- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#67
32
Quote:
Sebelum tragedi besar itu terjadi, suara hantaman benda padat yang mendarat ke pintu berulang kali sempat dihiraukan begitu saja oleh Dheril. Fokusnya satu, yaitu menggiring rombongan melewati garasi bersarang laba-laba lalu menjumpai kolam renang yang kemungkinan airnya sudah menghijau. Tetapi karena banyaknya komentar yang ingin mereka semua mendekati sumber suara, Dheril dengan sangat terpaksa harus mengikutinya, kakinya bergerak sangat lambat, berharap suara gaduh itu menghilang.
“Gimana ini?!” ucap Tyo dalam hatinya. Melihat Dheril yang begitu tenang merupakan pertanda tidak baik. Dia begitu karena ada Pandu yang ikut bersamanya, jika tidak maka reaksinya akan kalang kabut tidak karuan.
“Kira-kira itu apa gaes?” tanya Pandu menghadap kamera yang dipegang oleh Ardit. Suaranya begitu keras, jika tidak ditanggapi malah lebih terlihat aneh.
Kedua tim sudah mendekati tangga utama menuju lantai dua, Dheril tetap santai walaupun tahu semuanya akan berantakan. Ketika didekati suaranya malah makin keras. Mereka memutuskan untuk tidak bertindak gegabah. Dheril tetap menjelaskan situasinya, ekspresinya mulai tidak sinkron dengan nada bicaranya. Lalu secara tiba-tiba, pintu didepannya itu terbuka. Properti berbentuk hantu-hantuan wanita itu terbang mendarat keras ke tanah. Sedangkan dua orang kru dari Dheril hanya bisa melongo saja melihat sosok bosnya di depan mata.
“Kita enggak tahu apa-apa,” ucap salah satu krunya lalu berlari secepat kilat keluar dari tangkapan layar, diikuti oleh satunya lagi.
Ketika tragedi itu harus naik ke permukaan, komen-komen dari penonton mulai liar. Bagaikan tombol yang rusak, semua hurufnya besar-besar bernada mengejek dan masuk ke kategori pembulian digital. Dheril tidak bisa berkata-kata, mulutnya kaku. Tyo dengan cepat mematikan siaran langsungnya, keadaan begitu hening.
“HAHAHAHA, rasakan kau pendek!” Gasimah muncul dari benda hantu-hantuan.
“Karir gue!” Dheril tertunduk lesu, lalu pandangannya berubah tajam ke arah Pandu. “lo! Pasti ini semua lo penyebabnya!” jemarinya yang pendek bagaikan tombak menunjuk Pandu.
“Huh? Gimana?” Pandu tidak mengerti maksud dari perkataan Dheril. Anggota lima elit itu kemudian melompat, meraih kerah bajunya.
“Udah ngaku aja! Lo pasti pakai guna-guna kan? Niat lo emang buat ngeruntuhin dominasi Lima Eli---,” ucapannya terhenti, karena benda hantu-hantuan miliknya terbang tanpa disuruh.
Hantu-hantuan berbentuk wanita itu melayang-layang tepat di atas kepalanya Dheril. Pembuat konten horror itu ketakutan setengah mati, baru pertama kali dirinya mengalami pengalaman mistis seperti itu yang asli dan nyata. Kakinya berlari bak atlit tercepat di dunia, bayangannya saja sulit mengejar. Sedangkan Tyo hanya melongo saja, kakinya membeku. Sementara Pandu dan Ardit sangat santai karena mereka tahu itu adalah ulah Gasimah.
“Pan…Panwir!” bisik Ardit. Lalu Pandu menoleh, “kita pura-pura kabur aja, ayo!” Ardit meminta untuk berlari.
“Itu! Itu apa!” Pandu pura-pura panik lalu berlari bersama Ardit.
“Eh? Kok kalian ninggalin gue sendiri sih?” Tyo tertinggal di sana, hantu-hantuan didepannya malah semakin tidak terkendali. Berputar-putar hingga melepaskan sendiri rambut palsunya.
Karena merasa kasian melihat Tyo yang menurut Gasimah tidak menyebalkan seperti Dheril. Akhirnya aksinya itu dihentikan, hantu-hantuan pun terjatuh ke tanah. Setelah beberapa menit, barulah Tyo dapat menggerakan kedua kakinya lagi. Tidak perduli dengan hantu-hantuan dan beberapa properti lainnya yang masih tersembunyi di rumah putih besar ini.
