- Beranda
- Citizen Journalism
Lawan Bullying dengan Radikal! Pria Gantung Diri di Flyover Cimindi Kerap Di-bully
...
TS
amekachi
Lawan Bullying dengan Radikal! Pria Gantung Diri di Flyover Cimindi Kerap Di-bully

Jadikan Pelajaran, Segala Sesuatu yang Radikal seperti Tindakan Bullying harus Dilawan dengan Radikal Pula! Sosok Pria yang Gantung Diri di Flyover Cimindi Diduga Kerap Di-bully dalam Kehidupannya
Sebenarnya ini adalah sesuatu yang bisa saja dialami oleh semua orang semenjak kecil, namun diantara kita jarang yang bisa mengantisipasinya. Segala tindakan yang berupa serangan berupa kekerasan atau penindasan (sekarang dengan adanya internet, komentar menyerang dari netizen lain terhadap kita) sudah bisa dikatakan sebagai bentuk bullying.
Dan semua referensi untuk menghalaunya dari berbagai sumber pun sebenarnya sulit untuk diterapkan bagi korban bully, berdasarkan pengalaman pribadi walaupun belum sampai mengarah ke serangan bully, hanya karena was-was bakal kena bully di SMA. Saya sendiri sampai harus ikut-ikutan geng anak punk, biar yang suka bullying pun jiper sendiri.
Bully adalah tindakan radikal, maka kita melawannya dengan radikal pula. Mungkin maksudnya seperti itu!
Quote:

Kematian tragis pria ini menunjukkan betapa berbahayanya efek bullying dan tekanan sosial terhadap kesehatan mental seseorang. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya peduli dan saling mendukung sesama. Semoga pria tersebut dapat menemukan kedamaian di sisi Tuhan dan semoga kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.
Memang ada ungkapan lain dari kasus ini, seperti tudingan jika DYT nekat gantung diri gara-gara masalah asmara, judi online dan pinjaman online. Namun spekulasi ini dibantah keras oleh pihak keluarganya, mereka pun meminta kepada masyarakat untuk tidak berasumsi liar.
Jadi pelajaran untuk kita ya gansist tentang bully ini, apalagi sekarang di media sosial pun marak terjadi. Dengan risiko terganggunya hampir mirip seperti di dunia nyata jika sampai terkena cyber bullying, dari efek sekedar males bermedsos ria, tak ada gairah ngonten, nggak semangat bersosialisasi cari teman ngobrol dan berdiskusi berbagai hal di internet sampai pada hal yang tindakan memilukan seperti yang terjadi pada korban DYT.
Kalau menghadapi bully di media sosial internet mungkin ada beberapa semisal, tidak berinteraksi pada pelaku cyber bullying, blokir akun pelaku, jangan terlalu sering posting, jangan mudah terpancing dan yang lainnya.
Sedangkan untuk saya sendiri sih metodenya pakai logical fallacy, apapun serangan bakal dialihkan ke yang lain. Belagak gila lah istilahnya, mana bisa orgil di-bully? Yang bully capek sendiri!.

Tapi yang pastinya, orang bisa kena bully itu akibat dari pemikiran ya gansist. Mereka memikirkan serangan, cibiran, hujatan hingga makian dari orang lain. Jadi mending nggak usah mikirin apapun, coba mikirin yang penting-penting saja semisal duit agar pikiran teralihkan.
Sumber Tulisan dan Gambar:
1
2
Tiphz dan 15 lainnya memberi reputasi
16
5.1K
189
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Citizen Journalism
16.6KThread•15KAnggota
Tampilkan semua post
proficiat
#33
fenomena bundir karena alasan bullying banyak di beberapa negara.
ane pribadi cukup terheran-heran (kebetulan ane termasuk milenial) sama gen-z. masa sebegitu lemah kah mental mereka menghadapi bully an?
zaman ane dulu, ada orang yang berani bully (istilah dulu "diceng-cengin") ya bales lagi lah,. kalo perlu mending baku hantam sekalian. tapi herannya gen-z tidak melakukan hal itu. mereka lebih milih nangis sendirian atau curhat di sosmed, dan berharap viral kasusnya.
setelah dapat pencerahan, dan beberpa informasi mengenai urusan psikologis ini. akhirnya ane mungkin ada sedikit kesimpulan dan pandangan untuk pre-solusi kasus-kasus seperti ini :
1. pentingnya peran orangtua dalam membimbing anaknya dari kecil, bahkan balita. pentingnya rasa aman, percaya diri yang cukup, dsb.
2. korelasi itu yang menyebabkan latar belakang kenapa ada anak yg aggresif ikutan gengster, ikut tawuran (contoh) atau kebalikannya,.ya seperti ini,. terlalu lemah hanya karena bullying, ujung-ujungnya yang ekstrem ya bundir.
3. akibat peran orangtua dengan pola parenting yg baik, anak menjadi bermental baja. tidak agresif tapi tidak juga terlalu lemah. terutama di fase quarter life crisis nya.
jadi, sudah saatnya pola parenting yg baik dikampanyekan di negara ini. bagi orgtua, punya anak bukan sekedar dikasih dana untuk hidup dan pendidikannya, dan semuanya tau beres. tapi kesehatan mentalnya juga perlu dipantau.
memang sulit dan butuh pengorbanan ekstra. apalagi bermacam tantangan kehidupan modern yg ada sekarang. orangtu sibuk bisnis untuk keluarga juga.
intinya apa? nah ini yang disebut work life balance.
jadi istilah work life balance itu harus tepat guna. bukan hanya dipakai untuk gen-z yang mengeluh karena sedikit tekanan di tempat kerjanya langsung minta healing dengan alasan work life balance,.
semoga kasus serupa tidak pernah terjadi lagi. dan tulisan saya ini bisa menjadi bahan introspeksi kita semua.
ikut berduka bagi keluarga yang ditinggalkan.
ane pribadi cukup terheran-heran (kebetulan ane termasuk milenial) sama gen-z. masa sebegitu lemah kah mental mereka menghadapi bully an?
zaman ane dulu, ada orang yang berani bully (istilah dulu "diceng-cengin") ya bales lagi lah,. kalo perlu mending baku hantam sekalian. tapi herannya gen-z tidak melakukan hal itu. mereka lebih milih nangis sendirian atau curhat di sosmed, dan berharap viral kasusnya.
setelah dapat pencerahan, dan beberpa informasi mengenai urusan psikologis ini. akhirnya ane mungkin ada sedikit kesimpulan dan pandangan untuk pre-solusi kasus-kasus seperti ini :
1. pentingnya peran orangtua dalam membimbing anaknya dari kecil, bahkan balita. pentingnya rasa aman, percaya diri yang cukup, dsb.
2. korelasi itu yang menyebabkan latar belakang kenapa ada anak yg aggresif ikutan gengster, ikut tawuran (contoh) atau kebalikannya,.ya seperti ini,. terlalu lemah hanya karena bullying, ujung-ujungnya yang ekstrem ya bundir.
3. akibat peran orangtua dengan pola parenting yg baik, anak menjadi bermental baja. tidak agresif tapi tidak juga terlalu lemah. terutama di fase quarter life crisis nya.
jadi, sudah saatnya pola parenting yg baik dikampanyekan di negara ini. bagi orgtua, punya anak bukan sekedar dikasih dana untuk hidup dan pendidikannya, dan semuanya tau beres. tapi kesehatan mentalnya juga perlu dipantau.
memang sulit dan butuh pengorbanan ekstra. apalagi bermacam tantangan kehidupan modern yg ada sekarang. orangtu sibuk bisnis untuk keluarga juga.
intinya apa? nah ini yang disebut work life balance.
jadi istilah work life balance itu harus tepat guna. bukan hanya dipakai untuk gen-z yang mengeluh karena sedikit tekanan di tempat kerjanya langsung minta healing dengan alasan work life balance,.
semoga kasus serupa tidak pernah terjadi lagi. dan tulisan saya ini bisa menjadi bahan introspeksi kita semua.
ikut berduka bagi keluarga yang ditinggalkan.
Diubah oleh proficiat 30-06-2024 16:26
iwankeme198016 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup