- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#69
33
Quote:
Ardit mendapatkan kabar keesokan harinya dari Tyo yang pulang kerumahnya bersama kru yang lain bahwa Dheril tidak ada di sana. Ponselnya pun tidak aktif semenjak kejadian semalam. Komentar-komentar miring terus berdatangan di akun ‘DheMisteRil’, semuanya bernada mengejek. Bahkan beberapanya terhitung sangat pedas jika dibacakan langsung. Berbeda sekali reaksi orang-orang komunitas misteri itu sendiri, mereka lebih menyikapi secara dewasa. Hanya saja Dheril tidak berfokus di sana, hanya hujatan yang terus dimakannya.
“Sialan! baik!” ucap Dheril sambil memegang ponsel keduanya, melalui akun siluman dia membaca semua komentar. “niat banget mereka, ngulik-ngulik episode yang dulu-dulu,” emosinya naik, ponsel yang murah itu dilemparnya sembarang, dibiarkan mendarat sesuka hatinya.
Kursi direktur berwarna hitam didudukinya, sambil mengigit kukunya Dheril memutar otaknya. Bagaimana kata-kata yang harus dipersiapkan untuk mengklarifikasi kejadian kemarin. Selagi menunggu ide cemerlang itu masuk, ponsel utamanya dinyalakan. Notifikasi membredelnya dengan banyak, hampir semuanya dari Tyo. Ada pesan menyelip dari Rangga Bosman, menanyakan kabarnya.
“Oh iya untungnya ada kru di situ, Tyo bisa pulang,” memorinya masuk kembali, ada dua kru yang menyebabkan ini semua terjadi, yang disebabkan oleh guna-guna Pandu. “kru tolol! Pandu nih pasti, gue yakin banget!” tetap yakin pada pendiriannya, bahwa Pandu adalah penyebab semuanya.
Tidak berhenti disitu, karena status akun ‘DheMisteRil’ sudah besar dan termasuk ‘Lima Elit’. Banyak orang-orang pembuat konten di luar jalur misteri yang ikut mengomentari kejadian memalukan itu. Menambah opini-opini liar yang terus berdatangan. Selain akun pribadi Dheril, Tyo rekannya pun tidak ketinggalan. Dia disebut salah satu pihak yang juga merencanakan konten di setiap episodenya. Padahal jika orang-orang itu tahu, Tyo hanya bertugas sebagai tukang kamera saja. Ide utama berasal dari Dheril, untuk proses penyuntingan ada kru-kru yang melakukannya.
“Kan gue juga kena, kemana sih tuh anak setan!” Tyo yang biasanya datar saja tidak perduli, kini merasa jengah setelah berdatangan pesan bernada negatif ke akun pribadinya. “dia udah buka ponselnya, malah ngebaca aja pesannya. Ditelepon malah enggak diangkat,” Tyo menggelengkan kepalanya tidak tahu harus melakukan apa.
Kembali ke kampus tercinta, Ardit duduk sendirian di kantin yang begitu luas. Pandu tidak ditemukan dikosannya, begitu pun ponselnya tidak aktif. Kaleng minuman berwarna biru menatapnya sambil tertawa, di saat orang lain sedang bercengkrama dengan temannya membagi kehidupan, Ardit hanya bisa mengolo seperti orang linglung. Kakinya berat ketika melangkah untuk keluar dari zona kantin ini, suara melengking entah dari mana masuk ke dalam telinganya.
“Heh! Mau ke mana?” tanya Lulu. “gue tadi liat si Pandu sama Kanindini jalan berdua.”
“Hah? Yang bener?” Ardit tidak percaya apa yang didengarnya. “si geblek, pantes kaga aktif. Lagi begini bisa-bisanya tuh anak!” reaksi Ardit membuat Lulu bertanya-tanya.
“Ada apa sih?” Lulu langsung mengerti arahnya dalam sedetik. “oh pasti kejadian live itu kan? Lo tau enggak sih kalau Dheril itu ternyata kontennya setinggan?” Ardit hanya menatapnya sinis. “eh ini gue serius ngomongnya, kok lo begitu mulu sih ke gue?!” nadanya meninggi.
“Lah lo kok sewot, gue enggak tahulah urusan dapur orang. Gue juga kaget ada krunya yang pasang begituan,” Ardit berbohong karena sebenarnya sudah dibongkar oleh Gasimah. Kali ini berganti Lulu yang memasang wajah sinis, lalu pergi tanpa berkata satu pun. “ini cuaca lagi panas apa gimana? Kok semuanya serba sensitif!”
Di suatu tempat makan, Pandu dan Kanindini sedang duduk berdua menunggu pesanannya datang. Tempat ini setahun lalu jadi favorit mereka berdua, selain jaraknya dekat dengan kampus tinggal berjalan kaki saja, harganya tergolong murah pas di kantong mahasiswa. Keadaan cukup ramai karena tepat di waktu jam makan siang, orang kantoran juga sedang aktif memesan.
“Makasih yah udah mau aku ajak ke sini lagi,” ucap Pandu.
“Enggak masalah, kebetulan aku belum makan siang. Baru aja ngasih penjaga kosan kamu makan, hehe,” ucap Kanindini sambil tertawa kecil. “oh iya katanya di chat kamu mau ngobrolin sesuatu?”
Gasimah menguping pembicaraan dari atap tepat di atas kepala Pandu tanpa sepengetahuannya.
“Sialan! baik!” ucap Dheril sambil memegang ponsel keduanya, melalui akun siluman dia membaca semua komentar. “niat banget mereka, ngulik-ngulik episode yang dulu-dulu,” emosinya naik, ponsel yang murah itu dilemparnya sembarang, dibiarkan mendarat sesuka hatinya.
Kursi direktur berwarna hitam didudukinya, sambil mengigit kukunya Dheril memutar otaknya. Bagaimana kata-kata yang harus dipersiapkan untuk mengklarifikasi kejadian kemarin. Selagi menunggu ide cemerlang itu masuk, ponsel utamanya dinyalakan. Notifikasi membredelnya dengan banyak, hampir semuanya dari Tyo. Ada pesan menyelip dari Rangga Bosman, menanyakan kabarnya.
“Oh iya untungnya ada kru di situ, Tyo bisa pulang,” memorinya masuk kembali, ada dua kru yang menyebabkan ini semua terjadi, yang disebabkan oleh guna-guna Pandu. “kru tolol! Pandu nih pasti, gue yakin banget!” tetap yakin pada pendiriannya, bahwa Pandu adalah penyebab semuanya.
Tidak berhenti disitu, karena status akun ‘DheMisteRil’ sudah besar dan termasuk ‘Lima Elit’. Banyak orang-orang pembuat konten di luar jalur misteri yang ikut mengomentari kejadian memalukan itu. Menambah opini-opini liar yang terus berdatangan. Selain akun pribadi Dheril, Tyo rekannya pun tidak ketinggalan. Dia disebut salah satu pihak yang juga merencanakan konten di setiap episodenya. Padahal jika orang-orang itu tahu, Tyo hanya bertugas sebagai tukang kamera saja. Ide utama berasal dari Dheril, untuk proses penyuntingan ada kru-kru yang melakukannya.
“Kan gue juga kena, kemana sih tuh anak setan!” Tyo yang biasanya datar saja tidak perduli, kini merasa jengah setelah berdatangan pesan bernada negatif ke akun pribadinya. “dia udah buka ponselnya, malah ngebaca aja pesannya. Ditelepon malah enggak diangkat,” Tyo menggelengkan kepalanya tidak tahu harus melakukan apa.
Kembali ke kampus tercinta, Ardit duduk sendirian di kantin yang begitu luas. Pandu tidak ditemukan dikosannya, begitu pun ponselnya tidak aktif. Kaleng minuman berwarna biru menatapnya sambil tertawa, di saat orang lain sedang bercengkrama dengan temannya membagi kehidupan, Ardit hanya bisa mengolo seperti orang linglung. Kakinya berat ketika melangkah untuk keluar dari zona kantin ini, suara melengking entah dari mana masuk ke dalam telinganya.
“Heh! Mau ke mana?” tanya Lulu. “gue tadi liat si Pandu sama Kanindini jalan berdua.”
“Hah? Yang bener?” Ardit tidak percaya apa yang didengarnya. “si geblek, pantes kaga aktif. Lagi begini bisa-bisanya tuh anak!” reaksi Ardit membuat Lulu bertanya-tanya.
“Ada apa sih?” Lulu langsung mengerti arahnya dalam sedetik. “oh pasti kejadian live itu kan? Lo tau enggak sih kalau Dheril itu ternyata kontennya setinggan?” Ardit hanya menatapnya sinis. “eh ini gue serius ngomongnya, kok lo begitu mulu sih ke gue?!” nadanya meninggi.
“Lah lo kok sewot, gue enggak tahulah urusan dapur orang. Gue juga kaget ada krunya yang pasang begituan,” Ardit berbohong karena sebenarnya sudah dibongkar oleh Gasimah. Kali ini berganti Lulu yang memasang wajah sinis, lalu pergi tanpa berkata satu pun. “ini cuaca lagi panas apa gimana? Kok semuanya serba sensitif!”
Di suatu tempat makan, Pandu dan Kanindini sedang duduk berdua menunggu pesanannya datang. Tempat ini setahun lalu jadi favorit mereka berdua, selain jaraknya dekat dengan kampus tinggal berjalan kaki saja, harganya tergolong murah pas di kantong mahasiswa. Keadaan cukup ramai karena tepat di waktu jam makan siang, orang kantoran juga sedang aktif memesan.
“Makasih yah udah mau aku ajak ke sini lagi,” ucap Pandu.
“Enggak masalah, kebetulan aku belum makan siang. Baru aja ngasih penjaga kosan kamu makan, hehe,” ucap Kanindini sambil tertawa kecil. “oh iya katanya di chat kamu mau ngobrolin sesuatu?”
Gasimah menguping pembicaraan dari atap tepat di atas kepala Pandu tanpa sepengetahuannya.
kulipriok dan namakuve memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup