- Beranda
- Citizen Journalism
Fitnah Keji! Roti Aoka Dituding Pakai Bahan Pengawet Kosmetik, PT IBF Membantahnya
...
TS
amekachi
Fitnah Keji! Roti Aoka Dituding Pakai Bahan Pengawet Kosmetik, PT IBF Membantahnya

Ilustrasi roti Aoka/Sumber gambar: Suara.com
Fitnah Keji! Roti Aoka Dituding Pakai Bahan Pengawet Kosmetik, PT IBF Membantahnya
Ini adalah sebuah merek roti yang mungkin baru, namun mulai digemari oleh masyarakat. Ibu saya yang sudah sepuh dan hanya bisa makan makanan seperti bubur pun menyukainya. Roti Aoka ada berbagai macam rasa dan bentuknya cuma dua, satu kotak dan satunya bulat. Tersedia di warung-warung terdekat semisal warung Madura ya gansist dan harganya tergantung, ada warung yang menghargai 2.500 rupiah dan ada warung yang menghargai 3.000 rupiah, mungkin seperti itu yang saya ketahui dari roti tersebut.

Kini ada kabar terbaru mengenai roti ini ya gansist, diketahui ada unggahan yang menyebut jika roti Aoka pembuatannya menggunakan pengawet kosmetik. Menurut PT Indonesia Bakery Family (IBF) selaku pihak yang memproduksi roti Aoka, ini adalah sebuah fitnah keji yang disinyalir dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa tersaingi oleh kehadiran roti Aoka.
Quote:

Kombinasi antara rasa gurih dan manis yang pas menjadikan roti Aoka cocok dinikmati sebagai sarapan atau camilan di tengah hari. Kelezatan roti ini terpancar dari setiap gigitan yang menggoda. Tak heran jika roti Aoka seringkali menjadi pilihan untuk menemani secangkir kopi atau teh hangat.
Selain rasanya yang lezat, roti Aoka juga dapat dinikmati dalam berbagai variasi. Mulai dari roti Aoka original hingga varian dengan tambahan topping buah atau kacang yang semakin menambah cita rasa yang menggugah selera. Kehadiran roti aoka di tengah kita membawa angin segar bagi pecinta roti yang menginginkan sesuatu yang berbeda.
Roti Aoka tidak hanya lezat, tetapi juga memberikan sensasi kenikmatan tersendiri ketika kita menikmatinya. Dengan harga yang terjangkau, siapa pun dapat menikmati kelezatan roti Aoka ini. Jadi, jika Anda mencari camilan yang lezat dan memuaskan, roti Aoka adalah pilihan yang tepat. Cobalah dan rasakan sendiri kelezatannya!
Sumber Tulisan dan Gambar:
CNN Indonesia
Antaranews
viensi dan 15 lainnya memberi reputasi
16
2.1K
81
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Citizen Journalism
16.7KThread•15.3KAnggota
Tampilkan semua post
luxm4n
#28
Pernah jadi konsumen roti semacam ini (berbagai merek, konsepnya sama yakni roti basah tapi expire date berbulan-bulan, merek dan PT perusahaan produsen tidak bisa jadi patokan, itu bisa diatur, menariknya model kemasannya mirip-mirip) meski gk doyan karena jujur saja enaknya cuma manis dan lembut doang, tapi menurut saya terlalu artificial, anak saya aja gk suka, bocah 5 tahun masih sekolah TK, berarti bocah sepolos itu aja punya sense yang baik mendeteksi ada yang gk beres, padahal dia doyan jajan snack,,, pastinya gk seperti roti anget-anget yang saya beli di bakery atau sari roti di mini market (bahkan mini market Indomaret produksi roti di tempat, masih anget),, saya dari dulu memang menghindari roti di warung-warung kelontong karena khawatir masalah pengawet dan memang secara rasa menurut saya beberapa ada yang gk natural, saya yang biasa beli roti fresh sangat terganggu dengan sebagian karakteristik roti di warung-warung kelontong.
Gini bro, roti itu kan gandum, nah kita gk produksi gandum sendiri, semua import, maka kalo harganya kelewat murah, itu aneh, roti menurut saya bukan makanan kelas bawah, tapi menengah ke atas, CMIIW, saya aja yang bukan kalangan bawah lebih memilih makan di warteg/restoran padang/nasi kuning/nasi uduk, DLL yang tradisional, daripada makan roti,, belum makan nasi berarti belum makan,, apalagi kelas bawah.
Kalo memang benar ada roti "basah", lembut tapi bisa tahan berbulan-bulan, mau membantah gimana pun, bahkan dibelain BPOM sekalipun, menurut saya gk masuk akal roti basah bisa seawet itu, soalnya banyak roti basah yang harus mengurangi tingkat kandungan airnya sampai terasa kering agar tidak cepat berjamur, misal roti gepeng dulu enak banget karena karakteristiknya basah dan lembut, tapi gampang banget jamuran,, alhasil produsennya bikin lebih kering, sekarang sudah gk seenak dulu karena lebih kering, nah itulah dilemanya produsen roti jujur.
Masalahnya, orang awam mana paham, khususnya bocah,, beruntung kami sekeluarga bukan pemakan roti, lebih sering beli kue jajanan traditional di pasar, termasuk roti traditional juga ada (di Kalsel ada namanya roti gembong, roti pisang, wadai untuk, DLL), hal itu menyelamatkan kami sekeluarga, karena lebih memilih fresh food, saya biasanya beli roti di mini market saja atau yang fresh di bakery.
Tapi satu hal yang saya heran, padahal roti yang diisukan berpengawet berbahaya itu best seller, sering sold out, kenapa masih butuh pengawet berbahaya ?, menurut penjual warung kelontong yang saya ajak ngobrol, roti luar biasa awet itu cepet banget habis karena dibeli konsumen yang stock banyak untuk pribadi maupun dijual lagi (reseller dari kulakan, bukan dari supplier produsen roti tersebut).
Menurut info yang saya baca, konsumennya memang mereka yang dengan sengaja membeli roti murah yang tahan lama, misalnya para nelayan yang bisa berbulan-bulan melaut.
Saya menyaksikan sendiri banyak brand roti lokal yang kalah saing dan rusak dipenuhi kapang/jamur, karena serbuan roti luar biasa awet tersebut, saya tau ini karena saya orang kalsel, salah satu brand yang saya ingat betul adalah Jordan, kasihan banget sampai minta tolong ke kulakan agar nanggung kerugian bersama, produsen gk mampu ganti rugi roti yang jamuran secara full, cukup menyayangkan sih karena korbannya adalah UMKM lokal, karena menurut info yang saya baca, pemilik perusahaan roti super awet itu nama-namanya asing banget seperti orang china daratan, bukan chindo apalagi pribumi.
Target konsumen mereka kalangan bawah (bukan mengenah ke bawah), roti harga yang wajar di warung-warung susah lakunya karena sudah masuk level kalangan mengengah (harga segitu bagi kalangan bawah mending makan nasi dan lauk pauk), dari sisi penjual juga andil disini karena suka menjual roti murah yang awetnya luar biasa (wajar, mereka jualan), apalagi penjual yang tidak dipasok langsung oleh supplier resmi sehingga resiko roti berjamur/rusak ditanggung sendiri (orang-orang tadi yang beli banyak untuk dijual lagi), dari sisi pembeli ya memenuhi permintaan konsumen, karena kalangan bawah mampunya beli roti murah aja sebagai altenratif makanan yang murah, bahkan sebagian kalangan bawah suka makan gabin direndam dengan air panas lalu ditaburi gula pasir, saking menyedihkannya kondisi sebagian rakyat yang masih kelas bawah, konsumen pada umumnya mana peduli tentang seberapa lama roti itu bisa awet, yang penting begitu mereka mau beli mereka lihat gk ada jamurnya berarti aman untuk langsung dimakan, bukan untuk distock sendiri di rumah, kecuali konsumen yang beli banyak untuk stock lama, misal nelayan tadi.
Salah satu daya tarik roti super awet itu adalah desain kemasannya yang bagus banget untuk kelas roti berharga murah, nah kalo kalian jeli maka kalian akan menemukan konsep desain roti yang mirip banget tapi merek dan PT-nya dan alat produsennya beda-beda, tapi semuanya memiliki kesamaan yakni expired date-nya lama banget sampai berbulan-bulan.
Saya effort nulis panjang lebar begini karena ini terjadi di sekitar saya, karena roti super awet itu menyerbu kalsel, daerah dimana saya lahir dan saya berdomisili.
Gini bro, roti itu kan gandum, nah kita gk produksi gandum sendiri, semua import, maka kalo harganya kelewat murah, itu aneh, roti menurut saya bukan makanan kelas bawah, tapi menengah ke atas, CMIIW, saya aja yang bukan kalangan bawah lebih memilih makan di warteg/restoran padang/nasi kuning/nasi uduk, DLL yang tradisional, daripada makan roti,, belum makan nasi berarti belum makan,, apalagi kelas bawah.
Kalo memang benar ada roti "basah", lembut tapi bisa tahan berbulan-bulan, mau membantah gimana pun, bahkan dibelain BPOM sekalipun, menurut saya gk masuk akal roti basah bisa seawet itu, soalnya banyak roti basah yang harus mengurangi tingkat kandungan airnya sampai terasa kering agar tidak cepat berjamur, misal roti gepeng dulu enak banget karena karakteristiknya basah dan lembut, tapi gampang banget jamuran,, alhasil produsennya bikin lebih kering, sekarang sudah gk seenak dulu karena lebih kering, nah itulah dilemanya produsen roti jujur.
Masalahnya, orang awam mana paham, khususnya bocah,, beruntung kami sekeluarga bukan pemakan roti, lebih sering beli kue jajanan traditional di pasar, termasuk roti traditional juga ada (di Kalsel ada namanya roti gembong, roti pisang, wadai untuk, DLL), hal itu menyelamatkan kami sekeluarga, karena lebih memilih fresh food, saya biasanya beli roti di mini market saja atau yang fresh di bakery.
Tapi satu hal yang saya heran, padahal roti yang diisukan berpengawet berbahaya itu best seller, sering sold out, kenapa masih butuh pengawet berbahaya ?, menurut penjual warung kelontong yang saya ajak ngobrol, roti luar biasa awet itu cepet banget habis karena dibeli konsumen yang stock banyak untuk pribadi maupun dijual lagi (reseller dari kulakan, bukan dari supplier produsen roti tersebut).
Menurut info yang saya baca, konsumennya memang mereka yang dengan sengaja membeli roti murah yang tahan lama, misalnya para nelayan yang bisa berbulan-bulan melaut.
Saya menyaksikan sendiri banyak brand roti lokal yang kalah saing dan rusak dipenuhi kapang/jamur, karena serbuan roti luar biasa awet tersebut, saya tau ini karena saya orang kalsel, salah satu brand yang saya ingat betul adalah Jordan, kasihan banget sampai minta tolong ke kulakan agar nanggung kerugian bersama, produsen gk mampu ganti rugi roti yang jamuran secara full, cukup menyayangkan sih karena korbannya adalah UMKM lokal, karena menurut info yang saya baca, pemilik perusahaan roti super awet itu nama-namanya asing banget seperti orang china daratan, bukan chindo apalagi pribumi.
Target konsumen mereka kalangan bawah (bukan mengenah ke bawah), roti harga yang wajar di warung-warung susah lakunya karena sudah masuk level kalangan mengengah (harga segitu bagi kalangan bawah mending makan nasi dan lauk pauk), dari sisi penjual juga andil disini karena suka menjual roti murah yang awetnya luar biasa (wajar, mereka jualan), apalagi penjual yang tidak dipasok langsung oleh supplier resmi sehingga resiko roti berjamur/rusak ditanggung sendiri (orang-orang tadi yang beli banyak untuk dijual lagi), dari sisi pembeli ya memenuhi permintaan konsumen, karena kalangan bawah mampunya beli roti murah aja sebagai altenratif makanan yang murah, bahkan sebagian kalangan bawah suka makan gabin direndam dengan air panas lalu ditaburi gula pasir, saking menyedihkannya kondisi sebagian rakyat yang masih kelas bawah, konsumen pada umumnya mana peduli tentang seberapa lama roti itu bisa awet, yang penting begitu mereka mau beli mereka lihat gk ada jamurnya berarti aman untuk langsung dimakan, bukan untuk distock sendiri di rumah, kecuali konsumen yang beli banyak untuk stock lama, misal nelayan tadi.
Salah satu daya tarik roti super awet itu adalah desain kemasannya yang bagus banget untuk kelas roti berharga murah, nah kalo kalian jeli maka kalian akan menemukan konsep desain roti yang mirip banget tapi merek dan PT-nya dan alat produsennya beda-beda, tapi semuanya memiliki kesamaan yakni expired date-nya lama banget sampai berbulan-bulan.
Saya effort nulis panjang lebar begini karena ini terjadi di sekitar saya, karena roti super awet itu menyerbu kalsel, daerah dimana saya lahir dan saya berdomisili.
Diubah oleh luxm4n 24-07-2024 09:37
riodgarp dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup