- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.3K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#73
36
Quote:
Perjalan di masa fajar baru muncul merupakan pengalaman baru bagi Pandu dan Ardit. Dari jendela beningnya itu terlihat aktivitas manusia yang begitu beragam. Dari seorang petani membawa cangkulnya, seorang pedagang membawa gerobak, hingga orang-orang berpakaian rapih berdiri menunggu kedatangan kereta tuk bekerja. Sebelum mereka akhirnya tiba di stasiun yang dituju, Ardit memberitahu Tyo letak posisinya berada sekarang. Dalam obrolan telepon juga sudah disepakati bahwa Tyo akan menjemput mereka berdua ketika sudah sampai.
“Gue enggak nyangka si Tyo itu padahal mukanya kayak yang dingin, tapi baik pake jemput kita segala,” ucap Ardit.
“Mungkin bagian dari tanggung jawabnya juga kali, gegara si Dheril bikin ulah,” ucap Pandu sambil melihat ke arah luar.
Kereta mereka kemudian sampai, dan berhenti tepat pada waktunya. Tidak seperti gerbong lain yang berdesakan, Pandu dan Ardit dapat keluar dengan aman dan nyaman. Uang dari iklan di video mereka sangat membantu di saat seperti ini. Stasiun di pagi ini keadaannya cukup ramai, cukup menyulitkan Tyo untuk mengenali mereka terutama di pintu keluar. Dirinya sudah sampai sekitar 10 menit yang lalu, sebelum keretanya berhenti. Akhirnya Tyo memutuskan untuk menunggu di area parkir, ciri-ciri mobilnya sudah diberikan detilnya kepada Ardit.
“Oh si Tyo nunggu diparkiran,” ucap Ardit kepada Pandu setelah membaca pesan yang masuk.
“Enak begitu, kita udah ngerepotin dia juga. Masa harus ditungguin di pintu depan sih, yuk berangkat,” mereka berjalan bersama menuju parkiran.
Area parkir masih berada di dalam lingkungan stasiun kereta api. Lapangannya cukup luas hingga bisa memuat ratusan kendaraan. Dikarenakan stasiun yang dipilih sengaja stasiun utama dalam kota ini. Alasan lainnya adalah ternyata jaraknya tidak jauh dari tempat Tyo tinggal. Ardit dengan langkah pelannya memperhatikan satu-persatu mobil yang ada. Dicocokan dengan deskripsi yang diberikan oleh Tyo sebelumnya.
“Lama!” Gasimah keluar dari ransel Pandu. “kalian berdua diam di sini, aku cariin yah,” Pandu dan Ardit hanya mengangguk saja, lalu sosoknya terbang menembus mobil-mobil.
Dalam hitungan kurang dari 2 menit, Gasimah sudah menemukan keberadaan Tyo. Orang berkaki panjang itu ada di dalam sebuah mobil sedan berwarna biru langit, tidak sebagus yang dilihatnya tempo hari pada saat ikut menuju rumah putih. Lalu Gasimah kembali menuju titik Pandu dan Ardit berdiri, melambaikan tangannya ketika sudah dekat.
“Ikutin aku yah, deket kok dari sini,” ucap Gasimah. “mobilnya warna biru langit,” tambahnya.
Tyo yang berada di dalam mobilnya bisa melihat Pandu dan Ardit dari kejauhan yang sedang berjalan. Dia keluar dari mobilnya, lalu melambaikan tangan ke arah mereka.
“Pandu! Ardit!” sahutnya.
“Eh iya tuh si Tyo pake mobil sedan biru langit,” ucap Ardit.
Ketiganya akhirnya bertemu, tidak ingin membuang waktu, seluruh bawaan disimpan di bagasi mobil. Ardit duduk di depan sebelah Tyo, sedangkan Pandu bersama Gasimah yang kasat mata bagi Tyo duduk di bangku belakang. Tujuan perjalanannya adalah pergi ke rumah Tyo terlebih dahulu, agar lebih enak ketika membahas persoalan yang terjadi. Sebelum pedal gas ditekan dalam-dalam, Tyo mengucapkan sesuatu pada rombongan.
“Maaf yah, semuanya jadi begini. Atas nama pribadi, kru, dan Dheril. Kami meminta maaf,” ucap Tyo dengan perasaan yang tulus.
“Santai aja lah, gue orangnya pemaaf. Iya kan Dit?” tanya Pandu pada Ardit.
“Iya santai, tapi gue boleh nonjok si Dheril sekali kan?” canda Ardit untuk menghangatkan suasana.
Mobil sedan biru langit melaju di jalanan kota padat di jam kerja. Karena jaraknya cukup dekat, sehingga tidak memakan waktu lama menikmati kemacetan yang ada. Mobilnya masuk ke sebuah perumahan, lalu menepi di sebuah rumah lantai dua yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Sebagai catatan Ini bukan rumahnya Tyo, tapi milik orang tuanya. Di usia yang memasuki pertengahan 20an, dia masih tinggal bersama orang tuanya. Bukan hal yang harus direndahkan terhadap statusnya itu.
“Ayo masuk,” ajak Tyo dengan ramah. Sedangkan barang bawaannya sengaja tidak diturunkan.
Di dalam, Ibunya Tyo sudah menyiapkan beberapa masakan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Apalagi waktu masih masuk jam sarapan, sebelum memulainya Tyo meminta Pandu dan Ardit untuk menikmati makanan bersama. Obrolan-obrolan kecil yang sifatnya pribadi pun bergema, termasuk sebuah fakta bahwa Dheril dan Tyo merupakan sepupu, Pandu dan Ardit baru mengetahuinya. Kisah lainnya juga cukup mengagetkan, pada awal merintis, Dheril merupakan sosok yang begitu ceria. Bahkan ketika rilisannya sepi penonton, ditanggapinya dengan positif. Semuanya berubah pada saat Dheril mencoba pola berbeda untuk membuat videonya digemari oleh orang-orang. Apalagi setelah percobaan pertamanya sukses besar hingga membawanya ke jajaran ‘Lima Elit’.
“Gue pribadi enggak menentang, lagian orang-orang juga paham kok yang mana asli yang mana setinggan,” ucap Pandu. “cuman Dheril ini terlalu menghayati, pengennya yang dilihat orang itu bener-bener nyata. Niat menghiburnya udah bener, caranya aja yang salah,” Tyo mengangguk setuju mendengarnya.
Saat sedang melanjutkan menyantap sarapan, terdengar suara keras dari teras rumah Tyo.
“PERMISI!” suara lantangnya terdengar sangat jelas, Ardit dan Pandu langsung menyadari siapa pemilik suara ini.
“Ya masuk!” Tyo mempersilahkan orang ini tuk masuk ke dalam.
Suara langkah kaki semakin lama semakin mendekat, rambut berwarna merah menyala langsung menjadi pusat perhatian. Orang itu adalah Rangga Bosman, yang sengaja diminta oleh Tyo sebagai tamu lainnya untuk memberikan saksinya bahwa Pandu tidak melakukan apa yang ditudukhkan oleh Dheril di video terbarunya itu. Kali ini Rangga datang sendiri, Aldi tidak mendampingi karena sosoknya yang malu jika harus bersaksi sendirian di depan kamera.
“Tenang, ada gue di sini. Masalah kalian akan beres,” ucap Rangga dengan penuh percaya diri. “tapi sebelumnya, gue boleh ikut sarapan dulu enggak?” sambil tertawa. Tyo tidak melarangnya dan malah menyuruhnya untuk makan dengan porsi banyak. “eh Tyo, kok itu cewek lo di dalam mobil enggak disuruh masuk?” Tyo terkejut mendengarnya, sedangkan Pandu dan Ardit saling melirik. “apa gue salah liat kali? Maklum belum sarapan,” Pandu dan Ardit tertawa canggung, lalu membelokan arah pembicaraan.
“Gue enggak nyangka si Tyo itu padahal mukanya kayak yang dingin, tapi baik pake jemput kita segala,” ucap Ardit.
“Mungkin bagian dari tanggung jawabnya juga kali, gegara si Dheril bikin ulah,” ucap Pandu sambil melihat ke arah luar.
Kereta mereka kemudian sampai, dan berhenti tepat pada waktunya. Tidak seperti gerbong lain yang berdesakan, Pandu dan Ardit dapat keluar dengan aman dan nyaman. Uang dari iklan di video mereka sangat membantu di saat seperti ini. Stasiun di pagi ini keadaannya cukup ramai, cukup menyulitkan Tyo untuk mengenali mereka terutama di pintu keluar. Dirinya sudah sampai sekitar 10 menit yang lalu, sebelum keretanya berhenti. Akhirnya Tyo memutuskan untuk menunggu di area parkir, ciri-ciri mobilnya sudah diberikan detilnya kepada Ardit.
“Oh si Tyo nunggu diparkiran,” ucap Ardit kepada Pandu setelah membaca pesan yang masuk.
“Enak begitu, kita udah ngerepotin dia juga. Masa harus ditungguin di pintu depan sih, yuk berangkat,” mereka berjalan bersama menuju parkiran.
Area parkir masih berada di dalam lingkungan stasiun kereta api. Lapangannya cukup luas hingga bisa memuat ratusan kendaraan. Dikarenakan stasiun yang dipilih sengaja stasiun utama dalam kota ini. Alasan lainnya adalah ternyata jaraknya tidak jauh dari tempat Tyo tinggal. Ardit dengan langkah pelannya memperhatikan satu-persatu mobil yang ada. Dicocokan dengan deskripsi yang diberikan oleh Tyo sebelumnya.
“Lama!” Gasimah keluar dari ransel Pandu. “kalian berdua diam di sini, aku cariin yah,” Pandu dan Ardit hanya mengangguk saja, lalu sosoknya terbang menembus mobil-mobil.
Dalam hitungan kurang dari 2 menit, Gasimah sudah menemukan keberadaan Tyo. Orang berkaki panjang itu ada di dalam sebuah mobil sedan berwarna biru langit, tidak sebagus yang dilihatnya tempo hari pada saat ikut menuju rumah putih. Lalu Gasimah kembali menuju titik Pandu dan Ardit berdiri, melambaikan tangannya ketika sudah dekat.
