- Beranda
- Stories from the Heart
TOLONG AKU HANTU!
...
TS
adamtzero
TOLONG AKU HANTU!
Quote:

"Hantu Gasimah" cr: pickpik
Sinop
Quote:
Nanti malah spoiler, baca aja kalau minat...

INDEX
Quote:
Spoiler for Arc Perkenalan:
Spoiler for Arc Lima Elit:
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
-
-
Spoiler for Arc Gasimah:
Spoiler for Arc ???:
Note:
- Cerita ini fiksi 100 %
- Tidak ada maksud tertentu, kalau ada kesamaan hanya kebetulan semata.
- Enjoy
- Kamis
Diubah oleh adamtzero 14-09-2024 20:03
wikanrahma12070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4
5.4K
Kutip
189
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
adamtzero
#59
29
Quote:
Mobil sedan dengan moncong tajam dan lekukan di berbagai sisi terparkir rapih di sebuah kedai kopi tidak jauh dari kediaman Pandu. Mereka sudah sampai terlebih dahulu dari waktu yang dijanjikan, dengan niatan Dheril untuk melihat sosok pembuat konten yang melampauinya dari kejauhan terlebih dahulu, penilaian langsung dilakukan saat itu juga. Sementara itu Tyo tampak lebih santai, minuman hangat sudah tersaji di atas mejanya. Cuaca kota yang dingin membuatnya butuh suatu kehangatan.
“Kita lihat dulu dari sikapnya, bakal telat enggak mereka?” ucap Dheril sambil melihat jam tangan mewah dipergelangan tangan kanannya.
“Rangga sampai muji begitu udah pasti mereka datang tepat waktu,” jawab Tyo sambil menyeruput minuman hangat.
Di tempat berbeda, Pandu dan Ardit sudah bersiap-siap. Mereka memakai pakaian terbaiknya, karena lagi-lagi orang yang mengajaknya kolaborasi bukanlah orang sembarangan, melainkan salah satu anggota ‘Lima Elit’ juga. Mobil Pandu sudah siap, Ardit yang memegang kemudinya. Sementara itu hantu wanita cantik Gasimah duduk di kursi belakang. Mereka bertiga berangkat menuju kedai kopi yang sudah ditentukan sebelumnya. Jam pertemuan masih panjang, menurut Pandu lebih etis jika sampai terlebih dahulu, apalagi Dheril berasal dari kota sebelah.
“Masih setengah jam lagi, bawa santai aja,” ucap Pandu kepada Ardit agar tidak membawa mobilnya secara ugal-ugalan.
“Iya, lagian kok mereka pagi-pagi amat yah?” mulutnya menganga lebar, rasa kantuk sisa semalam belum tuntas. “oh iya Gasimah, nanti mau mantau dari jauh apa gimana?” tanya Ardit.
“Lihat aja nanti,” diakhiri dengan ketawanya yang manis.
Mobil melaju sedang sambil menikmati suasana kota di pagi menuju siang. Tidak banyak kendaraan wara-wiri, kebanyakan dari mereka sudah hinggap di area perkantoran. Karena hal tersebut, mobil Pandu sudah sampai dalam waktu 15 menit saja. Biasanya di keadaan ramai, dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Dari area luar sudah nampak mobil yang memanjakan mata, desainnya yang begitu indah ditambah tipe pelari dikelasnya. Ardit sengaja menyimpan mobil Pandu tepat di mobil indah ini, kedua turun sambil terpesona.
“Jangan-jangan mobil mereka?” ucap Ardit.
“Bener tuh,” Pandu mengiyakan setelah melihat kode plat di belakang mobil ini. “yuk masuk!” tampak ketegangan di wajah keduanya, mereka pun berharap yang satu ini juga memiliki sikap seperti Rangga. Hingga tidak ada kecanggungan yang terasa di antara keduanya.
Dheril memperhatikan Pandu dan Ardit yang memasuki area dalam kedai kopi secara bersamaan. Pakaian kasual dari keduanya memberikan kesan cukup bagi pembuat konten misteri ini. Setidaknya dirinya tidak merasa dipermalukan oleh Pandu dan Ardit. Disebelahnya Tyo selalu bersikap santai, tidak terasa satu gelas minuman hangat sudah dihabiskannya, padahal pertemuan saja belum dimulai. Ketika Pandu dan Ardit sudah mendekat, Dheril bangkit dari tempatnya untuk menyambut.
“Kalian si nomor 3 itu kan?” ucap Dheril tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
“Nomor 3?” Pandu melirik ke arah Ardit, tidak mengerti maksud perkataan dari Dheril.
