- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#63
31
Quote:
Pada saat rapat mini, Dheril memberikan instruksinya. Mereka akan melakukan pembukaan di halaman depan, sebelum membuka pagar hitam. Kemudian setelah pembukaan, barulah penjaga rumah membuka pagar hitamnya. Dan disitulah penelusuran benar-benar dilakukan, dari sana mereka akan melakukannya senatural mungkin, tetap dengan arahan utama dari Dheril. Krunya mulai menyambungkan ke jaringan agar siarannya bisa dilakukan secara langsung.
“Mereka udah kasih kode tuh, siap-siap,” ucap Tyo sambil mengangkat kameranya.
“Oke,” Ardit juga siap menyorotkan kameranya kepada Pandu.
Hitungan mundur dilakukan, ketika sudah mencapai angka nol kedua pembawa acara memulainya secara langsung. Dheril memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, kemudian meminta Pandu yang disindir-sindir sudah terkenal untuk mengenalkan dirinya sendiri. Kemudian berlanjut ke sejarah rumah putih, lagi-lagi Dheril yang menjelaskan. Pandu tidak ambil pusing, menurutnya Dheril sudah melakukan pekerjaan yang benar. Malahan dengan begitu, kerjaannya menjadi lebih sedikit. Beberapa saksi yang merupakan petugas keamanan turut ditampilkan memberikan testimoni betapa mengerikannya rumah putih besar di Jalan Selangkah.
“Mereka enggak bohong sih, cuman kurang tepat aja,” Gasimah muncul tepat dibelakang Ardit.
“Oit, kasih aba-aba dong!” bisik Ardit. “jangan mentang-mentang mereka sama sekali enggak bisa lihat, kamu bisa seenaknya,” omelan Ardit hanya dianggap angin saja oleh Gasimah, sosoknya terbang masuk ke dalam rumah.
Bagian dalam rumah masih dalam kondisi terawatt, semua barang ditinggalkan begitu saja, termasuk sofa mahal, lukisan-lukisan pemandangan besar, dan furnitur berbahan kayu jati asli. Tangga melingkar khas rumah orang kaya jaman dahulu juga terpampang nyata. Pandu tetap mengikuti Dheril dari belakang sambil terus memberikan penjelasan, dengan gayanya yang jauh lebih santai. Lalu berlanjut memasuki beberapa kamar yang tersedia di lantai bawah. Sama seperti di ruangan utama, beberapa perabot masih ada, hanya debu-debu saja hinggap.
“Ini adalah kamar anak mereka, bisa kita lihat betapa terawatnya, tapi kok bisa rumah ini begitu menyeramkan bagi orang-orang yang kebetulan lewat?” ucap Dheril beraksi di depan kamera Tyo.
“Mungkin aja ada orang-orang iseng yang coba memasuki rumah tanpa izin, bisa jadi itu salah satu penyebabnya,” ucap Pandu mencoba ikut berinteraksi.
Sementara itu, Gasimah masuk menembus atas langsung ke area kamar tidur utama. Beberapa lemari mewah tersaji di dalam, ia begitu takjub karena kamar kosan yang ditempati Pandu begitu kecil hingga bisa dimasukan ke dalam kamar tidur utama ini. Ada sebuah lukisan besar, foto keluarga yang disinyalir merupakan pemilik rumah putih ini. Lalu Gasimah tersenyum, ada dua orang yang bersembunyi di balik lemari besar yang menghadap kasur putih mewah.
“Aku kerjain ah,” Gasimah dengan santai berjalan ke arah mereka.
Sesudah memasuki beberapa kamar, area selanjutnya adalah garasi yang berada di samping. Di sana ada pintu tembusan menuju area belakang kolam renang. Berbeda dengan kondisi di tempat-tempat sebelumnya, area garasi ini sangat kotor. Debunya sangat pekat, bahkan jaring laba-labanya begitu besar menghalangi jalan mereka.
“Tugas penjaga kayaknya cuman tok jaga aja gaes, urusan bersih-bersih dia lepas tangan,” ucap Dheril dengan nada bercanda.
“Ya karena garasi bukan tempat buat orang, makanya dibiarin sedemikian rupa,” balas Pandu.
Ketika keduanya ingin membuka pintu tembusan menuju area belakang kolam renang, terdengar suara hantaman begitu keras, suaranya terdengar berkali-kali. Dheril sebisa mungkin menyembuyikan wajah paniknya. Karena jika didengarkan dengan seksama, suara keras itu terdengar dari lantai dua. Sedangkan mereka belum sampai ke area sana, setelah penelusuran di area kolam renang, barulah kakinya diinjakan ke lantai dua.
Kepanikan juga terjadi pada kru yang memegang properti hantu di lantai dua. Mereka tidak menyangka bahwa propertinya bergerak sendiri, menghantam dirinya ke pintu berulang-ulang.
“Woy bantuin gue!” ucap salah satu kru yang berusaha menghentikan properti yang menghantam pintu. “bangun jangan takut, selagi bukan suara mah!”
“Udah bener gue jadi bagian bawa-bawa peralatan,” ucap yang lain, sambil gemetaran mencoba mendekat.
“Oh takutnya sama suara, boleh,” Gasimah mengeluarkan suaranya, awalnya hanya suara pelan seperti memanggil. Lalu dilanjutkan dengan suara ketawa melengking yang membuat telinga perih ketika mendengarnya.
Kedua kru itu ketakutan setengah mati, dengan kekuatan penuh menghantam pintu yang dihalangi oleh properti berbentu hantu. Ketika berhasil melakukannya, di depan mereka ada Dheril dan juga Pandu, kamera masih menyala merekam semuanya secara langsung.
“Mereka udah kasih kode tuh, siap-siap,” ucap Tyo sambil mengangkat kameranya.
“Oke,” Ardit juga siap menyorotkan kameranya kepada Pandu.
Hitungan mundur dilakukan, ketika sudah mencapai angka nol kedua pembawa acara memulainya secara langsung. Dheril memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, kemudian meminta Pandu yang disindir-sindir sudah terkenal untuk mengenalkan dirinya sendiri. Kemudian berlanjut ke sejarah rumah putih, lagi-lagi Dheril yang menjelaskan. Pandu tidak ambil pusing, menurutnya Dheril sudah melakukan pekerjaan yang benar. Malahan dengan begitu, kerjaannya menjadi lebih sedikit. Beberapa saksi yang merupakan petugas keamanan turut ditampilkan memberikan testimoni betapa mengerikannya rumah putih besar di Jalan Selangkah.
“Mereka enggak bohong sih, cuman kurang tepat aja,” Gasimah muncul tepat dibelakang Ardit.
“Oit, kasih aba-aba dong!” bisik Ardit. “jangan mentang-mentang mereka sama sekali enggak bisa lihat, kamu bisa seenaknya,” omelan Ardit hanya dianggap angin saja oleh Gasimah, sosoknya terbang masuk ke dalam rumah.
Bagian dalam rumah masih dalam kondisi terawatt, semua barang ditinggalkan begitu saja, termasuk sofa mahal, lukisan-lukisan pemandangan besar, dan furnitur berbahan kayu jati asli. Tangga melingkar khas rumah orang kaya jaman dahulu juga terpampang nyata. Pandu tetap mengikuti Dheril dari belakang sambil terus memberikan penjelasan, dengan gayanya yang jauh lebih santai. Lalu berlanjut memasuki beberapa kamar yang tersedia di lantai bawah. Sama seperti di ruangan utama, beberapa perabot masih ada, hanya debu-debu saja hinggap.
“Ini adalah kamar anak mereka, bisa kita lihat betapa terawatnya, tapi kok bisa rumah ini begitu menyeramkan bagi orang-orang yang kebetulan lewat?” ucap Dheril beraksi di depan kamera Tyo.
“Mungkin aja ada orang-orang iseng yang coba memasuki rumah tanpa izin, bisa jadi itu salah satu penyebabnya,” ucap Pandu mencoba ikut berinteraksi.
Sementara itu, Gasimah masuk menembus atas langsung ke area kamar tidur utama. Beberapa lemari mewah tersaji di dalam, ia begitu takjub karena kamar kosan yang ditempati Pandu begitu kecil hingga bisa dimasukan ke dalam kamar tidur utama ini. Ada sebuah lukisan besar, foto keluarga yang disinyalir merupakan pemilik rumah putih ini. Lalu Gasimah tersenyum, ada dua orang yang bersembunyi di balik lemari besar yang menghadap kasur putih mewah.
“Aku kerjain ah,” Gasimah dengan santai berjalan ke arah mereka.
Sesudah memasuki beberapa kamar, area selanjutnya adalah garasi yang berada di samping. Di sana ada pintu tembusan menuju area belakang kolam renang. Berbeda dengan kondisi di tempat-tempat sebelumnya, area garasi ini sangat kotor. Debunya sangat pekat, bahkan jaring laba-labanya begitu besar menghalangi jalan mereka.
“Tugas penjaga kayaknya cuman tok jaga aja gaes, urusan bersih-bersih dia lepas tangan,” ucap Dheril dengan nada bercanda.
“Ya karena garasi bukan tempat buat orang, makanya dibiarin sedemikian rupa,” balas Pandu.
Ketika keduanya ingin membuka pintu tembusan menuju area belakang kolam renang, terdengar suara hantaman begitu keras, suaranya terdengar berkali-kali. Dheril sebisa mungkin menyembuyikan wajah paniknya. Karena jika didengarkan dengan seksama, suara keras itu terdengar dari lantai dua. Sedangkan mereka belum sampai ke area sana, setelah penelusuran di area kolam renang, barulah kakinya diinjakan ke lantai dua.
Kepanikan juga terjadi pada kru yang memegang properti hantu di lantai dua. Mereka tidak menyangka bahwa propertinya bergerak sendiri, menghantam dirinya ke pintu berulang-ulang.
“Woy bantuin gue!” ucap salah satu kru yang berusaha menghentikan properti yang menghantam pintu. “bangun jangan takut, selagi bukan suara mah!”
“Udah bener gue jadi bagian bawa-bawa peralatan,” ucap yang lain, sambil gemetaran mencoba mendekat.
“Oh takutnya sama suara, boleh,” Gasimah mengeluarkan suaranya, awalnya hanya suara pelan seperti memanggil. Lalu dilanjutkan dengan suara ketawa melengking yang membuat telinga perih ketika mendengarnya.
Kedua kru itu ketakutan setengah mati, dengan kekuatan penuh menghantam pintu yang dihalangi oleh properti berbentu hantu. Ketika berhasil melakukannya, di depan mereka ada Dheril dan juga Pandu, kamera masih menyala merekam semuanya secara langsung.
namakuve dan kulipriok memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup