Gua berdiri dan mendekat ke arah petugas sipir yang menatap ke arah lembaran kertas di atas meja kerjanya. Dengan kacamata baca yang turun hingga ke hidungnya, ia menatapku, lalu tersenyum.
"Tanda tangan" Ucapnya seraya menyerahkan lembaran kertas dari tangannya dan sebuah pulpen.
Gua meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan pada bagian bawah lembaran kertas, kemudian mengembalikannya ke petugas tadi.
Ia menerima kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau dan menumpuknya dengan map-map lain yang memiliki warna yang sama. Dengan gerakan yang lambat dan ogah-ogahan, petugas itu menarik laci, mengeluarkan map plastik transaparan yang di dalamnya terlihat beberapa lembar kertas.
"Nih..." Ucapnya seraya menggeser map transparan tersebut ke arah gua.
"Ada yang jemput, Sal? Nggak ada ya?" Tanya si petugas sambil mencari-cari sesuatu dari laci meja kerjanya.
Belum sempat gua menjawab pertanyaannya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama. Gua meraih kartu nama tersebut, kartu nama berbahan kertas Ivory yang terlihat murahan. Gua mengernyitkan dahi dan mulai membaca tulisan pada kartu tersebut.
'Jaya Teknik' Gua membaca tulisan paling besar pada kartu tersebut, disusul informasi nomor telepon dan alamat di bagian bawahnya.
"Kang Jaya?" Tanya gua ke petugas itu.
"Iya. Kamu kesana aja, biasanya anak-anak yang baru 'keluar' diajak kerja sama dia" Tambah si petugas sambil tetap menatap ke arah gua.
"Oh..." Gua memberi respon singkat.
Petugas itu berdiri, mengulurkan tangannya. Gua menyambut dan menjabat tangannya.
"Hati-hati ya, Sal. Pokoknya jangan sampe kamu balik kesini lagi" Ucapnya, masih sambil menjabat tangan gua.
"Iya Pak Didi" Jawabku, kemudian bersiap pergi.
Sementara aku pergi, terdengar Pak Didi kembali memanggil nama lain. Seorang petugas menghampiri, membimbing gua melewati lorong berliku yang berpagar tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pintu besi berukuran besar. Petugas itu, menekan tombol pada sisi pintu, menimbulkan bunyi meraung keras disusul suara 'cklek' dan pintu otomatis terbuka.
Petugas itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan gua untuk keluar.
---
Spoiler for Prolog:
Sebuah ruangan dengan atap tinggi, tanpa dinding dan riuh rendah dari para pengunjung yang tengah mengantri untuk membesuk keluarganya ditambah kerasnya pengumuman dari pelantang suara di ruang semi terbuka itu menyambut gua.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Gua duduk sambil menatap ke arah gelas kopi plastik berukuran besar. Kopi yang entah kenapa malah gua pesan.
Terlihat banyak orang hilir mudik, keluar-masuk dari kedai yang cukup nyaman ini. Kedai kopi yang berada di dalam area mall, namun memiliki akses outdoor yang langsung mengarah ke area parkir. Jadi, tempatnya memang cocok digunakan saat tengah menunggu seseorang atau bikin janji temu; karena kedai ini gampang ditemukan.
‘Drttt’ Ponsel yang berada di atas meja bergetar. Tanpa menyentuh, gua melirik ke arah layarnya yang retak, menampilkan notifikasi pesan dari Marshall; ‘Mau dijemput jam berapa?’ Gua tersenyum sebentar, lalu membalas pesannya; ‘20 menit lagi’.
Nggak lama berselang, seorang perempuan berwajah cantik dan penampilan elegan datang mendekat. Ia menarik salah satu kursi di meja yang sama dengan gua lalu duduk. Menyadari kalau ia belum memesan apa-apa, gua lantas menggeser gelas plastik berisi kopi milik gua yang belum disentuh.
“Nih, gua nggak ngopi” Ucap gua pelan.
“Nggak ngopi kenapa pesan kopi?” Tanyanya.
Gua mengangkat kedua bahu; gua sendiri pun nggak tau alasannya. Hanya asal memesan saja tadi.
“Nggak diracun kan?” Tanyanya lagi, lalu meraih gelas kopi di atas meja dan mulai meminumnya.
“Gua mau kita ngobrol. Gua mau memastikan kalau lo sudah merelakannya, gua mau kita sama-sama selesai dengan hal ini. Lalu move on dengan hubungan yang baik..”
“Oh.. Bagian yang ‘move-on dengan hubungan yang baik’ kayaknya hampir mustahil deh” Balasnya.
“Kenapa?” Tanya gua.
“Since aku tau lo kayaknya orang bersumbu pendek, dan pendendam. Jadi aku asal tebak aja…” Jawabnya.
“Wah, kayak lo kenal gua aja” Gumam gua pelan.
“Kayaknya nggak harus mengenal terlalu dekat hanya untuk tau kalau kamu emang bersumbu pendek dan pendendam…” Jawabnya sambil tersenyum.
Kami berdua lalu sama-sama terdiam.
Tata hanya sibuk memainkan sedotan dalam gelas plastik berisi kopi pemberian gua. Sementara gua terus menatapnya, iri dengan betapa cantik dirinya.
“Din..” Panggilnya, tanpa menatap ke arah gua. Pandangannya ia tujukan pada gelas kopi.
“Ya…” Jawab gua, singkat.
“Waktu itu SMA, saat pertama kali aku bertemu dengannya. Marshall cowok yang terlihat nyaris sempurna; dia ganteng, pintar dan mudah bergaul. Semua orang di sekolah pasti mengenalnya, dan nggak ada celah sedikitpun buat orang-orang untuk membencinya; ia begitu diidolai…”
“...”
“... Tapi, nggak buatku. Di mataku, yang saat itu hidup di dalam sangkar emas, Marshall sama sekali nggak menarik perhatianku. Ia hanya salah satu dari siswa ‘nakal’ yang suka menggodaku…”
“...”
“... Nggak seperti yang lain. Marshall nggak mudah menyerah, ia keras kepala dan nggak mau kalah. Tapi, disisi lain, Marshall juga cowok yang perhatian. Aku pun mulai jatuh hati padanya…”
“...”
“... Dan setelah kejadian di gudang olahraga…” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, gua memotong bicaranya.
“Wait, wait..”
“...”
“... Kasus gudang olahraga”
“Iya, Kasus yang bikin Marshall akhirnya dipenjara” Tambahnya.
“...”
“... Dia belum cerita ke kamu? pasti udah kan?” Tanyanya.
“Udah…” Jawab gua singkat.
“Versi mana yang ia ceritakan?” Tanyanya.
Gua mengangkat kedua bahu, nggak tau. Bagaimana bisa mengetahui versi mana yang benar saat gua hanya pernah mendengar satu versi saja; versinya Marshall.
“Lo nusuk orang yang mau nyerang lo, pecahan botol yang lo pake buat nusuk, langsung lo kasih ke Marshall. Marshall menggantikan lo dipenjara..” Ucap gua mencoba merangkum cerita dari Marshall waktu itu.
Mendengar ucapan gua, Tata lalu mengangguk pelan.
“Yes, Correct. Secinta itu dia sama aku” Ucapnya. Kemudian mengambil kemasan tisu dari dalam tas-nya dan mulai menyeka ujung matanya yang basah.
“...”
“... Dulu” Tambahnya.
“...” Gua lalu tersadar, kalau hal yang diceritakan oleh Marshall ke gua tentang tragedi di gudang olahraga punya versi yang sama dengan Tata. Itulah versi sebenarnya.
“... Sekarang aku sudah sadar kalau Marshall memang bukan buat aku. Dia juga pernah bilang ke aku kalau selama ini, selama kami berdua sama-sama, kami cuma saling menyakiti. Bukan cinta namanya kalau saling menyakiti. Bukan cinta juga namanya kalau hanya satu pihak yang bahagia, sementara pihak lainnya menderita…” Tambahnya.
“...”
“... Aku malah cuma bikin ia kehilangan masa mudanya”
“...”
“... Aku nggak tau lagi gimana cara harus menebusnya”
Gua tertegun, mencoba mengerti dirinya, memahami apa yang dirasakannya. Selama ini, ia terus berusaha menggapai Marshall untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Gua berdiri, berpindah duduk ke kursi yang berada di sebelahnya. Lalu dengan perlahan memberi tepukan di punggungnya yang kini mulai naik turun karena menangis.
Nggak ada kata yang terucap, gua hanya terdiam. Sementara, Tata nggak henti-hentinya menangis.
“Udah Ta, Udah, gua ngerti kok…” Ucap gua sambil terus memberi tepukan di punggungnya.
“...”
