- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.3K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#72
35
Quote:
Kegeraman sungguh terlihat dari wajah Ardit, bagaimana tidak, sudah jelas bahwa Dheril merekayasa semua yang dikatakannya dalam video terbarunya itu. Ketiganya berkumpul di kosan Pandu untuk membahasnya. Gasimah pun ikut geram, jika tidak dicegah Pandu, mungkin Dheril sudah dihantuinya sedari tadi. Belum ada langkah jelas yang akan dilakukan, mereka masih membahasnya dengan kepala dingin terlebih dahulu. Komunitas misteri mampu dibuat heboh oleh ulah Dheril tersebut, begitu juga dengan penonton secara umum. Drama semakin membesar dan jadi santapan hangat pembuat konten di luar jalur.
“Gue tadi udah nanya ke Tyo,” ucap Ardit. “anehnya dia aja enggak tahu, sekarang lagi pergi ke rumah Dheril, kita tunggu aja kabarnya nanti,” semuanya setuju, alangkah baiknya menunggu kabar dari Tyo sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Ketika video itu rilis, Tyo yang baru saja ingin pergi ke rumah Dheril untuk membahas kejadian di rumah putih dibuat diam seribu bahasa. Dagunya hampir lepas mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut sepupunya itu. Bukan saja membuat api semakin membara, tingkah Dheril ini akan membuat namanya semakin jelek jika semua tuduhannya itu tidak terbukti. Dan akan menjadi bulan-bulan warga digital selama video itu ada di jagat raya internet.
“bodoh lo Dheril bodoh!” ucap Tyo sambil membawa sepeda motornya melaju ke rumah Dheril. Sudah banyak kata-kata maut yang akan dikeluarkannya nanti ketika bertemu.
Sepeda motor Tyo membawanya ke sebuah area parkir bawah tanah sebuah apartemen. Ternyata rumah Dheril itu berada di dalam gedung apartemen. Dari hanya sekedar membuat video bertemakan misteri, sudah banyak pundi-pundi yang terkumpul hingga bisa membeli sebuah unit apartemen. Setelah menepikan sepeda motornya, Tyo bergegas menuju lantai paling atas. Cocok dengan sifat Dheril yang selalu ingin berada di puncak.
“Awas aja lo Dheril,” angka di dalam lift terus beranjak naik.
Pintu lift pun terbuka, Tyo dengan langkah mantapnya berjalan ke unit apartemen tempat tinggal Dheril. Ada sebuah sistem kunci yang mengharuskan pemiliknya untuk menekan beberapa angka kombinasi. Uniknya hanya unit Dheril yang menggunakan sistem ini, sedangkan pemilik unit lain masih menggunakan sebuah kunci klasik. Tyo yang sudah sering mengunjungi tempat ini tentunya sangat hapal mengenai kombinasi angkanya.
Pintu Dheril berbunyi menandakan bahwa kombinasinya benar, Tyo mendorongnya dengan kuat hingga menghantam tembok. “DHERIL! DI MANA LO?!” teriak Tyo karena di ruang utama tidak terlihat sosok Dheril. Kakinya melangkah menuju studio cadangan, tempat Dheril ketika ingin membuat konten secara dadakan. Pintunya kembali dibuka dengan keras, kali ini sosok Dheril terlihat.
“Oi, udah nonton videonya belum?” tanya Dheril dengan santai, emosi Tyo semakin tidak terbendung.
“Eh bodoh!” jemari Tyo yang panjang itu mencengkram kerah baju Dheril. “lo mikir enggak, yang kayak gitu justru memperkeruh masalah!” ucapnya lantang.
“Memperkeruh? Kok kesannya jadi nyalahin gue, kan Pandu yang salah,” balas Dheril tidak terima dirinya dijadikan biang masalah.
Cengkramannya dikuatkan, “Apa? Lo ngelantur atau gimana? Gue ada di sana, lihat gimana lo nyuruh tuh anak-anak buat nanti jadi hantu-hantuan. Pandu mana tahu,” Dheril menjadi kesal mendengar perkataan Tyo itu.
“OH LO JADI BELAIN DIA? LO ENGGAK INGET KALAU GUE ENGGAK AJAK LO BEGINI, LO TUH MASIH JADI PENGANGGURAN! BEBAN BUAT ORTU LO!” tidak terima dikatakan seperti itu, Tyo mengepal tangannya satu lagi dengan sangat keras. Bersiap menghantam mulut Dheril, namun setelah diayun tangannya itu malah berhenti sebelum mendarat.
“Ok, gue keluar dari tim,” Tyo melepaskan cengkramannya. Lalu melangkah keluar dari studio cadangan, “gue juga akan bongkar semuanya,” kepalanya menoleh sebelum benar-benar pergi.
“Nama lo juga jadi jelek, lo mikir ga?!” bentak Dheril.
“Gue enggak perduli, nama gue juga udah jelek duluan semenjak ikut sama lo!” keadaan menjadi hening. Dheril malah tersenyum sinis, kejadian malam itu membuat mentalnya bergoyang hebat.
Di kosan, Pandu dan Ardit masih cemas menunggu kabar dari Tyo. Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, sebuah telepon dari Tyo. Ardit bergegas mengangkatnya, komunikasi pun terjalin melalui ponsel masing-masing. Inti dari pembicaraan bahwa Dheril sudah sulit untuk diajak kerjasama mengenai video fitnah itu, Tyo akan membantu Pandu dan Ardit untuk memulihkan nama mereka yang tercoreng akibat perkataan Dheril di internet. Dengan ini tujuan mereka sudah jelas, Pandu dan Ardit akan pergi ke kota Tyo berada, untuk meluruskan semua masalah ini.
“Lo emang bisa nyetir jauh begitu lewat tol pula?” tanya Pandu.
“Lah, kita naik kereta lah. Gila lo masa gue harus nyetir jauh-jauh. Lagipula tadi kan perjanjiannya ketemu besok, hari ini berasa chaos banget,” mata Ardit mengecil melihat Pandu.
“Kenapa?” tanya Pandu.
“Bener juga, kalau udah ketemu sama orang yang dicinta. Bisa bikin mood kita naik,” ledek Ardit, sedangkan Pandu tidak mengerti arah perkataan temannya itu.
Pagi-pagi sekali, baik Pandu dan Ardit sudah sampai di stasiun kereta api. Gasimah ikut mengintil masuk ke dalam ransel yang dibawa oleh Pandu. Sedangkan Tyo sedang menghirup udara pagi yang tidak begitu dingin ditambah secangkir kopi hangat. Tabuh peperangan sudah dibunyikan, semuanya akan bersiap untuk menghadapi fitnah Dheril yang malah asik tertawa melihat komentar-komentar yang sengaja dibuka olehnya. Kebanyakan masih bernada menghina dan menjelek-jelekan dirinya.
“Gue tadi udah nanya ke Tyo,” ucap Ardit. “anehnya dia aja enggak tahu, sekarang lagi pergi ke rumah Dheril, kita tunggu aja kabarnya nanti,” semuanya setuju, alangkah baiknya menunggu kabar dari Tyo sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Ketika video itu rilis, Tyo yang baru saja ingin pergi ke rumah Dheril untuk membahas kejadian di rumah putih dibuat diam seribu bahasa. Dagunya hampir lepas mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut sepupunya itu. Bukan saja membuat api semakin membara, tingkah Dheril ini akan membuat namanya semakin jelek jika semua tuduhannya itu tidak terbukti. Dan akan menjadi bulan-bulan warga digital selama video itu ada di jagat raya internet.
“bodoh lo Dheril bodoh!” ucap Tyo sambil membawa sepeda motornya melaju ke rumah Dheril. Sudah banyak kata-kata maut yang akan dikeluarkannya nanti ketika bertemu.
Sepeda motor Tyo membawanya ke sebuah area parkir bawah tanah sebuah apartemen. Ternyata rumah Dheril itu berada di dalam gedung apartemen. Dari hanya sekedar membuat video bertemakan misteri, sudah banyak pundi-pundi yang terkumpul hingga bisa membeli sebuah unit apartemen. Setelah menepikan sepeda motornya, Tyo bergegas menuju lantai paling atas. Cocok dengan sifat Dheril yang selalu ingin berada di puncak.
“Awas aja lo Dheril,” angka di dalam lift terus beranjak naik.
Pintu lift pun terbuka, Tyo dengan langkah mantapnya berjalan ke unit apartemen tempat tinggal Dheril. Ada sebuah sistem kunci yang mengharuskan pemiliknya untuk menekan beberapa angka kombinasi. Uniknya hanya unit Dheril yang menggunakan sistem ini, sedangkan pemilik unit lain masih menggunakan sebuah kunci klasik. Tyo yang sudah sering mengunjungi tempat ini tentunya sangat hapal mengenai kombinasi angkanya.
Pintu Dheril berbunyi menandakan bahwa kombinasinya benar, Tyo mendorongnya dengan kuat hingga menghantam tembok. “DHERIL! DI MANA LO?!” teriak Tyo karena di ruang utama tidak terlihat sosok Dheril. Kakinya melangkah menuju studio cadangan, tempat Dheril ketika ingin membuat konten secara dadakan. Pintunya kembali dibuka dengan keras, kali ini sosok Dheril terlihat.
“Oi, udah nonton videonya belum?” tanya Dheril dengan santai, emosi Tyo semakin tidak terbendung.
“Eh bodoh!” jemari Tyo yang panjang itu mencengkram kerah baju Dheril. “lo mikir enggak, yang kayak gitu justru memperkeruh masalah!” ucapnya lantang.
“Memperkeruh? Kok kesannya jadi nyalahin gue, kan Pandu yang salah,” balas Dheril tidak terima dirinya dijadikan biang masalah.
Cengkramannya dikuatkan, “Apa? Lo ngelantur atau gimana? Gue ada di sana, lihat gimana lo nyuruh tuh anak-anak buat nanti jadi hantu-hantuan. Pandu mana tahu,” Dheril menjadi kesal mendengar perkataan Tyo itu.
“OH LO JADI BELAIN DIA? LO ENGGAK INGET KALAU GUE ENGGAK AJAK LO BEGINI, LO TUH MASIH JADI PENGANGGURAN! BEBAN BUAT ORTU LO!” tidak terima dikatakan seperti itu, Tyo mengepal tangannya satu lagi dengan sangat keras. Bersiap menghantam mulut Dheril, namun setelah diayun tangannya itu malah berhenti sebelum mendarat.
“Ok, gue keluar dari tim,” Tyo melepaskan cengkramannya. Lalu melangkah keluar dari studio cadangan, “gue juga akan bongkar semuanya,” kepalanya menoleh sebelum benar-benar pergi.
“Nama lo juga jadi jelek, lo mikir ga?!” bentak Dheril.
“Gue enggak perduli, nama gue juga udah jelek duluan semenjak ikut sama lo!” keadaan menjadi hening. Dheril malah tersenyum sinis, kejadian malam itu membuat mentalnya bergoyang hebat.
Di kosan, Pandu dan Ardit masih cemas menunggu kabar dari Tyo. Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, sebuah telepon dari Tyo. Ardit bergegas mengangkatnya, komunikasi pun terjalin melalui ponsel masing-masing. Inti dari pembicaraan bahwa Dheril sudah sulit untuk diajak kerjasama mengenai video fitnah itu, Tyo akan membantu Pandu dan Ardit untuk memulihkan nama mereka yang tercoreng akibat perkataan Dheril di internet. Dengan ini tujuan mereka sudah jelas, Pandu dan Ardit akan pergi ke kota Tyo berada, untuk meluruskan semua masalah ini.
“Lo emang bisa nyetir jauh begitu lewat tol pula?” tanya Pandu.
“Lah, kita naik kereta lah. Gila lo masa gue harus nyetir jauh-jauh. Lagipula tadi kan perjanjiannya ketemu besok, hari ini berasa chaos banget,” mata Ardit mengecil melihat Pandu.
“Kenapa?” tanya Pandu.
“Bener juga, kalau udah ketemu sama orang yang dicinta. Bisa bikin mood kita naik,” ledek Ardit, sedangkan Pandu tidak mengerti arah perkataan temannya itu.
Pagi-pagi sekali, baik Pandu dan Ardit sudah sampai di stasiun kereta api. Gasimah ikut mengintil masuk ke dalam ransel yang dibawa oleh Pandu. Sedangkan Tyo sedang menghirup udara pagi yang tidak begitu dingin ditambah secangkir kopi hangat. Tabuh peperangan sudah dibunyikan, semuanya akan bersiap untuk menghadapi fitnah Dheril yang malah asik tertawa melihat komentar-komentar yang sengaja dibuka olehnya. Kebanyakan masih bernada menghina dan menjelek-jelekan dirinya.
namakuve dan kulipriok memberi reputasi
2
Kutip
Balas