“Coba kalau tuh pendek enggak belagu, pasti sama aku siarannya dijadiin yang paling seru,” Gasimah berjalan menuju pintu keluar untuk menemui Pandu dan Ardit. Tetapi langkahnya berhenti, “hm? Siapa?” kepalanya menoleh ke salah satu sudut rumah, perasaannya tadi mengatakan bahwa ada sosok yang mengintip dari arah sana. “salah liat kali,” dengan santainya melanjutkan perjalananya untuk menemui Pandu dan Ardit.
Penjaga rumah putih tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam, dia hanya melihat Dheril berlari secepat kilat tanpa mengatakan satu patah kata pun setelah melihat dua orang kru juga melakukan hal yang sama. Malam baru saja dimulai, tetapi kegiatan mereka telah usai. Beberapa kru yang masih ada menunggu kedatangan Tyo untuk menentukan mau melakukan apa selanjutnya.
“Kayaknya kita semua dipecat,” ucap salah satu kru dihadapan Pandu dan Ardit.
“Kok malah kasian yah ngeliat orang-orang ini,” ucap Ardit. “tapi lambat laun bakal kecium juga sih kedoknya, bener ga Panwir?” tanya Ardit.
“Hm, iya sih. Tapi kayaknya Gasimah udah kelewat batas, maksud gue--,” tiba-tiba sosok Gasimah datang.
“Kok kamu jadi nyalahin aku sih?!” ucapnya marah. “kan mereka yang main-main sama hal mistis, aku enggak suka yah!” datang tiba-tiba, hilang pun secara tiba-tiba bahkan Pandu tidak diberikan waktu berbicara.
Tyo akhirnya muncul kembali, menanyakan di mana Dheril berada. Tetapi semuanya menujuk ke arah luar pagar, kakinya yang panjang itu membawanya untuk melihat apakah Dheril masih ada atau tidak. Betapa terkejutnya ketika mobil yang tadinya terparkir aman sentosa ditempatnya, kini menghilang tanpa jejak.
“DHERIL baik! GUE DITINGGALIN!” Tyo hanya bisa tertunduk lesu tanpa bertindak. Emosinya meledak.
“Gasimah ngambek tuh, harusnya lo pas ngomong agak enakan dikit lah. Hargai perasaannya,” ucap Ardit.
“Lo tau apa sih, semenjak lo lahir sampai sekarang. Mantan lo itu nol besar alias enggak ada! Jangan ajarin gue masalah perempuan,” hardik Pandu.
“Lah, semenjak Kanindini muncul lagi tuh anak jadi sensitif banget. Ini urusan gimana bocah!” malam ini semua urusan berakhir kacau.
“Gimana ini?!” ucap Tyo dalam hatinya. Melihat Dheril yang begitu tenang merupakan pertanda tidak baik. Dia begitu karena ada Pandu yang ikut bersamanya, jika tidak maka reaksinya akan kalang kabut tidak karuan.
“Kira-kira itu apa gaes?” tanya Pandu menghadap kamera yang dipegang oleh Ardit. Suaranya begitu keras, jika tidak ditanggapi malah lebih terlihat aneh.
Kedua tim sudah mendekati tangga utama menuju lantai dua, Dheril tetap santai walaupun tahu semuanya akan berantakan. Ketika didekati suaranya malah makin keras. Mereka memutuskan untuk tidak bertindak gegabah. Dheril tetap menjelaskan situasinya, ekspresinya mulai tidak sinkron dengan nada bicaranya. Lalu secara tiba-tiba, pintu didepannya itu terbuka. Properti berbentuk hantu-hantuan wanita itu terbang mendarat keras ke tanah. Sedangkan dua orang kru dari Dheril hanya bisa melongo saja melihat sosok bosnya di depan mata.
“Kita enggak tahu apa-apa,” ucap salah satu krunya lalu berlari secepat kilat keluar dari tangkapan layar, diikuti oleh satunya lagi.
Ketika tragedi itu harus naik ke permukaan, komen-komen dari penonton mulai liar. Bagaikan tombol yang rusak, semua hurufnya besar-besar bernada mengejek dan masuk ke kategori pembulian digital. Dheril tidak bisa berkata-kata, mulutnya kaku. Tyo dengan cepat mematikan siaran langsungnya, keadaan begitu hening.
“HAHAHAHA, rasakan kau pendek!” Gasimah muncul dari benda hantu-hantuan.
“Karir gue!” Dheril tertunduk lesu, lalu pandangannya berubah tajam ke arah Pandu. “lo! Pasti ini semua lo penyebabnya!” jemarinya yang pendek bagaikan tombak menunjuk Pandu.
“Huh? Gimana?” Pandu tidak mengerti maksud dari perkataan Dheril. Anggota lima elit itu kemudian melompat, meraih kerah bajunya.
“Udah ngaku aja! Lo pasti pakai guna-guna kan? Niat lo emang buat ngeruntuhin dominasi Lima Eli---,” ucapannya terhenti, karena benda hantu-hantuan miliknya terbang tanpa disuruh.
Hantu-hantuan berbentuk wanita itu melayang-layang tepat di atas kepalanya Dheril. Pembuat konten horror itu ketakutan setengah mati, baru pertama kali dirinya mengalami pengalaman mistis seperti itu yang asli dan nyata. Kakinya berlari bak atlit tercepat di dunia, bayangannya saja sulit mengejar. Sedangkan Tyo hanya melongo saja, kakinya membeku. Sementara Pandu dan Ardit sangat santai karena mereka tahu itu adalah ulah Gasimah.
“Pan…Panwir!” bisik Ardit. Lalu Pandu menoleh, “kita pura-pura kabur aja, ayo!” Ardit meminta untuk berlari.
“Itu! Itu apa!” Pandu pura-pura panik lalu berlari bersama Ardit.
“Eh? Kok kalian ninggalin gue sendiri sih?” Tyo tertinggal di sana, hantu-hantuan didepannya malah semakin tidak terkendali. Berputar-putar hingga melepaskan sendiri rambut palsunya.
Karena merasa kasian melihat Tyo yang menurut Gasimah tidak menyebalkan seperti Dheril. Akhirnya aksinya itu dihentikan, hantu-hantuan pun terjatuh ke tanah. Setelah beberapa menit, barulah Tyo dapat menggerakan kedua kakinya lagi. Tidak perduli dengan hantu-hantuan dan beberapa properti lainnya yang masih tersembunyi di rumah putih besar ini.
“Coba kalau tuh pendek enggak belagu, pasti sama aku siarannya dijadiin yang paling seru,” Gasimah berjalan menuju pintu keluar untuk menemui Pandu dan Ardit. Tetapi langkahnya berhenti, “hm? Siapa?” kepalanya menoleh ke salah satu sudut rumah, perasaannya tadi mengatakan bahwa ada sosok yang mengintip dari arah sana. “salah liat kali,” dengan santainya melanjutkan perjalananya untuk menemui Pandu dan Ardit.
Penjaga rumah putih tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam, dia hanya melihat Dheril berlari secepat kilat tanpa mengatakan satu patah kata pun setelah melihat dua orang kru juga melakukan hal yang sama. Malam baru saja dimulai, tetapi kegiatan mereka telah usai. Beberapa kru yang masih ada menunggu kedatangan Tyo untuk menentukan mau melakukan apa selanjutnya.
“Kayaknya kita semua dipecat,” ucap salah satu kru dihadapan Pandu dan Ardit.
“Kok malah kasian yah ngeliat orang-orang ini,” ucap Ardit. “tapi lambat laun bakal kecium juga sih kedoknya, bener ga Panwir?” tanya Ardit.
“Hm, iya sih. Tapi kayaknya Gasimah udah kelewat batas, maksud gue--,” tiba-tiba sosok Gasimah datang.
“Kok kamu jadi nyalahin aku sih?!” ucapnya marah. “kan mereka yang main-main sama hal mistis, aku enggak suka yah!” datang tiba-tiba, hilang pun secara tiba-tiba bahkan Pandu tidak diberikan waktu berbicara.
Tyo akhirnya muncul kembali, menanyakan di mana Dheril berada. Tetapi semuanya menujuk ke arah luar pagar, kakinya yang panjang itu membawanya untuk melihat apakah Dheril masih ada atau tidak. Betapa terkejutnya ketika mobil yang tadinya terparkir aman sentosa ditempatnya, kini menghilang tanpa jejak.
“DHERIL baik! GUE DITINGGALIN!” Tyo hanya bisa tertunduk lesu tanpa bertindak. Emosinya meledak.
“Gasimah ngambek tuh, harusnya lo pas ngomong agak enakan dikit lah. Hargai perasaannya,” ucap Ardit.
“Lo tau apa sih, semenjak lo lahir sampai sekarang. Mantan lo itu nol besar alias enggak ada! Jangan ajarin gue masalah perempuan,” hardik Pandu.
“Lah, semenjak Kanindini muncul lagi tuh anak jadi sensitif banget. Ini urusan gimana bocah!” malam ini semua urusan berakhir kacau.
kulipriok dan namakuve memberi reputasi
2
Kutip
Balas