- Beranda
- Stories from the Heart
Tersesat di Masa Lalu
...
TS
andrysetyawann
Tersesat di Masa Lalu

PROLOG
Sedikit sulit untuk mengingat kisah ini kurang lebih sudah sepuluh tahun. Mungkin kisah ini hanya akan menjadi pengingat seperti apa aku dulu, ini juga menjadi refleksi untuk diriku saat ini, sudah sejauh apa masa lalu itu mengubahku, entah menjadi lebih baik atau buruk, tentu sulit untuk menilai diri sendiri.
Perjalanan hidup ini memang dipenuhi kenangan, entah itu kenangan baik atau buruk dan entah kita menginginkannya atau tidak, kenangan itu selalu datang tanpa permisi dan kesungkanan. Ketika kenangan itu datang menghampiri seolah kita bisa terlempar ke masa di mana kenangan itu berlangsung, mungkin tidak seakurat saat itu, tapi kita hampir bisa merasakan dingin atau hangat, dan kita bisa menghirup aroma saat itu entah basahnya tanah atau aroma parfumnya.
Mungkin aku yang terlalu melankolis ketika menyikapi sebuah kenangan. Tapi tak apa, kalian juga bisa menyikapi kenangan kalian dengan sesuka hati kalian.
Selalu ada pemicu dalam setiap munculnya kenangan, entah itu hal kecil atau besar. Menurutku itulah yang membuat “Kenangan” Itu menjadi sangat istimewa dan unik.
Untuk menghargai anugerah yang bernama “Kenangan” Itu aku akan mencoba menjadikannya abadi dalam tulisan ini, dan terima kasih untuk yang ikut mengabadikannya dengan cara membacanya.
"Aku hari ini adalah aku yang terbentuk dari kenangan, entah itu kenangan manis atau kenangan pahit."
Index
2.Luna *New
Diubah oleh andrysetyawann 07-08-2024 16:16
innallaras dan 15 lainnya memberi reputasi
16
1.4K
43
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andrysetyawann
#1
1. Lian
Gemericik suara air yang dituangkan ke cangkir terdengar nyaring, aroma kopi yang khas merayap ke hidungku. Aku adalah pria yang sedang kecanduan kopi arabika akhir-akhir ini, minimal sehari satu cangkir, dan ini adalah cangkir keduaku untuk hari ini. Selain kecanduan kopi aku juga seorang perokok berat, entah kenapa gaya hidup tidak sehat ini aku pertahankan. Terkadang aku ingin mencoba mengubah gaya hidup yang tidak sehat ini.
“Ngopi, Mas?” Sapa tetangga kosku yang sedang lewat dan melihatku menyeduh kopi kebetulan aku tidak menutup pintu.
“Iya, Mas. Mau?” Jawabku dan berbasa-basi menawarkan kopi.
“Nggak, Mas, mau mandi dulu, baru balik juga ini.” Jawabnya dan aku hanya mengiyakannya.
Laki-laki itu adalah tetangga baru kosku, bahkan kami belum sempat berkenalan, bahkan untuk sekedar bertanya nama saja belum sempat. Kemungkinan dia karyawan di perusahaan ternama dan terlihat cukup sibuk, berangkat kerja pagi dan pulang sampai selarut ini. Terkadang aku suka iri dengan orang-orang sibuk seperti tetanggaku itu. Tapi bagaimanapun hidup harus tetap disyukuri, aku pun sudah merasa bersyukur bisa bekerja di tempatku ini, walaupun dengan gaji yang tidak seberapa tapi, aku sudah merasa cukup, dan masih bisa merasakan waktu senggang yang diinginkan beberapa orang.
Aku menenteng cangkir kopiku ke balkon, kos ini memang menyediakan balkon dengan sofa yang cukup bagus tapi anehnya hanya ada di lantai dua saja, yang kebetulan aku mendapatkan kamar di lantai dua ini. Jadi kalau akhir pekan balkon ini terkadang cukup ramai karena anak-anak dari lantai tiga dan satu berkumpul di balkon ini. Tapi malam ini hanya aku yang duduk sendirian di sini ditemani sayup-sayup lagu dari Andy Liany dari kamar kos nomor tiga puluh, dan mungkin orangnya pun sudah ketiduran, karena lelah seharian bekerja, memang kebanyakan yang tinggal di kos ini adalah karyawan dari pabrik mobil yang cukup terkenal.
Aku menyalakan sebatang rokok dan menyeruput kopi, sambil menikmati hembusan angin malam yang lembut dan dingin. Dengan ketenangan suasana malam ini tiba-tiba ingatanku terlempar jauh beberapa tahun lalu, di mana aku masih mengenakan seragam sekolah menengah atas, masa keemasan hidup kata sebagian orang, di mana banyak hal terjadi, mulai dari kenakalan belajar merokok, dan bolos sekolah, dan masa itu pula mulai mengenal cinta. Aku bukanlah murid yang pandai saat itu, cenderung nakal dan sering mendapat panggilan orang tua. Tapi tetap saja itu adalah masa yang akan selalu dirindukan. Dan di masa sekolah itulah aku mulai mengenal dia.