“Ah itu, Pandu lu oon apa gimana sih? Itu loh nomor kita di Lima Elit,” Ardit menjawabnya dengan tertawa canggung, sementara mendengar itu Dheril hanya bisa tersenyum sinis.
Perkenalan terjadi setelahnya, kedua pemilik akun beserta rekannya sudah saling kenal. Dheril memuji Pandu dan Ardit karena bisa datang sebelum waktu yang dijanjikan. Ardit membalas dengan memuji balik Dheril karena sudah sampai bahkan sebelum ia datang. Saling melempar pujian seperti ini malah membuat keadaan menjadi canggung. Pembicaraan berlanjut ke mekanisme saat penulusuran nanti, sama seperti pada episode Bosman bersaudara. Dheril mengatakan krunya akan menyusul untuk menyiapkan semuanya nanti. Gasimah datang tiba-tiba lalu membisikan sesuatu pada Pandu.
“Ah mereka berdua ini sama sekali enggak bisa lihat,” ucap Gasimah dengan suara yang lantang.
Pandu dan Ardit dalam posisi tidak nyaman, keduanya hanya bisa tersenyum tanpa menanggapi perkataan dari Gasimah itu.
“Nih aku coba ledekin depan muka mereka,” Gasimah menjulurkan lidahnya mengejek Dheril, lalu memutar-mutar kepalanya di depan Tyo.
Melihat raut wajah yang tidak nyaman dari Pandu dan Ardit membuat Dheril kebingungan, dalam benaknya apa ada yang salah dari caranya berpakaian atau tidak.
“Ada apa? Ada yang salah?” tanya Dheril. Sementara itu Gasimah masih meledeknya.
“Enggak, itu…,” Pandu tidak mungkin menyuruh Gasimah untuk berhenti, malah nantinya akan menimbulkan keanehan.
“Oh iya nanti kita kumpul di tkp jam berapa?” tanya Ardit mengubah topik pembicaraan.
“Karena aku nanti mau siaran langsung, biar enggak kemaleman kita udah ada di tkp jam 10 malam. Persiapan ini itu paling nanti kita penelusuran tepat di jam 11,” jawab Dheril.
Tidak ingin membuat suasana menjadi lebih parah dari ini, Pandu mengiyakan lalu meminta izin untuk segera pamit karena masih ada perkuliahan yang harus diikuti. Mereka berdua pun sampai tidak sempat memesan satu minuman. Karena ulah Gasimah yang meliuk-liuk tepat di atas meja tempat mereka berkumpul barusan. Tetapi Dheril menanggapinya dengan lain, sikap Pandu dan Ardit tadi menyinggung perasaannya. Padahal pakaian mahal sudah dikenakannya, tetapi raut wajah teman kolaborasinya itu seperti menahan tawa.
“Awas aja!” ucap Dheril setelah melihat Pandu dan Ardit menjauh.
“Jangan banyak omong kamu pendek! Huh!” setelah meledek Dheril sekali lagi, Gasimah ikut keluar dari kedai kopi.
“Kita lihat dulu dari sikapnya, bakal telat enggak mereka?” ucap Dheril sambil melihat jam tangan mewah dipergelangan tangan kanannya.
“Rangga sampai muji begitu udah pasti mereka datang tepat waktu,” jawab Tyo sambil menyeruput minuman hangat.
Di tempat berbeda, Pandu dan Ardit sudah bersiap-siap. Mereka memakai pakaian terbaiknya, karena lagi-lagi orang yang mengajaknya kolaborasi bukanlah orang sembarangan, melainkan salah satu anggota ‘Lima Elit’ juga. Mobil Pandu sudah siap, Ardit yang memegang kemudinya. Sementara itu hantu wanita cantik Gasimah duduk di kursi belakang. Mereka bertiga berangkat menuju kedai kopi yang sudah ditentukan sebelumnya. Jam pertemuan masih panjang, menurut Pandu lebih etis jika sampai terlebih dahulu, apalagi Dheril berasal dari kota sebelah.
“Masih setengah jam lagi, bawa santai aja,” ucap Pandu kepada Ardit agar tidak membawa mobilnya secara ugal-ugalan.
“Iya, lagian kok mereka pagi-pagi amat yah?” mulutnya menganga lebar, rasa kantuk sisa semalam belum tuntas. “oh iya Gasimah, nanti mau mantau dari jauh apa gimana?” tanya Ardit.
“Lihat aja nanti,” diakhiri dengan ketawanya yang manis.
Mobil melaju sedang sambil menikmati suasana kota di pagi menuju siang. Tidak banyak kendaraan wara-wiri, kebanyakan dari mereka sudah hinggap di area perkantoran. Karena hal tersebut, mobil Pandu sudah sampai dalam waktu 15 menit saja. Biasanya di keadaan ramai, dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Dari area luar sudah nampak mobil yang memanjakan mata, desainnya yang begitu indah ditambah tipe pelari dikelasnya. Ardit sengaja menyimpan mobil Pandu tepat di mobil indah ini, kedua turun sambil terpesona.
“Jangan-jangan mobil mereka?” ucap Ardit.
“Bener tuh,” Pandu mengiyakan setelah melihat kode plat di belakang mobil ini. “yuk masuk!” tampak ketegangan di wajah keduanya, mereka pun berharap yang satu ini juga memiliki sikap seperti Rangga. Hingga tidak ada kecanggungan yang terasa di antara keduanya.
Dheril memperhatikan Pandu dan Ardit yang memasuki area dalam kedai kopi secara bersamaan. Pakaian kasual dari keduanya memberikan kesan cukup bagi pembuat konten misteri ini. Setidaknya dirinya tidak merasa dipermalukan oleh Pandu dan Ardit. Disebelahnya Tyo selalu bersikap santai, tidak terasa satu gelas minuman hangat sudah dihabiskannya, padahal pertemuan saja belum dimulai. Ketika Pandu dan Ardit sudah mendekat, Dheril bangkit dari tempatnya untuk menyambut.
“Kalian si nomor 3 itu kan?” ucap Dheril tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
“Nomor 3?” Pandu melirik ke arah Ardit, tidak mengerti maksud perkataan dari Dheril.
“Ah itu, Pandu lu oon apa gimana sih? Itu loh nomor kita di Lima Elit,” Ardit menjawabnya dengan tertawa canggung, sementara mendengar itu Dheril hanya bisa tersenyum sinis.
Perkenalan terjadi setelahnya, kedua pemilik akun beserta rekannya sudah saling kenal. Dheril memuji Pandu dan Ardit karena bisa datang sebelum waktu yang dijanjikan. Ardit membalas dengan memuji balik Dheril karena sudah sampai bahkan sebelum ia datang. Saling melempar pujian seperti ini malah membuat keadaan menjadi canggung. Pembicaraan berlanjut ke mekanisme saat penulusuran nanti, sama seperti pada episode Bosman bersaudara. Dheril mengatakan krunya akan menyusul untuk menyiapkan semuanya nanti. Gasimah datang tiba-tiba lalu membisikan sesuatu pada Pandu.
“Ah mereka berdua ini sama sekali enggak bisa lihat,” ucap Gasimah dengan suara yang lantang.
Pandu dan Ardit dalam posisi tidak nyaman, keduanya hanya bisa tersenyum tanpa menanggapi perkataan dari Gasimah itu.
“Nih aku coba ledekin depan muka mereka,” Gasimah menjulurkan lidahnya mengejek Dheril, lalu memutar-mutar kepalanya di depan Tyo.
Melihat raut wajah yang tidak nyaman dari Pandu dan Ardit membuat Dheril kebingungan, dalam benaknya apa ada yang salah dari caranya berpakaian atau tidak.
“Ada apa? Ada yang salah?” tanya Dheril. Sementara itu Gasimah masih meledeknya.
“Enggak, itu…,” Pandu tidak mungkin menyuruh Gasimah untuk berhenti, malah nantinya akan menimbulkan keanehan.
“Oh iya nanti kita kumpul di tkp jam berapa?” tanya Ardit mengubah topik pembicaraan.
“Karena aku nanti mau siaran langsung, biar enggak kemaleman kita udah ada di tkp jam 10 malam. Persiapan ini itu paling nanti kita penelusuran tepat di jam 11,” jawab Dheril.
Tidak ingin membuat suasana menjadi lebih parah dari ini, Pandu mengiyakan lalu meminta izin untuk segera pamit karena masih ada perkuliahan yang harus diikuti. Mereka berdua pun sampai tidak sempat memesan satu minuman. Karena ulah Gasimah yang meliuk-liuk tepat di atas meja tempat mereka berkumpul barusan. Tetapi Dheril menanggapinya dengan lain, sikap Pandu dan Ardit tadi menyinggung perasaannya. Padahal pakaian mahal sudah dikenakannya, tetapi raut wajah teman kolaborasinya itu seperti menahan tawa.
“Awas aja!” ucap Dheril setelah melihat Pandu dan Ardit menjauh.
“Jangan banyak omong kamu pendek! Huh!” setelah meledek Dheril sekali lagi, Gasimah ikut keluar dari kedai kopi.
namakuve dan kulipriok memberi reputasi
2
Kutip
Balas