Kanindini berakhir begitu saja tanpa adanya penjelasan. Ardit mencoba membuat Gasimah kembali nyaman, menurutnya jika Norman itu mengikuti seorang manusia, sudah pasti sosoknya akan muncul.
Gasimah tiba-tiba beranjak dari tempatnya, wajahnya masih menunjukan ketidak senangan, “Aku mau cari angin dulu, nanti kalau butuh tinggal panggil aja,” ucapnya dingin lalu melayang menembus atap.
Ardit menepuk jidatnya, “Kan lo tuh, cewek kalau udah ngambek susah dibalikin ke mode benernya,” keluhnya. “padahal lo bisa ledek aja, ‘duh pake baju rapih mau kemana neng?’”
“Iya-iya gue paham,” ucap Pandu sambil memalingkan wajahnya. “kita tunggu aja kabar dari Dissa, nanti kalau ada Norman kita panggil Gasimah.”
“Masalahnya gini sob, kita kan engga bisa ngeliat Norman? Kalau semisal kita panggil Gasimah terus beneran engga ada, wah bisa kacau ini kedepannya,” dua sahabat itu berpikir bersama mencari solusi.
Dalam lamunan tak berujung itu, akhirnya orang yang dinanti memberikan kabarnya. Sebelumnya meminta maaf karena ketika sampai tidak mengabari, karena ada satu dua hal yang perlu dilakukan. Ardit sebagai jubir tidak mempermasalahkannya. Lalu sebuah nama restoran diberitahu oleh Dissa, tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, keduanya berangkat dalam keadaan lapar karena menunggu kabar dari seseorang yang mengajaknya kolaborasi itu.
Mobil dijalankan, menuju tempat di sebuah pegunungan dingin. Dari kosan Pandu jaraknya cukup jauh, setidaknya keadaan di dalam mobil membuat perjalan mereka berdua terasa nyaman, tanpa harus berjibaku dengan sinar matahari yang menyengat kulit. Tidak ada tanda-tanda Gasimah ikut masuk ke dalam mobil. Semuanya terasa sepi, biasanya aja saja hal yang dibicarakan hantu cantik itu. Ban berputar beradu dengan aspal panas, tidak terasa bangunan yang dijadikan tempat pertemuan sudah terlihat.
“Ada pesannya nih langsung ke lantai dua aja, udah dipesan,” ucap Ardit.
“Okay,” jawab Pandu yang menyetir mobilnya sendiri.
Saat berada diparkiran, seorang bapak berusia menuju lanjut menyapa Pandu dan Ardit. Orang itu adalah supirnya Dissa. Berdiri santai di samping mobil hitam milik Dissa sambil menikmati sebuah rokok. Cuaca dingin sangat cocok untuk mengebulkan rongga mulut dan tenggorokan. Ia berkata Dissa sudah menunggu di dalam, tempatnya sudah dipesan untuk melakukan suting. Ardit dan Pandu tidak lupa mengucapkan terima kasihnya meskipun sudah mengetahui tentang hal itu.
Keduanya menaiki tangga kayu setelah diberi arahan oleh pelayan tepat saat mereka tadi masuk. Ardit tersenyum lebar merasa dirinya menjadi orang terkenal berkat tampil di video permintaan Dheril waktu itu. Padahal hal sebenarnya adalah Dissa sudah memberikan foto mereka berdua kepada pelayan di bawah agar mereka tidak menerka-nerka rupa mereka. Sebuah lambaian tangan terlihat dari ujung tangga, Dissa seorang diri duduk tanpa adanya kamera disekitarnya.
“Mayan coy,” bisik Ardit setelah melihat sosok Dissa.
“Lo kan ada Lumba-lumba, kasian dia,” ucapan Pandu ini sukses membuat Ardit cemberut.
Pandu dan Ardit duduk satu meja dengan Dissa, mereka saling mengenal diri masing-masing. Tidak ada kamera yang dipasang karena Dissa ingin memberikan beberapa daftar pertanyaan yang nantinya akan muncul. Ini sudah dilakukannya sebelum acara dimulai, agar narasumber nyaman dengan pertanyaan yang ada, jika dirasa ada yang menyinggung, narasumber berhak menolak. Selain Pandu, Ardit juga ikut membaca beberapa pertanyaan itu, ada satu pertanyaan yang menurutnya cukup tajam.
“Pan, ini lo yakin mau jawab?” Ardit menunjuk satu pertanyaan.
“Mana?” Pandu melihatnya, ternyata sebuah pertanyaan yang mengungkit kasusnya dulu dengan Dheril. “ini gampang, jawab aja semua salah paham,” Ardit mengangguk sambil tersenyum, dalam benaknya sangat jarang sahabatnya itu mempunyai pikiran yang jernih.
“Bagaimana? Semua aman?” tanya Dissa.
Pandu mengangguk, lalu acara tanya jawab pun segera dimulai, setelah Dissa menyiapkan semua peralatannya. Ardit ikut membantu, tidak enak hati jika melihat seorang perempuan begitu repot menyiapkan semuanya.
Sementara itu Gasimah berada di atap restoran sambil memandangi pepohonan jauh yang menghiasi pegunungan. Wajahnya murung karena sosok Norman ternyata tidak ada. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, Gasimah menjadi kesal. Padahal tempo hari sudah diperingatkan jika sosok itu masih mengikutinya, tidak ada belas kasihan seperti waktu itu.
“Kan aku udah bilang, JANGAN IKUT---,” Gasimah menoleh, ternyata bukan sosok pendek waktu itu yang berjalan mendekatinya. “kamu….”
“Hei, kenapa di atas? Dissa udah pesan satu lantai lho, di bawah aja gimana? Lebih nyaman duduknya?” ucap Norman dengan setelan manusianya yang begitu rapih, sebuah kemeja panjang polos yang bagian lengannya dilipat, dipadukan dengan dalaman kaos polos berwarna putih
kulipriok dan namakuve memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup