- Beranda
- Stories from the Heart
AKU dan MEREKA
...
TS
okushi
AKU dan MEREKA
Gerimis ringan bertebaran menyambut malam dikala sore itu, awan mendung yang sedari pagi menggumpal, seakan malas beranjak dari posisi tidurnya. Sayup-sayup telinga ini mendengar lantunan Shalawat Tarhim (doa-doa sebelum adzan di kumandangkan) dari masjid yang berada di RW sebelah, mengingatkan waktu Sholat Maghrib akan segera tiba.
"Bagaimana ini pak, sudah 3 minggu demamnya belum juga turun, obat dari dokter yang kesekian kalinya juga sudah hampir habis, hanya sisa untuk diminumkan malam ini dan besok saja", ucap wanita muda itu, yang sedang memeluk seorang anak dalam gendongannya.
"Iya ya bu, padahal dokter bilang demam biasa saja, semua normal, tidak ada gejala DBD, THYPUS atau penyebab yang lain", sahut suaminya.
"Salah diagnosa palingan dokternya", dengan nada skeptis salah satu pria yang lebih muda dari mereka menyela pembicaraan.
"Ahh... Ga mungkin, sudah kita check dengan dokter yang berbeda, diagnosa dari mereka sama persis. Janggal rasanya kalau mereka salah diagnosa, mengingat mereka juga dokter senior dan langganan keluarga kita. Apalagi data dari CT Scan juga normal-normal saja", tepis bapak dari anak itu.
"Trus anak ini gimana, umurnya masih 5 tahun loh, kalau panasnya ga turun bisa-bisa lewat dia", celetuk pria itu lagi.
"Husshh... Antok..!! Jangan asal kalo ngomong, lebih baik kamu diam dulu daripada memperkeruh keadaan", sanggah bapak dari anak kecil itu dengan suara rendah, dan setengah tegas setelah melihat istrinya meneteskan air mata mendengar perkataan Antok.
Ya, Antok namanya, teman bapak dari anak yang sedang sakit itu dan sudah mereka anggap sebagai keluarga, seperti adik mereka sendiri. Sebenarnya dia sangat baik, tingkah lakunya yang konyol saat bermain dengan anak mereka, bahkan ikut merawat juga sangat mencerminkan kasih sayang nya, pun saat bersama dengan keluarga yang lain. Memang cara bicaranya yang kadang tak terkontrol dan terkesan "asal" kalau mengemukakan pendapat, menjadi nilai minus dan secara otomatis langsung menutupi semua kebaikannya.
Ibu muda itu terus memeluk erat sembari membenamkan wajahnya ke dada mungil anak kecil yang sedang terkulai lemas itu, uraian air mata yang mambanjiri setengah baju anaknya mencerminkan kekhawatiran dan kesedihan yang teramat sangat dalam. Dengan lembut suaminya menenangkan serta mengingatkan untuk terus berdoa kepada Tuhan, agar anak itu diberikan kesehatan dan semua kembali normal dan berjalan seperti sedia kala.
"Sabar bu, kita terus berdoa dan ikhtiar ya, besok kalau obatnya sudah habis kita periksakan lagi ke dokter", suaminya mencoba menenangkan.
"Mau ke dokter yang mana lagi pak..?? Kita sudah coba semua dokter umum dan spesialis, dari yang pribadi juga yang di rumah sakit, semua diagnosanya sama pak. Bahkan sudah 2 kali CT Scan juga hasilnya normal. Anak kita sakit apa pak..??", keluh istrinya dengan sesekali menyeka mata.
"Ke dukun udah coba mbak..?? siapa tau kiriman...", ketus Antok lagi.
"Stop tok, diam kamu..!!", potong si bapak setengah membentak.
"Sudahlah pak... Antok mungkin benar, apa salahnya semua kita coba, boleh ya pak...", mohon istrinya memelas.
Ditengah kebingungan dan ketidakpastian diantara mereka, tiba-tiba anak kecil itu berkata dengan suara lirih dan parau.
"Nenek..."
Mendengar itu, seakan dikomando mereka bertiga langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar, selang beberapa detik menamatkan pandangan tapi tidak ada siapapun disana, mereka mulai saling bertatapan sembari mengernyitkan dahi. Antok sedikit mengangkat pundak menegaskan tidak tahu dan memastikan tidak ada siapa-siapa disana.
"Nenek masih dalam perjalanan pulang dari luar kota sayang, besok baru sampai. Adik sudah kangen nenek ya..??" dengan lembut ibunya menenangkan sembari mengelus rambut anak itu yang mulai basah karna keringat.
"Iya sayang, nenek sudah bawain oleh-oleh mainan kesu......"
"Dalam lemari..."
Belum selesai si bapak bicara, tiba-tiba anak itu memotong dengan suara lirihnya.
Seketika mereka terdiam saling pandang dan kebingungan dengan perkataan anak itu.
Dengan tetap tenang dan mencoba keras untuk berpikir positif walaupun seluruh bulu kuduknya sudah menegang, bapak menanyakan maksud dari perkataan anaknya dengan pelan, "Dalam lemari kenapa dik..??"
"Neneknya duduk di dalam lemari..."
Dengan aba-aba dari bapak, wanita itu sigap membawa anaknya menjauh dan berjalan cepat keluar dari kamar tidur.
Kini tinggal bapak yang masih berada didalam kamar ditemani oleh Antok, terlihat jelas ketakutan dari raut muka mereka berdua saat menyiapkan nyali. Dengan saling melempar anggukan aba-aba, mereka mulai memberanikan diri dan melangkahkan kaki menuju lemari.
Bapak: "Buka pintu lemarinya, Tok"
Antok: "Kamu saja mas"
Bapak: "Buka saja, jangan takut, aku dibelakangmu"
Antok: "Tuker tempat aja lahh kita"
Bapak: "Sudahlahh buka saja, ini lemari kecil, ga mungkin ada orang didalem juga"
Antok: "Yang aku takutin malah yang bukan orang bos"
Suasana sunyi dan keringat dingin yang bercucuran membuat malam itu terasa mencekam, lama mereka menumbuhkan nyali hanya untuk membuka sebuah lemari kain kecil yang kusam.
Lemari itu sendiri berukuran sebesar minibar (kulkas kecil yang umumnya ada di dalam kamar hotel bintang 4), full kain, dan pintunya memakai resleting.
Saat keberanian mulai tumbuh, sang bapak akhirnya maju dan berdiri di depan pintu lemari untuk membukanya. Dengan ancang-ancang penuh keyakinan, dia memberanikan diri memegang ujung resleting dan siap membukanya.
Antok: "Hati-hati mas"
Bapak: "Iya"
Antok: "Aku pergi ambil sapu dulu mas"
Bapak: "Jangan macam-macam kamu, diem sini temenin aku"
Antok: "Kita ga punya senjata mas, siapa tau ada ular keluar dari sana. Paling ga kita pegang pemukul"
Bapak: "Jangan ngaco, disini ga ada ular. Udah ga ada waktu, jangan berisik, berdoa aja semoga ga ada apa-apa"
Antok: "Aku takut mas"
Bapak: "Udah tua masih aja penakut, malu sama umur. Diem, kalao ngomong lagi aku suruh kamu buka lemarinya nihh"
Dengan eratnya Antok berpegangan kerah baju belakang bapak sampai leher bapak agak tercekik.
Bapak: "Lepaskan tanganmu Antok, leherku kamu tercekik"
Antok: "maaf mas ga sengaja"
Bapak: "Bantu doa Tok, kita buka sekarang"
Antok: "Baik mas"
Dan mereka mulai melafadzkan surat-surat pendek yang mereka hafal sembari membuka resleting dari lemari kain tersebut secara perlahan. Saat lemari mulai terbuka, semakin bercucuran keringat dingin yang keluar dari pori-pori kepala, semakin cepat laju jantung memacu, sampai lutut kaki sudah tak tahan lagi menopang tubuh mereka. Mata mereka setengah melotot tak percaya dengan apa yang saat itu mereka lihat, mulut mereka terdiam kaku membisu dan tak sanggup berkata-kata, bersuara pun tak mampu...
(BERSAMBUNG...)
Next...
"Tanpa ekspresi, dia tetap hening duduk di dalam lemari, bahkan menoleh pun tidak"
List:
- Episode 2
- Episode 3
- Episode 4 (Tamat)
"Bagaimana ini pak, sudah 3 minggu demamnya belum juga turun, obat dari dokter yang kesekian kalinya juga sudah hampir habis, hanya sisa untuk diminumkan malam ini dan besok saja", ucap wanita muda itu, yang sedang memeluk seorang anak dalam gendongannya.
"Iya ya bu, padahal dokter bilang demam biasa saja, semua normal, tidak ada gejala DBD, THYPUS atau penyebab yang lain", sahut suaminya.
"Salah diagnosa palingan dokternya", dengan nada skeptis salah satu pria yang lebih muda dari mereka menyela pembicaraan.
"Ahh... Ga mungkin, sudah kita check dengan dokter yang berbeda, diagnosa dari mereka sama persis. Janggal rasanya kalau mereka salah diagnosa, mengingat mereka juga dokter senior dan langganan keluarga kita. Apalagi data dari CT Scan juga normal-normal saja", tepis bapak dari anak itu.
"Trus anak ini gimana, umurnya masih 5 tahun loh, kalau panasnya ga turun bisa-bisa lewat dia", celetuk pria itu lagi.
"Husshh... Antok..!! Jangan asal kalo ngomong, lebih baik kamu diam dulu daripada memperkeruh keadaan", sanggah bapak dari anak kecil itu dengan suara rendah, dan setengah tegas setelah melihat istrinya meneteskan air mata mendengar perkataan Antok.
Ya, Antok namanya, teman bapak dari anak yang sedang sakit itu dan sudah mereka anggap sebagai keluarga, seperti adik mereka sendiri. Sebenarnya dia sangat baik, tingkah lakunya yang konyol saat bermain dengan anak mereka, bahkan ikut merawat juga sangat mencerminkan kasih sayang nya, pun saat bersama dengan keluarga yang lain. Memang cara bicaranya yang kadang tak terkontrol dan terkesan "asal" kalau mengemukakan pendapat, menjadi nilai minus dan secara otomatis langsung menutupi semua kebaikannya.
Ibu muda itu terus memeluk erat sembari membenamkan wajahnya ke dada mungil anak kecil yang sedang terkulai lemas itu, uraian air mata yang mambanjiri setengah baju anaknya mencerminkan kekhawatiran dan kesedihan yang teramat sangat dalam. Dengan lembut suaminya menenangkan serta mengingatkan untuk terus berdoa kepada Tuhan, agar anak itu diberikan kesehatan dan semua kembali normal dan berjalan seperti sedia kala.
"Sabar bu, kita terus berdoa dan ikhtiar ya, besok kalau obatnya sudah habis kita periksakan lagi ke dokter", suaminya mencoba menenangkan.
"Mau ke dokter yang mana lagi pak..?? Kita sudah coba semua dokter umum dan spesialis, dari yang pribadi juga yang di rumah sakit, semua diagnosanya sama pak. Bahkan sudah 2 kali CT Scan juga hasilnya normal. Anak kita sakit apa pak..??", keluh istrinya dengan sesekali menyeka mata.
"Ke dukun udah coba mbak..?? siapa tau kiriman...", ketus Antok lagi.
"Stop tok, diam kamu..!!", potong si bapak setengah membentak.
"Sudahlah pak... Antok mungkin benar, apa salahnya semua kita coba, boleh ya pak...", mohon istrinya memelas.
Ditengah kebingungan dan ketidakpastian diantara mereka, tiba-tiba anak kecil itu berkata dengan suara lirih dan parau.
"Nenek..."
Mendengar itu, seakan dikomando mereka bertiga langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar, selang beberapa detik menamatkan pandangan tapi tidak ada siapapun disana, mereka mulai saling bertatapan sembari mengernyitkan dahi. Antok sedikit mengangkat pundak menegaskan tidak tahu dan memastikan tidak ada siapa-siapa disana.
"Nenek masih dalam perjalanan pulang dari luar kota sayang, besok baru sampai. Adik sudah kangen nenek ya..??" dengan lembut ibunya menenangkan sembari mengelus rambut anak itu yang mulai basah karna keringat.
"Iya sayang, nenek sudah bawain oleh-oleh mainan kesu......"
"Dalam lemari..."
Belum selesai si bapak bicara, tiba-tiba anak itu memotong dengan suara lirihnya.
Seketika mereka terdiam saling pandang dan kebingungan dengan perkataan anak itu.
Dengan tetap tenang dan mencoba keras untuk berpikir positif walaupun seluruh bulu kuduknya sudah menegang, bapak menanyakan maksud dari perkataan anaknya dengan pelan, "Dalam lemari kenapa dik..??"
"Neneknya duduk di dalam lemari..."
Dengan aba-aba dari bapak, wanita itu sigap membawa anaknya menjauh dan berjalan cepat keluar dari kamar tidur.
Kini tinggal bapak yang masih berada didalam kamar ditemani oleh Antok, terlihat jelas ketakutan dari raut muka mereka berdua saat menyiapkan nyali. Dengan saling melempar anggukan aba-aba, mereka mulai memberanikan diri dan melangkahkan kaki menuju lemari.
Bapak: "Buka pintu lemarinya, Tok"
Antok: "Kamu saja mas"
Bapak: "Buka saja, jangan takut, aku dibelakangmu"
Antok: "Tuker tempat aja lahh kita"
Bapak: "Sudahlahh buka saja, ini lemari kecil, ga mungkin ada orang didalem juga"
Antok: "Yang aku takutin malah yang bukan orang bos"
Suasana sunyi dan keringat dingin yang bercucuran membuat malam itu terasa mencekam, lama mereka menumbuhkan nyali hanya untuk membuka sebuah lemari kain kecil yang kusam.
Lemari itu sendiri berukuran sebesar minibar (kulkas kecil yang umumnya ada di dalam kamar hotel bintang 4), full kain, dan pintunya memakai resleting.
Saat keberanian mulai tumbuh, sang bapak akhirnya maju dan berdiri di depan pintu lemari untuk membukanya. Dengan ancang-ancang penuh keyakinan, dia memberanikan diri memegang ujung resleting dan siap membukanya.
Antok: "Hati-hati mas"
Bapak: "Iya"
Antok: "Aku pergi ambil sapu dulu mas"
Bapak: "Jangan macam-macam kamu, diem sini temenin aku"
Antok: "Kita ga punya senjata mas, siapa tau ada ular keluar dari sana. Paling ga kita pegang pemukul"
Bapak: "Jangan ngaco, disini ga ada ular. Udah ga ada waktu, jangan berisik, berdoa aja semoga ga ada apa-apa"
Antok: "Aku takut mas"
Bapak: "Udah tua masih aja penakut, malu sama umur. Diem, kalao ngomong lagi aku suruh kamu buka lemarinya nihh"
Dengan eratnya Antok berpegangan kerah baju belakang bapak sampai leher bapak agak tercekik.
Bapak: "Lepaskan tanganmu Antok, leherku kamu tercekik"
Antok: "maaf mas ga sengaja"
Bapak: "Bantu doa Tok, kita buka sekarang"
Antok: "Baik mas"
Dan mereka mulai melafadzkan surat-surat pendek yang mereka hafal sembari membuka resleting dari lemari kain tersebut secara perlahan. Saat lemari mulai terbuka, semakin bercucuran keringat dingin yang keluar dari pori-pori kepala, semakin cepat laju jantung memacu, sampai lutut kaki sudah tak tahan lagi menopang tubuh mereka. Mata mereka setengah melotot tak percaya dengan apa yang saat itu mereka lihat, mulut mereka terdiam kaku membisu dan tak sanggup berkata-kata, bersuara pun tak mampu...
(BERSAMBUNG...)
Next...
"Tanpa ekspresi, dia tetap hening duduk di dalam lemari, bahkan menoleh pun tidak"
List:
- Episode 2
- Episode 3
- Episode 4 (Tamat)
Diubah oleh okushi 11-07-2024 13:04
redrices dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.6K
70
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
okushi
#27
Episode 4
(Sebelumnya)
"Makasih ya masss... Makasihhh... Mas udah selametin aku dari kejaran
setan... huwaaa...", ucap Antok menangis histeris.
"Iya.. Iya... Cuma mimpi, ga usah dipikirin. Ya udah wudhu sana udah
subuh nihh, kita sholat berjamaah. Untung tadi istriku liat kamu pas mau ambil wudhu, katanya kamu KETINDIHAN sambil melet-melet. Hehehehe", jelas bapak sambil tertawa.
"Jangan bercanda mas, aku masih takut nihh, badanku masih gemeter
nihh", kata antok sambil memperlihatkan kedua tangannya yang masih tremor.
"Udah ayo Antok ambil wudhu, kita solat berjamaah, gak usah dibahas lagi. Yang penting Antok udah bangun", kata ibu mengingatkan dengan lembut.
"iya mbak, makasih sekali lagi udah dibangunin, hikkks", isak Antok dan langsung pergi mengambil wudhu untuk sholat Subuh berjamaah.
Kejadian yang menurutnya aneh dan gak masuk akal ini akan selalu diingat oleh Antok, berawal dari kehadiran Almh. mbah buyut dan berlanjut ke dia yang mengalami kelumpuhan tidur atau yang disebut Ketindihan.
*Ketindihan atau Sleep Paralysis, fenomena ini disebut kelumpuhan tidur. Di Indonesia, fenomena ini sering diasosiasikan dengan kehadiran makhluk halus atau hantu di atas badan penderitanya.
-----------------------------------------------------------------------
-----------------
Satu tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, 5 tahun kira-kira saat ini usiaku. Pagi ini keadaan mulai terlihat normal seperti biasa. Semua melakukan aktivitas seperti sedia kala; bapak pergi bekerja, ibu memasak di dapur, aku sudah mulai berani bermain bersama teman-teman sebaya, Antok juga sudah pergi bersama bapak karna mereka bekerja di satu kantor yang sama. Jam 10 pagi seperti biasa para ibu-ibu tetangga mulai berdatangan, maklum depan rumah seringnya buat nongkrong para ibu-ibu sembari transfer informasi-informasi terkini. Jadi polanya, jam 5-6 pagi para ibu-ibu berkumpul di depan rumah untuk berbelanja, karna tiap pagi juga ada mamang-mamang sayur yang standby menjajakan sayur mayur dan lauk pauk. Diatas jam 9 pagi, mereka berkumpul di depan rumah lagi dengan membawa anak masing-masing. Dalihnya mengawasi anak-anaknya agar bermain bersama, mereka malah bertukar informasi dari yang lagi hot-hotnya sampai informasi yang ga penting-penting banget. Maklum tidak ada handphone saat itu, jadi pertukaran informasi masih menggunakan praktik M2M (Mouth to Mouth), sangat terlihat jelas bahwa kehidupan bertetangga masih terasa intim dan mesra.
Hari ini lumayan banyak yang main bersamaku, jadi di teras rumah terlihat seperti taman playgroup karna penuh anak-anak kecil seumuranku dan berbagai macam mainan seperti; Die-Cast mobil, motor, tentara, kereta api, batman, superman, ultraman, satwa-satwa, mahluk prasejarah, sampai berbagai boneka ikut berserakan.
Saking serunya main sampai tak terasa jarum jam sudah menunjuk angka 12.30, para ibu-ibu mulai undur diri lalu membawa anak mereka satu per satu untuk makan dan tidur siang.
"Elen, kamu ga pulang..??", kataku. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Elen adalah temanku, dia anak perempuan campuran bule dan lokal, usianya kira-kira setara denganku, 5 tahunan.
Elen teman yang paling sering bermain denganku, sangat gampang diingat, karena dia berbeda dengan yang lain. Kulitnya putih, rambutnya warna blonde dan ikal bergelombang, panjangnya sepinggang dan menutup sebagian wajahnya.
"Aku masuk dulu ya, nanti sore main lagi", pamitku. Dia masih tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan. Ku balas senyum dan anggukan juga lalu meninggalkannya untuk kembali kerumah dan menghampiri ibu.
"Ayo cuci tangan dan kakinya dulu lalu makan dulu dan tidur siang ya", seru ibu.
"Iya bu", balasku.
Setelah selesai cuci tangan dan kaki, barulah suapan demi suapan masuk beriringan kedalam mulutku. Ya, umur segitu makanku masih disuapi oleh ibu, terkadang bapak juga dapat giliran menyuapiku saat bapak ada dirumah. Setelah selesai lalu aku pergi ke kamar untuk tidur siang ditemani ibu, saat itu jam dinding masih menunjukkan angka 1.30.
Terasa baru sekejap memejamkan mata dan aku terbangun, kulihat Elen duduk disebelah ranjang sembari menarik-narik kakiku. Kutoleh arah sampingku dimana tadi posisi ibu menemaniku tidur, beliau sudah tidak ada. Jam dinding menunjukkan angka 4, sudah sore, ternyata aku tertidur 2.5 jam lamanya, ya, normal, tidur siang memang takkan selama seperti saat kita tidur malam.
Aroma masakan yang dipanaskan masuk ke dalam kamar, "Ah, pasti ibu di dapur", gumamku bicara dengan diri sendiri. Elen masih menarik-narik kakiku sambil mengangguk-angguk tanda mengajakku bermain dengannya. "Hooaaeemmm... Ayo", seruku sambil menguap karna baru bangun tidur.
"Aku main ya bu..!!", pamitku setengah teriak karna ibu di dapur. Aku berlalu pergi tanpa terdengar jawaban ibu, entah karna aku tak dengar atau karna ibu tidak menjawab. Memang saat itu terdengar desisan keras dari wajan, seperti saat sedang menggoreng ikan di minyak yang panas.
Elen mengajakku main di bawah rimbun pohon bambu sebelah sungai belakang rumah. Asiknya main disertai sejuk angin bertiup di bawah rindangnya pohon bambu saat itu, membuat kami lupa waktu.
Dirumah, jam dinding menunjukkan angka 4.30, bapak dan Antok baru tiba dari kerja sore itu. "Assalamualaikum", salam bapak dan Antok bersamaan. "Waalaikumsalam", sahut ibu. "Loh, kok sendirian, adek mana bu..??", tanya bapak. "Masih tidur pak, tolong sekalian dibangunin sebentar lagi masuk waktu Maghrib", pinta ibu. "O...", belum selesai bapak menjawab, Antok keburu memotong. "Biar aku saja yang bangunin dia, mas mandi saja dulu", sergap Antok. "...ke, okelah", lanjut bapak. "Alesanmu saja, kamu males taruh barang-barang ini ke gudang kan..??", timpal bapak. "Yaaahhh, sekalian mas lah yang taruh ke gudang, kan sekalian mandi, hahaha", gelak Antok. "Dasar kamu", ketus bapak.
"Gak ada..!!!", seru Antok, "Tidur dimana..?? Gak ada disini..!!".
"Ehh, dikamar depan, tadi saya kelonin disana", sahut ibu. "Iya, ga ada nihh", jawab Antok lagi. "Masa sih, tadi masih tidur disana", gumam ibu tak percaya, dengan setengah panik lalu mematikan kompor dan langsung berlari menuju kamar.
"Loohhh, kemana dia tok..??", tanya ibu. "Ya mana saya tau, kan saya baru dateng, atau jangan-jangan dibawa wewe gombel, hihihi", sahut Antok. "Husssh... Jangan bercanda, mbak cari dia dulu", ketus ibu. "Serius nihh ilang..?? Beneran mbak gak tau..??", tanya Antok. "Menurutmu..?? udah ahh mbak cari dia dulu", dan ibu langsung menuju pintu keluar. "Aku bantu cari mbak", setengah teriak Antok juga inisiatif bantu mencari. "Ok, kamu cari di sungai sebelah rumah, mbak cari ke rumah tetangga siapa tau maen sama temen-temennya disana", ajak ibu berbagi tugas. "Mbak, ini kan hampir gelap, sungai itu lumayan serem mbak", tawar Antok. "Kamu cowok apa cewek sih..!! Penakut baget, udah cari kesana, belum juga gelap", sanggah ibu. "Hmmmmhh... Iya deh, iya", jawab antok lemas.
Berangkatlah mereka berdua untuk mencari anak kecil itu, rumah demi rumah ibu datangi untuk menanyakan keberadaan anaknya, namun semua tetangga yang didatangi mengaku tidak tahu menahu. Sementara itu Antok mencari tiap sudut semak bambu dan sepanjang sisi aliran sungai sebelah rumah namun nihil.
Dirumah, setelah selesai merapikan perkakas, bapak bergegas ambil handuk untuk mandi. Namun sesaat terasa suasana rumah hening, dingin, dan tiba-tiba bulu kuduk berdiri. "Kok sepi", gumam bapak. "Kemana orang-orang..?? bukannya tadi lengkap..??". "Buk, Antok..??", teriak bapak sembari mencari mereka di setiap dalam ruangan rumah dan akhirnya keluar. "Kok gak ada..??", gumam dia lagi.
"Jemput anakmu sebelum terlambat Le...", tiba-tiba ada suara tepat dibelakang bapak.
"HEEIIIAAAAAAA..!!!", Teriak bapak kaget. "Hooohhh... Nek Ijah, bikin kaget aja... Huuffhhh...", sambil menghela nafas panjang dan jantungnya berdegup kencang.
"Sudah sana pergi, setelah maghrib sudah tidak bisa, dan bawa ini juga. Nanti setelah sampai, baca Bismilah dan langsung lemparkan ke sungai ya", sambil memberikan segenggam bungkusan kecil, nek Ijah langsung mendorong bapak untuk pergi ke sungai sebelah rumah.
"Ba.. Baik nek Ijah", gagap bapak dan langsung berjalan menuju sungai sebelah rumah sambil berpikir maksud dari nek Ijah. "Bukannya anakku lagi tidur, kenapa juga sampah ini dibuang ke sungai, bukannya bisa ketempat sampah, ada-ada saja nek Ijah", gerutu bapak meskipun tetap dilakukan.
Dilain tempat, setelah ibu tidak menemukan di setiap rumah tetangga, ibu langsung menghampiri Antok untuk mencari bersama di area sungai sebelah rumah dan juga nihil.
5.15, ibu melihat jam tangan yang dipakainya. "Sudah hampir jam Maghrib, kemana anakku tok..??", tanya ibu ke Antok dengan perasaan penuh kecemasan di samping sungai. "Sabar mbak, kita cari terus", jawab Antok sambil menenangkan ibu.
"Ibu, Antok..!!", teriak bapak dari jauh sambil berjalan menghampiri.
"Ngapain kalian berdua disini..?? ", tanya bapak. Sembari baca Bismilah dan melemparkan bungkusan kecil dari genggamannya kesungai.
"Loh mas, dari tadi kita berdua cari anakmu gak ketemu-ketemu", jawab
Antok. "Iya mas, anak kita gak ada di kamar", jawab ibu dengan kawatir.
"La itu siapa..??", sambil menunjuk anaknya yang sedang asik bermain tanah di bawah pohon bambu. "TOLE...!!", ibu berteriak dan dengan gesit berlari menghampiri anaknya, begitu pula dengan Antok. Bapak yang bingung masih diam berdiri disisi sungai.
"Kemana saja kamu nak..?? ibu cari-cari dari tadi kok gak ada..??", tanya ibu dengan terisak menandakan kelegaan bathin yang luar biasa setelah mengira anaknya hilang entah kemana.
"Dari mana le..??", tanya Antok juga.
"Aku loo dari tadi disini maen sama Elen, tadi udah pamit ibu juga kok pas ibu masak didapur", jawab anak kecil itu dengan polosnya.
"Elen siapa nak..??", tanya ibu.
"Elen temanku, itu lo yang rambutnya coklat, yang matanya ilang satu itu loh buk...", jawabnya lagi.
"Haadeehhhh... Udah udah mbak, ayo pulang. Ayo pulang dulu, nanti aja tanyain pas dirumah. Udah hampir gelap ini, belum lagi cerita anak mbak, ayo pulang sekarang dehh", ajak Antok seketika langsung ketakutan mendengar jawaban anak kecil tadi.
"Iya nak, ayo pulang ya, sebentar lagi Maghrib", ajak ibu.
"Dada Elen, besok maen lagi ya...", pamit anak kecil itu ke temennya.
