- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#70
34
Quote:
Makanan yang dipesan oleh mereka berdua sudah datang, sama seperti masa lalunya, menu yang dipesan tidak berubah. Pandu meminta agar makanannya disantap selagi hangat, tetapi Kanindini ingin tahu dahulu tentang apa yang ingin dibicarakannya hingga harus mengajaknya ke tempat makan ini. Sendok yang sudah diangkat pun harus turun kembali, sebenarnya Pandu masih ragu untuk menceritakannya, tetapi tidak ada lagi orang yang bisa diajak. Lulu terlalu berisik karena suaranya sangat melengking.
“Oke, jadi aku tuh kemarin ada acara live sama rekanan. Cuman di live itu ada insiden besarlah, bukan aku yang salah memang enggak ada pemberitahuan juga kalau rekanan aku ini ternyata setinggan. Aku sempet cek komunitas baik-baik aja, mereka kayak paham aja kalau rekan aku memang selama ini setinggan. Tapi kan beda sama orang di medsos, mereka nyerang rekanan aku itu habis-habisan. Menurut kamu aku harus gimana? Bikin klarifikasi atau diam aja toh mereka kok yang salah udah setinggan,” saat bercerita begini, Kanindini menatapnya dengan senyum, tampaknya memori mereka kembali hadir.
“Hm, ternyata bener deh makan dulu, panjang ceritanya…,” masih sempatnya Kanindini bercanda. “saran aku sih kamu temuin dulu rekanan kamu itu. Terus aja ngobrol cari solusinya berdua. Meskipun kamu enggak salah tapi itu kan acaranya kalian berdua, setidaknya ada rasa tanggung jawab sih,” sambil menyantap makanananya. “pasti enggak bisa dihubungin kan? Jelas lah diserang begitu pasti lagi menyendiri. Tunggu aja coba satu atau dua hari,” Kanindini menambahkan.
“Bener juga, kalau sekarang-sekarang orangnya pasti lagi pusing. Nunggu dia tenang dulu,” Pandu teringat ketika Dheril malah mengamuk menuduhnya. “oh iya ada satu lagi,” Kanindini menunggu lanjutannya, tetapi Pandu terlihat sangat ragu.
“Kok diem? Kenapa? Satu lagi itu apa?” tanya Kanindini yang sudah kadung penasaran.
Pandu bercerita tentang Gasimah, tidak secara harfiah, tetapi menggunakan kata ganti orang lain. Tentang cara mengatasi suatu kesalahpahaman, di mana posisi Pandu ingin menjelaskan suatu duduk perkara, tetapi orang tersebut tidak sempat mendengarkan penjelasannya secara utuh. Dan kini orang itu malah menghilang, susah untuk dihubungi, sama seperti posisi Dheril. Mendengar cerita Pandu, Kanindini menyimpan sendoknya di atas piring, ia tersenyum.
“Kamu lagi deket sama yang cewek yah?” tanya Kanindini.
“Eh? Gimana?” Pandu terkejut. “itu bukan kayak…., duh gimana yah jelasinnya,” tidak banyak kalimat-kalimat yang enak melintas dalam benak Pandu.
“Enggak apa-apa aku paham kok, hm kalau gitu…,” Kanindini berpikir sejenak. “kalau urusan cewek sih enaknya samperin aja langsung, kalau didiemin nanti kesannya kamu malah enggak perduliin. Cewek itu seneng dicariin tahu,” ucap Kanindini sambil tersenyum. “eh aku lupa ada kelas tambahan, sebentar yah,” Kanindini sibuk membuka dompetnya, lalu mengeluarkan sejumlah uang. “aku titip yah, maaf banget aku lupa,” dengan gerakan seribu langkah, Kanindini pergi dari hadapan Pandu tanpa membiarkannya untuk bergerak satu inchi pun.
“Kanindini…,” suara Pandu tidak menggapainya, uang berwarna merah menatapnya. Saran dari Kaninidini menempel dibenaknya, untuk urusan Dheril bisa ditunda satu dua hari terlebih dahulu. Jangan terlalu lama supaya kasusnya tidak semakin membesar. Dan untuk Gasimah, Pandu akan memanggilnya nanti ketika berada di kosan.
Semua makanan telah habis kecuali kepunyaan dari Kanindini yang masih tersisa banyak. Obrolan sangat singkatnya itu memberikannya pencerahan, bahwa apapun masalahnya jalan satu-satunya adalah dengan menghadapinya. Perbedaannya adalah kapan harus maju di saat apinya masih besar atau apinya akan segera padam. Pertimbangan-pertimbangan lainnya juga muncul begitu Pandu melangkahkan kakinya keluar lalu berjalan menuju area kampus. Gedung besar tidak terasa hadir didepannya, padahal rasanya baru saja kakinya berjalan.
“Hm,” Pandu memutuskan untuk tidak memasuki perkuliahan tuk hari ini. Kakinya mantap melanjutkan perjalanan menuju kosan.
Di depan gerbang, sang penjaga dengan senyumannya yang paling lebar menyambutnya. Pandu melihat bekas makanan di pos penjaga. Nampaknya Kanindini memberikan makanan yang lezat hari ini. Suasana kosan terbilang sepi karena masanya sedang berada di luar menikmati kehidupannya masing-masing. Daun pintu dipegangnya, bentuk kamarnya masih sama, tidak terlalu rapih banyak barang bertebaran.
“Oke, Ga---,” belum juga selesai, sosok yang ingin dipanggilnya itu muncul.
“Aku maafin,” ucap Gasimah dengan cepat.
“Eh? Kok?” Pandu bahkan belum memberitahunya maksud dan tujuan memannggil sosok hantu wanita itu. “hm, kamu nguping yah?” akhirnya terjawab mengapa Gasimah bisa langsung mengetahuinya, niat Pandu untuk meminta maaf karena perkataannya waktu itu sedikit kasar.
“Iya tadi aku enggak sengaja liat kamu jalan berduaan sama cewek, aku ikutin aja,” jawab Gasimah. “Ardit nyariin tau, abis berantem dia sama Lulu,” sambil tertawa.
“Hah? Kok bisa?” ponsel Pandu berbunyi, ada telepon masuk dari Ardit. “panjang-panjang nih manusia, baru diomongin,” Pandu mengangkatnya. Suara Ardit begitu keras, memberitahu agar cepat membuka laptop dan melihat akun dari Dheril.
Laptop dinyalakan terlebih dahulu, Ardit masih terhubung. Dari suaranya yang bernada marah jelas Dheril telah melakukan sesuatu yang menyebalkan. Pandu diminta untuk melihatnya sendiri lalu memberikan komentarnya. Matanya tiba-tiba ingin keluar setelah melihat video baru dari Dheril, tidak percaya bahwa akun besar dan lebih senior darinya berbuat seperti itu. Apalagi Gasimah yang sangat kesal ingin segera mencarinya dan mencekik lehernya agar tubuh orang itu semakin pendek. Namun Pandu menghentikannya.
"Masalah baru lagi,” ucap Pandu melihat video baru Dheril berjudul ‘Klarifikasi’ yang isinya adalah memfitnah Pandu yang telah menjebaknya malam itu.
“Oke, jadi aku tuh kemarin ada acara live sama rekanan. Cuman di live itu ada insiden besarlah, bukan aku yang salah memang enggak ada pemberitahuan juga kalau rekanan aku ini ternyata setinggan. Aku sempet cek komunitas baik-baik aja, mereka kayak paham aja kalau rekan aku memang selama ini setinggan. Tapi kan beda sama orang di medsos, mereka nyerang rekanan aku itu habis-habisan. Menurut kamu aku harus gimana? Bikin klarifikasi atau diam aja toh mereka kok yang salah udah setinggan,” saat bercerita begini, Kanindini menatapnya dengan senyum, tampaknya memori mereka kembali hadir.
“Hm, ternyata bener deh makan dulu, panjang ceritanya…,” masih sempatnya Kanindini bercanda. “saran aku sih kamu temuin dulu rekanan kamu itu. Terus aja ngobrol cari solusinya berdua. Meskipun kamu enggak salah tapi itu kan acaranya kalian berdua, setidaknya ada rasa tanggung jawab sih,” sambil menyantap makanananya. “pasti enggak bisa dihubungin kan? Jelas lah diserang begitu pasti lagi menyendiri. Tunggu aja coba satu atau dua hari,” Kanindini menambahkan.
“Bener juga, kalau sekarang-sekarang orangnya pasti lagi pusing. Nunggu dia tenang dulu,” Pandu teringat ketika Dheril malah mengamuk menuduhnya. “oh iya ada satu lagi,” Kanindini menunggu lanjutannya, tetapi Pandu terlihat sangat ragu.
“Kok diem? Kenapa? Satu lagi itu apa?” tanya Kanindini yang sudah kadung penasaran.
Pandu bercerita tentang Gasimah, tidak secara harfiah, tetapi menggunakan kata ganti orang lain. Tentang cara mengatasi suatu kesalahpahaman, di mana posisi Pandu ingin menjelaskan suatu duduk perkara, tetapi orang tersebut tidak sempat mendengarkan penjelasannya secara utuh. Dan kini orang itu malah menghilang, susah untuk dihubungi, sama seperti posisi Dheril. Mendengar cerita Pandu, Kanindini menyimpan sendoknya di atas piring, ia tersenyum.
“Kamu lagi deket sama yang cewek yah?” tanya Kanindini.
“Eh? Gimana?” Pandu terkejut. “itu bukan kayak…., duh gimana yah jelasinnya,” tidak banyak kalimat-kalimat yang enak melintas dalam benak Pandu.
“Enggak apa-apa aku paham kok, hm kalau gitu…,” Kanindini berpikir sejenak. “kalau urusan cewek sih enaknya samperin aja langsung, kalau didiemin nanti kesannya kamu malah enggak perduliin. Cewek itu seneng dicariin tahu,” ucap Kanindini sambil tersenyum. “eh aku lupa ada kelas tambahan, sebentar yah,” Kanindini sibuk membuka dompetnya, lalu mengeluarkan sejumlah uang. “aku titip yah, maaf banget aku lupa,” dengan gerakan seribu langkah, Kanindini pergi dari hadapan Pandu tanpa membiarkannya untuk bergerak satu inchi pun.
“Kanindini…,” suara Pandu tidak menggapainya, uang berwarna merah menatapnya. Saran dari Kaninidini menempel dibenaknya, untuk urusan Dheril bisa ditunda satu dua hari terlebih dahulu. Jangan terlalu lama supaya kasusnya tidak semakin membesar. Dan untuk Gasimah, Pandu akan memanggilnya nanti ketika berada di kosan.
Semua makanan telah habis kecuali kepunyaan dari Kanindini yang masih tersisa banyak. Obrolan sangat singkatnya itu memberikannya pencerahan, bahwa apapun masalahnya jalan satu-satunya adalah dengan menghadapinya. Perbedaannya adalah kapan harus maju di saat apinya masih besar atau apinya akan segera padam. Pertimbangan-pertimbangan lainnya juga muncul begitu Pandu melangkahkan kakinya keluar lalu berjalan menuju area kampus. Gedung besar tidak terasa hadir didepannya, padahal rasanya baru saja kakinya berjalan.
“Hm,” Pandu memutuskan untuk tidak memasuki perkuliahan tuk hari ini. Kakinya mantap melanjutkan perjalanan menuju kosan.
Di depan gerbang, sang penjaga dengan senyumannya yang paling lebar menyambutnya. Pandu melihat bekas makanan di pos penjaga. Nampaknya Kanindini memberikan makanan yang lezat hari ini. Suasana kosan terbilang sepi karena masanya sedang berada di luar menikmati kehidupannya masing-masing. Daun pintu dipegangnya, bentuk kamarnya masih sama, tidak terlalu rapih banyak barang bertebaran.
“Oke, Ga---,” belum juga selesai, sosok yang ingin dipanggilnya itu muncul.
“Aku maafin,” ucap Gasimah dengan cepat.
“Eh? Kok?” Pandu bahkan belum memberitahunya maksud dan tujuan memannggil sosok hantu wanita itu. “hm, kamu nguping yah?” akhirnya terjawab mengapa Gasimah bisa langsung mengetahuinya, niat Pandu untuk meminta maaf karena perkataannya waktu itu sedikit kasar.
“Iya tadi aku enggak sengaja liat kamu jalan berduaan sama cewek, aku ikutin aja,” jawab Gasimah. “Ardit nyariin tau, abis berantem dia sama Lulu,” sambil tertawa.
“Hah? Kok bisa?” ponsel Pandu berbunyi, ada telepon masuk dari Ardit. “panjang-panjang nih manusia, baru diomongin,” Pandu mengangkatnya. Suara Ardit begitu keras, memberitahu agar cepat membuka laptop dan melihat akun dari Dheril.
Laptop dinyalakan terlebih dahulu, Ardit masih terhubung. Dari suaranya yang bernada marah jelas Dheril telah melakukan sesuatu yang menyebalkan. Pandu diminta untuk melihatnya sendiri lalu memberikan komentarnya. Matanya tiba-tiba ingin keluar setelah melihat video baru dari Dheril, tidak percaya bahwa akun besar dan lebih senior darinya berbuat seperti itu. Apalagi Gasimah yang sangat kesal ingin segera mencarinya dan mencekik lehernya agar tubuh orang itu semakin pendek. Namun Pandu menghentikannya.
"Masalah baru lagi,” ucap Pandu melihat video baru Dheril berjudul ‘Klarifikasi’ yang isinya adalah memfitnah Pandu yang telah menjebaknya malam itu.
kulipriok dan namakuve memberi reputasi
2
Kutip
Balas