“... Walaupun nggak sampai kayak lo. Tapi, gua juga pernah punya masa lalu yang nggak menyenangkan kok” Gua menambahkan.
Masih sambil terisak, Tata lalu berpaling, menatap gua nanar.
“.. Gua pernah ninggalin anak gua; Anggi waktu masih bayi, umurnya bahkan belum genap tiga bulan”
“...”
“... Then, gua kehilangan semuanya. Pria yang gua sayangi, anak gua, teman dan keluarga”
“...”
“... Lama gua tenggelam dalam masa itu. Gua hanya hidup sekedar hidup. Jadi, mayat hidup yang nggak punya apapun untuk dicapai…”
“...”
“... Lalu, gua bertemu Marshall. Orang yang mulai memberi arti dalam hidup. Bikin gua keluar dari penyesalan di masa lalu”
“...”
“... Mudah-mudahan, lo juga bisa nantinya ketemu sama orang yang bisa memberi arti di hidup lo…”
Mendengar ucapan gua barusan, Tata yang masih terisak lalu berpaling dan memberikan gua pelukan. Bukannya mereda, tangisnya semakin menjadi.
Kami berjalan, menyusuri lantai sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan. Tata masih mencoba menyeka kedua matanya dengan lembaran tisu yang mulai sobek. Gua mengambil lembaran tisu lain dari dalam tas dan menyodorkannya.
“Thanks” Gumamnya seraya meraih tisu pemberian gua.
“Sama-sama…”
“By the way, kapan kalian menikah?” Tanya Tata.
“Itu di kartu undangan yang tadi gua kasih kan ada” Jawab gua, merujuk ke kartu undangan pernikahan kami yang tadi sempat gua berikan kepadanya.
“Ah, males aku bacanya. Paling sampe rumah juga aku buang” Jawabnya sambil tertawa.
“Buang aja, yang penting lo dateng” Balas gua.
“Nggak ah. Ngapain, males…” Ucapnya, masih sambil tertawa.
“Hahaha, ya terserah deh…”
“Din..”
“Ya…”
“Waktu itu, Aku dan Icha; teman SMA ku mau ke toilet, saat itu, kami tengah menonton acara pensi yang dihadiri oleh Sheila On 7. Kami berdua menyusuri lorong dengan penerangan minim menuju ke toilet. Terlihat beberapa cowok-cowok tengah nongkrong memenuhi lorong sambil menggenggam plastik berisi cairan berwarna hitam, yang bisa ditebak isinya adalah minuman keras…”
“...”
“... Beberapa cowok melakukan catcalling begitu kami berdua melintasi mereka. Bahkan terlihat, dua orang cowok berdiri kemudian berjalan gontai mengikuti kami berdua. Icha meraih tanganku dan mempercepat langkah…”
“...”
“... Selesai dari toilet, dua orang cowok mendekat ke arah kami. Satu memposisikan dirinya di sebelahku dan yang satu lagi disebelah Icha. Kami berdua saling menggenggam tangan dan mempercepat langkah. Namun, salah satu cowok itu mulai memegang tangan Icha dan menariknya. Sontak, aku berteriak, berharap ada yang datang untuk membantu kami…”
“...”
“... Namun, nggak ada satupun yang mendengar teriakanku. Suara dari konser lebih keras, membuat teriakanku tenggelam..”
“...”
“... Lalu, Cowok yang berdiri di sebelahku mulai ikut menarik lenganku dan berusaha membekap mulutku. Dengan semena-mena, masing-masing dari mereka ‘menyeret’ kami berdua ke gudang peralatan olahraga…”
“...”
“... Lagi, Aku mencoba berteriak sekeras mungkin namun sepertinya percuma…”
“...”
“...Salah satu cowok membanting tubuh Icha ke lantai. Sementara, aku yang baru saja di dorong masuk langsung terjerembab di lantai. Lalu buru-buru bangun sambil meringkuk…”
“...”
“...Cowok berpenampilan sangar dengan rambut dicat berwarna merah, mulai memaksaku berdiri. Aku berusaha sekuat tenaga melawannya, tapi dia terlalu kuat…”
“...”
“... Dia lalu beberapa kali melayangkan pukulan tepat di kepala dan wajahku. Membuatku kembali tersungkur…”
“...”
“... Aku meraih botol bekas yang tergeletak di lantai. Lalu sekuat tenaga berdiri dan menghantam kepalanya dengan botol”
“...”
“... Mungkin sadar kalau temannya kena pukul. Pria satu lagi lantas pergi, menghambur keluar dari gudang olahraga, meninggalkan Icha yang terbaring, pingsan”
“...”
“... Kalut, aku lantas menikam perutnya dengan pecahan botol yang masih dalam genggaman. Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali. Hingga ia nggak berdaya dan ambruk ke lantai.”
“...”
“.....Di saat yang sama, Marshall sudah berdiri di depan pintu gudang olahraga, menatap ke gua nanar…”
“...”
“... Ia lalu mendekat, bertanya tentang kondisiku dan mencoba menenangkan. Namun, aku dengan cepat memindahkan pecahan botol ke tangannya”
“...”
“... Saat itu, aku nggak berpikir jernih. Saat itu, aku menghancurkan hidupnya. Aku yang egois akhirnya membuat Marshall menderita..”
“...”
“... And you know what, Din.. Kamu tau apa yang dikatakan Marshall waktu itu, setelah aku memindahkan pecahan botol ketangannya?”
“Apa?” Tanya gua yang kini juga ikut berlinang air mata.
“Dia bilang; ‘Gapapa, Ta… Gapapa’...”
“...”
“... Di saat seperti itu saja, ia masih mencoba menenangkanku”
“...”
“... Dan malam itu, acara pensi dihentikan. Marshall ditangkap atas tuduhan yang nggak ia lakukan sama sekali. Satu-satunya kesalahan dia saat itu adalah; mencintai aku..”
Gua berdiri, terdiam, lantas mendekat dan kembali memberinya pelukan. Saat itu, kami sudah berada di area parkir mobil di basement. Di dalam pelukan gua, Tata lantas berbisik pelan; “Thanks, Din. Aku titip Marshall ya…”
Sambil mengusap punggungnya, gua lantas membalas ucapannya; “Gua yang harusnya berterima kasih. Kalau bukan karena kejadian itu, Marshall mungkin nggak jadi Marshall yang gua kenal sekarang”
Ia lalu melepas pelukan dan berjalan menjauh, menuju ke arah tempat mobilnya terparkir. Sementara, ponsel gua mulai berdering. Layarnya menampilkan nama Marshall.
“Tebak, gua abis ketemu siapa?” Tanya gua ke Marshall begitu masuk ke dalam mobil.
“Tata…” Marshall menjawab santai.
“Hah?! kok tahu?” Tanya gua lagi.
“Ya nebak..”
“Iya kok bisa bener”
“Ya nggak tahu, namanya juga asal nebak” Jawabnya, nggak mau kalah.
Gua menggeser posisi duduk agar bisa lebih dekat, lalu perlahan memeluk lengan kiri dan menyandarkan kepala di bahunya. Kemudian mulai bersenandung pelan;
“Mencintaimu membunuh keangkuhanku, Kehadiranmu membius hatiku
Ajari aku hapuskan mimpi burukku, Mungkinkah dirimu cintaku selamanya…”
—
Malam itu, mata semua orang tertuju ke arah Marshall yang tengah menjabat tangan bapak. Sambil menyebutkan nominal mas kimpoi kami berdua; “.... Senilai 814 ribu rupiah dibayar tunai”
“Sah?” Ucap si pak penghulu, sambil menatap ke arah dua orang saksi yang duduk di sisi kanan dan kiri meja.
“Sah” Jawab para saksi.
Lalu prosesi akad dilanjutkan hingga kami bertiga berfoto bersama seraya menunjukkan jari manis dengan cincin seharga 120 ribu yang melingkar. Setelahnya, suasana menjadi riuh saat gua dan Marshall menuju ke kursi pelaminan.
Beberapa orang bertubuh tegap dengan setelan serba hitam lantas mengikuti seorang pria naik ke atas pelaminan; menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat; “Selamat ya..” Ucapnya sambil menyalami kami bergantian.
“Iya terima kasih ya, pak…” Balas gua, begitu pula dengan Marshall yang bicara; “Thank you, Bos!!”.
Begitu pria itu turun, keriuhan berpindah dan terus mengikutinya. Sementara, kami yang menjadi pemilik acara malah terlihat seperti cecunguk saja.
“Elo sih, ngapain pake ngajak dia jadi saksi” Gua menggerutu ke Marshall.
“Lah, bukannya elo yang minta kalau pernikahan kita haruslah berkesan?”
“Ya tapi nggak ngajak Presiden Jokowi jadi Saksi pernikahan kita lah, Sal…”
“Seru kan?” Tanyanya sambil terkekeh.
“Apanya yang seru, tuh lo liat” Ucap gua seraya menunjuk ke arah para undangan yang kini sibuk berfoto dengan Pak Presiden, sementara para pengawalnya terlihat kelimpungan memberi penjagaan.
Seorang pria lalu menyusul naik ke atas panggung. Dari penampilannya nampak kalau ia juga bukanlah orang sembarang. Ia menyalami Marshall, memberi selamat dan bicara sebentar; “Saya suka gambar kamu, nanti kita ngobrol ya lain kali..”
Gua tersenyum dan ikut menyalaminya. Lalu setelah mereka turun dari pelaminan, gua menyenggol lengan Marshall; “Ridwan Kamil?”
“Iya, dia pernah beli gambar gua, satu set…” Jawabnya.
Besoknya, pagi-pagi sekali, sehari setelah acara pernikahan. Alih-alih pergi berbulan madu, kami berdua malah duduk di rooftop rumah. Rumah yang sebelumnya Marshall sewa untuk tempat studionya. Atas kesepakatan kami berdua, rumah yang sejatinya milik orang tua Nina, kami beli. Rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami di masa depan.
Gua menyandarkan kepala di bahunya, kami sama-sama duduk menghadap ke arah timur tempat sebentar lagi matahari akan terbit. Menatap ke arah langit yang perlahan-lahan berubah warna, dari gelap yang pekat menjadi gradasi biru, ungu, dan akhirnya oranye keemasan. Cahaya fajar mulai menyinari gedung-gedung di sekitar, menciptakan bayangan panjang dan rasa hangat yang semu.
“Din…” Marshall menyebut nama gua.
“Ya…”
“So it’s not gonna be easy. It’s gonna be really hard. We’re gonna have to work at this every day, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, you and me, every day…”
Ucapannya barusan tentu merujuk ke rencana kami berdua yang sudah melepaskan semuanya dan ingin mencoba memulai semuanya dari awal. Marshall meninggalkan studio yang dibangunnya susah payah, menghabiskan seluruh sisa tabungannya untuk membeli rumah ini. Gua yang keluar dari perusahaan dan melepas seluruh kepemilikan saham. Hanya agar bisa berjuang bersamanya.
Kami berencana bekerja freelance. Marshall akan bertugas menggambar, sementara gua akan mengambil alig peran Ketu sebelumnya; mencari klien dan mengurus keuangan. Mudah-mudahan, kami dikuatkan.
Gua menatap wajahnya yang terpapar sinar matahari pagi sambil terus tersenyum, lalu bicara pelan; "Gua nggak pernah berani meminta lebih dari ini..."
Angin pagi yang sejuk bertiup lembut, membuat aroma embun dan bau lumut tercium. Sementara Matahari terus naik, menyebarkan cahaya emasnya ke seluruh penjuru, mengusir sisa-sisa kegelapan malam.
Kami berdua sama-sama pernah berada di masa yang sulit. Rasa-rasanya, kebahagiaan adalah bayaran yang pantas setelah berhasil melalui masa-masa yang hitam, masa yang seperti berjelaga.
—
Slank - L.O.V.E
L.O.V.E LOVE punya 4 huruf
Semua relationship membutuhkan itu
L.O.V.E LOVE punya 4 huruf
Buat kita ingin tahu atau malah Bikin Ragu
Kamu pilih yang mana?
Kita sahabat atau jadi kekasihmu
Kamu mau pilih yang mana?
Aku Bisa dan ku rela tuk jadi dua-duanya
L.O.V.E LOVE punya 4 huruf
Bikin lupa diri bikin buta bahkan bunuh diri
L.O.V.E LOVE punya 4 huruf
Yang ku harap tulus dari dalam hatimu
Kamu pilih yang mana?
Kita sahabat atau jadi pacarmu
Kamu mau pilih yang mana?
Aku bisa dan ku rela tuk jadi dua-duanya
Kalau gue bisa denger 3 suku kata kecil
Bermakna besar yang melebihi i love u
Ingin aku denger 3 suku kata kecil
Bermakna besar yang melebihi love u, ilove u
Cinta kamu cinta yang mana?
Cinta sahabat atau ingin lebih dari itu
Kamu pilih yang mana?
Aku bisa dan ku rela tuk jadi dau-duanya
L.O.V.E LOVE
L.O.V.E Love yang pernah terucap dari mulutmu
Dan ku harap tulus dari dasar hatimu