“Ikutin aku yah, deket kok dari sini,” ucap Gasimah. “mobilnya warna biru langit,” tambahnya.
Tyo yang berada di dalam mobilnya bisa melihat Pandu dan Ardit dari kejauhan yang sedang berjalan. Dia keluar dari mobilnya, lalu melambaikan tangan ke arah mereka.
“Pandu! Ardit!” sahutnya.
“Eh iya tuh si Tyo pake mobil sedan biru langit,” ucap Ardit.
Ketiganya akhirnya bertemu, tidak ingin membuang waktu, seluruh bawaan disimpan di bagasi mobil. Ardit duduk di depan sebelah Tyo, sedangkan Pandu bersama Gasimah yang kasat mata bagi Tyo duduk di bangku belakang. Tujuan perjalanannya adalah pergi ke rumah Tyo terlebih dahulu, agar lebih enak ketika membahas persoalan yang terjadi. Sebelum pedal gas ditekan dalam-dalam, Tyo mengucapkan sesuatu pada rombongan.
“Maaf yah, semuanya jadi begini. Atas nama pribadi, kru, dan Dheril. Kami meminta maaf,” ucap Tyo dengan perasaan yang tulus.
“Santai aja lah, gue orangnya pemaaf. Iya kan Dit?” tanya Pandu pada Ardit.
“Iya santai, tapi gue boleh nonjok si Dheril sekali kan?” canda Ardit untuk menghangatkan suasana.
Mobil sedan biru langit melaju di jalanan kota padat di jam kerja. Karena jaraknya cukup dekat, sehingga tidak memakan waktu lama menikmati kemacetan yang ada. Mobilnya masuk ke sebuah perumahan, lalu menepi di sebuah rumah lantai dua yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Sebagai catatan Ini bukan rumahnya Tyo, tapi milik orang tuanya. Di usia yang memasuki pertengahan 20an, dia masih tinggal bersama orang tuanya. Bukan hal yang harus direndahkan terhadap statusnya itu.
“Ayo masuk,” ajak Tyo dengan ramah. Sedangkan barang bawaannya sengaja tidak diturunkan.
Di dalam, Ibunya Tyo sudah menyiapkan beberapa masakan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Apalagi waktu masih masuk jam sarapan, sebelum memulainya Tyo meminta Pandu dan Ardit untuk menikmati makanan bersama. Obrolan-obrolan kecil yang sifatnya pribadi pun bergema, termasuk sebuah fakta bahwa Dheril dan Tyo merupakan sepupu, Pandu dan Ardit baru mengetahuinya. Kisah lainnya juga cukup mengagetkan, pada awal merintis, Dheril merupakan sosok yang begitu ceria. Bahkan ketika rilisannya sepi penonton, ditanggapinya dengan positif. Semuanya berubah pada saat Dheril mencoba pola berbeda untuk membuat videonya digemari oleh orang-orang. Apalagi setelah percobaan pertamanya sukses besar hingga membawanya ke jajaran ‘Lima Elit’.
“Gue pribadi enggak menentang, lagian orang-orang juga paham kok yang mana asli yang mana setinggan,” ucap Pandu. “cuman Dheril ini terlalu menghayati, pengennya yang dilihat orang itu bener-bener nyata. Niat menghiburnya udah bener, caranya aja yang salah,” Tyo mengangguk setuju mendengarnya.
Saat sedang melanjutkan menyantap sarapan, terdengar suara keras dari teras rumah Tyo.
“PERMISI!” suara lantangnya terdengar sangat jelas, Ardit dan Pandu langsung menyadari siapa pemilik suara ini.
“Ya masuk!” Tyo mempersilahkan orang ini tuk masuk ke dalam.
Suara langkah kaki semakin lama semakin mendekat, rambut berwarna merah menyala langsung menjadi pusat perhatian. Orang itu adalah Rangga Bosman, yang sengaja diminta oleh Tyo sebagai tamu lainnya untuk memberikan saksinya bahwa Pandu tidak melakukan apa yang ditudukhkan oleh Dheril di video terbarunya itu. Kali ini Rangga datang sendiri, Aldi tidak mendampingi karena sosoknya yang malu jika harus bersaksi sendirian di depan kamera.
“Tenang, ada gue di sini. Masalah kalian akan beres,” ucap Rangga dengan penuh percaya diri. “tapi sebelumnya, gue boleh ikut sarapan dulu enggak?” sambil tertawa. Tyo tidak melarangnya dan malah menyuruhnya untuk makan dengan porsi banyak. “eh Tyo, kok itu cewek lo di dalam mobil enggak disuruh masuk?” Tyo terkejut mendengarnya, sedangkan Pandu dan Ardit saling melirik. “apa gue salah liat kali? Maklum belum sarapan,” Pandu dan Ardit tertawa canggung, lalu membelokan arah pembicaraan.
kulipriok dan namakuve memberi reputasi
2
Kutip
Balas