Dialah orang yang sedikit banyak mengubah hidupku seperti ini. Awal aku mengenalnya hanya melalui media sosial, dia rajin membagikan cerita di media sosialnya entah hanya keluh kesah atau gosip tentang idolanya. Aku hampir tidak pernah melewatkan apa yang dia bagikan.
Dia perempuan yang cukup cantik sebenarnya tapi entah kenapa dia tidak begitu populer, tak banyak yang mengenalnya bahkan aku sempat menanyakannya kepada temanku yang satu sekolah dengannya, mungkin karena dia tidak terlalu banyak bicara, cenderung kutu buku dan berkacamata. Sayangnya kami berbeda sekolah, jadi cukup sulit untuk sekadar berinteraksi dan hanya bisa mengandalkan media sosial. Aku hanya bisa berinteraksi melalui media sosial beberapa dan beberapa kali bersinggungan di kolom komentar, bahkan aku belum memiliki keberanian untuk mengirimkan pesan secara personal. Entah kenapa setiap memiliki keinginan untuk mengirim pesan, justru muncul ketakutan yang mengalahkan keinginan itu.
Terkadang ketakutan lebih sering mengalahkan keinginan, dan keinginan itu seolah tunduk pasrah tanpa perlawanan menuruti ketakutan yang entah datang dari mana. Ketika ketakutan menguasai diri kemungkinan diri akan kehilangan sesuatu dan mungkin ketakutan juga akan menyelamatkan kita dari hal yang menyakikan.
Aku pernah mendengar kalimat “Kita akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.” Terkadang aku ragu dengan kalimat itu, dan entah kenapa aku juga sangat bisa percaya.Sampai pada malam kejadian itu, malam di mana aku sedang pergi bersama tiga orang temanku untuk menonton film, entah itu takdir atau hanya kebetulan aku bertemu dengannya, kami hanya saling beradu pandang tanpa mengatakan sepatah kata pun dan dia pun berlalu begitu saja dan aku masih berusaha melihatnya dari sudut mataku. malam itu adalah kali pertama aku melihatnya secara langsung, matanya yang sayu dibalut kacamata, memiliki hidung yang mancung, dan memiliki rambut yang hitam. Aku merasa sangat kecewa pada diriku sendiri karena tidak berani menyapanya dan hanya bisa mematung memandangnya berlalu melewatiku.
Seminggu sejak kejadian malam itu berlalu semua berjalan seperti biasa saja, di media sosial kami masih sering saling membalas komentar, dan aku tidak pernah menyinggung kejadian pada malam itu, dan dia juga tidak menanyakan atau mungkin dia memang tidak mengetahui bahwa itu aku. Dan malam harinya aku sedang berada di kedai kopi yang tidak jauh dari rumah bersama temanku yang bernama Amar, dia salah satu temanku yang ikut ke bioskop pada malam itu.
“Kenapa kamu gak tanya?” Ujar temanku yang juga melihatnya.
“Apakah, perlu?” Jawabku.
“Kurasa perlu, agar kamu gak mati penasaran.” Ujarnya sambil cengengesan.
Ada benarnya juga setelah aku pikir-pikir, apa harus aku tanyakan? Tapi aku harus bertanya mulai dari mana? Setelah lama memikirkannya, aku memutuskan tidak bertanya. Ya, beginilah aku selalu memiliki keraguan yang besar bahkan dalam hal yang cukup sepele. Aku menaruh ponsel di meja, aku asik mengobrol dengan temanku mulai dari musik, game, dan ingin memulai bisnis kecil-kecilan berjualan kaos. Tiba-tiba ponselku menyala dan muncul pemberitahuan sebuah pesan personal dari media sosialku sebuah nama Lian muncul.
“Hai, minggu lalu aku melihat laki-laki di Bioskop mirip kamu”
“Ngopi, Mas?” Sapa tetangga kosku yang sedang lewat dan melihatku menyeduh kopi kebetulan aku tidak menutup pintu.
“Iya, Mas. Mau?” Jawabku dan berbasa-basi menawarkan kopi.
“Nggak, Mas, mau mandi dulu, baru balik juga ini.” Jawabnya dan aku hanya mengiyakannya.
Laki-laki itu adalah tetangga baru kosku, bahkan kami belum sempat berkenalan, bahkan untuk sekedar bertanya nama saja belum sempat. Kemungkinan dia karyawan di perusahaan ternama dan terlihat cukup sibuk, berangkat kerja pagi dan pulang sampai selarut ini. Terkadang aku suka iri dengan orang-orang sibuk seperti tetanggaku itu. Tapi bagaimanapun hidup harus tetap disyukuri, aku pun sudah merasa bersyukur bisa bekerja di tempatku ini, walaupun dengan gaji yang tidak seberapa tapi, aku sudah merasa cukup, dan masih bisa merasakan waktu senggang yang diinginkan beberapa orang.
Aku menenteng cangkir kopiku ke balkon, kos ini memang menyediakan balkon dengan sofa yang cukup bagus tapi anehnya hanya ada di lantai dua saja, yang kebetulan aku mendapatkan kamar di lantai dua ini. Jadi kalau akhir pekan balkon ini terkadang cukup ramai karena anak-anak dari lantai tiga dan satu berkumpul di balkon ini. Tapi malam ini hanya aku yang duduk sendirian di sini ditemani sayup-sayup lagu dari Andy Liany dari kamar kos nomor tiga puluh, dan mungkin orangnya pun sudah ketiduran, karena lelah seharian bekerja, memang kebanyakan yang tinggal di kos ini adalah karyawan dari pabrik mobil yang cukup terkenal.
Aku menyalakan sebatang rokok dan menyeruput kopi, sambil menikmati hembusan angin malam yang lembut dan dingin. Dengan ketenangan suasana malam ini tiba-tiba ingatanku terlempar jauh beberapa tahun lalu, di mana aku masih mengenakan seragam sekolah menengah atas, masa keemasan hidup kata sebagian orang, di mana banyak hal terjadi, mulai dari kenakalan belajar merokok, dan bolos sekolah, dan masa itu pula mulai mengenal cinta. Aku bukanlah murid yang pandai saat itu, cenderung nakal dan sering mendapat panggilan orang tua. Tapi tetap saja itu adalah masa yang akan selalu dirindukan. Dan di masa sekolah itulah aku mulai mengenal dia.
Dialah orang yang sedikit banyak mengubah hidupku seperti ini. Awal aku mengenalnya hanya melalui media sosial, dia rajin membagikan cerita di media sosialnya entah hanya keluh kesah atau gosip tentang idolanya. Aku hampir tidak pernah melewatkan apa yang dia bagikan.
Dia perempuan yang cukup cantik sebenarnya tapi entah kenapa dia tidak begitu populer, tak banyak yang mengenalnya bahkan aku sempat menanyakannya kepada temanku yang satu sekolah dengannya, mungkin karena dia tidak terlalu banyak bicara, cenderung kutu buku dan berkacamata. Sayangnya kami berbeda sekolah, jadi cukup sulit untuk sekadar berinteraksi dan hanya bisa mengandalkan media sosial. Aku hanya bisa berinteraksi melalui media sosial beberapa dan beberapa kali bersinggungan di kolom komentar, bahkan aku belum memiliki keberanian untuk mengirimkan pesan secara personal. Entah kenapa setiap memiliki keinginan untuk mengirim pesan, justru muncul ketakutan yang mengalahkan keinginan itu.
Terkadang ketakutan lebih sering mengalahkan keinginan, dan keinginan itu seolah tunduk pasrah tanpa perlawanan menuruti ketakutan yang entah datang dari mana. Ketika ketakutan menguasai diri kemungkinan diri akan kehilangan sesuatu dan mungkin ketakutan juga akan menyelamatkan kita dari hal yang menyakikan.
Aku pernah mendengar kalimat “Kita akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.” Terkadang aku ragu dengan kalimat itu, dan entah kenapa aku juga sangat bisa percaya.Sampai pada malam kejadian itu, malam di mana aku sedang pergi bersama tiga orang temanku untuk menonton film, entah itu takdir atau hanya kebetulan aku bertemu dengannya, kami hanya saling beradu pandang tanpa mengatakan sepatah kata pun dan dia pun berlalu begitu saja dan aku masih berusaha melihatnya dari sudut mataku. malam itu adalah kali pertama aku melihatnya secara langsung, matanya yang sayu dibalut kacamata, memiliki hidung yang mancung, dan memiliki rambut yang hitam. Aku merasa sangat kecewa pada diriku sendiri karena tidak berani menyapanya dan hanya bisa mematung memandangnya berlalu melewatiku.
Seminggu sejak kejadian malam itu berlalu semua berjalan seperti biasa saja, di media sosial kami masih sering saling membalas komentar, dan aku tidak pernah menyinggung kejadian pada malam itu, dan dia juga tidak menanyakan atau mungkin dia memang tidak mengetahui bahwa itu aku. Dan malam harinya aku sedang berada di kedai kopi yang tidak jauh dari rumah bersama temanku yang bernama Amar, dia salah satu temanku yang ikut ke bioskop pada malam itu.
“Kenapa kamu gak tanya?” Ujar temanku yang juga melihatnya.
“Apakah, perlu?” Jawabku.
“Kurasa perlu, agar kamu gak mati penasaran.” Ujarnya sambil cengengesan.
Ada benarnya juga setelah aku pikir-pikir, apa harus aku tanyakan? Tapi aku harus bertanya mulai dari mana? Setelah lama memikirkannya, aku memutuskan tidak bertanya. Ya, beginilah aku selalu memiliki keraguan yang besar bahkan dalam hal yang cukup sepele. Aku menaruh ponsel di meja, aku asik mengobrol dengan temanku mulai dari musik, game, dan ingin memulai bisnis kecil-kecilan berjualan kaos. Tiba-tiba ponselku menyala dan muncul pemberitahuan sebuah pesan personal dari media sosialku sebuah nama Lian muncul.
“Hai, minggu lalu aku melihat laki-laki di Bioskop mirip kamu”
Diubah oleh andrysetyawann 07-08-2024 16:08
regmekujo dan 8 lainnya memberi reputasi
9