- Beranda
- Stories from the Heart
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa
...
TS
robotpintar
Jelaga - Sehitam yang Rasanya Tidak Biasa

Bahkan Putih Pun Sudah Seperti Jelaga
"Marsal!"Petugas memanggil namaku asal-asalan.
Gua berdiri dan mendekat ke arah petugas sipir yang menatap ke arah lembaran kertas di atas meja kerjanya. Dengan kacamata baca yang turun hingga ke hidungnya, ia menatapku, lalu tersenyum.
"Tanda tangan" Ucapnya seraya menyerahkan lembaran kertas dari tangannya dan sebuah pulpen.
Gua meraih pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan pada bagian bawah lembaran kertas, kemudian mengembalikannya ke petugas tadi.
Ia menerima kertas tersebut, memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau dan menumpuknya dengan map-map lain yang memiliki warna yang sama. Dengan gerakan yang lambat dan ogah-ogahan, petugas itu menarik laci, mengeluarkan map plastik transaparan yang di dalamnya terlihat beberapa lembar kertas.
"Nih..." Ucapnya seraya menggeser map transparan tersebut ke arah gua.
"Ada yang jemput, Sal? Nggak ada ya?" Tanya si petugas sambil mencari-cari sesuatu dari laci meja kerjanya.
Belum sempat gua menjawab pertanyaannya, ia lalu menyodorkan sebuah kartu nama. Gua meraih kartu nama tersebut, kartu nama berbahan kertas Ivory yang terlihat murahan. Gua mengernyitkan dahi dan mulai membaca tulisan pada kartu tersebut.
'Jaya Teknik' Gua membaca tulisan paling besar pada kartu tersebut, disusul informasi nomor telepon dan alamat di bagian bawahnya.
"Kang Jaya?" Tanya gua ke petugas itu.
"Iya. Kamu kesana aja, biasanya anak-anak yang baru 'keluar' diajak kerja sama dia" Tambah si petugas sambil tetap menatap ke arah gua.
"Oh..." Gua memberi respon singkat.
Petugas itu berdiri, mengulurkan tangannya. Gua menyambut dan menjabat tangannya.
"Hati-hati ya, Sal. Pokoknya jangan sampe kamu balik kesini lagi" Ucapnya, masih sambil menjabat tangan gua.
"Iya Pak Didi" Jawabku, kemudian bersiap pergi.
Sementara aku pergi, terdengar Pak Didi kembali memanggil nama lain. Seorang petugas menghampiri, membimbing gua melewati lorong berliku yang berpagar tinggi. Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah pintu besi berukuran besar. Petugas itu, menekan tombol pada sisi pintu, menimbulkan bunyi meraung keras disusul suara 'cklek' dan pintu otomatis terbuka.
Petugas itu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan gua untuk keluar.
---
Spoiler for Prolog:
Sebuah ruangan dengan atap tinggi, tanpa dinding dan riuh rendah dari para pengunjung yang tengah mengantri untuk membesuk keluarganya ditambah kerasnya pengumuman dari pelantang suara di ruang semi terbuka itu menyambut gua.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Beberapa mata langsung tertuju ke arah gua. Mungkin aneh melihat ada yang keluar dari pintu besar berukuran tebal itu. Dengan mengabaikan pandangan orang-orang, gua terus melangkah, menuju ke halaman gedung.
Dengan sebuah plastik berwarna merah berisi pakaian seadanya, dan map transparan yang diberikan oleh Pak Didi tadi, gua melangkahkan kaki keluar dari area bangunan itu, untuk pertama kalinya dalam 8 tahun.
Gua menyusuri jalan kecil yang mengubungkan bangunan ini dengan jalan utama yang berada di ujung sana. Sepanjang jalan terdapat beberapa tempat makan sederhana dan warung-warung kopi yang mungkin menjadi tempat para petugas makan dan beristirahat.
