- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#62
30
Quote:
Beberapa orang memakai pakaian serba hitam sudah memenuhi rumah putih di Jalan Selangkah yang akan dijadikan tempat penelusuran malam nanti. Mereka adalah kru suruhan Dheril untuk melakukan persiapan terlebih dahulu. Ada yang membawa sebuah benda besar seukuran manusia mengenakan baju putih panjang dengan bercak merah, rambut palsu panjang, dan berwajah seram. Sisanya membuat rumah seakan-akan menjadi tempat yang seram. Padahal hanya debu-debu dan sarang laba-laba dibeberapa sudut rumah, keadaannya cukup terawat meskipun sudah lama ditinggal oleh sang pemilik rumah.
“Perabotannya dari kayu jati semua, mahal ini,” ucap Dheril sambil memegang lemari kaca didepannya.
“Tolong yah, jangan sampai ada yang lecet atau rusak. Saya enggak enak udah dititipin buat jagain rumah ini sama pemiliknya,” ucap pemegang kunci rumah putih. “mereka juga enggak keberatan rumah ini dibuat syuting, apalagi bisa kasih manfaat ke orang lain. Cuman anehnya rumah ini enggak boleh ditempatin, dijual pun enggak, dari keluarga cuman mampir sebentar terus pulang,” tambahnya.
“Kenapa ya pak kalau boleh tahu?” tanya Tyo si kaki panjang.
“Mereka sempat kasih tahu, kalau enggak dijual itu buat jadi tanda sama keluarganya, jika kerja keras rumah segede ini pun jadi. Alasan lainnya masih misteri,” jelas penjaga rumah.
“Udah kebanyakan duit, rumah gede dijadiin pajangan aja,” ucap Dheril. “semoga penunggunya enggak marah kita syuting kayak begini,” penjaga rumah tersenyum, karena yakin jika terkena yang berkaitan dengan alam lain, itu bukan urusannya.
Waktu masih ada sekitar satu jam lagi dari yang dijanjikan, setelah semua persiapan telah siap, Dheril menyuruh krunya untuk tetap tinggal. Sedangkan dirinya dan Tyo bergegas meninggalkan tempat itu untuk sementara waktu. Sebuah angkringan penjual nasi kucing tidak jauh dari sana yang mereka pilih. Tempatnya minimalis tetapi masih masuk ke selera Dheril karena penjualnya bersih. Tentunya poin utamanya karena harganya murah.
“Liat aja nanti mereka berdua bakal teriak-teriak enggak jelas, gue kerjain!” ucap Dheril dengan kepercayaan diri tinggi. “aneh enggak sih? Setelah si Pandu ini histeris di kamar jenazah, dia jadi kuat banget sama penampakan divideonya. Gue yakin itu setinggan!”
“Tapi kan lo bisa liat juga, jeda waktunya. Bisa aja si Pandu latihan melawan rasa takut, kita enggak pernah tahu,” ucap Tyo santai sambil melahap sate usus.
“Cih! Lo di tim mana sebenernya?” nada bicara Dheril meninggi, penjual ankringan hanya bisa tersenyum tipis. Sedangkan Tyo tidak menanggapi.
Di tempat berbeda, Pandu dan Ardit sudah menyiapkan segala alat pertempuran yang diperlukan. Berkat adanya dukungan iklan di akun mereka, kini peralatannya sudah jauh lebih mumpuni. Bahkan kamera Ardit begitu canggih bisa mencapai resolusi 4K, dan bisa menangkap gambar yang jelas di lingkungan yang minim cahaya. Belum lagi mikrofon sejernih kristal, bahkan suara nafas Pandu bisa terdengar dengan jelas sekarang.
Mobil pun sudah dipanaskan, mereka akan berangkat sebentar lagi. Namun Gasimah berpesan untuk tidak pergi sebelum dirinya muncul. Ardit melihat jam di pergelangan tangan kirinya, waktu masih tersisa cukup banyak.
“Jangan lama-lama deh, enggak enak juga mereka maunya live kan?” ucap Ardit.
