- Beranda
- Stories from the Heart
Dalam Dekapan Kabut
...
TS
meta.morfosis
Dalam Dekapan Kabut

Izinkan saya kembali bercerita tentang sebuah kejadian di masa lalu
dalam dekapan kabut, aku terhangatkan oleh kalimat cintamu, kalimat sederhana penuh makna yang terucap diantara hamparan bunga bunga edelweis yang menjadi simbol keabadian...
Chapter :
Chapter :
DDK - Chapter 1
DDK - Chapter 2
DDK - Chapter 3
DDK - Chapter 4
DDK - Chapter 5
DDK - Chapter 6
DDK - Chapter 7
DDK - Chapter 8
DDK - Chapter 9
DDK - Chapter 10
DDK - Chapter 11
DDK - Chapter 12
DDK - Chapter 13
DDK - Chapter 14
DDK - Chapter 15
DDK - Chapter 16
Diubah oleh meta.morfosis 03-09-2024 12:35
indrag057 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
1.9K
48
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#8
Chapter 6
Langit Yang Terasa Runtuh
Langit Yang Terasa Runtuh
Mengakhiri perkataanku itu, ismed memperlihatkan ekspresi wajahnya yang menunjukan bahwa saat ini ismed tengah memikirkan sesuatu yang terhubung dengan kejadian menyeramkan yang aku alami itu dan entah mengapa saat ini aku menduga ismed tengah berupaya untuk membangun sebuah opini yang nantinya akan dipergunakannya untuk mempengaruhiku agar aku mempercayai keyakinannya yang meyakini anindia memiliki pelindung ghaib dan kini dalam aktifitasku yang baru saja menyulutkan sebatang rokok yang akan menemaniku dalam perbincangan ini, dari mulut ismed terucap perkataan yang mana perkataannya itu kini membuktikan kebenaran dugaanku.
“ astaga med masih saja pemikiranmu itu seperti itu ”
“ yaa mau bagaimana lagi pang... memang itu yang bisa aku tangkap dari kejadian menyeramkan yang kamu alami itu ” ujar ismed sambil memperhatikan asap rokok yang terhembus dari mulutku.
“ jujur saja med, aku mempunyai pandangan yang berbeda denganmu ”
“ pandangan yang berbeda seperti apa pang ? ”
“ apakah mungkin yaa med kemunculan mahluk ghaib yang berwujud almarhum arif itu bertujuan untuk berkomunikasi denganku ? ”
Dalam aktifitasnya yang saat ini tengah menghisap batangan rokoknya, gelak tawa ismed seketika pecah karena mendengar pertanyaanku itu dan hal itu kini telah memancing tatapan mata dari beberapa pelanggan warung kopi yang terusik dengan gelak tawanya itu.
“ brengsek kamu med, ngapain juga sih kamu tertawa seperti itu ” ujarku dalam rasa kesal, terlihat saat ini ismed mulai meredakan gelak tawanya.
“ kamunya juga sih pang yang gila ”
“ loh... aku gila bagaimana med ? ”
“ aku memakai logika sederhana saja pang, kamu itu enggak kenal dekat dengan almarhum arif dan enggak pernah juga mempunyai urusan dengan almarhum arif, dengan kata lain selama almarhum arif hidup kalian sama sekali enggak pernah berkomunisi, lalu apa alasannya almarhum arif itu ingin berkomunikasi denganmu di saat dirinya telah meninggal dunia ”
Untuk sejenak aku terdiam di dalam menanggapi perkataan ismed itu, perkataannya yang sarat dengan kebenaran itu kini telah membuatku berpikir keras agar aku bisa mempertahankan keyakinanku yang menduga kemunculan sosok penampakan ghaib yang berwujud arif itu bertujuan untuk berkomunikasi denganku dan pada akhirnya aku kini mempunyai jawaban yang bisa mematahkan logika yang dibangunnya itu.
“ pelindung ghaib ” gumamku yang memancing tatapan mata ismed tertuju ke wajahku.
“ loh... kok kamu jadi mempercayai anin memiliki pelindung ghaib pang ”
“ dengan aku mempercayainya med, aku telah memberikanmu alasan mengapa penampakan ghaib yang berwujud almarhum arif itu ingin berkomunikasi denganku ”
“ maksudmu itu— ”
“ iya med, penampakan ghaib yang berwujud almarhum arif itu bisa jadi ingin memberitahukan sesuatu yang berhubungan dengan pelindung ghaib yang dimiliki anin itu, kalau kamu ingin mematahkan dugaanku itu lebih baik kamu patahkan dulu dugaanmu yang menduga anin memiliki pelindung ghaib ”
Kini ismed hanya bisa terdiam di dalam menanggapi perkataanku itu, mendapati hal itu tanpa berpikir panjang lagi aku langsung meminta kepada ismed untuk membantuku mencari jawaban dari dugaanku itu dan pada akhirnya kini selepas dari beberapa alasan yang ismed berikan untuk menolak permintaanku itu, perkataanku yang mengatakan bahwa aku akan tetap mencari jawaban dari dugaanku itu tanpa memperdulikan lagi adanya bantuan dari ismed kini telah membuat ismed menyatakan kesanggupannya untuk membantuku mencari jawaban dari dugaanku itu.
“ nanti ketika kamu memiliki waktu luang, aku akan mengajakmu mengunjungi kawan lamaku yang mungkin bisa membantumu mendapatkan jawaban dari dugaanmu itu ”
Mengawali minggu pagi yang berselimutkan awan hitam, aku menarik lagi selimutku yang tersingkap untuk melindungi tubuhku ini dari hawa dingin yang saat ini belum beranjak pergi dari perkampunganku, keputusanku yang memutuskan untuk kembali lagi merebahkan diri selepas dari sholat subuh yang telah aku laksanakan kini telah membuatku merasa enggan untuk beranjak turun dari tempat tidur, terlihat saat ini waktu telah menunjukan pukul setengah enam pagi dan itu artinya aku telah bermalas malasan di atas tempat tidurku ini selama kurang lebih tiga puluh menit lamanya.
“ siapa itu ? ” tanyaku di dalam hati karena mendapati adanya pergerakan pada gagang pintu kamar, menyadari saat ini aku merasa enggan untuk terlibat pembicaraan dengan seseorang yang akan merusak keinginanku untuk melanjutkan tidur, aku putuskan untuk memejamkan mataku dengan harapan seseorang yang memasuki kamarku ini tidak akan berlama lama di dalam kamar karena mendapati aku yang masih tertidur, hanya saja kini selepas dari beberapa menit yang telah aku lalui, ketiadaan aktifitas seseorang di dalam kamarku ini kini telah membuatku membuka pejaman mata dan di saat itulah anto memberikan kejutan berupa gelak tawanya yang mentertawakan kegagalanku dalam bersandiwara.
“ brengsek kamu to, pagi pagi seperti ini sudah mengganggu orang saja ” masih dalam gelak tawanya yang belum terhenti, anto menaiki tempat tidurku lalu merebahkan tubuhnya di sampingku.
“ kang kemarin itu anto habis bertemu dengan ustad mulia dan ustad mulia menitip pesan untuk akang ” ujar anto merujuk pada ustad mulia yang menjadi pendakwah agama di kampungku ini dan kini begitu aku mendapati pemberitahuan anto itu, aku langsung menduga duga kemungkinan apa yang membuat ustad mulia menitip pesan untukku.
“ to, aku ini jarang bertemu dengan ustad mulia kok tiba tiba ustad mulia menitip pesan untukku sih ”
Mendapati saat ini anto tidak menanggapi perkataanku itu, aku menempatkan tubuhku dalam posisi duduk di tempat tidur dan apa yang aku lakukan ini kini dilakukan juga oleh anto.
“ memangnya ustad mulia menitip pesan apa to ? ”
“ ustad mulia berpesan agar akang memenuhi setiap janji akang karena hal itu akan menghindari kemungkinan akang— ”
Belum sempat anto mengakhiri perkataannya itu rasa kekesalanku pada candaannya kini telah mengantarkan mendaratnya telapak tanganku di mulutnya, melihat ekspresi wajah anto yang saat ini menunjukan rasa bahagianya karena telah berhasil menggodaku, aku hanya bisa menanggapinya dengan gelak tawa.
“ maaf kang, anto benar benar merasa penasaran untuk mengetahui kejadian yang akang alami itu ”
Untuk sejenak aku terdiam, mengembalikan ingatanku pada ini kejadian menyeramkan yang aku alami, hingga akhirnya kini selepas dari aku yang telah menceritakannya kepada anto, anto menanggapinya dengan ekspresi wajah yang menunjukan rasa kekhawatirannya akan kemungkinan kejadian menyeramkan yang aku alami itu akan dialaminya juga.
“ akang yakin sesuatu yang bersentuhan dengan wajah akang itu adalah teman akang yang sudah meninggal itu ? ”
“ seratus persen yakin to karena akang mengenali suaranya ”
“ yaa tuhan... ternyata kejadian menyeramkan seperti itu bukan hanya terjadi di film film saja yaa kang ” aku terdiam, membiarkan anto yang saat ini mulai bermain main dengan imajinasinya, hingga akhirnya kini setelah beberapa saat lamanya kami terdiam, dari mulutku ini terucap pertanyaan kepada anto yang menanyakan tentang kepastian dari kepulangan bapak hari ini.
“ bapak sudah pasti pulang kang, hari ini kan memang jadwalnya bapak pulang, mungkin baru siang nanti bapak tiba di rumah ” anto beranjak turun dari tempat tidur lalu berjalan menghampiriku, tatapan matanya kini tertuju ke halaman rumah.
“ ada apa to ? ”
“ anto mau membeli bubur untuk ibu dulu kang, hari ini teh anti enggak bisa membelikannya karena sedang enggak enak badan ”
“ teh anti sedang enggak enak badan ? ” tanyaku mempertegas perkataan anto, anto menganggukan kepalanya.
“ iya kang, semalam itu anto melihat teh anti muntah muntah beberapa kali ”
“ mungkin teh anti kelelahan menjaga ibu, yaa sudah selagi kamu membeli bubur biar akang yang menjaga ibu ”
Dikarenakan saat ini sudah tidak memiliki lagi pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada anto, aku meminta kepada anto untuk segera membelikan bubur untuk ibu, hingga akhirnya kini selang beberapa saat dari kepergian anto, aku memutuskan untuk keluar dari dalam kamar karena saat ini aku merasa sangat khawatir dengan kondisi kesehatan anti.
“ kamu kenapa ti ? ”
Bukanlah hal yang mudah membuka pembicaraan dengan seseorang yang masih menyimpan rasa kesalnya kepadaku, dalam posisiku yang saat ini telah berada di dalam kamar anti, aku mendapati anti tengah terbaring di tempat tidur dan kini begitu anti mendapati kehadiranku ini, anti menatapku dengan penuh ketidaksukaan dan memintaku untuk keluar dari dalam kamarnya.
“ ti, akang ini hanya ingin memastikan kesehatan kamu bukan membuka pertengkaran baru yang akan membuat hubungan kita sebagai abang dan adik menjadi— ”
Baru saja aku hendak menyelesaikan perkataanku itu, secara tiba tiba anti beranjak bangun dari tempat tidur lalu berlari keluar dari dalam kamar, firasatku yang mengatakan adanya sesuatu yang kurang baik pada diri anti kini membuatku memutuskan untuk mengikuti anti yang saat ini berlari ke arah kamar mandi lalu memasukinya, hinggga akhirnya kini diantara keberadaanku yang telah berdiri di depan pintu kamar mandi, suara anti yang tengah memuntahkan sesuatu kini telah menghadirkan rasa kekhawatiran di hatiku atas kemungkinan anti tengah menyembunyikan sesuatu yang tidak aku inginkan.
“ duh... perasaanku ini kok jadi enggak enak yaa ” gumamku di dalam hati, mendapati saat ini anti masih memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi, kata hatiku yang mengatakan agar aku menguji kebenaran dari rasa kekhawatiran yang aku rasakan itu dengan melakukan sesuatu kini telah mengantarkan langkah kakiku menuju ke kamar anti dan pada akhirnya kini dalam posisiku yang telah berada di dalam kamar anti, kecurigaanku pada kemungkinan anti menyembunyikan sesuatu di dalam lemarinya kini telah membuatku memutuskan untuk memeriksa isi lemari anti.
“ yaa tuhann... ”
Hanya kalimat itulah yang bisa terucap dari mulutku ini ketika aku mendapati sesuatu yang tidak ingin aku temukan kini aku temukan di dalam lemari anti, dalam rasa amarah yang saat ini aku rasakan akibat dari apa yang aku temukan itu, anti yang baru saja hendak memasuki kamar kini memilih untuk berdiam diri di pintu kamar dan hal itu kini telah menjadi pemicu meledaknya rasa amarahku dalam bentuk tindakan yaitu berupa tarikan tanganku yang menarik anti untuk masuk ke dalam kamar dan kini dalam posisi anti yang telah memasuki kamar, aku segera menutup pintu kamar untuk menghindari terdengarnya pertengkaran kami ini oleh ibu yang saat ini tengah beristirahat di dalam kamarnya.
“ apa ini ti ? ” tanyaku dengan suara bergetar, sebuah alat tes kehamilan yang saat ini tergenggam di tanganku kini aku perlihatkan di hadapan wajah anti.
“ kamu sadar apa enggak ti apa yang kamu lakukan itu akan mencoreng nama baik keluarga kita, mencoreng nama baik orang tua kita ”
Sulit rasanya bagiku untuk melanjutkan perbincangan ini diantara rasa amarahku yang bergejolak begitu kuat, kekhawatiranku akan kemungkinan aku akan berlaku kasar kepada anti kini telah membuatku memutuskan mengakhiri perbincangan ini, hingga akhirnya kini selepas dari aku yang telah memeriksa alat tes kehamilan dan mendapati alat tes kehamilan itu belum dipergunakan oleh anti, aku meminta anti untuk segera menggunakannya hal itu untuk memastikan apakah benar saat ini anti tengah dalam keadaan hamil.
“ sebaiknya sekarang kamu hentikan tangisanmu itu, jangan sampai ibu mengetahui apa yang terjadi pada dirimu ”
Mengakhiri perkataanku itu aku bergegas keluar dari dalam kamar anti, rasa kekhawatiranku akan kemungkinan ibu telah mendengar suara perdebatanku dengan anti kini telah sirna seiring dengan keberadaanku yang telah berada di dalam kamar ibu, dalam posisinya yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur, ibu sama sekali tidak menyinggung perdebatan yang telah terjadi itu.
“ pang... tadi itu ibu bermimpi dan mimpinya itu seperti nyata sekali ” ujar ibudalam posisinya yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur dan kini begitu aku mendapati perkataannya itu, aku langsung membuka jendela kamar agar udara segar pagi ini bisa memasuki kamar.
“ memangnya ibu bermimpi apa ? ”
“ ibu bermimpi melihat kamu menikah pang ”
“ ahh ibu… dalam kondisi sakit seperti ini ibu masih saja memikirkan— ”
“ pang, kapan kamu akan memenuhi janjimu itu ? ” aku terdiam, melihat saat ini ibu memijat tubuhnya dengan tangannya sendiri, aku langsung menggantikannya.
“ pang ? ”
“ insha allah apang akan memenuhi janji itu bu tapi dengan satu syarat ”
“ dengan satu syarat ? ” tanya ibu sambil mengkerutkan dahinya.
“ ibu enggak boleh lagi bekerja, apang khawatir bu— ”
“ pang, ibu akan memenuhi permintaanmu itu secara bertahap, pada akhirnya nanti ibu pasti akan berhenti total dari pekerjaan ibu itu ”
Pergerakan waktu yang terus berjalan secara perlahan kini telah membawaku pada pergantian waktu dari pagi menjadi siang dan kini dalam aktifitasku yang tengah memasang kembali beberapa komponen sepeda motor yang telah aku lepaskan dari sepeda motor, suara ucapan salam yang diucapkan oleh seseorang yang memang tengah aku nantikan kehadirannya di rumah ini kini telah membuatku menghentikan aktifitasku, mendapati saat ini bapak tengah berdiri tidak jauh dari lokasiku beraktifitas, aku segera menghampirinya.
“ sedang apa kamu pang ? ”
“ biasa pak sedang merawat si gandul, motor tua seperti itu harus ekstra perhatian ” bapak mengembangkan senyumnya, tas gemblok berukuran sedang yang berada di punggungnya kini dilepaskannya lalu diserahkannya kepadaku.
“ macet yaa pak di jalan ? kok tiba di rumahnya sudah siang seperti ini ”
“ kalau hal itu sih enggak usah kamu tanyakan pang, negara kita ini sudah pusing dengan masalah kemacetan ”
Selepas dari jawabannya itu bapak berjalan meninggalkanku, mendapati saat ini bapak telah memasuki rumah aku segera mengikutinya dan kini dalam posisi kami yang telah berada di dalam rumah, bapak memintaku untuk membuka tas gemblok yang dibawanya karena di dalam tas itu tersimpan oleh oleh yang telah bapak beli di saat perjalanan pulang ke rumah.
“ ibu dan adik adik kamu sedang berada di mana pang ? kok tumben rumah ini sepi ”
“ tadi itu ada kok pak, mungkin sekarang ini mereka sedang tidur, maklumlah pak namanya juga hari libur ”
Untuk sejenak bapak terdiam memperhatikanku yang saat ini tengah mengeluarkan isi dari tas gemblok yang bapak bawa dan selepas dari keterdiamannya itu, tanpa berkata sepatah katapun bapak beranjak pergi meninggalkanku dan kini melihat bapak yang telah memasuki kamarnya, aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang akan terjadi di dalam kamar di saat bapak mendapati ibu dalam keadaan sakit.
“ bapak enggak usah khawatir, ini hanya penyakit biasa, mungkin dalam beberapa hari lagi juga penyakit ini akan hilang dengan sendirinya ”
“ kamu yakin bu ? ”
“ yakin pak... sudahlah jangan terlalu dipikirkan, besok itu bapak berangkat kerja seperti biasa saja, enggak perlu meliburkan diri ”
“ yaa sudah, kalau ibu memang merasa penyakit itu hanya penyakit biasa, besok bapak akan kembali berangkat kerja ”
“ ohh iya pak, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan, ini mengenai apang ”
“ apang ? ”
“ apang itu pernah mengatakan bahwa dirinya ingin menikah dalam waktu yang enggak lama lagi, kalau ibu sih setuju saja karena apang itu sudah bekerja, bagaimana dengan bapak, apakah bapak menyetujuinya ? ”
“ loh... memangnya apang itu sudah memilik calon ? ”
“ sudah pak tapi sampai dengan saat ini apang belum mengenalkannya ”
“ yaa sudah... kalau apang memang ingin menikah cepat bapak sih setuju saja, yang penting itu apang bisa bertanggung jawab ”
Berat rasanya bagiku untuk menganggap perbincangan yang aku dengar saat ini sebagai perbincangan biasa yang sangat lumrah untuk diperbincangkan oleh orang tuaku, dalam kondisi kesehatan ibu yang aku yakini semakin memburuk, perkataan yang terucap dari mulut ibu kini laksana sebuah alarm yang mengingatkanku bahwa saat ini aku tengah berpacu dengan waktu yang menyimpan berbagai macam kejutannya dan salah satu kejutan yang tidak aku inginkan adalah kemungkinan meninggalnya ibu di saat aku belum bisa memenuhi permintaanya.
Satu jam sudah waktu berlalu dari perbincangan yang telah aku curi dengar itu, dalam kekalutan pikiranku akibat dari aku yang tidak bisa menjawab apakah aku akan bisa memenuhi permintaan ibu atau tidak, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah ismed, keyakinanku akan adanya pencerahan yang ismed berikan untuk mengurangi kekalutan pikiranku saat ini kini telah membuat sepeda motor yang aku kendarai ini berpacu dengan cepat, hingga akhirnya kini setibanya aku di rumah ismed, ismed yang sama sekali tidak menduga kedatanganku ini kini menyambutku dengan ekspresi wajahnya yang menunjukan bahwa dirinya saat ini tengah bertanya tanya akan tujuanku datang ke rumahnya.
“ kalau kamu enggak keberatan med, hari ini aku ingin mengajakmu ke rumah kawan lamamu itu ”
“ hahh... hari ini ? ”
“ iya med hari ini ” ismed terdiam, ketiadaan kata yang terucap dari mulutnya kini telah membuatku bertanya tanya akan makna dari keterdiamannya itu.
“ kenapa med ?, kamu merasa keberatan untuk mengantarkanku ? ”
“ bukannya aku keberatan pang, saat ini aku hanya berpikir apakah kamu yakin untuk mengunjungi kawan lamaku itu ”
“ astaga med... med ” gumamku sambil menggeleng gelengkan kepala.