Di ujung jalan, terlihat sebuah gapura besar yang terbuat dari batang-batang besi. Pada bagian atasnya nampak motto; "Pasti Baik" dengan tulisan 'Lembaga Pemasyarakatan' di bagian bawahnya. Beberapa tukang ojek pangkalan langsung bersiul begitu melihat kehadiran gua, mencoba menawarkan jasanya.
Gua mengangkat tangan sambil menggeleng, memberi kode dengan cara sesantun mungkin untuk menolak tawaran mereka. Entah mungkin karena nggak ngerti kode yang gue berikan atau memang gigih, mereka tetap menawarkan jasanya. Malah kali ini lebih brutal, mereka menyalakan mesin motor dan langsung mengendarainya mendekat ke arah gua; "Ayok ojek Mas".
"Nggak mas, makasih"Gua menjawab, sambil kembali mengangkat tangan, kemudian melanjutkan langkah.
Akhirnya karena terus dipaksa, gua naik ke boncengan si abang tukang ojek itu. 'Ya emang rejeki dari kegigihannya' Gua membatin dalam hati.
"Kemana?" Tanyanya.
"Terminal" Gua menjawab singkat.
"Siap" Ia langsung memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si tukang ojek ini mengajak gua bicara. "Abis besuk siapa? sodara? temen?" Tanyanya.
"Nggak, bukan" Gua menjawab singkat.
"Lah terus ngapain ke lapas?" Tanyanya lagi.
"Gua baru keluar"
"Hah?" Dari nada suaranya terdengar si tukang ojek ini sedikit terkejut. Nggak hanya nada suaranya yang terdengar kaget. Begitu mendengar jawaban gua barusan, sontak ia juga langsung melambatkan laju sepeda motornya.
"Situ Napi?" Tanyanya lagi.
"Bekas" Gua mengoreksi pertanyaanya barusan.
Sejak saat itu, si tukang ojek nggak pernah lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain. Ia hanya diam dan fokus pada jalanan.
"Ngojek deket lapas, emang nggak pernah bawa penumpang bekas napi?" Tanya gua memecah keheningan.
Si Tukang ojek menggelengkan kepala.
"Biasanya mah, yang keluar dari lapas di jemput sama keluarganya. Langganan ojek saya kebanyakan orang yang besuk" Si Tukang ojek berusaha menjelaskan.
"Oh... Pantesan"
Nggak berselang lama, kami akhirnya tiba di terminal bus. Gua turun dari goncengan sepeda motor, mengeluarkan plastik berisi gulungan uang dari saku celana jeans, bersiap untuk membayar. Namun, Si Tukang ojek sudah keburu memutar sepeda motornya dan bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu mas, mau kemana?" Tanya gua, berusaha memegang tangannya mencegah agar dia nggak pergi. Namun, dengan sigap ia menepisnya lalu kabur dengan kecepatan penuh.
Melihat kejadian tersebut tentu membuat gua geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Si Tukang ojek barusan merupakan gambaran umum dari masyarakat Indonesia. Yang punya ketakutan sebesar gunung terhadap para bekas narapidana. Atau jika terlalu 'kasar' menyebut kami sebagai bekas narapidana, mungkin bekas masyarakat binaan bisa menjadi kata ganti yang tepat.
Gua duduk di kursi bis menuju ke Jakarta. Sementara, satu persatu penumpang naik dan duduk dikursi kosong secara acak, mengabaikan nomor yang tertera pada karcis dan kursi. Riuh pedagang asongan yang bolak-balik di lorong antara kursi menjajakan dagangannya dan suara sumbang pengamen dibagian depan bus, membuat rasa kantuk yang sejak tadi hinggap kini hilang.
Cukup lama kami, para penumpang dibiarkan menunggu. Jadi, si supir bus hanya akan jalan jika semua kursi sudah terisi. Kalau masih ada yang kosong, sampai kiamat pun, bus nggak bakalan berangkat. Setelah beberapa saat, hampir semua kursi penuh, bahkan ada sebagian penumpang yang duduk di lorong antar kursi dengan menggunakan kursi plastik.
Raung mesih bus terdengar. Kami lalu perlahan melaju, meninggalkan terminal, menuju ke Jakarta.
---
Masih dengan pakaian yang sama, sambil menggenggam plastik merah, gua berdiri tepat di depan sebuah bengkel las dengan papan nama besar di bagian atas yang bertuliskan 'Jaya Teknik'.
"Sal, Marshall" Terdengar teriakan seorang pria yang samar dengan suara dentingan besi.
Gua menoleh dan mendapati Kang Jaya berdiri, melambaikan tangannya ke arah gua.
Menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat obrolan seru di sebuah ruangan yang digunakan Kang Jaya sebagai 'kantor'nya. Di sela-sela obrolang, gua pun menyampaikan niat kedatangan gua kepadanya.
"Kang, bisa ajak gua kerja nggak?" Tanya gua.
Kang Jaya terdiam sesaat, lalu menatap ke arah gua.
"Kamu disana emang belajar nge-las?" Tanyanya.
Gua meresponnya dengan gelengan kepala.
"Terus ngambil sertifikasi apa?" Tanyanya lagi.
Gua lantas memberikan map transparan dari Pak Didi kepadanya. Ia lalu menyeka tangannya dengan ujung kaos dan dengan hati-hati mengeluarkan lembaran kertas dari Map transparan yang berisi sertifikat life skill yang gua pelajari sewatku di Lapas.
"Barista" Gumamnya, sambil menatap gua.
"Iya kang"
"Barista mau jadi tukang las?" Tanyanya.
"Gua mau belajar dulu kok, bantu angkat-angkat besi, ngapain kek..." Jawab gua, dengan nada memohon.
Kang Jaya menghela nafas panjang, kemudian meraih ponselnya dari atas meja.
"Saya ada temen yang baru aja ngambil alih kedai kopi, Siapa tau masih butuh barista. Mau?" Tanyanya.
Gua langsung mengangguk. "Mau!"
Kang Jaya lalu tersenyum dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.
Diubah oleh robotpintar 10-06-2024 21:29
teguhjepang9932 dan 218 lainnya memberi reputasi
219
411.5K
Kutip
4.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#2689
Part 97 - Kita
Spoiler for Part 97 - Kita:

“Jadi mau dibikinin mie instan apa mau cari makan diluar nih?” Tanya Aldina sebelum kembali ke dalam.
Gua berpaling, lalu menatapnya dari atas ke bawah; “Emang lo mau naik motor?” Tanya gua.
Mendengar pertanyaan gua, Aldina langsung mengernyitkan dahinya; “Emang kenapa lo merasa gua nggak mau naik motor?” Ia balik bertanya.
“...”
“... Lo ngeremehin gua?” Tambahnya, sambil melangkah maju, mendekat dan mengepalkan tangannya.
Gua mundur beberapa langkah.
“Nggak bukan gitu..” Gua mencoba memberi sanggahan.
“Terus gimana?” Tanyanya lagi, masih terus mendekat.
“Ya gua kan nggak pernah ngeliat lo naik motor” Ucap gua, berusaha memberi alasan.
“Pernah! Gua pernah naik ojek online” Jawabnya.
“Kapan?”
“Waktu itu”
“Berapa kali?” Tanya gua lagi.
“Sekali…” Ia menjawab pelan.
“Selain itu, selain naik ojek online yang cuma sekali itu. Pernah nggak lo naik motor?” Tanya gua lagi, kini gantian gua yang melangkah mendekat ke arahnya.
Aldian terdiam, menundukkan kepala nya lalu menggeleng; “Nggak pernah”
Sesaat kemudian, ia mendongak lalu menambahkan; “... Eh pernah deng dulu waktu masih sekolah, naik ojek”
“...”
“... Lagian ribet amat sih. Jadi, gimana? mau dimasakin mie apa makan keluar?” Tambahnya lagi, kini seperti biasa ia bicara sambil nge-gas.
“Mmm..”
“Keluar aja!” Ia menjawab sendiri, lalu berbalik dan masuk ke dalam. ‘Dia nanya sendiri sampe ribut, dijawab sendiri’.
Nggak lama kemudian, Aldina sudah kembali keluar. Kini sudah berganti pakaian dengan kaos putih oversized dan celana panjang berbahan cargo warna hijau. “Ayo…” Lalu melemparkan kunci motor ke arah gua.
Ia langsung duduk di boncengan sepeda motor begitu gua mengeluarkannya ke sisi jalan dan bersiap. “Helm lo mana?” Tanya gua, sambil menoleh ke belakang.
“Alah, nggak usah lah” Serunya.
“Pake lah” Jawab gua.
“Ck..” Ia berdecak, turun dari sepeda motor dan berjalan menuju ke ujung garasi. Mengambil sebuah helm yang tergantung di sana dan langsung memakainya. Lalu, kembali naik ke boncengan sepeda motor dan menepuk bahu gua; “Yuk…”
Gua menyalakan mesin sepeda motor tanpa kesulitan, dan mulai melaju. Walaupun sepeda motor ini merupakan sepeda motor keluaran lama, tapi sepertinya bokap Aldina merawat motor ini dengan baik, terasa dari getaran dan suara mesinnya yang halus serta bodinya yang mulus hampir tanpa cela.
Sepanjang perjalanan, Aldina memberikan petunjuk kemana gua harus berbelok.
“Lo tau emang?” Tanya gua.
“Nggak” Jawabnya singkat.
Gua lalu melirik dari arah spion, terlihat ia tengah menatap layar ponselnya; melihat maps sambil memberikan arah.
“Lo liat maps?” Tanya gua lagi.
“Iya…”
“Gua pikir lo tau daerah sini”
“Asumsi lo kan…”
“Iya..”
“Gua bahkan nggak pernah tinggal disini, Sal. Gua dari kecil udah di Jakarta. Paling kesini kalau liburan aja”
“Ooh.. Tapi logat batak lo masih terasa”
“Ya lo coba aja ngobrol sama bapak sebulan, jadi batak. Sekarang aja lo udah mulai ke batak-batakan” Jawabnya. Gua lalu teringat akan ucapan Ketu saat ngobrol waktu itu, saat ia bilang kalau logat dan gaya bicara gua mirip seperti orang Batak. Mungkin karena terpapar terlalu lama dengannya.
“Iya, ya…”
Tiba-tiba, Aldina menepuk pundak gua dari belakang, lalu berseru; “Stop, stop, Sal”
Gua melambatkan laju sepeda motor lalu menepi; “Apa?”
“Itu kelewatan” Ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah ruko dengan sebuah plang nama berwarna hijau bertuliskan ‘Lontong’.
“Ah, Lontong?” Tanya gua.
“Iya, kenapa? nggak mau?” Ia Balik bertanya.
“Hmm.. Yaudah” Jawab gua, lalu memutar sepeda motor, menuju ke area parkir di sisi jalan tepat di depan ruko tersebut. Ruko yang lokasinya tepat berseberangan dengan sebuah SMA Negeri.
“... Semua menunya lontong?” Tanya gua, saat tengah memarkir sepeda motor.
“Nggak. Ada yang lain juga. Tapi, kalo disini ya gua saranin nyobain lontongnya” Jawabnya.
“Oh, yaudah”
Nggak seberapa lama, kami berdua sudah duduk di kursi plastik berwarna biru menghadap ke meja kayu yang berada di area outdoor. Aldina lantas memesan dua porsi menu lontong, memilihkan signature dish terbaik menurutnya.
“Lo mau jelasin sekarang apa nanti?” Tanya Aldina sambil membetulkan posisi duduknya di sebelah gua.
“Jelasin apa?” Gua balik bertanya.
“Tentang akuisisi studio” Jawabnya. Kini ia terlihat pasang ekspresi serius.
“Nanti aja lah di Jakarta”
Mendengar jawaban gua barusan, Aldina lantas menghela nafas; tanda kecewa. Tapi, ia nggak berkata apa-apa, hanya memainkan layar ponselnya yang juga masih terlihat retak.
Selesai makan, gua mengeluarkan lembaran uang dari saku celana. Uang yang sebelumnya diberikan oleh bokapnya Aldina sebagai bayaran pekerjaan gua. Lalu menyerahkan dua lembar pecahan 50 ribuan kepadanya.
“Udah gua aja…” Jawabnya sambil mengembalikan uang yang gua berikan.
“Udah ini aja…” Balas gua.
Lalu mendekat ke arahnya dan berbisik; “... Tadi bokap lo ngasih duit. Katanya bayaran gua kerja”
Mendengar bisikan gua barusan, ia lantas tersenyum dan langsung bertepuk tangan; senang. Lalu meraih lembaran uang yang gua berikan dan menyelesaikan pembayaran. Ia kembali duduk setelah membayar, lalu menadahkan tangannya ke gua; “Mana duitnya?”
“Duit apa?” Tanya gua.
“Duit bayaran lo, yang dari bapak” Jawabnya.
“Oh.. Buat apa?” Tanya gua lagi, sambil mengambil seluruh uang pemberian bokapnya dari saku celana dan meletakan di tangannya.
Dengan cepat, Aldina mulai menghitung lembaran uang tersebut. “Segini doang?” Tanyanya.
“Iya..” Gua menjawab singkat, masih bingung, ingin ia apakan uang tersebut. Sementara, ia lalu sibuk dengan ponselnya, membuka aplikasi marketplace dan seperti tengah mencari sesuatu. Nggak lama berselang, ia menggeser ponselnya ke arah gua. Layarnya menampilkan sebuah cincin dengan label harga 120 ribu. Dilihat dari harganya tentu saja cincin tersebut bukanlah cincin emas apalagi permata. Itu hanya cincin aksesoris biasa yang bahkan nggak ada kandungan logam mahalnya.
“Beliin gua ini ya?” Ucapnya sambil menunjuk ke arah layar ponselnya.
Gua mengangguk.
Ia lalu mulai membuat rincian pengeluaran uang bayaran bokapnya ke gua; “Bayar makan barusan 56 ribu, Beli cincin ini 120 ribu ditambah ongkirnya 10 rb, jadi total; 186 ribu ya, Sal..”
“...”
“... Uang dari bapak satu juta, berarti sisanya; 814 ribu ya”
“Iya, terus?” Tanya gua penasaran.
“Gua yang simpen ya?” Pintanya, sambil menatap gua.
“Iya, tapi buat apa? lo nggak punya duit?” Tanya gua lagi.
Mendengar pertanyaan gua barusan, Aldina langsung pasang tampang jutek, lalu menatap gua dengan tatapan nyinyir dan mengejek.
“Iya, yaudah pegang…” Ucap gua seraya mengalihkan pandangan. Nggak berani membalas tatapannya.
—
Besoknya, kami berdua sudan berada di kursi pesawat yang membawa kami kembali ke Jakarta. Sementara, bokapnya Aldina katanya akan menyusul datang beberapa minggu kedepan untuk bertemu dengan cucunya; Anggi.
Ia juga sempat memaksa gua tinggal lebih lama dengan alasan masih banyak yang bisa dikerjakan di rumahnya; mengecat dinding, membetulkan instalasi air yang kadang mampet dan juga mengganti beberapa lantai yang pecah. Tapi, gua menolak dengan halus; “Nanti ya Om, kalau kesini lagi saya bantuin deh…”
Sementara, sebelum take-off tadi gua sempat memberi kabar ke Jeje kalau gua bakal kembali ke Jakarta, jadi ia bisa menyiapkan segalanya.
“Chat siapa?” Tanya Aldina sambil melirik ke arah layar ponsel gua.
“Tata” Jawab gua singkat, lalu tersenyum, memberi tanda kalau jawaban gua barusan hanya guyonan belaka. Tetapi, Aldina nggak menganggapnya begitu. Ia langsung berdiri dan bersiap untuk mengambil tas miliknya.
“... Heh, mau kemana?” Tanya gua, sambil menahannya.
“Turun…” Jawabnya ketus.
“Eis, kita udah di pesawat. Gua cuma bercanda lho…”
Ia terdiam, menatap gua tajam, lalu kembali duduk.
“Awas lo ya, jangan coba-coba bercanda begitu lagi!” Ancamnya.
“Iya sorry, sorry..” Ucap gua, sementara ia membuang muka, menatap ke arah luar melalui jendela pesawat.
Gua menggeser tubuh agar dekat dengannya. Membuat bahu kami kini saling bersentuhan. Lalu berbisik pelan di telinganya; “Maaf ya sayang”
Aldina menoleh dan langsung menyunggingkan senyum.
Sepanjang penerbangan menuju ke Jakarta, Aldina hanya tertidur di bahu gua. Saat terbangun, ia hanya memainkan ponselnya sebentar, menoleh ke arah gua, lalu kembali terlelap.
Gua memanfaatkan waktu saat ia tengah terlelap untuk membaca MoU yang baru saja dikirimkan oleh Jeje. MoU yang berisi tentang studio yang akan diakuisisi olehnya secara pribadi, bukan atas nama perusahaan seperti MoU yang sempat juga ia kirimkan sebelumnya. Di MoU versi terbaru ini, gua memberi catatan untuk merubah nama kepemilikan studio yang sebelumnya ‘masih’ atas nama gua, ke nama Ketu.
Sehari setelah Jeje menemui gua di apartemen, setelah ia memberikan penawaran untuk mengakuisisi studio atau menerima hibah saham milik Aldina. Ia langsung mengirimkan draft MoU yang isinya kurang lebih akan memberikan investasi dana senilai dua miliar melalui venture capital miliknya. Tentu saja dengan salah satu klausulnya adalah gua dan Aldina tetap berada di dalam studio sebagai CEO dan CMO.
Tetapi gua menolaknya. Lalu, merevisi MoU tersebut sesuai dengan rencana yang akan gua jalankan. Rencana yang melibatkan gua dan Aldina. Awalnya Jeje menolak dengan revisi yang gua ajukan, merasa revisi tersebut nggak bakal memenuhi rencananya untuk ‘menyelamatkan’ Aldina, nggak membantu Aldina dalam hal finansial.
“Yaudah nggak usah, gapapa, batalin aja” Jawab gua melalui panggilan telepon kala itu.
“Hmmm… Gini deh, i’ll get you back soon ya… Gua masih ngurusin anak gua dulu nih” Balasnya.
Iya, saat itu Jeje memang tengah disibukkan dengan mengurus anak bungsunya yang masih dalam perawatan intensif. Dan gua pun memakluminya, jadi baru hari ini akhirnya Jeje mengirimkan draft MoU yang sudah direvisinya sesuai dengan keinginan gua.
—
Satu jam berikutnya, kami akhirnya tiba di Bandara Soekarno Hatta. Aldina duduk di kursi tunggu di sebelah gua sambil menata rambutnya yang berantakan akibat terlelap sepanjang penerbangan. Kini ia mengikat rambutnya, membiarkan tengkuknya yang indah terlihat. Gua dengan cepat mendekat dan meniupnya tepat ke arah tengkuknya.
Aldina menggeliat lalu menoleh ke arah gua dan berseru; “Anjir, Geli!” Kemudian berdiri dan berjalan menjauh. Sementara, gua meraih koper miliknya dan menyusul.
Dengan menggunakan taksi kami berdua lalu pulang, tentu saja menuju ke apartemen gua yang lokasi lebih dekat ketimbang kembali ke apartemen miliknya. Sepanjang perjalanan dengan taksi, Aldina kembali menyandarkan kepalanya di bahu gua untuk tidur. “Ngantuk banget perasaan” Gua menggumam pelan. Aldina yang masih belum sepenuhnya terlelap lalu mencubit lengan gua dan memberi respon dengan bisikan; “Berisik…”
Setibanya di apartemen kini giliran gua yang langsung merebahkan diri di atas sofa, mencoba memejamkan mata sejenak sebelum nanti mengantarkannya pulang. Tapi, Aldina yang sepertinya nggak rela kalau melihat gua merasa nyaman. Ia lantas menerjang, menindih gua dengan tubuhnya dengan cara melompat tepat diatas gua.
“Aduh Din, Awas sih, gua mau merem sebentar…” Keluh gua.
“Udah sih jangan tidur mulu” Serunya sambil memberi pukulan di lengan gua.
“Ya elo enak dari tadi di pesawat, di taksi, tidur. Gua ngantuk…” Keluh gua lagi.
Ia lalu berdiri, “Gua bikinin kopi ya” Ucapnya, lalu bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan gua kopi. Nggak seberapa lama, sebuah tepukan di pipi membangunkan gua. Gua menggeliat, meregangkan tubuh lalu bangkit dan duduk. Lalu menatap Aldina yang kini sudah nampak berbeda, ia sudah berganti pakaian dengan kaos milik gua yang kebesaran.
“Jam berapa?” Tanya gua, seraya menyipitkan mata dan menatap ke arah jendela balkon yang memperlihatkan kegelapan langit malam.
“Jam 7” Jawab Aldina sambil duduk di sebelah gua.
Gua meraih gelas kopi yang berada di atas meja; dingin.
“...”
“... Tadinya gua mau bangunin lo pas abis bikin kopi. Tapi, nggak tega. Lo kayaknya pules banget” Aldina bicara sambil memainkan daun telinga gua.
“Tumben…” Respon gua, lalu menghabiskan kopi dingin yang berada di dalam genggaman.
Selesai menghabiskan kopi, gua lalu mandi dan berganti pakaian. Melihat gua sudah rapi, Aldina menatap bingung; “Mau kemana?” Tanyanya.
“Nganterin lo pulang” Jawab gua.
“Nggak mau ah.. Besok aja…” Bantah Aldina, lalu meraih remot televisi, menyalakannya dan berbaring di sofa menatap layar.
“Yaudah…” Balas gua lalu kembali duduk di sebelahnya.
“...”
“... Tapi, Besok gua nggak bisa nganterin lo ya.” Gua menambahkan.
“Gapapa, balik sendiri juga bisa. Lagian emang mau kemana? ke studio?” Tanyanya, tanpa menatap gua.
“Nggak. Mau meeting”
“Oh… Sama?”
“Sama Jeje” Gua menjawab singkat.
Mendengar gua menyebut nama Jeje, ia langsung berpaling, menatap gua dan mendekat dengan menggeser tubuhnya; “Meeting apa? Akuisisi?” Tanyanya.
“Iya…” Jawab gua.
Ia lalu berdiri dan memukul gua.
“Beneran kan? beneran lo mau Jeje akuisisi studio? Pembohong…” Serunya.
“Udah lo tenang aja sih…” Ucap gua, lalu ikut berdiri, mengusap kepalanya dan memberikan kecupan di dahi. Kemudian melangkah menuju ke pintu apartemen, bersiap keluar.
“Mau kemana?” Serunya.
“Ke bawah, ke tempat Ketu sebentar” Jawab gua sambil membuka pintu dan melangkah pergi.
Gua turun beberapa lantai menuju ke kamar apartemen Ketu dengan menggunakan tangga darurat. Lalu mengetuk pintu kamarnya.
Cukup lama gua menunggu hingga akhirnya pintu apartemennya terbuka. Ketu menyembulkan kepalanya, sementara rambutnya terlihat acak-acakan. Nggak banyak bicara, gua langsung mendorong pintu untuk menerobos masuk ke dalam. Namun, Ketu menahannya dengan sekuat tenaga. Lalu balik mendorong pintu dan kembali menutupnya.
“Woy, buka. Tu, Ketu..” Seru gua sambil menggedor pintu.
Setelah beberapa menit, barulah ia membuka pintu apartemen lebar-lebar.
Gua cukup terkejut saat melihat Nina keluar dari dalam apartemen dan langsung pergi menjauh menyusuri lorong, berjalan dengan cepat, lalu menghilang di lobby lift.
Gua masuk ke dalam apartemennya, sementara Ketu langsung menuju ke dapur dan kembali sambil membawa gelas berisi seduhan kopi instan.
“Ono opo?” Tanyanya lalu duduk di lantai. Gua meraih bungkusan rokok miliknya yang tergeletak di atas meja, mengambilnya sebatang dan menyulutnya. Ia dengan cepat meraih asbak dari sudut ruangan dan meletakkannya di atas meja.
“Gimana kantor barunya?” Tanya gua ke Ketu.
“Ya enak sih, tapi yo angel nggolek makan” Jawabnya.
Iya, beberapa minggu yang lalu gua sengaja memindahkan studio ke tempat yang lebih proper. Karena merasa, lokasi yang sekarang sudah mulai terasa sempit dan kurang nyaman. Ya namanya juga rumah yang dialih-fungsikan, pasti rasanya nggak nyaman.
Ketu sendiri mengetahui kalau proses pindahnya studio karena proses akuisisi yang berhasil. Padahal, saat itu gua hanya memberi petunjuk tentang ‘kemungkinan’ akan adanya akuisisi dari perusahaan Jeje.
“Besok ikut meeting ke tempat Jeje, ngomongin Akuisisi…”
“Wueh, harus nyiapin opa wae, Sal?” Tanyanya, seraya membetulkan posisi duduk.
“Nggak usa nyiapin apa-apa”
Gua lalu mulai membeberkan rencana akuisisi yang bakal terjadi kepadanya. Awalnya, tentu saja Ketu menolak keras. Tapi, setelah gua mencoba memberi pengertian kepadanya, ia akhirnya setuju. Tentu saja ia mengajukan sebuah syarat ke gua; “Yowis, tapi ne’ ono opo-opo, kowe ojo nolak bantuanku ya”
“Iya…” Jawab gua singkat.
Gua berdiri, dan bersiap untuk kembali. Sebelum keluar gua sempat bertanya tentang keberadaan Nina tadi; “Tadi Nina abis ngapain? kok buru-buru pergi?” Tanya gua.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Ketu langsung gelagapan, nggak berani membalas tatapan gua, linglung. Gua tersenyum dan menepuk bahunya pelan lalu pergi.
Begitu kembali, terlihat Aldina masih di posisi yang sama, masih melakukan kegiatan yang sama; menonton acara musik di televisi.
“Ngobrol apa?” Tanya Aldina tanpa mengalihkan pandangannya.
“Ngobrolin buat meeting besok” Jawab gua, sambil terus menuju ke dapur.
“Oh, giliran sama Ketu lo cerita, giliran sama gua lo nggak mau cerita” Ucapnya.
Sambil membawa botol berisi air mineral dingin, gua mendekat ke arahnya. Lalu menempelkan permukaan botol tepat di dahinya. “Biar dingin kepala lo. Biar nggak ngedumel melulu…”
Ia mendongak, menatap gua tajam lalu bicara; “Ya kalo nggak mau gua ngedumel, cerita makanya. Jelasin rencana lo!” Serunya.
Gua tersenyum.
Bukan, bukan gua nggak mau bercerita kepadanya. Gua hanya ingin memberinya sedikit kejutan, ingin membuatnya merasa istimewa. Gua lalu membungkuk, sambil menggenggam tangannya lalu kembali bicara; “Sabar, ya Din. Besok, besok pasti gua jelasin semuanya. Semuanyaaaaa…”
Aldina menghela nafas seraya mengelus dadanya. Berusaha menyabarkan diri dan membuat dirinya tetap tenang. “Yaudah awas, sana… sana…” Serunya.
—
Lanjut Ke Bawah
Diubah oleh robotpintar 04-07-2024 21:31
kujangsunda dan 44 lainnya memberi reputasi
45
Kutip
Balas
Tutup