“Tenang, Gasi---,” belum selesai mulutnya berbicara, sosok yang dibicarakan muncul dari dalam tanah.
“Hey!” ucap Gasimah. “aku ada cerita lucu banget deh, nanti aku ceritain di mobil aja,” sosoknya menembus memasuki mobil di bangku belakang. Sedangkan Pandu dan Ardit hanya saling menatap saja. Semua personil sudah siap, Ardit sebagai supir membawa mobil menuju tempat penelusuran, sebuah rumah putih besar di Jalan Selangkah.
Lalu lintas malam ini di penuhi oleh bias lampu yang saling menyambut. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Pengemudinya sudah menghuni rumah masing-masing untuk mengisi kembali energinya. Besok pagi adalah waktu perang bagi mereka. Seperti janjinya tadi, Gasimah membeberkan cerita lucu. Pandu tidak terlalu banyak berkomentar sedangkan reaksi berbeda ditunjukan oleh Ardit, ia menggelengkan kepalanya ketika mengetahui hal tersebut.
“Sebenernya bukan kriminal, mungkin mereka arahnya ke murni hiburan. Tapi kurang sreg aja enggak sih?” tanya Ardit kepada Pandu.
“Kalau dipikir-pikir kita juga sama sih, hehe…,” Gasimah tersenyum sinis ke arah Pandu.
“Iya juga yah,” Ardit tertawa lebar. “bedanya kita lewat Gasimah ngatur ceritanya bagaimana, kasarnya udah di kasih spoiler duluan,” jawaban Ardit tidak terlalu menyenangkan Gasimah. Padahal dalam hatinya Gasimah hanya berniat untuk membantu mereka agar pekerjaan menjadi jauh lebih mudah.
Akhirnya mereka sampai di Jalan Selangkah, rumah-rumah besar nan elit terlihat baik di sisi kiri ataupun kanan. Tetapi hanya ada satu rumah yang cahayanya begitu terang, kru Dheril yang menyorot lampu membuat rumah putih ini menjadi matahari di malam hari. Keadaan begitu sunyi, hanya ada petugas keamanan di depan rumah sebagai penanggung jawab acara penelusuran. Sudah terlihat kendaraan Dheril terparkir di sisi jalan.
Keduanya turun dari mobil setelah menaruhnya bersanding dengan mobil Dheril. Petugas keamanan yang melihat kemudian menyambut kedatangan mereka karena sudah diberitahu sebelumnya oleh Dheril. Petugas berusia matang itu menggiring keduanya masuk ke dalam melewati pagar hitam berukuran besar, sosok Dheril dan Tyo terlihat mengarahkan krunya melakukan persiapan. Tyo memegang sebuah kamera yang kecanggihannya mirip dengan kepunyaan Ardit, sudah dipastikan orang berkaku panjang ini bertugas menjadi kameramen.
“Pandu, ada masalah?” tanya Dheril melihat Pandu yang melirik ke segala arah
“Enggak, kok enggak ada sosok kuncen?” tanya Pandu.
“Kuncen, enggak. Adanya bapak penjaga rumah aja, orangnya ada di dalam rumah. Sebelum dimulai nanti ada rapat mini sebentar biar semuanya aman,” ucap Dheril.
“WUEK!” Gasimah tiba-tiba muncul memperagakan diri sedang muntah. “lo itu cuman badut!” jemarinya menunjuk tepat di depan mata Dheril.
Pandu tersenyum dengan lengkungan yang aneh, sedangkan Ardit memalingkan wajahnya. Lagi-lagi gestur ini disalah artikan oleh Dheril yang urat kepalanya mulai nampak secara perlahan. Untuk membuat keadaan membaik bagi Dheril, Tyo memanggil penjaga yang berada di dalam. Rapat mini pun dimulai, tidak ada suatu pantangan yang dikatakannya. Hanya saja penjaga rumah tetap menegaskan untuk tidak merusak perabotan yang ada. Untuk bagian uji nyali, kru Dheril sudah menyiapkan semuanya. Berada di lantai dua tepatnya kamar tidur utama.
“Lo kenapa? Seneng amat semenjak masuk ke sini,” bisik Ardit melihat keanehan Pandu.
“Gue seneng aja, kali ini enggak ada scamers Kuncen DJ!” di belahan bumi lainnya, Kuncen DJ merasa ada yang menusuk hidungnya.
“Perabotannya dari kayu jati semua, mahal ini,” ucap Dheril sambil memegang lemari kaca didepannya.
“Tolong yah, jangan sampai ada yang lecet atau rusak. Saya enggak enak udah dititipin buat jagain rumah ini sama pemiliknya,” ucap pemegang kunci rumah putih. “mereka juga enggak keberatan rumah ini dibuat syuting, apalagi bisa kasih manfaat ke orang lain. Cuman anehnya rumah ini enggak boleh ditempatin, dijual pun enggak, dari keluarga cuman mampir sebentar terus pulang,” tambahnya.
“Kenapa ya pak kalau boleh tahu?” tanya Tyo si kaki panjang.
“Mereka sempat kasih tahu, kalau enggak dijual itu buat jadi tanda sama keluarganya, jika kerja keras rumah segede ini pun jadi. Alasan lainnya masih misteri,” jelas penjaga rumah.
“Udah kebanyakan duit, rumah gede dijadiin pajangan aja,” ucap Dheril. “semoga penunggunya enggak marah kita syuting kayak begini,” penjaga rumah tersenyum, karena yakin jika terkena yang berkaitan dengan alam lain, itu bukan urusannya.
Waktu masih ada sekitar satu jam lagi dari yang dijanjikan, setelah semua persiapan telah siap, Dheril menyuruh krunya untuk tetap tinggal. Sedangkan dirinya dan Tyo bergegas meninggalkan tempat itu untuk sementara waktu. Sebuah angkringan penjual nasi kucing tidak jauh dari sana yang mereka pilih. Tempatnya minimalis tetapi masih masuk ke selera Dheril karena penjualnya bersih. Tentunya poin utamanya karena harganya murah.
“Liat aja nanti mereka berdua bakal teriak-teriak enggak jelas, gue kerjain!” ucap Dheril dengan kepercayaan diri tinggi. “aneh enggak sih? Setelah si Pandu ini histeris di kamar jenazah, dia jadi kuat banget sama penampakan divideonya. Gue yakin itu setinggan!”
“Tapi kan lo bisa liat juga, jeda waktunya. Bisa aja si Pandu latihan melawan rasa takut, kita enggak pernah tahu,” ucap Tyo santai sambil melahap sate usus.
“Cih! Lo di tim mana sebenernya?” nada bicara Dheril meninggi, penjual ankringan hanya bisa tersenyum tipis. Sedangkan Tyo tidak menanggapi.
Di tempat berbeda, Pandu dan Ardit sudah menyiapkan segala alat pertempuran yang diperlukan. Berkat adanya dukungan iklan di akun mereka, kini peralatannya sudah jauh lebih mumpuni. Bahkan kamera Ardit begitu canggih bisa mencapai resolusi 4K, dan bisa menangkap gambar yang jelas di lingkungan yang minim cahaya. Belum lagi mikrofon sejernih kristal, bahkan suara nafas Pandu bisa terdengar dengan jelas sekarang.
Mobil pun sudah dipanaskan, mereka akan berangkat sebentar lagi. Namun Gasimah berpesan untuk tidak pergi sebelum dirinya muncul. Ardit melihat jam di pergelangan tangan kirinya, waktu masih tersisa cukup banyak.
“Jangan lama-lama deh, enggak enak juga mereka maunya live kan?” ucap Ardit.
“Tenang, Gasi---,” belum selesai mulutnya berbicara, sosok yang dibicarakan muncul dari dalam tanah.
“Hey!” ucap Gasimah. “aku ada cerita lucu banget deh, nanti aku ceritain di mobil aja,” sosoknya menembus memasuki mobil di bangku belakang. Sedangkan Pandu dan Ardit hanya saling menatap saja. Semua personil sudah siap, Ardit sebagai supir membawa mobil menuju tempat penelusuran, sebuah rumah putih besar di Jalan Selangkah.
Lalu lintas malam ini di penuhi oleh bias lampu yang saling menyambut. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Pengemudinya sudah menghuni rumah masing-masing untuk mengisi kembali energinya. Besok pagi adalah waktu perang bagi mereka. Seperti janjinya tadi, Gasimah membeberkan cerita lucu. Pandu tidak terlalu banyak berkomentar sedangkan reaksi berbeda ditunjukan oleh Ardit, ia menggelengkan kepalanya ketika mengetahui hal tersebut.
“Sebenernya bukan kriminal, mungkin mereka arahnya ke murni hiburan. Tapi kurang sreg aja enggak sih?” tanya Ardit kepada Pandu.
“Kalau dipikir-pikir kita juga sama sih, hehe…,” Gasimah tersenyum sinis ke arah Pandu.
“Iya juga yah,” Ardit tertawa lebar. “bedanya kita lewat Gasimah ngatur ceritanya bagaimana, kasarnya udah di kasih spoiler duluan,” jawaban Ardit tidak terlalu menyenangkan Gasimah. Padahal dalam hatinya Gasimah hanya berniat untuk membantu mereka agar pekerjaan menjadi jauh lebih mudah.
Akhirnya mereka sampai di Jalan Selangkah, rumah-rumah besar nan elit terlihat baik di sisi kiri ataupun kanan. Tetapi hanya ada satu rumah yang cahayanya begitu terang, kru Dheril yang menyorot lampu membuat rumah putih ini menjadi matahari di malam hari. Keadaan begitu sunyi, hanya ada petugas keamanan di depan rumah sebagai penanggung jawab acara penelusuran. Sudah terlihat kendaraan Dheril terparkir di sisi jalan.
Keduanya turun dari mobil setelah menaruhnya bersanding dengan mobil Dheril. Petugas keamanan yang melihat kemudian menyambut kedatangan mereka karena sudah diberitahu sebelumnya oleh Dheril. Petugas berusia matang itu menggiring keduanya masuk ke dalam melewati pagar hitam berukuran besar, sosok Dheril dan Tyo terlihat mengarahkan krunya melakukan persiapan. Tyo memegang sebuah kamera yang kecanggihannya mirip dengan kepunyaan Ardit, sudah dipastikan orang berkaku panjang ini bertugas menjadi kameramen.
“Pandu, ada masalah?” tanya Dheril melihat Pandu yang melirik ke segala arah
“Enggak, kok enggak ada sosok kuncen?” tanya Pandu.
“Kuncen, enggak. Adanya bapak penjaga rumah aja, orangnya ada di dalam rumah. Sebelum dimulai nanti ada rapat mini sebentar biar semuanya aman,” ucap Dheril.
“WUEK!” Gasimah tiba-tiba muncul memperagakan diri sedang muntah. “lo itu cuman badut!” jemarinya menunjuk tepat di depan mata Dheril.
Pandu tersenyum dengan lengkungan yang aneh, sedangkan Ardit memalingkan wajahnya. Lagi-lagi gestur ini disalah artikan oleh Dheril yang urat kepalanya mulai nampak secara perlahan. Untuk membuat keadaan membaik bagi Dheril, Tyo memanggil penjaga yang berada di dalam. Rapat mini pun dimulai, tidak ada suatu pantangan yang dikatakannya. Hanya saja penjaga rumah tetap menegaskan untuk tidak merusak perabotan yang ada. Untuk bagian uji nyali, kru Dheril sudah menyiapkan semuanya. Berada di lantai dua tepatnya kamar tidur utama.
“Lo kenapa? Seneng amat semenjak masuk ke sini,” bisik Ardit melihat keanehan Pandu.
“Gue seneng aja, kali ini enggak ada scamers Kuncen DJ!” di belahan bumi lainnya, Kuncen DJ merasa ada yang menusuk hidungnya.
namakuve dan kulipriok memberi reputasi
2
Kutip
Balas