“ kamu itu orangnya linglung atau bagaimana sih, kemarin kamu menyarankanku untuk mengunjungi kawan lamamu itu tapi sekarang— ”
“ pang, jujur saja sampai dengan saat ini aku tuh masih merasa khawatir akan keselamatanmu apabila kamu tetap memaksakan diri— ”
“ med, kamu itu mau mengantarkanku atau enggak ?, kok ditanya apa menjawabnya apa ” tanyaku dalam rasa kesal, meskipun saat ini ismed belum mengakhiri perkataannya itu, aku sudah bisa menebak akan ke arah mana perkataannya itu bermuara.
“ ahh kamu itu terlalu mudah emosi pang, sebagai seorang sahabat wajarlah aku mengkhawatirkanmu ”
“ jadi bagaimana med, mau atau enggak kamu mengantarkanku ? ” ismed mengembangkan senyumnya, jari jempolnya yang saat ini terangkat menunjukan kesanggupan ismed untuk mengantarkanku.
“ astaga med masih saja pemikiranmu itu seperti itu ”
“ yaa mau bagaimana lagi pang... memang itu yang bisa aku tangkap dari kejadian menyeramkan yang kamu alami itu ” ujar ismed sambil memperhatikan asap rokok yang terhembus dari mulutku.
“ jujur saja med, aku mempunyai pandangan yang berbeda denganmu ”
“ pandangan yang berbeda seperti apa pang ? ”
“ apakah mungkin yaa med kemunculan mahluk ghaib yang berwujud almarhum arif itu bertujuan untuk berkomunikasi denganku ? ”
Dalam aktifitasnya yang saat ini tengah menghisap batangan rokoknya, gelak tawa ismed seketika pecah karena mendengar pertanyaanku itu dan hal itu kini telah memancing tatapan mata dari beberapa pelanggan warung kopi yang terusik dengan gelak tawanya itu.
“ brengsek kamu med, ngapain juga sih kamu tertawa seperti itu ” ujarku dalam rasa kesal, terlihat saat ini ismed mulai meredakan gelak tawanya.
“ kamunya juga sih pang yang gila ”
“ loh... aku gila bagaimana med ? ”
“ aku memakai logika sederhana saja pang, kamu itu enggak kenal dekat dengan almarhum arif dan enggak pernah juga mempunyai urusan dengan almarhum arif, dengan kata lain selama almarhum arif hidup kalian sama sekali enggak pernah berkomunisi, lalu apa alasannya almarhum arif itu ingin berkomunikasi denganmu di saat dirinya telah meninggal dunia ”
Untuk sejenak aku terdiam di dalam menanggapi perkataan ismed itu, perkataannya yang sarat dengan kebenaran itu kini telah membuatku berpikir keras agar aku bisa mempertahankan keyakinanku yang menduga kemunculan sosok penampakan ghaib yang berwujud arif itu bertujuan untuk berkomunikasi denganku dan pada akhirnya aku kini mempunyai jawaban yang bisa mematahkan logika yang dibangunnya itu.
“ pelindung ghaib ” gumamku yang memancing tatapan mata ismed tertuju ke wajahku.
“ loh... kok kamu jadi mempercayai anin memiliki pelindung ghaib pang ”
“ dengan aku mempercayainya med, aku telah memberikanmu alasan mengapa penampakan ghaib yang berwujud almarhum arif itu ingin berkomunikasi denganku ”
“ maksudmu itu— ”
“ iya med, penampakan ghaib yang berwujud almarhum arif itu bisa jadi ingin memberitahukan sesuatu yang berhubungan dengan pelindung ghaib yang dimiliki anin itu, kalau kamu ingin mematahkan dugaanku itu lebih baik kamu patahkan dulu dugaanmu yang menduga anin memiliki pelindung ghaib ”
Kini ismed hanya bisa terdiam di dalam menanggapi perkataanku itu, mendapati hal itu tanpa berpikir panjang lagi aku langsung meminta kepada ismed untuk membantuku mencari jawaban dari dugaanku itu dan pada akhirnya kini selepas dari beberapa alasan yang ismed berikan untuk menolak permintaanku itu, perkataanku yang mengatakan bahwa aku akan tetap mencari jawaban dari dugaanku itu tanpa memperdulikan lagi adanya bantuan dari ismed kini telah membuat ismed menyatakan kesanggupannya untuk membantuku mencari jawaban dari dugaanku itu.
“ nanti ketika kamu memiliki waktu luang, aku akan mengajakmu mengunjungi kawan lamaku yang mungkin bisa membantumu mendapatkan jawaban dari dugaanmu itu ”
Mengawali minggu pagi yang berselimutkan awan hitam, aku menarik lagi selimutku yang tersingkap untuk melindungi tubuhku ini dari hawa dingin yang saat ini belum beranjak pergi dari perkampunganku, keputusanku yang memutuskan untuk kembali lagi merebahkan diri selepas dari sholat subuh yang telah aku laksanakan kini telah membuatku merasa enggan untuk beranjak turun dari tempat tidur, terlihat saat ini waktu telah menunjukan pukul setengah enam pagi dan itu artinya aku telah bermalas malasan di atas tempat tidurku ini selama kurang lebih tiga puluh menit lamanya.