"Haaiiiissssaaahhhh... ayo cepetan pulaaanggg mbaaaakkkk", dengan gemetar Antok menarik tangan ibu untuk bergegas pulang. "Iya, ayo pulang", balas ibu.
"Ada apa sih..??", tanya bapak setelah melihat Antok dan ibu berjalan cepat melewatinya menuju rumah dengan sedikit panik.
"PULANG..!!", teriak Antok.
Bapak pun bergegas pulang mengekor Antok juga ibu dengan pikiran bingung dan penuh tanda tanya.
Setelah selesai sholat Maghrib, baru diceritakanlah semua kejadian dari awal oleh ibu dan juga Antok saat santai di teras rumah.
"Oh, pantes tadi nek Ijah bilang jemput anakmu sambil memberikan bungkusan kecil sampah untuk dibuang ke sungai. Tapi itu bungkusan apa ya..??", tanya bapak sambil bingung.
"Ohh, itu hanya beberapa tulang ayam untuk mereka makan", jawab nek Ijah sambil tersenyum yang tiba-tiba muncul dan ikut nongkrong santai di teras.
"Andai telat sampai setelah Maghrib, kemungkinan nanti dikembalikan atau ketemu lagi selang malam di sekitar waktu tahajud sampai waktu subuh. Istilahnya tadi si anak kita jemput dengan kita memberikan makanan sebagai ramah tamah antar tetangga saja, biasanya mereka tidak akan mengembalikan si anak itu selama masih asik bermain tanpa embel-embel ramah tamah tadi", jelas nek Ijah.
"Tolong ceritakan lagi tentang hal-hal seperti itu ya nek, agar kami tau dan mengerti juga. saya buatkan kopinya dulu", pinta ibu.
Dan malam itu bertambah lagi pelajaran yang harus dijaga diantara dua sisi alam yang berbeda. Banyak hal yang harus dimengerti, yang boleh dan tidak, yang harus dan jangan, serta beberapa unggah ungguh atau sopan santun yang diterapkan mirip seperti di alam manusia.
Terima kasih telah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca ketikan ini, mohon maaf apabila ada kata-kata dan kentang yang kurang berkenan, karna akun juga sempat lupa password dan lama menghilang. Mohon maaf sekali lagi dan banyak terima kasih atas perhatiannya.
Insyaallah nanti akan ada ketikan-ketikan seperti ini lagi kedepannya, terima kasih.
(Sebelumnya)
"Makasih ya masss... Makasihhh... Mas udah selametin aku dari kejaran
setan... huwaaa...", ucap Antok menangis histeris.
"Iya.. Iya... Cuma mimpi, ga usah dipikirin. Ya udah wudhu sana udah
subuh nihh, kita sholat berjamaah. Untung tadi istriku liat kamu pas mau ambil wudhu, katanya kamu KETINDIHAN sambil melet-melet. Hehehehe", jelas bapak sambil tertawa.
"Jangan bercanda mas, aku masih takut nihh, badanku masih gemeter
nihh", kata antok sambil memperlihatkan kedua tangannya yang masih tremor.
"Udah ayo Antok ambil wudhu, kita solat berjamaah, gak usah dibahas lagi. Yang penting Antok udah bangun", kata ibu mengingatkan dengan lembut.
"iya mbak, makasih sekali lagi udah dibangunin, hikkks", isak Antok dan langsung pergi mengambil wudhu untuk sholat Subuh berjamaah.
Kejadian yang menurutnya aneh dan gak masuk akal ini akan selalu diingat oleh Antok, berawal dari kehadiran Almh. mbah buyut dan berlanjut ke dia yang mengalami kelumpuhan tidur atau yang disebut Ketindihan.
*Ketindihan atau Sleep Paralysis, fenomena ini disebut kelumpuhan tidur. Di Indonesia, fenomena ini sering diasosiasikan dengan kehadiran makhluk halus atau hantu di atas badan penderitanya.
-----------------------------------------------------------------------
-----------------
Satu tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, 5 tahun kira-kira saat ini usiaku. Pagi ini keadaan mulai terlihat normal seperti biasa. Semua melakukan aktivitas seperti sedia kala; bapak pergi bekerja, ibu memasak di dapur, aku sudah mulai berani bermain bersama teman-teman sebaya, Antok juga sudah pergi bersama bapak karna mereka bekerja di satu kantor yang sama. Jam 10 pagi seperti biasa para ibu-ibu tetangga mulai berdatangan, maklum depan rumah seringnya buat nongkrong para ibu-ibu sembari transfer informasi-informasi terkini. Jadi polanya, jam 5-6 pagi para ibu-ibu berkumpul di depan rumah untuk berbelanja, karna tiap pagi juga ada mamang-mamang sayur yang standby menjajakan sayur mayur dan lauk pauk. Diatas jam 9 pagi, mereka berkumpul di depan rumah lagi dengan membawa anak masing-masing. Dalihnya mengawasi anak-anaknya agar bermain bersama, mereka malah bertukar informasi dari yang lagi hot-hotnya sampai informasi yang ga penting-penting banget. Maklum tidak ada handphone saat itu, jadi pertukaran informasi masih menggunakan praktik M2M (Mouth to Mouth), sangat terlihat jelas bahwa kehidupan bertetangga masih terasa intim dan mesra.
Hari ini lumayan banyak yang main bersamaku, jadi di teras rumah terlihat seperti taman playgroup karna penuh anak-anak kecil seumuranku dan berbagai macam mainan seperti; Die-Cast mobil, motor, tentara, kereta api, batman, superman, ultraman, satwa-satwa, mahluk prasejarah, sampai berbagai boneka ikut berserakan.
Saking serunya main sampai tak terasa jarum jam sudah menunjuk angka 12.30, para ibu-ibu mulai undur diri lalu membawa anak mereka satu per satu untuk makan dan tidur siang.
"Elen, kamu ga pulang..??", kataku. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Elen adalah temanku, dia anak perempuan campuran bule dan lokal, usianya kira-kira setara denganku, 5 tahunan.
Elen teman yang paling sering bermain denganku, sangat gampang diingat, karena dia berbeda dengan yang lain. Kulitnya putih, rambutnya warna blonde dan ikal bergelombang, panjangnya sepinggang dan menutup sebagian wajahnya.
"Aku masuk dulu ya, nanti sore main lagi", pamitku. Dia masih tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan. Ku balas senyum dan anggukan juga lalu meninggalkannya untuk kembali kerumah dan menghampiri ibu.
"Ayo cuci tangan dan kakinya dulu lalu makan dulu dan tidur siang ya", seru ibu.
"Iya bu", balasku.
Setelah selesai cuci tangan dan kaki, barulah suapan demi suapan masuk beriringan kedalam mulutku. Ya, umur segitu makanku masih disuapi oleh ibu, terkadang bapak juga dapat giliran menyuapiku saat bapak ada dirumah. Setelah selesai lalu aku pergi ke kamar untuk tidur siang ditemani ibu, saat itu jam dinding masih menunjukkan angka 1.30.
Terasa baru sekejap memejamkan mata dan aku terbangun, kulihat Elen duduk disebelah ranjang sembari menarik-narik kakiku. Kutoleh arah sampingku dimana tadi posisi ibu menemaniku tidur, beliau sudah tidak ada. Jam dinding menunjukkan angka 4, sudah sore, ternyata aku tertidur 2.5 jam lamanya, ya, normal, tidur siang memang takkan selama seperti saat kita tidur malam.
Aroma masakan yang dipanaskan masuk ke dalam kamar, "Ah, pasti ibu di dapur", gumamku bicara dengan diri sendiri. Elen masih menarik-narik kakiku sambil mengangguk-angguk tanda mengajakku bermain dengannya. "Hooaaeemmm... Ayo", seruku sambil menguap karna baru bangun tidur.
"Aku main ya bu..!!", pamitku setengah teriak karna ibu di dapur. Aku berlalu pergi tanpa terdengar jawaban ibu, entah karna aku tak dengar atau karna ibu tidak menjawab. Memang saat itu terdengar desisan keras dari wajan, seperti saat sedang menggoreng ikan di minyak yang panas.
Elen mengajakku main di bawah rimbun pohon bambu sebelah sungai belakang rumah. Asiknya main disertai sejuk angin bertiup di bawah rindangnya pohon bambu saat itu, membuat kami lupa waktu.
Dirumah, jam dinding menunjukkan angka 4.30, bapak dan Antok baru tiba dari kerja sore itu. "Assalamualaikum", salam bapak dan Antok bersamaan. "Waalaikumsalam", sahut ibu. "Loh, kok sendirian, adek mana bu..??", tanya bapak. "Masih tidur pak, tolong sekalian dibangunin sebentar lagi masuk waktu Maghrib", pinta ibu. "O...", belum selesai bapak menjawab, Antok keburu memotong. "Biar aku saja yang bangunin dia, mas mandi saja dulu", sergap Antok. "...ke, okelah", lanjut bapak. "Alesanmu saja, kamu males taruh barang-barang ini ke gudang kan..??", timpal bapak. "Yaaahhh, sekalian mas lah yang taruh ke gudang, kan sekalian mandi, hahaha", gelak Antok. "Dasar kamu", ketus bapak.
"Gak ada..!!!", seru Antok, "Tidur dimana..?? Gak ada disini..!!".
"Ehh, dikamar depan, tadi saya kelonin disana", sahut ibu. "Iya, ga ada nihh", jawab Antok lagi. "Masa sih, tadi masih tidur disana", gumam ibu tak percaya, dengan setengah panik lalu mematikan kompor dan langsung berlari menuju kamar.
"Loohhh, kemana dia tok..??", tanya ibu. "Ya mana saya tau, kan saya baru dateng, atau jangan-jangan dibawa wewe gombel, hihihi", sahut Antok. "Husssh... Jangan bercanda, mbak cari dia dulu", ketus ibu. "Serius nihh ilang..?? Beneran mbak gak tau..??", tanya Antok. "Menurutmu..?? udah ahh mbak cari dia dulu", dan ibu langsung menuju pintu keluar. "Aku bantu cari mbak", setengah teriak Antok juga inisiatif bantu mencari. "Ok, kamu cari di sungai sebelah rumah, mbak cari ke rumah tetangga siapa tau maen sama temen-temennya disana", ajak ibu berbagi tugas. "Mbak, ini kan hampir gelap, sungai itu lumayan serem mbak", tawar Antok. "Kamu cowok apa cewek sih..!! Penakut baget, udah cari kesana, belum juga gelap", sanggah ibu. "Hmmmmhh... Iya deh, iya", jawab antok lemas.
Berangkatlah mereka berdua untuk mencari anak kecil itu, rumah demi rumah ibu datangi untuk menanyakan keberadaan anaknya, namun semua tetangga yang didatangi mengaku tidak tahu menahu. Sementara itu Antok mencari tiap sudut semak bambu dan sepanjang sisi aliran sungai sebelah rumah namun nihil.
Dirumah, setelah selesai merapikan perkakas, bapak bergegas ambil handuk untuk mandi. Namun sesaat terasa suasana rumah hening, dingin, dan tiba-tiba bulu kuduk berdiri. "Kok sepi", gumam bapak. "Kemana orang-orang..?? bukannya tadi lengkap..??". "Buk, Antok..??", teriak bapak sembari mencari mereka di setiap dalam ruangan rumah dan akhirnya keluar. "Kok gak ada..??", gumam dia lagi.
"Jemput anakmu sebelum terlambat Le...", tiba-tiba ada suara tepat dibelakang bapak.
"HEEIIIAAAAAAA..!!!", Teriak bapak kaget. "Hooohhh... Nek Ijah, bikin kaget aja... Huuffhhh...", sambil menghela nafas panjang dan jantungnya berdegup kencang.
"Sudah sana pergi, setelah maghrib sudah tidak bisa, dan bawa ini juga. Nanti setelah sampai, baca Bismilah dan langsung lemparkan ke sungai ya", sambil memberikan segenggam bungkusan kecil, nek Ijah langsung mendorong bapak untuk pergi ke sungai sebelah rumah.
"Ba.. Baik nek Ijah", gagap bapak dan langsung berjalan menuju sungai sebelah rumah sambil berpikir maksud dari nek Ijah. "Bukannya anakku lagi tidur, kenapa juga sampah ini dibuang ke sungai, bukannya bisa ketempat sampah, ada-ada saja nek Ijah", gerutu bapak meskipun tetap dilakukan.
Dilain tempat, setelah ibu tidak menemukan di setiap rumah tetangga, ibu langsung menghampiri Antok untuk mencari bersama di area sungai sebelah rumah dan juga nihil.
5.15, ibu melihat jam tangan yang dipakainya. "Sudah hampir jam Maghrib, kemana anakku tok..??", tanya ibu ke Antok dengan perasaan penuh kecemasan di samping sungai. "Sabar mbak, kita cari terus", jawab Antok sambil menenangkan ibu.
"Ibu, Antok..!!", teriak bapak dari jauh sambil berjalan menghampiri.
"Ngapain kalian berdua disini..?? ", tanya bapak. Sembari baca Bismilah dan melemparkan bungkusan kecil dari genggamannya kesungai.
"Loh mas, dari tadi kita berdua cari anakmu gak ketemu-ketemu", jawab
Antok. "Iya mas, anak kita gak ada di kamar", jawab ibu dengan kawatir.
"La itu siapa..??", sambil menunjuk anaknya yang sedang asik bermain tanah di bawah pohon bambu. "TOLE...!!", ibu berteriak dan dengan gesit berlari menghampiri anaknya, begitu pula dengan Antok. Bapak yang bingung masih diam berdiri disisi sungai.
"Kemana saja kamu nak..?? ibu cari-cari dari tadi kok gak ada..??", tanya ibu dengan terisak menandakan kelegaan bathin yang luar biasa setelah mengira anaknya hilang entah kemana.
"Dari mana le..??", tanya Antok juga.
"Aku loo dari tadi disini maen sama Elen, tadi udah pamit ibu juga kok pas ibu masak didapur", jawab anak kecil itu dengan polosnya.
"Elen siapa nak..??", tanya ibu.
"Elen temanku, itu lo yang rambutnya coklat, yang matanya ilang satu itu loh buk...", jawabnya lagi.
"Haadeehhhh... Udah udah mbak, ayo pulang. Ayo pulang dulu, nanti aja tanyain pas dirumah. Udah hampir gelap ini, belum lagi cerita anak mbak, ayo pulang sekarang dehh", ajak Antok seketika langsung ketakutan mendengar jawaban anak kecil tadi.
"Iya nak, ayo pulang ya, sebentar lagi Maghrib", ajak ibu.
"Dada Elen, besok maen lagi ya...", pamit anak kecil itu ke temennya.
"Haaiiiissssaaahhhh... ayo cepetan pulaaanggg mbaaaakkkk", dengan gemetar Antok menarik tangan ibu untuk bergegas pulang. "Iya, ayo pulang", balas ibu.
"Ada apa sih..??", tanya bapak setelah melihat Antok dan ibu berjalan cepat melewatinya menuju rumah dengan sedikit panik.
"PULANG..!!", teriak Antok.
Bapak pun bergegas pulang mengekor Antok juga ibu dengan pikiran bingung dan penuh tanda tanya.
Setelah selesai sholat Maghrib, baru diceritakanlah semua kejadian dari awal oleh ibu dan juga Antok saat santai di teras rumah.
"Oh, pantes tadi nek Ijah bilang jemput anakmu sambil memberikan bungkusan kecil sampah untuk dibuang ke sungai. Tapi itu bungkusan apa ya..??", tanya bapak sambil bingung.
"Ohh, itu hanya beberapa tulang ayam untuk mereka makan", jawab nek Ijah sambil tersenyum yang tiba-tiba muncul dan ikut nongkrong santai di teras.
"Andai telat sampai setelah Maghrib, kemungkinan nanti dikembalikan atau ketemu lagi selang malam di sekitar waktu tahajud sampai waktu subuh. Istilahnya tadi si anak kita jemput dengan kita memberikan makanan sebagai ramah tamah antar tetangga saja, biasanya mereka tidak akan mengembalikan si anak itu selama masih asik bermain tanpa embel-embel ramah tamah tadi", jelas nek Ijah.
"Tolong ceritakan lagi tentang hal-hal seperti itu ya nek, agar kami tau dan mengerti juga. saya buatkan kopinya dulu", pinta ibu.
Dan malam itu bertambah lagi pelajaran yang harus dijaga diantara dua sisi alam yang berbeda. Banyak hal yang harus dimengerti, yang boleh dan tidak, yang harus dan jangan, serta beberapa unggah ungguh atau sopan santun yang diterapkan mirip seperti di alam manusia.
Terima kasih telah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca ketikan ini, mohon maaf apabila ada kata-kata dan kentang yang kurang berkenan, karna akun juga sempat lupa password dan lama menghilang. Mohon maaf sekali lagi dan banyak terima kasih atas perhatiannya.
Insyaallah nanti akan ada ketikan-ketikan seperti ini lagi kedepannya, terima kasih.
0