“ siapa itu ? ” tanyaku di dalam hati karena mendapati adanya pergerakan pada gagang pintu kamar, menyadari saat ini aku merasa enggan untuk terlibat pembicaraan dengan seseorang yang akan merusak keinginanku untuk melanjutkan tidur, aku putuskan untuk memejamkan mataku dengan harapan seseorang yang memasuki kamarku ini tidak akan berlama lama di dalam kamar karena mendapati aku yang masih tertidur, hanya saja kini selepas dari beberapa menit yang telah aku lalui, ketiadaan aktifitas seseorang di dalam kamarku ini kini telah membuatku membuka pejaman mata dan di saat itulah anto memberikan kejutan berupa gelak tawanya yang mentertawakan kegagalanku dalam bersandiwara.
“ brengsek kamu to, pagi pagi seperti ini sudah mengganggu orang saja ” masih dalam gelak tawanya yang belum terhenti, anto menaiki tempat tidurku lalu merebahkan tubuhnya di sampingku.
“ kang kemarin itu anto habis bertemu dengan ustad mulia dan ustad mulia menitip pesan untuk akang ” ujar anto merujuk pada ustad mulia yang menjadi pendakwah agama di kampungku ini dan kini begitu aku mendapati pemberitahuan anto itu, aku langsung menduga duga kemungkinan apa yang membuat ustad mulia menitip pesan untukku.
“ to, aku ini jarang bertemu dengan ustad mulia kok tiba tiba ustad mulia menitip pesan untukku sih ”
Mendapati saat ini anto tidak menanggapi perkataanku itu, aku menempatkan tubuhku dalam posisi duduk di tempat tidur dan apa yang aku lakukan ini kini dilakukan juga oleh anto.
“ memangnya ustad mulia menitip pesan apa to ? ”
“ ustad mulia berpesan agar akang memenuhi setiap janji akang karena hal itu akan menghindari kemungkinan akang— ”
Belum sempat anto mengakhiri perkataannya itu rasa kekesalanku pada candaannya kini telah mengantarkan mendaratnya telapak tanganku di mulutnya, melihat ekspresi wajah anto yang saat ini menunjukan rasa bahagianya karena telah berhasil menggodaku, aku hanya bisa menanggapinya dengan gelak tawa.
“ maaf kang, anto benar benar merasa penasaran untuk mengetahui kejadian yang akang alami itu ”
Untuk sejenak aku terdiam, mengembalikan ingatanku pada ini kejadian menyeramkan yang aku alami, hingga akhirnya kini selepas dari aku yang telah menceritakannya kepada anto, anto menanggapinya dengan ekspresi wajah yang menunjukan rasa kekhawatirannya akan kemungkinan kejadian menyeramkan yang aku alami itu akan dialaminya juga.
“ akang yakin sesuatu yang bersentuhan dengan wajah akang itu adalah teman akang yang sudah meninggal itu ? ”
“ seratus persen yakin to karena akang mengenali suaranya ”
“ yaa tuhan... ternyata kejadian menyeramkan seperti itu bukan hanya terjadi di film film saja yaa kang ” aku terdiam, membiarkan anto yang saat ini mulai bermain main dengan imajinasinya, hingga akhirnya kini setelah beberapa saat lamanya kami terdiam, dari mulutku ini terucap pertanyaan kepada anto yang menanyakan tentang kepastian dari kepulangan bapak hari ini.
“ bapak sudah pasti pulang kang, hari ini kan memang jadwalnya bapak pulang, mungkin baru siang nanti bapak tiba di rumah ” anto beranjak turun dari tempat tidur lalu berjalan menghampiriku, tatapan matanya kini tertuju ke halaman rumah.
“ ada apa to ? ”
“ anto mau membeli bubur untuk ibu dulu kang, hari ini teh anti enggak bisa membelikannya karena sedang enggak enak badan ”
“ teh anti sedang enggak enak badan ? ” tanyaku mempertegas perkataan anto, anto menganggukan kepalanya.
“ iya kang, semalam itu anto melihat teh anti muntah muntah beberapa kali ”
“ mungkin teh anti kelelahan menjaga ibu, yaa sudah selagi kamu membeli bubur biar akang yang menjaga ibu ”
Dikarenakan saat ini sudah tidak memiliki lagi pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada anto, aku meminta kepada anto untuk segera membelikan bubur untuk ibu, hingga akhirnya kini selang beberapa saat dari kepergian anto, aku memutuskan untuk keluar dari dalam kamar karena saat ini aku merasa sangat khawatir dengan kondisi kesehatan anti.
“ kamu kenapa ti ? ”
Bukanlah hal yang mudah membuka pembicaraan dengan seseorang yang masih menyimpan rasa kesalnya kepadaku, dalam posisiku yang saat ini telah berada di dalam kamar anti, aku mendapati anti tengah terbaring di tempat tidur dan kini begitu anti mendapati kehadiranku ini, anti menatapku dengan penuh ketidaksukaan dan memintaku untuk keluar dari dalam kamarnya.
“ ti, akang ini hanya ingin memastikan kesehatan kamu bukan membuka pertengkaran baru yang akan membuat hubungan kita sebagai abang dan adik menjadi— ”
Baru saja aku hendak menyelesaikan perkataanku itu, secara tiba tiba anti beranjak bangun dari tempat tidur lalu berlari keluar dari dalam kamar, firasatku yang mengatakan adanya sesuatu yang kurang baik pada diri anti kini membuatku memutuskan untuk mengikuti anti yang saat ini berlari ke arah kamar mandi lalu memasukinya, hinggga akhirnya kini diantara keberadaanku yang telah berdiri di depan pintu kamar mandi, suara anti yang tengah memuntahkan sesuatu kini telah menghadirkan rasa kekhawatiran di hatiku atas kemungkinan anti tengah menyembunyikan sesuatu yang tidak aku inginkan.
“ duh... perasaanku ini kok jadi enggak enak yaa ” gumamku di dalam hati, mendapati saat ini anti masih memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi, kata hatiku yang mengatakan agar aku menguji kebenaran dari rasa kekhawatiran yang aku rasakan itu dengan melakukan sesuatu kini telah mengantarkan langkah kakiku menuju ke kamar anti dan pada akhirnya kini dalam posisiku yang telah berada di dalam kamar anti, kecurigaanku pada kemungkinan anti menyembunyikan sesuatu di dalam lemarinya kini telah membuatku memutuskan untuk memeriksa isi lemari anti.
“ yaa tuhann... ”
Hanya kalimat itulah yang bisa terucap dari mulutku ini ketika aku mendapati sesuatu yang tidak ingin aku temukan kini aku temukan di dalam lemari anti, dalam rasa amarah yang saat ini aku rasakan akibat dari apa yang aku temukan itu, anti yang baru saja hendak memasuki kamar kini memilih untuk berdiam diri di pintu kamar dan hal itu kini telah menjadi pemicu meledaknya rasa amarahku dalam bentuk tindakan yaitu berupa tarikan tanganku yang menarik anti untuk masuk ke dalam kamar dan kini dalam posisi anti yang telah memasuki kamar, aku segera menutup pintu kamar untuk menghindari terdengarnya pertengkaran kami ini oleh ibu yang saat ini tengah beristirahat di dalam kamarnya.
“ apa ini ti ? ” tanyaku dengan suara bergetar, sebuah alat tes kehamilan yang saat ini tergenggam di tanganku kini aku perlihatkan di hadapan wajah anti.
“ kamu sadar apa enggak ti apa yang kamu lakukan itu akan mencoreng nama baik keluarga kita, mencoreng nama baik orang tua kita ”
Sulit rasanya bagiku untuk melanjutkan perbincangan ini diantara rasa amarahku yang bergejolak begitu kuat, kekhawatiranku akan kemungkinan aku akan berlaku kasar kepada anti kini telah membuatku memutuskan mengakhiri perbincangan ini, hingga akhirnya kini selepas dari aku yang telah memeriksa alat tes kehamilan dan mendapati alat tes kehamilan itu belum dipergunakan oleh anti, aku meminta anti untuk segera menggunakannya hal itu untuk memastikan apakah benar saat ini anti tengah dalam keadaan hamil.
“ sebaiknya sekarang kamu hentikan tangisanmu itu, jangan sampai ibu mengetahui apa yang terjadi pada dirimu ”
Mengakhiri perkataanku itu aku bergegas keluar dari dalam kamar anti, rasa kekhawatiranku akan kemungkinan ibu telah mendengar suara perdebatanku dengan anti kini telah sirna seiring dengan keberadaanku yang telah berada di dalam kamar ibu, dalam posisinya yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur, ibu sama sekali tidak menyinggung perdebatan yang telah terjadi itu.
“ pang... tadi itu ibu bermimpi dan mimpinya itu seperti nyata sekali ” ujar ibudalam posisinya yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur dan kini begitu aku mendapati perkataannya itu, aku langsung membuka jendela kamar agar udara segar pagi ini bisa memasuki kamar.
“ memangnya ibu bermimpi apa ? ”
“ ibu bermimpi melihat kamu menikah pang ”
“ ahh ibu… dalam kondisi sakit seperti ini ibu masih saja memikirkan— ”
“ pang, kapan kamu akan memenuhi janjimu itu ? ” aku terdiam, melihat saat ini ibu memijat tubuhnya dengan tangannya sendiri, aku langsung menggantikannya.
“ pang ? ”
“ insha allah apang akan memenuhi janji itu bu tapi dengan satu syarat ”
“ dengan satu syarat ? ” tanya ibu sambil mengkerutkan dahinya.
“ ibu enggak boleh lagi bekerja, apang khawatir bu— ”
“ pang, ibu akan memenuhi permintaanmu itu secara bertahap, pada akhirnya nanti ibu pasti akan berhenti total dari pekerjaan ibu itu ”
Pergerakan waktu yang terus berjalan secara perlahan kini telah membawaku pada pergantian waktu dari pagi menjadi siang dan kini dalam aktifitasku yang tengah memasang kembali beberapa komponen sepeda motor yang telah aku lepaskan dari sepeda motor, suara ucapan salam yang diucapkan oleh seseorang yang memang tengah aku nantikan kehadirannya di rumah ini kini telah membuatku menghentikan aktifitasku, mendapati saat ini bapak tengah berdiri tidak jauh dari lokasiku beraktifitas, aku segera menghampirinya.
“ sedang apa kamu pang ? ”
“ biasa pak sedang merawat si gandul, motor tua seperti itu harus ekstra perhatian ” bapak mengembangkan senyumnya, tas gemblok berukuran sedang yang berada di punggungnya kini dilepaskannya lalu diserahkannya kepadaku.
“ macet yaa pak di jalan ? kok tiba di rumahnya sudah siang seperti ini ”
“ kalau hal itu sih enggak usah kamu tanyakan pang, negara kita ini sudah pusing dengan masalah kemacetan ”
Selepas dari jawabannya itu bapak berjalan meninggalkanku, mendapati saat ini bapak telah memasuki rumah aku segera mengikutinya dan kini dalam posisi kami yang telah berada di dalam rumah, bapak memintaku untuk membuka tas gemblok yang dibawanya karena di dalam tas itu tersimpan oleh oleh yang telah bapak beli di saat perjalanan pulang ke rumah.
“ ibu dan adik adik kamu sedang berada di mana pang ? kok tumben rumah ini sepi ”
“ tadi itu ada kok pak, mungkin sekarang ini mereka sedang tidur, maklumlah pak namanya juga hari libur ”
Untuk sejenak bapak terdiam memperhatikanku yang saat ini tengah mengeluarkan isi dari tas gemblok yang bapak bawa dan selepas dari keterdiamannya itu, tanpa berkata sepatah katapun bapak beranjak pergi meninggalkanku dan kini melihat bapak yang telah memasuki kamarnya, aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang akan terjadi di dalam kamar di saat bapak mendapati ibu dalam keadaan sakit.
“ bapak enggak usah khawatir, ini hanya penyakit biasa, mungkin dalam beberapa hari lagi juga penyakit ini akan hilang dengan sendirinya ”
“ kamu yakin bu ? ”
“ yakin pak... sudahlah jangan terlalu dipikirkan, besok itu bapak berangkat kerja seperti biasa saja, enggak perlu meliburkan diri ”
“ yaa sudah, kalau ibu memang merasa penyakit itu hanya penyakit biasa, besok bapak akan kembali berangkat kerja ”
“ ohh iya pak, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan, ini mengenai apang ”
“ apang ? ”
“ apang itu pernah mengatakan bahwa dirinya ingin menikah dalam waktu yang enggak lama lagi, kalau ibu sih setuju saja karena apang itu sudah bekerja, bagaimana dengan bapak, apakah bapak menyetujuinya ? ”
“ loh... memangnya apang itu sudah memilik calon ? ”
“ sudah pak tapi sampai dengan saat ini apang belum mengenalkannya ”
“ yaa sudah... kalau apang memang ingin menikah cepat bapak sih setuju saja, yang penting itu apang bisa bertanggung jawab ”
Berat rasanya bagiku untuk menganggap perbincangan yang aku dengar saat ini sebagai perbincangan biasa yang sangat lumrah untuk diperbincangkan oleh orang tuaku, dalam kondisi kesehatan ibu yang aku yakini semakin memburuk, perkataan yang terucap dari mulut ibu kini laksana sebuah alarm yang mengingatkanku bahwa saat ini aku tengah berpacu dengan waktu yang menyimpan berbagai macam kejutannya dan salah satu kejutan yang tidak aku inginkan adalah kemungkinan meninggalnya ibu di saat aku belum bisa memenuhi permintaanya.
Satu jam sudah waktu berlalu dari perbincangan yang telah aku curi dengar itu, dalam kekalutan pikiranku akibat dari aku yang tidak bisa menjawab apakah aku akan bisa memenuhi permintaan ibu atau tidak, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah ismed, keyakinanku akan adanya pencerahan yang ismed berikan untuk mengurangi kekalutan pikiranku saat ini kini telah membuat sepeda motor yang aku kendarai ini berpacu dengan cepat, hingga akhirnya kini setibanya aku di rumah ismed, ismed yang sama sekali tidak menduga kedatanganku ini kini menyambutku dengan ekspresi wajahnya yang menunjukan bahwa dirinya saat ini tengah bertanya tanya akan tujuanku datang ke rumahnya.
“ kalau kamu enggak keberatan med, hari ini aku ingin mengajakmu ke rumah kawan lamamu itu ”
“ hahh... hari ini ? ”
“ iya med hari ini ” ismed terdiam, ketiadaan kata yang terucap dari mulutnya kini telah membuatku bertanya tanya akan makna dari keterdiamannya itu.
“ kenapa med ?, kamu merasa keberatan untuk mengantarkanku ? ”
“ bukannya aku keberatan pang, saat ini aku hanya berpikir apakah kamu yakin untuk mengunjungi kawan lamaku itu ”
“ astaga med... med ” gumamku sambil menggeleng gelengkan kepala.
“ kamu itu orangnya linglung atau bagaimana sih, kemarin kamu menyarankanku untuk mengunjungi kawan lamamu itu tapi sekarang— ”
“ pang, jujur saja sampai dengan saat ini aku tuh masih merasa khawatir akan keselamatanmu apabila kamu tetap memaksakan diri— ”
“ med, kamu itu mau mengantarkanku atau enggak ?, kok ditanya apa menjawabnya apa ” tanyaku dalam rasa kesal, meskipun saat ini ismed belum mengakhiri perkataannya itu, aku sudah bisa menebak akan ke arah mana perkataannya itu bermuara.
“ ahh kamu itu terlalu mudah emosi pang, sebagai seorang sahabat wajarlah aku mengkhawatirkanmu ”
“ jadi bagaimana med, mau atau enggak kamu mengantarkanku ? ” ismed mengembangkan senyumnya, jari jempolnya yang saat ini terangkat menunjukan kesanggupan ismed untuk mengantarkanku.
Diubah oleh meta.morfosis 23-04-2025 15:27
nderek.langkung memberi reputasi
1